Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

PENGUATAN KAPASITAS FASILITATOR DAERAH (FASDA) DALAM GERAKAN LITERASI-NUMERASI DASAR BERBASIS KARAKTER DAN INKLUSI SOSIAL Taufikurrahman Taufikurrahman; Syarifudin Syarifudin; Nurrahmah Nurrahmah; Mulyadi Mulyadi; Abd. Haris
Taroa: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 5 No. 1 (2026): Januari
Publisher : LPPM IAI Muhammadiyah Bima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52266/taroa.v5i1.6308

Abstract

Kemampuan literasi dan numerasi dasar merupakan fondasi penting dalam membangun kecakapan berpikir kritis, pemecahan masalah, dan pembentukan karakter peserta didik. Namun, hasil asesmen nasional dan temuan lapangan menunjukkan bahwa capaian literasi–numerasi siswa sekolah dasar di Kabupaten Bima masih tergolong rendah, terutama di wilayah dengan keterbatasan sumber daya pendidikan. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk menguatkan kapasitas Fasilitator Daerah (Fasda) dalam mengimplementasikan pembelajaran literasi–numerasi dasar berbasis karakter dan inklusi sosial melalui Program GEMAR Literasi Kabupaten Bima. Metode pelaksanaan menggunakan pendekatan capacity building dengan tiga tahapan utama, yaitu pelatihan konseptual dan praktis, pendampingan dan refleksi lapangan di sekolah mitra, serta lokakarya berbagi praktik baik. Kegiatan ini melibatkan 14 Fasda dari berbagai sekolah dasar di Kabupaten Bima. Evaluasi dilakukan melalui pretest–posttest, observasi, dan wawancara reflektif. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan signifikan kompetensi Fasda pada aspek literasi–numerasi dasar, fasilitasi pembelajaran berbasis karakter, dan penerapan prinsip inklusi sosial. Selain itu, Fasda mampu mengembangkan praktik literasi kontekstual yang mengintegrasikan kearifan lokal masyarakat Bima. Temuan ini menunjukkan bahwa penguatan kapasitas Fasda berbasis karakter dan inklusi sosial efektif dalam membangun ekosistem literasi–numerasi yang adaptif dan berkelanjutan.
Exploring Polya's Problem-Solving Stages, Cognitive Components, and Role Change Dynamics in Mathematical Problem-Solving Discussions Abdul Haris; Muslim Muslim; Mutmainah Mutmainah; Adi Apriadi Adiansha
Jurnal Pendidikan Progresif Vol 16, No 2 (2026): Jurnal Pendidikan Progresif
Publisher : FKIP Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jpp.v16i2.pp910-930

Abstract

This study aims to examine the effectiveness of integrating Polya's problem-solving stages with commognitive discourse practices in collaborative learning, and to describe the associations among Polya's stages, commognitive components, and the dynamics of role change in mathematical problem-solving discussions, as well as their contributions to the development of mathematical thinking quality. A quantitative approach with a quasi-experimental Non-Equivalent Control Group Design was employed. Participants were pre-service teacher students at STKIP Taman Siswa Bima, assigned to an experimental class (n = 30) and a control class (n = 30). Data were collected using a mathematics problem-solving test based on Polya's four stages and structured observation instruments that measured cognitive components and changes in discussion roles. Data analysis included Rasch-model-based instrument quality testing, normality and homogeneity prerequisite tests, a paired-samples t-test for each class separately to assess within-group pre-post differences (df = 29 per class), an independent-samples t-test on N-Gain scores to compare treatment effectiveness between classes (df = 58), and an N-Gain analysis to assess treatment effectiveness. Instruments demonstrated strong validity (PTMEA Corr. = 0.40–0.65) and high reliability (person reliability = 0.87–0.88). The experimental class showed significantly greater improvement in mathematical problem-solving ability than the control class (posttest means: 49.5 vs. 43.7). The paired t-test confirmed a significant pre–post improvement in the experimental class [t(29) = 2.435, p = 0.021] but not in the control class [t(29) = 1.295, p = 0.206]. Observational data indicated that activation of commognitive components:  consistent use of mathematical terms, visual mediators, and justification narratives, and the emergence of dynamic role changes during discussion were associated with improvements in problem-solving quality. Mathematical problem solving develops more effectively when Polya's heuristic stages are integrated with cognitive-discursive practices that foster epistemic role changes in collaborative discussions. This integration offers an innovative framework for designing meaningful, discussion-based mathematics learning. Keywords: mathematical problem solving, Polya’s stages, commognitive, collaborative discussion, role change.
Pengaruh Pembelajaran Matematika Berbasis Deep Learning untuk Menikatkan Minat Belajar Siswa Kelas V Di SDN Inpres Sanolo Kurniati; Mariamah; Abd Haris; Suciyati; Nanang Diana
Jurnal Pendidikan, Sains, Geologi, dan Geofisika (GeoScienceEd Journal) Vol. 7 No. 3 (2026): August
Publisher : Mataram University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/goescienceed.v7i3.2227

Abstract

Learning interest is one of the important factors that influence students' success in the learning process, particularly in mathematics. However, in reality, students' interest in mathematics is still relatively low because many students perceive mathematics as a difficult and boring subject. This condition causes students to be less active and less enthusiastic in participating in learning activities. This study aimed to determine the effect of Deep Learning-based mathematics instruction on the learning interest of fifth-grade students at SDN Inpres Sanolo. The study employed a quantitative approach using an experimental method with a One Group Pretest-Posttest Design. The research sample consisted of 15 students selected using the total sampling technique, in which all members of the population are included as research participants. Since the study involved only 15 fifth-grade students, all students were used as the sample. Data were collected through observation, questionnaires, and documentation. The data were analyzed using the Paired Sample t-Test. The results showed that the implementation of Deep Learning-based mathematics instruction was able to improve students' learning interest. The average learning interest score increased from 48.3 in the pretest to 81.3 in the posttest. The results of the Paired Sample t-Test indicated a significance value of less than 0.001, meaning that there was a significant effect of Deep Learning-based mathematics instruction on students' learning interest. Furthermore, the N-Gain analysis result of 75% indicated a moderately effective category. Therefore, it can be concluded that Deep Learning-based mathematics instruction has a positive and significant effect on improving the learning interest of fifth-grade students at SDN Inpres Sanolo.
Analisis Refleksi Murid SMP Kelas IX pada Pembelajaran Matematika Kontekstual Materi SPLDV Aura Aura; Fatmah Fatmah; Muhammad Yusuf; Nurrahmah Nurrahmah; Abd. Haris; Arif Rahman Hakim; Arif Hidayad
JagoMIPA: Jurnal Pendidikan Matematika dan IPA Vol. 6 No. 3 (2026): JagoMIPA: Jurnal Pendidikan Matematika dan IPA
Publisher : Yayasan Pendidikan Bima Berilmu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53299/jagomipa.v6i3.4800

Abstract

Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan proses refleksi murid dan mengidentifikasi aspek-aspek refleksi yang muncul dalam pembelajaran matematika berbasis kontekstual pada materi Sistem Persamaan Linear Dua Variabel (SPLDV). Kebaruan penelitian ini terletak pada kajian mendalam mengenai refleksi murid SMP dalam pembelajaran SPLDV berbasis kontekstual melalui analisis terpadu aspek kognitif, afektif, dan aplikatif yang masih jarang dieksplorasi pada penelitian sebelumnya. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus yang dilaksanakan pada murid kelas IX E SMP Negeri 2 Bolo sebanyak 32 orang. Data dikumpulkan melalui refleksi tertulis, wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan reduksi data, pengodean terbuka, kategorisasi, penafsiran tematik, serta triangulasi sumber dan teknik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses refleksi murid berlangsung melalui tahapan mengingat pengalaman belajar, memahami materi, mengidentifikasi kesulitan, mengevaluasi strategi penyelesaian, serta mengaitkan konsep SPLDV dengan situasi kehidupan sehari-hari. Aspek refleksi yang muncul meliputi aspek kognitif, afektif, dan aplikatif. Secara kognitif, murid memahami prosedur penyelesaian SPLDV meskipun pemahaman konseptual belum sepenuhnya mendalam. Secara afektif, pembelajaran kontekstual meningkatkan minat dan keterlibatan belajar. Secara aplikatif, murid mampu menghubungkan konsep dengan berbagai permasalahan nyata. Dengan demikian, refleksi murid berkembang melalui serangkaian proses evaluatif yang menghasilkan tiga aspek refleksi utama dalam pembelajaran matematika berbasis kontekstual.