Claim Missing Document
Check
Articles

Analisa Biaya dan Keuntungan Usaha Penangkapan Ikan Skala Kecil di Langkat, Sumatera Utara Mat Syukur; Sahat M. Pasaribu; Bambang Irawan; Achmad Suryana
Forum penelitian Agro Ekonomi Vol 5, No 1-2 (1987): Forum Penelitian Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/fae.v5n1-2.1987.9-14

Abstract

IndonesianTulisan ini menyajikan analisa biaya dan keuntungan usaha penangkapan ikan skala kecil di kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Analisa dilakukan berdasarkan jenis alat tangkap, dan ukuran kekuatan mesin (HP), dan musim ikan. Hasil analisa menunjukkan bahwa alat tangkap pukat Tuamang dan Belat memberikan penerimaan bersih yang relatif besar, dan Belat merupakan alat yang paling efisien jika ditinjau dari rasio keuntungan terhadap biaya yang dikeluarkan. Makin besar ukuran mesin kapal, makin besar penerimaan bersih dari usaha penangkapan ikan, naum kapal dengan mesin berukuran 5-7 HP memberikan efisiensi penggunaan biaya yang paling besar. Seperti diharapkan, pada musim sepi ikan, penerimaan nelayan dari usaha menangkap ikan relatif kecil.
Proses dan Dinamika Penyusunan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan Achmad Suryana; Munawar Khalil
Forum penelitian Agro Ekonomi Vol 35, No 1 (2017): Forum Penelitian Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/fae.v35n1.2017.1-17

Abstract

Legal drafting of the Food Law (Number 18/2012) was initiated by DPR RI using its initiative right. This law was issued in 2012 to replace the existing Food Law (Number 7/1996) because it was considered to be incapable to provide guidance for solving problems and challenges of national food development. This condition was due to significant changes in national and international strategic environment. Legal drafting processes of this law accommodated not only views of the parliament members of Working Committee representing their parties and the national government representatives coordinated by Ministry of Agriculture, but also from people’s aspirations through public consultations. From all subjects discussed, several issues were needed more intensive attentions, i.e. (a) meaning of food sovereignty, (b) position of imports to support food availability, (c) national food institution establishment, and (d) halal food issue. This paper aimed to write down processes and dynamics of legal drafting of this food law with those four issues as examples. It is expected that this article will be useful as information and lessons learned about legal drafting process and help stakeholders of food development to have more understanding of real meaning and intention of norms written in this Law. AbstrakPenyusunan Undang-Undang (UU) Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan diinisiasi DPR RI dengan menggunakan hak inisiatif. UU Pangan ini diterbitkan tahun 2012 mengganti UU Pangan yang ada waktu itu (No. 7/1996) yang dinilai sudah tidak mampu memberikan acuan untuk menjawab berbagai permasalahan dan tantangan pembangunan pangan nasional. Kondisi ini disebabkan oleh terjadinya perubahan yang signifikan  dari lingkungan strategis nasional dan internasional. Proses penyusunan UU Pangan ini tidak saja mengakomodasi pemikiran para anggota DPR dari Panitia Kerja RUU Pangan yang mewakili fraksinya dan wakil-wakil kementerian/lembaga pemerintah yang dikoordimir oleh Kementerian Pertanian, tetapi juga menampung berbagai aspirasi masyarakat melalui penyelenggaraan konsultasi publik. Dari keseluruhan materi yang dibahas dalam RUU Pangan, beberapa substansi memerlukan pembahasan yang lebih intens dan mendalam, empat isu diantaranya adalah: (a) pengertian kedaulatan pangan; (b) posisi impor dalam penyediaan pangan; (c) pembentukan kelembagaan pangan; dan (d) kehalalan pangan. Penulisan artikel ini bertujuan untuk mendokumentasi proses dan dinamika pembahasan UU Pangan, dengan pendalaman menggunakan empat isu tersebut di atas. Diharapkan tulisan ini bermanfaat sebagai informasi dan pelajaran berharga mengenai dinamika penyusunan UU Pangan, dan dapat membantu pemangku kepentingan pembangunan pangan lebih memahami arti sesungguhnya dan maksud dari norma-norma yang tercantum dalam UU Pangan ini.  
Konsumsi dan karakteristik rumah tangga kurang energi dan protein di Nusa Tenggara Mewa Arifin; Achmad Suryana; Delima H.A. Darmawan; Handewi Purwati Saliem
Forum penelitian Agro Ekonomi Vol 6, No 2 (1988): Forum Penelitian Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/fae.v6n2.1988.1-8

Abstract

IndonesianTulisan ini bertujuan untuk mengetahui tingkat konsumsi energi dan protein serta karakteristik rumahtangga yang kurang zat gizi tersebut di dua provinsi Nusa Tenggara dengan menggunakan data Susenas 1984 dan 1987. Perhitungan konsumsi energi dan protein yang digunakan dalam tulisan ini adalah unit konsumsi dengan satu unit kalori adalah 2530 gram/UP/hari. Kedua angka tersebut digunakan sebagai standar kecukupan konsumsi energi dan protein. Hasil analisis menunjukkan bahwa secara agregat konsumsi energi dan protein di Nusa Tenggara selama kurun waktu 1984-187 menunjukkan peningkatan. Rata-rata konsumsi energi di Nusa Tenggara Barat (NTB) tahun 1984 sebesar 2316 kalori/hari menjadi 2364 kalori/hari tahun 1987. Sementara itu pada kurun waktu yang sama, konsumsi energi di NTT sebesar 2178 kalori/hari menjadi 2690 kalori/hari dan konsumsi protein sebesar 52 gram/hari menjadi 57 gram/hari. Sejalan dengan peningkatan konsumsi tersebut, proporsi rumahtangga yang mengkonsumsi energi dan protein rendah mengalami penurunan. DI NTB proporsi rumahtangga dengan tingkat konsumsi energi rendah sebesar 45,1 persen di tahun 1984 menjadi 25,3 persen di tahun 1987, sedang di NTT dari 30,6 persen menjadi 17,1 persen. Sementara itu proporsi rumahtangga dengan tingkat konsumsi protein rendah di NTB sebesar 25,0 persen di tahun 1984 menjadi 22,0 persen di tahun 1987. Rumahtangga yang kurang energi dan protein banyak dijumpai pada rumahtangga yang beranggotakan lebih dari empat orang, dan rumahtangga yang mempunyai anak balita.
TINJAUAN HISTORIS TEKNOLOGI VARIETAS UNGGUL DAN PROGRAM INTENSIFIKASI DALAM PENINGKATAN PRODUKTIVITAS PADI BERKELANJUTAN Dewa K S Swastika; Adang Agustian; Achmad Suryana; Chairul Muslim; nFn Sunarsih; Resty Puspa Perdana
Forum penelitian Agro Ekonomi Vol 39, No 2 (2021): Forum penelitian Agro Ekonomi : In Press
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/fae.v39n2.2021.103-114

Abstract

Since 1943 hundreds of superior varieties of rice have been released, but domestic rice production has not been able to meet the national rice needs. One of the main problems is the decrease in fertile land due to continuous land conversion. Therefore, the main mainstay in increasing rice production is increasing productivity through technological improvements. For this reason, Balitbangtan continues to create new high-yielding varieties of rice through plant breeding. More than 200 high-yielding varieties of rice have been produced to meet the challenge of increasing productivity. This paper aims to examine the historical profile of the creation of superior rice varieties in line with intensification programs and their role in increasing national rice production. The study was conducted using a desk study approach, which was to examine secondary data and literature from various publications. The results of the study showed that the creation of high-yielding varieties accompanied by various intensification programs has succeeded in increasing rice productivity in a sustainable manner. The challenge for Balitbangtan is the creation of new high-yielding varieties with higher yields than those currently available.
Dinamika penelitian terapan aspek sosial ekonomi pertanian: Telaahan atas artikel dalam Forum Penelitian Agro Ekonomi Achmad Suryana
Forum penelitian Agro Ekonomi Vol 12, No 2 (1994): Forum Penelitian Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/fae.v12n2.1994.56-62

Abstract

IndonesianArtikel ini menyajikan telaahan atas kinerja terapan sosial ekonomi pertanian yang direkam melalui penerbitan Forum Penelitian Agro Ekonomi (FAE) yang diterbitkan oleh Pusat Penelitian Sosial Ekonomi Pertanian. Kajian dilakukan terhadap penerbitan FAE selama 10 tahun pertama (1982-1992). Kajian ditekankan pada kinerja komposisi para penulis penyumbang naskah dan substansi tulisan ditinjau dari aspek cakupan keilmuan, komoditas, dan lokasi. FAE dimasa datang disarankan untuk mulai menampung lebih banyak lagi artikel para penulis di luar peneliti PSE, menerbitkan naskah berbahasa Inggris. dan diarahkan sebagai ajang media komunikasi bagi Balai Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian yang tersebar di 27 propinsi yang dalam Repelita VI masuk ke dalam lingkup Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian.
Situasi Pasar Minyak Sawit di Jepang Sri Hery Susilowati; Achmad Suryana
Jurnal Agro Ekonomi Vol 7, No 2 (1988): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v7n2.1988.30-42

Abstract

EnglishPalm oil production in Indonesia is estimated to increase at the level of 23 percent of world production by the end of Pelita V. To anticipate this large increase, a serious effort should be done in order to increase Indonesian market share of this product. Japan is one of potential markets to absorb palm oil from Indonesia. Market information concerning this product in Japan is of our important if one wants to promote palm oil exports to this country. This paper presents palm oil market situation in this country especially on demand, consumption, and marketing channels and its impacts on the Indonesian palm oil exports.IndonesianDengan adanya rencana peningkatan produksi minyak sawit Indonesia pada akhir Pelita V mencapai sekitar 23 persen dan proyeksi produksi dunia, diperlukan upaya yang lebih keras untuk meningkatkan pangsa pasar minyak sawit Indonesia di pasar internasional. Jepang sebagai negara industri mempunyai potensi cukup tinggi dalam penggunaan minyak sawit sehingga pengembangan ekspor ke negara tersebut mempunyai prospek yang baik. lnformasi pasar minyak sawit di Jepang menjadi sangat penting bagi Indonesia dalam rangka mempromosikan ekspor komoditi ini ke negara tersebut. Makalah ini membahas situasi pasar minyak sawit di negara tersebut, terutama mengenai permintaan, konsumsi, dan saluran pemasaran, serta pengaruhnya terhadap ekspor minyak sawit Indonesia.
Analisa Permintaan Pupuk Urea dan TSP di Tingkat Petani pada Usahatani Jagung Budi Santoso; Achmad Suryana; Tahlim Sudaryanto
Jurnal Agro Ekonomi Vol 3, No 1 (1983): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v3n1.1983.1-18

Abstract

IndonesianSalah satu cara untuk meningkatkan produktivitas per ha pada tanaman jagung adalah dengan pemakaian pupuk yang lebih intensif. Tulisan ini mencoba mengungkapkan mengenai penggunaan pupuk, produksi dan pendapatan pada usahatani jagung serta faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan pupuk (Urea dan TSP) pada usahatani jagung di tingkat petani, juga sekaligus menguji kecocokan alat analisa fungsi permintaan pupuk pada tingkat petani. Dari hasil analisa menunjukkan bahwa petani jagung di daerah penelitian telah menggunakan Urea, tetapi sebagian kecil petani yang menggunakan TSP dan semua petani contoh belum menggunakan pupuk K. Usahatani jagung di daerah penelitian menguntungkan, namun demikian produksi per ha masih dapat ditingkatkan dengan meningkatkan penggunaan pupuk P dan K. Melalui analisa fungsi permintaan langsung diketahui bahwa variabel yang paling mempengaruhi besarnya permintaan pupuk adalah luas lahan garapan. Variabel lainnya seperti harga pupuk, biaya angkut, pengetahuan petani, varietas yang dipakai dan status penggarapan tidak berpengaruh secara nyata terhadap permintaan pupuk. Analisa permintaan pupuk di tingkat petani dengan menggunakan fungsi keuntungan UOP dan data primer tidak cocok. Diduga penyebabnya adalah tidak terpenuhinya syarat maksimisasi keuntungan pada usahatani yang dianalisa.
Keuntungan Komparatif Usahatani Ubikayu di Daerah Produksi Utama di Lampung dan Jawa Timur Achmad Suryana
Jurnal Agro Ekonomi Vol 1, No 1 (1981): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (350.493 KB) | DOI: 10.21082/jae.v1n1.1981.37-55

Abstract

IndonesianTanaman ubikayu mempunyai dua peranan, yaitu sebagai tanaman pangan dan tanaman perdagangan. Produk ubikayu berupa gaplek, pelet, dan tapioka merupakan komoditi ekspor yang menempatkan Indonesia pada urutan kedua setelah Thailand sebagai negara pengekspor ubikayu. Permintaan gaplek di pasar intemasional selama 10 tahun terakhir meningkat pesat terutama dari negara-negara MEE, tetapi Indonesia tidak sempat memanfaatkannya. Penyebabnya adalah elastisitas penawaran rendah karena pengelolaan usahatani ubikayu rakyat masih subsisten. Hal ini tercermin dari produksi ubikayu yang tidak mengalami kenaikan pada 10 tahun terakhir. Penyebab lainnya adalah permintaan ubikayu untuk bahan baku industri dalam negeri meningkat dan sebagian besar produksi ubikayu digunakan sebagai bahan pangan. Masalah pengembangan komoditi memang banyak, tetapi dapat kita golongkan pada dua macam masalah pokok, yakni: Potensi pengadaan dilihat dari segi biaya produksi dan sumberdaya yang tersedia.Kemampuan sistem tataniaga, yang harus tercermin pada kemampuan sistem itu memberikan respon terhadap perubahan permintaan pasar, di dalam maupun luar negeri.Penelitian ini mencoba menemukan jawaban atas sebagian dari permasalahan pertama. Daerah Lampung dan Jawa Timur dipakai sebagai daerah penelitian karena kedua daerah ini merupakan propinsi utama penghasil ubikayu di Jawa dan luar Jawa.
Situasi Pasar Minyak Sawit di Jepang Sri Hery Susilowati; Achmad Suryana
Jurnal Agro Ekonomi Vol 7, No 2 (1988): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (436.771 KB) | DOI: 10.21082/jae.v7n2.1988.30-42

Abstract

EnglishPalm oil production in Indonesia is estimated to increase at the level of 23 percent of world production by the end of Pelita V. To anticipate this large increase, a serious effort should be done in order to increase Indonesian market share of this product. Japan is one of potential markets to absorb palm oil from Indonesia. Market information concerning this product in Japan is of our important if one wants to promote palm oil exports to this country. This paper presents palm oil market situation in this country especially on demand, consumption, and marketing channels and its impacts on the Indonesian palm oil exports.IndonesianDengan adanya rencana peningkatan produksi minyak sawit Indonesia pada akhir Pelita V mencapai sekitar 23 persen dan proyeksi produksi dunia, diperlukan upaya yang lebih keras untuk meningkatkan pangsa pasar minyak sawit Indonesia di pasar internasional. Jepang sebagai negara industri mempunyai potensi cukup tinggi dalam penggunaan minyak sawit sehingga pengembangan ekspor ke negara tersebut mempunyai prospek yang baik. lnformasi pasar minyak sawit di Jepang menjadi sangat penting bagi Indonesia dalam rangka mempromosikan ekspor komoditi ini ke negara tersebut. Makalah ini membahas situasi pasar minyak sawit di negara tersebut, terutama mengenai permintaan, konsumsi, dan saluran pemasaran, serta pengaruhnya terhadap ekspor minyak sawit Indonesia.
Integrasi Pasar: Suatu Analisa pada Pasar Internasional Minyak Nabati Achmad Suryana
Jurnal Agro Ekonomi Vol 5, No 1 (1986): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (718.323 KB) | DOI: 10.21082/jae.v5n1.1986.1-9

Abstract

IndonesianKemampuan mengagregatkan suatu group komoditi atau mendifferensiasikan suatu komoditi akan sangat berguna bagi pemilihan dan perumusan model empirik dalam penelitian yang menyangkut perdagangan internasional. Analisa regresi sederhana harga dapat dipakai sebagai metoda untuk menentukan tingkat pengagregasian dan menditeksi adanya integrasi pasar. Dalam penelitian ini, metoda ini dipakai untuk menganalisa perilaku pasar international minyak nabati, khususnya minyak kedelai, minyak bunga matahari, minyak sawit, dan minyak kelapa. Hasil analisa menunjukkan bahwa integrasi pasar minyak nabati di pasar internasional EEC-10 meningkat overtime. Sementara itu differensiasi komoditi minyak nabati berdasarkan negara asal tidak mendapatkan dukungan dari hasil penelitian ini.