Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search
Journal : Sains dan Matematika

KEANEKARAGAMAN DAN DISTRIBUSI BIVALVIA DI PANTAI MODUNG, KABUPATEN BANGKALAN MADURA Ambarwati, Reni; Faizah, Ulfi; Trimulyono, Guntur
Sains & Matematika Vol 5, No 1 (2016): Oktober, Sains & Matematika
Publisher : Sains & Matematika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pantai Modung merupakan salah satu pantai landai yang berada di pesisir selatan Pulau Madura. Pantai ini memiliki tipe substrat yang kompleks, yaitu sebagian bersubstrat pasir berlumpur, berbatu karang, dan juga beberapa bagian berhutan mangrove sehingga memiliki substrat yang cenderung berpasir. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji keanekaragaman, distribusi, dan pemanfaatan bivalvia di Pantai Modung Madura. Penelitian dilakukan di zona intertidal Pantai Modung, Kecamatan Modung, Kabupaten Bangkalan Madura. Sampel diambil dengan menggunakan metode transek dan koleksi bebas. Di setiap daerah intertidal atas, tengah, dan bawah diambil dua kuadran sampling berukuran 1 m x 1 m. Setelah preservasi, sampel diidentifikasi berdasarkan karakter morfologi. Wawancara dengan penduduk setempat dilakukan untuk mengetahui jenis-jenis bivalvia yang dimanfaatkan oleh penduduk. Data dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pantai Modung memiliki keanekaragaman bivalvia yang tinggi, yaitu terdapat 38 spesies bivalvia yang tergolong dalam 15 famili. Bivalvia di Pantai Modung tersebar di daerah intertidal atas, bawah dan tengah. Bivalvia yang terdapat di intertidal atas merupakan bivalvia epifauna, yaitu sebanyak sepuluh spesies. Bivalvia infauna memiliki kemampuan meliang yang berbeda dan ciri taksonomi yang penting untuk mengetahui distribusi vertikal ini adalah kondisi lekuk palial. Sebagian besar bivalvia (82%) yang terdapat di Pantai Modung dikonsumsi oleh masyarakat dan semua bivalvia tersebut tergolong dalam pemakan suspensi. Modung Beach is located at the sourthen shore of Madura. It has complex bottoms, namely mud, muddy sand, and rocky substratum. These kinds of substratum support variety of bivalves. The purpose of this research was to know the diversity, distribution, and economic significance of bivalves in the intertidal zone of this beach. Both of death shells and living specimens were collected and preserved for further identification.  The results revealed that different substratum was occupied by different families of bivalves. Field study were done in intertidal zone by using transect lines method as well as free collection. It was defined three intertidal zone, namely upper, middle, and lower intertidal. All samples were preserved in ethanol 70%. After preservation, samples were indentified based on their morphological characters.  In addition to sampling and identification, interview was done to the local people to know the bivalves that were consumsed by them. Data were analyzed descriptively. The results revealed that there were 38 species of bivalves that belong to 15 families. All of them were distributed in upper, middle, and lower intertidal. Bivalves that occupied the upper zone were epifauna (there were 10 species). Infauna bivalves which were found in the middle and lower zones have different burrowing ability, and these related to their characters of pallial sinus. Pallial sinus is important taxonomic character to know the vertical distribution of bivalves. Majority of bivalves (82%) were consumed by local people, and all of those bivalves were suspension feeder bivalve.
Keanekaragaman Gastropoda di Area Persawahan Desa Kebonagung, Kecamatan Sukodono, Kabupaten Sidoarjo Amadea, Fariska; Ichatul Jannah, Affitya; Rifda Sakinah, Niswah; Luki Hermawan, Muhammad; Faizah, Ulfi
Sains dan Matematika Vol. 10 No. 1 (2025): April, Sains dan Matematika
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/sainsmat.v10n1.p9-15

Abstract

Indonesia dikenal memiliki keanekaragaman hayati yang sangat tinggi, termasuk kelompok hewan Gastropoda. Jenis-jenis gastropoda tersebut dapat digunakan sebagai bioindikator kualitas air. Area persawahan Desa Kebonagung banyak ditemukan hewan-hewan Gastropoda. Berdasarkan sumber literatur pustaka belum ada publikasi yang penelitian tentang Gastropoda di Kawasan Kebonagung. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis keanekaragaman gastropoda sebagai bioindikator kualitas perairan di area persawahan Desa Kebonagung, Kecamatan Sukodono, Sidoarjo. Metode penelitian yang digunakan yaitu deskriptif observatif dengan pengambilan 3 titik sampling. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan ditemukan 513 individu yang terdiri dari 5 Famili dan 5 spesies gastropoda yaitu Pomacea canaliculata, Filopaludina javanica, Melanoides tuberculata, Lissachatina fulica, dan Radix rubiginosa. Tindak lanjut untuk penelitian gastropoda di Desa Kebonagung, Kecamatan Sukodono, Sidoarjo adalah melakukan analisis kandungan BOD, nitrat, dan fosfat, sehingga dapat diketahui data yang dapat menjelaskan gastropoda sebagai bioindikator kualitas air.  
Biodiversitas Capung sebagai Bioindikator Kualitas Perairan di Kawasan Wisata Air Terjun Dlundung, Mojokerto Andriani, Betty; Faizah, Ulfi
Sains dan Matematika Vol. 10 No. 1 (2025): April, Sains dan Matematika
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/sainsmat.v10n1.p16-22

Abstract

Capung merupakan salah satu organisme yang dapat digunakan sebagai agen bioindikator suatu ekosistem perairan. Hal ini dikarenakan nimfa capung memiliki sensitivitas pada perubahan lingkungan yang terjadi. Air Terjun Dlundung terletak di Kabupaten Mojokerto, memiliki air jernih dari mata air gunung welirang yang menjadikannya sebagai habitat bagi capung untuk berkembang biak. Penelitian ini perlu dilakukan karena penelitian yang membahas mengenai keanekaragaman capung di kawasan tersebut masih sangat terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis keanekaragaman spesies capung sebagai agen bioindikator kualitas air di Kawasan Air Terjun Dlundung. Penelitian ini dilakukan pada bulan Oktober-November 2022 di Kawasan Air Terjun Dlundung, dengan metode jelajah (fisual day flying) dan menggunakan Teknik sweeping. Analisis yang dilakukan diantaranya adalah menganalisis indeks keanekaragaman (H’) Shannon-Wiener, indeks kemerataan (E), dan indeks Dominansi (D). Berdasarkan penelitian didapatkan 46 capung yang termasuk ke dalam 4 spesies, 4 genus, dan 4 famili yang berbeda diantaranya yaitu Orthetrum migratum, Vestalis luctuosa, Euphaea variegata, dan Heliocypha fenestrate. Didapatkan indeks keanekaragaman capung sebesar 1,24, indeks kemerataan sebesar 0,90, dan indeks dominansi sebesar 0,31 yang mencerminkan kondisi ekosistem Air Terjun Dlundung yang masih cukup stabil. Keberadaan capung dapat digunakan sebagai bioindikator kualitas perairan, keanekaragaman capung yang tinggi menunjukkan kualitas perairan yang baik dan sebaliknya. Keanekaragaman capung berkaitan langsung dengan keberlanjutan ekosistem air tawar, sehingga mendukung pencapaian SDG 6 (konservasi air bersih), SDG 13 (mitigasi perubahan iklim), SDG 14 (kesehatan ekosistem perairan), dan SDG 15 (perlindungan keanekaragaman hayati).
Keanekaragaman dan Kelimpahan Jenis Burung di Kawasan Mangrove Bee Jay Bakau Resort (BJBR) Kota Probolinggo Fabrina, Rana; Faizah, Ulfi
Sains dan Matematika Vol. 7 No. 1 (2022): April, Sains & Matematika
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/sainsmat.v7n1.p1-7

Abstract

Keanekaragaman dan kelimpahan jenis burung dapat dijadikan sebagai indikator suatu lingkungan. Burung memiliki peranan penting dalam habitatnya. Mangrove merupakan salah satu habitat bagi berbagai jenis burung. Kawasan mangrove Bee Jay Bakau Resort (BJBR) merupakan salah satu lokasi ekowisata di pesisir kota Probolinggo. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan keanekaragaman dan kelimpahan jenis burung di kawasan mangrove BJBR. Pengambilan data jenis burung dilaksanakan pada pagi hari 06.00-09.00 WIB dan pada sore hari 15.00-18.00 WIB. Berdasarkan jumlah dan jenis burung, dihitung dengan indeks keanekaragaman Shannon-Wiener dan kelimpahan jenis. Berdasarkan hasil penelitian di kawasan mangrove BJBR terdapat 23 jenis burung dengan tingkat keanekaragaman tergolong sedang (H’= 2,39). Terdapat empat jenis burung yang paling sering dijumpai di kawasan BJBR yaitu, Merpati batu (Columba livia), Blekok sawah (Ardeola speciosa), Kuntul kecil (Egretta garzetta), dan Walet linchi (Collocalia linchi) dengan nilai kelimpahan berturut-turut sebesar 26,17%, 15,63%, 11,40%, dan 10,60%. Simpulan penelitian ini adalah keanekaragaman jenis burung di kawasan BJBR sedang dengan kategori indeks keanekaragaman sedang, serta terdapat empat jenis burung memiliki kelimpahan tertinggi.
Keanekaragaman Kupu-Kupu (Lepidoptera) sebagai Parameter Kondisi Lingkungan di Kawasan Hutan Bambu Keputih Surabaya Trovicana, Kinrara Yuri; Faizah, Ulfi
Sains dan Matematika Vol. 9 No. 1 (2024): April, Sains & Matematika
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/sainsmat.v9n1.p8-15

Abstract

Kupu-kupu secara umum hidup pada vegetasi dengan berbagai variasi tumbuhan yang mendukung kehidupannya. Keberadaan kupu-kupu di suatu lingkungan dapat menjadi parameter kondisi lingkungan tersebut. Salah satu vegetasi yang menjadi habitat kupu-kupu ialah hutan bambu, seperti di kawasan Hutan Bambu Keputih Surabaya. Informasi tentang kupu-kupu sebagai parameter lingkungan di kawasan hutan bambu masih terbatas sehingga penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan keanekaragaman kupu-kupu, menganalisis keberadaan kupu-kupu sebagai parameter kondisi lingkungan di kawasan Hutan Bambu Keputih Surabaya, serta mendukung keberhasilan SDGs 15 (keberlanjutan ekosistem daratan). Metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode jelajah (road sampling). Hasil yang diperoleh yaitu, terdapat 8 spesies kupu-kupu dari 82 individu dengan nilai indeks keanekaragaman (H?) sebesar 1,8. Indeks kemerataan (E) yang diperoleh sebesar 0,86378. Sebanyak 8 spesies ditemukan pada vegetasi bunga, 1 pada vegetasi pohon bambu, dan tidak satupun pada vegetasi pepohonan. Dapat disimpulkan bahwa keanekaragaman kupu-kupu di kawasan Hutan Bambu Keputih Surabaya memiliki keanekaragaman sedang. Keberagaman jenis kupu-kupu dan populasinya yang cukup banyak dapat menjadi parameter yang mengindikasikan kualitas lingkungan yang baik pada kawasan Hutan Bambu Keputih Surabaya.