Claim Missing Document
Check
Articles

Hubungan Kepatuhan Diet,Dukungan Keluarga Terhadap Kualitas Hidup Pasien Diabetes Mellitus di Wilayah Kerja Puskesmas Nusa Indah Bengkulu Andri Kusuma Wijaya; Apeliani Dwi Gita; Fatsiwi Nunik Andari
Malahayati Nursing Journal Vol 6, No 1 (2024): Volume 6 Nomor 1 2024
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v6i1.12697

Abstract

ABSTRACT Diabetes mellitus is a health problem that occurs chronically, where this condition can be manifested by the threshold of blood glucose levels being at an abnormal level. In addition, there is also a condition of disturbance in the metabolic processes of carbohydrates, fats and proteins, where this condition is caused by a decrease in the amount of insulin hormone production. relatively. Diabetes mellitus or the silent killer is a condition where almost a third of patients with this disease do not know they are suffering from Diabetes Mellitus, then the disease eventually develops and has an impact on the body's organs until complications arise, in this case damage to the nervous system, blood vessels, decreased quality of life and damage to other body systems. Patients suffering from diabetes mellitus experience adverse health impacts in the form of a decline in the patient's quality of life, the decline that occurs in this case starting from a decline in physical function, social function, mental health, general health, pain, as well as changes in roles that are motivated by problems. physical and emotional. Several factors can influence the quality of life of diabetes mellitus patients, such as dietary compliance and family support from diabetes mellitus patients. Dietary compliance in this case is the ability to what extent a patient's behavior follows the requirements of a diabetes mellitus patient, in this case starting from compliance with consuming the amount of food, the type of food consumed and the schedule for consuming the food. Support from the family of diabetes mellitus patients will be able to enable patients to increase their success in carrying out self-care as part of improving the quality of life with the ultimate hope of being able to reduce the risk of complications from diabetes mellitus. This research aims to determine the distribution of respondents' characteristics based on the diet adherence category, family support category and patient quality of life category and to determine the relationship between diet adherence and family support on the quality of life of diabetes mellitus patients in the Nusa Indah Health Center Working Area, Bengkulu City. This research was a quantitative study using a cross sectional research design where this design was used to see the results of the relationship between dietary compliance and family support on the quality of life of diabetes mellitus patients in the Nusa Indah Health Center Working Area, Bengkulu City. The results of the univariate analysis from the research showed that the majority of respondents had dietary compliance with 43 respondents (64.2%) in the compliant category, 24 respondents (35.8%) in the non-compliant category in implementing dietary compliance. Meanwhile, the results of the characteristics of respondents based on family support were 44 respondents (65.7%) in the supportive family category, 23 respondents (34.3%) in the unsupportive family category. The results of the characteristics of respondents based on quality of life were 36 respondents (53.7%) in the quality category, 31 respondents (46.3%) in the no quality category. The results of bivariate analysis from this study using the chi-square statistical test showed that the relationship between diet compliance and the quality of life of diabetes mellitus patients was found to be P value 0.025 0.05, while the relationship between family support and quality of life of diabetes mellitus patients was p value = 0.012 0 .05. The conclusion from the results of this research is that there is a relationship between dietary compliance and family support on the quality of life of diabetes mellitus patients in the Nusa Indah Health Center Working Area, Bengkulu City. Keywords: Compliance, Family, Quality, Diabetes  ABSTRAK Diabetes Mellitus ialah masalah kesehatan yang terjadi secara menahun dimana kondisi ini dapat dimanifestasikan dengan ambang nilai  kadar glukosa darah berada pada rentan abnormal selain itu terjadi juga kondisi gangguan pada proses  metabolisme karbohidrat, lemak, maupun protein sehingga kondisi ini disebabkan oleh menurunya jumlah produksi hormon insulin secara relatif. diabetes mellitus atau the silent killer merupakan keadaan dimana hampir sepertiga pasien dengan penyakit tersebut tidak mengetahui mereka menjadi penderita diabetes mellitus, kemudian penyakit tersebut akhirnya berkembang  dan menimbulkan dampak pada organ tubuh sampai munculnya komplikasi dalam hal ini  kerusakan baik pada sistem saraf, pembuluh darah, penurunan kualitas hidup dan kerusakan pada sistem tubuh lainya. Pasien penderita diabetes mellitus mengalami dampak kesehatan yang kurang baik berupa terjadinya penurunan kualitas hidup pasien, penurunan yang terjadi dalam hal ini mulai dari penurunan pada fungsi fisik, fungsi sosial, kesehatan mental, kesehatan secara umum, nyeri, serta terjadinya perubahan peran yang dilatarbelakangi oleh masalah fisik serta emosional. Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi baik buruknya kualitas hidup pasien diabetes mellitus seperti kepatuhan diet dan dukungan keluarga dari pasien diabetes mellitus. Kepatuhan diet  dalam hal ini ialah kemampuan sejauh mana prilaku seorang pasien untuk mengikuti ketentuan terkait penatalaksanaan diabetes mellitus dalam hal ini mulai dari kepatuhan menkonsumsi jumlah makanan, jenis makanan yang dikonsumsi serta jadwal  mengkonsumsi makanan tersebut. Dukungan keluarga pasien diabetes mellitus akan mampu membuat pasien meningkatkan keberhasilan melakukan perawatan diri sebagai bagian dari meningkatkan kualitas hidup dengan harapan akhir mampu mengurangi resiko komplikasi penyakit diabetes mellitus. Penelitian ini memiliki tujuan berupa diketahui ditribusi karateristik responden berdasarkan kategori kepatuhan diet,  kategori dukungan keluarga dan kategori kualitas hidup pasien serta diketahui hubungan kepatuhan diet dan dukungan keluarga terhadap kualitas hidup  pasien diabetes mellitus di Wilayah Kerja Puskesmas Nusa Indah Kota Bengkulu. Penelitian yang dilakukan ini merupakan penelitian kuantitatif dengan penggunaan rancangan penelitian cross sectional dimana rancangan ini digunakan untuk melihat hasil dari hubungan antara kepatuhan diet, dukungan keluarga terhadap kualitas hidup pasien diabetes mellitus di Wilayah Kerja Puskesmas Nusa Indah Kota Bengkulu.  Hasil analisis univariat dari peneltian dimana diketahui sebagian besar responden memiliki kepatuhan diet dengan kategori patuh sejumlah 43 responden (64,2%), 24 responden (35,8%) dengan kategori tidak patuh dalam melaksanakan kepatuhan diet. Sementara hasil karateristik responden berdasarkan dukungan keluarga sejumlah 44 responden (65,7 %) dengan kategori keluarga mendukung, 23 responden (34,3%) dengan kategori keluarga tidak mendukung. Hasil karateristik responden berdasarkan kualitas hidup sejumlah 36 responden (53,7%) dengan kategori berkualitas, 31 responden (46,3%) dengan kategori tidak berkualitas. Hasil analisis bivariate dari penelitian ini dengan menggunakan uji statistic chi-square diketahui hubungan kepatuhan diet dengan kualitas hidup pasien diabetes mellitus didapatkan p value 0,025 0,05, sementara hubungan antara dukungan keluarga dengan kualitas hidup pasien  diabetes mellitus dengan p value= 0,012 0,05. Kesimpulan dari hasil penelitian ini berupa ada hubungan antara kepatuhan diet dan dukungan keluarga terhadap kualitas hidup pasien diabetes mellitus di Wilayah Kerja Puskesmas Nusa Indah Kota Bengkulu. Kata Kunci: Kepatuhan, Keluarga, Kualitas, Diabetes 
Pengaruh Pelatihan Antropometri Terhadap Pengetahuan Kader Posyandu di Wilayah Puskesmas Perawatan Kembang Seri Desri Suryani; Arie Krisnasary; Muhammad Aziz Sidiq; Novita Juita Sari; Novalinda Kasih; Silviana Gunarsih; Ashifa Mutia; Yandrizal Yandrizal
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 9, No 6 (2026): Volume 9 Nomor 6 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v9i6.25428

Abstract

ABSTRAK Kader posyandu merupakan garda terdepan dalam pemantauan tumbuh kembang balita melalui pengukuran antropometri rutin setiap bulan. Namun, masih banyak kader yang kurang memiliki pengetahuan dan keterampilan memadai. Untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan kader dalam melakukan pemantauan pertumbuhan balita secara tepat dan terstandar di wilayah Puskesmas Perawatan Kembang Seri.  Metode yang digunakan dalam kegiatan ini dengan mengisi lembar pretest dilanjutkan dengan memberikan penyuluhan terkait materi pengukuran antropometri dan mengisi lembar posttest. Jenis uji normalitas yang digunakan adalah uji normalitas tipe ShapiroWilk. Hasil uji Paired Sample T-Test menunjukkan bahwa nilai rata-rata perbedaan (mean difference) antara pretest dan posttest adalah -35,714 dengan nilai t hitung = -17,678, derajat kebebasan (df) = 6, dan nilai signifikansi (Sig. 2-tailed) = 0,000. Pelatihan yang diberikan kepada kader posyandu berpengaruh nyata terhadap peningkatan pengetahuan dan keterampilan mereka dalam melakukan pengukuran antropometri serta penafsiran KMS. Kata Kunci: Pengetahuan, Pelatihan, Antropometri.  ABSTRACT The role of Posyandu cadres is crucial as the spearhead in public health services. However, many cadres still do not have adequate understanding and skills. Ideally, cadres are able to manage Posyandu independently because they understand the needs of the community in their area. The purpose of this study is to improve the knowledge and skills of cadres in monitoring toddler growth accurately and standardized in the Kembang Seri Health Center area.The method used in this activity is to fill out a pretest sheet followed by providing counseling related to anthropometric measurement and filling out a posttest sheet. The type of normality test used is the Shapiro-Wilk type normality test. The results of the Paired Sample T-Test test show that the average value of the difference (mean difference) between the pretest and posttest is -35.714 with a calculated t value = -17.678, degrees of freedom (df) = 6, and a significance value (Sig. 2-tailed) = 0.000. Conclusion: The training provided to Posyandu cadres has a significant effect on increasing their knowledge and skills in conducting anthropometric measurements and interpreting KMS. Keywords: Training, Knowledge, Anthropometry.
Meningkatkan Kemampuan Toilet Training Melalui Metode Demonstrasi dan Edukasi Pada Anak Sekolah Dasar Andri Kusuma Wijaya; M. Bagus Andrianto; Emi Kosvianti; Fatsiwi Nunik Andari
Jurnal Pengabdian Masyarakat Mandira Cendikia Vol. 5 No. 6 (2026)
Publisher : YAYASAN PENDIDIKAN MANDIRA CENDIKIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70570/jpkmmc.v5i6.2231

Abstract

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan perilaku hidup bersih dan sehat, khususnya perilaku saniter saat menggunakan fasilitas toilet sekolah, melalui metode edukasi interaktif dan demonstrasi toilet training. Kelompok anak usia sekolah dasar, terutama kelas rendah, merupakan kelompok yang rentan mengalami penularan penyakit berbasis lingkungan akibat kurangnya pemahaman mengenai kebersihan eliminasi. Kegiatan Pengabdian ini dilaksanakan di SDN 31 Srikuncoro dengan sasaran siswa kelas 2. Metode pelaksanaan meliputi empat tahapan utama yaitu pengkajian awal (pre-test), pemberian edukasi multimedia berbasis video animasi, demonstrasi taktis menggunakan alat peraga visual (phantom), serta evaluasi akhir (post-test). Dari total populasi, terdapat 23 siswa sebagai responden konstan yang mengikuti seluruh rangkaian kegiatan dari awal hingga akhir. Hasil evaluasi kognitif menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan yang sangat signifikan. Pada tahap pre-test, terdapat 3 anak yang belum memenuhi kriteria kelulusan personal (75%). Namun, setelah diberikan intervensi demonstrasi, hasil post-test menunjukkan angka kelulusan klasikal melonjak tajam mencapai 95,65%. Kesimpulannya, kombinasi edukasi interaktif dan demonstrasi alat peraga terbukti sangat efektif dalam merekonstruksi pemahaman kognitif siswa menuju pembentukan perilaku hidup bersih dan sehat yang mandiri di lingkungan sekolah.
SOSIALISASI STOP BULLYING PADA ANAK KELAS 4 SD NEGERI 53 BENGKULU SELATAN Erliya Ramayana; Andri Kusuma Wijaya; Ferasinta; Mardiah Syofiana; Risnanosanti; Kashardi
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (JIMAKUKERTA) Vol. 5 No. 3 (2025): JIMAKUKERTA
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Muhammadiyah Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36085/jimakukerta.v5i3.9179

Abstract

Bullying mengacu pada penggunaan agresi fisik atau verbal secara terus-menerus oleh seseorang atau sekelompok orang terhadap orang yang rentan. Tindakan yang dilakukan dengan maksud untuk mengintimidasi atau mengancam orang lain juga diklasifikasikan sebagai perundungan. Anak-anak yang pendiam dan sulit bergaul di lingkungan bermainnya adalah mereka yang diintimidasi. Sasaran Bullying adalah anak-anak sulit bergaul dan pendiam di lingkungan bermainnya. Bullying pada anak sekolah dasar (SD) merupakan fenomena serius dan mempunyai dampak jangka panjang yang signifikan. Bullying tidak hanya berdampak pada kesejahteraan psikologis dan emosional anak, namun juga dapat mengangu proses belajar mengajar di lingkungan sekolahMetode yang digunakan dalam kegiatan ini adalah Sosialisasi Stop Bullying di SD Negeri 53 Bengkulu Selatan. Berdasarkan hasil sosialisasi ini, siswa dapat memahami tentang apa itu bullying, jenis-jenis bullying, dampak negatif bullying dan aturan hukum yang mengatur bullying. Selain itu, melalui penyuluhan ini juga difokuskan pada pencegahan bullying di sekolah.
AYO CUCI TANGAN! EDUKASI SEHAT UNTUK MEMBANGUN KEBIASAAN BERSIH SEJAK DINI DI SD 41 KOTA BENGKULU Dwi Salsabilla; Surya Ade Saputra; Lussyefrida Yanti; Ferasinta; Andri Kusuma Wijaya
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (JIMAKUKERTA) Vol. 5 No. 3 (2025): JIMAKUKERTA
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Muhammadiyah Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36085/jimakukerta.v5i3.9216

Abstract

Kesehatan anak usia sekolah dasar sangat dipengaruhi oleh kebiasaan perilaku hidup bersih, salah satunya adalah mencuci tangan dengan sabun. Namun, masih banyak siswa yang belum membiasakan diri melakukan cuci tangan dengan benar sehingga berisiko terhadap penularan penyakit menular. Permasalahan ini mendorong dilaksanakannya kegiatan edukasi di SD 41 Kota Bengkulu pada kelas 4A melalui pendekatan interaktif, demonstrasi, dan praktik langsung enam langkah mencuci tangan sesuai standar WHO. Metode kegiatan meliputi penyuluhan, simulasi praktik, permainan edukatif, serta evaluasi melalui pre-test dan post-test untuk mengukur peningkatan pengetahuan dan keterampilan siswa. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pemahaman dan kesadaran siswa tentang pentingnya menjaga kebersihan tangan, ditandai dengan perubahan perilaku yang lebih disiplin dalam mencuci tangan sebelum makan, setelah bermain, dan setelah dari toilet. Guru turut berperan aktif sehingga pesan kesehatan lebih mudah diterapkan secara berkelanjutan. Kegiatan ini tidak hanya memberi dampak positif di sekolah, tetapi juga terbawa ke lingkungan keluarga dan masyarakat. Dengan demikian, edukasi sederhana ini terbukti efektif dalam membangun kebiasaan hidup bersih sejak dini, meskipun masih diperlukan penambahan fasilitas cuci tangan dan pengawasan berkelanjutan agar kebiasaan tersebut dapat dipertahankan. Hasil evaluasi melalui pre-test dan post-test menunjukkan adanya peningkatan capaian peserta setelah mengikuti program. Sebelum kegiatan dilaksanakan, rata-rata skor peserta berada pada angka 5,1 dengan skor terendah 4,0 dan skor tertinggi 6,0. Setelah program selesai, rata-rata skor meningkat menjadi 9,0, dengan skor terendah 8,0 dan skor tertinggi mencapai 10,0. Dengan demikian, terdapat selisih rata-rata sebesar 3,9 poin atau peningkatan sebesar 76%.
Hubungan Aktvitas Fisik, Indek Massa Tubuh terhadap Asma di Wilayah Kerja Puskesmas Lingkar Timur Bengkulu Andri Kusuma Wijaya; Muhamad Rivaldo Pratama; Fatsiwi Nunik Andari
Malahayati Nursing Journal Vol 8, No 5 (2026): Volume 8 Nomor 5 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v8i5.25346

Abstract

ABSTRACT Asthma is an obstructive respiratory disease caused by reversible narrowing of the airways (narrowing that resolves spontaneously). Signs and symptoms include episodes of respiratory obstruction between asymptomatic intervals. However, this reversible condition can sometimes become minimally reversible (narrowing that resolves with treatment). Asthma can also be described as a condition characterized by shortness of breath. This condition demonstrates an abnormal response in the respiratory system to various stimuli, resulting in airway narrowing that can spread to other parts of the body. Asthma, in this context, can be defined as a condition characterized by pathological changes that cause airway obstruction, resulting in bronchospasm, hypersecretion of thick mucus, and mucosal edema. Asthma can recur if triggered by several factors, including environmental factors, food, emotions, and cold air. Polluted environments, such as cigarette smoke, dust, and vehicle pollution, can trigger asthma relapses. Another factor that can trigger an asthma relapse is physical activity. Physical activity, in this case, is linked to asthma attacks because when someone engages in physical activity, such as exercising without warming up or doing strenuous work, they breathe more rapidly, which increases the body's oxygen demand. Asthma attacks caused by physical activity are also known as exercise-induced bronchoconstriction. Besides physical activity, another condition that can trigger an asthma relapse is Body Mass Index (BMI). BMI in asthma patients plays a role in the development and treatment of the disease. The strong relationship between BMI and asthma severity is due to early menarche. Obese individuals have a 50% increased risk of developing asthma. Several of these conditions can trigger asthma flare-ups in severe cases. The study aims to determine the relationship between physical activity and body mass index and the severity of asthma in the Lingkar Timur Community Health Center Work Area of Bengkulu City. This research is a quantitative research using a cross-sectional research design where this design is used to see the results of the relationship between physical activity, body mass index and the severity of asthma in the Nusa Indah Community Health Center Work Area, Bengkulu City. The results of the bivariate analysis of this research activity using the chi-square statistical test showed that the relationship between physical activity and the severity of asthma had a p value of 0.000 0.05, while the relationship between body mass index and the severity of asthma had a p value of 0.000 0.05. The conclusion from the results of this research activity is that there is a relationship between physical activity and body mass index with the severity of asthma in the Working Area of the Lingkar Timur Community Health Center, Bengkulu City. Keywords: Asthma, Activity, Physical, BMI.  ABSTRAK Asma adalah penyakit obstruksi pada sistem saluran pernapasan yang disebabkan oleh adanya penyempitan pada saluran pernapasan yang bersifat reversible (penyempitan bisa menghilang dengan sendirinya) adapun tanda dan gejala penyakit ini ialah adanya episode obstruksi pada pernapasan diantara kedua interval asimtomatik. Namun ada beberapa waktunya kondisi reversible ini dapat berubah  menjadi kondisi minim reversible (penyempitan akan berkurang jika mendapatkan pengobatan). Asma dapat juga disebut sebagai kondisi serangan napas pendek. Kondisi ini memperlihatkan bahwasanya terjadi respon yang terjadi bersifat tidak normal pada sistem saluran pernapasan  terhadap berbagai kondisi rangsangan sehingga berdampak pada penyempitan jalan napas yang dapat melebar kebagian tubuh yang lain. Asma dalam hal ini dapat dikatakan sebagai kondisi dimana terjadinya perubahan secara patologis yang menyebabkan adanya sumbatan  pada jalan napas dengan penyebab bronkospasme, hipersekresi mucus yang bersifat kental dan edema mukosa. Asma dapat kambuh jika dipicu oleh beberapa faktor dalam hal ini lingkungan, makanan, emosi dan udara yang sedang dingin. Lingkungan yang penuh dengan polusi seperti halnya keberadaan asap rokok, debu dan polusi kendaraan merupakan kondisi yang dapat memicu kekambuhan asma. Faktor lainya yang dapat memicu kekambuhan asma ialah aktivitas fisik. Aktivitas fisik dalam hal ini memiliki hubungan dengan serangan asma karena saat seseorang melakukan aktivitas fisik misalnya melakukan kegiatan olah raga tanpa adanya pemanasan atau melakukan pekerjaan yang berat seseorang akan bernapas dengan frekuensi yang lebih cepat dan dalam kondisi ini akan menyebabkan bertambahnya kebutuhan oksigen di dalam tubuh. Serangan asma yang disebabkan oleh aktivitas fisik dikenal juga sebagai exercised inducted bronchoconstriction. Selain aktivitas fisik kondisi lainya yang dapat memicu kekambuhan asma ialah Indeks Massa Tubuh (IMT).  Indeks massa tubuh pada pasien asma memiliki peranan dalam perkembangan dan pengobatan penyakit. Hubungan kuat antara indeks massa tubuh terhadap kondisi keparahan penyakit asma  karena adanya proses menarche dini. Seseorang yang mengalami kondisi obesitas berisiko 50 % menderita penyakit asma. Beberapa kondisi ini dapat memicu terjadinya tingkat keparahan asma dalam kondisi yang berat. Penelitian bertujuan untuk diketahui hubungan aktivitas fisik dan indeks massa tubuh terhadap tingkat keparahan asma di Wilayah Kerja Puskesmas Lingkar Timur Kota Bengkulu.  Penelitian yang dilakukan ini merupakan penelitian kuantitatif dengan penggunaan rancangan penelitian cross sectional dimana rancangan ini digunakan untuk melihat hasil dari hubungan antara aktivitas fisik, indeks massa tubuh terhadap tingkat keparahan asma di Wilayah Kerja Puskesmas Lingkar Timur Kota Bengkulu.  Hasil analisis bivariat dari kegiatan penelitian ini dengan menggunakan uji statistic chi-square diketahui hubungan aktivitas fisik dengan tingkat keparahan asma didapatkan p value 0,000 0,05, sementara hubungan antara indeks massa tubuh dengan tingkat keparahan asma dengan p value= 0,000 0,05. Kesimpulan dari hasil kegiatan penelitian ini ialah ada hubungan antara aktivitas fisik dan indeks massa tubuh terhadap tingkat keparahan asma di Wilayah Kerja Puskesmas Lingkar Timur Kota Bengkulu. Kata Kunci: Asma, aktivitas, Fisik, IMT.
PELATIHAN PEMBUATAN ALAT FILTER IPAL KOMUNAL DENGAN PEMANFAATAN LIMBAH BOTOL PLASTIK Nopia Wati; Hasan Husin; Andri Kusuma Wijaya; Agus Ramon
Jurnal Pengabdian Masyarakat Bumi Rafflesia Vol. 4 No. 2 (2021): Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Bumi Raflesia
Publisher : Universitas Muhammadiyah Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perancangan ini di latar belakangi oleh limbah botol plastik yang semakin menumpuk. Limbah botol plastik masih dianggap kurang bermanfaat. Padahal limbah botol plastik dapat dimanfaatkan menjadi beraneka ragam bentuk. Dalam proses daur ulang limbah botol plastik diperlukan beberapa proses agar daur ulang limbah botol plastik dapat dimanfaatkan. Sebelum didaur ulang perlu adanya proses pencucian agar kotoran padat maupun kimia yang terkandung pada limbah botol plastik dapat diminimalisir.Permasalahan mitra yaitu masyarakatnya memiliki ekonomi rendah dan sebagian warganya bekerja di tempat pembuangan akhir sampah di Air Sebakul, untuk memenuhi kebutuhan vital mereka sehari-hari menjadi pemulung sampah. Walaupun pekerjaan mereka bergelut dibidang persampahan, tetapi mereka tidak memahami bagaimana cara mengelolah sampah tersebut supaya dapat dijadikan sebagai penambah perekonomian keluarganya. Masyarakat sekitar juga.banyak yang belum mengetahui dampak yang ditimbulkan jika limbah botol plastic ini tidak dikelolah dengan baik. Masyarakat juga belum belum mengetahui bagaimana cara pemanfaatan limbah botol plastic ini sebagai filter untuk IPAL .Pada kegaiatan ini masyarakat diberikan sosialisasi dan pelatihan tentang pembuatan filter IPAL dengan memanfaatkan limbah botol plastik yang mudh didapatkan oleh masyarakat sekitar. Setelah dilakukan kegiatan pengabdian ini dapat menambah pengetahuan dan kemampuan masyarakat dalam mengelolah sampah plastic botol bekas, dan dapat dijadikan sebagai peluang usaha untuk menambah perekonomian keluarga.Kata Kunci: Pelatihan, Filter IPAL, Botol Plastik
PENATALAKSANAAN NON FARMAKOLOGI UNTUK PENGONTROLAN SKALA NYERI ARTRITIS RHEUMATOID PADA USIA LANJUT Andri Kusuma Wijaya; Eva Oktavidiati; Nopia Wati
Jurnal Pengabdian Masyarakat Bumi Rafflesia Vol. 4 No. 3 (2021): Jurnal Pengabdian Masyarakat Bumi Raflesia
Publisher : Universitas Muhammadiyah Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKRheumatoid artritis merupakan penyakit degeneratif yang menyerang sendi, terutama terjadi pada orang tua lanjut usia, yang mempunyai ciri–ciri erosi pada kartilago artikuler, pembentukan osteofit, sklerosis subkondral, dan berbagai perubahan biokimia dan morfologi dari membrane sinofial dan kapsula sendi. Penyakit rheumatoid artritis  terjadi di daerah persendian yang paling sering terkena adalah sendi tangan, pergelangan tangan, sendi lutut, sendi siku, pergelangan kaki, sendi bahu serta sendi panggul dan biasanya bersifat bilateral/simetris. Gejala klinik penyakit sendi/ rheumatoid artritis berupa gangguan nyeri pada persendian yang disertai kekakuan, merah, dan pembengkakan yang bukan disebabkan karena benturan atau kecelakaan dan berlangsung kronis. Selain itu reumatoid artritis juga memiliki karakteristik berupa kerusakan dan proliferasi pada bagian membran sinovial, sehingga berdampak pada kerusakan tulang, sendi dan deformitas yang terjadi pada lansia. Lansia merupakan keadaan dimana adanya penambahan usia seiring dengan  terjadi penurunan fungsi fisiologis, sehingga lansia sering kali memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami nyeri hal ini juga disebabkan oleh beberapa hal yang bersifat patologis seperti penurunan fungsi sistem muskuloskeletal karena adanya perubahan komposisi larutan cairan didalam tulang rawan yang akan membebani  sendi untuk bekerja lebih berat lagi yang dapat memicu terjadinya nyeri. Upaya yang dapat dilakukan untuk menurunkan nyeri arthritis rheumatoid diantaranya melakukan kegiatan pengkajian terkait riwayat penyakit lansia atau pemeriksaan kesehatan, penyuluhan kesehatan tentang penyakit Arthritis Rheumatoid, pemberian penatalaksanaan nonfarmakologi untuk menurunkan nyeri arthritis rheumatoid seperti kompres dengan jahe merah hangat dan senam rematik pada Lansia Di Panti Sosial Tresna Werdha Pagar Dewa Bengkulu.Kata Kunci :Arthritis Rheumatoid, Nyeri