Claim Missing Document
Check
Articles

ZONASI PALEONTOLOGI CEKUNGAN KUTAI BAGIAN BAWAH, DAERAH BALIKPAPAN DAN SEKITARNYA, PROVINSI KALIMANTAN TIMUR -, Yuyun Yuniardi; -, Rahmat Fakhrudin; -, Lia Jurnaliah
Bulletin of Scientific Contribution Vol 8, No 2 (2010): Bulletin of Scientific Contribution
Publisher : Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (966.657 KB) | DOI: 10.24198/bsc.v8i2.8250

Abstract

Fossil of Foraminifera, Nannoplankton, and Pollen were got into rock sample in lower Kutai Basyn and very interesting to do research. Paleontology zone were made for deliniation of rocks formation in lower Kutai Basyn. Paleontology zone divided into three part : Foraminifera zone, Pollen zone, and Nannoplankton zone.
LINGKUNGAN PENGENDAPAN SATUAN BATULEMPUNG SISIPAN BATUPASIR PADA FORMASI KEREK DAERAH JUWANGI DAN SEKITARNYA, BERDASARKAN KARAKTERISTIK LITOLOGI, ANALISIS STRUKTUR SEDIMEN, DAN KANDUNGAN FOSIL BENTONIK Morina, Hana; Syafri, Ildrem; Jurnaliah, Lia
Bulletin of Scientific Contribution Vol 12, No 3 (2014): Bulletin of Scientific Contribution
Publisher : Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1031.812 KB) | DOI: 10.24198/bsc.v12i3.8375

Abstract

The research area is located in the Juwangi, Grobogan District, Central Java Province. Geographically located between 110o 44’ 19,536” BT – 110o 49’ 19,5384” BT dan 7o 13’ 53,2704” LS – 7o 8’ 53,2716” LS. Research using the method geological surface mapping. Determination of depositional environment unit based on the characteristic of lithology, sedimentary structures, and benthic foraminiferal. Based on the characteristic of lithology, this unit composed of mudstone and sandstone. Mudstone has a consideralable thickness, as sandstones insert. Sedimentary structures that are found in the form of parallel lamination and cross lamination shows that its transport medium is water. Benthic foraminiferal analysis result indicate that the bathymetry zone is outer neritic. So it can be estimated that the depositional environment of this unit are in the shallow marine.
DISTRIBUSI SUBMIKROFOSIL (POLEN DAN FORAMINIFERA) PADA DELTA FRONT DI DELTA MAHAKAM, KALIMANTAN TIMUR Jurnaliah, Lia; -, Winantris
Bulletin of Scientific Contribution Vol 13, No 3 (2015): Bulletin of Scientific Contribution
Publisher : Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (966.144 KB) | DOI: 10.24198/bsc.v13i3.8404

Abstract

The Research area located in the Mahakam Delta, East Kalimantan. The object of research are submicrofossils (pollen and foraminifera) in recent sample sediment derived from the delta front of Mahakam Delta. The amount of sediment that is researched as much as 29 samples. The results of the quantitative analysis showed pollen assemblage consists of 24 species of palmae, 21 species of mangrove and 117 species of non-mangrove. The collection of foraminifera consists of 82 species of small benthonic foraminifera. Based on cluster analysis, pollen assemblage consists of seven biofacies i.e. palmae-non mangrove, non-mangrove A, palmae-mangrove-non mangrove A, palmae-mangrove-non mangrove B, mangrove-non mangrove, palmae, and non-mangrove B . Similarly, foraminifera consists of seven biofacies i.e. biofacies I (Inner Shelf), biofacies II (Coastal lagoon-InnerShelf), biofacies III (Coastal bay – Inner Shelf), biofacies IV (Coastal lagoon/Coastal bay-Inner Shelf), biofacies V (Open estuary/Coastal lagoon-Inner Shelf), biofacies VI (Coastal bay/Coastal lagoon-Inner Shelf) and biofacies VII (mangrove swamp (marsh). The distribution of pollen and foraminifera in delta front suggest that the southern region was more influenced by sea compared with the northern region, and the central region is affected by tidal currents.
LINGKUNGAN PENGENDAPAN FORMASI KALIBENG PADA KALA MIOSEN AKHIR DI KABUPATEN DEMAK DAN KABUPATEN SEMARANG, JAWA TENGAH BERDASARKAN RASIO FORAMINIFERA PLANGTONIK DAN BENTONIK (RASIO P/B) Jurnaliah, Lia; Muhamadsyah, Faizal; Barkah, Mochammad Nursiyam
Bulletin of Scientific Contribution Vol 14, No 3 (2016): Bulletin of Scientific Contribution
Publisher : Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1537.615 KB) | DOI: 10.24198/bsc.v14i3.10965

Abstract

Research area is classified a  Lower Kalibeng Formation. Its age is Lower Miocene.  The total number of sediment samples is 29 samples that are carried out based on measured section with 10 metres interval.  The whole samples are processed by  hydrogen peroxide method.  Foraminifers’ quantitative analyses is conducted on each one gram of dry sample.  Based on ratio P/B value that range between 49.64% - 99.41%, Late Miocene Kalibeng Formation is deposited on marine environment.  The depositional process is beginning from neritic (outer neritic) – oceanic (upper bathyal-lower bathyal) – neritic (outer neritic) - oceanic (upper bathyal – lower bathyal). Keywords: Kalibeng Formation, plangtonic and benthic foraminifera, neritic, oceanic Daerah penelitian merupakan Formasi Kalibeng bagian bawah berumur Miosen Akhir..  Pengambilan 29 sampel sedimen dilakukan secara sistematis berdasarkan penampang terukur dengan interval 10 meter. Seluruh sampel sedimen diproses dengn menggunakan metoda hydrogen peroksida.  Analisis kuantitatif foraminifera dilakukan pada setiap 1 gram sampel kering berukuran >120 mesh.  Berdasarkan hasil perhitungan rasio foraminifera plangtonik dan bentonik (rasio P/B) yang berkisar antara 49,64% - 99,41%, Formasi Sungaibeng Kala Miosen Akhir terendapkan pada lingkungan marin dimulai dari neritik (neritik luar) – oseanik (batial bawah-batial atas) – neritik (neritik luar) dan terakhir adalah oseanik (batial bawah-batial atas). Kata Kunci:  Formasi Kalibeng, foraminifera plangtonik dan bentonik, neritik, oseanik
UMUR DAN LINGKUNGAN PENGENDAPAN SUB CEKUNGAN TARAKAN, KALIMANTAN UTARA BERDASARKAN DATA PALINOLOGI SUMUR RANU RISMAYANA, FADHILAH NUR; Sanusi, Winantris; Jurnaliah, Lia; Kurniadi, Dedy
Bulletin of Scientific Contribution Vol 20, No 2 (2022): Bulletin of Scientific Contribution : GEOLOGY
Publisher : Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/bsc.v20i2.41232

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui zonasi umur dan lingkungan pengendapan purba dari aspek palinologinya. Studi palinologi telah dilakukan terhadap 25 sampel cutting terpilih dari Sumur Ranu yang dibor di Sub-cekungan Tarakan yang terletak di Kalimantan Utara pada interval kedalaman 1270 sampai 11050 kaki. Metode asam standar teknik preparasi palinologi dilakukan untuk memisahkan polen dan spora dari sedimen, deskripsi dan determinasi untuk melihat karakteristik polen dan spora yang terdapat pada sampel penelitian menggunakan perhitungan kuantitatif berdasarkan kelimpahan individu. Melalui pendekatan zona selang, maka sumur ini dibagi menjadi 2 zona palinologi yaitu zona Florschuetzia meridionalis bagian atas sampai zona Stenochlaenidites papuanus bagian bawah dan zona Stenochlaenidites papuanus bagian atas yang dibatasi oleh kemunculan awal Stenochlaenidites papuanus. Selanjutnya taksa dikelompokkan berdasarkan kesamaan habitat lingkungannya dan dilakukan analisis lingkungan pengendapan purba dengan mengadaptasi klasifikasi lingkungan delta karena terdiri dari keberlimpahan mangrove, back-mangrove, peatswamp, dan freshwater. Hasil analisis menunjukkan bahwa umur relatif dari Subcekungan Tarakan berdasarkan data palinologi Sumur Ranu adalah Miosen Tengah sampai Pliosen Awal dengan lingkungan pengendapan dari lower delta plain (distal) sampai upper delta plain (distal).
METODE KUANTITATIF FORAMINIFERA KECIL DALAM PENENTUAN LINGKUNGAN Jurnaliah, Lia; Winantris, .; Fauzielly, Lili
Bulletin of Scientific Contribution Vol 15, No 3 (2017): Bulletin of Scientific Contribution:GEOLOGY
Publisher : Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (467.58 KB) | DOI: 10.24198/bsc.v15i3.15099

Abstract

ABSTRAKForaminifera adalah hewan uniseluler yang dapat berperan sebagai indikator lingkungan.  Metode kuantitatif foraminifera merupakan salah satu cara dalam penentuan lingkungan, diantaranya adalah rasio foraminifera plangtonik dan bentonik (rasio P/B), Triangular plot Murray dan Indeks αFisher.  Berdasarkan studi pustaka dan ulasan yang dilakukan terhadap ketiga metode tersebut dapat disimpulkan bahwa metode rasio P/B dapat digunakan dalam penentuan lingkungan laut dangkal dan laut dalam, tetapi tidak dapat digunakan untuk menentukan karakteristik ekologi dari lingkungannya.  Sementara itu, Metode Triangular Plot Murray dan Indeks α Fisher dapat digunakan hanya terbatas pada penentuan lingkungan laut dangkal, tetapi dapat digunakan untuk menentukan karakteristik ekologi lingkungannnya. Kata Kunci:  Foraminifera, rasio P/B, Triangular Plot Murray, Indeks α Fisher, lingkungan. ABSTRACTForaminifera is a unicellular animal can act as indicators of the environment. Quantitative methods foraminifera is one way in the determination of the environment, such as ratio of planktonic and benthonic foraminifera ratio (P/B ratio), triangular plot murray and the index α.Fisher. Based on the literature reviews of the third methods, it can be concluded that the ratio of P/B methods can be used in the determination of shallow marine and deep marine environment, but cannot be used to determine the characteristics ecology of its environment. On the other hand, method of Triangular Plot Murray and the index α Fisher can be used is limited to the determination of the shallow marine environments, but can be used to determine the characteristics ecology of its environment. Keywords:  Foraminifera, ratio P/B, triangular plot murray, index α fisher, environment
VARIASI KOMPOSISI DINDING CANGKANG FORAMINIFERA BENTONIK KECIL RESEN PERAIRAN SEMARANG (LEMBAR 1409), JAWA TENGAH -, Lia Jurnaliah
Bulletin of Scientific Contribution Vol 11, No 1 (2013): Bulletin of Scientific Contribution
Publisher : Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (550.627 KB) | DOI: 10.24198/bsc.v11i1.8284

Abstract

Foraminifera is a unicellular animal which has capability to form a test. Twenty samples of seafloor sediment Semarang waters are analyzed by using quantitative method. Every type of small benthic foraminifera test wall is counted. Based on foraminifera test wall analysis, there are 3 types of test wall: hyaline calcareous, porcelain calcareous, and agglutinin. The highest percentage of hyaline test is found in 24 meter, porcelain test is found in 37 meter, and agglutinin test is found in 51 meter. Hyaline test wall has the highest total individual, 140226 individual (59,45%). It shows that research area is shelf environment. 
PERUBAHAN LINGKUNGAN PENGENDAPAN PADA KALA MIOSEN AKHIR-PLIOSEN AWAL BERDASARKAN KUMPULAN FORAMINIFERA BENTONIK KECIL PADA LINTASAN KALI JRAGUNG, KABUPATEN DEMAK, JAWA TENGAH Jurnaliah, Lia; Syafri, Ildrem; Sudrajat, Adjat; Kapid, Roebiyanto
Bulletin of Scientific Contribution Vol 15, No 1 (2017): Bulletin of Scientific Contribution
Publisher : Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (724.689 KB)

Abstract

ABSTRACTResearch area is located in Demak regency, Northern Central Java. Sixteen samplesediments was carried out from 140 meter section in Jragung River with 10 meter interval.Species and specimen of small benthic foraminifera was quantified in every 1 (one) gramdry sample sediment. Cluster analyses of small benthic foraminifera assemblages showedthat research area is comprises of 4 (four) biofacies. There are Biofacies A-JR (deep seawith middle bathyal zone), biofacies B-JR (shallow sea with outer shelf zone), biofacies C-JR (deep sea with middle bathyal – abyssal zone) and biofacies D-JR (deep sea withmiddle bathyal – lower bathyal zone). Eventually, during Late Miocene – Early Pliocenethere were 8 (eight) times fluctuate environmental (bathymetric zone) changes from deepsea to shallow sea.Key words: Small benthic foraminifera, biofacies, deep sea, shallow seaABSTRAKDaerah penelitian terletak di Kabupaten Demak, Jawa Tengah. Sebanyak 16 sampelsedimen diambil pada LIntasan Kali Jragung sepanjang 140 meter dengan interval 10meter. Penghitungan jumlah spesies dan jumlah individu foraminifera bentonik kecildilakukan pada setiap 1 (satu) gram sampel sedimen kering. Berdasarkan analisis klusterterhadap kumpulan foraminifera bentonik kecil, daerah penelitian terbagi menjadi 4(empat) biofasies, yaitu: Biofasies A-JR dengan lingkungan laut dalam (zona batialtengah); Biofasies B-JR dengan lingkungan laut dangkal (zona paparan luar); BiofasiesC-JR dengan lingkungan laut dalam (zona batial tengah-zona abisal) dan Biofasies D-JRdengan lingkungan laut dalam (zona batial tengah-zona batial bawah). Selama KalaMiosen Akhir-Pliosen Awal daerah penelitian mengalami 8 (delapan) kali perubahanlingkungan laut (zona batimetri) yang fluktuatif dari laut dalam menjadi laut dangkal.Kata Kunci: Foraminifera bentonik Kecil, biofasies, laut dalam, laut dangkal
ANALISIS LINGKUNGAN PENGENDAPAN PURBA BERDASARKAN BIOFASIES ANGGOTA TUF NAPALAN FORMASI PAMUTUAN Haitami, Riza Rohmatul; Fatih, Rayhan; Jurnaliah, Lia; Winantris, .
Bulletin of Scientific Contribution Vol 23, No 1 (2025): Bulletin of Scientific Contribution : GEOLOGY
Publisher : Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/bsc.v23i1.59691

Abstract

Foraminifera merupakan organisme mikroskopik yang terdiri atas satu sel dan termasuk dalam filum Protista yang terbagi atas dua jenis yaitu foraminifera planktonik dan bentonik. Foraminifera bentonik kecil merupakan organisme yang dapat digunakan untuk merekonstruksi lingkungan purba dikarenakan cara hidupnya yang terbatas pada ekologi tertentu. Terdapat sepuluh sampel yang diambil dengan menggunakan metode acak pada singkapan permukaan litologi batugamping sisipan pasir Anggota Tuf Napalan Formasi Pamutuan. Analisis kluster menggunakan software SPSS digunakan untuk mengetahui biofasies daerah penelitian untuk selanjutnya dianalisis lebih lanjut dalam interpretasi lingkungan pengendapan purba. Penentuan lingkungan pengendapan purba dilakukan dengan menghitung dan interpretasi spesies-spesies foraminifera bentonik kecil yang mendominasi pada setiap biofasies. Daerah penelitian memiliki tujuh biofasies yang berkembang dengan lingkungan pengendapan purba umumnya yaitu transisi hingga laut dalam.Kata kunci: Foraminifera Bentonik Kecil, Pamutuan, Biofasies, Lingkungan Pengendapan
BIOSTRATIGRAFI KALA HOLOSEN TITIK CORE TR1926B, CEKUNGAN UTARA SELAT MAKASSAR, BERDASARKAN KUMPULAN FORAMINIFERA PLANKTONIK Amadeus, Marvel Samgar; Jurnaliah, Lia; Fauzielly, Lili; Hendrizan, Marfasran
Bulletin of Scientific Contribution Vol 23, No 2 (2025): Bulletin of Scientific Contribution : GEOLOGY
Publisher : Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/bsc.v23i2.61806

Abstract

Penelitian ini berfokus pada analisis biostratigrafi Kala Holosen di Cekungan Utara Selat Makassar berdasarkan kumpulan foraminifera planktonik dari inti core TR1926B. Interval core yang diteliti (182 – 206 cm) tersusun atas lempung berwarna hijau keabuan hingga abu-abu kehitaman dengan komponen fragmen cangkang skeleta. Berdasarkan penanggalan radiokarbon, interval yang diteliti berada pada rentang umur 9.966 hingga 11.774 tahun lalu. Sebanyak 8.136 individu foraminifera planktonik yang berasal dari 50 spesies dan 15 genus berhasil diidentifikasi dari total 23 sampel. Analisis biostratigrafi menurut zona Bolli & Saunders dan Blow menunjukkan bahwa interval yang diteliti masuk dalam Kala Holosen (Zona N23 Akhir), ditandai dengan kemunculan Globorotalia ungulata yang konsisten dari 11.774 hingga 9.966 tahun lalu. Spesies pendukung lainnya seperti Globigerina bermudezi, Globorotalia fimbriata, Globigerinella calida, dan Beella praedigitata ditemukan secara episodik dan tidak konsisten. Hasil penelitian ini memberikan wawasan mengenai biostratigrafi dan transisi iklim awal Holosen, serta menjadi landasan untuk studi paleoklimatologi lebih lanjut di wilayah ini.