Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

Uji Aktivitas Ekstrak Kombinasi Rimpang Kunyit (Curcuma domestica Val.) dan Kurma (Phoenix dactylifera L) sebagai Antiinflamasi Secara In Vitro Sukmawati Sukmawati; Aulia Wati; A. Muflihunna
Window of Health : Jurnal Kesehatan VoL 5 No 4 (Oktober 2022)
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muslim Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33096/woh.v5i04.76

Abstract

Inflamasi adalah respon perlindungan normal terhadap cedera jaringan yang disebabkan oleh trauma fisik, bahan kimia berbahaya, atau agen mikrobiologi. Lisosom dapat mensekresi enzim yang dapat menginduksi terjadinya inflamasi. Membran lisosom analog dengan membran sel darah merah manusia. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan potensi antiinflamasi dari ekstrak kombinasi rimpang kunyit (curcuma domestica val) dan kurma (Phoenix dactylifera L) ditinjau dari kemampuannya menstabilkan membran sel darah merah. Dengan metode stabilitas membran eritrosit. Penelitian dimulai dengan pengambilan darah dan dibuat suspensi sel darah merah. Suspensi sel darah merah dibagi menjadi 3 kelompok perlakuan yaitu kontrol negatif, kontrol positif (Natrium diklofenak), dan larutan uji dengan konsentrasi 50, 75, dan 100 ppm, kemudian di diamkan selama 30 menit dan disentrifuge. Supernatan diukur serapan dengan menggunakan spektrofotometer UV-Vis pada panjang gelombang 413 nm. Hasil penelitian diperoleh bahwa konsentrasi 100 ppm memberikan persen inhibisi paling besar yaitu 65,64%. Dari hasil yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi konsentrasi ekstrak, maka daya inflamasinya semakin baik.
Studi Penggunaan Antibiotik pada Pasien Rawat Inap dengan Diagnosis Infeksi Saluran Pernapasan Akut Hendra Herman; Aulia Wati; Ulfah Ayu Ninsih
Journal of Pharmascience Vol. 11 No. 1 (2024): Jurnal Pharmascience
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v11i1.18390

Abstract

Penggunaan antibiotik menjadi pilihan utama untuk mengobati ISPA yang disebabkan oleh bakteri. Namun, penggunaan antibiotik yang tidak tepat dan berlebihan dapat menyebabkan efek samping dan resistensi antibiotik, yang menjadi masalah kesehatan global. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penggunaan antibiotik pada pasien rawat inap dengan ISPA di rumah sakit swasta. Metode penelitian menggunakan Single Cohort dengan menggunakan data rekam medik sebagai sumber utama. Sebanyak 94 dari 134 pasien mendapatkan antibiotik. Pemeriksaan WBC masih menjadi parameter pemberian antibiotik (p<0,05). Pemberian antibiotik kategori Watch masih mendominasi pilihan antibiotik empiris (82,03%). Penggunaan ceftriaxone pada ISPA sangat besar dibandingkan antibiotik lain (DDD/100 patient days = 42,37). Hasil penelitian menyimpulkan bahwa antibiotik yang diberikan kepada pasien dengan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di rumah sakit ini sesuai untuk melawan bakteri penyebab ISPA. Meskipun penggunaan antibiotik golongan Access memerlukan pertimbangan lebih lanjut, Ceftriaxone menonjol sebagai antibiotik yang paling sering diresepkan untuk pasien ISPA, dengan total DDD/100 hari pasien sebesar 42,37. Kata Kunci: Antibiotik, DDD, Infeksi Saluran Napas, Antibiotik Aware, Seftriakson The utilization of antibiotics represents the primary therapeutic approach for managing bacterial-induced Acute Respiratory Infections (ISPA). Nevertheless, indiscriminate and excessive antibiotic usage can give rise to adverse effects and antibiotic resistance, constituting a pervasive global health concern. This study endeavors to scrutinize antibiotic utilization among inpatients diagnosed with ISPA within a private hospital. Employing a Single Cohort design, medical records serve as the principal data source. Among 134 patients, 94 were administered antibiotics. Notably, White Blood Cell (WBC) examination emerges as a pivotal parameter influencing antibiotic administration (p<0.05). The Watch category continues to predominate as the preferred choice for empirical antibiotics (82.03%). Ceftriaxone emerges as the predominant antibiotic in ISPA treatment, surpassing other counterparts (DDD/100 patient days = 42.37). Findings underscore the absence of established protocols governing antibiotic usage in ISPA patients within the hospital, accentuating the imperative role of the Antimicrobial Stewardship Team in guiding and overseeing antibiotic practices. The study's findings suggest that the antibiotics administered to patients with Acute Respiratory Tract Infections (ISPA) in this hospital are fitting for combating the bacteria responsible for ISPA. While the utilization of Access group antibiotics warrants further consideration, Ceftriaxone stands out as the most frequently prescribed antibiotic for ISPA patients, with a total DDD/100 patient days of 42.37.