Claim Missing Document
Check
Articles

Found 31 Documents
Search

EKORESTORASI LAHAN KERING SUBOPTIMAL DENGAN FUNGI MIKORIZA ARBUSKULAR DAN PUPUK ORGANIK Fikrinda Fikrinda
Prosiding Seminar Nasional Biotik Vol 3, No 1 (2015): PROSIDING SEMINAR NASIONAL BIOTIK III 2015
Publisher : Prosiding Seminar Nasional Biotik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (67.331 KB) | DOI: 10.3126/pbio.v3i1.2700

Abstract

Ekorestorasi merupakan proses memperbaharui kembali dan memelihara kesehatan tanah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh ekorestorasi lahan kering suboptimal dengan fungi mikoriza arbuskular (FMA) dan pupuk organik terhadap populasi mikroorganisme tanah. Penelitian ini dirancang dengan metode rancangan acak kelompok faktorial dengan tiga ulangan. Faktor pertama yang diuji adalah inokulasi FMA yang terdiri atas tanpa FMA, Glomus sp., dan FMA campuran (Glomus sp., Gigaspora sp., dan Acaulospora sp.), sedangkan faktor kedua berupa jenis pupuk organik yaitu tanpa pupuk organik, pupuk kandang, kompos, dan guano. Inokulasi FMA campuran memberikan pengaruh terbaik terhadap populasi mikroorganisme tanah (total mikroorganisme tanah, mikroorganisme pelarut fosfat dan mikroorganisme pendegradasi selulosa kristalin) sedangkan aktivitas mikroorganisme (respirasi) tanah tertinggi dijumpai pada perlakuan Glomus sp. Pemberian pupuk organik berupa kompos memberikan pengaruh terbaik terhadap populasi mikroorganisme dan aktivitas mikroorganisme tanah. Penelitian ini menunjukkan ekorestorasi lahan kering suboptimal dengan FMA dan pupuk organik dapat meningkatkan populasi dan aktivitas mikroorganisme tanah.
KEANEKARAGAMAN FUNGI MIKORIZA ARBUSKULA DI RIZOSFER BEBERAPA VARIETAS JAGUNG PADA INSEPTOL Fikrinda Fikrinda; Syafruddin Syafruddin; Sufardi Sufardi; Rina Sriwati
Prosiding Seminar Nasional Biotik Vol 4, No 1 (2016): PROSIDING SEMINAR NASIONAL BIOTIK IV 2016
Publisher : Prosiding Seminar Nasional Biotik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (116.975 KB) | DOI: 10.3126/pbio.v4i1.2577

Abstract

Fungi mikoriza arbuskula (FMA) membentuk simbiosis mutualisme dengan banyak tanaman. Fungi ini berperan penting dalam ekosistem melalui kemampuannya meningkatkan keanekaragaman tanaman dan kualitas tanah. Survey dilakukan untuk mengetahui keanekaragaman FMA pada rizosfer beberapa varietas jagung dan kolonisasinya pada akar tanaman. Metode yang digunakan adalah isolasi langsung dan kultur trapping dengan sorgum sebagai tanaman inang. Hasil isolasi menunjukkan jumlah dan jenis spora FMA hasil kultur trapping lebih banyak daripada isolasi langsung. Jenis spora FMA yang dijumpai pada isolasi langsung adalah Glomus, Acaulospora dan Gigaspora sedangkan pada kutur trapping adalah Glomus, Acaulospora, Gigaspora, dan Scutellospora. Glomus merupakan spora FMA terbanyak yang dijumpai pada rizosfer jagung pada Inseptisol. Persentase kolonisasi akar tertinggi dijumpai pada akar jagung hibrida Bisi 2 yaitu 74,67%.
Eksplorasi Bakteri Selulolitik pada Ekosistem Mangrove Djanang Sukoco; Fikrinda Fikrinda; Hifnalisa Hifnalisa
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 5, No 3 (2020): Agustus 2020
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (253.027 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v5i3.15383

Abstract

Abstrak. Bakteri selulolitik dapat dijumpai pada lingkungan seperti ekosistem hutan mangrove. Keberadaannya pada ekosistem mangrove sangat penting untuk dekomposisi serasah  magrove tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya bakteri selulolitik pada ekosistem hutan mangrove dan potensinya dalam mendegradasi selulosa secara semi kuantitatif. Metode penelitian ini meliputi pengambilan sampel tanah, isolasi bakteri selulolitik dan uji kemampuan mendegradasi selulosa. Isolasi bakteri dilakukan dengan metode cawan tuang dan pada medium Carboxy Methyl Celullose (CMC). Uji kemampuan degradasi oleh bakteri selulolitik dilakukan pada medium dengan sumber karbon CMC dan daun mangrove. Parameter pengamatannya mengukur aktivitas selulolitik secara semi kuantitatif dan karakterisasi bakteri selulolitik. Hasil penelitian ini menunjukkan bakteri selulolitik yang terdapat di ekosistem mangrove berkisar antara 1,1x104 SPK g-1 tanah  sampai 40,9x104 SPK g-1 tanah. Populasi bakteri selulolitik rata-rata asal tanah mangrove bakau kurap18,16x104 SPK g-1, api-api 12,98x104 SPK g-1dan bakau minyak 4,94x104 SPK g-1. Bakteri selulolitik yang memiliki aktivitas selulolitik tertinggi pada medium dengan sumber karbon CMC adalah isolat RM2.1;RA5.4;AA4.4 dengan rasio zona bening berturut-turut 5,2;4,4;2,5 dan pada medium dengan sumber karbon daun mangrove adalah isolat RA4.8;AA2.1;RM1.1 dengan rasio zona bening berturut-turut 2,3;1,2; 1,2.Exploration of Cellulolytic Bacteria in the  Mangrove EcosystemAbstract. Cellulolytic bacteria can be found in environments such as mangrove forest ecosystems. Its presence in the mangrove ecosystem is very important for the decomposition of the magrove litter. This study aims to determine the presence of cellulolytic bacteria in mangrove forest ecosystems and their potential in semi-quantitative cellulose degradation. This research method includes soil sampling, isolation of cellulolytic bacteria and testing the ability to degrade cellulose. Bacterial isolation was carried out by the pour cup method and on Carboxy Methyl Celullose (CMC) medium. The degradation ability test by cellulolytic bacteria was carried out on a medium with CMC carbon source and mangrove leaves. The observational parameters measure semi-quantitative cellulolytic activity and characterization of cellulolytic bacteria. The results of this study showed that cellulolytic bacteria in the mangrove ecosystem ranged from 1,1x104 SPK g-1 soil to 40,9x104 SPK g-1 soil. The average population of cellulolytic bacteria from mangrove mangrove soil was ringworm 18,16x104 SPK g-1, fires 12,98x104 SPK g-1 and mangrove oil 4,94x104 SPK g-1. Cellulolytic bacteria that have the highest cellulolytic activity on medium with CMC carbon sources are isolates RM2.1;RA5.4;AA4.4 with clear zone ratios of 5,2;4,4; 2,5 and on medium with carbon sources mangrove leaves were RM1.1;AA2.1;RA4.8 isolates with a clear zone ratio of 2,3;1,2; 1,2, respectively.
Isolasi dan Identifikasi Fungi Mikoriza Arbuskula (FMA) pada Berbagai Varietas dan Umur Kopi Arabika (Coffea Arabica L.) di Kecamatan Timang Gajah Kabupaten Bener Meriah Riko Syahputra; Fikrinda Fikrinda; Hifnalisa Hifnalisa
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 6, No 1 (2021): Februari 2021
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (632.629 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v6i1.16682

Abstract

Abstrak: Fungi mikoriza arbuskula (FMA) merupakan tipe asosiasi mikoriza yang tersebar sangat luas, fungi ini yang memiliki peran dan manfaat yang penting dalam dunia pertanian. Penelitian bertujuan mengetahui keanekaragaman FMA, jumlah spesies spora FMA, dan kolonisasi FMA pada rizosfer berbagai varietas dan umur tanaman kopi arabika di Kecamatan Timang Gajah, Kabupaten Bener Meriah. Penilitian dilaksanakan di perkebunan kopi rakyat di Desa Lampahan Barat dan Desa Mude Benara, Kecamatan Timang Gajah, Kabupaten Bener Meriah. Masing-masing varietas dan umur diambil sebanyak 3 titik, sehingga didapatkan sebanyak 24 sampel. Sampel tanah tersebut digunakan untuk mengisolasi jenis FMA yang terdapat di lahan tersebut. Analisis beberapa sifat kimia dan fisika juga dilakukan untuk mendapatkan data pendukung seperti, pH H2O, C-Organik, N-Total, P-Tersedia, KTK, dan Tekstur. Analisis beberapa sifat kimia dan fisika tanah dilakukan terhadap sampel tanah komposit dari setiap titik sampel, untuk setiap varietas dan umur kopi arabika. Parameter pengamatan yang dilakukan meliputi: Kepadatan spora FMA, identifikasi jenis spora FMA, dan kolonisasi FMA. Hasil pengamatan menunjukkan terdapat tiga genus FMA yang didapat pada rizosfer beberapa varietas dan umur kopi arabika di Kecamatan Timang Gajah yaitu Glomus, Acaulospora dan, Gigaspora.Terdapat Genus Glomus sebanyak dua spesies, sedangkan genus Acaulospora dan genus Gigaspora sebanyak empat spesies. Kepadatan spora FMA terbanyak ditemukan pada tanaman kopi arabika varietas Tim-Tim berumur lima tahun. Kolonisasi FMA pada akar kopi arabika pada beberapa varietas tergolong kriteria sangat rendah hingga rendah. Isolation and Identification of Arbuscular Mycorrhizal Fungi (AMF) in Various Varieties and Ages of Arabica Coffee (Coffea arabica L.) in Timang Gajah District, Bener Meriah RegencyAbstract. Arbuscular mycorrhizal fungi (AMF) are a very widespread type of mycorrhizal association, these fungi which have important roles and benefits in agriculture. The research aimed to determine the diversity of AMF, the number of AMF spore species, and AMF colonization in the rhizosphere of various varieties and ages of Arabica coffee plants in Timang Gajah District, Bener Meriah Regency. The research was carried out in coffee plantations in West Lampahan and Mude Benara Village, Timang Gajah District, Bener Meriah Regency. 3 points were taken for each variety and age, so that 24 samples were obtained. The AMF was isolated by using soil samples which found in the land. The chemical and physical analysis properties was also carried out to obtain supporting data such as pH, H2O, C-Organic, N-Total, P-Available, CEC, and Texture. Analysis of several chemical and physical properties of soil was carried out on composite soil samples from each sample point, for each variety and age of Arabica coffee. Observation parameters carried out included: AMF spore density, identification of AMF spore types, and AMF colonization. The results showed that there were three AMF genera obtained in the rhizosphere of several varieties and ages of Arabica coffee in the District of Timang Gajah, namely Glomus, Acaulospora, and, Gigaspora. There are two species of genus Glomus, while four species of genus Acaulospora and Gigaspora. The highest density of AMF spores was found in the five-year-old Tim-Tim arabica coffee plant. AMF colonization in arabica coffee roots in several varieties was classified as very low to low criteria.
Ketersediaan Hara dan Pertumbuhan Jagung akibat Mikroorganisme Lokal serta Pemupukan NPK pada Lahan Kering Aceh Besar Nanda Cris Utari; Fikrinda Fikrinda; Muyassir Muyassir
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 7, No 3 (2022): Agustus 2022
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (866.315 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v7i3.20095

Abstract

Abstrak. Efektivitas Mikroorganisme lokal merupakan hasil fermentasi dari bahan-bahan lokal.MOL memiliki kandungan unsur hara yang lengkap dan mikroorganisme juga berfungsi untuk merombak bahan organik, merangsang pertumbuhan tanaman, dan sebagai agen hayati dalam pengendali hama dan penyakit tanaman serta komponen biorevaktor yang bertugas menjaga proses tumbuh tanaman secara optimal. Pupuk NPK mampu memperbaiki sifat kimia tanah dengan baik, dan meningkatkan ketersediaan unsur hara esensial. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian mikroorganisme lokal dan pupuk NPK untuk ketersediaan  hara tanaman jagung pada lahan kering Ie Seuum Krueng Raya Aceh Besar. Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok pola faktorial 2x4 dengan tiga ulangan. Faktor yang diuji yaitu mikroorganisme lokal dan NPK(P). Hasil penelitian menunjukkan bahwa mikroorganisme lokal yang diberikan dapat meningkatkan efektifitas ketersediaan hara K, efisiensi pemupukan terhadap Kalium (7,58%), danpemupukan NPK efektif meningkatkan ketersedian hara P dan nyata dapat meningkatkan pertumbuhan jagung.Availability of Nutrients and Maize Growth due to Local Microorganisms and NPK Fertilization on the Dry Land in Aceh BesarAbstract. The Effectiveness Local microorganisms are the result of fermentation of local ingredients. MOL contains complete nutrients and microorganisms also functions to remodel organic matter, stimulate plant growth, and as a biological agent in controlling plant pests and diseases as well as a biorevactor component in charge of maintaining optimal plant growth processes. NPK fertilizer is able to improve the chemical properties of the soil well, and increase the availability of essential nutrients. This study aims to determine the effect of local microorganisms and NPK fertilizer on the availability of corn plant nutrients on dry land Ie Seuum Krueng Raya Aceh Besar. The study used a 2x4 factorial randomized block design with three replications. The factors tested were local microorganisms and NPK(P). The results showed that the given local microorganism could increase the effectiveness of K nutrient availability, the efficiency of fertilization on Potassium (7.58%), and NPK fertilization was effective in increasing the availability of P nutrients and significantly increased the growth of maize.
Pengaruh Media Perbanyakan Berbasis Bahan Organik terhadap Produksi Inokulan Fungi Mikroriza Arbuskula Malisha Azra Pratiwi; Hifnalisa Hifnalisa; Fikrinda Fikrinda
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 7, No 2 (2022): Mei 2022
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (569.443 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v7i2.20127

Abstract

Abstrak. Fungi mikoriza arbuskula (FMA) merupakan mikroorganisme yang berperan sebagai pupuk hayati, karena kemampuannya dalam meningkatkan serapan hara, serapan air dan daya tahan tanaman terhadap kekeringan. Media perbanyakan yang sesuai mempengaruhi kualitas inokulan FMA. Tujuan  penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh kombinasi media perbanyakan berbasis kompos  terhadap produksi inokulan FMA Acaulospora tuberculata. Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok non faktorial dengan tiga ulangan. Perlakuan yang diuji adalah zeolit 100% + NPK, zeolit+10% kompos, zeolit+20% kompos, zeolit+10% kompos yang diinokulasi fungi selulolitik (FS) Talaromyces pinophilus strain MR107, zeolit+ 20% kompos yang diinokulasi FS T. pinophilus strain MR107, zeolit +10% kompos yang diinokulasi FS Penicillium sp. isolate SR18, zeolit +20% kompos yang diinokulasi FS Penicillium sp. isolate SR18, zeolit+10% kompos yang diinokulasi FS Purpureocillium lilacinum, dan zeolit+20% kompos yang diinokulasi FS P. lilacinum. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media perbanyakan berbasis kompos memberikan pengaruh sangat nyata terhadap jumlah spora FMA dan kolonisasi FMA pada akar tanaman inang. Perlakuan zeolit+20% kompos FS P. lilacinum menghasilkan jumlah spora FMA terbanyak sedangkan media zeolit + 10% kompos yang diinokulasi FS T. pinophilus strain MR107, zeolit + 20% kompos yang diinokulasi FS Penicillium sp. isolate SR18, zeolit + 10% kompos dan zeolit + N P K memberikan pengaruh yang sama terhadap tingkat kolonisasi FMA yang tertinggi. Hasil ini menunjukkan bahwa media kombinasi zeolit dan kompos dengan atau tanpa diperkaya fungi selulolitik efektif sebagai media perbanyakan dalam memproduksi spora FMA.Pengaruh Media Perbanyakan Berbasis Kompos Terhadap Produksi Inokulan Jamur Mikorhiza ArbuskularAbstract. Arbuscular mycorrhizal fungi (AMF) are microorganisms that act as biological fertilizers, because of their ability to increase nutrient uptake, water uptake and plant resistance to drought. Appropriate propagation media affects the quality of AMF inoculants. The purpose of this study was to determine the effect of a combination of compost-based propagation media on the production of Acaulospora tuberculata inoculants. This study used a non-factorial randomized block design with three replications. The treatments tested were zeolite 100% + NPK, zeolite + 10% compost, zeolite + 20% compost, zeolite + 10% compost inoculated with cellulolytic fungi (CS) Talaromyces pinophilus strain MR107, zeolite + 20% compost inoculated with CS T. pinophilus strain MR107, zeolite + 10% compost inoculated with CS Penicillium sp. isolate SR18, zeolite +20% compost inoculated with CS Penicillium sp. isolate SR18, zeolite+10% compost inoculated with CS Purpureocillium lilacinum, and zeolite + 20% compost inoculated with CS P. lilacinum. The results showed that compost-based propagation media had a very significant effect on the number of AMF spores and AMF colonization on host plant roots. Treatment of zeolite+20% compost inoculated with CS P. lilacinum produced the highest number of AMF spores while zeolite + 10% compost inoculated with CS T. pinophilus strain MR107, zeolite + 20% compost inoculated with CS Penicilliumsp. isolat SR18, zeolit +10% kompos dan zeolit + NPK memberikan pengaruh yang sama pada tingkat kolonisasi FMA tertinggi. Hasil ini menunjukkan bahwa kombinasi media zeolit dan kompos dengan atau tanpa pengayaan jamur selulolitik efektif sebagai media perbanyakan spora FMA.
Pengaruh Pemberian Amelioran terhadap Pertumbuhan dan Hasil Kedelai pada Inceptisol Latifah Ningsih S; Fikrinda Fikrinda; Zuraida Zuraida
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 6, No 3 (2021): Agustus 2021
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (253.306 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v6i3.16979

Abstract

Inceptisol merupakan salah satu tanah yang umumnya memiliki tingkat kesuburan tanah yang rendah sehingga dibutuhkan pengelolaan tanah yang intensif. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian amelioran terhadap pertumbuhan dan hasil kedelai pada Inceptisol. Metode penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) non faktorial dengan 8 perlakuan dan 3 ulangan. Amelioran yang digunakan adalah kotoran kambing dalam tiga bentuk, yaitu kotoran padat (15 tonha-1), pupuk cair kotoran kambing (60 ml L-1), bokashi kotoran kambing (15 ton ha-1) serta biochar sekampadi (5 ton ha-1). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kotoran kambing dan biochar sekam padi memberikan pengaruh nyata terhadap parameter tinggi tanaman umur 2, 4 dan 6 MST, diameter batang umur 2, 6, dan 8 MST, berat berangkasan basah dan berangkasan kering tanaman, bobot biji per tanaman serta kadar hara K kedelai namun tidak berpengaruh nyata terhadap parameter tinggi tanaman 2 MST, diameter batang 4 MST, jumlah polong per tanaman, bobot 100 biji, serta hara N dan P kedelai. Bahan amelioran yang terbaik pada pertumbuhan, hasil dan kadar hara kedelai adalah bokashi kotoran kambing 15 ton ha-1 + biochar 5 ton ha-1.The Effect of Giving Ameliorants on Growth and Yield of Soybean (Glycine max L.) on InceptisolInceptisol is one of the soils which generally has a high level of soil fertilitylow so that intensive soil management is needed. The purpose of this study is todetermine the effect of ameliorants on growth and yield of soybeans in the Inceptisol. This study method used a non-factorial randomized block design (RBD) with 8 treatments and 3 repeat. Ameliorant replicates used were goat manure and biochar in several forms, namely solid manure (15 ton ha-1), liquid goat manure (60 ml.L-1), bokashi goat manure (15 ton ha-)l and biochar (5 ton ha-1). Yield research shows that ameliorant from goat manure and biochar rice husk providesignificant effect on plant height parameters aged 2, 4 and 6 MST stem diameter aged 2, 6, and 8MST, wet and dry weight of plant seed weight per plant and K nutrient contentsoybean but did not significantly affect the parameters of plant height 2 MST, stem diameter 4 MST, number of pods per plant, weight of 100 seeds, and soybean N and P nutrients. The best ameliorant ingredients growth, yield and nutrient content of soybeans are bokashi goat manure 15 ton + biochar 5 ton ha-1.
Pengaruh Fungi Mikoriza Arbuskula dan Kompos Limbah Kakao terhadap Kolonisasi Mikoriza, dan Pertumbuhan Bibit Kakao pada Ultisol Raina Muzlifa; Fikrinda Fikrinda; Yadi Jufri
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 4, No 4 (2019): November 2019
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (369.367 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v4i4.12749

Abstract

Abstrak. Ultisol merupakan salah satu tanah marginal yang memerlukan pengelolaan yang tepat untuk meningkatkan kesuburannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pemberian Fungi Mikoriza Arbuskula (FMA) dan kompos limbah kakao terhadap kolonisasi FMA, dan pertumbuhan bibit kakao pada Ultisol. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) pola faktorial dengan dua faktor perlakuan dan tiga ulangan. Faktor pertama adalah jenis FMA yaitu tanpa FMA (F0), Glomus sp (F1), dan Glomus sp. + Gigaspora sp. (F2). Faktor kedua adalah dosis kompos yaitu 0 ton.ha-1 (K0), 20 ton.ha-1 (K1), dan 30 ton.ha-1(K2). Hasil penelitian menunjukkan bahwa FMA berpengaruh nyata terhadap kolonisasi mikoriza, namun tidak berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman  pada 30, 60, 90 HST, diameter batang pada 30, 60, 90 HST, dan luas daun pada 90 HST.  Pemberian kompos limbah kakao berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman pada 90 HST, namun tidak berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman pada 30 dan 60 HST, diameter batang pada 30, 60 90 HST, dan luas daun pada 90 HST.  Kombinasi FMA dan kompos limbah kakao berpengaruh nyata terhadap diameter batang pada 30 HST namun tidak berpengaruh  nyata terhadap tinggi tanaman pada 30, 60, 90 HST, diameter batang pada 60 dan 90 HST, dan luas daun pada 90 HST. Perlakuan FMA jenis Glomus sp. + Gigaspora sp. dan kompos 20 g.pot-1 memberikan pengaruh terbaik terhadap kolonisasi mikoriza dan pertumbuhan tanaman. The effects of arbuscular mycorrhizal fungi and compost of cocoa waste on myccorrhiza colonization, and the cocoa seedling growth on UltisolAbstract. Ultisol is one of marginal soils which requires proper management to increase its fertility. This study aims to determine the administration of Arbuscular Mycorrhizal Fungi (FMA) and cocoa waste compost to FMA colonization, and the growth of cacao seedlings on Ultisols. This research used factorial randomized block design (RBD) with two treatment factors and three replications. The first factor is the type of FMA that is without FMA (F0), Glomus sp (F1), and Glomus sp. + Gigaspora sp. (F2). The second factor is the compost dose which is 0 tons.ha-1 (K0), 20 tons.ha-1 (K1), and 30 tons.ha-1 (K2). The results showed that FMA significantly affected mycorrhizal colonization, but did not significantly affect plant height at 30, 60, 90 HST, stem diameter at 30, 60, 90 HST, and leaf area at 90 HST. Cocoa waste compost has a significant effect on plant height at 90 HST, but no significant effect on plant height at 30 and 60 HST, stem diameter at 30, 60 90 HST, and leaf area at 90 HST. The combination of AMF and compost of cocoa waste significantly affected the stem diameter at 30 HST but did not significantly affect the plant height at 30, 60, 90 HST, stem diameter at 60 and 90 HST, and leaf area at 90 HST. Treatment of FMA type Glomus sp. + Gigaspora sp. and compost 20 g.pot-1 provides the best effect on mycorrhizal colonization and plant growth.   
Kontribusi Komoditas Hasil Hutan Bukan Kayu dan Pertanian Pada Hutan Kemasyarakatan di Kecamatan Paya Bakong Kabupaten Aceh Utara Ira Asmawar Butar-Butar; Tuti Arlita; Fikrinda Fikrinda
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 8, No 2 (2023): Mei 2023
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (241.883 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v8i2.24466

Abstract

Abstrak. Hutan Kemasyarakatan (HKm) merupakan suatu bentuk pengelolaan hutan yang melibatkan masyarakat dalam mengelola dan memanfaatkan komoditas hasil hutan bukan kayu (HHBK) dan komoditas pertanian yang terdapat di sekitar hutan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis komoditas HHBK dan pertanian yang dimanfaatkan serta kontribusinya terhadap pendapatan masyarakat HKm Rencong di Kecamatan Paya Bakong Kabupaten Aceh Utara. Penelitian ini menggunakan metode purposive sampling. Lokasi penelitian terletak di Desa Blang Mane dan Desa Peureupok Kecamatan Paya Bakong Kabupaten Aceh Utara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat HKm Rencong memanfaatkan tiga jenis komoditas HHBK dan empat jenis komoditas pertanian. Jenis komoditas HHBK yang dimanfaatkan yaitu jernang (Daemonorop draco) janeng (Dioscorea hispida) dan madu (Apis dorsata). Jenis komoditas pertanian yaitu pinang (Areca catechu), kakao (Theobroma cacao), jahe (Zingiber officinale) dan kunyit (Curcuma longa L.). Kontribusi komoditas HHBK terhadap pendapatan masyarakat HKm Rencong sebesar 25,66% sedangkan komoditas pertanian adalah 74,34%. Pendapatan total masyarakat yang berasal dari komoditas HHBK dan komoditas pertanian Rp. 424.952.000,00 dengan rata-rata Rp. 11.198.261,48. Contribution of Non-Timber Forest Products and Agricultural Commodities in Rencong Community Forest in Paya Bakong Sub-District North Aceh DistrictAbstract. Community Forestry is a form of forest management that involves the community in managing and utilizing non-timber forest product commodities and agricultural commodities found around the forest. This study aims to determine the types of non-timber forest product and agricultural commodities used and their contribution to the income of the HKm Rencong community in Paya Bakong District, North Aceh Regency. This study used a purposive sampling method. The research location is located in Blang Mane Village and Peureupok Village, Paya Bakong District, North Aceh Regency. The results showed that the people of HKm Rencong utilized three types of non-timber forest product commodities and four types of agricultural commodities. The types of non-timber forest product commodities used are jernang (Daemonorop draco) janeng (Dioscorea hispida) and honey (Apis dorsata). The types of agricultural commodities are areca nut (Areca catechu), cocoa (Theobroma cacao), ginger (Zingiber officinale) and turmeric (Curcuma longa L.). The contribution of non-timber forest product commodities to the income of the HKm Rencong community is 25,66%, while agricultural commodities are 74,34%. The total income of the community from non-timber forest product commodities and agricultural commodities is Rp. 424,952,000.00 with an average of Rp. 11,198,261.48.
STATUS KARBON ORGANIK DAN NITROGEN TOTAL TANAH SERTA PERTUMBUHAN JAGUNG (Zea mays L.) AKIBAT APLIKASI FUNGI SELULOLITIK INDIGENOUS DAN JERAMI PADI PADA INCEPTISOL ACEH Eva Disniwati; Munawar Khalil; Fikrinda Fikrinda
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 6, No 4 (2021): November 2021
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (614.944 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v6i4.18437

Abstract

Abstrak. Produktivitas Inceptisol sebagai lahan budidaya dibatasi oleh rendahnya kadar bahan organik dan ketersediaan beberapa unsur hara makro. Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok dengan tiga ulangan untuk menguji pengaruh aplikasi fungi selulolitik indigenous yang berasal dari Inceptisol Aceh  (tanpa fungi selulolitik, Talaromyces pinophilus strain MR107 dan Purpureocillium lilacinum isolate PIGD23i) dan jerami padi (tanpa jerami padi, 10 t ha-1 dan 20 t ha-1) terhadap karbon (C-organik) dan nitrogen (N-total) tanah serta berat basah dan berat kering berangkasan atas tanaman pada Inceptisol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa inokulasi kedua inokulan  fungi selulolitik indigenous dan jerami padi pada berbagai dosis aplikasi memberikan pengaruh yang sama terhadap status C-organik dan N-total tanah serta pertumbuhan jagung pada Inceptisol Aceh.The Statuses Soil organic carbon and total nitrogen due to application of  indigenous cellulolytic fungi and rice straw on Inceptisol’s AcehAbstract. The productivity of Inceptisols as cultivated land has problems in low organic matter and macronutrients. This study arranged in a randomized block design and three replications to examine the effect of indigenous cellulolytic fungi from Inceptisol Aceh and rice straw on soil organic carbon (SOC) and total nitrogen (total-N) and the weight of the upper part of the plant on Inceptisol. The cellulolytic fungi treatments were no cellulolytic fungi, Talaromyces pinophilus strain MR107 and Purpureocillium lilacinum isolate PIGD23i. The rice straw application consisted of without rice straw, 10 t ha-1, and 20 t ha-1. The results showed that both indigenous cellulolytic fungi and rice straw at various dose applications gave the same effect on the soil C-organic and N-total status and the maize growth on Inceptisols Aceh.