Ita Karlina
Program Studi Ilmu Kelautan, Fakultas Ilmu Kelautan Dan Perikanan, Universitas Maritim Raja Ali Haji

Published : 23 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

Asosiasi Siput Gonggong (Strombus sp.) pada Ekosistem Lamun Di Pesisir Timur Pulau Bintan Nurul Hati; Ita Karlina; Rika Angraeni; Aditya Hikmat Nugraha; Fadhliyah Idris; Jelita Rahma Hidayati
Jurnal Kelautan Tropis Vol 25, No 2 (2022): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkt.v25i2.13414

Abstract

The east coast of Bintan Island is an area that has a wide distribution of seagrass with good conditions for the association of Strombus sp in the seagrass ecosystem. This research aims to identify seagrass coverage and abundance of golden snails (Strombus sp) and study the association of golden snails (Strombus sp.) in seagrass ecosystems on the east coast of Bintan Island. This research was conducted on the East Coast of Bintan Island from June until July 2021 (Teluk Bakau Village, Malang Rapat Village and Berakit Village). The tools and materials used in this research were GPS, 1x1 m quadrant transect, roller meter, digital scales, calliper, multitester, hand refractometer, pH meter, pipe (20cm), sieve net, stationery and aluminium foil. The sampling method used three transects with a distance of 100 m towards the sea with a distance between transects of 50 m, with a 1 x 1 m quadrant transect beginning from point 0 until 100 m. Data analysis used in this research were seagrass coverage, Strombus sp. abundance and PCA (Principal Component Analysis) analysis which relates the abundance of barking snails, seagrass cover, water physicochemical parameters and substrate. Strombus sp. found are Strombus urceus, Strombus canarium and Strombus turturella. The Strombus urceus type has a high 4,3 ind/m2 abundance value compared to other types of Strombus sp. at all stations. Types of Strombus canarium and Strombus turturella were mostly found in low seagrass cover and associated with seagrass species Halophila, Thalassia hemprichii and Halodule uninervis, while Strombus urceus species were mostly found in medium and dense seagrass cover and positively associated with Enhalus acoroides, Thallasia hemprichi, Cymodocea rotundata.    Pesisir Timur Pulau Bintan merupakan wilayah yang memiliki sebaran lamun yang luas dengan kondisi baik bagi asosiasi Strombus sp. pada ekosistem lamun. Tujuan dari penelitian ini untuk mengidentifikasi tutupan lamun dan kelimpahan siput gonggong (Strombus sp.) dan mempelajari asosiasi siput gonggong (Strombus sp.) pada ekosistem lamun di pesisir Timur Pulau Bintan. Penelitian ini dilakukan di Pesisir Timur Pulau Bintan pada bulan Mei hingga Juni 2021 (Desa Teluk Bakau, Desa Malang Rapat dan Desa Berakit). Alat dan bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah GPS, transek kuadran 1x1 m, rol meter, timbangan digital, jangka sorong, multitester, hand refracstometer, pH meter, pipa paralon (20cm), sieve net, alat tulis dan alumunium foil. Metode sampling menggunakan 3 transek dengan panjang 100 m ke arah laut dengan jarak antar transek yaitu 50 m, dengan transek kuadran 1 x 1 m dimulai dari titik 0 sampai 100 m. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu tutupan lamun, kelimpahan Strombus sp., serta analisis PCA (Principal Component Analysis) yang menghubungkan antar variabel kelimpahan siput gonggong, tutupan lamun, parameter fisika kimia perairan dan substrat. Jenis Strombus sp. yang dijumpai diantaranya Strombus urceus, Strombus canarium dan Strombus turturella. Jenis Strombus urceus memiliki nilai 4,3 ind/m2 kelimpahan yang tinggi dibandingkan dengan jenis Strombus sp. lain pada seluruh stasiun. Jenis Strombus canarium dan Strombus turturella banyak ditemukan pada tutupan lamun yang rendah serta berasosiasi dengan jenis lamun Halophila, Thalassia hemprichii dan Halodule uninervis, sedangkan jenis Strombus urceus banyak ditemukan pada tutupan lamun yang sedang dan padat serta berasosiasi positif dengan Enhalus acoroides, Thallasia hemprichi, Cymodocea rotundata.
HUBUNGAN STRUKTUR KOMUNITAS FITOPLAKTON DAN KEBERADAAN BIOTA BERNILAI EKONOMIS PENTING DI PERAIRAN BINTAN SELATAN Nahdah Ayatillah; Ita Karlina; Fadhliyah Idris
JURNAL ENGGANO Vol. 7 No. 1 (2022)
Publisher : Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31186/jenggano.7.1.1-15

Abstract

Bintan Selatan merupakan wilayah yang berada di Provinsi Kepulauan Riau. Memiliki pesisir dan lautan yang kaya akan sumber daya hayati, salah satunya adalah fitoplankton. Fitoplankton memiliki peran penting dalam ekosistem perairan yaitu sebagai produsen utama. Keberadaan fitoplankton mempengaruhi rantai makanan akuatik yaitu biota bernilai ekonomis penting. Terdapat hubungan antara fitoplankton dan keberadaan biota ekonomis penting, sehingga perlu dikaji mengenai struktur komunitas fitoplankton dan biota bernilai ekonomis penting di Perairan Bintan Selatan. Terdapat tiga stasiun penelitian diantaranya Kampung Bugis, Kawal dan Kijang. Penelitian dilakukan dengan pengambilan sampel fitoplankton, parameter kualitas perairan, dan wawancara nelayan. Analisis data yang dilakukan pada fitoplankton adalah analisis kelimpahan, indeks keanekaragaman, indeks keseragaman dan indeks dominansi. Sedangkan analisis biota ekonomis penting menggunakan uji data non parametrik, krustal wallis. Hasil penelitian menunjukkan fitoplankton yang ditemukan pada tiga lokasi penelitian adalah 4 divisi dari 7 kelas serta 35 genera, memiliki keanekaragaman yang rendah dengan kemerataan stabil dan tidak terdapat jenis fitoplankton yang dominan (dominansi rendah). Sedangkan pada biota ekonomis penting didapatkan sebanyak 34 jenis yang terdiri dari jenis cumi dan udang, ikan pelagis kecil, pelagis besar dan demersal. Keberadaan biota ekonomis penting dipengaruhi oleh kelimpahan fitoplankton. Semakin tinggi kelimpahan fitoplankton semakin besar jumlah biota ekonomis yang didapatkan nelayan
Struktur Populasi Ikan Baronang pada Ekosistem Lamun Di Pesisir Pulau Bintan Jemi Jemi; Ita Karlina; Aditya Hikmat Nugraha
Journal of Marine Research Vol 11, No 1 (2022): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v11i1.33029

Abstract

Salah satu ekosistem pesisir yang dapat ditemukan di pesisir Pulau Bintan yaitu  ekosistem lamun. Ikan baronang merupakan ikan ekonomis penting yang berasosiasi dengan padang lamun. Kondisi struktur ekosistem lamun yang berbeda di perairan pulau Bintan diduga dapat berpengaruh terhadap persebaran ikan baronang pada ekosistem lamun. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kondisi tutupan lamun pada beberapa lokasi dan mendeskripsikan struktur populasi ikan baronang (Siganus sp) pada ekosistem lamun dengan tutupan berbeda di  perairan pulau Bintan. Metode sampling tutupan lamun menggunakan transek kuadrat berukuran 50 x 50 cm dan sampling ikan baronang menggunakan jaring insang dasaran (bottom gill net). Diperoleh 8 jenis lamun yang tersebar di 4 stasiun penelitian. Tutupan lamun tertinggi terdapat di stasiun Pengudang dengan nilai 65,20% dengan kondisi kaya/padat.  Terdapat 5 jenis ikan baronang. Jenis ikan baronang yang memiliki kelimpahan tertinggi yaitu Siganus canaliculatus. Tidak terjadi perbedaan yang signifikan untuk persebaran jenis ikan baronang pada lokasi penelitian  One of the ecosystems that can be found on the coast of Bintan Island is the seagrass ecosystem. SIganus sp are economical fish associated with seagrass beds. The structure of the seagrass ecosystem is thought to have an effect on the distribution of Siganus sp in the seagrass ecosystem. This study aims to describe the condition of seagrass cover at several locations in the waters of Bintan Island and to describe the population structure of Siganus sp in seagrass ecosystems with different cover in the waters of Bintan Island. The seagrass cover sampling method used a quadratic transect measuring 50 x 50 cm and the Siganus sp fish sampling used a bottom gill net. Obtained 8 types of seagrass spread over 4 research stations. The highest seagrass cover was found at Pengudang station with a value of 65.20% with rich/dense conditions. There are 5 types of baronang fish. The type of baronang fish that has the highest abundance is Siganus canaliculatus. There is no significant difference for the distribution of baronang fish species at the study site.
Antioxidant Activity and Bioactive Compounds of Tropical Brown Algae Padina sp. from Bintan Island, Indonesia Jelita Rahma Hidayati; Muhammad Syaifudien Bahry; Ita Karlina; Ervia Yudiati
Jurnal Kelautan Tropis Vol 25, No 3 (2022): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkt.v25i3.15562

Abstract

Macroalgae is one of the marine resources that have the ability as an antioxidant. Its ability is obtained from bioactive compounds produced through secondary metabolism. One type of macroalgae that has the potential as an antioxidant is Padina sp. This study aims to analyze the content of bioactive compounds in Padina sp and determine their antioxidant activity using DPPH as free radicals. Padina sp. was taken from the Bintan waters and shade-dried for three days. Bioactive compounds were analyzed through phytochemical screening to determine the content of flavonoid compounds, steroids, triterpenoids, saponins, and tannins. Determination of antioxidant activity begins with measuring the maximum wavelength of DPPH at 400-800 nm and determining the incubation time of the sample and DPPH. Antioxidant activity was determined based on the value of Inhibition concentration (IC50) at a wavelength of 515.5 nm; total phenolic content was determined using gallic acid standard (725 nm); total flavonoid content was determined using quercetin standard (415 nm), chlorophyll a and carotenoids were selected to determine pigment content on the sample. The results showed that Padina sp. contains flavonoid compounds, steroids, and tannins. Extract of Padina sp. has a total phenolic content of 46.02 mg/GAE g; total flavonoid content of 35.36 mg/QE g; chlorophyll content of 9.18 mg/g; and carotenoid content of 26.46 µmol/g. Methanol extract of Padina sp. has an IC50 value of 92.17 ppm and is classified as a strong antioxidant.
Laju pertumbuhan jenis lamun Thalassia hemprichii dengan teknik transplantasi sprig anchor dan polybag pada jumlah tegakan yang berbeda dalam rimpang di Perairan Kabupaten Bintan Rani Seprianti; Ita Karlina; Henky Irawan
Intek Akuakultur Vol. 1 No. 1 (2017): Intek Akuakultur
Publisher : Program Studi Budidaya Perairan Universitas Maritim Raja Ali Haji

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1044.663 KB) | DOI: 10.31629/intek.v1i1.70

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui laju pertumbuhan lamun jenis Thalassia hemprichii yang ditransplantasi dengan metode Sprig anchor dan Polybag dengan jumlah tegakan yang berbeda sehingga didapatkan jumlah tegakan optimal bagi pertumbuhan lamun jenis Thalassia hemprichii yang di transplantasi dengan metode Sprig anchor dan Polybag. Penelitian ini dilakukan pada bulan Februari sampai Mei tahun 2016 di Kampe Desa Malangrapat Kecamatan Gunung Kijang Kabupaten Bintan. Metode yang digunakan adalah metode eksperimental. Metode sprig anchor dan polybag diberi 5 perlakuan yaitu tegakan 1 hingga tegakan 5. Analisis data dengan One-Way ANOVA menunjukkan laju pertumbuhan daun lamun dengan hasil laju pertumbuhan pada metode sprig anchor terdapat pengaruh yang nyata terhadap perlakuan tegakan lamun yang berbeda dengan penambahan panjang daun berkisar 0,41 cm/minggu hingga 0,64 cm/minggu. Laju pertumbuhan daun lamun pada metode polybag tidak memberikan pengaruh yang nyata dengan penambahan panjang daun berkisar 0,43 cm/minggu hingga 0,72 cm/minggu. Pada tingkat kelangsungan hidup, data dianalisis dengan uji Kruskal Wallis. Tingkat kelangsungan hidup lamun Thalassia hemprichii menunjukkan tidak terdapat perbedaan yang nyata terhadap jumlah tegakan lamun yang berbeda dengan nilai rata-rata tingkat kelangsungan hidup metode sprig anchor 67,64 % dan metode polybag 99,2 %. Tegakan optimal Lamun Thalassia hemprichii pada metode sprig anchor yaitu tegakan 2 dan metode polybag yaitu tegakan 1. Penentuan tegakan optimal lamun berdasarkan tegakan yang paling sedikit, tetapi memiliki parameter laju pertumbuhan yang paling cepat ataupun yang tidak berbeda nyata dari perlakuan dengan parameter pertumbuhan tercepat atau tertinggi. Hasil dari tegakan optimal yang dicapai merupakan pertumbuhan lamun Thalassia hemprichii yang efisien dan efektif.
Laju Pertumbuhan Jenis Lamun Enhalus acoroides Dengan Teknik Transplantasi Polybag Dan Sprig Anchor Pada Jumlah Tunas Yang Berbeda Dalam Rimpang Di Perairan Bintan Netty Harnianti; Ita Karlina; Henky Irawan
Intek Akuakultur Vol. 1 No. 1 (2017): Intek Akuakultur
Publisher : Program Studi Budidaya Perairan Universitas Maritim Raja Ali Haji

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1230.997 KB) | DOI: 10.31629/intek.v1i1.71

Abstract

Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui tingkat pertumbuhan lamun dan tingkat kelangsungan hidup lamun Enhalus acoroides dan mengetahui tunas yang optimal yang ditransplantasi dengan metode Polybag dan Sprig Anchor. Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan Febuari sampai bulan mei tahun 2016 di daerah Kampe, Desa Malangrapat, Kecamatan Gunung Kijang, Kabupaten Bintan. Metode yang dilakukan adalah metode transplantasi Polybag dan Sprig Anchor. Jumlah tunas lamun di beri 3 yaitu 1 tunas, 2 tunas dan 3 tunas dengan 3x pengulangan pada setiap tunas. Analisi data dengan menggunakan KRUSKAL WALLIS menunjukan tingkat kelangsungan hidup tidak memiliki perbedaan yang nyata (p<0.05). Analisis data menggunakan One Way ANOVA menunjukan hasil dari laju pertumbuhan daun lamun tidak memiliki perbedaan yang nyata (p<0.05). Jumlah tunas yang optimal didapat pada metode Polybag yaitu tunas 1 dengan nilai 2,0417 dan Sprig Anchor yaitu tunas 1 dengan nilai 2,0833, yaitu perlakuan dengan jumlah tunas yang sedikit namun memiliki kelangsungan hidup paling tinggi. Tunas optimal ini dinilai sebagai pertumbuhan lamun yang efektif dan efisien dalam kegiatan transplantasi lamun Enhalus acoroides.
Laju pertumbuhan jenis lamun (Syringodium isoetifolium) dengan teknik transplantasi Polybag dan Sprig anchor pada jumlah tegakan yang berbeda dalam rimpang di perairan Kampe Desa Malang Rapat Anggun Permatasari; Ita Karlina; Henky Irawan
Intek Akuakultur Vol. 1 No. 1 (2017): Intek Akuakultur
Publisher : Program Studi Budidaya Perairan Universitas Maritim Raja Ali Haji

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1149.934 KB) | DOI: 10.31629/intek.v1i1.74

Abstract

Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui laju pertumbuhan lamun dan tingkat kelangsungan hidup lamun Syringodium isoetifolium dan mengetahui jumlah tegakan optimal bagi pertumbuhan lamun Syringodium isoetifolium yang ditransplantasi dengan metode Polybag dan Sprig anchor. Metode yang digunakan adalah metode transplantasi Polybag dan Sprig anchor. Jumlah tegakan lamun Syringodium isoetifolium diberi perlakuan yaitu 1 tegakan, 2 tegakan, 3 tegakan, 4 tegakan, dan 5 tegakan dengan 5 kali pengulangan tiap perlakuan. Analisis data dengan menggunakan Uji One-Way ANOVA menunjukkan laju pertumbuhan lamun Syringodium isoetifolium pada metode Polybag tidak terdapat perbedaan yang nyata terhadap perlakuan jumlah tegakan yang berbeda (p>0,05) dengan penambahan panjang daun lamun Syringodium isoetifolium ± 0,58 cm hingga 1,49 cm per-minggu dan untuk metode Sprig anchor terdapat perbedaan yang nyata terhadap perlakuan jumlah tegakan yang berbeda (p<0,05) dengan penambahan panjang daun lamun Syringodium isoetifolium ± 0,02 cm hingga 0,54 cm per-minggu sedangkan untuk tingkat kelangsungan hidup lamun Syringodium isoetifolium pada metode Polybag dan Sprig anchor menggunakan analisis data Kruskal Wallis tidak terdapat pengaruh yang nyata terhadap perlakuan jumlah tegakan yang berbeda (p>0.05) dengan rata-rata tingkat kelangsungan hidup lamun 100% metode Polybag dan 19,8% untuk metode Sprig anchor. Jumlah tegakan yang optimal lamun Syringodium isoetifolium didapat oleh perlakuan dengan jumlah tegakan 1 untuk metode Polybag dan Sprig anchor, yaitu perlakuan dengan jumlah tegakan sedikit mungkin, tetapi memiliki laju pertumbuhan dan tingkat kelangsungan hidup tertinggi dan tidak memiliki perbedaan yang nyata di setiap perlakuan. Tegakan optimal ini dinilai sebagai pertumbuhan lamun yang efektif dan efisien dalam kegiatan transplantasi lamun Syringodium isoetifolium.
Pengetahuan Masyarakat Lokal Terkait Keberadaan Kepiting Tapal Kuda dan Distribusinya di Sepanjang Pesisir Pulau Bintan Rika Anggraini; Ita Karlina
Jurnal Kelautan Tropis Vol 26, No 1 (2023): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkt.v26i1.15693

Abstract

There are many reports of a decline in the population of horseshoe crabs in Asia, but knowledge about the distribution of horseshoe crabs on the coast of Bintan Island is still limited. We conducted interviews in 15 locations on the coast of Bintan Island. The information we collect is about the distribution of potential spawning areas and the utilization of horseshoe crabs in each area. Respondents were randomly selected as the surveyor walked through each study site. Verification of the distribution and breeding grounds of horseshoe crabs by respondents was done by asking respondents to indicate the location where they had seen pairs of horseshoe crabs mating, juveniles, and horseshoe crab eggs met; we also validated with direct observations made in the field. Respondents reported that in 15 locations, they had seen juveniles and horseshoe crabs in pairs. One respondent directly observed horseshoe crab eggs on the beach, and only a few found horseshoe crabs laying eggs. Respondents who saw paired horseshoe crabs generally worked as fishermen. We found three juvenile locations for horseshoe crabs, namely at Tembeling, Pengujan and Pengudang locations. At three locations Tachypleus gigas and Carcinoscorpius rotundicauda were found. Horseshoe crabs on Bintan Island are used as fertilizer, medicine and wall decoration. In this study, local wisdom provides essential information regarding the potential distribution of spawning grounds and the utilization of horseshoe crabs on the coast of Bintan Island  Banyaknya laporan mengenai penurunan populasi kepiting tapal kuda di Asia, tetapi pengetahuan tentang distribusi kepiting tapal kuda di Pesisir Pulau Bintan terbatas. kami melakukan wawancara di 15 lokasi di pesisir Pulau Bintan. Informasi yang kami kumpulkan tentang distribusi potensi daerah pemijahan, dan pemanfaatan kepiting tapal kuda pada masing-masing daerah. Responden dipilih secara acak pada saat pihak survei berjalan menyelusuri setiap lokasi penelitian. Verifikaksi distribusi dan tempat pembibitan kepiting tapal kuda oleh responden dilakukan dengan meminta responden untuk menunjukkan lokasi yang pernah melihat sepasang kepiting tapal kuda kawin, juvenil, serta telur kepiting tapal kuda di temui, kami juga melakukan validasi dengan pengamatan langsung yang di lakukan di lapangan. Responden telah melaporkan bahwa pada 15 lokasi pernah melihat juvenil dan kepiting tapal kuda berpasangan. Ada satu responden yang secara langsung mengamati telur kepiting tapal kuda di pantai dan hanya sebagian yang menemukan kepiting tapal kuda bertelur. Responden yang melihat kepiting tapal kuda berpasangan pada umumnya yang berkerja sebagai nelayan. Kami menemukan 3 lokasi juvenil kepiting tapal kuda yaitu pada lokasi Tembeling, Pengujan dan Pengudang. Pada ketiga lokas tersebut ditemukan jenis Tachypleus gigas dan Carcinoscorpius rotundicauda. Kepiting tapal kuda di Pulau Bintan di manfaatkan sebagai pupuk, obat dan hiasan dinding. Dalam penelitian ini pengetahuan lokal memberikan infromasi penting mengenai distribusi potensi lokasi pemijahan dan pemanfaatan kepiting tapal kuda di pesisir Pulau Bintan.
Analisis Habitat Gastropoda pada Ekosistem Lamun di Perairan Bintan Kecamatan Gunung Kijang Kurniawan Ramadhan Lubis; Ita Karlina; Risandi Dwirama Putra
JURNAL ENGGANO Vol. 8 No. 1 (2023)
Publisher : Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31186/jenggano.8.1.1-11

Abstract

Ekosistem lamun memiliki kaitan yang erat dengan keberadaan gastropoda. Dimana, kondisi lamun sangat berpengaruh terhadap besarnya jumlah gastropoda. Kondisi lingkungan yang berbeda di Perairan Bintan Kecamatan Gunung Kijang di duga dapat berpengaruh terhadap nilai keanekragaman gastropoda pada ekosistem lamun. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai keankaragaman gastropoda pada ekosistem lamun dengan karakteristik lingkungan yang berbeda di beberapa daerah pesisir Perairan Bintan. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan September hingga November 2021 di 3 stasiun yakni perairan Desa Kawal, Desa Teluk Bakau, dan Desa Malang Rapat Bintan Kecamatan Gunung Kijang. Metode yang digunakan adalah metode sampling dengan transek kuadran yang membentang 3 buah transek garis sepanjang 100 m kearah laut. Analisis data yang digunakan meliputi tutupan lamun, kepadatan relatif gastropoda, kepadatan jenis gastropoda, keanekaragaman gastropoda, keseragaman gastropoda, dan dominansi gastropoda. Hasil penelitian di temukan 23 spesies gastropoda pada 7 jenis lamun yang tersebar di 3 lokasi penelitian. Didapatkan nilai keanekaragaman gastropoda berkisar antara 1,51 – 1,82 dengan kategori sedang. Adapun gastropoda yang memiliki nilai kepadatan tertinggi dari ke 3 stasiun pengamatan yaitu Batillaria Zonalis, sedangkan gastropoda dengan jenis yang paling banyak di temui pada lamun yaitu Columbella Versicolor. Tutupan lamun tertinggi berada di perairan Malang Rapat dengan nilai sebesar 74%.
Variasi dan Komposisi Bentuk Pertumbuhan Karang (Life Form) di Perairan Bintan Timur Rizki Abdullah; Ita Karlina; Dedy Kurniawan; Risandi Dwirama Putra; Asep Mulyono
Jurnal Kelautan Vol 16, No 1: April (2023)
Publisher : Department of Marine Sciences, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/jk.v16i1.15212

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini mengkaji tentang keanekaragaman bentuk kehidupan pertumbuhan karang di perairan Bintan bagian timur. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bentuk kehidupan bentuk life form karang dan untuk mengetahui persentase jenis tutupan terumbu karang, indeks keanekaragaman, keseragaman. Indeks dan indeks dominasi spesies di Bintan bagian timur. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode under photo transect (UPT) dengan panjang transek garis yang digunakan adalah 50m dengan luas pemotretan (58 x 44) cm2. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada stasiun satu di perairan Kawal persentase tutupan karang hidup sebesar 41.80% termasuk dalam kategori sedang. Ada 8 jenis pertumbuhan karang bentuk kehidupan, yaitu CM, CF, ACE, ACT, CS, CE, CB, CMR. Pada stasiun dua di perairan Teluk Bakau persentase tutupan karang hidup sebesar 47,40% dikategorikan sedang. Ada 7 jenis pertumbuhan karang bentuk kehidupan yang ditemukan, yaitu CM, CF, CE, CS, ACT, ACS, ACE. Pada stasiun tiga perairan Malang Rapat persentase tutupan karang hidup sebesar 41,53% termasuk kategori sedang. Ada 9 jenis pertumbuhan karang bentuk kehidupan yang ditemukan, yaitu CM, ACE, CS, CF, CE, CMR, ACS, ACT, CB.Kata kunci: Keanekaragaman, Life form Coral, Under Photo Transect (UPT),Tutupan karang, Perairan Bintan TimurABSTRACTThis research examines the diversity of life form coral growth in the waters of the eastern part of Bintan.The purpose of this research aimed to determine the growth form of life form corals the percentage of coral reef cover types, diversity index, uniformity index and species dominance index in the eastern part of Bintan. This research was conducted using the under photo transect (UPT) method with the length of the line transect used was 50m with a photo area (58 x 44) cm2. The results showed that at station one in Kawal waters, the percentage of life coral cover was 41.80%, categorized as medium. There were 8 types of life form coral growth, namely CM, CF, ACE, ACT, CS, CE, CB, CMR. At station two in the waters of the Teluk Bakau, the percentage of live coral cover was 47,40% categorized as moderate. There were 7 types of life form coral growth found, namely CM, CF, CE, CS, ACT, ACS, ACE. At station three in Malang Rapat waters, the percentage of live coral cover was 41,53% categorized as medium. There were 9 types of life form coral growth found, namely CM, ACE, CS, CF, CE, CMR, ACS, ACT, CB.Keywords: Diversity, Life form coral, Under Photo Transect (UPT), Coral cover, East Bintan waters