p-Index From 2021 - 2026
4.117
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Jurnal Komunikasi MediaTor: Jurnal Komunikasi Jurnal KOMUNIKA Jurnal Ilmu Komunikasi Journal of Urban Society´s Arts Jurnal Pendidikan dan Pemberdayaan Masyarakat Channel : Jurnal Komunikasi Dharmakarya : Jurnal Aplikasi Ipteks Untuk Masyarakat Jurnal Sosioteknologi Jurnal Kesehatan Jurnal Kajian Komunikasi Jurnal The Messenger Nomosleca ProTVF KOMUNIKA Panggung Jurnal Studi Komunikasi Jurnal Berkala Kesehatan Jurnal Komunikasi Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia Nyimak: Journal of Communication Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat MetaCommunication; Journal Of Communication Studies Lontar : Jurnal Ilmu Komunikasi Al-Izzah: Jurnal Hasil-Hasil Penelitian Al Qalam: Jurnal Ilmiah Keagamaan dan Kemasyarakatan JURNAL PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT Semiotika: Jurnal Komunikasi Jurnal Profetik Jurnal Ilmu Politik dan Komunikasi Jurnal Komunikasi Universitas Garut: Hasil Pemikiran dan Penelitian Communicology: Jurnal Ilmu Komunikasi Jurnal JTIK (Jurnal Teknologi Informasi dan Komunikasi) Abdi Laksana : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Jurnal Trias Politika Atrat: Jurnal Seni Rupa Jurnal Mutakallimin : Jurnal Ilmu Komunikasi ABDI MOESTOPO: Jurnal Pengabdian pada Masyarakat Komunika: Jurnal Dakwah dan Komunikasi Jurnal Signal Mamangan Social Science Journal Journal of Socio Economics on Tropical Agriculture (Jurnal Sosial Ekonomi Pertanian Tropis) (JOSETA) Jurnal Ilmu Komunikasi UHO : Jurnal Penelitian Kajian Ilmu Komunikasi dan Informasi West Science Social and Humanities Studies Comdent: Communication Student Journal Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora (JKBH) Kabuyutan: Jurnal Kajian Iilmu Sosial dan Humaniora Berbasis Kearifan Lokal Panggung
Claim Missing Document
Check
Articles

PERISTIWA KOMUNIKASI DALAM MEDIA SOSIAL “WHATSAPP GROUP FAMILY SW-6” Ditha Prasanti; Sri Seti Indriani
Jurnal Komunikasi Universitas Garut: Hasil Pemikiran dan Penelitian Vol 3, No 2 (2017): Oktober 2017 Jurnal Komunikasi Universitas Garut : Hasil Pemikiran dan Penelitia
Publisher : Universitas Garut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.10358/jk.v3i2.572

Abstract

Abstrak WhatsApp Group Family sebagai salah satu media digital untuk berkomunikasi yang telah digunakan oleh hampir semua kalangan keluarga. Hampir setiap orang di era digital ini, menggunakan aplikasi WhatsApp, hingga pada akhirnya, sebagian keluarga pun tidak mau ketinggalan untuk membuat group whatsapp family, sebagai sarana berkomunikasi. Kehadiran WhatsApp Group Family pun telah memicu timbulnya berbagai peristiwa komunikasi. Peristiwa komunikasi yang unik terjadi dalam percakapan keluarga melalui WhatsApp Group Family inilah yang menjadi alasan dilakukannya penelitian ini. Penulis mengangkat penelitian ini dengan judul “Peristiwa Komunikasi dalam Percakapan Melalui WhatsApp Group Family SW 6”. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Teknik pengumpulan data yang dilakukan adalah wawancara, observasi, dan studi dokumentasi. Hasil penelitian ini menggambarkan adanya keunikan peristiwa komunikasi dalam percakapan yang terjadi melalui WhatsApp Group Family SW-6, terdiri dari: peristiwa silaturahmi; peristiwa bullying; peristiwa ajang eksistensi diri; dan peristiwa sindiran dalam percakapan melalui WhatsApp Group Family SW-6. Kata Kunci: Peristiwa; Komunikasi; Percakapan; Whatsapp Group Family Abstract WhatsApp Group Family as one of the digital media to communicate that has been used by almost all family circles. Almost everyone in this digital age, using the application WhatsApp, until in the end, some families did not want to miss to create a group whatsapp family, as a means of communicating. The presence of WhatsApp Group Family has also triggered the emergence of various communication events. Unique communication events occur in family conversations through WhatsApp Group Family is the reason for this research. The author raised this research under the title "Communication Events in Conversations through WhatsApp Group Family SW 6". This research uses qualitative approach with descriptive method. Data collection techniques are interview, observation, and documentation study. The results of this study illustrate the uniqueness of communication events in conversations that occur through WhatsApp Group Family SW-6, consisting of: the event of friendship; bullying events; show of self existence; and satire / reprimand in a conversation through WhatsApp Group Family SW-6. Keywords: Events; Communications; Conversations; Whatsapp Group family
Communication Experiences and Challenges of Kindergarten and Elementary Teachers in Online Learning during the COVID-19 Pandemic Sri Seti Indriani; Ditha Prasanti
Jurnal Komunikasi Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia Vol 6, No 2 (2021): December 2021 - Jurnal Komunikasi Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia
Publisher : Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25008/jkiski.v6i2.582

Abstract

The increasing  number of patients recovering  from the COVID-19  and the decreasing number of people exposed to the infection seemed to raise the community’s hopes for  returning to face-to-face learning. Some schools have slowly implemented face-to-face learning. Teachers sincerely hope to optimize face-to-face learning soon. However, there are still pros and cons over face-to-face learning for fear of schools turning into COVID-19 clusters. The teachers complained about  various online learning problems, so they   applied  for  permission to conduct  face-to-face learning. The purpose of this research is to understand  teachers’ experiences in  online learning during the COVID-19 pandemic, including  positive and negative experiences  as well as  obstacles in the online learning during the pandemic. This study uses descriptive qualitative research methods, with data collection technique conducted through documentation studies as well as interviews with five kindergarten and elementary school teachers. The selection of research subjects used purposive sampling. The results of this study  revealed that the  teachers had  extraordinary experiences, both  negative and positive. The negative experiences during online learning are related to confusion, culture shock, dissatisfaction, stress, fatigue, and overwhelm, while the positive experiences are related to the ease of attending meetings simultaneously, carrying out activities at home and gaining new knowledge, especially in communication technology. Barriers and challenges experienced by teachers in  online learning during the pandemic are  technical and non-technical in nature.
BENDO SEBAGAI SIMBOL BUDAYA LOKAL SUNDA DALAM KOMUNITAS AEC Studi Kualitatif tentang Bendo Sebagai Budaya Lokal Sunda dalam Komunitas Armidale English College (AEC) di Bandung Ditha Prasanti; Sri Seti Indriani
Communicology: Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 6 No 1 (2018): Communicology: Jurnal Ilmu Komunikasi, Volume 6 No 1 Juli 2018
Publisher : DIII Prodi Humas Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21009/Communicology.06.04

Abstract

Artikel ini membahas tentang sebuah komunitas belajar bahasa, bernama Armidale English College (AEC) yang memiliki budaya unik karena kecintaannya terhadap budaya lokal sunda. Dalam era modern ini, ternyata masih ada sekelompok orang yang berusaha meningkatkan eksistensi budaya lokal melalui simbol yang telah disepakati menjadi ikon dari komunitas tersebut. Dalam hal ini, komunitas AEC menggunakan bendo sebagai simbol budaya lokal. Oleh karena itu, penulis tertarik untuk mengangkat penelitian ini yang berjudul “Bendo sebagai Simbol Budaya Lokal dalam Komunitas Armidale English College (AEC) di Bandung”. Dalam penelitian ini, penulis menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara, observasi dan dokumentasi. Hasil penelitian yang telah dilakukan penulis ini menunjukkan bahwa pendiri komunitas AEC memiliki kecintaan terhadap budaya lokal sunda, karena bendo juga sebagai wujud dari nilai nasionalismeyang dimiliki komunitas tersebut. Hal ini ditunjukkan oleh atribut yang selalu dikenakannya yaitu bendo, sehingga bendo tersebut pun digunakan sebagai simbol atau ikon dari komunitas AEC yang berada di Bandung. Kata kunci: Bendo, Simbol, Budaya Lokal, AEC, Bandung
STRATEGI KOMUNIKASI PEMASARAN FILM INDIE: MODEL PEMASARAN DAN DISTRIBUSI FILM INDIE INDONESIA Rangga Saptya Mohamad Permana; Lilis Puspitasari; Sri Seti Indriani; Hanny Hafiar
Journal of Urban Society's Arts Vol 5, No 2 (2018): October 2018
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jousa.v5i2.2120

Abstract

AbstrakFilm independent atau yang lebih akrab disebut dengan film indie secara umum adalah film yang diproduksi di luar major label atau perusahaan/production house (PH) film besar. Karena tidak dipasarkan melalui jalur distributor komersial, maka para sineas film indie harus cerdas dan intuitif dalam mencari peluang-peluang untuk memasarkan karya mereka kepada khalayak luas. Hal inilah yang menarik minat penulis untuk melakukan riset mengenai strategi komunikasi pemasaran film indie Indonesia. Berdasarkan uraian tersebut, maka tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui strategi komunikasi pemasaran film indie Indonesia. Teknik wawancara, observasi, studi pustaka dan Focus Group Discussion (FGD) digunakan untuk mengumpulkan data-data riset yang dibutuhkan. Penulis telah melakukan wawancara dan FGD dengan beberapa produser, sutradara dan aktivis/pengkaji film indie di 3 kota besar di Indonesia (Yogyakarta, Jakarta dan Makassar). Hasil riset menunjukkan bahwa mayoritas para sineas film indie di Indonesia menjadikan festival-festival film (baik nasional maupun internasional) sebagai media pemasaran utama bagi karya-karya mereka. Selain menggunakan festival film sebagai ajang promosi, para sineas film indie Indonesia juga menggunakan beberapa media/cara lain, yaitu melalui ruang putar alternatif, media sosial, website yang memasarkan film-film alternatif, digital TV platform, roadshow, dan melalui press screening.Kata Kunci: Film; Indie; Komunikasi; Pemasaran AbstractMarketing Communication Strategy of Indie Film: Marketing Model and Distribution of Indonesia Indie Film. Independent films or more familiarly referred to indie films in general are films produced by non-major label or company/production house (PH). Since it is not marketed through a commercial distributor line, indie filmmakers must be smart and intuitive in searching for opportunities to promote their work to a wide audience. The authors interested to do research on the marketing communication strategy of Indonesia indie films. Based on the description, the purpose of this research in this article is to explore the marketing communication strategy of Indonesia indie films. The authors has conducted interviews and FGDs with several producers, directors and indie film activists/reviewers in three cities in Indonesia (Yogyakarta, Jakarta and Makassar). The research results show that Indonesian’s indie filmmakers utilises film festivals (both national and international) as the main marketing medium for their works. In addition, indie film producers also use alternative media, such as social media, websites, digital TV platforms, roadshows, and through press screening.Keywords: Film; Indie; Communication; Marketing
Potret Konformitas dalam Kelompok Remaja Laki-Laki Urban Komunitas BC Ditha Prasanti; Sri Seti Indriani
CHANNEL: Jurnal Komunikasi Vol 8, No 2 (2020)
Publisher : Universitas Ahmad Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12928/channel.v8i2.15750

Abstract

This article is a research study on communication behavior, especially regarding group conformity and communication motives that occur in urban adolescents. The BC community is a unique urban teenage boy community as a group of young people who are digitally literate and prioritize the value of conformity in their group. Therefore, the author wants to describe the conformity and motives of adolescents in the community. This study uses the Schutz phenomenology method because it observes the communication behavior of the study of group conformity and male adolescent motives. The results of the research showed that the conformity of the group in the BC community was formed due to personal factors and situational factors; The motives underlying the male adolescent communication behavior in the BC community are classified into because of motives and to motives. In the end, the writer found that conformity and motive are two different things but inherent in the individual so that the author can see what trends will be done by male adolescents. This is an impact arising from the conformity and motives they have.
MENGGALI KREATIVITAS REMAJA MELALUI PELATIHAN PROMOSI FILM INDIE DI DESA KRAMATMULYA, SOREANG, KABUPATEN BANDUNG Rangga Saptya Mohamad Permana; Lilis Puspitasari; Sri Seti Indriani
Dharmakarya Vol 7, No 3 (2018): September
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (260.486 KB) | DOI: 10.24198/dharmakarya.v7i3.18170

Abstract

 ABSTRAKDi Indonesia, konsep film indie adalah film-film yang tidak diproduksi oleh rumah produksi besar dan film yang mengeksprsikan idealisme pembuatnya tanpa tekanan dari pihak manapun. Film-film pendek yang dibuat atas dasar hobi dan kecintaan khalayak pada dunia film juga termasuk ke dalam film indie. Terkait dengan hal tersebut, sebagian besar remaja di Desa Kramatmulya, Soreang, Kabupaten Bandung, telah memiliki akses pengetahuan dalam bidang produksi film-film pendek. Para remaja yang pada umumnya berusia antara 17-19 tahun ini telah memiliki pengalaman memproduksi film, mulai dari tahap pra-produksi sampai tahap post-produksi. Hanya saja, mereka belum memiliki pengetahuan yang cukup mengenai sistem dan model promosi film indie. Tujuan dari dilaksanakannya program pelatihan ini adalah memberikan pengetahuan mengenai promosi film indie kepada para remaja tersebut, serta memotivasi mereka, agar kelak ketika mereka ingin mencoba untuk memperkenalkan hasil karya mereka pada khalayak, mereka telah memiliki bekal pengetahuan untuk melakukannya melalui media promosi yang tepat. Metode-metode yang digunakan dalam pelatihan ini antara lain metode komunikasi bermedia (audio-visual), metode ceramah, metode interaktif, metode pre-test dan post-test, metode simulasi, serta metode ice breaking. Hasil yang dicapai setelah pelatihan ini dilaksanakan adalah para peserta menjadi memiliki pemahaman yang lebih baik megenai model, teknik dan pemilihan media promosi film indie serta memiliki keinginan dan motivasi untuk dapat memperkenalkan sampai mempromosikan film-film pendek yang telah mereka hasilkan. Kata Kunci: Kreativitas; Promosi; Film; IndieABSTRACTIn Indonesia, indie films are not produced by large production houses. These films express the idealism of the maker without any pressure from others. Short films made on the basis of hobbies and society’s passion of films are also included in indie films. Related to that, most teenagers aged 17-19 years old in Kramatmulya Village, Soreang, Bandung Regency, have had access to knowledge in the field of short films productions. The teenagers have experienced in producing films, from the pre-production stage to the post-production stage. It's just that, they don't have enough knowledge about indie film promotion systems and models. The purpose of this training program was to provide knowledge about indie film promotion to the teenagers, and motivate them, so that later when they want to try to introduce their work to the public, they will have knowledge to do it through the right promotional media. The methods used in this training include media communication methods (audio-visual), lecture methods, interactive methods, pre-test and post-test methods, simulation methods, and ice breaking methods. The results achieved after this training was to have the participants a better understanding of the models, techniques and selection of indie film promotion media the desire and motivation to be able to introduce and promote their short films. Keywords: Creativity; Promotion; Film; Indie
Analisis Faktor yang mempengaruhi Intensi Pola Hidup Bersih dan Sehat pada Masyarakat di Bantaran Sungai Citarum Ikhsan Fuady; Ditha Prasanti; Sri Seti Indriani
Jurnal Kesehatan Vol 13, No 2 (2020): Jurnal Kesehatan
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/jk.v13i2.10805

Abstract

Permasalahan pola hidup sehat yang buruk memiliki peran yang besar terhadap permasalahan kesehatan pada masyarakat di hulu bantaran Sungai Citarum. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor faktor yang mempengaruhi intensi masyarakat dalam berperilaku pola hidup sehat. Metode penelitian ini kuantitatif dengan pendekatan survey. Penelitian ini dilakukan pada Bulan Februari 2018 -Juli 2018, di Bantaran Hulu sungai Citarum Desa tarumjaya Kecamatan Kertasari Kabupaten Bandung . Penelitian ini menggunakan kerangka teori Planned behavior. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa intensi perilaku masyarakat dalam perilaku hidup bersih dan sehat terkategori sedang. Adapun faktor faktor yang mempengaruhi intensi perilaku pola hidup sehat adalah faktor sikap masyarakat terhadap kesehatan itu sendiri dan norma subjektif Sikap yang positif pada pola hidup sehat sebagai faktor dominan yang mempengaruhi intensi untuk berperilaku hidup sehat. Norma subjektif yang memiliki peran signifikan terhadap intensi adalah dukungan lingkungan sekitar dan tokoh masyarakat.
Analisis konvergensi simbolik dalam media sosial youth group terkait kasus COVID-19 di Indonesia Sri Seti Indriani; Ditha Prasanti
Jurnal Kajian Komunikasi Vol 8, No 2 (2020): December 2020
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (613.658 KB) | DOI: 10.24198/jkk.v8i2.27271

Abstract

Pada awal tahun 2020, Organisasi Kesehatan Dunia mengumumkan COVID-19 sebagai pandemi yang mengejutkan dunia. Virus yang menular dan berbahaya ini melumpuhkan sebagian besar negara di dunia. Paparan media tentang virus menyebabkan berbagai spekulasi dan asumsi tentang virus. Diskusi tentang virus menjadi terhangat yang diperbincangkan oleh berbagai kalangan dalam segala bentuk media massa, termasuk sebuah komunitas dalam media sosial. Sekelompok remaja dalam group WhatsApp bernama Monster Rabbits’ yang juga menjadikan kasus ini sebagai salah satu topik yang selalu diperbincangkan. Tujuan penelitian adalah mengungkapkan tema diskusi mereka, mengungkap rantai tema yang terbentuk dalam kelompok terkait dengan kasus COVID-19, dan untuk mengenali budaya obrolan mereka dalam kelompok. Teori konvergensi simbolik menjadi teori yang relevan untuk mendukung penelitian ini. Penelitian dilakukan dengan pendekatan kualitatif menggunakan metode etnografi virtual. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara offline-online, observasi, dan studi dokumentasi. Hasilnya menunjukkan bahwa tema yang terbentuk adalah tentang kesadaran mereka akan virus. Rantai yang terbentuk dalam percakapan dimulai dengan kasus COVID-19 di mana mereka mendapatkan sebagian besar informasi, perasaan mereka tentang hal itu, dan langkah-langkah untuk mencegah diri mereka sendiri dalam pengananan virus. Bagian terakhir dari diskusi adalah tema-tema yang mengungkap rantai fantasi yang memperdebatkan bagaimana virus dapat muncul di tempat pertama dan menyebar ke seluruh dunia. Budaya obrolan yang ditunjukkan dalam kelompok terdiri dari empat kategori, yaitu; penggunaan bahasa sehari-hari, penggunaan stiker yang difasilitasi oleh aplikasi, penggunaan screen shoot gambar dari situs web lain, dan penggunaan bahasa campuran antara Indonesia dan Inggris.
Resepsi khalayak pada program acara televisi di Trans 7 sebagai media edukasi Rizkia Nidha Amalia; Sri Seti Indriani; Jimi Narotama Mahameruaji
ProTVF Vol 6, No 1 (2022): March 2022
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/ptvf.v6i1.36061

Abstract

Peminatan masyarakat pada program edukasi dalam televisi mengalami kemunduran, ini disebabkan karena jadwal tayang yang tidak sesuai dengan sasaran, pembukaan program dan beberapa diantaranya kurang menarik perhatian masyarakat. Meskipun demikian adapun salah satu acara televisi “Tau Gak Sih” yang mencoba mengambil kembali perhatian masyarakat dengan tema edukasinya. Komunitas Peduli Akademik dan Kemasyarakatan merupakan salah satu komunitas pemerhati masalah edukasi dalam masyarakat memiliki kesadaran akan adanya acara televisi “Tau Gak Sih”. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui proses pembentukan kode teks atau enkoding nilai edukasi pada program acara televisi “Tau Gak Sih?” di Trans 7 dan untuk mengetahui posisi pembacaan anggota dalam Komunitas Peduli Akademik dan Kemasyarakatan (KOMPAK) terhadap nilai edukasi program acara televisi “Tau Gak Sih?” di Trans 7. Informan penelitian ini adalah guru-guru relawan yang berada di Komunitas Peduli Akademik dan Kemasyarakatan (KOMPAK). Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan pendekatan analisis resepsi Stuart Hall dan teori enkoding – dekoding Stuart Hall. Hasil penelitian menunjukkan terdapat tiga indikator nilai edukasi yang membuat program acara televisi “Tau Gak Sih?” sebagai media edukasi yaitu memberikan wawasan, didukung oleh sumber terpercaya, dan pesan sampai kepada khalayak dan mudah dipahami. Posisi pembacaan Komunitas Peduli Akademik dan Kemasyarakatan untuk tiga indikator nilai edukasi, mayoritas berada pada posisi Hegemoni – Dominan. Maka dapat disimpulkan bahwa program acara televisi “Tau Gak Sih?” menjadi media edukasi untuk komunitas tersebut.
Analisis Interaksi Simbolik pada Konten Ofensif Iklan Grab #pilihaman Sri Seti Indriani; Lilis Puspitasari; Evi Rosfiantika
ProTVF Vol 3, No 1 (2019): March 2019
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1049.591 KB) | DOI: 10.24198/ptvf.v3i1.21245

Abstract

Iklan memiliki sifat yang menyerap dan terkadang berlebihan. Iklan dapat ditemukan di setiap platform area lingkungan kita, baik secara cetak maupun online, sehingga menyerap perhatian kita. Pertumbuhan belanja iklan sepanjang Januari-September 2018 menunjukkan tren positif di angka 5 persen, dengan total belanja iklan baik di media televisi dan cetak mencapai Rp 114,4 Triliun. Pordusen iklan berlomba-lomba bersaing merebut perhatian publik agar supaya iklan produk mereka terjual dan terbeli. Banyak cara yang dilakukan pengiklan agar menarik perhatian publik. Perhatian tersebut bisa bersifat positif maupun negatif dan bahkan tidak etis untuk ditayangkan. Salah satu iklan yang ditarik kembali oleh produsennya adalah iklan video kampanye Grab #PilihAman karena menuai berbagai reaksi dari masyarakat. Iklan tersebut diunduh oleh Grab di YouTube pada tahun 2016. Penelitian ini berupaya untuk menjelaskan bagaimana iklan tersebut menggunakan taktik pujian dalam menekankan sebuah kebenaran dan bagaimana penonton melihat iklan video kampanye Grab#PilihAman tersebut. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian deskriptif-kualitatif. Teknik pengambilan data menggunakan wawancara, studi dokumentasi dan observasi. Beberapa informan yang merupakan pemerhati iklan ditarik sebagai subjek penelitian. Hasil penelitian mengungkap bahwa adanya empat cara iklan tersebut menarik perhatian publik: (1) Pseudo_claims, (2) Comparison with an unidentified other, (3) Irrelevant Comparisons dan (4) juxtaposition. Penonton melihat iklan konten Grab tersebut sebagai hal yang: (1) ofensif (penyerang), (2) berlebihan (overclaim), (3) ektsrim dan (4) tidak etis.