Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search
Journal : Tedc

PENGOMPOSAN SAMPAH ORGANIK (KUBIS DAN KULIT PISANG) DENGAN MENGGUNAKAN EM4 Nunik Ekawandani; Arini Anzi Kusuma
Jurnal TEDC Vol 12 No 1 (2018): Jurnal TEDC
Publisher : UPPM Politeknik TEDC Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (442.536 KB)

Abstract

Sampah organik yang ada di Indonesia berasal dari pasar, rumah tangga, restoran dan hotel. Sampah organik merupakan sampah padat yang mudah membusuk dan menimbulkan bau yang sangat menyengat. Keberadaan sampah ini sangat mengganggu kebersihan dan kesehatan lingkungan. Keberadaan sampah ini tidak terlepas dari pola kecenderungan konsumsi masyarakat itu sendiri. Maka diperlukan pengelolaan sampah organik yang tepat. Dalam penelitian ini akan memanfaatkan sampah organik dari kubis dan kulit pisang, menjadi kompos. Pengomposan biasanya menggunakan cara konvensional, dimana dengan cara ini membutuhkan waktu cukup lama. Pengomposan dengan bantuan EM4 (Effective Microorganism) dapat mempercepat dalam pembuatan kompos dibandingkan dengan cara konvensional. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa dalam waktu 20 hari kompos sudah dapat digunakan. Adapun kandungan kompos yang dihasilkan menunjukan kadar rasio C/N sebesar 18, kalium 2,11% dan fosfor 0,26% dengan sifat fisik kompos berwarna coklat kehitaman, berbau dan bertekstur seperti tanah dengan kadar air 13,98%, suhu 27oC dan pH 7. Kata kunci: sampah organik, kubis, kulit pisang, kompos, EM4
EFEKTIFITAS KOMPOS DAUN MENGGUNAKAN EM4 DAN KOTORAN SAPI Nunik Ekawandani
Jurnal TEDC Vol 12 No 2 (2018): Jurnal TEDC
Publisher : UPPM Politeknik TEDC Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (361.94 KB)

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui efektivitas penggunaan EM4 dengan kotoran sapi dalam pembuatan kompos sampah organik. Kompos sendiri sangat bermanfaat sebagai pupuk alami. Petani di Indonesia masih banyak menggunakan pupuk kimia dalam perawatan tanaman pertanian mereka. Padahal bahan baku untuk membuat pupuk kompos ada disekitar mereka. Sekiranya perlu peran pemerintah dalam penggunaan bahan yang ramah terhadap lingkungan dan juga terhadap bahan pangan. Bahan pembuatan pupuk organik atau pupuk kompos berupa pemanfaatkan limbah pertanian, seperti jerami, daun-daunan, rumput, pupuk kandang, dan lain-lain. Pengomposan dapat di lakukan dengan mengunakan aktivator EM4 dan kotoran sapi. Hasil penelitian menunjukkan untuk kompos yang menggunakan aktivator EM4 mengandung P sebesar 0,12%, K sebesar 0,47% dengan rasio C/N 25, tidak memenuhi standar kompos SNI 197030-2004, sedangkan pupuk kotoran sapi mengandung P sebesar 0,21%, K sebesar 0,44%, dengan nilai rasio C/N 20, maka dapat disimpulkan bahwa perbandingan pupuk kompos yang menggunakan kotoran sapi lebih memenuhi standar dibandingkan dengan aktivator EM4.
PENENTUAN MASA SIMPAN JAMUR MERANG (VOLVARIELLA VOLVACEA) TERHADAP KADAR AIR SEBAGAI BAHAN DASAR PENYEDAP RASA ALAMI Riyanti Romadhona; Nunik Ekawandani
Jurnal TEDC Vol 14 No 1 (2020): Jurnal TEDC
Publisher : UPPM Politeknik TEDC Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (232.606 KB)

Abstract

Cita rasa pada makanan umumnya dihasilkan oleh suatu bumbu masak atau penyedap rasa. Salah satu alternatif untuk membuat penyedap rasa berbahan dasar alami adalah jamur merang. Jamur ini dikenal memiliki tingkat kegurihan paling tinggi dan mengandung kolesterol rendah juga dapat mencegah pertumbuhan sel kanker. Untuk memperpanjang masa simpan penyedap rasa dari jamur merang dibuat dalam bentuk serbuk dengan cara dikeringkan menggunakan Tray Dryer dengan suhu 40°C. Namun kendalanya serbuk jamur ini tidak dapat bertahan lama, sehingga dibutuhkan suatu cara untuk mengawetkannya, salah satunya dengan proses penyimpanan dengan berbagai macam kemasan, seperti alumunium foil, plastik polipropilen, plastik polietilen dan botol kaca. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pendugaan umur simpan penyedap rasa jamur merang terhadap kadar air dengan penyimpanan menggunakan botol kaca, alumunium foil dan plastik polipropilen. Berdasarkan data hasil perhitungan kadar air pada sampel penyedap rasa jamur merang dengan suhu 25°C yang dikemas menggunakan botol kaca adalah konstan, yaitu 6,67%, sedangkan pada kemasan alumunium foil dan plastik polipropilen mengalami penurunan dari 13,33% menjadi 11,33%. Kata kunci : penyedap rasa, jamur merang, pengeringan, umur simpan, kadar air.
IDENTIFIKASI KADAR NATRIUM BENZOAT PADA BEBERAPA MEREK TEH KEMASAN, SAOS TOMAT DAN KECAP Yusi Prasetyaningsih; Nunik Ekawandani; Mohammad Fakhruddin
Jurnal TEDC Vol 11 No 1 (2017): Jurnal TEDC
Publisher : UPPM Politeknik TEDC Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (270.445 KB)

Abstract

Bahan tambahan pangan seperti penyedap rasa, pemanis, pewarna dan pengawet masih banyak digunakanoleh masyarakat. Tujuan penggunaan bahan tambahan pangan yaitu agar produk makanan mempunyaimasa simpan yang lebih lama. Bahan pengawet seperti natrium benzoat dapat digunakan pada tehkemasan, saos tomat dan kecap. Bahan pangan yang diberi pengawet natrium benzoat akan lebih tahanlama dibanding tanpa menggunakan pengawet. Natrium benzoat dengan rumus kimia C6H5COONamerupakan garam atau ester dari asam benzoat yang secara komersial dibuat dengan sintesis kimia.Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kadar natrium benzoat pada teh kemasan, saos tomat dan kecapberbagai merk yang beredar di Kabupaten Bandung dengan menggunakan titrasi asam basa. Titrasi asambasa adalah suatu metode untuk menentukan kadar suatu zat dengan menggunakan zat lain yang sudahdiketahui konsentrasinya. Secara kuantitatif, kadar benzoat dalam teh kemasan merek Nu Green Tea adalah118,811 ppm, Frestea Guava 197,778 ppm dan Teh Gelas sebesar 217,314 ppm. Kadar natrium benzoatpada saos tomat bermerk Indofood sebesar 410,46 ppm, Belibis sebesar 527,73 ppm, dan Sasa sebesar498,41 ppm, sedangkan pada kecap merek Raos ECHO, HD dan Cap Cabe Rawit berturut-turut yaitu 34,7ppm, 81,4 ppm dan 44,3 ppm. Hasil analisis menunjukkan bahwa kadar benzoat pada semua sampeltersebut masih memenuhi standar yang telah ditetapkan oleh pemerintah dalam SNI 01-0222-1995 yaitusebesar 600mg/kg untuk teh kemasan dan kecap serta tidak melebihi 1000 mg/kg untuk saos tomat.Kata Kunci: natrium benzoat, teh kemasan, saos tomat, kecap
PEMANFAATAN LIMBAH KULIT UDANG SEBAGAI PENGAWET ALAMI MAKANAN Dian Puspitasari; Nunik Ekawandani
Jurnal TEDC Vol 13 No 3 (2019): JURNAL TEDC
Publisher : UPPM Politeknik TEDC Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (266.647 KB)

Abstract

Maraknya penggunaan formalin dan boraks sebagai pengawet pangan dengan tujuan agar makanan lebih awet dan untuk perbaikan tekstur membuat masyarakat menjadi resah. Bahan makanan yang biasanya ditambahkan pengawet berbahaya yaitu baso, mie basah, tahu, siomay, lontong, ketupat, pangsit, dan tahu. Penyalahgunaan ini memunculkan wacana untuk alternatif bahan-bahan pengawet yang aman bagi kesehatan, salah satunya kitosan. Kitosan banyak dimanfaatkan dalam berbagai industri karena manfaatnya yang beragam. Salah satu manfaat dari kitosan yang membutuhkan tinjauan lebih lanjut adalah pemanfaatan limbah kulit udang sebagai pengawet alami makanan. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui seberapa efektifnya kitosan untuk pengawetan tahu dan mengetahui pengaruh konsentrasi NaOH terhadap derajat deasetilasi yang dihasilkan. Kualitas kitosan terukur dari besarnya nilai derajat deasetilasi. Proses deproteinasi dengan larutan NaOH 3,5% w/v pada suhu 65ºC selama 2 jam dan proses demineralisasi dengan larutan HCl 1N dalam suhu kamar selama 1 jam. Proses deasetilasi dilakukan dengan memanaskan kitin pada masing – masing larutan NaOH 30%, 40%, 50%, 60% pada suhu 100ºC selama 4 jam. Pada Penelitian ini menunjukan bahwa derajat deasetilasi untuk konsentrasi NaOH 30%, 40%, 50%, 60% yaitu 39,33%, 411,73%, 48,638%, dan 55,19%. Total bakteri untuk rendaman dengan kitosan dapat menekan pertumbuhan bakteri. Kata kunci : kitosan, derajat deasetilasi, pengawet makanan, limbah kulit udang
ANALISIS RISIKO PAPARAN ISOPROPANOL PADA PEKERJA OFFSET PRINTING Nunik Ekawandani
Jurnal TEDC Vol 10 No 3 (2016): Jurnal TEDC
Publisher : UPPM Politeknik TEDC Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (658.106 KB)

Abstract

Pelarut di industri percetakan merupakan bahan kimia yang paling sering digunakan baik sebagai bahan pencampur maupun pencuci. Jenis pelarut yang digunakan di industri percetakan tersebut salah satunya adalah isopropanol. Isopropanol adalah cairan yang mudah menguap, dengan kelarutan yang tinggi dalam air dan pelarut organik. Hal ini mengakibatkan jalur paparan isopropanol yang paling utama adalah melalui rute inhalasi. Efek yang ditimbulkan dari isopropanol dapat menyebabkan efek neurologis dan toksisitas ginjal kronis. Studi ini membahas mengenai analisis risiko pengaruh paparan isopropanol melalui inhalasi terhadap pekerja percetakan di kawasan percetakan Pagarsih, Kota Bandung. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi paparan isopropanol dan mengevaluasi faktor-faktor yang mempengaruhi paparan isopropanol pada pekerja percetakan offset. Penelitian ini merupakan penelitian epidemiologi cross sectional. Responden yang dilibatkan dalam penelitian ini sebanyak 30 responden terpapar dan 10 responden kontrol. Penelitian ini dilakukan dengan mengambil sampling konsentrasi isopropanol di udara, dengan metode NIOSH 1400 issue 2. Pengambilan sampel di udara dilakukan dengan personal sampler pump dengan absorber berupa karbon aktif (coconut shell charcoal). Hasil sampling kemudian dianalisa dengan menggunakan Gas Chromatography, Flame Ionization Detector (GC-FID). Hasil pengukuran konsentrasi rata-rata isopropanol di udara adalah 237,5317 ppm. Biomarker paparan isopropanol dilakukan melalui pengukuran kristal oksalat dalam urin. Hasil analisis kristal oksalat pada urin menunjukan persentase sebesar 23,33% pada rentang kuantitas kristal oksalat 1-5 LPK; 43,33% pada rentang hasil 5-10 LPK; 26,67% pada rentang hasil 10-30 LPK, dan 6,67% pada rentang hasil >30 LPK. Dari hasil uji statistik menggunakan regresi logistik multinomial, faktor-faktor yang mempengaruhi jumlah kristal oksalat dalam urin adalah konsentrasi isopropanol di udara, penggunaan alat pelindung diri (masker) dan faktor usia pekerja.