Claim Missing Document
Check
Articles

Pengaruh Jenis Elektrolit Proses Anodisasi Aluminium Terhadap Efisiensi Proses Dan Sifat Mekanik (Kekerasan) Permukaan Dan Ketebalan Lapisan Oksida Rony pasonang sihombing; Agustinus Ngatin; Salsabila Nisrina Junaedi; Wina Maulida; Emma Hermawati Muhari; Alfiana Adhitasari; Yusmardhany Yusuf
JC-T (Journal Cis-Trans): Jurnal Kimia dan Terapannya Vol 6, No 2 (2022)
Publisher : State University of Malang or Universitas Negeri Malang (UM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (365.943 KB) | DOI: 10.17977/um0260v6i22022p024

Abstract

Aluminium adalah logam untuk  bahan peralatan di industri karena mempunyai sifat-sifat yang unggul seperti kuat, ringan, dan mudah dibentuk, tetapi sifatnya mudah terdeformasi dan mempunyai kekerasan serta ketahanaan aus yang rendah. Untuk memperbaiki sifat fisis dan mekanis aluminium dapat dilakukan melalui proses anodisasi. Tujuan penelitian ini adalah menentukan pengaruh jenis  elektrolit pada proses anodisasi terhadap efisiensi proses dan produk tebal lapisan oksida dan sifat mekanik (kekerasan) permukaan aluminium.  Proses anodisasi aluminium dilakukan bervariasi jenis elektrolit (asam sulfat, asam fosfat, asam oksalat, asam kromat,) dengan konsentrasi 15%. Suhu proses anodisasi dibuat konstan pada 25 ⁰C dengan waktu proses 20 menit, dan tegangan 18 Volt.  Hasil penelitian ditunjukkan bahwa proses anodisasi dalam larutan asam sulfat memiliki efisiensi tertinggi yaitu 51,98% daripada ketiga elektrolit yang lain, dan menghasilkan produk ketebalan lapisan oksida paling tinggi mencapai 13,88 µm dan kekerasan permukaan aluminium 287,9 HV, dalam larutan asam fosfat menghasilkan efisiensi terendah yaitu 0,99%, ketebalan lapisan oksida 0,28 µm dan kekerasan permukaan logam aluminium 41,3 HV yang nilainya lebih rendah dari kekerasan permukaan logam dasar yaitu 66,75 HV.
Laju Korosi Logam Baja Karbon Rendah di Larutan Garam pada Berbagai Konsentrasi Inhibitor Korosi dari Ekstrak Daun Pepaya: Low Carbon Steel Metal Corrosion Rate in Salt Solution at Various Concentrations of Corrosion Inhibitor from Papaya Leaf Extract Ninik Lintang Edi Wahyuni; Rony Pasonang Sihombing; Nurcahyo; Agustinus Ngatin; Yunus Tonapa Sarungu; Alfiana Adhitasari; Bambang Soeswanto; Emma Hermawati Muhari; retno indarti
KOVALEN: Jurnal Riset Kimia Vol. 9 No. 2 (2023): August Edition
Publisher : Chemistry Department, Mathematics and Natural Science Faculty, Tadulako University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22487/kovalen.2023.v9.i2.16344

Abstract

Papaya leaf extract could be used as an organic corrosion inhibitor. Corrosion inhibitors were used as a method to reduce corrosion rate. The most corrosive environment was the marine environment. The purpose of this study was to determine the best concentration of papaya (Carica papaya) leaf extract inhibitor which could reduce the corrosion rate of low carbon steel in a 3.56% NaCl solution environment. The maceration process was carried out for 24 hours with 70% ethanol solvent with a solute:solvent ratio of 1:8 (w/v) at room temperature. Inhibitor extracts were analyzed qualitatively with the phytochemical method. The addition of FeCl3 was carried out on the inhibitor extract from papaya leaves. The color change occurred from blackish brown to greenish black which indicated the presence of tannin compounds in the papaya leaf extract. Corrosion testing was carried out with hot stream temperature setting at 45⁰C to 55⁰C and concentrations of inhibitor extracts at 300, 600, and 900 ppm. The test was conducted for 36 hours with a span of metal mass every 6 hours. Corrosion rate calculation is done by weight loss method. The results showed that papaya leaf extract inhibitors positive contained corrosion inhibitor and could reduce the corrosion rate in 3.56% NaCl solution. The corrosion rate without inhibitor is 1.023 mmpy. Corrosion rates with inhibitor concentrations of 300, 600, and 900 ppm were 0.755, 0.585, and 0.438 mmpy, respectively.
Pengolahan Air Limbah Tahu Menggunakan Metode Elektrokoagulasi dan Adsorpsi Secara Kontinyu: Tofu Wastewater Treatment Using Continuous Electrocoagulation and Adsorption Method Ninik Lintang Edi Wahyuni; Nurcahyo; Unung Leoanggraini; Robby Sudarman; Bambang Soeswanto; Emma Hermawati Muhari; Agustinus Ngatin; Rony Pasonang Sihombing
KOVALEN: Jurnal Riset Kimia Vol. 9 No. 2 (2023): August Edition
Publisher : Chemistry Department, Mathematics and Natural Science Faculty, Tadulako University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22487/kovalen.2023.v9.i2.16446

Abstract

Tofu wastewater contains a lot of protein therefore it is easily degraded to produce foul odors and harmful gases due to microbes. Protein levels can be reduced through the electrocoagulation method which is equipped with adsorption. The purpose of this study is to reduce the value of turbidity, TSS, and COD in tofu wastewater due to the influence of voltage in the electrocoagulation process which is equipped with an adsorption process. This research was conducted with an electrocoagulation process at a rate of 250L/min with voltage variations of 15, 20, and 24Volt in a 10L tank containing 3 pairs of aluminum (Al) electrodes connected with direct current. The output water from the electrocoagulation process flows into the settling basin and flows into the adsorption tank containing activated carbon adsorbent. Both of these continuous processes were the innovation of this research. Sampling was conducted every 10 minutes for analysis of turbidity, TSS, COD, and pH. The results of the output water analysis from the electrocoagulation process after passing through the precipitation and adsorption processes show that increasing the voltage results in the decrease of turbidity, TSS, and COD values, however, increased efficiency and pH. Thus, a voltage of 24V with a flow rate of 250mL/min resulted in the highest efficiency of the voltage variations (15, 20, and 24V) with a process time of 90 minutes with a turbidity impurity reduction efficiency value of 45.42% with a value of 41.36 NTU from 75.22NTU, TSS 91.42% with a decrease to 1827mg/L from 21288mg/L, and COD 55.56% with a COD value of 9600mg/L from 21600mg/L, and a process output water pH of 4.91, as well as a reduction in aluminum electrode weight of 1.024grams.
Ekstraksi Daun Tembakau dengan Metode MAE (Microwave Assisted Extraction) dengan Variasi Jenis Pelarut dan Waktu Ekstraksi pada Daya Microwave 150 Watt Sihombing, Rony Pasonang; Tamba, Alfonsius Perdija; Renata, Calvin Aditya; Ngatin, Agustinus
Prosiding Industrial Research Workshop and National Seminar Vol. 13 No. 01 (2022): Vol 13 (2022): Prosiding 13th Industrial Research Workshop and National Semin
Publisher : Politeknik Negeri Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (358.162 KB) | DOI: 10.35313/irwns.v13i01.4171

Abstract

Tembakau merupakan salah satu rempah-rempah yang pertumbuhannya cukup besar di Indonesia. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik produksi tembakau Indonesia pada 2020 sebesar 261.011 ton. Hal tersebut adalah potensi yang sangat besar, namun pemanfaatan tembakau sejauh ini mayoritas hanya digunakan pada industri rokok. Penelitian mengenai ekstraksi tembakau diharapkan mampu mendorong peluang pemanfaatan tembakau untuk keperluan lain selain bahan baku rokok, seperti inhibitor korosi dan bioinsektisida. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh waktu ekstraksi dan jenis pelarut terhadap perolehan rendemen ekstrak tembakau. Metode ekstraksi yang digunakan adalah MAE (Microwave Assisted Extraction). Pelarut yang digunakan etanol 96% dan methanol 95%, serta waktu ekatraksi yang digunakan adalah 5,10,15, dan 20 menit. Analisis yang dilakukan adalah analisis rendemen, densitas, dan GC-MS. Hasil ekstrak menggunakan pelarut metanol dan etanol mencapai densitas rata-rata masing-masing 0.82 g/mL dan 0.83rendemen tertinggi yang dihasilkan masing-masing 37.74% dan 38.05% pada waktu ekstraksi 10 menit. Berdasarkan hasil GC-MS komponen tertinggi dalam ekstrak adalah nikotin dengan komposisi pada ekstrak dengan pelarut etanol dan metanol masing-masing 96.1% dan 95.5%.
Karakteristik Kadar Metoksil dan Kadar Asam Galakturonat pada Ekstrak Pektin dari Kulit Jeruk Manis Pacitan pada Suhu 90°C Fauzan, Ahmad; Risnandar, Tiara Devita; Anisa, Vira Rizki; Sihombing, Rony Pasonang
Prosiding Industrial Research Workshop and National Seminar Vol. 13 No. 01 (2022): Vol 13 (2022): Prosiding 13th Industrial Research Workshop and National Semin
Publisher : Politeknik Negeri Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (311.605 KB) | DOI: 10.35313/irwns.v13i01.4174

Abstract

Kulit jeruk mengandung beberapa kandungan senyawa kimia bermanfaat, salah satunya pektin. Pada industri makanan, pektin digunakan sebagai bahan pengental dan pembentuk gel. Pektin dapat diperoleh dari kulit jeruk manis pacitan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik kadar metoksil dan kadar asam galakturonat terhadap hasil ekstraksi pektin dengan suhu 90°C. Pengambilan pektin dari kulit jeruk manis pacitan dilakukan dengan metode ekstraksi padat cair menggunakan pelarut asam. Variabel tetap yang digunakan yaitu pelarut asam klorida (HCl) 0,5% dengan kondisi pH 1 dan etanol 96% untuk pengendapan pektin. Variabel bebas yang digunakan yaitu waktu ekstraksi selama 1 jam; 2 jam; 3 jam. Hasil pengujian karakteristik pektin dibandingkan dengan standar mutu pektin IPPA (International Pectin Producers Association). Berdasarkan penelitian, rendemen paling tinggi didapat pada waktu 1 jam yaitu sebanyak 30,36%. Karakterisasi kadar metoksil tergolong ke dalam metoksil rendah karena berada pada rentang standar 2,5-7,12%. Karakterisasi kadar asam galakturonat yang sesuai standar didapat pada waktu 2 dan 3 jam dengan jumlah 41,30% dan 43,37%.
Efektivitas Suhu Operasi dalam Peningkatan Lapisan Oksida Hasil Hard Anodizing Aluminium dalam Asam Sulfat 15% dan Asam Phospat 1% Salsabila, Intan; Rusmana, Muchamad Raihan Surya; Puspita, Nina; Fauzan, Rizky; Sihombing, Rony Pasonang
Prosiding Industrial Research Workshop and National Seminar Vol. 14 No. 1 (2023): Vol 14 (2023): Prosiding 14th Industrial Research Workshop and National Semina
Publisher : Politeknik Negeri Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35313/irwns.v14i1.5362

Abstract

Anodisasi merupakan metode pelapisan logam yang melibatkan konversi permukaan logam menjadi lapisan oksida melalui proses elektrolisis. Salah satu tujuan dari metode ini adalah untuk melindungi bagian logam sehingga dapat meningkatkan nilai kekerasan, ketahanan terhadap korosi, dan tahan aus. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh variasi suhu operasi terhadap efisiensi dan ketebalan lapisan oksida yang dihasilkan melalui proses anodisasi. Larutan elektrolit yang digunakan meliputi asam sulfat 15% dengan penambahan konsentrasi phospat 1%. Spesimen yang digunakan adalah aluminium tipe 1100 dengan tingkat kemurnian 99,00%, diberikan rapat arus sebesar 3A/dm2, waktu anodisasi berlangsung selama 30 menit pada variasi suhu 5°C; 10°C; dan 15°C. Berdasarkan analisis data didapatkan bahwa penggunaan suhu operasi yang rendah dapat meningkatkan nilai efisiensi, ketebalan lapisan oksida dan massa oksida. Nilai massa oksida dan efisiensi tertinggi diperoleh dari penelitian hard anodizing dengan suhu 5oC dan waktu anodisasi selama 30 menit, dengan hasil massa oksida sebesar 0,255 g dan efisiensi proses 69,03%. Nilai ketebalan lapisan oksida terbaik sebesar 18,43 µm diperoleh dari penelitian hard anodizing dengan suhu 5°C dan waktu anodisasi selama 30 menit.
Karakterisasi Aluminium Pada Proses Hard Anodizing Dalam Variasi Asam Fosfat Dan Asam Sulfat 15% Ibrahim, Idham Kholid; Ramadhani, Isma Afifah; Alamsari, Jasinta Putri; Khalisha, Keira; Sihombing, Rony Pasonang
Prosiding Industrial Research Workshop and National Seminar Vol. 14 No. 1 (2023): Vol 14 (2023): Prosiding 14th Industrial Research Workshop and National Semina
Publisher : Politeknik Negeri Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35313/irwns.v14i1.5365

Abstract

Paduan Aluminium 1100 dapat digunakan sebagai material pada industri otomotif, terutama pada kendaraan komersial dan komponen pesawat terbang. Untuk meningkatkan sifat fisis dan mekanisnya, dilakukan proses hard anodizing. Pada proses hard anodizing, benda kerja aluminium 1100 diampelas, dihilangkan lemak pada larutan basa dan dinetralkan pada larutan asam. Selanjutnya, proses hard anodizing dilakukan dengan meletakkan benda kerja pada kutub positif dan elektroda pada kutub negatif (katoda) dari sumber arus searah. Proses hard anodizing paduan aluminium 1100 dilakukan dalam larutan asam sulfat 15%, rapat arus 3A/dm2, waktu anodisasi 30 menit, temperatur 5oC, katoda aluminium, dan variasi konsentrasi asam fosfat (0%; 0,5%; 1%; 1,5%;2%). Hasil penelitian menunjukkan terbentuknya lapisan oksida di permukaan logam yang terdiri dari dua jenis lapisan, yaitu lapisan penghalang dan lapisan berpori. Lapisan penghalang tidak memiliki pori-pori karena memiliki sifat mikrostruktur yang konduktif dan mencapai ketebalan maksimum. Lapisan berpori yang terbentuk dapat meningkatkan ketebalan keseluruhan lapisan oksida, sementara lapisan penghalang tetap memiliki ketebalan yang konstan dan meningkatkan tingkat kekerasan aluminium. Ketebalan lapisan oksida terbaik adalah 23,61 m pada penambahan fosfat 2%, serta kekerasan tertinggi sebesar 165,05 HVN pada penambahan asam fosfat 0,5%
Pengaruh Pelarut yang Digunakan terhadap Hasil Ekstraksi Kunyit (Curcuma Longa L.) Luviana, Angely; Putri, Angelina; Reynaldi, Randi; Rahmawati, Sri Puji; Azzahra, Rafila Chika; Sihombing, Rony Pasonang; Paramitha, Tifa
Prosiding Industrial Research Workshop and National Seminar Vol. 14 No. 1 (2023): Vol 14 (2023): Prosiding 14th Industrial Research Workshop and National Semina
Publisher : Politeknik Negeri Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35313/irwns.v14i1.5372

Abstract

Indonesia merupakan negara beriklim tropis sehingga menjadi negara yang kaya akan keanekaragaman hayati. Salah satu komoditas yang banyak dihasilkan oleh negara Indonesia adalah kunyit. Saat ini, pemanfaatan kunyit mayoritas hanya digunakan sebagai bahan masakan atau bumbu dapur. Salah satu upaya untuk meningkatkan manfaat kunyit yaitu mengekstraksi kunyit dan digunakan sebagai inhibitor korosi. Penelitian ini bertujuan untuk mengekstraksi kunyit dengan memvariasikan jenis pelarut yang digunakan. Metode ekstraksi yang digunakan adalah Microwave Assisted Extraction (MAE). Pelarut yang digunakan yaitu metanol dan etanol dengan waktu ekstraksi selama 15 menit dan daya 300 watt. Analisis yang dilakukan adalah analisis kadar air, rendemen, dan uji fitokimia untuk mengetahui kandungan senyawa dalam ekstrak kunyit secara kualitatif. Hasil pengujian kadar air sebelum dan setelah pengeringan didapatkan bahwa kadar air awal kunyit sebesar 84,99% dan mengalami penurunan menjadi 4,49%. Sementara itu, rendemen ekstrak kunyit dengan pelarut etanol lebih besar dibandingkan rendemen dengan pelarut metanol, yang mana rendemen dengan pelarut etanol dan metanol berturut-turut sebesar 69,09% dan 66,86%. Berdasarkan uji fitokimia dihasilkan bahwa ekstrak kunyit mengandung senyawa alkaloid.
Pengaruh Konsentrasi Etanol dan Waktu Ekstraksi Eceng Gondok dengan Metode Vacuum Microwave Assisted Extraction pada Daya 300 Watt Putri, Angelina; Luviana, Angely; Malik, Dava Maulana; Nurhasanah, Santy; Salsabila, Shafira; Sihombing, Rony Pasonang; Paramitha, Tifa
Prosiding Industrial Research Workshop and National Seminar Vol. 14 No. 1 (2023): Vol 14 (2023): Prosiding 14th Industrial Research Workshop and National Semina
Publisher : Politeknik Negeri Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35313/irwns.v14i1.5386

Abstract

Eceng gondok (Eichornia crassipes) merupakan tanaman gulma yang dapat tumbuh cepat dalam air dan dapat mengakibatkan masalah ekologis di beberapa daerah sehingga diperlukan adanya pengendalian dan pemanfaatan. Pemanfaatan eceng gondok dapat dilakukan dengan mengambil senyawa kimia di dalamnya melalui proses ekstraksi untuk selanjutnya dapat diolah menjadi produk bernilai ekonomi. Penelitian ini dilakukan untuk mendapatkan rendemen ekstrak yang paling tinggi dengan lebih efektif dan efisien. Pada penelitian ini dilakukan ekstraksi eceng gondok melalui metode Vacuum Microwave Assisted Extraction (VMAE) menggunakan pelarut etanol dengan variasi konsentrasi 70% dan 96% serta waktu ekstraksi yang digunakan adalah 8, 10, dan 15 menit. Setelah itu, hasil ekstrak dipekatkan menggunakan rotary vacuum evaporator pada tekanan 200 mBar, suhu 40°C, dan putaran 60 rpm. Analisis yang dilakukan adalah analisis kadar gravimetri, perhitungan rendemen, serta dilakukan uji fitokimia. Dari analisis gravimetri diketahui kadar air awal eceng gondok sebesar 91.2% dan mengalami penurunan menjadi 5.63%. Hasil ekstrak dengan rendemen tertinggi sebesar 61.07% didapatkan pada konsentrasi etanol 96% dengan waktu 8 menit. Berdasarkan uji fitokimia, diketahui bahwa ekstrak eceng gondok mengandung senyawa alkaloid.
Pengaruh Pelarut dan Daya Microwave terhadap Hasil Ekstrak Daun Pepaya dengan Metode Microwave Assisted Extraction Luviana, Angely; Putri, Angelina; Alatif, Ikhsan Akmal; Nurulgina, Rahma; Permatasari, Rahma Puspa; Sihombing, Rony Pasonang; Paramitha, Tifa
Prosiding Industrial Research Workshop and National Seminar Vol. 14 No. 1 (2023): Vol 14 (2023): Prosiding 14th Industrial Research Workshop and National Semina
Publisher : Politeknik Negeri Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35313/irwns.v14i1.5388

Abstract

Indonesia merupakan negara yang kaya akan sumber daya alam, salah satunya kekayaan alam flora. Hal ini dipengaruhi karena Indonesia beriklim tropis. Salah satu tanaman yang banyak tumbuh di wilayah Indonesia adalah pohon pepaya. Pada tahun 2021, jumlah pepaya di Indonesia mencapai 1.168.266 ton dan mengalami kenaikan sebesar 14,94% dari tahun sebelumnya. Salah satu upaya untuk meningkatkan manfaat daun pepaya yaitu dengan mengekstraksi daun pepaya tersebut untuk digunakan sebagai inhibitor korosi. Penelitian ini bertujuan untuk mengekstraksi daun pepaya dengan memvariasikan jenis pelarut yang digunakan yaitu metanol dan etanol serta daya microwave yang digunakan sebesar 150, 300, dan 450 watt. Metode ekstraksi yang digunakan adalah Microwave Assisted Extraction (MAE) dengan waktu ekstraksi selama 15 menit. Analisis yang dilakukan adalah analisis kadar air, rendemen, dan uji fitokimia untuk mengetahui kandungan senyawa dalam ekstrak daun pepaya secara kualitatif. Hasil pengujian kadar air sebelum dan setelah pengeringan didapatkan bahwa kadar air awal daun pepaya sebesar 70,87% dan mengalami penurunan menjadi 6,92%. Sementara itu, rendemen ekstrak daun pepaya dengan pelarut metanol lebih besar dibandingkan rendemen dengan pelarut etanol, yang mana rendemen tertinggi dengan pelarut etanol dan metanol berturut-turut sebesar 72,07% dan 72,41%. Berdasarkan uji fitokimia dihasilkan bahwa ekstrak daun pepaya mengandung senyawa alkaloid.
Co-Authors -, Alfiana Adhitasari Adi Rizki Nugraha Ageng Priyambudi Ahmad Fauzan Alamsari, Jasinta Putri Alatif, Ikhsan Akmal Alfiana Adhitasari Alisya Nurbaits Althafa Muntaqin Anindita, Faradila Anisa, Vira Rizki Annisa Nurlatifah Asyari, Restu Adji Alif Azzahra, Rafila Chika Bambang Soeswanto Bambang Soeswanto binti Jamaluddin, Jamarosliza C. Yudha Hidayatulloh Cecep Yudha Hidayatullah Dieni Nurul Fathiyyah Fajriati, Ramadhana Suci Fatah, Khalaida Fania Fatimah Fauzan, Rizky Ferawati, Yohana Fransiska Fitriani, Desti Gunawan, Sinna Chaerunnabila Hariyadi, Tri Hidayatulloh, Irwan Ibrahim, Idham Kholid Indarti, Retno Jayanti, Retno Dwi Keryanti, Keryanti Khalisha, Keira Kharisma, Luthfiana Krista, Gustin Mustika Kurnia, Dianty Rosirda Dewi Lutfiah Rahmasari Luviana, Angely Malik, Dava Maulana Marlina, Ari Maryani, Anisya Sri Muhammad Fadly Wiryawan Kautsar, Muhari, Emma Hermawati Muhari, Emma Hermawati Muhari Mukhtar Gozali Nanda Liant Kumara Ngatin, Agustinus Nidaa’ Rihhadatul ‘Aisya Komara Nidaulhusna, Anisa Ninik Lintang Edi Wahyuni Nurbaits, Alisya Nurcahyo Nurcahyo, Nurcahyo Nurhasanah, Santy Nurulgina, Rahma Paramitha, Tifa Permanasari, Ayu Ratna Permatasari, Rahma Puspa Puspita, Nina Putri Utami Dita Cahya Putri, Angelina Rahmawati, Sri Puji Ramadan, Naufal Alip Cahya Ramadhan, Muhammad Zikri Ramadhani, Isma Afifah Renata, Calvin Aditya Restu Adji Alif Asyari Retno Indarti Reynaldi, Randi Rijal Muyasar Fahmi Risnandar, Tiara Devita Rispiandi Rispiandi Robby Sudarman Rusmana, Muchamad Raihan Surya Sajida, Gita Nur Salsabila Nisrina Junaedi Salsabila, Intan Salsabila, Iva Najwa Salsabila, Shafira Salsabilla, Iva Najwa Sari, Hermin Kartika Sari, Radianti Novita Silalahi, Rafael Leonardo Solehuddin Al-Ayubi Solehudin Al-Ayubi Sudrajat Harris Abdulloh Suminar, Dian Ratna Suryadi, Joko Tamba, Alfonsius Perdija Taufiqurohim, Teguh Tika Paramitha Tri Hariyadi Unung Leoanggraini Wahyu Wibisono Widya Fitria Nur Fauziah Wina Maulida Yulistiani, Fitria Yunus Tonapa Sarungu Yusmardhany Yusuf Yusmardhany Yusuf Yusuf, Yusmardhany Zafarina, Alizza Asry