Claim Missing Document
Check
Articles

Found 10 Documents
Search

JAVANESE WOMEN’ PATRIOTISM IN THE KETOPRAK MANUSCRIPT “KYAI KALA GUMARANG” Anton Kurniawan; Suyitno Suyitno; Ani Rakhmawati
RETORIKA: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya Vol 13, No 2 (2020)
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/retorika.v13i2.12478

Abstract

The purpose of this study is to describe Javanese women’s patriotism in the ketoprak manuscript “Kyai Kala Gumarang”. This qualitative descriptive study used a content analysis technique to analyze the data. The main data source was the ketoprak manuscript titled “Kyai Kala Gumarang”. Library research methods were employed to collect the data. Data analysis techniques using interwoven analysis techniques and interactive analysis with a feminist approach. The results of the study showed that the words, phrases, and sentences in the manuscript indicated that women had a key role as an important messenger of the kingdom, as a distraction, and as soldiers defending the homeland.
REPRESENTATION OF ISLAMIC FEMINISM IN ABIDAH EL KHALIEQY’S NOVELS Dipa Nugraha; Suyitno Suyitno
LITERA Vol 18, No 3: LITERA NOVEMBER 2019
Publisher : Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/ltr.v18i3.27012

Abstract

The Indonesian literary tradition during the reform period was marked by the rise of female writers who raised the issue of feminism. Within the framework of locality and contextuality, the feminism movement echoed by female writers comes in diverse expressions. This study aims to describe the reference figures and issues of Islamic feminism that are represented in novels by Abidah El Khalieqy. This research uses a feminist literary criticism approach. The data sources of the research are three novels by Abidah El Khalieqiy, namely Perempuan Berkalung Sorban, Geni Jora, and Mataraisa. The technique used to gather feminist voices in the three novels is a close reading. The analysis was conducted using a descriptive qualitative method. The results of the study are as follows. First, Islamic feminist figures who were referred to by the feminism movement were Fatima Mernisi and Riffat Hassan. Fatima Mernisi is known as a misogonic hadith critic, while Riffat Hassan uses the hermeneutic principle in the interpretation of the Quran. Second, the issues of feminism represented are: the lives of women in the pesantren tradition, the position of women in the family, the view of normal sexual relations and relationships, and the interpretation of the hadiths and verses of the Qur'an relating to women. Islamic feminism voiced by Abidah El Khalieqy brings its own color compared to the Western feminism movement which refers to the concept of ecriture feminine. Keywords: Islamic Feminism, ecriture feminine, Indonesian literary history, politics of difference, intersectionality REPRESENTASI FEMINISME ISLAM DALAM NOVEL-NOVEL KARYA ABIDAH EL KHALIEQY AbstrakTradisi sastra Indonesia masa reformasi ditandai maraknya penulis perempuan yang mengangkat permasalahan feminisme. Dalam bingkai lokalitas dan kontekstualitas, gerakan feminisme yang digaungkan para penulis perempuan hadir dalam ekspresi yang beragam. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan tokoh rujukan dan persoalan feminisme Islam yang direpresentasikan dalam novel-novel karya Abidah El Khalieqy. Penelitian ini menggunakan pendekatan kritik sastra feminis. Sumber data penelitian adalah tiga novel karya Abidah El Khalieqiy, yaitu Perempuan Berkalung Sorban, Geni Jora, dan Mataraisa. Teknik yang dipakai untuk mengumpulkan suara-suara feminisme di dalam ketiga novel adalah pembacaan cermat (close reading). Analisis dilakukan dengan metode deskriptif kualitatif. Hasil penelitian sebagai berikut. Pertama, tokoh feminis Islam yang menjadi rujukan gerakan feminisme adalah Fatima Mernisi dan Riffat Hassan. Fatima Mernisi dikenal dengan kritik hadist misogonis, sedangkan Riffat Hassan dengan prinsip hermeneutika dalam tafsir Alquran. Kedua, persoalan feminisme yang direpresentasikan adalah: kehidupan perempuan dalam tradisi pesantren, kedudukan perempuan dalam keluarga, pandangan terhadap relasi dan hubungan seksual yang normal, dan tafsir terhadap hadist dan ayat Al-quran berkaitan dengan perempuan. Feminisme Islam yang disuarakan Abidah El Khalieqy membawa warna tersendiri dibandingkan dengan gerakan feminisme Barat yang merujuk pada konsep ecriture feminine. Kata kunci: feminisme Islam, ecriture feminine, sejarah sastra Indonesia, politik perbedaan, interseksionalitas.
TOKOH PROBLEMATIK DALAM NOVEL ORANG-ORANG BIASA SEBAGAI PUSAT STRUKTUR KARYA SASTRA PERSPEKTIF STRUKTURALISME GENETIK Jaki Yudin; Suyitno Suyitno; Muhammad Rohmadi
ESTETIKA: JURNAL PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA Vol 2 No 2 (2021)
Publisher : STKIP PGRI SUMENEP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36379/estetika.v2i2.146

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menjelaskan tokoh problematik yang menjadi pusat struktur karya sastra dalam novel Orang-Orang Biasa. Data dalam penelitian ini berupa data tokoh problematik yang berbentuk kutipan dialog, kalimat, dan paragraf dalam novel sebagai pusat struktur. Sumber datanya adalah novel Orang-Orang Biasa karya Andrea Hirata. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik dokumentasi untuk menemukan dan menentukan data yang relevan. Teknik analisis data menggunakan teknik analisis model interaktif yang meliputi tiga komponen, yaitu: (1) reduksi data; (2) penyajian data; dan (3) penarikan simpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pusat struktur novel tersebut dibangun oleh tokoh Debut Awaludin, Inspektur Abdul Rojali, Dinah, Salud, dan Bastardin. Hubungan antartokoh Debut Awaludin dengan tokoh lain menunjukkan keterjalinan antara peristiwa satu dengan peristiwa lain yang meliputi penindasan terhadap Salud, perjuangan hak pendidikan anak Dinah, kepercayaan terhadap sahabat-sahabatnya (kelompok perampok), pembalasan terbaik, dan moralitas kaum marginal.
Bagian yang Hilang dalam Pembicaraan Akademisi Indonesia tentang Sastra Siber Dipa Nugraha; Suyitno Suyitno
Komposisi: Jurnal Pendidikan Bahasa, Sastra, dan Seni Vol 21, No 1 (2020)
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni UNP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (453.421 KB) | DOI: 10.24036/komposisi.v21i1.108473

Abstract

There is a missing subject in the conversations on Indonesian cyberliterature. This case study research identifies academic conversations on cyberliterature in Indonesia. Literature review using articles written by Indonesian academia is used to build an assumption on the discursive development of cyberliterature in Indonesia which misses electronic literature. The assumption is then verified with the data collected from one-shot method survey. The survey using two simple questions targeted Indonesian lecturers from several universities in Java, Sumatera, and Kalimantan. Qualitative content analysis is used to describe our findings. The analysis reveals that Indonesian academia conversations on cyberliterature only focus on digital publishing and the freedom of expression offers by the presence of the internet. The conversations on cyberliterature by Indonesian academia have not really covered electronic literature and how it may develop in the Indonesian literary context.
KARAKTERISTIK DAN MODAL HEGEMONIK TOKOH DALAM NOVEL BEKISAR MERAH KARYA AHMAD TOHARI Rangga Agnibaya; Suyitno Suyitno; Herman J. Waluyo
Widyabastra : Jurnal Ilmiah Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 5, No 2 (2017)
Publisher : Universitas PGRI Madiun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (51.45 KB)

Abstract

Korelasi antara literatur dan kenyataan sangat dekat. Keadaan ini tak lepas dari fakta bahwa tokoh sastra sebagai produsen sastra tinggal di tengah masyarakat dengan berbagai masalah. Bekisar Merah, sebuah novel karya Ahmad Tohari adalah sebuah literatur yang dekat dengan fakta masyarakat. Salah satu faktanya adalah interaksi antar karakter yang mewakili situasi sebenarnya di masyarakat. Pola interaksi yang terbentuk di Bekisar Merah memiliki karakteristik unik tersendiri, tergantung pada siapa yang berinteraksi. Artikel ini mencoba membahas dan menganalisis karakter masing-masing tokoh, terutama yang mengakibatkan adanya ketidaksetaraan sosial. Karakter itu membawa modal hegemonik yang berbeda.
PARADIGM DECONSTRUCTION OF JEJAK DEDARI YANG MENARI DI ANTARA MITOS DAN KARMA A NOVEL BY ERWIN ARNADA Paramita Nur Pratiwi; Suyitno Suyitno; Nugraheni Eko Wardani
Lingua Didaktika: Jurnal Bahasa dan Pembelajaran Bahasa Vol 11, No 2 (2017)
Publisher : English Department FBS UNP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (324.224 KB) | DOI: 10.24036/ld.v11i2.8470

Abstract

This paper aim to describe paradigm deconstruction of previous basic thought about Balinese myth in a Jejak Dedari yang Menari di Antara Mitos dan Karma, a novel by Erwin Arnada. This paper is qualitative descriptive. This paper using content analysis method  with deconstruction literacy approach. The text of Jejak Dedari yang Menari di Antara Mitos dan Karma a novel  by Erwin Arnada was used as source of paper data that published in 2016 by Gagas Media. Data collection techniques used in this paper are reading, record and data card techniques. The data validity used triangulacy theory. The result in this paper are (1) Myths of Kolok children, and (2) Sincerity and taksu bring the new soul. Both results obtained reveal that the belief in something can be overturned so that what is commonly considered as a belief can be dismantled into taboos or vice versa.Keyword: Deconstruction, Myth, Novel, Erwin ArnadaDEKONSTRUKSI PARADIGMA DALAM  NOVEL  JEJAK  DEDARI YANG MENARI DI ANTARA MITOS DAN KARMA KARYA ERWIN ARNADAAbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dekonstruksi paradigma tentang dasar pemikiran terdahulu terhadap suatu mitos yang berada di Bali dalam novel Jejak Dedari yang Menari di Antara Mitos dan Karma karya Erwin Arnada. Penelitian ini berbentuk deskriptif  kualitatif. Metode yang digunakan adalah metode content analysis dengan pendekatan dekonstruksi sastra. Sumber data penelitian ini adalah teks novel yang berjudul Jejak Dedari yang Menari di Antara Mitos dan Karma karya Erwin Arnada yang dirilis pada tahun 2016 produksi GagasMedia. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah teknik baca, catat dan kartu data. Validitas data menggunakan triangulasi teori. Hasil penelitian ini memaparkan, (1) Mitos anak kolok, dan (2) Ketulusan dan taksu menghadirkan jiwa yang baru. Kedua hasil yang didapat mengungkapkan bahwa kepercayaan terhadap sesuatu dapat dijungkirbalikan sehingga hal yang biasanya dianggap lumrah dan sudah menjadi keyakinan dapat dibongkar menjadi hal yang tabu atau sebaliknya.Kata Kunci: Dekonstruksi, Mitos, Novel, Erwin Arnada
NILAI PENDIDIKAN KARAKTER RELIGIUS DAN CINTA TANAH AIR NOVEL RANTAU 1 MUARA KARYA AHMAD FUADI Rahmat Gunawan; Suyitno Suyitno; Slamet Supriyadi
Akademika : Jurnal Pemikiran Islam Vol 23 No 2 (2018): Islam, Kenegaraan, dan Kebangsaan
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (285.07 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendekripsikan nilai-nilai pendidikan karakter religius dalam novel Rantau 1 Muara karya Ahmad Fuadi. Novel Rantau 1 Muara ini merupakan novel yang secara jelas mengisahkan tentang sebuah nilai perjuangan, kegigihan, ketaatan terhadap Tuhan serta pandangan hidup yang bertujuan untuk mencapai suatu kesuksesan dengan sebuah mantera man saara ala darbi washala, yaitu siapa yang berjalan di jalannya akan sampai ke tujuan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptifkualitatif. Sumber data dalam penelitian ini adalah novel Rantau 1 Muara karya Ahmad Fuadi pada tahun 2013 dengan jumlah 395 halaman. Data dalam penelitian ini mencakup tentang satuan cerita dalam dialog, paragraf, dan tabel yang menunjukan nilai pendidikan karakter religius. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan teknik simak catat, dan studi pustaka. Langkah-langkah yang dilakukan dalam menganalisis novel tersebut yaitu dengan menginterpretasikan berdasarkan teori yang ada, kemudian di deskripsikan sesuai dengan tujuan penelitian. Hasil analisis data, diketahui terdapat 17 frekuensi yang terbagi di dalamnya meliputi, wujud religius hubungan manusia dengan Tuhan diantaranya, beribadah, mengucap salam, berdoa, bersyukur dan mohon ampun. Wujud religius manusia dengan manusia diantaranya meminta perlindungan, berbakti kepada orang tua, keakraban, dan mendoakan orang lain. Selanjutnya wujud religius manusia dengan alam yaitu memuji keindahan alam.Sedangkan nilai pendidikan karakter cinta tanah air terdapat 3 frekuensi meliputi wujud nilai cinta tanah air hubungannya dengan diri sendiri yaitu rasa nasionalis dan rasa toleransi antara umat beragama.
Social Problems in Short Stories entitled Mata Yang Enak Dipandang by Ahmad Tohari and its Relevance in Senior High School Agus Yuliyanto; Suyitno Suyitno; Muhammad Rohmadi
Hortatori : Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 1, No 2 (2017): Hortatori: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Publisher : Universitas Indraprasta PGRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (553.876 KB) | DOI: 10.30998/jh.v1i2.48

Abstract

This research was based on the view that literature is basically a reflection of society. So in this study, researchers used the approach to the sociology of literature. This paper aimed to describe (1) short story becomes one of the literary works that are used as teaching material in schools, (2) the aspect of characrter education based on the collection of short stories entitled Mata Yang Enak Dipandang by Ahmad Tohari, and (3) social problems collection of short stories entitled Mata Yang Enak Dipandang. The method used in this research is qualitative descriptive explaining the data that has been found in research. The main data sources in this study the quotations contained in the novel and the results of interviews with literary experts and learning experts. The results of this study is the main characters in this short story are varied and its can be utilized in the study of literary appreciation for Class XI in Senior high school semester with the standard literary discourse understanding competence through reading poetry and short stories in the aspects of reading and basic competence that is analyzing the intrinsic elements of a short story linkages with everyday life
METAFORA LIMA BUAH SAJAK SAPARDI DJOKO DAMONO DAN PENGGUNAANNYA DALAM PEMBELAJARAN SASTRA Suyitno Suyitno
INDONESIA: Jurnal Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia Volume 4 Number 3 October 2023
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59562/indonesia.v4i3.48700

Abstract

This study aims to review the semiotic technique of Sapardi's poetry in five selected poems from Sihir Hujan. This research is qualitative descriptive research. The analysis technique used is the semiotic theory with a heuristic-hermeneutic reading from Michel Riffaterre. Of the five poems that became the object of the study, it was found that almost all of them used implicit metaphors. Sapardi in Sihir Hujan relies on sound elements to form a rhythm, support the mood of the rhyme, and emphasize the meaning of the rhyme. Thus, it can be stated that the meaning of Sapardi's poem is something that is behind the textual expression of the poem. This study also came to the conclusion that the poem "Yang Fana Adalah Waktu" is the only poem out of the five selected poems that can be used as learning material for literature and figurative language for elementary, junior high, and high school education levels.values both in terms of religious values, moral values, social values, and aesthetic values.
The Campaign to Remove Si Kancil from Indonesian Schools (Kampanye Hapus Si Kancil dari Sekolah Indonesia) Dipa Nugraha; Suyitno Suyitno; Elisabeth Ashton
Indonesian Language Education and Literature Vol. 8 No. 1 (2022)
Publisher : Jurusan Tadris Bahasa Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/ileal.v8i1.10890

Abstract

In 2010, the Indonesian Corruption Eradication Commission (KPK) declared a campaign against the most well-known trickster fable or folktale in Indonesia, Si Kancil. They urged for Si Kancil’s removal from the reading materials for young children in schools. This article aims to provide a literature review relating to the arguments over the campaign to remove or preserve Si Kancil from Indonesian schools. A comparative literature review is used to compare the arguments over trickster folktales’ impact on children and how Si Kancil was put within this context. This article concludes that Si Kancil should not have been blamed for the difficulties of eradicating corruption in Indonesia. Si Kancil can benefit the cognitive and metacognitive development of Indonesian school children. It is also suggested that Si Kancil, as an Indonesian cultural artifact, should be preserved and indeed celebrated as reading material in Indonesian schools and bedtime storytelling.Pada tahun 2010, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mendeklarasikan kampanye melawan fabel atau cerita rakyat hewan cerdik yang paling terkenal di Indonesia, Si Kancil. Si Kancil mengajarkan manipulasi dan tipu muslihat kepada anak-anak Indonesia. KPK mendesak agar Si Kancil dihapus dari bahan bacaan untuk anak-anak di sekolah. Artikel ini bertujuan memberikan kajian pustaka berkenaan dengan argumen penghapusan atau pelestarian cerita Si Kancil di sekolah. Metode tinjauan pustaka komparatif dipergunakan dalam rangka membandingkan argumen tentang dampak Si Kancil pada anak-anak. Penelitian menunjukkan bahwa seharusnya Si Kancil tidak dipersalahkan atas sulitnya pemberantasan korupsi di Indonesia. Di sisi lain, dongeng Si Kancil justru dapat bermanfaat bagi perkembangan kognitif dan metakognitif siswa di Indonesia. Malah disarankan agar Si Kancil sebagai artefak budaya Indonesia untuk dilestarikan dan dirayakan sebagai bahan bacaan di sekolah-sekolah Indonesia dan dongeng pengantar tidur.