Wirdanengsih Wirdanengsih
Postgraduate Student At The School Of Postgraduate Studies, Universitas Pendidikan Indonesia, Lecturer Of UniversitasNegeri Padang, Indonesia

Published : 27 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 27 Documents
Search

TRADISI “ MANDOA” UNTUK ANAK KHATAM QURAN DALAM KELUARGA LUAS MINANGKABAU ( STUDI ETNOGRAFI, TRADIS MANDOA ANAK BERKHATAM QURAN DI TIGO BALEH BUKIT TINGGI SUMATERA BARAT) Wirdanengsih Wirdanengsih
Jurnal Harkat : Media Komunikasi Gender Jurnal Harkat : Media Komunikasi Gender, 12(1), 2016
Publisher : Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA), Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1835.437 KB) | DOI: 10.15408/harkat.v12i1.7583

Abstract

Upacara tradisional memiliki fungsi dalam mengokohkan nilai –nilai dan norma yang berlaku ditengah masyarakat. Salah satu bentuk bentuk upacara  tradisional Minangkabau adalah tradisi mandoa bagi anak yang berkhatam Quran . Upacara ini patut diteliti dalam rangka menghargai budaya dan mempertahankan identitas diri bangsa serta upaya membangun karakter anak. penelitian ini memiliki tujuan  menghasilkan suatu naskah yang berisikan diskripsi  upacara mandoa bagi anak yang berkhatam Quran . Metode penelitian ini penelitian kualitatif dengan pendekatan etnografi. Alasan daerah Tigo Baleh bukit tinggi dan kabupaten Agam di jadikan daerah penelitian  diantaranya atas dasar bahwa daerah ini yang tetap mempertahankan tradisi mandoa anak berkhatam Quran dari tahun ke tahun. Hasil Penelitian menunjukan  bahwa tradisi mandoa bagi anak berkhatam Quran ini di daerah Bukit tinggi dan kabupaten  Agam Sumatera Barat memiliki tujuan memberikan pengakuan  kepada  akan keberhasilan dalam membaca Alquran secara baik dan benar,  pemberian kasih sayang  dari berbagai karib kerabat . Tradisi mandoa ini adalah pengakuan dan penghormatan secara adat keluarga/family  pihak ayah ( bako) kepada anak yang disebut dengan anak pisang.). Tradisi mandoa ini juga pengakuan atas asal usul diri seorang anak, dimana sianak  berasal dari keturunan yang dianggap terhormat dan beradab di tengah masyarakat... Jadi tradisi mandoa menjadi penting karena membangun suatu hubungan silaturahmi yang baik  Tradisi mandoa juga dapat menjadi sarana  untuk mendidik  diri menjadikan orang untuk bersifat manusiawi,  memupuk semangat gotong royong, suka berkorban dan selalu bersyukur  atas karunia yang telah di berikan oleh yang Maha Kuasa
Orang Minangkabau dalam Tradisi Rewang dan Nyumbang Ratih Purwati Ningsih; Wirdanengsih Wirdanengsih
Culture & Society: Journal Of Anthropological Research Vol 4 No 1 (2022): Culture & Society: Journal of Anthropological Research (June 2022)
Publisher : Labor Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/csjar.v4i1.100

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk meneliti modal sosial tradisi rewang pada masyarakat Jawa di Desa Penelitian ini menjelaskan mengenai orang Minang dalam tradisi rewang dan nyumbang di Jorong Pujorahayu Nagari Koto Baru Kabupaten Pasaman Barat. Tradisi rewang dan nyumbang di Jorong Pujorahayu tidak hanya dilakukan oleh orang Jawa saja, tetapi juga dilaksanakan oleh orang Minang yang tinggal di daerah tersebut. Hal ini menjadi menarik karena tradisi rewang dan nyumbang sejatinya adalah tradisi yang dimiliki masyarakat Jawa. Teori yang digunakan dalam penelitian ini yaitu teori pemberian dari Marcel Mauss. Marcel Mauss berpendapat bahwa, tidak ada pemberian secara gratis atau cuma-cuma namun segala bentuk pemberian haruslah dibarengi dengan imbalan atau pemberian kembali. Pendekatan penelitian ini adalah kualitatif dengan metode etnografi. informan dalam penelitian ini berjumlah 15 orang, diantaranya : 10 orang orang Jawa dan 5 orang Minangkabau. Data dikumpulkan melalui teknik observasi, wawancara, dan studi dokumen. Hasil penelitian ini menjelaskan partisipasi orang Minangkabau dalam tradisi rewang dan nyumbang, seperti bekerja sama atau melakukan gotong royong untuk membantu terselenggaranya sebuah hajatan dan turut serta me-nyumbang dalam acara hajatan yang ada di Jorong Pujorahayu
Social Integration of Multiethnic Community of Padang City Based on Local Wisdom Hafsyari Icha; Isnarmi Moeis; Junaidi Indrawadi; Fatmariza Fatmariza; Wirdanengsih Wirdanengsih
MUHARRIK: Jurnal Dakwah dan Sosial Vol 5 No 2 (2022): Muharrik: Jurnal Dakwah dan Sosial
Publisher : Fakultas Dakwah Institut Agama Islam Sunan Giri Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37680/muharrik.v5i1.1365

Abstract

The reason for this study was to examine the social coordination of multiethnic culture that happens amidst individuals of the city of Padang which comprises of different ethnic gatherings, societies, religions, races and nationalities. The ethnic gatherings that is occupy the city of Padang are the Minangkabau and Nias ethnic gro ups. This exploration is a subjective endlessly research information got through perception, inside and out meetings and documentation. The information were broke down through the phases of information decrease, information show and making determinations or confirmation. The legitimacy of the information was tried by utilizing the information source triangulation procedure. The consequences of the review show : 1) the type of social coordination of multiethnic networks as the premise of nearby insight in the city of Padang is found in the presence of the Nias Padang people group and the Nias Padang wedding custom. 2) the elements behind the acknowledgment of neighborhood astuteness in the social mix of the multiethnic local area of the city of Padang should be visible from verifiable variables, social variables and social elements.
Jaringan Sosial Pedagang dalam Mempertahankan Usaha Pada Masa Pandemi di Kawasan Jembatan Siti Nurbaya Melisa Azari; Wirdanengsih Wirdanengsih
Jurnal Perspektif Vol 5 No 3 (2022): Jurnal Perspektif: Jurnal Kajian Sosiologi dan Pendidikan, Universitas Negeri Pad
Publisher : Labor Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/perspektif.v5i3.666

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan peran jaringan sosial pedagang di kawasan wisata Jembatan Siti Nurbaya dalam mempertahankan usaha pada masa pandemi Covid-19. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya kemandekan usaha yang dialami oleh pedagang pada saat pandemi dapat diketahui bahwa pedagang tidak hanya membutuhkan modal material tetapi juga diperlukan kekuatan jaringan sosial untuk mempertahankan usahanya. Dalam penelitian dikaji menggunakan teori jaringan sosial yang dikemukakan oleh Mark Granovetter. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan tipe penelitian deskriptif. Pemilihan informan dilakukan secara purposive sampling dengan 13 orang sumber informan. Pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi non partisipasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi, serta keabsahan data dilakukan dengan triangulasi data. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan analisis interaktif seperti yang dikembangkan Miles dan Huberman dengan langkah-langkah pengumpulan data, reduksi, penyajian dan kesimpulan. Hasil penelitian dari jaringan sosial sosial di dalam mempertahankan usaha pisang kapik pedagang memanfaatkan jaringan sosial yang dimilikinya agar usaha yang mereka rintis tidak gulung tikar 1) Sesama pedagang pisang kapik 2) Pemerintah setempat 3) aktor pemberi pinjaman modal usaha.
Penguatan Kohesi Sosial Melalui Peran Aktif Masyarakat Seberang Palinggam Junaidi Indrawadi; Isnarmi Moeis; Maria Montessori; Wirdanengsih Wirdanengsih; Fatmariza Fatmariza; Arieska Dwi Asmil; Hafsyari Hafsyari
ABDI: Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat Vol 4 No 2 (2022): Abdi: Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat
Publisher : Labor Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/abdi.v4i2.229

Abstract

In fact, each ethnic group that is scattered in Indonesia has a natural tendency to create social cohesion internally and externally. This can be seen from the relationships, interactions, and integration processes that are built within a certain period of time as one of the impacts arising from assimilation. Assimilation is an important note for heterogeneous communities full of differences to respect each other's differences through an attitude of tolerance, cooperation, and the application of various teachings of unity that have been believed to be passed down through tradition. The efforts in question have been seen in the multi-ethnic and multi-religious Seberang Palinggam community. For this reason, this paper will analyze more deeply the efforts made by the Seberang Palinggam community in strengthening their social cohesion. This analysis was carried out by collecting data in the form of observations, documentation, and interviews related to the wisdom possessed by local communities and interactions in the social life of their citizens. The results show that strengthening social cohesion arises from strengthening the traditions of each tribe which basically has the principles of 'unity' and 'brotherhood'. This principle can be seen from the tradition of Baralek Basamo, symbolic of the Bulek Chicken, Selaju Sampan Dayuang Palinggam, and others.
Ziarah Kubur ke Makam Syekh Burhanuddin Masa Pandemi Covid-19 (Studi Fungsional: Aktivitas Peziarah di Makam Syekh Burhanuddin) Salsa Yusari Dilta; Wirdanengsih Wirdanengsih; Muhammad Hidayat
Culture & Society: Journal Of Anthropological Research Vol 4 No 2 (2022): Culture & Society: Journal of Anthropological Research (December 2022)
Publisher : Labor Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/csjar.v4i2.101

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan mengapa masyarakat tetap melakukan ziarah kubur ke makam Syekh Burhanuddin pada masa pandemi Covid-19. Hal menarik di masa pandemi Covid-19, masyarakat tetap melakukan ziarah kubur ke makam Syekh Burhanuddin. Penelitian ini dianalisis dengan Teori Fungsional Bronislaw Malinowski dalam menjawab pertanyaan tujuan pada penelitian. Teori fungsional mengkaji tiga tingkatan abstraksi yaitu (1) Fungsi sosial mengenai pengaruh terhadap adat, tingkah laku manusia dan pranata sosial, (2) Fungsi sosial mengenai pengaruh terhadap kebutuhan suatu adat, (3) Fungsi sosial mengenai pengaruh terhadap kebutuhan mutlak secara terintegrasi dari suatu sistem sosial tertentu. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu pendekatan kualitatif, dengan jenis penelitian etnografi. Pemilihan informan dilakukan secara teknik purposive sampling dengan 8 orang informan, pengumpulan data dilakukan secara observasi, wawancara mendalam, studi kepustakaan, dan studi dokumentasi. Untuk mengkaji kredibilitas dari penelitian digunakan teknik triangulasi data. Data dianalisis dengan teknik model analisis data berlangsung atau mengalir (flow model analysis) Miles dan Huberman dengan cara pengumpulan data, reduksi data, display data, dan verifikasi/menarik kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan ziarah kubur tetap dilakukan oleh masyarakat Tarekat Syattariyyah pada masa pandemi Covid-19 disebabkan karena adanya keyakinan yang kuat, anggapan masyarakat tentang penyakit yang datang dari Tuhan, dan penghormatan kepada Syekh Burhanuddin serta menganggap makam tersebut adalah makam keramat.
Badantam Pada Upacara Perkawinan Lora Oktavia; Wirdanengsih Wirdanengsih
Culture & Society: Journal Of Anthropological Research Vol 4 No 2 (2022): Culture & Society: Journal of Anthropological Research (December 2022)
Publisher : Labor Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/csjar.v4i2.115

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan kearifan lokal tradisi Badantam pada upacara perkawinan di Nagari Sandi Ulakan Kecamatan Ulakan Tapakis Kabupaten Padang Pariaman. Pelaksanaan tradisi Badantam pada masa pandemi COVID-19 didukung oleh partisipasi aktif masyarakat Nagari Sandi Ulakan. Penelitian ini dianalisis dengan menggunakan teori etnosains oleh James P. Spradley serta pendekatan kualitatif tipe etnografi. Lokasi penelitian yaitu di Nagari Sandi Ulakan. Teknik pemilihan informan yaitu purposive sampling dengan informan berjumlah 15 orang. Teknik pengumpulan data yaitu observasi partisipasi, wawancara mendalam dan dokumentasi. Untuk mendapatkan data yang valid dilakukan triangulasi data. Analisis data menggunakan model analisis etnosains. Hasil penelitian ini menunjukkan kearifan lokal dari tradisi Badantam berupa nilai-nilai dari tradisi Badantam yang masih menjadi kebudayaan masyarakat hingga sekarang ini di Nagari Sandi Ulakan. Nilai-nilai dari tradisi Badantam yaitu: tolong menolong, silaturrahmi, kebersamaan, persatuan, kekeluargaan dan suka rela.
Pembangunan Pariwisata di Sekitar Slum Area Perkotaan:Dari Marginalisasi Menuju Transformasi Delmira Syafrini; Nurlizawati Nurlizawati; Wirdanengsih Wirdanengsih; Bunga Dinda Permata
Jurnal Kawistara Vol 13, No 1 (2023)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/kawistara.78942

Abstract

Makalah ini bertujuan untuk menjelaskan bagaimana pengembangan pariwisata yang dilakukan di sekitar kawasan Slum Area perkotaan, serta dampaknya terhadap transformasi kawasan dan komunitas lokal, dengan studi kasus kawasan pemukiman kumuh yang dihuni komunitas Nelayan di Pantai Purus Kota Padang. Hal ini menarik, karena kawasan di sekitar Pantai Purus dulunya diidentikkan dengan slum area yang dihuni oleh komunitas nelayan dengan streotipe yang negative, namun saat ini tumbuh menjadi lokasi pariwisata pantai andalan Kota Padang, bahkan nelayan menjadi bagian penting pembentuk dayatarik dan sense of place dalam pariwisata. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, dengan tipe studi kasus. Data diperoleh melalui observasi, wawancara dan studi dokumentasi. Observasi dilakukan untuk mengamati proses interaksi yang terjadi antara penduduk lokal dengan wisatawan, serta mengamati bagaimana mereka terlibat dalam berbagai aktivitas wisata. Sementara itu wawancara dilakukan dengan 22 informan, yang berasal dari berbagai kalangan, seperti pengambil kebijakan, komunitas yang tinggal di sekitar pantai, pedagang dan wisatawan  untuk mengetahui bagaimana proses pengembangan pariwisata, yang berdampak pada transformasi kawasan dan komunitas yang tinggal di sekitar Pantai Purus. Temuan penelitian menunjukkan bahwa pengembangan pariwisata telah mengubah kawasan ini, dari kawasan yang kumuh yang dihindari menjadi lokasi yang dikunjungi. Nelayan yang dulunya merasa menjadi kelompok yang menolak pembangunan pariwisata karena menjadi kelompok marginal, namun saat ini bertranformasi menjadi komunitas pendukung pariwisita. Pariwisata tidak hanya mengubah ruang dan fisik kawasan tetapi juga kehidupan sosial ekonomi dan budaya komunitas nelayan yang tinggal di sekitar kawasan. 
Solidaritas Sosial Masyarakat pada Tradisi Pajuguk Koum-koum Nurainun Nurainun; Wirdanengsih Wirdanengsih
Culture & Society: Journal Of Anthropological Research Vol 5 No 1 (2023): Culture & Society: Journal of Anthropological Research (June 2023)
Publisher : Labor Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/csjar.v5i1.124

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis solidaritas sosial pada tradisi pajuguk koum-koum di Jorong Lubuk Juangan Kecamatan Sungai Aur Kabupaten Pasaman Barat. Pajuguk koum-koum merupakan serangkaian acara yang dilaksanakan sebelum pesta perkawinan di Jorong Lubuk Juangan, Pajuguk koum-koum sudah menjadi suatu kebiasaan yang dibentuk oleh ninik mamak atau tokoh masyarakat yang bertujuan untuk menolong keluarga yang akan melaksanakan pesta pernikahan. Masyarakat Jorong Lubuk Juangan sebagian besar bermata pencaharian petani, pedagang dan ada juga sebagai peternak. Pesta perkawinan membutuhkan biaya yang cukup besar, pajuguk koum-koum dapat membantu beban keluarga dalam pelaksanaan pesta perkawinan. Permasalahan ini dianalisis dengan teori pemberian oleh Marcel Mauss. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kualitatif tipe etnografi. Pemilihan informan dilakukan melalui purposive sampling dengan jumlah informan keseluruhan sebanyak 12 orang. Data dikumpulkan melalui teknik observasi, wawancara mendalam, studi dokumen. Analisis data yang dilakukan dalam penelitian ini menggunakan model interaktif dikembangkan oleh Milles dan Huberman. Hasil temuan menunjukkan bahwa kegiatan pajuguk koum-koum dapat membentuk solidaritas dalam masyarakat. Hal ini terwujud ketika mempersiapkan tradisi pajuguk koum-koum melalui kerja sama dalam mengumpulkan alat dan bahan serta kerja sama dalam memasak nasi ketan (sipulut). Solidaritas sosial terdapat juga pada pelaksanaan pajuguk koum-koum yaitu tolong menolong dalam mengumpulkan dana, kerja sama dalam membagikan hidangan, makan bersama dan bersilaturahmi.
Pembudayaan Tradisi Membaca Alquran pada anak-anak di Masyarakat Balai Gurah Kabupaten Agam Sumatera Barat Wirdanengsih Wirdanengsih
Akademika: Jurnal Keagamaan dan Pendidikan Vol. 12 No. 2 (2016): Akademika: Jurnal Keagamaan dan Pendidikan | Desember 2016
Publisher : STAIN Bengkalis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56633/jkp.v12i2.11

Abstract

Balai Gurah adalah salah satu nagari  yang memiliki tradisi membaca Alquran pada anak-anak secara rutin  tiap hari. Nagari Balai Gurah dapat dikatakan sebagai nagari yang tidak ada  orang yang tidak mampu membaca Al Quran. Tujuan Penelitian ini  untuk mengambarkan tradisi membaca pada anak –anak dan bagaimana pola pendidkan membaca Alquran  di nagari Balai gurah. Penelitian ini mengunakan pendekatan kualitatif dimana data diambil dari observasi partisipasi, wawancara mandalam  dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukan  bahwa ada beberapa pola pendidikan membaca Alquran . Pola pendidikan membaca Al Quran  yang diselenggarakan oleh  pendidikan non formal ( Perguruan Awaliyah Quran), pola pendidikan membaca Alquran di rumah  dan pola pendidikan membaca Alquran   di tengah masyarakat melalui masjid sebagai pusat ibadah masyarakat. Pola pendidikan membaca Alquran  di PQA dilakukan pada jam 14.00 wib-18 wib .Pola pendidikan membaca  di rumah  pada 19.00 wib-20.00 wib. Dan pola pendidkan membaca Alquran di masjid pada jam 05.00-06.00 wib. Prinsip dalam pendidikan membaca Al Quran ini “ Lancar kaji karena di ulang. (Lancar Bacaan karena di ulang-ulang) yang akan bermakna terhadap tungkah laku anak . Proses pendampingan dari pihak  guru, orang tua  serta masyarakat menjadi pondasi utama dalam proses pembudayaan membaca Al Quran terhadap anak-anak