Claim Missing Document
Check
Articles

Found 32 Documents
Search

Plant acoustic frequency technology control system to increase vegetative growth in red-lettuce Yusuf Hendrawan; Adamsyah Harika Putra; Sumardi Hadi Sumarlan; Gunomo Djoyowasito
TELKOMNIKA (Telecommunication Computing Electronics and Control) Vol 18, No 4: August 2020
Publisher : Universitas Ahmad Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12928/telkomnika.v18i4.14158

Abstract

The application of plant acoustic frequency technology (PAFT) can spur plant growth, increase productivity, immune system, quality, and extend the shelf life of agricultural products after harvest. The application of sound waves in plants can stimulate the opening of the stomata to optimally absorb nutrients and water. This study aims to determine the effect of frequency and time of PAFT exposure by utilizing Javanese gamelan traditional music on the vegetative growth of red-lettuce (Lactuca sativa var.). Javanese gamelan music used was titled Puspawarna with variations in the frequency of 3-5, 7-9, and 11-13 kHz. The variation of exposure time of sound waves was 1, 2, and 3 hours. PAFT exposure was given routinely in the morning and evening. The results of this study indicated that the best treatment was at 3-5 kHz with an exposure time of 2 hours. This treatment gave a significantly better effect when compared to plants without PAFT. The best combination of frequency and time of PAFT exposure produced 10 leaves, plant height of 9.4 cm, wet weight of 4 g, dry weight of 0.22 g, leaf area of 27.19 cm2, leaf red mean of 63, and stomata opening width of 145.44~206.59 µm.
Modifikasi dan Uji Kinerja Implement Rotavator untuk Mencacah Serasah dan Tunggul Tanaman Tebu (Saccharum officinarum L.) untuk Ratoon Tubagus Irfan Khiari; Musthofa Lutfi; Gunomo Djoyowasito
Teknotan: Jurnal Industri Teknologi Pertanian Vol 14, No 1 (2020): TEKNOTAN, Agustus 2020
Publisher : Fakultas Teknologi Industri Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jt.vol14n1.4

Abstract

Tebu merupakan salah satu komoditi unggulan yang ada di Indonesia, industri perkebunan tebu di Indonesia memiliki luas 420,146 hektar. Penanganan serasah sisa panen tanaman tebu di Indonesia selama ini dilakukan dengan cara dibakar. Hal ini menimbulkan lebih banyak kerugian. Oleh karena itu dilakukan modifikasi untuk merubah bajak rotari menjadi trash mulcher untuk mencacah serasah tebu. Untuk mengetahui hasil kualitas dari pencacahannya dilakukan pengukuran berat panjang serasah, persentase hasil pencacahan, dan persentase perubahan ketinggian tumpukan. Dilakukan juga pengukuran kapasitas dan efisiensi lapang, konsumsi bahan bakar dan slip roda untuk menentukan kinerja implement. Hasil penelitian yang dilakukan menunjukkan hasil caahan berada pada kategori kualitas kurang baik dan perlakuan yang memunjukkan hasil paling baik adalah perlakuan dengan kecepatan maju traktor 4,13 km/jam. Pengujian analisi statis struktural yang meliputi deformasi total dan tegangan von mises dilakukan dengan menggunakan software ANSYS dengan material mild steel.  Nilai total deformasi pada desain sebelum dan sesudah modifikasi adalah 0,494 mm dan 0,052 mm. Sementara nilai tegangan von mises pada desain sebelum dan setealah modifikasi didaptakan sebesar 416,78 MPa dan 77.02 MPa. 
Rancangan Wadah Buah Tomat Untuk Menahan Getaran Selama Transportasi Berbahan Eceng Gondok dan Pelepah Pisang Ida Ayu Widhiantari; Sandra Malin Sutan; Gunomo Djoyowasito
The Indonesian Green Technology Journal Vol 5, No 1 (2016)
Publisher : Program Pascasarjana Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (941.458 KB)

Abstract

Faktor kerusakan buah tomat selama kegiatan transportasi antara lain dipengaruhi oleh besar kecilnya frekuensii getaran, dan lama waktu selama transportasi, sehingga dibutuhkan penanganan untuk dapat mengurangi kerusakan yang terjadi. Penggunaan bahan pengisi dari kombinasi serat eceng gondok dan pelepah pisang sebagai peredam getaran pada kotak kayu sebagai wadah tomat digunakan pada penelitian ini. Penelitian dilakukan dengan rancangan acak kelompok (RAK) terdiri dari dua faktor dan tiga level yaitu frekuensi getaran (3, 6, dan 9 Hz) dan lama waktu (120,150,180 menit). Penggunaan bahan peredam tersebut mampu mengurangi kerusakan mekanis selama simulasi transportasi dengan nilai persentase kerusakan sebesar 16,1566% pada frekuensi getaran 3 Hz. Begitu pula nilai susut bobot, tekstur, kecerahan, warna merah (a), dan warna kuning (b) buah tomat terbaik juga diperoleh pada frekuensi getaran 3 Hz masing-masing sebesar 3,5993%; 0,1287 kg/mm²; 31,77; 17,71; 18,75.Kata kunci:  kerusakan mekanis, peredam getaran, tomat
Unjuk Kerja Mesin Perajang Singkong Berbentuk Chips Produksi Balai Latihan Kerja (BLK) Wonojati, Malang Andi Setiawan; Bambang Susilo; Gunomo Djoyowasito
Jurnal Keteknikan Pertanian Tropis dan Biosistem Vol 7, No 3 (2019)
Publisher : Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jkptb.2019.007.03.06

Abstract

Pada tahun 2012-2016 perkembangan produktifitas Ubi kayu mengalami peningkatan sebesar 2,85% pertahun. Sedangkan luas Ubi kayu di Indonesia pada tahun 2015 seluas 0,95 juta hektar dan produksi yang dicapai sebesar 21,80 juta ton dengan produktivitas sebesar 22,95 ton/ha. Pada tahun 2016 luas panen ubikayu diproyeksikan seluas 1,11 juta hektar dengan produktivitas 20,23 ton/ha maka produksi Ubi Kayu nasional diharapkan mencapai 25 juta ton. Untuk meningkatkan value dari Ubi Kayu perlu di lakukan pengolahan terlebih dahulu sebelum di distribusikan kekonsumen. Hal ini bertujuan untuk menambah nilai ekonomi dari ubi kayu, yang berdampak pada para petani Ubi Kayu di Indonesia. Pengolahan Ubi kayu (singkong) bisa di lakukan dengan mengolahnya menjadi kripik singkong. Namun selama ini masyarakat masih menggunakan pengirisan secara manual. Untuk meningkatkan efisiensi proses serta kapasitas per satuan waktu, maka perlu penggunaan mesin perajang singkong secara otomatis untuk meningkatkan efisiensi perajangan singkong.  Berdasarkan pemaparakan yang telah di sebutkan di atas, maka penulis melakukan penelitian di Balai Latihan Kerja, untuk merancang dan menguji mesin yang terdapat di Balai Latihan Kerja. Mesin tersebut adalah mesin perajang singkong.  Keunggulan dari mesin Perajang singkong ini adalah Memiliki satu model irisan yakni irisan tipe chips, serta hasil irisan yang lebih banyak daripada irisan secara manual. Sehingga pada akhirnya mesin ini bisa di gunakan oleh masyarakat agar bisa dirasakan manfaatnya serta meningkatkan value dari produk singkong dan menambah nilai jual produk singkong.
Karakteristik Sifat Mekanik dan Evaluasi Tingkat Biodegradabilitas Pot Tanam Organik Berbasis Pelepah Pisang Klutuk (Musa Balbisiana Colla) Frilantika Kusuma Wardani; Yusuf Wibisono; Gunomo Djoyowasito
Jurnal Keteknikan Pertanian Tropis dan Biosistem Vol 5, No 3 (2017)
Publisher : Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (216.877 KB)

Abstract

Pelepah pisang merupakan limbah yang tidak tepat guna, tetapi memiliki kandungan serat yang tinggi dan berkualitas. Pada saat ini, mayoritas penggunaan pot tanam yang digunakan adalah pot tanam berbahan polybag atau biasa juga disebut pot tanam plastik. Plastik sendiri termasuk kedalam golongan dalam bahan yang sukar atau sulit untuk didaur ulang. Pada penelitian ini bertujuan dapat digunakan sebagai sumber informasi dan alternatif petani beralih dari polybag dan menggunakan pot tanam organik berbasis pelepah pisang klutuk sebagai pot tanam terbarukan. Prosedur pembuatan pot tanam organik yaitu persiapan alat dan bahan, pengeringan, kemudian pembentukan pot. Pada penelitian ini memiliki 2 faktor yang ditentukan sebagai pengaruh yaitu faktor lebar lembaran pelepah pisang dengan 3 variasi ukuran yaitu 2 cm, 3 cm, 4 cm dan faktor suhu ada 4 variasi yaitu dengan suhu 60ºC, 65ºC, 70ºC dan 75 ºC. Pengujian pot tanam organik berbasis pelepah pisang klutuk yang dilakukan adalah sifat mekanik berupa nilai uji tarik, permeabilitas air dan biodegradabilitas pelepah pisang. Kadar air tertinggi didapatkan pada pengeringan dengan suhu 65ºC dengan lebar 3 cm yaitu 1500,97%. Nilai kuat tarik pita pelepah pisang kering tertinggi adalah pada perlakuan pengeringan dengan suhu 60ºC dengan lebar pita pelepah pisang 3 cm yaitudalah 56 MPa. nilai permeabilitas tertinggi pada suhu 65ºC dengan lebar 2 cm 1197.741 cm/jam. Biodegradasi dengan waktu paling lama terdapat pada perlakuan dengan suhu pengeringan 75ºC dan lebar 3 cm yaitu dengan rerata lama waktu 32 hari.
PENGARUH PENAMBAHAN LAPISAN KARET PADA STATOR DAN VARIASI DIAMETER TONGKOL JAGUNG (Zea Mays L.) TERHADAP KINERJA MESIN PEMIPIL JAGUNG TIPE DMP J-2 Muhamad ikhsanudin; Gunomo Djoyowasito; Sandra Malin Sutan; Ary Musthofa Ahmad
Jurnal Keteknikan Pertanian Tropis dan Biosistem Vol 7, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (435.252 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkptb.2019.007.02.7

Abstract

Jagung (Zea mays L.) merupakan salah satu tanaman pangan di Indonesia yang memiliki peranan strategis dan bernilai ekonomis. Oleh karena itu, dibutuhkan teknologi penanganan pascapanen yang dapat meminimalisir tingkat kehilangan hasil pada proses pemipilan jagung yaitu dengan cara menambah lapisan karet pada stator. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis pengaruh penambahan lapisan karet pada stator dan variasi diameter tongkol jagung terhadap kinerja mesin pemipil jagung tipe DMP J-2, dan menganalisis pengaruh penambahan lapisan karet pada stator dan variasi diameter tongkol jagung terhadap kualitas hasil pipilan jagung. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) Faktorial dengan 2 faktor. Faktor 1 yaitu penambahan lapisan karet pada stator. Faktor 2 yaitu variasi diameter tongkol jagung, dengan diameter tongkol besar ≥4,71 cm, sedang ˂4,71 s.d ˃4,105 cm dan kecil ≤4,105 cm. Kinerja mesin pemipil menghasilkan kapasitas pemipilan jagung besar tanpa dan dengan penambahan lapisan karet yaitu 231,912 kg/jam dan 281,202 kg/jam. Kapasitas jagung terpipil jagung besar tanpa dan dengan penambahan lapisan katet yaitu 175,160 kg/jam dan 221,803 kg/jam. Persentase biji jagung tidak terpipil jagung besar tanpa dan dengan penambahan lapisan katet yaitu 34,069% dan 14,218%. Efisiensi pemipilan jagung besar tanpa dan dengan penambahan lapisan katet yaitu 65,931% dan 85,782%. Hasil persentase biji jagung rusak jagung besar tanpa dan dengan penambahan lapisan karet yaitu 0,794% dan 0,575%. Persentase berat kotoran jagung besar tanpa dan dengan penambahan lapisan karet yaitu 0,158% dan 0,078%.
Uji Performansi Rancang Bangun Mesin Penanam Benih Jagung (Zea Mays L.) Sistem Tugal Gunomo Djoyowasito; Sandra Malin Sutan; Yusuf Hendrawan; Miftahul Hilmi
Jurnal Keteknikan Pertanian Tropis dan Biosistem Vol 5, No 1 (2017)
Publisher : Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (327.089 KB)

Abstract

Jagung merupakan salah satu tanaman pangan yang berfungsi sebagai sumber utama karbohidrat, selain gandum dan padi. Beberapa penduduk di Indonesia (misalnya di Pulau Madura) menggunakan jagung sebagai pangan pokok atau makanan sehari- hari. Pada umumnya di Indonesia terdapat lahan pertanian berpetak-petak dan sedikit sekali  yang  memiliki  lahan  yang  luas  milik  pribadi,  sehingga  penanaman  jagung sebagian besar dilakukan secara manual menggunakan tugal. Permasalahan seperti ini yang mendasari pembuatan “Mesin Penanam Benih Jagung (Zea Mays L.) Sistem Tugal”. Tujuan  dari  penelitian  ini  untuk  mengetahui  hasil  uji  performansi  yang  meliputi kapasitas lapang efektif (aktual), kapasitas lapang teoritis, slip roda penggerak dan nilai efisiensi lapang dari mesin penanam. Penelitian ini dilakukan di lahan yang terletak di sebelah  Laboratorium Mekatronik  Alat  dan  Mesin  Agroindustri,  FTP-UB.  Pengujian mesin penanam ini dilakukan setelah pembuatan mesin penanam benih selesai pada lahan  yang  berukuran 10  m  x  4,5  m.  Berdasarkan penelitian yang  telah  dilakukan, kapasitas lapang efektif (aktual) adalah 0,23 ha/jam, kapasitas lapang teoritis adalah 0,28 ha/jam. Sedangkan untuk rata-rata slip roda penggerak sebesar 14,62% dan efisiensi lapang dari mesin penanam benih jagung sistem tugal adalah 82%.
Rancang Bangun Sistem Pemurnian Biogas Menggunakan Metode Biofiksasi-Adsorpsi oleh Mikroalga Chlorella Vulgaris dan Karbon Aktif Bambang Susilo; Shinta Rosalia Dewi; Gunomo Djoyowasito; Natalia Simanjuntak
Jurnal Keteknikan Pertanian Tropis dan Biosistem Vol 5, No 1 (2017)
Publisher : Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (266.467 KB)

Abstract

Kebutuhan akan energi semakin hari semakin meningkat seiring dengan peningkatan populasi manusia. Hal ini menyebabkan tingkat ketergantungan terhadap sumber energi fosil semakin tinggi dan rentan mengalami krisis energi. Oleh karena itu ketergantungan akan energi fosil harus dikurangi penggunaannya dengan cara menggunakan sumber energi alternatif yang dapat diperbaharui. Biogas merupakan sumber energy alternative yang diproduksi dari bahan organic melauli proses degradasi anaerobik. Komponen utama biogas yaitu metana (CH4), karbondioksida (CO2), dan H2S. Kadar CO2 di dalam biogas menyebabkan turunnya nilai kalori biogas oleh karena itu perlu dilakukan pemurnian. Tujuan dari penelitian ini adalah  untuk merancang  sistem pemurnian biogas dengan proses pemurnian dua tahap menggunakan metode biofiksasi-adsorpsi dan mengetahui penurunan CO2 dalam biogas dengan menggunakan sistem pemurnian. Penelitian ini menggunakan laju alir biogas 1,5 l/min. Hasil percobaan pemurnian biogas menunjukkan terjadi penurunan kadar CO2 yang cukup besar dengan mnggunakan proses pemurnian metode kombinasi. Berdasarkan data hasil pengujian diperoleh kadar CO2 kontrol sebesar 42%. Setelah dilakukan pemurnian menggunakan metode biofiksasi-adsorpsi diperoleh penurunan tertinggi kadar CO2 hingga mencapai 26,4% sehingga kadar CO2 menjadi 15,60%.  Berdasarkan hasil pengujian data maka diperoleh efektivitas penurunan kadar CO2 menggunakan metode biofiksasi-adsorpsi adalah sebesar 62,86%. 
PENGARUH MEDAN ELEKTROMAGNETIK DAN PENAMBAHAN LIMBAH TEH (Fluf) PADA MEDIA TANAM JAMUR TERHADAP LAJU PERTUMBUHAN JAMUR TIRAM (Pleurotus Ostreatus) Arif Suryo Nugroho; Gunomo Djoyowasito; Musthofa Lutfi; Ary Musthofa Ahmad
Jurnal Keteknikan Pertanian Tropis dan Biosistem Vol 6, No 3 (2018)
Publisher : Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (354.329 KB)

Abstract

Jamur tiram (pleurotus ostreatus) merupakan salah satu jamur yang mempunyai banyak manfaat diantaranya dimanfaatkan untuk olahan makanan dan obat obatan herbal. Jamur tiram dapat tumbuh dan berkembang pada suhu 220C-280C dan pada kelembapan 80%-90% dengan intensitas cahaya 10%. Jamur tiram merupakan salah satu pendegradasi lignin aktif yang dapat tumbuh di berbagai media seperti serbuk gergaji, ampas tebu, limbah daun teh dan limbah pertanian yang mengandung lignin selulosa. Limbah pada industri teh (fluf) mengandung serat kasar selulosa dan lignin yang dapat digunakan sebagai bahan media tanam jamur. Medan elektromagnetik adalah suatu metode untuk meningkatkan laju pertumbuhan pada tanaman, metode ini merupakan alternatif aditif yang dapat mengurangi toksin bahan baku dan meningkatkan keamanan pangan. Medan magnet yang diberikan dapat membuat unsur paramagnetik dan feromagnetik seprti Fe, Ca, Na, serta K dapat semakin tertarik masuk untuk mengaktifkan enzim-enzim yang dibutuhkan oleh sel-sel pada jamur. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 4 kali pengulangan dan 2 faktorial, faktor pertama yaitu penambhan media tanam menggunakan limbah industri teh (fluf) dengan serbuk gergaji yaitu 0%, 25%, 50%. Dan faktor yang kedua adalah lama pemaparan medan elektromagnetik selama 30 menit, 60 menit dan 90 menit dengan pemaparan sebesar 0.8 mT. Pertumbuhan jamur tiram yang diamati meliputi tinggi miselium, diameter tudung, jumlah tudung,dan massa jamur waktu panen. Pada penelitian kali ini penambahan teh 0% adalah penambahan media tanam terbaik, hal ini disebabkan karena nutrisi dari serbuk gergaji memiliki nutrisi yang lebih baik dibandingkan dengan nutrisi pada limbah teh, karena limbah industri teh yang ada di pabrik tidak semuanya terdekomposisi. Sedangkan pemaparan medan magnet 90 menit adalah pemaparan terbaik jika dilihat dari parameter pengukuran massa jamur tiram.
Pengaruh Distribusi Ukuran Agregat Tanah Terhadap Umur Efektifitas Pengolahan Tanah Ary Mustofa Ahmad; Gunomo Djoyowasito; Roni Hadi Wijaya
Jurnal Keteknikan Pertanian Tropis dan Biosistem Vol 4, No 3 (2016)
Publisher : Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (820.763 KB)

Abstract

Pengolahan tanah menghasilkan berbagai ukuran agregat tanah (distribusi ukuran agregat tanah). Distribusi ukuran agregat tanah akan mempengaruhi porositas tanah, keteguhan agregat tanah akan mempengaruhi kesetabilan porositas tanah, sedangkan ukuran besar kecilnya agregat tanah akan mempengaruhi persentase pori mikro dan pori makro tanah.  Semakin banyak ukuran agregat tanah yang besar akan meningkatkan pori makro tanah sehingga peningkatan level permukaan tanah akan lebih tinggi dibanding jika tanah ukuran agregatnya lebih kecil. UEPT dipengaruhi oleh sifat fisik tanah, khususnya kemantapan agregat tanah. Sedangkan kemantapan agregat dipengaruhi oleh kandungan bahan organik tanah, tekstur tanah. Oleh karena itu perlu dipelajari nilai distribusi ukuran agregat yang nilai UEPTnya paling tinggi. Dari hasil penelitian didapatkan nilai distribusi ukuran agregat tanah yang berbeda pada tiap perlakuan, dimana dari keempat perlakuan tersebut tinggi permukaan tanahnya mengalami kenaikan permukaan tanah, tetapi berbeda-beda kenaikan antar perlakuan. Tinggi permukaan tanah sebelum diolah untuk M1R1=11,88 cm, M1R2=12,13 cm, M2R1=12,09 cm, dan M2R2=11,34 cm. setelah diolah semua perlakuan mengalami kenaikan permukaan tanah untuk M1R1=13,73 cm, M1R2=12,44 cm, M2R1=18,7 cm, M2R2=14,48 cm. Penurunan permukaan tanah tersebut juga mempengaruhi sifat fisik tanahnya antara lain porositas dan tegangan geser tanah. Dimana nilai porositas tanah setelah diolah mengalami kenaikan, tetapi dari minggu ke minggu mengalami penurunan nilainya. Sedangkan untuk tegangan geser setelah diolah mengalami penurunan nilainya, tetapi untuk setiap minggunya nilainya mengalami perubahan, dalam 8 minggu nilainya mulai naik. Jadi dapat disimpulkan bahwa dengan berjalannya waktu, tanah akan mengalami perubahan baik tinggi permukaan tanahnya ataupun sifat fisik tanahnya.