Yohanes Kartika Herdiyanto
Program Studi Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Published : 54 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Perbedaan Regulasi Diri ditinjau dari Urutan Kelahiran dan Jenis Kelamin Remaja Bali Ni Ketut Gita Karina; Yohanes Kartika Herdiyanto
Jurnal Psikologi Udayana Edisi Khusus: Kesehatan Mental (2019)
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/

Abstract

Regulasi diri sebagai kemampuan individu untuk mengendalikan pikiran, perilaku dan emosi penting dimiliki oleh remaja untuk menghadapi berbagai perubahan dalam kehidupannya. Pola perkembangan perilaku remaja diantaranya dipengaruhi oleh faktor urutan kelahiran, model kecakapan atau ketidakcakapan yang diberi orangtua terhadap remaja, pengaruh lingkungan dan perbedaan budaya. Sistem kekerabatan patrilineal sebagai budaya yang dianut masyarakat Bali tentunya berpengaruh terhadap pengambilan keputusan remaja, dan keputusan tersebut dapat berdampak positif maupun negatif yang bergantung pada pengaturan maupun pengendalian diri remaja itu sendiri, serta dukungan orang-orang terdekatnya. Konsep budaya patriarki menimbulkan perbedaan peran sosial yang berbeda terhadap laki-laki maupun perempuan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana perbedaan regulasi diri pada remaja Bali ditinjau dari jenis kelamin dan urutan kelahiran sebagai salah satu faktor pembentuk kepribadian remaja. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan subjek sejumlah 240 remaja pada rentang usia 17 – 22 tahun dan tengah menempuh pendidikan di salah satu SMAN di Bali yang dipilih dengan menggunakan teknik cluster random sampling. Instrumen penelitian ini adalah skala regulasi diri yang telah diuji validitasnya, dengan reliabilitas 0,901. Metode analisis data menggunakan analisis dua jalur (two way ANOVA) dengan perolehan hasil signifikansi sebesar 0,003 (p<0,05) dengan mean empiris 91,83 lebih besar dibandingkan mean teoretis 77,5, yang artinya terdapat perbedaan regulasi diri ditinjau dari urutan kelahiran dan jenis kelamin remaja Bali dengan taraf regulasi diri remaja Bali yang tergolong tinggi. Kata kunci: Jenis kelamin, regulasi diri, remaja Bali, urutan kelahiran.
Proses Penerimaan Anggota Keluarga Orang dengan Skizofrenia Ida Ayu Winda Candra Laksmi; Yohanes Kartika Herdiyanto
Jurnal Psikologi Udayana Edisi Khusus: Kesehatan Mental (2019)
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/

Abstract

Skizofrenia merupakan gangguan psikotik dalam proses berpikir, berbicara, dan berperilaku. Tak hanya memengaruhi orang dengan skizofrenia (ODS) saja, skizofrenia juga memengaruhi orang-orang disekitar ODS, termasuk anggota keluarga yang tinggal satu rumah dengan ODS. Stigma yang dibentuk oleh masyarakat membuat anggota keluarga menutup diri dan enggan bersosialisasi. Permasalahan fisik dan psikis juga dialami oleh anggota keluarga dengan keadaan ODS, maka dibutuhkan proses untuk dapat menerima keadaan diri, dengan melewati tahapan-tahapan dalam proses penerimaan. Penanganan yang tepat juga dibutuhkan untuk membantu pemulihan ODS, dengan mendapatkan pengobatan teratur dan pendampingan dari keluarga juga merupakan faktor yang penting. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan apa saja permasalahan yang dihadapi anggota keluarga ODS, proses penerimaan anggota keluarga ODS (beserta strategi kopingnya), penanganan yang dilakukan, dan faktor-faktor yang memengaruhi penerimaan anggota keluarga ODS. Menggunakan metode kualitatif fenomenologi dengan teknik pengambilan data observasi dan wawancara pada 6 orang responden yaitu anggota keluarga ODS yang tinggal satu rumah dengan ODS dan menggunakan analisis data theoretical coding. Hasil penelitian ini menunjukkan kurangnya pengetahuan keluarga mengenai skizofrenia, emosi, sikap ODS, dan penilaian lingkungan yang menjadi permasalahan anggota keluarga ODS. Proses penerimaan anggota keluarga ODS melalui tahap penolakan, marah, tawar-menawar, depresi, dan tahap penerimaan, walaupun terdapat perbedaan pada kasus-kasus yang spesifik. Penanganan pada ODS yang memberikan efek pemulihan lebih cepat adalah membawa ODS ke rumah sakit, memberikan obat dan perawatan keluarga. dorongan dari dalam diri, dukungan sosial, pandangan diri, pandangan sosial dan status ekonomi merupakan faktor penerimaan anggota keluarga ODS. Kata kunci: Proses penerimaan, anggota keluarga ODS, skizofrenia.
Hubungan intensitas menonton film porno terhadap maskulinitas remaja laki-laki di Bali Ratih Ryoningrat; Yohanes Kartika Herdiyanto
Jurnal Psikologi Udayana Vol. 6 No. 1 (2019)
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JPU.2019.v06.i01.p02

Abstract

Masa remaja sebagai periode transisi perkembangan antara masa kanak-kanak dengan masa dewasa, yang melibatkan perubahan-perubahan biologis, kognitif, dan sosio-emosional. Remaja ingin mengetahui banyak hal serta ingin selalu mencoba berbagai hal baru dan ingin mengetahui berbagai informasi tentang seksualitas, karena berhubungan dengan perubahan dan perkembangan aspek fisiologis yang dialaminya. Oleh karena itu, pada masa ini, remaja mulai tertarik untuk mengeksplorasi pengetahuan tentang seksualitas dari berbagai macam sumber, termasuk mengaksesnya dari pornografi salah satunya film porno karena dianggap lebih membangkitkan gairah seksual remaja. Selain itu film porno juga memengaruhi konsep “maskulinitas” ketika remaja ingin menunjukkan pengetahuan dan keahlian yang dimilikinya dan ingin di akui oleh teman sebayanya. Maskulinitas adalah peran gender, kedudukan, perilaku, dan bentuk konstruksi kelelakian terhadap laki-laki yang dihubungkan dengan kualitas seksual kemudian dibentuk oleh kebudayaan (Barker, 2001). Maskulinitas yang tinggi juga ditemukan pada budaya yang menganut garis keturunan patrilineal yang mengganggap posisi laki-laki lebih dominan dibandingkan perempuan dalam segala hal. Darwin (2001) mengemukakan bahwa timbulnya “maskulinitas yang tinggi” pada budaya patriarki karena adanya anggapan bahwa laki-laki menjadi sejati jika berhasil menunjukkan kekuasaannya atas perempuan. Berdasarkan pemaparan diatas, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana hubungan intensitas menonton film porno terhadap maskulinitas remaja laki-laki di Bali Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan subjek sejumlah 243 remaja laki-laki pada rentang usia 15-18 tahun dan tengah menempuh pendidikan di SMAN Bali yang dipilih dengan menggunakan teknik probability sampling yaitu cluster sampling. Instrumen penelitian ada dua, yaitu skala intensitas menonton film porno (r= 0,925) dan skala sifat maskulinitas (r= 0.882). Metode analisis data menggunakan korelasi product moment dengan hasil signifikansi sebesar 0,136 (p>0,05), sehingga kesimpulan penelitian ini yaitu tidak terdapat hubungan intensitas menonton film porno terhadap maskulinitas remaja laki-laki di Bali. Kata kunci: Intensitas menonton film porno, maskulinitas, remaja Bali.
Kreativitas pada pelukis di Bali A.A Gd Gita Galah; Yohanes Kartika Herdiyanto
Jurnal Psikologi Udayana Vol. 6 No. 1 (2019)
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JPU.2019.v06.i01.p15

Abstract

Bali sebagai salah satu destinasi pariwisata terbaik di dunia menawarkan beragam keindahan alam dan budayanya. Pariwisata Bali yang berkembang pesat membuat adanya lapangan kerja untuk para seniman dengan menjual jasa pada wisatawan yang datang ke Bali, khususnya pelukis. Pelukis memiliki kecenderungan untuk berkarya tanpa adanya batasan tertentu, namun dengan menjadikan melukis sebagai profesi, mengharuskan pelukis untuk menuruti permintaan pemesan maupun tren lukisan yang laku di pasaran, hal ini tentu berdampak dengan kreativitas yang dimiliki oleh pelukis. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kreativitas pada pelukis di Bali. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi yang tergabung dalam penelitian payung dengan tema “proses kreatif pada seniman di Bali” yang diinisiasi oleh Program Studi Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana. Peneliti menggunakan 7 responden laki-laki berusia 20 hingga 60 tahun yang berdomisili di Bali dan mempunyai profesi sebagai pelukis. Hasil penelitian yang didapatkan adalah faktor penghambat dan pendukung kreativitas secara internal maupun eksternal. Pelukis mengembangkan kreativitas melalui proses merenung, pengamatan hingga mengubah stres untuk menjadi sumber inspirasi, serta adanya pengaruh pariwisata terhadap kreativitas. Kata kunci: Kreativitas, pariwisata Bali, pelukis.