Claim Missing Document
Check
Articles

Found 32 Documents
Search

Pengaruh Kombinasi Vermikompos Dan Zeolit Terhadap Nitrogen, Fosfor, Dan Kalium Tanah Ultisol Annisa, Nur Rahma; Fikrinda, Fikrinda; Zuraida, Zuraida
Rona Teknik Pertanian Vol 17, No 1 (2024): Volume No. 17, No. 1, April 2024
Publisher : Department of Agricultural Engineering, Syiah Kuala University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17969/rtp.v17i1.36462

Abstract

Abstrak. Ultisol merupakan lahan suboptimal yang memiliki kendala ketersediaan hara. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kombinasi vermikompos dan zeolit terhadap nitrogen, fosfor, dan kalium tanah Ultisol. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan tujuh perlakuan dan tiga ulangan sehingga terdapat 21 satuan percobaan. Faktor-faktor yang diuji yaitu kontrol (K0), 10 g pot-1 vermikompos (K1), 10 g pot-1 vermikompos+15 g pot-1 zeolit (K2), 20 g pot-1 vermikompos (K3), 20 g pot-1 vermikompos+15 g pot-1 zeolit (K4), 30 g pot-1 vermikompos (K5), 30 g pot-1 vermikompos+15 g pot-1 zeolit (K6). Hasil penelitian menunjukkan bahwa aplikasi vermikompos sebagai perlakuan tunggal maupun berkombinasi dengan zeolit meningkatkan kadar N total, P tersedia, dan K dapat dipertukarkan. Kombinasi vermikompos dan zeolit efektif meningkatkan hara kalium sedangkan aplikasi vermikompos dalam dosis tinggi (30 g pot-1) memberikan pengaruh lebih baik terhadap hara nitrogen dan fosfor pada Ultisol.The Effect Of Vermicompost And Zeolite On Nitrogen, Phosphorus, And Potassium Of Ultisol SoilAbstract.Ultisol soil is a suboptimal land that has constraints on nutrient availability. This study aimed to determine the effect of the combination of vermicompost and zeolite on nitrogen, phosphorus, and potassium in ultisol soil. This study used a Randomized Block Design with seven treatments and three replications, so there were about 21 experimental units. The factors were control (K0), 10 g pot-1 vermicompost (K1), 10 g pot-1 vermicompost + 15 g pot-1 zeolite (K2), 20 g pot-1 vermicompost (K3), 20 g pot-1 vermicompost + 15 g pot-1 zeolite (K4), 30 g pot-1 vermicompost (K5), 30 g pot-1 vermicompost + 15 g pot-1 zeolite (K6). Results showed that the vermicompost as a single treatment or in combination with zeolite had increased exchangeable K significantly. The increase of vermicompost had effect on increasing available P and exchangeable K, while the increase of zeolit had increased the exchangeable K but decreased available P. In conclusion, the best application for ultisol soil is the use of vermicompost at 30 g pot-1 (K5).
PENGUATAN KETAHANAN PANGAN DAN EKONOMI KELUARGA MELALUI PRODUKSI PUPUK HAYATI MIKORIZA DI DESA BLANG KRUENG, KABUPATEN ACEH BESAR Fikrinda, Fikrinda; Syafruddin, Syafruddin; Susanti, Elly
Kumawula: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 9, No 1 (2026): Kumawula: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/kumawula.v9i1.64741

Abstract

Food security and family economic resilience are strategic issues in rural communities, particularly in the face of vulnerable socio-economic dynamics. A promising strategy to address these challenges involves the adoption of mycorrhiza-based biofertilizer technology, which is both environmentally sustainable and economically beneficial. This community service program aimed to empower farmer groups and housewives in Blang Krueng Village, Aceh Besar District, to independently produce and utilize mycorrhiza-based biofertilizers for seasonal vegetable cultivation as an effort to enhance food security and household income. Activities were carried out through counseling sessions, technical training on mycorrhizal propagation using pot culture with maize as the host plant, and field demonstrations on various vegetable crops. Conducted during the COVID-19 pandemic, the program highlighted the urgency of applying localized technologies to address household food and income vulnerabilities. The results showed a 75% increase in participants' knowledge, the production of 500–1000 kg of mycorrhizal inoculum per cycle, improved harvest quality, and a 30% average increase in selling prices. This program also supported economic independence through the marketing of biofertilizers and agricultural products. The empowerment model demonstrated here has the potential to be replicated in other communities to strengthen food security through eco-friendly technological innovation.Ketahanan pangan dan penguatan ekonomi keluarga merupakan isu strategis di tingkat pedesaan, terutama karena masyarakat menghadapi dinamika sosial-ekonomi yang rentan dan tidak menentu. Salah satu pendekatan yang dapat diterapkan untuk menjawab tantangan tersebut adalah pemanfaatan teknologi pupuk hayati berbasis mikoriza yang ramah lingkungan dan bernilai ekonomi. Program pengabdian ini bertujuan memberdayakan kelompok tani dan ibu rumah tangga di Desa Blang Krueng, Kabupaten Aceh Besar, dalam memproduksi dan memanfaatkan pupuk hayati berbasis mikoriza untuk budidaya sayuran semusim sebagai upaya peningkatan ketahanan pangan dan ekonomi keluarga. Kegiatan dilaksanakan melalui penyuluhan, pelatihan teknik perbanyakan mikoriza menggunakan pot kultur dengan jagung sebagai tanaman inang, serta demonstrasi aplikasinya pada berbagai jenis tanaman sayuran semusim. Program ini dilaksanakan pada masa pandemi Covid-19, yang  memperkuat urgensi intervensi berbasis teknologi lokal untuk mengatasi kerentanan pangan dan pendapatan rumah tangga. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pengetahuan peserta sebesar 75%, produksi inokulum mikoriza mencapai 500–1000 kg per periode dengan kualitas panen yang lebih baik dan harga jual meningkat rata-rata 30%. Kegiatan ini juga mendorong kemandirian ekonomi keluarga melalui pemanfaatan pupuk hayati dan pemasaran hasil panen. Model pemberdayaan ini berpotensi direplikasi untuk memperkuat ketahanan pangan berbasis teknologi ramah lingkungan di komunitas lain.