Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

Pentingnya melatih problem solving pada anak usia dini melalui bermain Putri Nadila
Pedagogi: Jurnal Ilmu Pendidikan Vol 21 No 1 (2021): Pedagogi: Jurnal Ilmu Pendidikan
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/pedagogi.v21i1.965

Abstract

This study is a literature study that aims to determine the importance of practicing problem solving in early childhood through play. This study uses various written sources such as articles, journals, and documents that are relevant to what will be examined in this study. The results obtained in this study are that the introduction of problem solving to children from an early age is very important to do because it can make children think critically, systematically and get children used to looking for answers to problems and draw conclusions without haste. Games that can be done in instilling the spirit of prolem solving in anank are fuzzle, muse, unloading and so on.
Implementasi Hukum Adat dalam Prosesi Perkawinan Adat Minangkabau Gumelar Firmansyah; Mina Rabiatul Asiyah; Putri Nadila; Putry Delsa Hasanah
Uniku Law Review Vol. 1 No. 1 (2023): UNIKU LAW REVIEW
Publisher : Universitas Kuningan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25134/ulr.v1i1.13

Abstract

The traditional Minangkabau wedding procession has high social, cultural and religious values. However, in its implementation, Minangkabau traditional marriage processions often face several obstacles, both from a social, cultural and legal perspective. This study aims to find out how the implementation of customary law in the Minangkabau traditional marriage procession, as well as what are the steps of the Minangkabau traditional wedding procession. The results of the study show that the Minangkabau traditional marriage procession is still carried out consistently and follows the applicable customary law. However, there are also obstacles in the application of customary law in Minangkabau traditional marriage processions, such as differences in the interpretation of customary law among the community, lack of support and recognition from the government in carrying out marriage processions, and a lack of understanding of women's rights in marriage processions. which is still limited to the role as an object. This research has been implied to be important in maintaining the continuity of Minangkabau customs and culture in Indonesia, especially in the context of traditional marriages. Therefore, efforts are needed to increase public understanding and awareness regarding customary law and Minangkabau traditional marriage processions, as well as support from the government in carrying out traditional marriage processions in accordance with applicable customary law and recognizing women's rights in traditional marriage processions.   Prosesi perkawinan Adat Minangkabau memiliki nilai sosial, budaya, dan agama yang tinggi. Namun dalam pelaksanaannya, prosesi perkawinan adat Minangkabau sering kali menghadapi beberapa kendala, baik dari segi sosial, budaya, maupun hukum. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana implementasi hukum adat dalam prosesi perkawinan adat Minangkabau, serta apa saja langkah-langkah prosesi perkawinan adat Minangkabau. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prosesi perkawinan adat Minangkabau masih dijalankan secara konsisten dan mengikuti hukum adat yang berlaku. Namun, terdapat juga kendala dalam penerapan hukum adat dalam prosesi perkawinan adat Minangkabau, seperti adanya perbedaan interpretasi hukum adat di antara masyarakat, kurangnya dukungan dan pengakuan dari pihak pemerintah dalam menjalankan prosesi perkawinan, serta kurangnya pemahaman terhadap hak-hak perempuan dalam prosesi perkawinan. yang masih terbatas pada peran sebagai objek. Penelitian ini telah tersirat penting dalam menjaga keberlangsungan adat dan budaya Minangkabau di Indonesia, khususnya dalam konteks perkawinan adat. Oleh karena itu, diperlukan upaya untuk meningkatkan pemahaman dan kesadaran masyarakat terkait dengan hukum adat dan prosesi perkawinan adat Minangkabau, serta dukungan dari pemerintah dalam menjalankan prosesi perkawinan adat yang sesuai dengan hukum adat yang berlaku dan mengakui hak-hak perempuan dalam prosesi perkawinan adat.
Sejarah Perkembangan dan Peradaban Islam di Afrika Utara Putri Nadila; Nasril Nasril
Lencana: Jurnal Inovasi Ilmu Pendidikan Vol. 3 No. 1 (2025): Januari : Jurnal Inovasi Ilmu Pendidikan
Publisher : Pusat Riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/lencana.v3i1.4576

Abstract

The development of Islam in North Africa began during the reign of Caliph Umar bin Khattab (634–644 AD), who sent Amru bin Ash to conquer Egypt. This effort was then systematically continued by the ruling dynasties that followed. The spread of Islam by Muslim rulers not only made Arabic the official language spoken by Muslim communities in various regions, especially North Africa, but also had a great influence on civilization as a whole. History records various advances in North Africa, both in the fields of government administration, science, architecture, and historical buildings. The pattern of the relationship between the ruler and the community also shows how Islam is a blessing for all nature (rahmatan lil 'alamin). The splendor of buildings with high architecture is proof that only an advanced, stable, and prosperous government is able to achieve it.
Gambaran Pengetahuan Ibu Tentang Pijat Bayi Di Klinik Irma Suskila Medan Periode Juni-Juli Tahun 2022 Adriana Bangun; Sabariana Tarigan; Jeanee Oktaviana Br Sitepu; Putri Nadila; Christin Venolima Lase; Damai Putri Sari Siahaan
VitaMedica : Jurnal Rumpun Kesehatan Umum Vol. 1 No. 4 (2023): Oktober : VitaMedica : Jurnal Rumpun Kesehatan Umum
Publisher : STIKES Columbia Asia Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62027/vitamedica.v1i4.429

Abstract

Menurut WHO World Health Organization usia bayi pada bebrapa bulan pertama kehidupanya yakni 1 sampai 6 bulan merupakan tahap yang sangat penting bagi bayi, karena pada usia ini bayi memerlukan pijat bayi dalam memenuhi tingkat pertumbuhan dan perkembangan secara optimal, Pijat bayi disebut sebagai Stimulasi Touch atau terapi sentuhan tertua dan terpopuler yang dikenal manusia sejak berabad-abad. Di indonesia tahun 2017 tercatat jumlah anak melakukan pijat bayi sebanyak 300 ribu bayi sedangkan di sumatera utara sebanyak 10,179 bayi. Penelitian ini bersifat deskriptif dengan menggunakan data primer, bertujuan untuk mengetahui gambaran pengetahuan ibu tentang pijat bayi berdasarkan umur, pendidikan, pekerjaan, sumber informasi di Klinik Irma Suskila Medan dimana semua populasi dijadikan sampel dalam penelitian ini berjumlah 30 responden dengan menggunakan kuesioner. Hasil penelitian ditemukan bahwa pengetahuan responden tentang pijat bayi di Klinik Irma Suskila Medan Periode Juni-Juli 2022 mayoritas paling paling banyak tingkat pengetahuan cukup sebanyak 15 orang (50). Berdasarkan umur mayoritas 20-35 tahun sebanyak 21 orang (70%). Berdasarkan pekerjaan mayoritas tidak bekerja sebanyak 16 orang (53,33%). Berdasarkan sumber informasi mayoritas tenaga kesehatan sebanyak 16 orang (53,33%). Dari hasil penelitian disarankan bagi petugas kesehatan khususnya bagi bidan agar dapat memberikan penyuluhan bagi ibu yang memiliki bayi untuk melaksanakan pijat bayi, yang bertujuan untuk meningkatkan pelayanan kesehatan dan manfaat bagi pertumbuhan dan perkembangan bagi khususnya tentang pijat bayi bagi ibu.
Tingkat Pengetahuan Remaja Putri Tentang Sex Education Di SMP Etislandia Medan Periode Maret - April 2022 Eka Ristin Tarigan; Adriana Bangun; Putri Nadila; Nureliani Amni; Tiara Surena Br Sitepu
VitaMedica : Jurnal Rumpun Kesehatan Umum Vol. 2 No. 2 (2024): April : VitaMedica : Jurnal Rumpun Kesehatan Umum
Publisher : STIKES Columbia Asia Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62027/vitamedica.v2i2.432

Abstract

Di Indonesia, menurut data Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BBKBN) 2015, menunjukkan 51 % remaja di Jabotabek telah melakukan seks di luar nikah telah dilakukan sejumlah remaja usia sekolah. Dan semua sampel penelitian menunjukkan 85 % remaja melakukan mastrubasi sebagai rutinitas kesehariannya. Hal i i juga menunjukkan bahwa pendidikan seks di sekolah, di terima baik hanya 7 % dan 93 % masih menganggap hal ini tabu untuk membicarakan tentang sex buat anak – anak mereka.Penelitian ini bersifat deskriptif dan menggunakan data primer tujuannya untuk mengetahui tingkat pengetahuan remaja putri terhadap sex education pada 40 remaja putri di SMP Etislandia Medan Periode Maret – April 2020. Dengan menggunakan 20 pertanyaan hasil penelitian didapat 40 responden bahwa responden dengan kategori baik sebanyak 10 orang ( 25 % ), pengetahuan cukup 18 orang ( 45 % ), berpengetahuan kurang 8 orang ( 20 % ) dan berpengetahuan buruk 4 ( 10 % ) .Disarankan pada remaja putri agar mencari informasi mengenai pengetahuan terhadap sex education kepada petugas agar lebih meningkatkan pelayanan kesehatan dan memberikan penyuluhan tentang sex education.
Tingkat Pengetahuan Remaja Putri Tentang Sadari (Periksa Payudara Sendiri) Di Sma Etislandia Medan Periode Maret-Juli 2022 Adriana Bangun; Sabarina Tarigan; Putri Nadila; Etha Tia Dwitha; Febrianty Napitupulu; Ica Hamida Simamora
VitaMedica : Jurnal Rumpun Kesehatan Umum Vol. 2 No. 4 (2024): Oktober : VitaMedica : Jurnal Rumpun Kesehatan Umum
Publisher : STIKES Columbia Asia Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62027/vitamedica.v2i4.434

Abstract

Menurut WHO (World Health Organization), 8-9 % wanita akan mengalami kanker payudara. Kanker payudara dapat ditemukan pada tahap awal dengan cara deteksi dini Pemeriksaan payudara sendiri (SADARI). Pemeriksaan ini dilakukan dengan menggunakan cermin dan dilakukan oleh wanita. Cara ini murah, aman, dapat di ulang dan sederhana, namun dalam kenyataaan baru sedikit wanita yang memakai cara ini yaitu 15-30%. Berdasarkan survey awal yang telah Penelitilakukan di SMA Etislandia Medan dari hasil Kuesioner yang diberikan kepada 30 orang Remaja putri dari kelas X dan XI didapatkan RemajaPutri yang mengetahui tentang SADARI (Periksa payudara sendiri) dan yang sudah melakukan SADARI hanya 16 orang sedangkan yang belum melakukan SADARI sebanyak 14 orang. Hal ini disebabkan karena masih rendahnya kesadarandan rasa peduli wanita terhadap kesehatan payudaranya. Penelitian ini bersifat deskriptif dan menggunakan data primer tujuannya untuk mengetahui Bagaimanakah Tingkat Pengetahuan Remaja Putri tentang SADARI (Periksa payudara sendiri) pada 30 remajaputri di SMA Etislandia Medan PeriodeMaret-Juli 2022.Dengan menggunakan 20 pertanyaan hasil Penelitiandidapatkan 30 Responden bahwa responden dengan kategori baik sebanyak 16 orang (53,3%), pengetahuan cukup 4 orang (13,3%), dan berpengetahuan kurang sebanyak 10 orang (33,3 %).Disarankan pada Remaja Putri agar lebih memperluas pengetahuan tentang SADARI (Periksa payudara sendiri) dengan cara bertanya langsung kepada petugas kesehatan atau pun mencari informasi melalui media cetak, media elektronik baik televisi, radio atau internet.
Gambaran Pengetahuan Ibu Yang Mempunyai Bayi Usia 0-12 Bulan Tentang Pijat Bayi Di Dusun IV Desa Serbajadi Kecamatan Sunggal Kabupaten Deli Serdang Tahun 2022 Eka Ristin Tarigan; Adriana Bangun; Putri Nadila; Vera Liliani Hutagalung; Revina Untari
VitaMedica : Jurnal Rumpun Kesehatan Umum Vol. 2 No. 4 (2024): Oktober : VitaMedica : Jurnal Rumpun Kesehatan Umum
Publisher : STIKES Columbia Asia Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62027/vitamedica.v2i4.435

Abstract

Dalam rangka menurunkan angka kesakitan dan kematian bayi, Dari data WHO tahun 2019 memperkirakan 85,5% bayi per 1000 kelahiran hidup (Under Five Mortality), ibu yang mempunyai bayi tidak melakukan pijat pada bayinya tiap tahunnya, sedangkan bayi yang dipijat tiap tahunnya hanya 14,5%. Pijat bayi adalah memberikan sentuhan pada tubuh bayi yang bermanfaat untuk menstimulasi tumbuh kembang bayi dan sebagai salah satu cara untuk mengungkapkan kasih sayang orangtua terhadap bayinya. Jenis penelitian ini bersifat deskritif dengan menggunakan kuesinior yang bertujuan untuk mengetahui Gambaran pengetahuan ibu yang mempunyai bayi usia 0-12 bulan tentang pijat bayi dan populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu bayi yang ada di Dusun IV Desa Serbajadi Tahun 2022 dengan menggunakan Total sampling sebanyak 40 orang. Dengan menggunakan 20 pertanyaan hasil penelitian didapatkan 40 responden, bahwa responden dengan kategori baik hasil penelitian yang ditemukan bahwa gambaran pengetahuan ibu yang mempunyai bayi usia 0-12 bulan tentang pijat bayi berpengetahuan kurang, penelitian menunjukkan bahwa kurangnya pengetahuan ibu tentang pijat bayi sebanyak 93% sedangkan ibu yang pengetahuan baik sebanyak 7%. Dari hasil penelitian ini diharapkan kepada tenaga kesehatan khususnya bidan di Dusun IV desa Serbajadi agar lebih lagi ditingkatkan pengetahuan tentang Pijat bayi sehingga bertujuan untuk memberikan pelayanan kesehatan yang baik dan terampil.
Tingkat Pengetahuan Pranikah tentang Imunisasi TT (Tetanus Toxoid) di Wilayah Kerja Puskesmas Bestari Medan Petisah Tahun 2023 Adriana Bangun; Sabariana Tarigan; Putri Nadila; Revina Untari; Shafira Elzahra
VitaMedica : Jurnal Rumpun Kesehatan Umum Vol. 2 No. 2 (2024): April : VitaMedica : Jurnal Rumpun Kesehatan Umum
Publisher : STIKES Columbia Asia Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62027/vitamedica.v2i2.449

Abstract

According to WHO (2015), TT immunization coverage in Africa reached 50%, with TT2 at 60%. In Indonesia, the Making Pregnancy Safer (MPS) program set a target of 95% Antenatal Care (K1) coverage, including TT2 by 2019. Puskesmas data in 2016 showed K1 coverage of 880 with TT1 at 27 (3.1%), and K4 at 739 with TT2 at 64 (8.6%). This study aims to assess premarital knowledge of TT immunization based on age, education, and occupation. Using a descriptive design and total sampling, 32 respondents were involved. Results showed most were under 20 years old (41%), had junior high school education (25%), and worked as entrepreneurs (19%). The lowest knowledge level was found among respondents with primary education (19%) and farmers (3%). It is recommended that midwives at Puskesmas Bestari intensify education to improve premarital knowledge about TT immunization.
Tingkat Pengetahuan Remaja Putri Tentang Dampak Pernikahan Dini Pada Kesehatan Reproduksi Di Dusun VI Desa Telaga Sari Tahun 2023 Adriana Bangun; Eka Ristin Tarigan; Putri Nadila; Gembira Pasaribu; Citra Anggreni Br Ginting; Cerdasni Ziliwu
Jurnal Praba : Jurnal Rumpun Kesehatan Umum Vol. 2 No. 3 (2024): September : Jurnal Praba : Jurnal Rumpun Kesehatan Umum
Publisher : STIKES Columbia Asia Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62027/praba.v2i3.438

Abstract

Pernikahan dini yang berkembang dikalangan masyarakat Indonesia, dipandang sebagai sebuah komitmen untuk mengikat dua insan lawan jenis yang masih remaja dalam suatu ikatan keluarga. Usia remaja perempuan yang melakukan pernikahan dini diusia muda adalah mereka yang berusia dibawah umur-20 tahun yang melakukan pernikahan dini. Penelitian ini bersifat deskriptif dengan data primer yang ditinjau langsung yang bertujuan untuk mengetahui bagaimana tingkat pengetahuan remaja putri tentang tantang dampak pernikahan dini pada kesehatan reproduksi di Dusun VI desa Telaga Sari Tahun 2023 populasi penelitian ini seluruh remaja putri di Dusun Telaga Sari. Seluruh populasi dijadikan sampel sebanyak 30 orang. Dari hasil penelitian mengenai Tingkat Pengetahuan Remaja Putri Tentang dampak Pernikahan Dini diperoleh berdasarkan umur, mayoritas umur 16-18 tahun sebanyak 19 orang (63%) dan minoritas umur 19-20 tahun sebanyak 2 orang (7%), berdasarkan pendididkan mayoritas berpendidikan SMA sebanyak 19 orang (63%) dan minoritas berpendidikan SD sebanyak 1 orang (3%), berdasarkan sumber informasi mayoritas pada kelompok tenaga kesehatan sebanyak 13 orang (43%) dan minoritas pada media cetak sebanyak 3 orang (10%), dan mayoritas berpengetahuan cukup sebanyak 18 orang (60%) dan minoritas berpengetahuan baik sebanyak 5 orang (17%). Diharapkan kepada seluruh remaja putri agar lebih meningkatkan pengetahuannya untuk mencegah terjadinya pernikahan dini dan untuk mengetahui dampak dalam pernikahan dini, hal ini bertujuan untuk menghindari remaja putri dari dampak melakukan pernikahan dibawah umur dan mengurangi resiko dalam resiko kesehatan reproduksi.
Gambaran Pengetahuan Ibu Mengenai Status Gizi Balita di Desa Telaga Sari Tahun 2024 Adriana Bangun; Adelina Fitri Tanjung; Putri Nadila; Revina Untari; Miftah Hul Husna Hutagalung; Dea Novita Sari
VitaMedica : Jurnal Rumpun Kesehatan Umum Vol. 3 No. 3 (2025): Juli : VitaMedica : Jurnal Rumpun Kesehatan Umum
Publisher : STIKES Columbia Asia Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62027/vitamedica.v3i3.455

Abstract

Nutritional status is a measure of success in fulfilling nutritional needs in children which is shown through the achievement of body weight for age. The nutritional status of toddlers is very significant as a starting point for physical capacity in adulthood. This descriptive study uses primary data, namely data obtained from direct field observations using a questionnaire that has been designed previously to determine maternal knowledge about nutritional status in toddlers in Telaga Sari Village, Sunggal District, Deli Serdang Regency, as many as 30 people in this study. Based on research from 30 people who became respondents, the Description of Mother's Knowledge about nutritional status in toddlers in Telaga Sari Village, Sunggal District, Deli Serdang Regency, the majority of 14 people (47%) have sufficient knowledge and a minority of 6 mothers who have less knowledge (20%). Based on age, the majority were 20-35 years old (23%), and the minority were 1 person (3%) aged <20 years old. Based on education, the majority were high school (27%), and the minority were elementary school (3%). Based on occupation, the majority were employed (27%), and the minority were unemployed (7%). This study is expected to encourage village midwives to provide more information through counseling and increase mothers' knowledge about the nutritional status of toddlers to prevent malnutrition.