Claim Missing Document
Check
Articles

Found 11 Documents
Search

TRET SOSIAL BUDAYA MASYARAKAT SUKU BAJO SAMPELA DI KABUPATEN WAKATOBI Wa Ode Sitti Nurhaliza; Titis Nurwulan Suciati
Jurnal Komunikasi Universitas Garut: Hasil Pemikiran dan Penelitian Vol 5, No 2 (2019): Oktober 2019 Jurnal Komunikasi Universitas Garut : Hasil Pemikiran dan Penelitia
Publisher : Universitas Garut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.10358/jk.v5i2.671

Abstract

Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis potret sosial budaya masyarakat suku Bajo Sampela di kabupaten Wakatobi. Untuk menjawab permasalahan tersebut, dilakukan analisis terhadap pokok-pokok pertanyaan penelitian, yakni: mengenai stratifikasi sosial, agama dan sistem kepercayaan yang dimilki masyarakat suku bajo sampela, transportasi laut yang digunakan hingga kondisi pendidikan masyarakat suku bajo Sampela. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan studi etnografi komunikasi. Subjek penelitian adalah para tokoh dan masyarakat di suku Bajo Sampela. Subjek dipilih secara purposive sampling (sampel bertujuan) yakni orang-orang yang dapat menjelaskan inti permasalahan dalam penelitian ini. Data penelitian diperoleh melalui wawancara mendalam, observasi, dokumentasi, studi pustaka. Adapun teknis analisis dengan mereduksi data, mengumpulkan data, menyajikan data, menarik kesimpulan, dan evaluasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa potret sosial budaya masyarakat suku Bajo Sampela berbeda dari masyarakat lain pada umumnya yang hidup di darat. Suku Bajo Sampela memiliki kebiasaan dan ketergantungan dengan laut. Berbagai ritual-ritual (ritual kelahiran, ritual pengobatan, dan ritual sunatan) yang dilakoni oleh suku Bajo Sampela sampai saat ini terus diwariskan secara turun temurun. Pada umumnya masyarakat suku bajo Sampela beragama Islam, akan tetapi mereka tetap juga mempercayai roh-roh leluhur yang ada dilaut. Sehingga budaya melaut yang dilakukan tidak terlepas dari mantra-mantra yang dilontarkan disertai dengan sesajen-sesajen yang dibuang ke laut yang dipersemkan buat dewa laut. Alat transpotasinya pun beragam yakni lepa, solo-solo/katinting, bodi dan jojolor. Keempat jenis perahu tersebut digunakan dalam kehidupan sehari-hari untuk menunjang perekonomian masyarakat suku bajo Sampela. Kata Kunci: Komunikasi; budaya; ritual; perahu; suku bajo Abstract This research is aim to analyze the social and cultural portrait of the people of Bajo Sampela in Wakatobi District. To find the answer of those problems, the main points of the research questions has been analyzed, such as: the social stratification, religion and belief systems of Bajo Sampela society, the transportation used, and public education applied by people of Bajo Sampela. Qualitative ethnographic study of communication used as the approach in this research. The subjects were leaders and communities in Bajo Sampela. Subjects selected by purposive sampling (samples intended); people who can explain the core problem in this research. Data were obtained through interviews, observation, documentation, literature. The technical analysis of the data is reduction, collecting data, presenting data, draw conclusions, and evaluation. The results showed that the socio-cultural portrait of Bajo Sampela has the differencies from people in who live on land. Bajo Sampela have a habit and highly needs of the sea life. Various rituals (celebrating birth, healing-therapy tradition, and ritual of circumcision) lived by people of Bajo Sampela until now inherited continously. In general, people of Bajo Sampela are Muslims, but they are also has belief of ancestral spirits that exist in the sea, so that the fishing-habit can not be separated from spells delivered followed by offerings that are thrown into the sea as a gift for the God of the sea. There are also variety of transportation, namely: lepa, solo-solo / katinting, bodi and jojolor. These four types of boats are used in everyday life to support the economy of the Bajo Sampela society. Keywords: Communication; culture; ritual; boat; bajo tribe
Representasi Pria Metroseksual pada Iklan OVO-Tokopedia Edisi Playcoy Wa Ode Sitti Nurhaliza; Ratna Puspita; Pipit Dwi Lestari
Journalism, Public Relation and Media Communication Studies Journal (JPRMEDCOM) Vol 2 No 2 (2020): JPRMEDCOM
Publisher : Journalism, Public Relation and Media Communication Studies Journal (JPRMEDCOM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35706/jprmedcom.v2i2.4555

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis representasi pria metroseksual dalam iklan OVO-Tokopedia edisi Playcuy. Tujuan penelitian ini untuk mengeatahui level realitas, level representasi  dana level ideologi pria metroseksual direpresentasikan dalam video iklan OVO-Tokopedia Edisi Playcoy. Dengan menggunakan analisis semiotika John Fiske, peneliti ini mengungkapkan apa yang ingin disampaikan iklan OVO-Tokopedia sedisi Playcuy melalaui tokoh pria metroseksual. Hasil yang diperoleh menunjukkan Level realitas pada representasi pria metroseksual pada iklan OVO-Tokopedia edisi Playcuy. Dalam iklan ini pria metroseksual menonjolkan cara berpakaian trendi yang digambarkan melalui aksesoris yang melengkap di tokoh pria. Realitas yang ditampilkan dalam iklan OVO-Tokopedia edisi Playcoy menggambarkan pria pekerja, sukses, narsis dan percaya diri. Hal ini teridentifikasi dari penampilan, kostum, perilaku hingga gesture serta ekspresi tokoh pria. Selanjutnya, level representasi terdapat dua bagian yakni kode teknis dan representasi konvensional. Kode teknis seperti pengambilan gambar dan lighting. Pengambilan gambar menggunakan teknis close up, medium long shoot dan long shoot. Terkahir, level ideologi dalam iklan OVO-Tokopedia edisi Playcuy merepresntasikan pria metroseksual. Hal ini ditunjukan melalui tampilan yang dibaluti kdoe verbal dan nonverba. Secara iklan ini merepresentasikan pria metroseksual yang konsumnerime, kapitalisme dan narsisme. Ketiga hal tersebut muncul dalam iklan OVO-Tokopedia edisi Playcuy.
MAKNA PROFESI PEMBATIK PADA KELOMPOK SERACI BATIK BETAWI DI KABUPATEN BEKASI Nurul Fauziah; Wa Ode Sitti Nurhaliza
Expose: Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 2, No 2 (2019): EXPOSE Jurnal Ilmu Komunikasi
Publisher : President University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (212.683 KB) | DOI: 10.33021/exp.v2i2.594

Abstract

Penelitian ini fokus pada Kelompok Seraci Batik Betawi secara aktif memproduksi batik betawi dengan berbagai corak dan motif khas budaya Betawi. Mereka yang memilih profesi pembatik memiliki tingkat ketekunan dan kejelihan yang tinggi disebabkan dalam membatik dibutuhkan kesabaran serta ketelitian. Penelitian ini membahas 10 orang pembatik tradisional di kelompok Seraci Batik Betawi. Melalui penelitian ini diharapkan memahami dan mendeskripsikan latarbelakang orang-orang yang memilih menekuni profesi pembatik. Penelitian ini menggunakan pendekatan Fenomenologi. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam dan pengamatan partisipatif berdasarkan perpektif tindakan sosial.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat dua motif yang melatbelakangi sesorang menjadi pembatik. Pertama, motif sebab yaitu pengalaman komunikasi dialami pada masa lalu sebagai kegemaran menggambar, aktualisasi diri, kegiatan tambahan dan adanya dukungan dari keluarga. Kedua, motif tujuan yaitu adanya keinginan untuk melestarikan batik betawi, mempromosikan budaya betawi, menunjukkan kemampuan, merasa bangga terhadap diri sendiri dan menambah penghasilan. 
Fear and Anxiety in Spreading Covid-19 Vaccine Hoaxes as Terror Communication Ari Sulistyanto; Wa Ode Siti Nurhaliza; Salsa Salbilah; Fadia Shafa Aurellie
Budapest International Research and Critics Institute (BIRCI-Journal): Humanities and Social Sciences Vol 5, No 1 (2022): Budapest International Research and Critics Institute February
Publisher : Budapest International Research and Critics University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33258/birci.v5i1.4436

Abstract

In dealing with the COVID-19 pandemic, vaccination is one of the essential strategies in ending the pandemic. However, amid vaccination efforts, various hoax information spread on social media with messages of fear and anxiety. Therefore, this study aims to reveal messages of fear, anxiety, and efficacy in spreading vaccine hoaxes through the theory of fear appeal. This study found that the most prominent communication fears were death and death threats through a content analysis approach. Anxiety communication is about vaccine impact, vaccine quality, vaccine content, and feelings of sin. Meanwhile, the efficacy communication relates to the vegetarian lifestyle, chemical treatment, and natural methods. Communication of fear and anxiety about vaccinations spread through hoaxes is intended to prevent people from vaccinating. The spread of vaccine hoaxes about fear and anxiety is part of terror communication with various labels created and also builds a discourse of distrust of the government. This research has implications for mapping vaccine hoaxes and can be a reference for the government in planning communications for the success of the vaccination program.
KELELAHAN MEDIA SOSIAL SELAMA PANDEMI COVID-19 DI KALANGAN SOCIAL MEDIA OFFICER: PEMICU, KONSEKUENSI, DAN KEBIJAKAN Syahrul Hidayanto; Wa Ode Sitti Nurhaliza
Jurnal Ilmu Komunikasi UHO : Jurnal Penelitian Kajian Ilmu Komunikasi dan Informasi Vol 7, No 4 (2022): Edisi Oktober
Publisher : Laboratorium Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Ha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52423/jikuho.v7i4.26292

Abstract

Harus diakui, media sosial berperan penting di masa pandemi COVID-19 karena melalui platform ini, banyak orang bertukar cerita tentang pengalaman pribadi dan berbagi sudut pandang ketika harus meminimalkan aktivitas di luar rumah. Meski sebagian orang menganggap mengakses media sosial di masa pandemi COVID-19 membuat mereka tetap waras, tak sedikit juga yang mengalami kelelahan mengakses media sosial, salah satunya adalah Social Media Officer (SMO). Pengguna media sosial yang mengalami kelelahan media sosial biasanya mengalami kelelahan mental setelah partisipasi dan interaksi yang berlebihan di berbagai platform media sosial. Dalam hal ini, pekerja digital berada dalam dilema. Di satu sisi ia perlu menjaga kesehatan mentalnya, tetapi di sisi lain, media sosial adalah lingkungan kerja dan sumber mata pencaharian utama mereka. Penelitian ini penting dan sangat relevan bagi akademisi, praktisi media, dan pengguna media sosial pada umumnya. Pendekatan penelitian yang digunakan untuk mengidentifikasi masalah ini secara mendalam adalah kualitatif, dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara semi terstruktur dengan lima SMO yang memiliki pengalaman bekerja lebih dari tiga tahun. Temuan penelitian menguraikan pemicu dan konsekuensi dari kelelahan media sosial selama pandemi COVID-19 di antara SMO. Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa information overload, self-disclosure, privacy concern, fear of missing out, compulsive use, dan social comparison adalah pemicu terkuat dari kelelahan media sosial dan bahwa kelelahan media sosial berkontribusi terhadap penurunan kinerja di kalangan SMO. Penelitian ini juga menawarkan saran bagi SMO untuk meningkatkan pengalaman kerja mereka. Kata-kata Kunci: Kelelahan media sosial; social media officer; Covid-19; media sosial; kesehatan mental
Membangun Budaya Sadar Bencana melalui Komunikasi Mitigasi pada Masyarakat Desa Cijengkol, Subang, Jawa Barat Imaddudin Imaddudin; Wa Ode Sitti Nurhaliza; Titis Nurwulan Suciati; Asrul Nur Iman; Aan Widodo; Syahrul Hidayanto; Fadli M. Athalarik
I-Com: Indonesian Community Journal Vol 4 No 2 (2024): I-Com: Indonesian Community Journal (Juni 2024)
Publisher : Fakultas Sains Dan Teknologi, Universitas Raden Rahmat Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33379/icom.v4i2.4483

Abstract

Concern for disasters has become the consciousness of every individual, including the people of Cijengkol Village, Subang, West Java. Moreover, disasters can occur at any time and disrupt people's life patterns. This readiness continues to be communicated so that mitigation for all elements of society can be understood and implemented. Through the delivery of information and education in the form of counseling, it is hoped that it can build a culture of awareness of natural, non-natural and social disasters. This counseling method is carried out directly from the initial discussion of the problem to counseling and evaluation which is part of community service activities. As a result, the people of Cijengkol Village, Subang, West Java were cognitively able to understand disasters and their types and became a concern for joint anticipation. Meanwhile, effectively and conatively are not yet completely binding, elements of society should also act as saviors, not wanting to be saved as the main mindset. So that disaster awareness no longer belongs to stakeholders but to the general public who fully implement it.
Pendampingan dan Pelatihan Literasi Pembelajaran Online Sekolah dan Rumah di Wilayah Muara Bakti Bekasi Aan Widodo; Wa Ode Sitti Nurhaliza; Moh. Rifaldi Akbar; Hanyvah Resthy Aprilianti; Muhammad Reza Pahlevi
Jurnal Karya untuk Masyarakat (JKuM) Vol 5 No 1: JANUARI 2024
Publisher : Universitas Tarakanita

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36914/dbs4x806

Abstract

Beberapa permasalahan yang muncul pada mitra berkaitan dengan literasi pembelajaran online antara lain (1) pelaksanaan pembelajaran online siswa SD tidak hanya melibatkan guru, melainkan orangtua, namun pemahaman tentang pembelajaran online masih kurang terutama guru. (2) Keterampilan menggunakan teknologi pendukung pembelajaran yang kurang sehingga tidak heran pembelajaran masih dilakukan melalui sarana komunikasi Grup WhatsApp, sementara WhatsApp sedianya merupakan media komunikasi yang menunjang proses pembelajaran bukan media pembelajaran. (3) Belum tersedianya fasilitas (infrastuktur) pembelajaran online yang memadai. Kegiatan pendampingan dan pelatihan literasi pembelajaran online di SDN Muara Bakti 02 diharapkan mampu menyelesaikan persoalan pembelajaran antara sekolah dan rumah guna mencapai tujuan pembelajaran yang ideal. Metode pelaksanaan kegiatan mencakup tatap muka yang diawali dengan pertemuan identifikasi masalah dan kebutuhan sekokah terkait pembelajaran online, kemudian dilanjutkan pelatihan literasi pembelajaran online. Hasil yang didapatkan bahwa pmbelajaran online membutuhkan kerjasama yang baik antara pihak sekolah, rumah (orang tua dan siswa) agar berjalan efektif. Langkah awal yang perlu dilakukan adalah meningkatkan literasi guru tentang pembelajaran online dimulai dari metode pembelajaran online, pemilihan media pembelajaran online hingga menciptakan suasana pembelajaran online yang efektif bagi siswa.
Membangun Budaya Digital Positif: Literasi Digital dan Pencegahan Cyberbullying di Kalangan Siswa SMK Al Muslim Tambun Wa Ode Sitti Nurhaliza; Novrian -; Wichitra Yasya; Heri Firamansyah; Intan Khoriunisa
Jurnal Karya untuk Masyarakat (JKuM) Vol 6 No 2: JULI 2025
Publisher : Universitas Tarakanita

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36914/bed5sr48

Abstract

Rendahnya pemahaman literasi digital di kalangan pelajar khususnya etika berkomunikasi di di media digital menjadi salah satu pemicu maraknya perilaku negatif seperti Cyberbullying. Para siswa secara aktif menggunakan media digital (media sosial) untuk belajar dan berinterkasi, namun tanpa pemahaman yang cukup, para siswa rentan melakukan atau menjadi korban tindakan yang merugikan di ruang digital. Cyberbullying merupakan bentuk perundungan yang dilakukan melalui media digital, yang dapat berdampak serius terhadap kesehatan mental, emosional, dan prestasi belajar siswa. Berangkat dari persoalan tersebut, Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Bhayangkara jakarta Raya (Fikom Ubhara Jaya) menelenggarana kegiatan Abidmas bertajuk Fikom Mengabdi yang melibatkan dosen dan mahasiswa di SMK Al Muslim Tambun. Kegiatan ini mencakup penyampaian materi literasi digital, identifikasi bentuk Cyberbullying, simulasi kasus, diskusi kelompok, serta kuis interaktif. Materi disampaikan dengan pendekatan yang komunikatif, kontekstual, dan relevan dengan pengalaman siswa. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pemahaman siswa mengenai pentingnya menjaga etika digital, penggunaan teknologi yang bertanggung jawab, serta kesadaran terhadap dampak buruk Cyberbullying. Siswa juga dibekali keterampilan praktis seperti cara melindungi data pribadi dan mengenali berita palsu. Sebagai bentuk tindak lanjut dari kegiatan Abdimas, pihak Fikom merekemendasikan sekolah untuk mengintegrasikan isu etika digital dalam kegiatan ekstrakurikuler dan membentuk komunitas diskusi yang mendorong budaya digital di lingkup sekolah.
Komunikasi Tim dan Cloud Platform (dengan Slack dan Asana) pada Siswa SMAN 2 Tambun Utara Wa Ode Sitti Nurhaliza; Titis Nurwulan Suciati; Hizkia Yosias Polimpung; Nurul Fauziah; Ratna Puspita
Jurnal Karya untuk Masyarakat (JKuM) Vol 2 No 1: JANUARI 2021
Publisher : Universitas Tarakanita

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36914/mrj94m20

Abstract

Komunikasi dalam ruang virtual terjadi tidak hanya dalam konteks interpersonal tetapi semakin berkembang dalam lingkup kelompok. Kehadiran platform komunikasi berbasis kolaborasi/Team Communication Platform (TCP) seperti Slack dan Asana- menggabungkan berbagai fitur di media sosial seperti platform jejaring sosial dan pesan singkat dirasa penting untuk mencapai komunikasi yang efektif dan efisien. Kegiatan Pengabdian pada Masyarakat ini bertujuan untuk memberikan pemahaman tentang manajemen komunikasi kelompok kecil yang efektif pada siswa; dan pemahaman tentang pemanfaatan manajemen cloud platform sebagai media komunikasi kelompok pada siswa SMA Negeri 2. Kegiatan dilaksanakan pada tanggal 13 Desember 2019 sasaran kegiatan berjumlah 70 siswa-siswi di SMA Negeri 2 Tambun Utara. Media pelatihan yang digunakan Power point, Handphone, Slack dan Asana. Pelatihan dilaksanakan dalam bentuk ceramah, diskusi dan praktik sampai pelajar mampu mengoperasikan berbagai cloud platform (Slack dan Asana). Hasil pelatihan menunjukkan para siswa dapat memanfaatkan dan mengoperasikan berbagai platform (Slack dan Asana) untuk mengelola komunikasi kelompok siswa khususnya menciptakan komunikasi efektif dalam tim di ruang virtual. Dengan demikian, para siswa setelah mengikuti kegiatan ini mampu secara mandiri mengoperasikan berbagai platform (Slack dan Asana) terutama dalam menyelesaikan tugas sekolah berbasis kelompok. Selain itu, untuk meningkatkan kreatifitas siswa-siswi di era teknologi informasi dan komunikasi yang semakin hari semakin maju dan berkembang, kegiatan pelatihan serupa perlu sering dilakukan guna membiasakan siswa dalam memanfaatkan teknologi khususnya dalam membangun komunikasi tim diantara siswa.
Pengenalan Literasi Digital kepada Remaja Tongkrongan “Warbar Skuy” di Perumahan Bumi Sani Permai Kabupaten Bekasi Nabil Azky Fadlurahman; Fitria Ramadhan; Rivaldo Rafi Azhim; Ratna Puspita; Wa Ode Sitti Nurhaliza
Jurnal Karya untuk Masyarakat (JKuM) Vol 3 No 1: JANUARI 2022
Publisher : Universitas Tarakanita

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36914/px2pey56

Abstract

Pengenalan literasi digital kepada remaja menjadi hal yang perlu dilakukan. Sebab, remaja merupakan salah satu kelompok usia yang mengakses media sosial. Media sosial merupakan medium tempat penyebaran informasi menyesatkan atau mis/disinformasi. Informasi menyesatkan atau mis/disinformasi hanya dapat dilawan dengan literasi. Namun, literasi digital di Indonesia masih sangat rendah. Kemampuan literasi digital ini dikenalkan kepada kelompok remaja tongkrongan “Warbar Skuy” di Kabupaten Bekasi yang berkumpul setiap hari untuk bermain game Mobile Legend pada masa pandemi COVID-19. Hasil diskusi dan tanya-jawab selama sosialisasi menunjukkan bahwa remaja tidak ‘cuek’ dengan penyebaran mis/disinformasi di media sosial.