Claim Missing Document
Check
Articles

Found 28 Documents
Search

Pengembangan Usaha Alpukat Beku di Desa Cibugel dan Diversifikasi Produk Turunannya Parhusip, Adolf; Anugrahati, Nuri A.; Matita, Intan; Handayani, Ratna; Madeline, Alicia; Todia, Nadine E.; Aretha, Devanna
Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Nusantara Vol. 6 No. 2 (2025): Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Nusantara Edisi April - Juni
Publisher : Lembaga Dongan Dosen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55338/jpkmn.v6i2.5544

Abstract

Peningkatan perekonomian melalui wirausaha dilakukan pada salah satu desa yang ada di Kabupaten Tangerang, yaitu Desa Cibugel yang terdiri atas 12.069 jiwa yang meliputi 3.378 kepala keluarga dan mayoritas berprofesi sebagai wiraswasta atau pedagang. Salah satu usaha yang dikembangkan di Desa Cibugel yaitu pemanfaatan buah-buahan untuk dijadikan sebagai buah beku, yaitu alpukat beku, namun belum memiliki pengetahuan dan kemampuan yang menunjang usaha ini. Sebelumnya, salah satu warga sudah memiliki usaha ini dan memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi usaha rintisan dan jangka panjangnya dapat dijadikan sebagai Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dan Badan Usaha Milik Desa (BUMDES). Hal inilah yang mendasari dilakukannya kegiatan PkM Program Studi Teknologi Pangan Universitas Pelita Harapan (UPH) di Desa Cibugel. Kegiatan PkM bertujuan untuk meningkatkan mutu buah alpukat beku terolah minimal dan diversifikasi produk turunannya di Desa Cibugel. Kegiatan PkM dilakukan dengan metode penyuluhan (presentasi dan video) dan pelatihan bersama masyarakat (praktik langsung) di Desa Cibugel. Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat diharapkan mampu membantu masyarakat Desa Cibugel dalam meningkatkan kesejahteraan dengan memanfaatkan potensi alpukat. Seluruh peserta (100%) merasa bahwa kegiatan PkM ini bermanfaat dan ingin kembali mengikuti kegiatan seperti ini. Hal ini dapat menjadi dasar dan modal yang baik dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat dengan mengembangkan kemampuan wirausaha masyarakat melalui pemanfaatan buah alpukat
Penyuluhan Prinsip dan Implikasi Keamanan Pangan di Kelompok Anggur Tangerang Parhusip, Adolf J.N.; Anugrahati, Nuri Arum; Matita, Intan; Handayani, Ratna; Christian, William; Todia, Nadine E.; Madeline, Alicia; Aretha, Devanna
Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Nusantara Vol. 6 No. 2 (2025): Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Nusantara Edisi April - Juni
Publisher : Lembaga Dongan Dosen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55338/jpkmn.v6i2.5893

Abstract

Keracunan pangan merupakan isu pangan yang sering terjadi di Indonesia. yang menyebabkan masalah kesehatan. Sehingga pencegahan keracunan pangan itu penting. Upaya yang dapat dilakukan adalah penyebaran pengetahuan mengenai keamanan pangan untuk menjaga higienitas dan sanitasi selama pengolahan pangan serta memilih pangan untuk dikonsumsi. Dinas Ketahanan Pangan (DKP) Tangerang Selatan adalah dinas yang memiliki tanggung jawab seputar keamanan dan ketahanan pangan. Mereka memiliki banyak kegiatan seperti memberi pelayanan dan bimbingan kepada masyarakat. Sehingga kegiatan PkM Program Studi Teknologi Pangan Universitas Pelita Harapan (UPH) dilakukan untuk memberi pelatihan mengenai keamanan pangan kepada Komunitas Anggur Tangsel (KAT). Kegiatan PkM bertujuan untuk memperkuat pengetahuan keamanan pangan anggota KAT sebagai bentuk kerja sama dengan DKP Tangerang Selatan. Kegiatan direncanakan menggunakan metode PDCA, dan dilaksanakan pada Hari Rabu, 29 Mei 2024 dihadiri oleh 30 peserta. Acara terdiri dari pemaparan materi dan kuis berhadiah. Hasil dari kegiatan PkM menunjukan bahwa seluruh peserta berpendapat bahwa materi keamanan pangan yang dibawakan menarik dan bermanfaat, namun terdapat temuan dimana KAT perlu penyuluhan mengenai pengolahan pangan lokal untuk ketahanan pangan.
Efek Edible Coating dengan Penambahan Ekstrak Daun Jati pada Mutu Daging Sapi Segar: [Effect of Edible Coating with Addition of Teak Leaf Extract on The Quality of Fresh Beef] Handayani, Ratna; Meldi, Helenna
FaST - Jurnal Sains dan Teknologi (Journal of Science and Technology) Vol. 8 No. 2 (2025): MAY
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/jstfast.v9i1.9607

Abstract

Beef is one of perishable food because it has the availability of complete nutrition. Storage at low temperatur could slow down quality degradation. Edible coating is a method that has been proven capable of protecting and inhibiting damage to food products. The addition of antimicrobial compounds can be an alternative in increasing the durability and quality of food during storage. Red teak leaves, Chinese teak leaves and Dutch teak leaves are known to have active compounds that can act as antibacterial. This study aims to study the effect of adding different types of teak leaf extract as an additive to the edible coating on the quality of beef stored at refrigerator temperatures. Each ethanol extract of teak leaves will be seen its antibacterial activity based on inhibition zones produced using the well diffusion method, MIC (Minimum Inhibitory Concentration) and MBC (Minimum Bactericidal Concentration) at concentrations of 1, 2, and 3%. Red teak leaves have the ability to produce the best inhibition zone diameter between the two other types of teak leaves at 3% extract concentration can produce inhibition zone diameter of 14.85 ± 0.05 mm against Escherichia coli bacteria and 12.93 ± 0.55 mm against Staphylococcus aureus bacteria. Edible coating with the addition of 3% red teak leaf extract is known to be able to maintain the quality of beef until the storage time of the 9th day at refrigerator temperature (chilling) based on parameters of pH, color (lightness and hue value) and total plate count (TPC). Bahasa Indonesia Abstract: Daging sapi merupakan bahan pangan yang mudah mengalami kerusakan karena memiliki ketersediaan nutrisi yang lengkap. Salah satu cara untuk memperlambat penurunan mutu daging sapi yaitu dengan penyimpanan suhu rendah. Edible coating merupakan metode yang telah terbukti mampu melindungi dan menghambat kerusakan produk pangan. Penambahan senyawa anti mikroba dapat menjadi alternatif dalam meningkatkan daya tahan dan kualitas bahan pangan selama penyimpanan. Daun jati Merah, daun jati Cina dan daun jati Belanda diketahui memiliki senyawa aktif yang dapat berperan sebagai antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari efek dari penambahan ekstrak daun jati dengan jenis yang berbeda sebagai bahan tambahan pada edible coating terhadap mutu daging sapi yang disimpan pada suhu refrigerator. Setiap ekstrak daun jati akan dilihat aktivitas antibakterinya berdasarkan zona hambat yang dihasilkan menggunakan metode difusi sumur, nilai MIC (Minimum Inhibitory Concentration) dan MBC (Minimum Bactericidal Concentration) pada konsentrasi 1, 2, dan 3%.  Daun jati Merah memiliki kemampuan menghasilkan diameter zona hambat yang paling baik diantara kedua jenis daun jati lainnya pada konsentrasi ekstrak 3% dapat menghasilkan diameter zona hambat sebesar 14,85 ± 0,05 mm terhadap bakteri Escherichia coli dan 12,93 ± 0,55 mm terhadap bakteri Staphylococcus aureus. Edible coating dengan penambahan ekstrak daun jati Merah 3% diketahui mampu mempertahankan mutu daging sapi hingga waktu penyimpanan hari ke-9 pada suhu chilling (refrigerator) berdasarkan parameter mutu pH, warna (lightness dan nilai Hue) dan total plate count (TPC).
Pemberdayaan masyarakat Desa Linggajati dalam pencegahan dan penanganan stunting dengan menggunakan potensi sumber daya lokal Nurkholidatunnisa, Wulan; Hazlisa, Dheana Ratu; Handayani, Ratna; Luthfi, Maulana Rusyda; Salsabila, Azahra Meylany; Azizah, Masitoh Nur; Setiawan, Fajar; Sudirman, Rendy
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 9, No 5 (2025): September
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v9i5.34071

Abstract

Abstrak Stunting merupakan masalah gizi kronis yang berdampak pada kualitas sumber daya manusia dan pembangunan bangsa. Di Kecamatan Sukaratu, Kabupaten Tasikmalaya, prevalensi stunting masih tinggi dengan 69 balita sangat pendek dan 364 balita pendek pada tahun 2020. Rendahnya pengetahuan masyarakat mengenai gizi, sanitasi, dan pola asuh menjadi faktor penghambat utama pencegahan. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pengetahuan masyarakat melalui penyuluhan kesehatan dengan desain pretest-posttest. Materi mencakup pengertian stunting, faktor risiko, serta dampak jangka panjang. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner sebelum dan sesudah penyuluhan, lalu dianalisis dengan uji berpasangan. Hasil menunjukkan peningkatan signifikan skor pengetahuan peserta setelah penyuluhan. Dampak PkM ini adalah meningkatnya pemahaman masyarakat mengenai gizi seimbang, ASI eksklusif, dan sanitasi layak, serta tumbuhnya motivasi untuk memanfaatkan potensi pangan lokal dalam pencegahan stunting. Dengan demikian, metode pretest-posttest dapat menjadi alat evaluasi yang tepat untuk mengukur keberhasilan edukasi kesehatan dalam menurunkan risiko stunting di wilayah dengan prevalensi tinggi. Kata kunci: stunting; pendidikan kesehatan; pre test-post test; produk lokal; pengetahuan masyakarat tasikmalaya. AbstractStunting is a chronic nutritional problem that impacts the quality of human resources and national development. In Sukaratu District, Tasikmalaya Regency, the prevalence of stunting remains high, with 69 very short toddlers and 364 stunted toddlers in 2020. Low public knowledge about nutrition, sanitation, and parenting is a major barrier to prevention. This activity aims to increase public knowledge through health education using a pretest-posttest design. The material covered the definition of stunting, risk factors, and long-term impacts. Data were collected using questionnaires before and after the education, then analyzed using a paired t-test. The results showed a significant increase in participants' knowledge scores after the education. The impact of this Community Service Program (PKM) was an increased public understanding of balanced nutrition, exclusive breastfeeding, and proper sanitation, as well as a growing motivation to utilize local food potential in stunting prevention. Thus, the pretest-posttest method can be an appropriate evaluation tool to measure the success of health education in reducing the risk of stunting in areas with high prevalence. Keywords: stunting; health education; pre test-post test; local product; community knowledge in tasikmalaya.
Peningkatan Ketahanan Pangan Melalui Diseminasi Dan Pengembangan Sup Jagung Pulut Instan Pada Beberapa Kelompok Wanita Tani Tangerang Selatan Parhusip, Adolf J.N.; Anugrahati, Nuri A.; Matita, Intan; Handayani, Ratna; Todia, Nadine E.; Surjadi, Kezia G.
Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Nusantara Vol. 5 No. 1 (2024): Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Nusantara (JPkMN)
Publisher : Lembaga Dongan Dosen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55338/jpkmn.v5i1.2355

Abstract

Pemanfaatan lahan terbatas di perkotaan dengan tanaman pangan yang bermanfaat merupakan suatu kegiatan positif dan meningkatkan nilai, baik bagi keluarga, masyarakat, dan pemerintah. Produk tanaman pangan yang berkhasiat berfungsi seperti pangan fungsional, karena   kandungan   komponen   aktifnya dapat memberikan manfaat bagi kesehatan. Selain manfaat yang diberikan oleh zat-zat gizi yang terkandung di dalamnya. Forum Kelompok Wanita Tani (KWT) Tangerang Selatan merupakan komunitas kelompok masyarakat di Tangerang Selatan yang melakukan kegiatan budidaya tanaman pangan, rempah-rempah dan hidroponik. Beberapa tanaman yang sudah dibudidayakan, antara lain jagung ketan, jahe, kencur, sereh, kelor, dan     bayam merah, serta tanaman pangan lain seperti sayuran, cabai, dan buah-buahan. Namun sebagian besar anggota Forum KWT Tangerang Selatan masih memiliki pengetahuan yang terbatas tentang manfaat kesehatan dan cara mengolah tanaman yang dibudidayakan ini menjadi produk pangan fungsional. Hal ini mendorong dilakukannya kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat oleh Program Studi Teknologi Pangan melaluimeningkatkan ketahanan pangan melalui kegiatan pelatihan dan penyuluhan tentang pembuatan produk pangan fungsional, yaitu sup berbasis jagung pulut. Kegiatan PkM dilakukan dengan metode penyuluhan (presentasi dan video) dan pelatihan (praktik langsung) di Kantor Kecamatan Ciputat Timur, Tangerang pada 21 September 2023 dan dihadiri oleh 39 orang anggota KWT Tangerang Selatan. Berdasarkan hasil yang diperoleh, Jagung pulut merupakan salah satu tanaman yang telah dibudidayakan oleh Forum KWT Tangerang Selatan. Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat diharapkan mampu membantu Masyarakat Tangerang Selatan dalam meningkatkan kesejahteraan dengan memanfaatkan potensi sumber daya alam lokal menjadi produk pangan fungsionalseluruh peserta PkM (100%) menyatakan dapat mengikuti kegiatan pelatihan dan penyuluhan dengan baik dan termotivasi meneruskan kegiatan dalam rutinitas harian. Hal ini dapat menjadi modal yang baik dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat dengan memanfaatkan potensi sumber daya alam lokal menjadi produk pangan fungsional dan berkontribusi pada usaha peningkatan ketahanan pangan.
PENGEMBANGAN PEMBELAJARAN DAN EVALUASI MATERI SURAH AL-FATIHAH JENJANG SMP KELAS 7 Handayani, Ratna; Faridi, Faridi
Cendikia: Jurnal Pendidikan dan Pengajaran Vol. 2 No. 8 (2024): Cendikia: Jurnal Pendidikan dan Pengajaran
Publisher : Cendikia: Jurnal Pendidikan dan Pengajaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.572349/cendikia.v2i8.2253

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengembangkan pembelajaran dan evaluasi mata pelajaran Al-Qur’an pada materi surah Al-Fatihah jenjang SMP kelas 7. Penelitian ini menggunakan pedekatan kualitatif. Penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif yaitu data yang digambarkan dalam keadaan sewajarnya atau bagaimana adanya data yang dikumpulkan. Penelitian ini juga menggunakan metode kepustakaan untuk menunjang data yang diperlukan yaitu dengan cara mengkaji berbagai literature kepustakaan yang menjadi referensi berupa buku, jurnal ilmiah dan informasi-informasi yang berhubungan dengan topik penelitian. Hasil penelitian ini adalah mengembangkan bahan ajar pada materi surah Al-Fatihah tentang tafsir surah Al-Fatihah. Tafsir yang digunakan adalah tafsir Al-Ahzar karya Buya Hamka. Selain itu, juga dilakukan evaluasi proses pembelajaran dan evaluasi hasil pembelajaran. Hasil evaluasi pembelajaran juga berjalan dengan baik dan dengan hasil yang baik.
PENGURANGAN MINYAK PADA PRODUK GORENGAN MENGGUNAKAN HIDROKOLOID DAN PATI TINGGI AMILOSA Saragih, Regita Ezra Dwiningris; Handayani, Ratna
FaST - Jurnal Sains dan Teknologi (Journal of Science and Technology) Vol. 7 No. 2 (2024): MAY
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/jstfast.v8i1.8261

Abstract

Consumption of high-fat fried products and high oil absorption in fried products can lead to health problems. The oil absorption can be reduced by utilizing hydrocolloids and high amylose starch as coating materials in foo products. The purpose of this study was to determine the best formulation of coating dough (high amylose starch) in oil absorption in fried products, to determine the effect of different types of raw materials and frying time on oil absorption, and to determine the effect of adding high amylose starch and hydrocolloid to absorption of fried oil products. There were 3 formulations in the preliminary study with different high amylose starch concentrations and the coating method used was battering and battering + dry coating. The lowest oil absorption is the battering method using formulation 1 which is 14.53%. In the main study different raw materials (chicken breast fillet, tofu and potato) were used and different frying times (3, 6  and 9 minutes). Oil absorption in fried products with different raw materials shows that oil absorption is also different and increases with increasing length of frying time in raw materials with the lowest moisture content (chicken breast fillets). High amylose starch and HPMC was able to reduce oil absorption in fried products by decreasing oil absorption on fried chicken breast fillets by 12.12%, on fried potatoes by 27.65% and on fried white tofu by 16.31%.Bahasa Indonesia Abstract:Konsumsi produk gorengan yang tinggi serta penyerapan minyak yang tinggi pada produk gorengan dapat menyebabkan masalah kesehatan. Penyerapan minyak tersebut dapat dikurangi dengan pemanfaatan hidrokoloid dan pati tinggi amilosa sebagai bahan pelapis pada bahan pangan. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui formulasi terbaik dari adonan pelapis (pati tinggi amilosa) dalam penyerapan minyak pada produk gorengan, untuk mengetahui pengaruh jenis bahan baku dan waktu penggorengan yang berbeda terhadap penyerapan minyak, serta mengetahui pengaruh penambahan pati tinggi amilosa dan hidrokoloid terhadap penyerapan minyak produk gorengan. Terdapat 3 formulasi pada penelitian pendahuluan dengan konsentrasi pati tinggi amilosa yang berbeda-beda dan metode pelapisan bahan yang digunakan adalah battering dan battering + dry coating. Penyerapan minyak yang paling rendah adalah metode battering menggunakan formulasi 1 yaitu 14,53%. Pada penelitian utama digunakan bahan baku yang berbeda (fillet dada ayam, tahu dan kentang) dan waktu penggorengan yang berbeda (3, 6 dan 9 menit). Penyerapan minyak pada produk gorengan dengan bahan baku yang berbeda menunjukkan penyerapan minyak yang juga berbeda dan Meninga seiring semakin lamanya waktu penggorengan pada bahan baku dengan kadar air yang paling rendah (fillet dada ayam). Kandungan pati tinggi amilosa dan HPMC mampu mengurangi penyerapan minyak pada produk gorengan dengan penurunan penyerapan minyak pada fillet dada ayam goreng sebesar 12,12%, pada kentang goreng sebesar 27,65% dan pada tahu putih goreng sebesar 16,31%.
Karakteristik Fermentasi Kitin dari Kulit Udang Windu (Penaeus monodon) dengan Kapang Trichoderma virens : [Characteristics of Chitin Fermentation from Black Tiger Shrimp (Penaeus monodon) using Trichoderma virens] Handayani, Ratna; Gerardo Kevin Liguna
FaST - Jurnal Sains dan Teknologi (Journal of Science and Technology) Vol. 9 No. 1 (2025): NOVEMBER
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/jstfast.v9i2.10371

Abstract

Black tiger shrimp (Penaeus monodon) is the most widely used shrimp in fisheries industries of Indonesia for export. This activity contribut to increase the amount of shrimp shell waste. Shrimp shell contains chitin at 15-20%. Chitin can be hydrolyzed using chitinase to produce N-acetylglucosamine. This research was conducted to determine profile of chitin fermentation yield from black tiger shrimp shell (Penaeus monodon) using Trichoderma virens. Chitin was made by demineralization and deproteination black tiger shrimp shell waste.  The production of fermentation yield was using solid substrate fermentation. Duration of fermentation process was 8 days, incubation temperature was 30 oC and pH 4. Based on the results of fourier transform infrared (FT-IR) spectrophotometer and liquid chromatography-mass spectrometry (LC-MS) analysis, it can be seen that crude N-acetylglucosamine oligosaccharides can be produced as the result of chitin fermentation besides N-acetylglucosamine. It can be determined from the presence of C-O-C groups and the molecular weight (10949,6230) which is a derivative molecule of GlcNAc-2-Man-3-GlcNAc-Fuc-GlcNAc and can be classified as N-gylcans. Bahasa Indonesia Abstract: Udang windu (Penaeus monodon) merupakan jenis udang yang paling banyak diekspor oleh negara Indonesia. Kegiatan ini berkontribusi dalam peningkatan jumlah limbah kulit udang. Di dalam kulit udang, terkandung 15-20% kitin. Kitin dapat dihidrolisis menggunakan enzim kitinase untuk menghasilkan N-asetilglukosamin. Penelitian ini bertujuan mengetahui profil hasil fermentasi kitin dari kulit udang windu (Penaeus monodon) dengan kapang Trichoderma virens. Kitin dibuat dengan proses demineralisasi dan deproteinasi limbah kulit udang windu. Proses produksi hasil fermentasi kitin menggunakan proses fermentasi substrat padat. Proses fermentasi dilakukan selama 8 hari dengan suhu inkubasi 30 oC, and pH 4. Berdasarkan hasil analisis fourier transform infrared (FT-IR) spectrophotometer dan liquid chromatography-mass spectrometry (LC-MS) dapat diketahui bahwa selain dihasilkan N-asetilglukosamin dapat dihasilkan crude oligo N-asetilglukosamin merupakan hasil fermentasi kitin. Hal tersebut dapat diketahui dari adanya gugus C-O-C dan berat molekul (1094,6230) yang merupakan molekul turunan GlcNAc-2-Man-3-GlcNAc-Fuc-GlcNAc dan dapat digolongkan sebagai N-glikan.
PEMBUATAN TELUR PINDANG DENGAN PENAMBAHAN DAUN JATI (Tectona grandis L. f.) DAN DAUN JAMBU BIJI (Psidium guajava L.) Handayani, Ratna
FaST - Jurnal Sains dan Teknologi (Journal of Science and Technology) Vol. 2 No. 1 (2018): NOVEMBER
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pemindangan telur dapat menjadi upaya untuk meningkatkan daya simpan telur rebus dan keragaman makanan di Indonesia. Telur pindang merupakan produk pangan olahan tradisional  dengan kombinasi penggaraman dan perebusan dengan menggunakan bahan penyamakan protein. Telur pindang dibuat dengan lima rasio penambahan daun jati dan daun jambu biji (100: 0, 75:25, 50:50, 25:75, dan 0: 100). Sampel kemudian dianalisis fisikokimia yang meliputi kandungan tanin, warna, kadar protein, dan kadar lemak, jumlah lempeng total selama penyimpanan, dan uji organoleptik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan rasio daun jati dan daun jambu biji mempengaruhi total mikroorganisme dalam telur selama 24 jam penyimpanan, dan tingkat kecerahan telur pindang. Formulasi terbaik berdasarkan jumlah total lempeng dan uji organoleptik adalah telur pindang yang telah direbus dengan 2% daun yang terdiri dari 50: 50 daun jati: rasio daun jambu biji dan direndam pada air rebusan selama 12 jam. 
PEMBUATAN TELUR PINDANG DENGAN PENAMBAHAN DAUN JATI (Tectona grandis L. f.) DAN DAUN JAMBU BIJI (Psidium guajava L.) [PRODUCTION OF TELUR PINDANG WITH ADDITION OF TEAK (Tectona grandis L. f.) LEAVES AND GUAVA (Psidium guajava L.) LEAVES] Handayani, Ratna; Nathan, Marshall
FaST - Jurnal Sains dan Teknologi (Journal of Science and Technology) Vol. 2 No. 1 (2018): NOVEMBER
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pemindangan of egg can be an attempt to increase the shelf life of boiled egg and diversity of food in Indonesia. Telur pindang are traditional processed food products with a combination of salting and boiling using protein tanning ingredients. Telur pindang was made with five levels of teak leaves and guava leaves (100:0, 75:25, 50:50, 25:75, and 0:100). Samplesare then analyzed for its physicochemical (tannin content, color, protein content, and fat content), total plate count during storage, and sensory analyses. The results show that the different of teak leaves and guava leaves ratio affected total microorganism in egg during 24 hours storage, and o lightness of telur pindang. The best formula based on total plate count and sensory analysis was telur pindang that had been boiled with 2% leaves which consisted of 50:50 teak leaves:guava leaves ratio and soaked for 12 hours. ABSTRAKPemindangan telur dapat menjadi upaya untuk meningkatkan daya simpan telur rebus dan keragaman makanan di Indonesia. Telur pindang merupakan produk pangan olahan tradisional dengan kombinasi penggaraman dan perebusan dengan menggunakan bahan penyamakan protein. Telur pindang dibuat dengan lima rasio penambahan daun jati dan daun jambu biji (100:0, 75:25, 50:50, 25:75, dan 0: 100). Sampel kemudian dianalisis fisikokimia yang meliputi kandungan tanin, warna, kadar protein, dan kadar lemak, jumlah lempeng total selama penyimpanan, dan uji organoleptik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan rasio daun jati dan daun jambu biji mempengaruhi total mikroorganisme dalam telur selama 24 jam penyimpanan, dan tingkat kecerahan telur pindang. Formulasi terbaik berdasarkan jumlah total lempeng dan uji organoleptik adalah telur pindang yang telah direbus dengan 2% daun yang terdiri dari 50: 50 daun jati: rasio daun jambu biji dan direndam pada air rebusan selama 12 jam.Kata kunci : daun jambu, daun jati,  tanin, telur pindang