Claim Missing Document
Check
Articles

PRODUKSI ARANG DAN DESTlLAT KAYU MANGlUM DAN TUSAM DARI TUNGKU KUBAH Tjutju Nurhayati
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 18, No 3 (2000): Buletin Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphh.2000.18.3.137-151

Abstract

Kayu tusam (Pinus merkusii) dan mangium (Acacia mangium) digunakan sebagai bahan baku pada peuelitian produksi arang dan destilat yang dilakukan pada tungku kubah kapasitas 1,3 m3 yang dilengkapi dengan 2 unit pendingin. Parameter penelitian meliputi proses dan produk karbonisasi, kualitas arang dan destilat serta ulasan aspek ekonomi.Hasil penelitian menunjukkan bahwa :Proses pembakaran kayu tusam dan mangium menjadi arang masing-masing dilakukan selama 60,5 jam dan 58 jam, pendingin uap/gas mulai pada suhu 110ºC diperlukan waktu selama 45,5 jam dan 51,5 jam dan proses pendinginan tungku dilakukan selama 5 hari dan 4 hari. Laju pembakaran kayu tusam dan mangium menjadi arang masing-masing yaitu 7,370 kg kayu/jam dan 7,607 kg kayu/jam. Laju sirkulasi air 2,5 liter/menit dengan jumlah energi listrik yang diperlukan rata-rata sebanyak 20,6 kWH atau 3, 747 liter destilat per kWH.Teknik produksi arang dan destilat dari kayu tusam dan mangium menunjukkan hasil relatif sama yaitu rendemen tusam dan mangium masing-masing 25,63% dan 24,20%, destilat 32,64% dan 31,94%, efisiensi konversi kayu menjadi arang 36,04% dan 36,41%. Laju produksi orang 1,055 kg/jam dan 1,002 kg/jam, laju produksi destilat 1,592 kg/jam dan 1,466 kg/jam, produktivitas destilat 3,32 ml/kg/jam dan 3,57 ml/kg/jam dan konsumsi kayu untuk produksi 1 ton arang masing-masing tusam dan mangium adalah 13,292 m3/ton dan 15,884 m3/ton (4317 kg/ton dan 4298 kg/ton dari kayu berat kering).Proses karbonisasi mangium pada tungku kubah yang dilengkapi alat pendingin uap gas untuk memproduksi destilat tidak mempengaruhi sifat arang yang dihasilkan.Destilat tusam dan mangium yang diproduksi dari cara tungku memberikan sifat keasaman dan berat jenis yang sama, tetapi kadar asam total, kadar alkohol dan phenol lebih tinggi dari destilat yang diproduksi dari destilasi kering.Destilat tusam produk dari tungku menunjukkan kadar asam total, kadar alkohol dan phenol lebih tinggi dari destilat mangium. Dibandingkan dengan pestisida antrakol, destilat tusam mengandung kadar fenol lebih tinggi, tetapi fenol murninya lebih rendah, kadar alkohol dan asam total serta berat [enis lebih tinggi tetapi sifat keasamannya destilat tusam lebih rendah.Kadar metanol dan fenol yang dianalisis secara chromatografi menunjukkan bahwa destilat tusam lebih tinggi kandungannya yaitu masing-masing 4,80% dan 11,30%.Biaya produksi arang dan destilat yang meliputi pengadaan kayu dan operasional adalah Rp. 85.000,- dengan keuntungan yang diperoleh dari hasil penjualan arang dan destilat sebesar Rp. 9.450,-.
PENINGKATAN MUTU WARNA KAYU JATI (Tectona grandis L.f.) Tjutju Nurhayati
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 16, No 3 (1998): Buletin Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphh.1998.16.3.140-148

Abstract

Penelitian yang dilakukan terhadap contoh uji sortimen gergajian kayu jati yang warnanya kurang baik dan cacat dengan perlakuan ekstraksi masing-masing dalam pelarut etanol, campuran etanol dan benzen 1 :2 dan aseton serta perlakuan waktu ekatraksi 0,5 sampai 2 jam dengan selang0.5 jam menunjukkan bahwa cacat warna menjadi berkurang dengan ditandai meningkatnya warna kayu tersebut.Contoh uji mutu P, D , T dan yang mengandung cacar alut minyak dan alur hitam pada P. Cacat doreng pada D, kemerahan. "crowm “ dan kebiruan dapat meningkat warnanya setaraf dengan wama mutu U yang mulus dan merata. Hilangnya cacat alur minyak dan alur hitam diperoleh dari perlakuan ekstraksi dalam etanol benzena 1: 2 waktu 1 jam serta aseton waktu 2 jam. Untuk cacat doreng dari aseton 2 jam, cacat kemarahan dari etanol dan aseton selama 0,5 jam. cacat "crown dari etanol 1 jam dan kebiruan dari etanol benzena 1 :2 selama 0.5 jam 
ANALISIS KIMIA DAN DESTILASI KERING KAYU KARET Sri Komarayati; Dadang Setiawan; Tjutju Nurhayati
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 13, No 1 (1995): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphh.1995.13.1.1-8

Abstract

This paper  deals with chemical  and charcoal properties  of rubberwood.  The analysis of chemical  propertis comprises of  the determination   of cellulose, holocellulose,   lignin, pentosan, moisture  content,    ash  content,  silica  content,  solubility  in  cold  water,    hot  water,   sodium hydroxide  1  percent  and ethanol-benzene    (1 : 2). The  analysis of charcoal property comprises of charcoal,  tar,  pyroligneous  liquor,   calorific value,  volatile matter and fixed carbon.The result showed  that cellulose  content   48.38   %  -  50.26  %  ;  holocellulose 59.68   %  -60.17    %  ;  lignin 31.33  %  -  33.49  %  ;  pentosan  15.98   %  -  16.43   %  ;  moisture   content 7.34  -9. 98 %  ; ash 0. 64 - 0. 71  % ; silica 0. 57 %  - 0. 60 %.  Solubility in cold water 2. 39 %  - 4.48 %;  in hot water  3.33   %   - 5.93   %  ;  in alcohol-benzene     (1  :  2)  2.35  %   - 2.37    %  and in one percent sodium hydroxide 18. 87 %  - 20. 72 %.Based on chemical analysis,  especially  the cellulose and pentosan  content,   rubberwood is suitable as raw material forpulp and paper,  rayon andfiberwood.Chemical analysis of charcoal indicated that charcoal yield variedfrom 28.16  %  - 29. 77 %  ;  tar   6.86  %  -  7.4666   %  ; pyroligneous   liquor  87.50   -  103.23   %  ;  calorific value  7114.68  cal/gr -7166. 77 cal/gr .fixed carbon 73.82   %  -  78.05 %  and volatile mailer 20.45 % - 23. 61 %. Proximate  analysis  of charcoal  obtained from this  experiments   revealed that   the   quality are suitable for commercial charcoal, metallurgy charcoal and as raw malerial of activated charcoal.
HASIL DESTILASI KERING DAN NILAI KALOR 9 JENIS KA YU DARI NUSA TENGGARA BARAT Sri Komarayati; Tjutju Nurhayati; Dadang Setiawan
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 15, No 1 (1997): Buletin Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphh.1997.15.1.1-6

Abstract

Destilasi kering terhadap sembilan jenis kayu telah dilaksanakan dengan mempergunakan retort yang dilengkapi pemanas dari listrik. Retort dihubungkan dengan tiga kondensor dan dua buah labu untuk mengumpulkan distilat atau gas. Kondlsi perlakuan yang diberikan pada penelitian ini antara lain suhu maksimum pengolahun 500ºC dan waktu destilasi 5 jam.Penelitian ini memberikan hasil rendemen arang beragam dari 27,20% - 32,61%, ter 5,37% - 11,74% dun cairan piroligneous 48,00% - 59,60%. Cairan piroligneous dapat digunakan sebagai desinfektan dan untuk menghilangkan bau. Ter yang dihasilkan mempunyai prospek yang baik sebagai bahan pengawet kayu. Nilai kalor kuyu beragam dari 4352,79 - 4625,86 kal/g dan nilai kalor arang beragam dari 6961,66 - 7184,06 kal/g,Berdasarkan hasil analisis, kayu aqn arang dari sembilan jenis kayu yang diteliti merupakan bahan yang sangat baik untuk digunakan sebagai bahan bakar dan karbon aktif.
PRODUKSI DAN PEMANFAATAN ARANG DAN CUKA KAYU DARI SERBUK GERGAJI KAYU CAMPURAN Tjutju Nurhayati; Ridwan Ahmad Pasaribu; Dida Mulyadi
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 24, No 5 (2006): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphh.2006.24.5.395-411

Abstract

Penelitian produksi terpadu arang dan cuka kayu menggunakan serbuk  gergaji kayu campuran asal  hutan alam  dan hutan tanaman  dilakukan pada tungku sakuraba dan tungku  blower. Arang serbuk dimanfaatkan untuk bahan baku produksi arang aktif  dan cuka kayunya untuk budidaya tanaman padi. Hasilnya sebagai berikut ;Produksi terpadu arang dan cuka kayu 'crude'dari serbuk gergaji kayu campuran hutan alam dan hutan tanaman pada tungku sakuraba masing-masing   292,68 kg/ton dan 232,24 kg/ton dan pada tungku blower 344,76 kg/ton dan 323,07 kg/ton. Rendemen arang dan cuka kayu  ke dua jenis serbuk gergaji relatif sama pada masing-masing tungku yaitu 20,6 dan 14,6% (sakuraba), 19,3% dan 22% (blower). Rendemen terpadunya pada tungku sakuraba 35,2% menunjukkan angka lebih rendah dari blower 41,3%. Oleh karena itu produksi terpadu pada tungku blower lebih baik dari sakuraba.Sifat arang dari tungku blower lebih baik dari sakuraba ditunjukan oleh kadar abu (2,2%) dan kadar zar mudah terbang (11,9%) yang lebih rendah, dan kadar karbon tertambat (86,7%) yang  lebih tinggi. Cuka kayu 'crude' dari ke dua serbuk gergaji mengandung jenis komponen kimia yang sama pada kadar yang bervariasi,   terdiri dari asam asetat, metanol, fenol, asetol, orto kreosol, para kreosol, furfural, alfa metil guaiakol, sikloheksana.Produksi arang aktif memenuhi SNI pada parameter daya serap iod (857,7 mg/g) diperoleh dari perlakuan aktifasi perendaman asam fosfat 20% dan uap air pada suhu 695OC dan  aktifasi dengan uap panas tanpa asam fosfat pada suhu 605OC (789,7 mg/). Produksi arang aktif dengan mutu baik ini diperoleh setelah tungku aktifasi diredam emisi panasnya dengan gelas wol. Pemanfaatan cuka kayu distilasi 2,5% pada tanaman padi jenis ciherang dengan perlakuan penambahan pupuk NPK dapat menggantikan penggunaan bahan organik 2,5% dengan hasil gabah kering giling yang sama yaitu 5,75 ton/ha. Perlakuan tanpa  pupuk NPK menghasilkan gabah kering giling paling tinggi pada cuka kayu yaitu 4,41 ton/ha, bahan organik 4,10 ton /ha dan kontrol 3,21 ton/ha. Penggunaan cuka kayu distilat 2,5% ini memberi petunjuk terhadap fungsinya sebagai pupuk dan merespon pertumbahan padi yang lebih baik.
KAJIAN KONSUMSI ENERGI BEBERAPA JENIS PRODUK INDUSTRI KAYU Tjutju Nurhayati
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 12, No 2 (1994): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphh.1994.12.2.104-108

Abstract

The purpose of this study is to identify the energy consumption from PLN (state electric company) electricity, diesel fuel and wood waste per m³ production of several products of wood industries. The products included in the study are plywood, jointing board, matches and chopstick, wood working, housing component, particleboard, picture frame and sawntimber.The study revealed that energy consumption from PLN electricity per m³ productions for plywood was 149.51 kwh, jointing board was 152.29 kw, sawntimber ranged from 34.25 to 55.87 kwh and wood working was 178.11 kwh. The consumption of diesel fuel for plywood was 50.97 liters, and sawntimber was 14.23 liters. The biomass energy consumption per m³ productions for picture frame was 0.08 m3 which gave the lowest figure while the highest was for jointing-board, namely, 0.604 m³. The share of biomass energy per m3 productions was 82 % of the total energy consumption.
PENGARUH JENIS KAYU DAN BAHAN PENGHAMBAT API TERHADAP SIFAT PERAMBATAN API Tjutju Nurhayati
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 16, No 4 (1999): Buletin Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphh.1999.16.4.209-218

Abstract

Pengaruh perlakuan pelaburan 4 jenis kayu hutan tanaman industri yaitu tusam (Pinus merkusii), mangium (Acacia mangium), sengon (Paraserianthes falcataria) dan meranti (Shorea sp.) dengan 2 jenis bahan penghambat api yaitu hartindo dan natrium silikat terhadap sifat perambatan api dibahas dalam penelitian ini. Parameter yang diamati adalah suhu awal dan akhir pembakaran, penurunan berat, panjang dan laju dari perambatan api. Hasil menunjukkan bahwa :1.Suhu awal pembakaran, kadar penurunan berat dan laju perambatan api yang paling rendah yaitu masing­masing 82°C-101°C dan 1,93%­2,705% serta 58.14 cm/menit­65,41 cm/menit terdapat pada kayu meranti. Suhu awal pembakaran yang paling tinggi terdapat pada tusam yaitu 126°-173,5°C, sedang kadar penurunan berat dan laju perambatan api yang paling tinggi terdapat pada sengon yaitu 5,21%­7,51% serta 106,11 cm/menit­110,4 cm/menit.2.Kayu mangium dan sengon yang diproteksi dengan natrium silikat berpengaruh pada sifat perambatan api yaitu kadar penurunan berat dan laju perambatan api menjadi lebih rendah dibandingkan dengan kayu tanpa proteksi.3.Bahan penghambat api natriumsilikat lebih baik dari hartindo dalam hal mereduksi kadar penurunan berat pada kayu tusam, mangium dan sengon.4.Kayu meranti tidak perlu diproteksi dengan bahan penghambat api oleh karena sifat perambatan api dari kayu ini tanpa proteksi adalah yang terbaik dibandingkan dari ketiga jenis lainnya (walaupun jenis ini dilapisi oleh bahan penghambat api).
PEMBUATAN ARANG AKTIF DARI 3 MACAM BAHAN BAKU DAN PENGGUNAANNYA SEBAGAI PENYERAP PADA PEMURNIAN MINYAK GORENG Tjutju Nurhayati; M Syahri
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 15, No 1 (1997): Buletin Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphh.1997.15.1.68-78

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pembuatan arang aktif dari bambu, tempurung kelapa hibrida dan limbah tebangan kayu sono dengan perlakuan penggunaan bahan pengaktif CaCl2 proanalisis dan teknis dan bahan baku berbentuk serpih dan arangnya.Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis bahan baku proses aktivasi dan bentuk bahan baku mempengaruhi rendemen, kadar karbon terikat pada daya serap terhadap iod, kecuali rendemen tidak dipengaruhi oleh penggunaan bahan pengaktif.Rendemen arang aktif paling tinggi ( 31,39%) diperoleh dari serpih tempurung kelapa hibrida dengan bahan pengaktif CaCl2 proanalisis, karbon terikat dari arang tempurung kelapa hibrida (89,34 dan 90,14%) dan daya serap iod dari serpili kayu sono (1128,80 dan 1020,33 mglg).Arang aktif hasil penelitian terutama yang berasal dari kayu sono memenuhi syarat arang aktif Sil (Standar lndustri Indonesia). Dalam kaitannya dengan penggunaan arang aktif untuk pemurni minyak goreng bekas pakai menunjukkan hasil yang baik untuk adsorbsi warna dan asam lemak bebas.