Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

HUBUNGAN PERSONAL HYGIENE IBU DAN AYAH PEROKOK DENGAN DERAJAT STUNTING PADA BALITA DI DESA PRINGGARATA KECAMATAN PRINGGARATA KABUPATEN LOMBOK TENGAH: The Relationship Between Personal Hygiene Of Mothers And Fathers Who Smoke And The Degree Of Stunting In Pringgarata Village Pringgarata District Central Lombok Regency Bahtiar, Heri; Ariyanti, Maelina; Restia
Jurnal Sinergi Kesehatan Indonesia Vol. 3 No. 2 (2025): Jurnal Sinergi Kesehatan Indonesia
Publisher : Lentera Mitra Lestari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55887/jski.v3i2.35

Abstract

Latar Belakang: Stunting adalah masalah gizi kronis yang berdampak pada pertumbuhan fisik, perkembangan kognitif, dan produktivitas anak di masa depan. Desa Pringgarata memiliki prevalensi stunting sebesar 6,48% (43 balita), angka tertinggi di Kabupaten Pringgarata. Faktor lingkungan, termasuk kebersihan pribadi ibu dan paparan asap rokok dari ayah perokok, diduga berkontribusi terhadap kejadian stunting. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan antara kebersihan pribadi ibu dan ayah (kebiasaan merokok) dengan tingkat stunting pada balita di Desa Pringgarata, Kabupaten Pringgarata, Kabupaten Lombok Tengah Metode: Penelitian kuantitatif dengan desain deskriptif korelasional dan pendekatan cross-sectional. Populasi penelitian adalah seluruh balita stunting berusia 12–59 bulan di Desa Pringgarata (43 balita), menggunakan teknik total sampling sehingga seluruh populasi disampel. Data dikumpulkan melalui kuesioner untuk menilai kebersihan pribadi ibu (kebiasaan mencuci tangan) dan perilaku merokok ayah, serta pengukuran antropometri untuk menentukan tingkat stunting. Analisis data menggunakan uji chi-square/Fisher Exact Test. Hasil : Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara personal hygiene ibu (kebiasaan mencuci tangan), dengan kejadian stunting (p=0,037), dan tidak ada hubungan yang signifikan antara, perilaku merokok ayah dengan derajat stunting (p=1,000). Sebagian besar balita stunting berasal dari lingkungan dimana, ibu dengan perilaku hygiene yang kurang baik dan balita yang tidak terpapar asap rokok secara langsung. Kesimpulan: Bahwa ayah perokok, tidak menjadi penyebab utama terjadinya stunting dan personal hygiene ibu, berperan dalam meningkatkan resiko terjadinya stunting, sehingga perlu pencegahan serta intervensi dalam mempertimbangkan pendekatan sosial dan edukatif keluarga balita.
Pengaruh Senam Kaki Diabetes Dengan Bola Plastik Terhadap Perubahan Kadar Gula Darah Pada Pasien Diabetes Mellitus Tipe 2 Ariyanti, Maelina; Hapipah; Heri Bahtiar; Risma Ayu
Journal Center of Research Publication in Midwifery and Nursing Vol 3 No 2 (2019): Journal Center of Research Publication in Midwifery and Nursing
Publisher : STIKES Bina Usada Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36474/caring.v3i2.122

Abstract

Diabetes mellitus telah menjadi penyebab kematian terbesar ke-4 di dunia. Diperkirakan diabetes mellitus meningkat setiap tahunnya menjadi 333 juta. Diabetes Mellitus Tipe 2 terjadi akibat penurunan sensitivitas terhadap insulin (resistensi insulin) atau akibat penurunan jumlah produksi insulin. Pencegahan yang dapat dilakukan untuk mengurangi komplikasi, salah satu pilar penatalaksaan diabetes adalah latihan jasmani atau olahraga yaitu senam kaki diabetes dengan bola plastik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh senam kaki diabetes dengan bola plastik terhadap perubahan kadar gula darah pada pasien diabetes mellitus tipe 2 di lingkungan Geguntur wilayah kerja Puskesmas Karang Pule. Desain penelitian yang digunakan adalah pra eksperimental dengan one group pre test post test design. Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan total sampling dengan jumlah sampel 20 orang. Hasil penelitian menggunakan uji t-test paired sampel test didapatkan nilai p = 0,000 < à = 0,05. Kesimpulan hasil penelitian menunjukkan adanya pengaruh senam kaki diabetes dengan bola plastik terhadap perubahan kadar gula darah pada pasien diabetes mellitus tipe 2 di lingkungan Geguntur wilayah kerja puskesmas Karang Pule. Rekomendasi yang dapat diberikan adalah pemberian kegiatan senam kaki diabetes yang teratur di pelayanan kesehatan untuk mencegah atau mengurangi komplikasi diabetes mellitus tipe 2.
Hubungan Pemenuhan Kebutuhan Nutrisi terhadap Gejala Konstipasi pada Anak dengan Suspect Hirschsprung Heri Bahtiar; Winda Nurmayani; Maelina Ariyanti; Monalyssa Monalyssa
Jurnal Ilmiah STIKES Yarsi Mataram Vol. 14 No. 2 (2024): Jurnal Ilmiah STIKES Yarsi Mataram
Publisher : Institut Kesehatan YARSI Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57267/jisym.v14i2.372

Abstract

Hirschsprung disease is a disorder of the nervous system in the lower colon, which starts from the anus to the upper intestine and is congenital. Hirschsprung's disease is a rare condition that causes feces to become trapped in the large intestine. The incidence of Hirschsprung occurs between 1 per 2,000 to 1 per 12,000 live births. The most common symptoms of Hirschsprung disease include constipation. Common causes of constipation are failure to respond to the urge to defecate and lack of fiber and fluid intake. The Purpose of this research is to determine the relationship between meeting nutritional needs and symptoms of constipation in children with Suspect Hirschsprung. This research is a descriptive quantitative research with a retrospective research model with a total of 60 respondents and took place at the Children's Surgery Polytechnic, Provincial Hospital. NTB. The results of this study found that children with Good Nutritional Needs Meeting more than Children with Less Nutritional Needs Meeting which is as much as 55%, while children who experience Constipation Symptoms more than children who do not experience constipation symptoms which is as much as 58.3% and the results of the Chi Square correlation test obtained p-value results of 0.025 less than 0.05 significance values which means that both variables are significantly correlated. There are suggestions for the public to pay more attention to the symptoms of disorders that occur in children, such as symptoms of constipation in children, hard stools and immediately take the child to the hospital if there are serious complaints so that they can be treated immediately. ABSTRAK Penyakit Hirschsprung merupakan kelainan sistem saraf pada usus besar bagian bawah, dimulai dari anus hingga usus bagian atas dan bersifat bawaan. Penyakit Hirschsprung adalah suatu kondisi langka yang menyebabkan tinja terperangkap di usus besar. Insiden Hirschsprung terjadi antara 1 per 2.000 hingga 1 per 12.000 kelahiran hidup. Gejala penyakit Hirschsprung yang paling umum adalah sembelit. Penyebab umum sembelit adalah kegagalan respon terhadap keinginan buang air besar dan kurangnya asupan serat dan cairan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan pemenuhan kebutuhan gizi dengan gejala konstipasi pada anak Suspect Hirschsprung. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif dengan model penelitian retrospektif dengan jumlah responden 60 orang dan bertempat di Politeknik Bedah Anak RSUD Provinsi. NTB. Hasil penelitian ini didapatkan bahwa anak dengan Pemenuhan Kebutuhan Gizi Baik lebih banyak dibandingkan Anak dengan Pemenuhan Kebutuhan Gizi Kurang yaitu sebanyak 55%, sedangkan anak yang mengalami Gejala Sembelit lebih banyak dibandingkan anak yang tidak mengalami gejala konstipasi yaitu sebanyak 58,3 % dan hasil uji korelasi Chi Square diperoleh hasil p-value sebesar 0,025 lebih kecil dari nilai signifikansi 0,05 yang berarti kedua variabel berkorelasi signifikan. Saran bagi masyarakat untuk lebih mewaspadai gejala gangguan yang terjadi pada anak seperti gejala sembelit pada anak, feses keras dan segera membawa anak ke rumah sakit jika terdapat keluhan yang serius agar dapat segera ditangani.
Effectiveness of Mindfulness Spiritual Therapy with Murottal on Fatigue Among Hemodialysis Patients Ariyanti, Maelina; Bahtiar, Heri; Hapipah, Hapipah; Istianah, Istianah; Ernawati, Ernawati; Setiawati, Diana
Journal of Applied Nursing and Health Vol. 8 No. 2 (2026): Journal of Applied Nursing and Health
Publisher : Chakra Brahmanda Lentera Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55018/janh.v8i2.657

Abstract

Background: Fatigue is one of the most prevalent and debilitating symptoms experienced by patients with chronic kidney disease (CKD) undergoing hemodialysis, adversely affecting physical functioning, psychological well-being, and quality of life. Although mindfulness-based interventions and Qur’anic recitation (murottal) have individually demonstrated beneficial effects on psychological outcomes, evidence regarding their combined application for fatigue management remains limited. This study aimed to examine changes in fatigue levels following Mindfulness Spiritual Therapy with Murottal among patients with CKD undergoing hemodialysis. Methods: This study was conducted in accordance with the Transparent Reporting of Evaluations with Nonrandomized Designs (TREND) statement using a quantitative pre-experimental one-group pretest–posttest design. The study was carried out in the Hemodialysis Unit of RSUD H. Moh. Ruslan Kota Mataram, Indonesia. Eighteen participants were recruited through purposive sampling. Mindfulness Spiritual Therapy with Murottal was administered for approximately 20 minutes per session, twice weekly for two consecutive weeks. Fatigue levels were assessed using the Functional Assessment of Chronic Illness Therapy–Fatigue (FACIT-F) questionnaire. Data were analyzed using the Shapiro–Wilk test and paired sample t-test. Results: Participants were predominantly middle-aged (55.6%), male (55.6%), and had undergone hemodialysis for 1–3 years (72.2%). The mean fatigue score decreased from 27.51 ± 7.17 at baseline to 21.32 ± 5.77 following the intervention. Paired sample t-test analysis demonstrated a statistically significant difference between pretest and posttest fatigue scores (mean difference = 6.194; 95% CI: 5.181–7.208; t = 12.899; p < 0.001). Participants who received Mindfulness Spiritual Therapy with Murottal experienced lower fatigue scores following the intervention. Conclusion: Mindfulness Spiritual Therapy with Murottal may help reduce fatigue among patients undergoing hemodialysis by addressing psychological and spiritual aspects of care. However, due to the one-group pretest–posttest design, the findings should be interpreted cautiously and cannot establish causality. Further multicenter randomized controlled trials with larger samples are needed to confirm these preliminary findings.