Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

Localising the Global Qirāʾat Tradition in the Nusantara: A Philological Study of Hasyim Jakfar's Quflul Qirāʾat Ridhoul Wahidi; Riki Rahman; Daing Mohd Fuad a Kadir Tawajok; Dadang Darmawan; khairul Ihsan
Mashdar: Jurnal Studi Al-Qur'an dan Hadis Vol 7, No 2 (2025): Mashdar: Jurnal Studi Al-Qur'an dan Hadis
Publisher : Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15548/mashdar.v7i2.12487

Abstract

Locally produced qirāʾat manuscripts in the Malay Archipelago remain critically underexplored despite their significance in regional Islamic pedagogy. This article examines Quflul Qirāʾat Baina Imāmaini (QQBI), an unpublished Jawī-script manuscript by Hasyim Jakfar (1945–2022) of Indragiri Hilir, Riau, Indonesia. Employing a qualitative philological-hermeneutical design, the study analyses both external (mā ḥaula al-kitāb) and internal (mā fī al-kitāb) dimensions using Islah Gusmian's Nusantara manuscript framework, supplemented by content analysis and interpretive hermeneutics. The findings reveal that QQBI systematically juxtaposes the recitational systems of Imām Nāfiʿ (via Qālūn and Warsh) and Imām Ibn Kathīr (via Qunbul and al-Bazzī), identifying four structural convergences and fifteen methodological divergences across two parallel sections. Adopting a sharḥī presentational format, the manuscript provides an inclusive pedagogical orientation for Musabaqah Tilāwatil Qurʾān (MTQ) participants, regardless of prior tajwīd mastery. While QQBI successfully localises the classical Shāṭibiyyah tradition into an accessible instructional framework, its absence of explicit taḥqīq and isnād documentation constitutes a critical methodological limitation. This study argues that QQBI represents a productive yet incomplete model of qirāʾat knowledge localisation, with broader implications for Islamic manuscript scholarship and qirāʾat pedagogy in Southeast Asia.
Islamic Educational Epistemology in Twentieth-Century Indragiri Hilir: A Philological Study of Majmû‘ al-Âyât wa al-Aḥâdîth Ridhoul Wahidi; Benny Afwadzi; Nasrullah Nasrullah; Siti Sarah Maidin
Ulul Albab: Jurnal Studi Islam Vol 27, No 1 (2026): Islamic Education and History
Publisher : Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/ua.v27i1.41380

Abstract

This study examines the reconstruction of Islamic education in twentieth-century Indragiri Hilir, Riau, Indonesia through a philological analysis of the manuscript Majmû‘ al-Âyât wa al-Ahâdîth fî Fadâ’il al-‘Ilm by Shaykh Abdurrahman Siddiq al-Banjari. This qualitative study employs philological and intellectual-historical approaches using the manuscript as the primary source and relevant historical literature as supporting data. Content analysis was employed to examine the manuscript’s textual structure and educational themes. The findings indicate that this manuscript represents an effort to develop Islamic education grounded in the Quran and hadith through a systematic and normative approach. The manuscript presents educational principles concerning religious learning, ethics, and scholarly authority. The manuscript integrates 42 Quranic verses, 55 hadith, and classical scholarly authorities, demonstrating the interconnection between epistemic authority, intentionality (niyyah), and transregional knowledge transmission. It also illustrates how Quranic verses and prophetic hadith were pedagogically employed to construct and legitimize educational knowledge within a local scholarly tradition. This study shows that the manuscript contains educational concepts that offer important insights into the development of Islamic education in Indragiri Hilir within its historical context. The manuscript reflects an epistemic framework integrating intellectual, moral, and social dimensions of Islamic education. The findings highlight the value of local manuscripts for reconstructing the history of Islamic education and understanding the epistemological foundations of Islamic learning. Thus, this study contributes to broader discussions in Islamic philology and the history of education in Southeast Asia.
Universalitas Khiṭāb Yā-Ayyuhā An-Nās dalam Al-Qur’an: Analisis Tematik atas Ayat-Ayat Makkiyyah dan Madaniyyah Ridhoul Wahidi
At-Tahfidz: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 6 No. 2 (2025): Juni 2025
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53649/at-tahfidz.v6i2.2243

Abstract

Frasa Yā Ayyuhā an-Nās merupakan salah satu bentuk khitab Al-Qur’an yang memiliki signifikansi universal dalam menyampaikan pesan-pesan ilahiah kepada manusia. Kemunculannya sebanyak 19 kali dalam Al-Qur’an menunjukkan urgensi frasa ini sebagai medium penyampaian perintah, larangan, dan nilai-nilai fundamental ajaran Islam. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis sasaran khitab Yā Ayyuhā an-Nās serta mengungkap corak penafsirannya dalam ayat-ayat Makkiyah dan Madaniyah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode tafsir tematik (maudhu‘i), melalui tahapan analisis yang sistematis sebagaimana dirumuskan dalam kajian tematik Al-Qur’an. Hasil penelitian menunjukkan bahwa khitab Yā Ayyuhā an-Nās pada surah-surah Makkiyah ditujukan kepada masyarakat Makkah secara umum, baik Arab maupun non-Arab, dengan penekanan pada penguatan tauhid, kritik terhadap kemusyrikan, penolakan terhadap hari kebangkitan, serta pembinaan moral. Sementara itu, pada surah-surah Madaniyah, khitab ini mencakup masyarakat Madinah, termasuk Muslim, Yahudi, dan komunitas lain, dengan fokus pada aspek ibadah, hukum, ketakwaan, relasi sosial, dan prinsip-prinsip kemanusiaan universal. Temuan ini menegaskan bahwa frasa Yā Ayyuhā an-Nās merepresentasikan universalitas pesan Al-Qur’an lintas ruang, waktu, dan komunitas.
Tafsir Ayat-Ayat Filantropi Islam dan Relevansinya Terhadap Pengembangan Wakaf Produktif Ridhoul Wahidi
At-Tahfidz: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 6 No. 1 (2024): Desember 2024
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53649/at-tahfidz.v6i1.2299

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis penafsiran ayat-ayat filantropi Islam dalam Al-Qur'an serta relevansinya terhadap pengembangan wakaf produktif di Pondok Pesantren Hayatul Qur'an Indragiri. Kajian ini berangkat dari kenyataan bahwa wakaf produktif merupakan salah satu instrumen filantropi Islam yang memiliki potensi besar dalam mendukung kemandirian ekonomi lembaga pendidikan Islam, khususnya pondok pesantren. Namun demikian, pengelolaan wakaf produktif sering kali lebih banyak dikaji dari perspektif ekonomi syariah dan manajemen, sementara kajian berbasis tafsir Al-Qur'an masih relatif terbatas. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode tafsir maudhu'i (tematik) dan studi kasus. Data diperoleh melalui kajian pustaka terhadap kitab-kitab tafsir klasik dan kontemporer serta dokumentasi mengenai pengelolaan wakaf. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ayat-ayat filantropi dalam Al-Qur'an, khususnya QS. Al-Baqarah [2]: 261, QS. Al-Baqarah [2]: 267, QS. Ali 'Imran [3]: 92, QS. Al-Hasyr [59]: 7, dan QS. Al-Hadid [57]: 18 mengandung prinsip produktivitas harta, keberlanjutan manfaat, pemerataan ekonomi, dan kemaslahatan sosial. Prinsip-prinsip tersebut relevan dengan konsep wakaf produktif yang dikembangkan di Pondok Pesantren Hayatul Qur'an Indragiri melalui pengelolaan aset wakaf sebagai sumber pembiayaan pendidikan dan pemberdayaan masyarakat. Penelitian ini menegaskan bahwa tafsir ayat-ayat filantropi tidak hanya memiliki dimensi normatif, tetapi juga memberikan landasan teologis bagi pengembangan model wakaf produktif yang berkelanjutan di lingkungan pesantren.
TRADISI MEMBACA SURAH AL-KAHFI PADA SUBUH JUM'AT DI PONDOK MODERN AL-IMTINAN PUTRI TEMBILAHAN RIAU Risda Suci Nur Amelia; Amaruddin; Ridhoul Wahidi
BUDIMAS : JURNAL PENGABDIAN MASYARAKAT Vol. 8 No. 1 (2026): BUDIMAS : Jurnal Pengabdian Masyarakat
Publisher : LPPM ITB AAS Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29040/budimas.v8i1.19454

Abstract

Al-Qur'an merupakan kitab suci yang keasliannya terjaga hingga saat ini. Selain berfungsi sebagai pedoman hidup, Al-Qur'an juga memiliki keistimewaan dan keutamaan yang terkandung dalam ayat-ayat maupun surat-suratnya. Untuk meraih keutamaan tersebut, setiap ayat atau surat harus diamalkan sesuai ketentuan. Di Pondok Modern Al-Imtinan Putri, tradisi membaca Surah Al-Kahfi telah berlangsung lama dan diteruskan dari generasi ke generasi, sehingga menjadi budaya yang sarat makna. Kegiatan pengabdian ini menggunakan tiga metode pendampingan, yakni observasi, wawancara, dan dokumentasi, untuk mendukung pelaksanaan kegiatan. Fokus kegiatan diarahkan pada penerapan metode Living Qur'an (Al-Qur'an Hidup), dengan tiga pertanyaan utama: (1) Bagaimana tradisi membaca Surah Al-Kahfi oleh santriwati di Pondok Modern Al-Imtinan Putri?, (2) Bagaimana makna dari tradisi membaca Surah Al-Kahfi tersebut? Dan (3) Bagaimana bisa menerapkan tradisi membaca Surah Al-Kahfi kepada seluruh penghuni Pondok Modern Al-Imtinan Putri? Dalam kegiatan ini, pimpinan pondok menetapkan rutinitas membaca Surah Al-Kahfi kepada ustadz, ustadzah, santriwati dan tukang masak sekalipun agar mendapatkan keistimewaan dari surat tersebut serta mengikuti sunnah Nabi pada hari Jumat. Selain itu, kegiatan ini juga berfungsi sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah, meneladani sunnah, dan menjadi contoh bagi santriwati dalam menjalankan amalan sunnah setiap Jumat
Tawhid and Qur’anic Interpretation in Early 20th-Century Minangkabau: A Philological-Theological Study of Abdul Latif Syakur’s al-Tawḥīd (1882–1963) Ridhoul Wahidi; Benny Afwadzi; Syafril; Riki Rahman
Jurnal Studi Ilmu-ilmu Al-Qur'an dan Hadis Vol. 26 No. 2 (2025): Juli
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/qh.v26i2.6268

Abstract

The Islamic reform movement in early 20th-century Minangkabau, West Sumatra, evolved through three phases. The first phase involved intellectual engagement, followed by military conflict, and later, modernization through education. During the third phase, scholarly production increased significantly. However, reformist literature predominantly concentrated on debates about tariqa (religious order) and fiqh (jurisprudence). Substantive discourse on tawhid (oneness of God) was absent, which forms the foundation of aqidah (creed). This study explores Abdul Latif Syakur’s al-Tawhid manuscript (1882–1963) to explore this underexamined aspect of Islamic theological discourse. Employing an integrative qualitative approach (philological-theological and historical analysis), the research explores three aspects: (1) Syakur’s construct of integrative tawhid, which synthesizes rubūbiyyah (lordship), ulūhiyyah (godship), and asmā’ wa ṣifāt (divine names and attributes); (2) his critique of shirk (associating partners with God) in both its jahiliyyah (pagan-ritualistic) and modern (secular-materialistic) forms; and (3) the role of ikhlas (sincere devotion) as a bridge between tawhidand social praxis. The findings show Syakur presents a non-polemical approach, integrating Minangkabau's local values (adat basandi syarak, or Sharia-based tradition) with Islamic doctrine. He also critiques the tendency to reduce tawhid to ritual formalism or a strict separation between religion and state. His concept of modern shirk provides valuable insights into current challenges, such as materialism and environmental issues. By integrating education and literacy at an institution informally known as Surau Si Camin, Syakur contributed to a holistic reform that emphasized the unity of aqidah, ethics, and social responsibility. This study affirms the relevance of integrative tawhid as a framework for conflict resolution and interfaith dialogue in pluralistic societies while revitalizing the intellectual legacy of Islam in the Nusantara region (the Malay-Indonesian archipelago).
Karakteristik Naskah Kamus Semantik Bahasa Arab Karya Syekh Abdul Latif Syakur Ridhoul Wahidi
Manuskripta Vol 14 No 1 (2024): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33656/manuskripta.v14i1.53

Abstract

This article aims to describe the characteristics of the manuscript of the Arabic Semantic Dictionary by Sheikh Abdul Latif Syakur from the philological and historicity aspects of the author. The important points that will be discussed in this article are aspects of manuscripts and texts, systematics of manuscript preparation, manuscript reference sources, use of Arabic and Malay Arabic script, lexical meaning, use of Arabic grammar and development of meaning. The entire picture can be obtained by using qualitative methods that are library research. The approach used in this article is philological and historical. Aspects of philology as describing manuscripts, translation and criticism of texts. Historical aspect to reveal the author's background which presents the author's intellectual elements. From there you can get a complete picture of the characteristics of an ancient manuscript, namely the Arabic Semantic Dictionary written by Sheikh Abdul Latif Syakur. === Artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan karakteristik naskah Kamus Semantik Bahasa Arab Karya Syekh Abdul Latif Syakur dari aspek filologi dan historisitas pengarangya. Poin-poin penting yang akan dibahas dalam artikel ini adalah aspek naskah dan teks, sistematika penyusunan naskah, intertekstual naskah, penggunaan aksara Arab dan Arab melayu, makna leksikal, penggunaan gramatika Arab dan pengembangan makna. Seluruh gambaran tersebut diperoleh dengan menggunaka metode kualitatif bersifat library research. Pendekatan yang digunakan dalam artikel ini adalah filologi dan linguistik. Aspek filologi untuk mendeskripsikan manuskrip, alih bahasa dan kritik atas teks. Aspek linguistik mengungkap aspek kebahasaan manuskrip ini. Dari sanalah dapat diperoleh gambaran utuh mengenai karakteristik sebuah naskah kuno, yakni naskah Kamus Semantik Bahasa Arab yang ditulis oleh Syekh Abdul Latif Syakur.