Claim Missing Document
Check
Articles

UJI COBA PENGGUNAAN GAS PANAS DARI TUNGKU GASIFIKASI KA YU KARET UNTUK PENGERINGAN BUI COKLAT Tjutju Nurhayati
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 12, No 5 (1994): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1550.696 KB) | DOI: 10.20886/jphh.1994.12.5.164-168

Abstract

 Hot gas of rubber wood burning on wood gasifier-combustor with capacity 3 mBTU used for cacao seed  drying at temperature ranged from 68 to 74° C. The moisture content of cacao seed prior to drying was varied from 141.93 to 7.14 %.The trial results revealed that the average of hot gas flow rate was 118.47m3/hour, rubber wood consumed  was 0.33 kg per kg dry cacao seed or 1.03 kg per wet cacao seed, with the moisture content of rubber wood ranged from 11.64 to 14.34 %. The flow rate of drying was 134.63 dry cacao seed per hour and the efficiency of hot gas conversion was 54%. The energy of hot gas consumption was 2.79 MJ per kg cacao seed and the productivity was 94. 67 KJ per kg cacao seed per hour. 
PEMBUATAN ARANG KAYU KARET (Hevea brasilliensis) PADA TUNGKU KUBAH MODEL S-93 Tjutju Nurhayati
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 13, No 1 (1995): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4390.068 KB) | DOI: 10.20886/jphh.1995.13.1.37-44

Abstract

Dome kiln of S-93 model with 1.40 m3 capacity was built for charcoal production of rubber wood (Hevea brasilliensis). Two clones of rubber wood used as raw materials were AVROS 2037 and GT-Twhich were 15 and 25 years old, respectively.Charcoal yield, conversion efficiency from wood 10 charcoal, rate of production and quality between AVROS and GT-T were not significant. the percentage of yield was 26.9 % , efficiency was 39.2 % and rate of production was 1.6 kg/hour. the quality of charcoal showed that volatile melter content was 17.43 %, fixed carbon 78.64 %, ash content 3.92 % and catoriffic value 6582 kcal/kg.
EFISIENSI ENERGI KAYU PADA PROSES PENGERINGAN PAPAN (Waod energy efficiency on timber drying) Tjutju Nurhayati
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 11, No 6 (1993): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (19608.116 KB) | DOI: 10.20886/jphh.1993.11.6.228-231

Abstract

The purpose of this research is to study the efficiency wood utilization as an energy source on timber drying. The research was conducted at big and medium scale industries of sengon (Paraserianthes falcataria) wood working which used steam boiler and air duct-fired stove, respectively and at small industry of ramin (Gonisthyllus bancanus) wood working which usedhot water-fired stove.The result indicated that the highest wood/waste energy efficiency obtained was 53 % from big, scale sengon industry which used slabs and trimmings waste as energy source and the lowest one was 14.20% from medium sengon industry.
GAS BIO DARI HASIL FERMENTASI ECENG GONDOK DUA FASE DAN KAYU LAMTORO SEBAGAI DAHAN BAKAR UNTUK MEMASAK Tjutju Nurhayati
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 12, No 1 (1994): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (7170.326 KB) | DOI: 10.20886/jphh.1994.12.1.1-4

Abstract

Riogas of 2-phase water hyacinth fermentation  and lamtoro wood of 4 years old were used as fuel for  cooking by the family.  The value of nutrition requirement was  10,353 calories  made of rice, meat,  fermented  soyabean,  etc. consumed by 5 persons in the family.The  study revealed that bio gas consumptian  was 1.281 1.  with the caloriffic  value of  4,569 Kcal/m3  and methane  content of 46.78%. This bio gas energy  was  5.85 Mcal for  181 minutes of cooking period.  This bio  gas consumption can be fulfilled  by using  33.14 kg fresh Water hyacinth per day in 300 1 volume reactor and 4.3% dry Water.Lamtoro  consumption  Was  4, 243 g for  159  minutes of cooking period with the  caloriffic  vatue of  4,299 Kca/kg and moisture  content of 14.50%. This lamtoro enetgy  was   18.24 Meal per day per family.  The total weight of wood cutting was   164. 80 kg with the moisture content ranged from  44. 74 to 63.33  %.  This  amount  will  be  enough for  cooking for  3 4 days  when converted  to 14.50 % maisture  content.
KEMUNGKINAN PEMANFAATAN ARANG AKTIF KULIT KAYU Acacia mangium Willd UNTUK PEMURNIAN MINYAK KELAPA SAWIT Gustan Pari; Tjutju Nurhayati; Hartoyo Hartoyo
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 18, No 1 (2000): Buletin Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5307.415 KB) | DOI: 10.20886/jphh.2000.18.1.40-53

Abstract

Dalam tulisan ini akan dikemukakan hasil penelitian tentang pembuatan arang aktif dari kulit kayu Acacia mangium Willd. dengan cara aktivasi uap kimia. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kualitas arang aktif dari kulit kayu Acacia mangium dengan pemakaian bahan pengaktif NH4HCO3 dosis rendah untuk penjemihan minyak kelapa sawit.Sebelum dibuat arang aktif, terlebih dahulu bahan baku dibuat arang pada suhu 500ºC selama 5 jam di dalam retor, selanjutnya arang yang dihasilkan dibuat arang aktif yang dilakukan dalam retor yang terbuat dari baja tahan karat dengan alat pemanas listrik pada suhu 900ºC. Apabila telah mencapai suhu tersebut dilakukan proses aktivasi dengan mengalirkan uap larutan NH4HCO3 selama 60 menit pada taraf konsentrasi 0,0; 0,25; 0,50 dan 0, 75%. Arang aktif yang dihasilkan di uji cobakan untuk menjemihkan minyak kelapa sawit dengan dosis masing-masing 1,0; 2,0; 3,0 dan 4,0 %.Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas arang aktif kulit kayu Acacia mangium yang terbaik adalah arang aktif yang dibuat pada konsentrasi 0,25 % yang menghasilkan rendemen 29,34%, kadar air 14,49%, kadar abu 14,33%, kadar zat terbang 18,32%, kadar karbon 67,35%, daya serap terhadap benzena 23,37%, metilin biru 136,10 mg/g dan daya serap terhadap yodium sebesar 866,23%.Kualitas minyak goreng setelah dimurnikan dengan arang aktif yang dibuat pada konsentrasi NH4HCO3 0,25% menjadi lebih baik yang ditunjukkan dengan berkurangnya kandungan asam lemak bebas menjadi 0,12%, bilangan peroksida 0,47 mg/100g, bilangan iod 10,31 g/100g, kadar zat menguap 0,12% dan kadar kotoran 1,73%.
ISOLASI DAN SIFAT LIGNIN DARI LARUTAN SISA PEMASAK PABRIK PULP (Isolation and properties of lignin from black liquor of pulp industry) Tjutju Nurhayati; Ridwan Ahmad Pasaribu
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 11, No 3 (1993): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3547.205 KB) | DOI: 10.20886/jphh.1993.11.3.110-116

Abstract

the study is aimed to find the isolation techniques and properties al lignin component of black Liquors from pulp industry.The samples were taken from Basuki Rahmat pulp industry, namely black liquor of sulfate pulping from evaporator (with pH 13. 52) and from digester (pH 10.58), and from Basuki Teguh, namely neutral sulfite semi chemical pulping (pH 6.85). The isolation was conducted by using two kinds of acid i.e. sulphuric acid 2 N and chloric 2 N each at pH 3. and pH 5.The result revealed that the yield and quality of lignin isolated at pH 2 was higher than other pH levels. At this pH level, the lignin produced from sulfate pulping black liquor of exporator was 21.04%, and from digester was 7.47 %, and of neutral sulfide semi chemical pulping was 0.57%. the lignin properties of each black liquor were as the following : pure lignin content was 70.41 %, 72. 55 % and 68. 29 % , respectively ; methoxyl content was 5. 62 %, 11.17 % and 8. 95 % respectively, and particle surface area was 33.87 m3/g, 29.81 m2/g and 28.03 m2/g, respectively,Different from other lignin properties, highest acidity and water absorption capacity of lignin was produced by one which was isolated by chloric acid at pH level 5. the water absorption capacity and lignin acidity of sulfate pulping black liquor of evaporator was 122.45% and pH 6; and of digester was 119. 17 % and pH 6.03; and of neutral sulfide semi chemical pulping was 116.60 % and pH 5.53.
PRODUKSI ARANG DAN DESTlLAT KAYU MANGlUM DAN TUSAM DARI TUNGKU KUBAH Tjutju Nurhayati
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 18, No 3 (2000): Buletin Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (8294.254 KB) | DOI: 10.20886/jphh.2000.18.3.137-151

Abstract

Kayu tusam (Pinus merkusii) dan mangium (Acacia mangium) digunakan sebagai bahan baku pada peuelitian produksi arang dan destilat yang dilakukan pada tungku kubah kapasitas 1,3 m3 yang dilengkapi dengan 2 unit pendingin. Parameter penelitian meliputi proses dan produk karbonisasi, kualitas arang dan destilat serta ulasan aspek ekonomi.Hasil penelitian menunjukkan bahwa :Proses pembakaran kayu tusam dan mangium menjadi arang masing-masing dilakukan selama 60,5 jam dan 58 jam, pendingin uap/gas mulai pada suhu 110ºC diperlukan waktu selama 45,5 jam dan 51,5 jam dan proses pendinginan tungku dilakukan selama 5 hari dan 4 hari. Laju pembakaran kayu tusam dan mangium menjadi arang masing-masing yaitu 7,370 kg kayu/jam dan 7,607 kg kayu/jam. Laju sirkulasi air 2,5 liter/menit dengan jumlah energi listrik yang diperlukan rata-rata sebanyak 20,6 kWH atau 3, 747 liter destilat per kWH.Teknik produksi arang dan destilat dari kayu tusam dan mangium menunjukkan hasil relatif sama yaitu rendemen tusam dan mangium masing-masing 25,63% dan 24,20%, destilat 32,64% dan 31,94%, efisiensi konversi kayu menjadi arang 36,04% dan 36,41%. Laju produksi orang 1,055 kg/jam dan 1,002 kg/jam, laju produksi destilat 1,592 kg/jam dan 1,466 kg/jam, produktivitas destilat 3,32 ml/kg/jam dan 3,57 ml/kg/jam dan konsumsi kayu untuk produksi 1 ton arang masing-masing tusam dan mangium adalah 13,292 m3/ton dan 15,884 m3/ton (4317 kg/ton dan 4298 kg/ton dari kayu berat kering).Proses karbonisasi mangium pada tungku kubah yang dilengkapi alat pendingin uap gas untuk memproduksi destilat tidak mempengaruhi sifat arang yang dihasilkan.Destilat tusam dan mangium yang diproduksi dari cara tungku memberikan sifat keasaman dan berat jenis yang sama, tetapi kadar asam total, kadar alkohol dan phenol lebih tinggi dari destilat yang diproduksi dari destilasi kering.Destilat tusam produk dari tungku menunjukkan kadar asam total, kadar alkohol dan phenol lebih tinggi dari destilat mangium. Dibandingkan dengan pestisida antrakol, destilat tusam mengandung kadar fenol lebih tinggi, tetapi fenol murninya lebih rendah, kadar alkohol dan asam total serta berat [enis lebih tinggi tetapi sifat keasamannya destilat tusam lebih rendah.Kadar metanol dan fenol yang dianalisis secara chromatografi menunjukkan bahwa destilat tusam lebih tinggi kandungannya yaitu masing-masing 4,80% dan 11,30%.Biaya produksi arang dan destilat yang meliputi pengadaan kayu dan operasional adalah Rp. 85.000,- dengan keuntungan yang diperoleh dari hasil penjualan arang dan destilat sebesar Rp. 9.450,-.
PENINGKATAN MUTU WARNA KAYU JATI (Tectona grandis L.f.) Tjutju Nurhayati
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 16, No 3 (1998): Buletin Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1593.974 KB) | DOI: 10.20886/jphh.1998.16.3.140-148

Abstract

Penelitian yang dilakukan terhadap contoh uji sortimen gergajian kayu jati yang warnanya kurang baik dan cacat dengan perlakuan ekstraksi masing-masing dalam pelarut etanol, campuran etanol dan benzen 1 :2 dan aseton serta perlakuan waktu ekatraksi 0,5 sampai 2 jam dengan selang0.5 jam menunjukkan bahwa cacat warna menjadi berkurang dengan ditandai meningkatnya warna kayu tersebut.Contoh uji mutu P, D , T dan yang mengandung cacar alut minyak dan alur hitam pada P. Cacat doreng pada D, kemerahan. "crowm “ dan kebiruan dapat meningkat warnanya setaraf dengan wama mutu U yang mulus dan merata. Hilangnya cacat alur minyak dan alur hitam diperoleh dari perlakuan ekstraksi dalam etanol benzena 1: 2 waktu 1 jam serta aseton waktu 2 jam. Untuk cacat doreng dari aseton 2 jam, cacat kemarahan dari etanol dan aseton selama 0,5 jam. cacat "crown dari etanol 1 jam dan kebiruan dari etanol benzena 1 :2 selama 0.5 jam 
ANALISIS KIMIA DAN DESTILASI KERING KAYU KARET Sri Komarayati; Dadang Setiawan; Tjutju Nurhayati
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 13, No 1 (1995): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3900.923 KB) | DOI: 10.20886/jphh.1995.13.1.1-8

Abstract

This paper  deals with chemical  and charcoal properties  of rubberwood.  The analysis of chemical  propertis comprises of  the determination   of cellulose, holocellulose,   lignin, pentosan, moisture  content,    ash  content,  silica  content,  solubility  in  cold  water,    hot  water,   sodium hydroxide  1  percent  and ethanol-benzene    (1 : 2). The  analysis of charcoal property comprises of charcoal,  tar,  pyroligneous  liquor,   calorific value,  volatile matter and fixed carbon.The result showed  that cellulose  content   48.38   %  -  50.26  %  ;  holocellulose 59.68   %  -60.17    %  ;  lignin 31.33  %  -  33.49  %  ;  pentosan  15.98   %  -  16.43   %  ;  moisture   content 7.34  -9. 98 %  ; ash 0. 64 - 0. 71  % ; silica 0. 57 %  - 0. 60 %.  Solubility in cold water 2. 39 %  - 4.48 %;  in hot water  3.33   %   - 5.93   %  ;  in alcohol-benzene     (1  :  2)  2.35  %   - 2.37    %  and in one percent sodium hydroxide 18. 87 %  - 20. 72 %.Based on chemical analysis,  especially  the cellulose and pentosan  content,   rubberwood is suitable as raw material forpulp and paper,  rayon andfiberwood.Chemical analysis of charcoal indicated that charcoal yield variedfrom 28.16  %  - 29. 77 %  ;  tar   6.86  %  -  7.4666   %  ; pyroligneous   liquor  87.50   -  103.23   %  ;  calorific value  7114.68  cal/gr -7166. 77 cal/gr .fixed carbon 73.82   %  -  78.05 %  and volatile mailer 20.45 % - 23. 61 %. Proximate  analysis  of charcoal  obtained from this  experiments   revealed that   the   quality are suitable for commercial charcoal, metallurgy charcoal and as raw malerial of activated charcoal.
HASIL DESTILASI KERING DAN NILAI KALOR 9 JENIS KA YU DARI NUSA TENGGARA BARAT Sri Komarayati; Tjutju Nurhayati; Dadang Setiawan
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 15, No 1 (1997): Buletin Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1987.466 KB) | DOI: 10.20886/jphh.1997.15.1.1-6

Abstract

Destilasi kering terhadap sembilan jenis kayu telah dilaksanakan dengan mempergunakan retort yang dilengkapi pemanas dari listrik. Retort dihubungkan dengan tiga kondensor dan dua buah labu untuk mengumpulkan distilat atau gas. Kondlsi perlakuan yang diberikan pada penelitian ini antara lain suhu maksimum pengolahun 500ºC dan waktu destilasi 5 jam.Penelitian ini memberikan hasil rendemen arang beragam dari 27,20% - 32,61%, ter 5,37% - 11,74% dun cairan piroligneous 48,00% - 59,60%. Cairan piroligneous dapat digunakan sebagai desinfektan dan untuk menghilangkan bau. Ter yang dihasilkan mempunyai prospek yang baik sebagai bahan pengawet kayu. Nilai kalor kuyu beragam dari 4352,79 - 4625,86 kal/g dan nilai kalor arang beragam dari 6961,66 - 7184,06 kal/g,Berdasarkan hasil analisis, kayu aqn arang dari sembilan jenis kayu yang diteliti merupakan bahan yang sangat baik untuk digunakan sebagai bahan bakar dan karbon aktif.