Claim Missing Document
Check
Articles

Studi Etnobotani Tanaman Cabe Jamu (Piper retrofractum Valh) Di Desa Gapura Timur Kecamatan Gapura Kabupaten Sumenep Lutfiah sudarmaji; Ari Hayati; Tintrim Rahayu
Jurnal Ilmiah Biosaintropis (Bioscience -Tropic) Vol 4 (2019): Edisi Khusus: Pertalian Manusia - Makhluk Hidup
Publisher : Fakultas Matematika & Ilmu Pengetahuan Alam - Universitas Islam Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (872.857 KB)

Abstract

Tanaman cabe jamu (Piper retrofractum Vahl) merupakan jenis tanaman yang banyak digunakan di Indonesia yang tumbuh merambat. Tanaman ini memiliki banyak kandungan bahan alami yang bermanfaat untuk kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persepsi masyarakat tentang morfologi, Distribusi dan aspek pemanfaatan tanaman cabe jamu di Desa Gapura Timur Kecamatan Gapura Kabupaten Sumenep. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif eksploratif meliputi: Studi pustaka, pengamatan tanaman cabe jamu, wawancara, analisis data,kuesioner. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa morfologi tanaman cabe jamu di desa Gapura Timur memiliki batang berbentuk bulat panjang 12 m, daun berbentuk bulat memanjang dengan lebar 14 cm dan lebar 5 cm dan buah berwarna merah. Distribusi Pesebaran tanaman cabe jamu yang terdapat di Desa Gapura Timur yaitu Dusun Pangabasen (74 %) dan Dusun Dik Kodik (26 %) yang paling sedikit dibandingkan dengan Dusun Pangabasen. Aspek persepsi masyarakat Desa Gapura pada pemanfaatan tanaman cabe jamu terbagi dalam keperluan seperti bahan pangan (1 %), tanaman hias (4 %) obat tradisional (37 %), dan untuk nilai tambah ekonomi (58 %). Bagian organ tanaman cabe jamu yang paling banyak digunakan oleh masyarakat Desa Gapura Timur yaitu buah (65 %), daun (25 %) dan akar sebanyak (10 %). Kata kunci: Etnobotani, Cabe jamu (Piper retrofractum Vahl), persepsi masyarakat
Eksplorasi Pengetahuan Masyarakat Pandalungan Terhadap Tanaman Kelor (Moringa oleifera) Di Kecamatan Prigen Kabupaten Pasuruan Khamidatul Ula; Ari Hayati; Hasan Zayadi
Jurnal Ilmiah Biosaintropis (Bioscience -Tropic) Vol 5 No 2 (2020): Fase Pembentukan Tubuh dan Sebaran Makhluk
Publisher : Fakultas Matematika & Ilmu Pengetahuan Alam - Universitas Islam Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (229.413 KB)

Abstract

Moringa oleifera is the traditional medicinal plant in Indonesia and it has a complete source of nutrition and it is beneficial to human health from its roots, stems, leaves and fruit. The utility of plants in life is a part of Botany that can be studied through the branch of Biology, Ethnobotany. The aims of this study was to determine the benefits, description and distribution of Moringa plants in Jatiarjo and Dayurejo Village in Prigen District, Pasuruan. This study uses descriptive methods which include: literature study, field observations, structural interviews and open manner, data analysis and documentation of the distribution of Moringa oleifera villages. The results of this study indicate the potential of Moringa oleifera plant in Dayurejo Village as a traditional medicine of 28%, a food ingredient of 30%, a hedgerow of 20%, traditional ritual of 10%, and an additional economic value of 12%. Whereas in Jatiarjo Village as food of 40%, traditional rituals of 10%, additional economic value of 6%, a hedgerow of 12% and a traditional medicine of 32%. The organ plant of Moringa oleifera which are leaves utilizing are 54% in Dayurejo and 60% in Jatiarjo Village. The number of Moringa oleifera was found 79 individuals in hamlet of Klataan and 35 in Tonggowah. Keywords: Ethnobotany, Prigen Pasuruan Moringa oleifera. ABSTRAK Kelor (Moringa oleifera) merupakan tanaman obat tradisional di Indonesia dan ia memiliki sumber nutrisi yang lengkap dan bermanfaat bagi kesehatan manusia baik akar, batang, daun dan buah. Pemanfaatan tumbuhan dalam kehidupan manusia adalah bagian dari Botani yang dapat di kaji melalui cabang ilmu Biologi yaitu Etnobotani. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui manfaat, deskripsi dan distribusi tanaman Moringa oleifera di Desa Jatiarjo dan Desa Dayurejo Kecamatan Prigen Kabupaten Pasuruan. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif yang meliputi: studi pustaka, pengamatan di lapangan, wawancara dilakukan secara terstruktur dan terbuka, analisis data, dan dokumentasi persebaran tanaman Moringa oleifera. Hasil dari penelitian ini menunjukkan adanya potensi tanaman Moringa oleifera di Desa Dayurejo sebagai obat tradisional 28 %, sebagai bahan pangan 30 %, sebagai tanaman pagar 20 %, ritual adat 10 %, dan tambahan nilai ekonomi 12 %, pada Desa Jatiarjo 40 % sebagai bahan pangan, 10 % ritual adat, 6 % sebagai tambahan nilai ekonomi, 12 % sebagai pagar dan 32 % sebagai obat tradisonal. Bagian organ tanaman Moringa oleifera yang di manfaatkan daun 54 % pada Desa Dayurejo dan 60 % Desa Jatiarjo. Jumlah Moringa oleifera yang ditemukan sebanyak 79 individu di Dusun Klataan dan 35 individu di Dusun Tonggowah. Kata kunci: Etnobotani, Prigen Pasuruan, Moringa oleifera.
Diversitas dan Asosiasi Tumbuhan Liar pada Lahan Padi (Oryza sativa) dan Jagung (Zea mays) di Unit Pelaksana Teknis Pengembangan Benih Palawija Singosari Kabupaten Malang Ifadotul Lailatussholiha; Ari Hayati; Hasan Zayadi
Jurnal Ilmiah Biosaintropis (Bioscience -Tropic) Vol 5 No 1 (2019): Keragaman Populasi Makhluk
Publisher : Fakultas Matematika & Ilmu Pengetahuan Alam - Universitas Islam Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (884.662 KB)

Abstract

The research aims to find out the diversity and association between wild plant species on rice fields (Oryza sativa) and corn (Zea mays) at technical unit of Singosari Seed Crop Development, Malang Regency. In this study using the survey method, by observing directly any wild plants found in the fields of rice and corn. The exploration of wild plants was carried out by exploratory methods, namely observing wild plants found around rice and maize plantations in predetermined plots. Analysis of the data used is the Shannon-Wienner Diversity Index and Pielou Evenness Index. Whereas to find out the association between wild plant species that is by calculating the Chi-square test based on the results of the 2x2 contingency table whose value is obtained from the presence or absence of speces in a plot. Furthermore, to find out the positive or negative interactions that occur, the correlation coefficient calculation is also based on the 2x2 contingency table. The results obtained for the highest Diversity Index value of 2.729 was on land II from the corn field. Whereas the high palin value of Pielou's Tightness Index of 0.371 is on land II from the corn field. Keywords: Diversity, association, wild plants ABSTRAK Penelitian bertujuan untuk mengetahui diversitas dan asosiasi antar spesies tumbuhan liar pada lahan tanaman padi (Oryza sativa) dan jagung (Zea mays) di UPT Pengembangan Benih Palawija Singosari Kabupaten Malang. Penelitian ini mengunakan metode Eksploratif, dengan mengamati langsung setiap tumbuhan liar yang terdapat pada lahan tanaman padi dan jagung. Pengambilan sampel tumbuhan liar dilakukan cara purposive sampling yaitu mengamati tumbuhan liar yang terdapat di sekitar pertanaman padi dan jagung pada plot-plot yang sudah ditentukan. Analisis data yang digunakan yaitu Indeks Keanekaragaman shannon-Wienner dan Indeks Kemerataan Pielou. Sedangkan untuk mengetahui asosiasi antar spesies tumbuhan liar yaitu dengan menghitung uji Chi-square berdasarkan hasil tabel kontingensi 2x2 yang nilainya didapatkan dari ada atau tidak adanya spesies dalam suatu plot. Selanjutnya untuk mengetahui positif atau negatifnya interaksi yang terjadi dilakukan perhitungan koifisien korelasi yang juga didasarkan pada tabek kontingensi 2x2. Hasil yang didapatkan untuk Indeks Keanekaragaman yaitu nilai paling tinggi berada pada lahan II dari lahan tanaman jagung yaitu 2,729. Sedangkan nilai paling tinggi dari Indeks Kemeratan Pielou berada pada lahan II dari lahan tanaman jagung yaitu 0,371. Kata kunci: Diveritas, asosiasi, tumbuhan liar.
Studi Etnobotani dan Distribusi Tanaman Siwalan (Borassus flabillifer) di Desa Gapura Timur Kecamatan Gapura Kabupaten Sumenep Suku Madura Niqrisatut Thibab; Ari Hayati; Hasan Zayadi
Jurnal Ilmiah Biosaintropis (Bioscience -Tropic) Vol 4 (2019): Edisi Khusus: Pertalian Manusia - Makhluk Hidup
Publisher : Fakultas Matematika & Ilmu Pengetahuan Alam - Universitas Islam Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1247.245 KB)

Abstract

Siwalan merupakan produk unggulan daerah yang dapat diangkat menjadi produk unggulan nasional. Tumbuhan siwalan yang seluruh bagiannya dimanfaatkan bagi masyarakat desa. Salah satu tanaman siwalan banyak tumbuh di Desa Gapura Timur yang terletak di Kecamatan Gapura Kaupaten Sumenep yang luas wilayahnya 582 Ha dengan jumlah penduduk 2.656 jiwa. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui persepsi masyarakat tentang aspek pemanfaatan dan konservasi tanaman siwalan di Desa Gapura Timur Kecamatan Gapura Kabupaten Sumenep, dan untuk mengetahui distribusi tanaman siwalan di Desa Gapura Timur kecamatan Gapura Kabupaten Sumenep, dengan menggunakan metode deskriptif eksploratif, analisis datanya menggunakan Uji validitas dan Reabilitas, hasil penelitian untuk responden didata dari jenis kelamin, pekerjaan , pendidikan, usia sedangkan hasil uji validitasnya berjumlah 96,37 dibulatkan menjadi 100, persepsi masyarakat dalan aspek konservasi dan pemanfaatanyya yaitu di ambil 50% untuk dusun battangan dan 50% dan distribus pada tanaman siwalan terdapat di dusun pangabasen karena mayoritas masyarakatnya mengelolah tanaman siwalan, penyebarannya terdapat di 3 lokasi yaitu di perkebunan masyarakat, pinggir jalan dan pekarangan rumah. Kata kunci: Etnobotani, Distribusi, Tanaman Siwalan
Studi Etnobotani Jahe (Zingiber officinale) pada Masyarakat Desa Banyior Kecamatan Sepulu Kabupaten Bangkalan Husnul Hotimah; Ari Hayati; Hasan Zayadi
Jurnal Ilmiah Biosaintropis (Bioscience -Tropic) Vol 4 (2019): Edisi Khusus: Pertalian Manusia - Makhluk Hidup
Publisher : Fakultas Matematika & Ilmu Pengetahuan Alam - Universitas Islam Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1102.424 KB)

Abstract

Ginger (Zingiber officinale) is a plant belonging to the Rhizoma group, ginger plants are relatively easy to find and its use has expanded not only for cooking purposes, but also for health, Ginger or commonly called "Jheih" in Madura is a plant that has often been used by the Banyior community as food or traditional medicine or more commonly called jamu or "jhemoh" in the Maduran language. In general, drinking herbs which are formulated from plants has become the habit of Maduran families and communities. This study aims to determine the public perception of the benefits of Ginger plants in the Banyior Village, Sepulu District, Bangkalan Regency. This study uses descriptive exploratory methods which include: literature studies, field observations, interviews, data analysis, and documentation of the distribution of ginger plants. The results of this study indicate the potential of Ginger plants in Banyior Village as food ingredients 54%, and as traditional medicine 46%. The ginger plant parts that are used are 38% leaves, 50% rhizomes, 12% stems. The number of ginger found was 7 clusters in Sabungan Hamlet and 6 clumps in Lenden Hamlet
Distribusi Temporal Populasi Serangga pada Tanaman Padi (Oryza sativa) di Unit Pelaksana Teknis Pengembangan Benih Palawija Singosari Malang alfira khullatun ni'am; Ari Hayati; Hasan Zayadi
Jurnal Ilmiah Biosaintropis (Bioscience -Tropic) Vol 5 No 2 (2020): Fase Pembentukan Tubuh dan Sebaran Makhluk
Publisher : Fakultas Matematika & Ilmu Pengetahuan Alam - Universitas Islam Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (347.267 KB)

Abstract

The rice plant (Oryza sativa.) is an important food crop which is a staple food for more than half of the world's population because it contains nutrients that the body needs. Rice production in East Java in 2011 experienced a significant decline in production i.e. 9.2% and declined again in 2013 (1.2%) with an average productivity (5.9) 1. Problems in agriculture are inseparable from the role of insects as pests. Decrease in production can occur due to insect pests. The purpose of this study was to identify the types of insects on rice fields, to find out the number of insects found based on the temporal distribution of rice fields in Technical implementation unit of Palawija Seed Development of Singosari, Malang, Research has been conducted on the temporal distribution of insect populations on rice plants by using temporal replication or time in three time periods, namely morning period (06.00-09.00), morning-noon (09.00-12.00), and afternoon (13.00-16.00). The observation parameters were done to measure abiotic factors including: temperature, humidity, wind speed, and light intensity and biotic factor measurements; insect identification, insect status determination, and insect distribution. The results of the identification of insects found there were nine species, seven kinds of families, and five orders of insects that had different statuses including predators and pests. The nine insects species include Agriocnemis pygmae, Diplacodes trivialis, Crocothermis servilia, Menochilus sexmaculata, Oxya chinensis, Valanga nigricornis, Schirpophaga innotata, Junonia almana, Zelus luridus. There are the effect of abiotic factors on the number of insects. Keywords: rice (Oryza sativa), insect population, insect status. ABSTRAK Tanaman padi (Oryza sativa) merupakan tanaman penting yang menjadi makanan pokok lebih dari setengah penduduk dunia karena mengandung nutrisi yang diperlukan tubuh. Produksi padi di Jawa Timur pada tahun 2011 terjadi penurunan produksi yang cukup signifikan yaitu 9,2% dan kembali menurun pada tahun 2013 (1,2%) dengan rata-rata produktivitas (5,9)-1. Permasalahan di bidang pertanian tidak terlepas dari peran serangga sebagai hama. Penurunan produksi dapat terjadi karena serangga hama. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi macam-macam serangga pada lahan tanaman padi, mengetahui jumlah serangga yang ditemukan berdasarkan distribusi temporal pada lahan tanaman padi di Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pengembangan Benih Palawija Singosari Malang. Ulangan waktu pada tiga periode waktu yaitu Periode pagi (06.00-09.00), Siang (09.00-12.00), dan sore (13.00-16.00). Parameter pengamatan dilakukan pengukuran factor abiotik meliputi suhu, kelembaban, kecepatan angin, dan intensitas cahaya dan pengukuran factor biotik meliputi identifikasi serangga, penentuan status serangga, dan distribusi serangga. Hasil identifikasi serangga ditemukan ada sembilan macam spesies serangga, tujuh macam familia, dan lima ordo serangga yang memiliki status yang berbeda meliputi predator dan hama. Sembilan species serangga tersebut meliputi Agriocnemis pygmae, Diplocodes trivialis, Crocothermis servilia, Menochilus sexmaculata, Oxya chinensis, Valanga nigricornis, Schirpophaga innotata, Junonia almana, Zelus luridus. Terdapat hubungan antara factor abiotik kecepatan angin terhadap jumlah serangga. Kata Kunci: padi (Oryza sativa), populasi serangga, status serangga.
Etnobotani dan Persentase Frekuensi Tumbuhan Suruhan (Peperomia pellucida) di Pekarangan Desa Jombok Kecamatan Ngantang Kabupaten Malang Rita Purwanti; Ari Hayati; Hasan Zayadi
Jurnal Ilmiah Biosaintropis (Bioscience -Tropic) Vol 6: Edisi Khusus Tafsir I tentang Masyarakat-Lingkungan-Hayati
Publisher : Fakultas Matematika & Ilmu Pengetahuan Alam - Universitas Islam Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (490.123 KB)

Abstract

Plants of Suruhan (Peperomia pellucida) is one of the wild plants that usually grow in moist and population in places. It can be used as antibacterial, anti-inflammatory, and analgesic. People of Jombok Village are still not much aware of the benefits of this plant. The purpose of this research is to know the percentage of frequency and community perception of Jombok Village regarding the utilization of the plant. The methods used in this study are qualitative and quantitative descriptive methods through observation, interviews, questionnaires, and documentation. The results of this research show that the percentage of Suruhan plants based on their habitat with the highest percentage is in the house fence that there is no ditch about 45% and the lowest is in the pot about 11.67%. Meanwhile, the percentage of Suruhan plant is based on each hamlet, a Bulurejo hamlet with the highest percentage around 26% and the lowest in Kasin around 11%. The public perception of the plant's knowledge is about 58.34% which knows and about 41.66% who do not know. The knowledge of people who know the benefits of the plant is 48.54% and who do not know that is 51.46%. The Use Value test result is the use of plant parts, the most widely used are the leaves and stems with a percentage of each – approximately 28%, the plant is least used by the roots and flowers of each – Approximately 22%. Second is the utilization of plant of plants as medicine and health drink is the highest percentage of uric acid of 38.23%, muscle aches 23.52%, cholesterol-lowering 11.67%, aches, 8.82%, health drinks 8.82%, heat in 5.88%, and a fever of 2.94% Keywords: Peperomia pellucida, ethnobotany, and knowledge society ABSTRAK Tumbuhan Suruhan (Peperomia pellucida) merupakan salah satu tumbuhan liar yang biasanya tumbuh di tempat-tempat lembab dan bergerombol. Tumbuhan ini dapat digunakan sebagai antibakteri, antiinflamasi, dan analgesik. Masyarakat Desa Jombok masih belum banyak yang mengetahui manfaat dari tumbuhan ini. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui persentase frekuensi dan persepsi masyarakat Desa Jombok mengenai pemanfaatan tumbuhan suruhan. Metode penelitian menggunakan deskriptif kualitatif dan kuantitatif melalui observasi, wawancara, kuesioner, dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa persentase frekuensi tumbuhan Suruhan berdasarkan habitatnya dengan persentase tertinggi yaitu di pagar rumah yang tidak ada selokan sekitar 45% dan terendah yaitu di dalam pot sekitar 11,67%. Sedangkan persentase masing – masing dusun, dusun dengan persentase tertinggi yaitu Bulurejo sekitar 26% dan terendah di Kasin sekitar 11%. Adapun persepsi masyarakat terhadap pengetahuan tumbuhan suruhan yaitu sekitar 58,34% yang mengetahui dan 41,66% tidak mengetahui. Pengetahuan masyarakat yang mengetahui manfaat tumbuhan suruhan yaitu 48,54% dan tidak mengetahui 51,46%. Adapun hasil uji Use Value yang pertama yaitu pemanfaatan bagian tumbuhan, yang paling banyak digunakan yaitu daun dan batang dengan persentase masing – masing sekitar 28%, bagian tumbuhan suruhan paling sedikit digunakan adalah akar dan bunga yaitu masing – masing sekitar 22%. Kedua yaitu pemanfaatan tumbuhan suruhan sebagai obat dan minuman kesehatan yaitu persentase tertinggi asam urat sebesar 38,23%, nyeri otot 23,52%, penurun kolesterol 11,67%, pegal-pegal 8,82%, minuman kesehatan 8,82%, panas dalam 5,88%, dan demam 2,94%. Kata kunci: Peperomia pellucida, Etnobotani, dan Pengetahuan Masyarakat.
Studi Etnozoologi Reptil di Masyarakat Desa Sumberejo Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang Retno wulandari; Ari Hayati; Hasan Zayadi
Jurnal Ilmiah Biosaintropis (Bioscience -Tropic) Vol 6: Edisi Khusus Tafsir I tentang Masyarakat-Lingkungan-Hayati
Publisher : Fakultas Matematika & Ilmu Pengetahuan Alam - Universitas Islam Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (627.745 KB)

Abstract

Ethnozoological studies examine community knowledge about fauna biological resources. Sumberejo Village, Poncokusumo Subdistrict, there has been no research on reptiles and their use by the community. The purpose of this study is to know the types of reptiles used by the community, and to find out people's perceptions of reptiles in Sumberejo Village, Poncokusumo District, Malang Regency. This research was conducted in May-June 2019, using a qualitative descriptive method which included: observation, open interview, identification and analysis of data. Respondents' data recorded included the results of interviews with the community regarding reptile potential, reptile descriptions and documentation photos. The results showed that there were 100 respondents interviewed. There were 6 animals found but only 5 animals that were used by the community for medicine, among others Gecko which was used as an itchy and shortness of breath, lizards were used as medicine for itching and bedwetting, then lizards were used for allergies (itching) and asthma. Then the snake is used for strength for men and monitor lizards which are used as medicine for itching, skin diseases, to soften the skin and asthma. Keywords: ethnozoologi, Poncokusumo, reptile ABSTRAK Studi etnozoologi mengkaji pengetahuan masyarakat tentang sumberdaya hayati fauna. Desa Sumberejo kecamatan Poncokusumo belum ada penelitian tentang reptilia dan pemanfaatannya oleh masyarakat, Tujuan penelitian ini yaitu mengetahui jenis-jenis reptil yang dimanfaatkan oleh masyarakat, dan untuk mengetahui persepsi masyarakat tentang reptil di Desa Sumberejo Kecamatan Poncokusumo Kabupaten Malang. Penelitian ini dilakukan pada bulan Mei- Juni tahun 2019, menggunakan metode deskriptif kualitatif yang meliputi : observasi, wawancara terbuka, identifikasi dan analisis data. Data responden yang dicatat meliputi hasil wawancara dengan masyarakat mengenai potensi reptil, deskripsi reptil dan foto hasil dokumentasi.. Hasil penelitian menunjukkan ada 100 responden yang diwawancarai. Terdapat 6 hewan yang ditemukan tetapi hanya 5 hewan yang dimanfaatkan masyarakat untuk obat-obatan, antara lain Tokek yang dimanfaatkan sebagai obat gatal dan sesak nafas, cicak digunakan sebagai obat gatal dan mengompol, kemudian kadal yang digunakan untuk alergi(gatal) dan asma. Lalu ular yang digunakan untuk kekuatan bagi pria dan biawak yang dimanfaatkan sebagai obat gatal, penyakit kulit, untuk menghaluskan kulit dan asma. Kata kunci: etnozoologi, Poncokusumo, reptil
Studi Etnobotani Mangrove di Desa Daun Kecamatan Sangkapura dan Desa Sukaoneng Kecamatan Tambak Pulau Bawean Kabupaten Gresik Nubdatul Fikroh; Ari Hayati; Hasan Zayadi
Jurnal Ilmiah Biosaintropis (Bioscience -Tropic) Vol 6: Edisi Khusus Tafsir I tentang Masyarakat-Lingkungan-Hayati
Publisher : Fakultas Matematika & Ilmu Pengetahuan Alam - Universitas Islam Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (299.587 KB)

Abstract

Bawean Island Gresik Regency East Java Province also uses mangroves in their daily lives. This study aims to determine the types of trees that make up mangroves that are utilized and to determine the community perceptions of Daun and Sukaoneng Village, Bawean Island in terms of the utilization of mangrove tree species. Descriptive explorative methods are used which include: literature studies, field observations, interviews with questionnaires, data analysis and observation documentation. Determination of the sample used purposive sampling with 100 respondents. The results of this study indicate that there are 14 species of trees that make up mangroves belonging to 8 families, namely the Euphorbiaceae family, which is only 1 species (Excoearia agallocha), Combretaceae family with 3 species (Lumnitzera littorea, Lumnitzera racemosa and Terminalia catappa), Acanthaceae family only 1 species ( Avicennia alba), Rhizophoraceae which are 3 species (Rhizophora aphiculata, Rhizophora mucronata and Ceriops tagal), Lythraceae family with 3 species (Phemphis acidula, Sonneratia alba and Sonneratia ovata), Meliaceae family only 1 species (Xylocarpus moluccensis), Arecaceae family only 1 species (Nypa fruticans) and the Malvaceae family are only 1 species (Thespesia populnea) which belongs to 2 types of mangroves namely true mangroves and mangroves. The people of Daun and Sukaoneng Village, Bawean Island use the most mangrove as building material 32%, fuel wood 17%, dye 2%, believed to have 9% spiritual power, 2% ornamental plants and 12% food ingredients. With the most widely used organs including 62% wood, 7% bark (tannin), 5% fruit, 25% leaves and 1% interest. Keywords: ethnobotany, mangrove, community perception, Bawean island. ABSTRAK Pulau Bawean Kabupaten Gresik Provinsi Jawa Timur masyarakatnya juga memanfaatkan mangrove dalam kesehariannya.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis-jenis pohon penyusun mangrove yang dimanfaatkan serta untuk mengetahui persepsi masyarakat Desa Daun dan Desa Sukaoneng pulau Bawean dalam aspek pemanfaatan jenis-jenis pohon penyusun mangrove. Digunakan metode deskripstif eksploratif yang meliputi : studi pustaka, pengamatan di lapangan, wawancara dengan kuesioner, analisis data dan dokumentasi pengamatan. Penentuan sampel menggunakan Purposive samplingdengan 100 responden. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat 14 jenis pohon penyusun mangrove yang tergolong kedalam 8 famili yaitufamili Euphorbiaceae yakni hanya 1 spesies (Excoearia agallocha), famili Combretaceae dengan 3 spesies (Lumnitzera littorea, Lumnitzera racemosadanTerminalia catappa), famili Acanthaceae hanya 1 spesies (Avicennia alba), Rhizophoraceae yakni 3 spesies (Rhizophora aphiculata, Rhizophora mucronata dan Ceriops tagal), famili Lythraceae dengan 3 spesies (Phemphis acidula, Sonneratia alba dan Sonneratia ovata), famili Meliaceae hanya 1 spesies (Xylocarpus moluccensis), famili Arecaceae hanya 1 spesies (Nypa fruticans) dan famili Malvaceae hanya 1 spesies (Thespesia populnea) yang termasuk kedalam 2 tipe mangrove yakni mangrove sejati dan mangrove ikutan. Masyarakat Desa Daun dan Desa Sukaoneng pulau Bawean memanfaatkan mangrove paling banyak sebagai bahan bangunan 32%, bahan kayu bakar 17%, pewarna 2%, dipercaya mempunyai kekuatan spiritual (jimat) 9%, tanaman hias 2% dan bahan pangan 12%. Dengan organ-organ yang paling banyak dimanfaatkan meliputi kayu 62%, kulit kayu (tanin) 7%, buah 5%, daun 25% dan bunga 1%. Kata kunci : etnobotani, mangrove, persepsi masyarakat, pulau Bawean.
Analisis Keanekaragaman Tumbuhan Invasif Di Kawasan Hutan Pantai Balekambang Desa Srigonco Kecamatan Bantur Kabupaten Malang Miftahul Mukarromah; Ari Hayati; Hasan Zayadi
Jurnal Ilmiah Biosaintropis (Bioscience -Tropic) Vol 6 No 1 (2020): Kondisi Habitat
Publisher : Fakultas Matematika & Ilmu Pengetahuan Alam - Universitas Islam Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (323.889 KB)

Abstract

Balekambang Beach is the most visited beach destination in Malang Regency until the end of 2015. One of the invasive pathways of invasive plants is Tourism. The purpose of this study was to identify invasive plant species, diversity and compare the value of the diversity index with abiotic factors.This research method is descriptive with systematic sampling techniques using Belt Transect, and measurements of abiotic factors include edafic factors and climatic micro factors. Invasive alien plant species found in the Balekambang coastal forest are identified as seventeen species namely (Hemighraphis glaucescens), (Oplismenus sp), (Amomum coccineum), (Arenga obtusifolia), (Leucaena leucochephana), (Mimosa sp), (Cassia siamea), (Eupatorium odoratum), (Hyptis capitata), (Cynodon dactylon), (Sida rhombifolia), (Synedrella nudiflora), (Chromolaena odorata), (Leucaena leucochepala), (Mimosa pudica), and (Ruellia tuberosa) with the index value of invasive plant diversity in protected forests and production classified as high compared to mangroves. The results of the diversity index value with abiotic factors showed a positive (+) direction on soil sailinity where the R2 value was 0.5606 or 50%, which means it showed a relationship between soil salinity and an abundance of invasive plants in Balekambang coastal forest area of 50%. Keywords:invasive plants, Balekambang beach, belt transect, diversity ABSTRAK Pantai Balekambang adalah destinasi wisata alam pantai di Kabupaten Malang yang paling banyak dikunjungi hingga akhir tahun 2015.Salah satu jalur invasi dari tumbuhan invasif adalah Tourism (Wisata). Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi jenis tumbuhan invasif, keanekaragaman dan membandingkan nilai indeks keanekaragaman dengan faktor abiotik. Metode penelitian ini deskriptif dengan tehnik pengambilan sampling secara sistematis menggunakan Belt Transect, dan pengukuran faktor abiotik meliputi faktor edafik dan faktor mikro klimatik. Jenis spesies tumbuhan asing invasif yang terdapat di hutan pantai Balekambang diidentifikasi sebanyak tujuh belas spesies yaitu Hemighraphis glaucescens, Oplismenus sp, Amomum coccineum, Arenga obtusifolia, Leucaena leucochephana, Mimosa sp, Cassia siamea, Eupatorium odoratum, Hyptis capitata, Cynodon dactylon, Sida rhombifolia, Synedrella nudiflora.Chromolaena odorata, Leucaena leucochepala, Mimosa pudica, dan Ruellia tuberose dengan nilai indeks keanekaragaman tumbuhan invasif pada hutan lindung dan produksi tergolong tinggi dibanding mangrove. Hasil analisis uji korelasi nilai indeks keanekaragaman dengan faktor abiotik menunjukkan arah positif (+) pada salinitas tanah dimana nilai R2 sebesar 0.5606 atau 50%, yang artinya menunjukkan hubungan antara salinitas tanah dengan kelimpahan tumbuhan invasif di kawasan hutan pantai Balekambang sebesar 50%. Kata kunci: tumbuhan invasif, pantai Balekambang, belt transect, keanekaragaman