Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search

GEOMORFOLOGI DAERAH CIJAMBE DAN SEKITARNYA, KECAMATAN CIJAMBE, KABUPATEN SUBANG, PROVINSI JAWA BARAT: GEOMORPHOLOGY OF CIJAMBE AREA AND SURROUNDINGS, CIJAMBE DISTRICT, SUBANG REGENCY, WEST JAVA PROVINCE Pratama, Muhammad Abel Rifky; Rendra, Pradnya Paramarta Raditya
Journal of Geoscience Engineering and Energy VOLUME 7, NOMOR 1, FEBRUARI 2026
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25105/

Abstract

Pemetaan geologi merupakan kegiatan akademik yang bertujuan untuk mengidentifikasi, memetakan, menganalisis, menginterpretasi, dan menarik kesimpulan terkait kondisi geologi suatu wilayah. Dalam berbagai pendekatan yang digunakan dalam pemetaan geologi, studi geomorfologi merupakan pendekatan penting dalam mengawali pemetaan geologi. Studi ini bertujuan untuk mengidentifikasi, menganalisis, dan menginterpretasi geomorfologi daerah Cijambe dan sekitarnya, Kecamatan Cijambe, Kabupaten Subang, Jawa Barat. Metode yang digunakan meliputi analisis studio menggunakan media peta topografi, Digital Elevation Model (DEM), dan citra, serta observasi lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa daerah studi dapat dibagi menjadi lima satuan geomorfologi, yaitu satuan dataran rendah vulkanik (8% daerah studi), dataran rendah fluvial (12% daerah studi), perbukitan struktural agak curam (15% daerah studi), perbukitan rendah struktural agak landai (40% daerah studi), dan perbukitan denudasional agak curam (25% daerah studi). Geological mapping is an academic activity aimed at identifying, mapping, analyzing, interpreting, and drawing conclusions regarding the geological conditions of a region. Among the various approaches used in geological mapping, geomorphological study constitutes an important approach in initiating geological mapping. This study aims to identify, analyze, and interpret the geomorphology of the Cijambe area and its surroundings, Cijambe District, Subang Regency, West Java. The methods employed include studio analysis using topographic maps, Digital Elevation Models (DEM), and imagery, as well as field observations. The results indicate that the study area can be divided into five geomorphological units, namely the volcanic lowland unit (8% of the study area), fluvial lowland unit (12% of the study area), moderately steep structural hills unit (15% of the study area), gently sloping low structural hills unit (40% of the study area), and moderately steep denudational hills unit (25% of the study area).
EVALUASI MORFOTEKTONIK SEBAGAI FAKTOR PENGONTROL LONGSORAN DI KAWASAN SESAR LEMBANG Wildan, Dadan; Saputra, Adang; Sulastri, Murni; Sulaksana, Nana; Rendra, Pradnya Paramarta Raditya
Bulletin of Scientific Contribution Vol 24, No 1 (2026): Bulletin of Scientific Contribution : GEOLOGY
Publisher : Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/bsc.v24i1.68996

Abstract

ABSTRACTThe Lembang Fault is recognized as one of the major active fault structures in West Java with significant potential to trigger geological hazards, particularly earthquakes and landslides. The morphology of the area is characterized by steep slopes underlain by volcanic rocks that have undergone intensive weathering, making them highly susceptible to landslide. This study aims to examine the relationship between morphotectonic parameters, geological conditions, and landslide distribution in the northern part of the Bandung Basin. The analysis employs a quantitative geomorphological approach utilizing Digital Elevation Models (DEM) imagery and the calculation of morphotectonic indices, including Assymetric factor (Af), Basin shape index (Bs), Sinuosity of mountain front index (Smf), and valley floor width-to-height ratio (Vf). The findings indicate that most landslide occurrences are concentrated in areas with high Index of Relative Tectonic Activity (IRTA), reflecting both active tectonic deformation and unstable slope conditions. The integration of morphotectonic parameters with landslide data has proven effective in delineating hazard-prone zones with higher accuracy, thereby providing a valuable reference for geological hazard mitigation efforts in the Lembang Fault area.Keywords: Morphotectonic; geomorphology; landslide; Lembang Fault; Bandung Basin ABSTRAKSesar Lembang dikenal sebagai salah satu struktur patahan aktif di Jawa Barat yang memiliki potensi besar memicu bencana geologi, terutama gempabumi dan gerakan tanah. Morfologi wilayah ini didominasi oleh lereng curam dengan batuan vulkanik yang telah mengalami pelapukan intensif, sehingga rentan terhadap terjadinya longsoran. Penelitian ini bertujuan untuk menelaah keterkaitan antara parameter morfotektonik, kondisi geologi, dan distribusi longsor di bagian utara Cekungan Bandung. Analisis dilakukan melalui pendekatan geomorfologi kuantitatif dengan memanfaatkan citra Digital Elevation Model (DEM) serta penghitungan sejumlah indeks morfotektonik seperti Faktor asimetri DAS (Af), Indeks bentuk DAS (Bs), Indeks sinusitas muka gunung (Smf), dan Rasio dasar lembah berbanding tinggi lembah (Vf). Temuan penelitian mengindikasikan bahwa mayoritas kejadian longsor terkonsentrasi pada area dengan nilai Indeks Aktivitas Tektonik Relatif (IATR) tinggi, yang mencerminkan aktivitas tektonik aktif sekaligus lereng tidak stabil. Integrasi antara parameter morfotektonik dengan data longsoran terbukti efektif dalam memetakan zona rawan dengan tingkat akurasi lebih tinggi, sehingga dapat dijadikan acuan penting bagi upaya mitigasi bencana geologi di kawasan Sesar Lembang.Kata Kunci : Morfotektonik; geomorfologi; longsor; Sesar Lembang; Cekungan Bandung