Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search
Journal : SALINGKA

BENTUK DAN MAKNA TANDA MITIGASI BENCANA: ANALISIS ANTROPOLINGUISTIK TERHADAP NELAYAN AIR BANGIS Imron Hadi
Salingka Vol 11, No 01 (2014): SALINGKA, EDISI JUNI 2014
Publisher : Balai Bahasa Sumatra Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.577 KB) | DOI: 10.26499/salingka.v11i01.10

Abstract

Dampak negatif perubahan iklim semakin nyata dan terbukti telah menerpa dunia. Untuk mengatasi hal tersebut, dibutuhkan tindakan untuk meng-integrasikan mitigasi dan adaptasi perubahan iklim ke dalam sistem perencanaan untuk mempersiapkan masyarakat agar lebih siap, tahan, dan kuat terhadap ancaman yang diakibatkan oleh perubahan iklim. Salah satu kelompok yang paling rawan mengalami dampak terhadap pemanasan dan perubahan iklim global adalah nelayan. Ada kearifan lokal yang telah tumbuh dan berkembang dalam menyikapi fenomena alam di kalangan nelayan, seperti di kenagarian Air Bangis. Untuk mengetahui kearifan lokal itu dilakukan pengamatan, wawancara, dan beberapa catatan lapangan yang terkait dengan mitigasi dan fenomena alam. Hasil analisis diperoleh empat kategori pamahaman fenomena alam dan upaya mitigasinya, yaitu fenomena astrologis, klimatologis, zologis, dan variasinya. Dengan memahami fenomena alam itu, nelayan melakukan proses mitigasi sebagai kearifan lokal untuk meminimalisir dampak yang ditimbulkan.
SATUAN DAN PENGUKURAN TRADISIONAL MENGGUNAKAN TANGAN OLEH MASYARAKAT DI KANAGARIAN KINARI: KAJIAN ANTROPOLINGUISTIK (Traditional Unity and Measures Using Hands by Kinari Villagers: Anthropolinguistic Study) Imron Hadi
SALINGKA Vol 13, No 01 (2016): SALINGKA, EDISI JUNI 2016
Publisher : Balai Bahasa Sumatra Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (96.984 KB) | DOI: 10.26499/salingka.v13i01.43

Abstract

The longer traditional unity and measures using hands and the rarer used by villagers because they have used the modern one which have high accuracy, precision, and low margin error.Because of that, this study is aimed to find out the traditional unity and measures using hands which is still used by Kinari Villagers in Solok Regency with descriptive qualitative methodthrough observation, field note, open-ended interview to some informen. The data are analyzed with triangulation by direct division-share technique. The result of this research shows thatthere are two kinds of measures and unity: first is for measuring length, such as dapo, eto, jangka, jari,and rueh: second is for measuring volume, such as ganggam, binjek, kauik, kapa,pacik, sauek, suok, culiak, paluak, and patiak. In conclusion, the traditional measures and unity are only used by the old generation, and the young generation use the modren one which has high precision, accuracy and low margin error.
Bentuk dan Makna Ungkapan Sehari-hari Dalam Bahasa Melayu Dialek Musi Oleh Masyarakat Banyuasin III (Form and Meaning of Daily Expressions in Melayu Language Dialeks Musi by Banyuasin III Society) Imron Hadi
SALINGKA Vol 18, No 1 (2021): SALINGKA, Edisi Juni 2021
Publisher : Balai Bahasa Sumatra Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/salingka.v18i1.327

Abstract

AbstrakUngkapan merupakan hasil pikiran kreatif masyarakat untuk menyampaikan perasaan, dan pendapatmereka terhadap suatu fenomena. Masyarakat Banyuasin III juga memiliki ungkapan untukmenggambarkan suatu fenomena tertentu namun ungkapan sudah jarang digunakan terutama dikalangan generasi muda. Hal itu disebabkan pengaruh penggunaan bahasa assing yang dominanyang menggantikan ungkapan sehari-hari yang biasa digunakan. Artikel ini bertujuan untukmengungkapkan bentuk dan makna ungkapan yang digunakan masyarakat Banyuasin III denganmenggunakan metode deskriptif dan metode agih, yaitu teknik rekam dan simak libat cakap. Hasilpembahasan menunjukkan terdapat bentuk dan makna ungkapan sehari-hari oleh masyarakatBanyuasin III meliputi ungkapan yang menyatakan perilaku dan sikap. Bentuk ungkapan perilakuterbagi dalam dua bentuk, yaitu (1) bentuk ungkapan reaksi aktif, seperti langguk nian, nengarkate, tungkang nian, dan lain-lain, (2) bentuk ungkapan reaksi pasif, seperti mupus semunduk,mungge aisan, talu nian, dan lain-lain. Bentuk ungkapan yang menyatakan sikap juga ditemukan,seperti mati geni, bengklok nian, bunyan bange, besak kelakar, besak untap, dan lain sebagainya.Berdasarkan hasil pembahasan dapat disimpulkan bahwa ungkapan sehari-hari yang digunakanmasyarakat terdiri atas dua bentuk, perilaku dan sikap.Kata kunci: bentuk, makna, ungkapan sehari-hari.AbtractThe expression is the result of people’s creative minds to convey their feeling dan opinionsabout a phenomenon. Banyuasin III society also have expressions to describe a certainphenomenon. However, the their daily expressions are rarely used, especially among younggeneration. This is due to the influence of the dominant use of other languages which replacethat commonly used daily expressions. This article aims to reveal the form and meaning ofthe expressions used by the Banyuasin III society by using descriptive methods, that is recordingand listen and active participant. The results of the discussion show that there are forms andmeanings of daily expressions by Banyuasin III communities including expressions that statebehavior and attitudes. Forms of behavioral expression are divided into two forms, namely(1) active reaction expressions, such as langguk nian, nengar kate, tungkang nian, etc., (2)pasif expression, such as mupus semunduk, mungge aisan, talu nian, etc., (2) pasif expression,such as mupus semunduk, mungge aisan, talu nian, etc. The forms of expressions that stateattitudes are also found, such as mati geni, bengklok nian, bunyan bange, besak kelakar,besak untap, and so forth. Based on the results of the discussion it can be concluded that thedaily expressions used by the community consist of two forms, behavior and attitude.Keywords: form, meaning, daily expressions.
BENTUK DAN MAKNA RESIPROSITAS DALAM TRADISI NGAMEK ARI MASYARAKAT BANYUASIN III (The Form and Meaning Reciprosity in Ngamek Ari Tradition Banyuasin III society) Imron Hadi
Salingka Vol 16, No 2 (2019): SALINGKA, Edisi Desember 2019
Publisher : Balai Bahasa Sumatra Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (786.554 KB) | DOI: 10.26499/salingka.v16i2.231

Abstract

AbstractThe advancement of science and technology has scratched out the form and meaning in the tradition of ngamek ari as a reciprocity that lives in the society of Banyuasin regency, especially in Petaling village. Therefore, this article examines the form and meaning of reciprocity in ngamek ari tradition through data required from the perpetrators of reciprocity. The method used is descriptive qualititave method by recording and taking notes with active participant technique. The results show that there are three forms of ngamek ari: ngamek ari with energy, ngamek ari with materials or good, and ngamek ari with money (auction). The person who becomes the object to ngamek ari is obliged to return (mayar utang) more (ngiring) or equivalent as received. The conclusion is that Banyuasin III society, especially Petaling villagers do the tradition of ngamek ari aim to lighten the burden of the owner of the celebration or work.Keywords: ngamek ari, reciprocity, tradition  AbstrakKemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi telah menggerus bentuk dan makna resiprositas dalam tradisi ngamek ari yang hidup di tengah masyarakat Banyuasin III, khususnya di desa Petaling. Sebab itulah, artikel ini mengkaji bentuk dan makna resiprositas dalam tradisi ngamek ari yang ada di tengah masyarakat melalui data yang bersumber dari pelaku resiprositas. Metode yang digunakan dalam kajian ini adalah deskriptif kualitatif dengan teknik rekam dan simak libat cakap. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada tiga bentuk ngamek ari, yaitu ngamek ari dengan tenaga, bahan atau barang, dan uang (lelang). Orang yang menjadi objek untuk ngamek ari wajib mengembalikan (mayar utang) lebih (ngiring) atau minimal setara dengan bantuan yang telah dia terima. Kesimpulanya bahwa masyarakat Banyuasin III, khususnya desa Petaling melakukan tradisi ngamek ari bertujuan meringankan beban pemilik hajatan atau kerja.Kata kunci: ngamek ari, resiprositas, tradisi
PRONOMINA PERSONA SAPAAN ANTARA SUAMI DAN ISTRI DALAM DIALEK MUSI: ANALISIS BENTUK DAN MAKNA Imron Hadi
SALINGKA Vol 12, No 01 (2015): SALINGKA, EDISI JUNI 2015
Publisher : Balai Bahasa Sumatra Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (298.382 KB) | DOI: 10.26499/salingka.v12i01.32

Abstract

This article is to describe personal pronouns of greeting di Musi dialect between husband and wife interaction. This study used descriptive qualitative method. The data were taken throughparticipant observation, recording,dan field note to some informans from three villages. The result was found that there were two phases of using greeting, pre-marriage and marriage phase. In both pre-marriage and marriage phase, there were also two forms, indirect and direct communication. In pre-marriage phase the phrasal pronouns for indirect communication were Anak wak +proper name, Anak mang/bibi+proper name.  and for direct was kamu or kau.For marriage phase the phrasal pronouns for indirect communication were anak kamu, cucong kamu, anak