Claim Missing Document
Check
Articles

Found 39 Documents
Search

Distribusi Sebaran Konflik Gajah Di Kawasan Hutan Lesten Maulia Ermawati; Sugianto Sugianto; Muhammad Rusdi
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 7, No 1 (2022): Februari 2022
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (159.302 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v7i1.18842

Abstract

Abstrak. Desa Lesten ialah salah satu daerah yang merupakan kantung populasi satwa gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus) yang sering mengalami konflik manusia dengan gajah yang timbul sepanjang tahun. Penelitian ini bertujuan memetakan konflik manusia dan gajah di kawasan hutan lesten. Hasil ini diharapkan dapat bermanfaat berupa data dan informasi dasar mengenai jenis konflik manusia dengan gajah di Desa Lesten sebagai acuan untuk pengurangan konflik gajah dengan manusia dan pemerintah atau LSM dapat mengatasi terjadinya konflik manusia dengan gajah di Desa Lesten Kecamatan Pining. Penelitian ini dilaksanakan pada 27 Februari 06 Oktober 2021. Metode deskriptif yang diperoleh melalui wawancara terhadap masyarakat yang terlibat dengan konflik gajah. Kasus konflik manusia dengan gajah tersebar di Desa Lesten sepanjang tahun 2021 berjumlah 7 (tujuh) titik koflik ditemukan merupakan data primer yang diperoleh melalui survei langsung dilapangan dengan luas wilayah penelitian 4,070 ha.Distribution Of Elephant Conflicts In The Lesten Forest AreaAbstack. Lesten village is one of the area where the population of sumatran elephans (Elephas maximus sumatranus) often experiences human-elephant conflicts that occur throughout the year. This study aims to map human-elephant conflicts in a lesten forest area. This result is expected to be useful in the from of basic data and information regarding the types of human-elephant conflict in Lesten Village as a reference for reucing elephant-human conflict and the govermen or LSM can overcome human-elephant conflict in Lesten Village, Pining District, this research was conducted on 27 Februari 06 October 2021. The descriptive method wa abtained throgh interviews with the people involved in the elephsn conflict. Cases of human conflict with elephants scattered in Lesten Village throughout 2021 totaling 7 (seven) points of conflict were found to be primary data obtained through direct field surveys with an area of 4,070 ha.
Evaluasi Kesesuaian Lahan untuk Pengembangan Sere Wangi (Cymbopogon nardus L.) di Kabupaten Pidie Diki Rahmayadi; Helmi Helmi; Muhammad Rusdi
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 7, No 3 (2022): Agustus 2022
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (841.846 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v7i3.20907

Abstract

Abstrak. Kesesuaian lahan adalah penggambaran tingkat kecocokan sebidang lahan untuk suatu penggunaan tertentu, misalnya komuditas terpilih. Serewangi (Cymbopogon nardus L.) merupakan salah satu tanaman atsiri dari family Gramineae yang banyak digunakan dalam berbagai industri parfum, kosmetik, makanan, minuman dan obat-obatan Tujuan penelitian ini menentukan tingkat kesesuaian lahan dan mengetahui sebaran Serewangi dan luas lahan yang berpotensi untuk pengembangan tanaman Serewangi (Cymbopogon nardus L) di Kecamatan Padang Tiji, Kecamatan Grong-grong, dan Kecamatan Batee Kabupaten Pidie. Metode Penelitian yang digunakan dalam penelitian ini meliputi metode pencocokan (matching) dan metode tumpang susun peta (overlay peta). Kelas kesesuaian lahan di Kecamatan Padang Tiji, Kecamatan Grong-grong dan Kecamatan Batee Kabupaten Pidie secara aktual yaitu S2, S3 dan N dengan factor pembatas paling dominan adalah kimia tanah dan lereng curam.Evaluasi Kesesuaian Lahan untuk Pengembangan Tanaman Cintronela (Cymbopogon nardus L) di Kabupaten PidieAbstrak. Kesesuaian lahan adalah gambaran tingkat kesesuaian sebidang lahan untuk penggunaan tertentu, misalnya suatu komoditas tertentu. Tanaman Cintronela (Cymbopogon nardus L.) merupakan salah satu tanaman esensial dari famili Gramineae yang banyak digunakan dalam berbagai industri wewangian, kosmetik, makanan, minuman dan obat-obatan. Tanaman serewangi (Cymbopogon nardus L) di Kecamatan Padang Tiji, Kecamatan Grong-grong, dan Kecamatan Batee, Kabupaten Pidie. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini meliputi metode pencocokan dan metode overlay peta. Kelas kesesuaian lahan aktual di Kecamatan Padang Tiji, Grong-grong dan Batee Kabupaten Pidie sebenarnya adalah S2, S3 dan N dengan faktor pembatas yang paling dominan adalah kimia tanah dan kemiringan lereng yang curam.
Sebaran Kerapatan Tanaman Pala Menggunakan Klasifikasi Visual on Scree Saras Ayu Malda; Muhammad Rusdi; Sugianto Sugianto
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 7, No 3 (2022): Agustus 2022
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1274.251 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v7i3.20901

Abstract

Abstrak. Pala (Myristica fragrans Houtt) merupakan salah satu komoditas ekspor penting karena sekitar 70-75% kebutuhan pala dunia dipasok dari Indonesia. Daerah penghasil pala terbesar di Indonesia adalah Provinsi Maluku dan Provinsi Aceh. Di provinsi Aceh, sentral tanaman pala adalah Kabupaten Aceh Selatan. Namun produksi pala di kabupaten tersebut terus menurun dan luasan kebun pala juga semakin kecil. Untuk mengamati dan mengidentifikasi perubahan sebaran tanaman pala di Kabupaten Aceh Selatan maka dilakukan pemetaan sebaran tanaman pala dengan menggunakan klasifikasi visual on screen pada citra satelit resolusi tinggi. Hasil dari pemetaan diketahui bahwa terdapat 3 kelas kerapatan yaitu rapat, sedang, dan jarang.The Distribution Density of Nutmeg Plant Using Visual on Screen ClassificationAbstract. Nutmeg (Myristica fragrans Houtt) is one of the important export commodities because around 70-75% of world’s demand for nutmeg are supplied from Indonesia. The largest nutmeg producing areas in Indonesia are Maluku and Aceh provinces. In Aceh provinces, the central of nutmeg are located in South Aceh Regency. But the nutmeg produced in that regency are decreasing and the nutmeg area is also getting smaller. To observe and identify the changes of the nutmeg plants distribution in South Aceh Regency, then a mapping of the distribution of nutmeg plants was carried out using visual on screen classification on high-resolution satellite imagery. The result show that there are 3 density classes namely dense, moderate, and rare.
Distribusi spasial lahan kopi eksisting berdasarkan ketinggian dan arahan fungsi kawasan di kabupaten Aceh Tengah Uda Chandra; Yulia Dewi Fazlina; Muhammad Rusdi
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 3, No 4 (2018): November 2018
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (218.447 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v3i4.9587

Abstract

Abstrak. Data  spasial  adalah data yang bereferensi geografis atas representasi obyek di bumi. Data  spasial  pada  umumnya  berdasarkan  peta  yang  berisikan  interprestasi  dan  proyeksi seluruh fenomena yang berada di bumi, kopi merupakan salah satu komoditi perkebunan yang memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi di antara tanaman perkebunan lainnya dan berperan penting sebagai sumber devisa negara. Kopi juga   merupakan sumber penghasilan bagi tidak kurang dari 1,5 juta jiwa petani kopi di Indonesia, sejak tahun 1992 petani kopi Arabika Gayo telah  terlibat  dalam  program  sertifikasi  produk yang  berprinsip  pada  sistem  pertanian berkelanjutan. Tanaman kopi diperkirakan berasal dari hutan-hutan tropis di kawasan Afrika. Coffea arabica dianggap berasal dari kawasan pegunungan tinggi di barat Ethiopia  maupun  di  kawasan  utara  Kenya, di dunia perdagangan dikenal beberapa golongan kopi, tetapi yang paling sering dibudidayakan hanya kopi Arabika, Robusta, dan Liberika. Data spasial merupakan representasi dari objek spasial yang ada pada dunia nyata. Data  spasial  merupakan  salah  satu  item  dari  informasi,  dimana  didalamnya terdapat   informasi   mengenai   bumi   termasuk   permukaan   bumi,   dibawah permukaan bumi, perairan, kelautan dan bawah atmosfir. Data spasial dapat dihasilkan dari berbagai macam sumber, diantaranya: citra satelit, peta analog, foto udara dan data survei lapangan. Sebaran spasial perkebunan kopi arabika di Kabupaten Aceh Tengah seluas 1080,88 Ha. Rata – rata sebaran perkebunan kopi arabika di tiap kecamatan berada pada ketinggian 125 – 2000 mdpl. Seluas 1012 Ha berada pada ketinggian 1000 – 2000 mdpl, sedangkan 68,88 Ha berada diketinggian 125 – 1000 mdpl. Seluas 1040,70 Ha lahan kopi berada pada kawasan Areal Penggunaan Lain (APL) yang tersebar di 13 kecamatan sedangkan seluas 40.18 Ha berada dikawasan Hutan Lindung (HL) yang tersebar di 6 kecamatan.Abstract. Spatial data is data that refers to object representation on earth. Spatial data generally refers to maps that contain interpretations and projections of all phenomena that exist on the earth, coffee is one of the commodities that have high economic value among other plants and as a source of foreign exchange. Coffee also becomes no less than 1.5 million people of coffee farmers in Indonesia, since 1992 Gayo Arabica coffee farmers have been involved in principled product certification programs on sustainable farming systems. Coffee plants are thought to originate from tropical forests in the African region. Coffea arabica also comes from a high area in western Ethiopia or in the northern region of Kenya, in the world of trade is known for some coffee, but the most commonly cultivated only Arabica, Robusta, and Liberika coffee. Spatial data is a representation of spatial objects in the real world. Spatial data is one of the items of information, in which there is information about the earth including the earth's surface, base, oceanic and undersea atmosphere. Spatial data can be generated from a variety of sources, namely: satellite imagery, analog maps, aerial photographs and field survey data. Spatial distribution of Arabica coffee plantations in Central Aceh Regency covering 1080.88 Ha. The average distribution of Arabica coffee governance in each district is at an altitude of 125-2000 masl. An area of 1012 Ha is at an altitude of 1000 - 2000 masl, while 68.88 Ha is at an altitude of 125-1000 masl. Covering an area of 1040.70 Ha of coffee land is in the area of Other Use Areas (OUA) which are scattered in 13 temporary sub-districts covering an area of 40.18 Ha located in the Protected Forest (PF) area spread over 6 districts.
Penyusunan WebGIS Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B) Menggunakan ArcGIS Online Arif Rahmadi; Yulia Dewi Fazlina; Muhammad Rusdi
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 8, No 2 (2023): Mei 2023
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1074.33 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v8i2.22953

Abstract

Abstrak. Permasalahan yang utama dalam memenuhi kebutuhan pangan, yaitu berkurangnya luas lahan karena adanya alih fungsi lahan pertanian ke non pertanian. Menurut data tahun 2018 dari Badan Pusat Statistik, Kabupaten Aceh Barat Daya terjadi penurunan luas lahan sawah. Salah satu kemudahan yang dapat digunakan dalam upaya pemetaan lahan yang mengalami perubahan penggunaan lahan adalah penggunan sistem informasi geografis. Tujuan penyusunan WebGIS ini adalah untuk merancang sistem infomasi geografis mengenai LP2B dan fasilitas pendukung di Kabupaten Aceh Barat Daya berbasis WebGIS, dengan menggunakan ArcGIS Online. Metode penyusunan WebGIS terdiri dari beberapa tahap yaitu pengumpulan data, konversi data, upload data dan desain WebGIS. Hasil penyusunan ini dapat menampilkan pemetaan dari lahan pertanian pangan berkelanjutan di tiap kecamatan di Kabupaten Aceh Barat Daya. Informasi mengenai LP2B dapat  diakses oleh masyarakat dengan adanya sistem informasi geografis berbasis WebGIS. WebGIS LP2B dapat diakses melalui alamat https://silapan-gis-unsyiah.hub.arcgis.com/Preparation Of Sustainable Food Agricultural Land (LP2B) WebGIS Using The ArcGIS Online ApplicationAbstract. The main problem in meeting food needs is the reduction in land area due to the conversion of agricultural land to non-agricultural land. According to 2018 data from the Central Statistics Agency, Southwest Aceh Regency has decreased rice field area. One of the conveniences that can be used in land mapping efforts that have undergone land use changes is the use of geographic information systems. The purpose of compiling this WebGIS is to design a geographic information system regarding LP2B and supporting facilities in Southwest Aceh Regency based on WebGIS, using ArcGIS Online. The WebGIS preparation method consists of several stages, namely data collection, data conversion, data upload and WebGIS design. The results of this preparation can display a mapping of sustainable food agricultural land in each sub-district in Southwest Aceh Regency. Information about LP2B can be accessed by the public with the existence of a WebGIS-based geographic information system. WebGIS LP2B can be accessed via https://silapan-gis-unsyiah.hub.arcgis.com/
Kegiatan Program Iklim (PROKLIM) (Studi Kasus Desa Tetingi Kecamatan Blangpegayon Kabupaten Gayo Lues) Marlina Marlina; Subhan Subhan; Muhammad Rusdi
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 7, No 1 (2022): Februari 2022
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (207.06 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v7i1.18831

Abstract

Abstrak. Iklim merupakan keadaan rata-rata cuaca pada suatu masa tertentu di suatu wilayah atau daerah dalam jangka waktu yang relatif panjang yang mencapai lebih dari 30 tahun. Salah satu upaya untuk mengurangi perubahan iklim pemerintah Indonesia melakukan pengendalian perubahan iklim melalui kegiatan Program Kampung Iklim (PROKLIM). Salah satu Desa yang terpilih di Kabupaten Gayo Lues sebagai Desa PROKLIM adalah Desa Tetingi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kegiatan tentang program kampung iklim di Desa Tetingi. Penelitian ini dilakukan dari bulan Februari sampai bulan September 2021. Dengan 39 responden. Analisis data yang digunakan pada penelitian ini adalah analisis deskriptif kuantitatif hasil analisis data dideskripsikan secara kualitatif. Data kuantitatif dianalisis dengan menggunakan Skala likert. Kegiatan Program Kampung Iklim (PROKLIM) di Desa Tetingi dilihat dari tiga aspek, yang pertama kegiatan penanaman vegetasi 34% sudah berjalan dengan baik dan sebagian besar masyarakat ikut serta dalam melaksanakan kegiatan tersebut, Penanaman bibit dilakukan pada tiga lokasi yaitu di sepanjang sempadan sungai, di kawasan perkebunan dan pekarangan rumah. Kegiatan pemanfaatan lahan kosong di Desa Tetingi 36% masyarakat memanfaatkan lahan pekarangannya. Kegiatan pemanfaatan lahan kosong di Desa Tetingi hingga saat ini sudah berjalan dengan baik hampir semua responden memanfaatkan lahan pekarangannya untuk tanami berbagai jenis tanaman bermanfaat. Kegiatan pewadahan dan pengumpulan sampah di Desa Tetingi 30% masyarakat sudah membuang sampah pada tempatnya dan masyarakat tidak lagi membuang sampah sembarangan, Maka dapat disimpulkan bahwa kegiatan program kampung iklim di Desa Tetingi sebagian besar masyarakat sudah memahami dan ikut serta dalam mendukung kegiatan program kampung iklim tersebut.Activities Climate Village Program (CVP) (Case Study of Tetingi Village Blangpegayon Sub District Gayo Lues Regency)Abstract. Climate is the average condition of the weather at a certain time in a region or area over a relatively long period of more than 30 years. One of the efforst to reduce changes in the Indonesian government  is to control climate change through the Climate Village Program (CVP). One of the selected villages in Gayo Lues Regency as a CVP village is Tetingi Village. This study aims to determine activities regarding the climate village program in Tetinggi Village. This research was conducted from February to September 2021. With 39 respondents. The data analysis used in this research is quantitative descriptive analysis. The results of data analysis are described qualitatively. Quantitative data were analyzed using a Likert scale. The Climate Village Program (CVP) activities in Tetingi Village are seen from three aspects, the first is the planting of vegetation 34% has been going well and most of the community participated in carrying out these activities, plantation area and yerd. Employment actiivities of vacant land in Tetingi Village 36% of the people use their yards. Until new, the use of vacant land in Tetingi Village has been going weel, almost all of the respondents used their yards to plant various types of useful plants. Waste collection and collection activities in Tetingi Village 30% of the community has disposed of waste in its place and the community no longer litters, it can be concluded that the climate village program activities in Tetingi Village most of the people have understood and participated in supporting the climate village program activities.
Analisis Konversi Lahan Gambut di Ekosistem Rawa Tripa Septyan Arief; Muhammad Rusdi; Hairul Basri
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 7, No 1 (2022): Februari 2022
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (353.2 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v7i1.18400

Abstract

Abstrak. Rawa Tripa adalah kawasan ekosistem gambut terbesar di Provinsi Aceh dengan luas sekitar 61.803 ha. area ekosistem gambut di Rawa Tripa tengah terancam akibat terjadinya konversi hutan. Data keberadaaan dan luasan lahan gambut harus diperbaharui secara berkala. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan memanfaatkan citra satelit Landsat 8. Hasil analisis citra didapatkan terjadi perubahan tutupan lahan pada periode waktu 2014 - 2020. Hutan rawa yang pada tahun 2014 seluas 11.303,01 ha menjadi 4.998,51 atau mengalami penurunan sebesar 44,2%. Perkebunan pada tahun 2014 seluas perkebunan seluas 22.218,57 menjadi 40.300,02 pada tahun 2020 atau mengalami pertambahan sebesar 56,53%. Pertambahan luas bangunan pemukiman sebesar 3.5055,18 ha. Pertambahan lahan sawah seluas 2.516,04 ha. Selain itu, tutupan lahan hasil analisis dan interpretasi citra berupa tutupan lahan alami berupa sungai, rawa dan semak belukar. Nilai uji akurasi terendah didapatkan pada tahun 2014 yaitu sebesar 85,15% dan yang tertinggi didapatkan pada tahun 2020 yakni sebesar 98.01 %. Pada tahun 2020 tutupan lahan terbesar adalah perkebunan dan yang terkecil adalah rawa.Abstract. Rawa Tripa is the largest peat ecosystem area in Aceh Province with an area of about 61,803 ha. The peat ecosystem area in Rawa Tripa is under threat due to forest conversion. Data on the existence and area of peatlands must be updated regularly. One way that can be done is by utilizing Landsat 8 satellite imagery. The results of image analysis showed that there was a change in land cover in the period 2014 - 2020. Swamp forest which in 2014 was 11,303.01 ha became 4,998.51 or decreased by 44, 2%. The plantations in 2014 covered an area of 22,218.57 to 40,300.02 in 2020 or an increase of 56.53%. The increase in the area of residential buildings is 3,5055.18 ha. The additional paddy field area is 2,516.04 ha. In addition, the land cover resulting from image analysis and interpretation is in the form of natural land cover in the form of rivers, swamps and shrubs.). The lowest accuracy test value was obtained in 2014 which was 85.15% and the highest was obtained in 2020, which was 98.01%. In 2020 the largest land cover will be plantations and the smallest will be swamps.
Analisis Tata Guna Hutan Kesepakatan (TGHK) di Kabupaten Gayo Lues Rachmatul Rizki; Muhammad Rusdi; Sugianto Sugianto
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 4, No 4 (2019): November 2019
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (353.236 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v4i4.12756

Abstract

Abstrak. Terpeliharanya kelangsungan fungsi ekologis dari kawasan hutan di Kabupaten Gayo Lues mempunyai arti penting bagi wilayah di sekitarnya. Hal ini disebabkan karena secara fisik wilayah Kabupaten Gayo Lues merupakan kawasan hulu dan penyangga bagi wilayah hilir. Pertumbuhan penduduk yang terus bertambah mendorong meningkatkannya kebutuhan lahan yang menimbulkan persaingan dalam pemanfaatan ruang khususnya kawasan untuk budidaya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalis kawasaan hutan Tata Guna Hutan Kesepakatan Kabupaten Gayo Lues. Hasil penelitian menunjukkan luas kawasan hutan Tata Guna Hutan Kesepakatan Kabupaten Gayo Lues hutan lindung seluas 436.089,10 ha atau 78%, hutan produksi terbatas seluas 86.401,43 ha atau 16%, dan hutan produksi seluas 32.500,54 ha atau 6%.Analysis the Forest Use Agreement in Gayo Lues DistrictAbstract. The survival ecological function of the forest area in Gayo Lues District means a great deal to surrounding rigion. This is physically because Gayo Lues District is the upper and buffer zone for lower region. Growing population growth is driving up the land needs that have created competition for room use, especially a land of cultivation. This research is meant to analysis the forest use agreement in Gayo Lues District. Research show the area of forest use agreement in Gayo Lues District is forest protect pants 436.089,10 hectares or 78%, forest limited pants 86.401,43 hectares or 16%, and forest of pants  32.500,54 hectares or 6%.
Perubahan Tutupan Lahan Setelah 14 Tahun Bencana Tsunami (Studi Kasus di Kecamatan Baitussalam) Nadya Faizah; Muhammad Rusdi; Sugianto Sugianto
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 4, No 1 (2019): Februari 2019
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (904.102 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v4i1.10440

Abstract

Abstrak. Perubahan tutupan lahan mengakibatkan beberapa penggunaan lahan menjadi berubah, terutama pada lahan pertanian yang berubah menjadi non-pertanian. Perubahan penggunaan lahan saat ini sudah sering terjadi di beberapa daerah terutama pada lahan pertanian yang berubah menjadi lahan non-pertanian. Pasca Tsunami daerah yang terkena bencana dilakukan rehabilitasi dan rekontruksi, semua aktivitas tersebut berdampak kepada perubahan tutupan lahan. Perubahan tutupan lahan diperoleh dari overlay dengan kaedah union mulai dari tahun 2004 hingga tahun 2018. Hasil analisis menunjukkan bahwa perubahan tutupan lahan selama kurun waktu 14 tahun pasca Tsunami terbesar terjadi pada pemukiman, yaitu mengalami peningkatan sebesar 550,14 ha (76,96%). sedangkan Perubahan tutupan lahan terkecil yaitu semak belukar sebesar 66,41 ha (5,06%).Land Cover Changes after 14 years of the Tsunami Case Study at Kecamatan BaitussalamAbstract. Changes in land cover have caused some land use to change, especially on agricultural land that has turned into non-agricultural land. Post-tsunami areas affected by rehabilitation and reconstruction, all of these activities have an impact on land cover change. Changes in land cover were obtained from overlays with the unification method from 2004 to 2018. The results of the analysis showed that changes in land cover for 14 years after the Tsunami occurred mostly in settlements, which increased by 550.14 ha (76.96%). while the smallest land cover change is shrubs covering an area of 66.41 ha (5.06%).
Pemetaan Tingkat Kerawanan Longsor Berdasarkan Curah Hujan dan Geologi Menggunakan Metode Fuzzy Logic Di Kecamatan Leupung Kabupaten Aceh Besar Rasyid Alkhoir Lubis; Muhammad Rusdi; Hairul Basri
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 3, No 2 (2018): Mei 2018
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (406.27 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v3i2.7506

Abstract

Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kerawanan longsor di Kecamatan Leupung Kabupaten Aceh Besar. Penelitian ini dilakukan menggunakan SIG dengan Metode Fuzzy Logic. Curah Hujan dan Geologi sebagai variabel input dan tingkat kerawanan longsor sebagai variabel output metode fuzzy logic. Beberapa tahapan yang dilakukan dalam metode ini antara lain : fuzzyfication, inferensi dan defuzzyfication. Secara umum, tahapan penelitian persiapan, pra analisis data, analisis data dan output.. Penelitian ini dilakukan karena Kecamatan Leupung berbukit, berlereng, tersusun dari material sedimen termasuk batuan pegunungan dan memiliki curah hujan yang lebih tinggi dibandingkan dengan kecamatan lainnya di lingkup Kabupaten Aceh Besar.Hasil penelitian memperoleh hasil bahwa Kecamatan Leupung didominasi dengan tingkat kerawanan longsor kategori rendah dan sedang. Tingkat kerawanan longsor rendah seluas 16.486,01 ha (97,97 %) dan tingkat kerawanan longsor sedang seluas 342,37 ha (2,03 %). Kedua faktor yaitu curah hujan dan geologi saling mempengaruhi sehingga membedakan nilai defuzzyfication serta kelas kerawanan longsor. Abstract. This study aims to determine the level of landslide vulnerability in Leupung District, Aceh Besar District. This research was conducted using GIS with Fuzzy Logic Method. Rainfall and Geology as input variables and landslide vulnerability as output variables fuzzy logic method. Some of the steps performed in this method include: fuzzyfication, inference and defuzzyfication. In general, the stages of preparatory research, pre-data analysis, data analysis and output. This research was conducted because the hilly Leupung District, the slopes, composed of sedimentary materials including mountainous rocks and had higher rainfall compared to other sub-districts in Aceh Besar .The result of this research is that Leupung District is dominated by low and medium category avalanche vulnerability. Low landslide vulnerability of 16,486.01 ha (97.97%) and moderate landslide vulnerability of 342.37 ha (2.03%). Both factors are rainfall and geology influence each other so as to distinguish the defuzzyfication value and the class of landslide vulnerability.