Claim Missing Document
Check
Articles

Found 32 Documents
Search

PRODUKSI N-ASETILGLUKOSAMIN DARI KULIT UDANG MENGGUNAKAN KITINASE EKSTRASELULER DARI Providencia stuartii Halim, Yuniwaty; Cynthia, Cynthia; Hardoko, Hardoko; Handayani, Ratna
FaST - Jurnal Sains dan Teknologi (Journal of Science and Technology) Vol. 3 No. 2 (2020): MAY
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Cangkang udang tersusun dari kitin. Salah satu turunan kitin, yaitu glukosamin, biasanya terdapat dalam bentuk N-asetilglukosamin dan dapat diproduksi melalui fermentasi enzimatis terhadap kitin dengan menggunakan mikroorganisme kitinolitik. Salah satu bakteri kitinolitik adalah Providencia stuartii. Penelitian ini dilakukan untuk menentukan kondisi fermentasi optimum, yaitu pH, suhu, konsentrasi substrat, dan lama inkubasi, untuk memproduksi N-asetilglukosamin menggunakan kitinase ekstraseluler dari Providencia stuartii. pH yang digunakan dalam fermentasi adalah 3, 4, 5, 6, 7, 8, dan 9, sedangkan suhu yang digunakan adalah 30, 40, 50, 60, 70 and 80oC. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kitinase ekstraseluler kasar memiliki aktivitas optimum pada pH 5 dan suhu 40oC, yaitu berturut-turut sebesar 3,23 ± 0,06 U/ml dan 3,42 ± 0,06 U/ml. Kitinase ekstraseluler semi murni memiliki aktivitas optimum pada pH 7 dan suhu 40oC, yaitu berturut-turut sebesar 4,74 ± 0,06 U/ml and 4,44 ± 0,06 U/ml. Selanjutnya, konsentrasi kitin sebagai substrat yang digunakan adalah sebesar 0,5; 1; 1,5; dan 2% dengan lama inkubasi 2, 4, 6, dan 24 jam. Konsentrasi N-asetilglukosamin tertinggi diperoleh setelah lama inkubasi 6 jam dengan konsentrasi substrat sebesar 1%, yaitu sebesar 933,89 ± 12,55 ppm menggunakan kitinase ekstraseluler kasar dan 1050,56 ± 12,54 ppm menggunakan kitinase ekstraseluler semi murni.
EDIBLE COATING BERBASIS TAPIOKA DENGAN PENAMBAHAN BEESWAX DAN EKSTRAK TEH HIJAU PADA BUAH APEL MALANG POTONG [Cassava-Starch Edible Coating with the Addition of Beewax and Green Tea Extract Towards Fresh Cut Malang Apple] Handayani, Ratna; Aldwin, Aldwin
FaST - Jurnal Sains dan Teknologi (Journal of Science and Technology) Vol. 4 No. 1 (2020): NOVEMBER
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Fresh-cut fruits are a type of food product which has seen an increase in recent years, because of its practicality. However, some disadvantages such as short shelf-life and rapid deterioration of quality persists. One such solution to increase shelf-life and inhibit deterioration of fresh-cut fruits are usage of edible coating, which is a type of packaging meant to be eaten with the food itself. Usage of additional components can be utilised to better the properties of edible coating. This research was aimed to create an edible coating from tapioca starch with addition of beeswax and green tea extract to increase its value and application towards fresh-cut malang apple. A variation of several concentrations of green tea extract (0.25%, 0.5%, 0.75%, 1%) and beeswax (0.25%, 0.5%, 0.75%) were used to create an edible coating and observe its effect on fresh-cut malang apple. Addition of green tea extract and beeswax in edible coating are meant to improve Water Vapor Transmission Rate (WVTR), tensile strength, elongation, and thickness properties. Edible coating with addition of 0.75% green tea extract and 0.5% beeswax was chosen to be applicated to fresh-cut malang apple. The use of such edible coating was found to inhibit deterioration of quality in fresh-cut malang apple in cold and room temperature storage.AbstrakBuah potong merupakan salah satu produk pangan yang mengalami peningkatan dalam beberapa tahun terakhir, karena kepraktisannya. Beberapa kelemahan dari buah potong yaitu umur simpan yang singkat dan penurunan kualitas yang cepat. Salah satu cara untuk meningkatkan umur simpan dari buah potong dengan penerapan edible coating, yaitu proses pengemasan terhadap produk pangan yang aman dikonsumsi bersama produk. Penggunaan komponen tambahan dapat meningkatkan kualitas dan memperbaiki kualitas edible coating. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membuat edible coating berbasis tapioka dengan penambahan beeswax dan ekstrak teh hijau untuk meningkatkan nilai guna dari edible coating dan pelapisan terhadap apel malang potong. Pada penelitian ini dilakukan variasi konsentrasi penambahan ekstrak teh hijau menggunakan air  (0,25%, 0,5%, 0,75%, 1%) dan beeswax (0,25%, 0,5%, 0,75%), serta pelapisan pada buah apel malang potong untuk melihat pengaruh dan juga perubahan mutu yang terjadi. Penambahan ekstrak teh hijau dan beeswax berfungsi untuk memperbaiki kualitas dari sifat edible coating dari segi aktivitas antioksidan, total kandungan fenolik, laju transmisi uap air, kuat tarik, elongasi, serta ketebalan. Edible coating dengan formulasi penambahan ekstrak teh hijau 0,75% dan beeswax 0,5% dipilih sebagai formulasi terbaik digunakan dalam pelapisan pada buah apel malang potong. Pelapisan edible coating pada buah apel malang potong dapat menghambat penurunan kualitas sebesar 40% yang terjadi selama masa penyimpanan dalam suhu ruang (27°C) maupun suhu dingin (5°C).
VARIASI pH, SUHU DAN WAKTU PADA EKSTRAKSI PEKTIN KULIT BUAH NAGA MERAH Handayani, Ratna
FaST - Jurnal Sains dan Teknologi (Journal of Science and Technology) Vol. 4 No. 2 (2021): MAY
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kulit buah naga merah diketahui mengandung pektin yang dapat diperoleh dengan cara ekstraksi. Pektin merupakan senyawa polisakarida yang banyak ditemukan pada dinding sel primer tumbuhan. Ekstraksi pektin dapat dipengaruhi oleh pH, suhu, dan waktu. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan pH, suhu, dan waktu terbaik dalam proses ekstraksi pektin kulit buah naga merah. Penelitian tahap I bertujuan untuk menentukan pH terbaik (2, 3, 4, dan 5). Penelitian tahap II bertujuan untuk menentukan suhu (70, 80, dan 90oC) dan waktu (40, 60, dan 80 menit) terbaik. Analisis yang dilakukan terhadap pektin kulit buah naga meliputi rendemen, berat ekivalen, kadar metoksil, kadar asam galakturonat, derajat esterifikasi, viskositas, dan lightness. Pemilihan metode terbaik berdasarkan uji viskositas, kadar metoksil dan derajat esterifikasi. Metode ekstraksi terpilih adalah ekstraksi dengan pH 5, suhu 70oC, dan waktu 80 menit. Karakteristik yang dihasilkan yaitu rendemen sebesar 11,14%, berat ekivalen sebesar 896,18 mg, kadar metoksil sebesar 3,73%, kadar galakturonat sebesar 40,86%, derajat esterifikasi sebesar 51,89%, viskositas sebesar 649,83 cP, dan nilai Lightness sebesar 35,63. Pektin yang dihasilkan merupakan pektin bermetoksil rendah.
KARAKTERISTIK FISIKOKIMIA KOMBUCHA DAUN PEGAGAN (Centella asiatica (L.) Urban) DENGAN PENAMBAHAN MADU [PHYSICOCHEMICAL CHARACTERISTICS OF KOMBUCHA FROM GOTU KOLA LEAVES (Centella asiatica (L.) Urban) WITH HONEY ADDITION] Handayani, Ratna; Tjoa, Stefany Indah Pricilia; Rosa, Dela
FaST - Jurnal Sains dan Teknologi (Journal of Science and Technology) Vol. 5 No. 1 (2021): NOVEMBER
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Gotu kola (Centella asiatia (L.) Urban) is a type of plant that grows in Indonesia and is generally used as a brewed drink and traditional medicine. Kombucha is a fermented beverage of tea and sugar as a fermentation substrate using a kombucha starter culture called Symbiotic Culture of Bacteria and Yeast. This research to determine the effect of honey addition and fermentation time for antioxidant activity of kombucha. Gotu kola with concentrations of 1%, 2% and 3% leafs with 12 days of fermentation. Kombucha with the best antioxidant activity added with honey and variations in fermentation time. Kombucha analyzed in the form of antioxidant activity, total phenolic, color, pH, total titrated acid, total dissolved solids, SCOBY thickness, total bacteria, total yeast, and hedonic. Gotu kola kombucha was added with 10%, 15%, and 20% honey with 4 days, 8 days, 12 days, and 16 days of fermentation. Gotu kola kombucha with the addition of 20% honey and 12 days of fermentation had the lowest IC50 amount of 4061,64±355,41 ppm, total phenolic amount of 995,8176±0,67 mg GAE/L, lightness amount of 42,34±0,07, oHue amount of 89,76±0,02, pH amount of 2,77±0,00, SCOBY thickness amount of 0,70±0,07 cm, total bacteria amount of 4,73±8,54 CFU/mL, total yeast amount of 6,72±7,33 CFU/mL, and overall acceptance 6,27±0,96. Gotu kola kombucha with the addition of 20% honey and 12 days of fermentation had the highest antioxidant activity indicated by the lowest IC value..Keywords: fermentation; gotu kola (Centella asiatica (L.) Urban); honey; IC50; kombuchaABSTRAKPegagan (Centella asiatia (L.) Urban) adalah salah satu jenis tanaman yang tumbuh di Indonesia dan pada umumnya dimanfaatkan sebagai minuman yang diseduh dan obat-obatan tradisional. Kombucha merupakan minuman yang diperoleh dari hasil fermentasi teh dan gula sebagai substrat fermentasi dengan menggunakan starter kultur kombucha yang disebut Symbiotic Culture of Bacteria and Yeast. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan madu dan lama fermentasi terhadap aktivitas antioksidan kombucha. Kombucha akan dilakukan analisis berupa aktivitas antioksidan, total fenolik, warna, pH, ketebalan pelikel, total bakteri, total khamir, dan penerimaan secara keseluruhan. Kombucha daun pegagan ditambahkan madu 10%, 15%, dan 20% dengan lama fermentasi selama 4 hari, 8 hari, 12 hari, dan 16 hari. Kombucha pegagan dengan penambahan madu 20% dan lama fermentasi 12 hari memiliki nilai IC50 terendah yaitu sebesar 4061,64±355,41 ppm, total fenolik 995,8176±0,67 mg GAE/L, lightness 42,34±0,07, oHue 89,76±0,02, pH 2,765±0,00, ketebalan pelikel 0,70±0,07 cm, total bakteri 4,73±8,54 CFU/mL, total khamir 6,72±7,33 CFU/mL, dan dan penerimaan keseluruhan 6,27±0,96. Kombucha pegagan dengan perlakuan penambahan madu 20% dan lama fermentasi 12 hari memiliki aktivitas antioksidan tertinggi ditunjukkan dengan nilai IC50 yang terendah.          Kata kunci: IC50; kombucha; lama fermentasi; madu; pegagan (Centella asiatica (L.) Urban)
PEMBUATAN TAHU SUSU MENGGUNAKAN KOAGULAN DARI BONGGOL NANAS (Ananas comosus L.) [MANUFACTURING MILK TOFU USING COAGULANTS FROM PINEAPPLE HUMPS (Ananas comosus L.)] Pratama, Ryan; Handayani, Ratna
FaST - Jurnal Sains dan Teknologi (Journal of Science and Technology) Vol. 7 No. 1 (2023): NOVEMBER
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/jstfast.v7i2.6064

Abstract

Bromelain enzyme is a protease enzyme that can coagulate casein in milk. The use of pineapple waste, namely pineapple humps, can be used as a coagulant in making milk tofu. This research aimed to determine the best bromelain enzymes from two types of pineapple humps based on protein content and enzyme activity, as well as to analyzed the effect of bromelain enzyme crude extract concentration as a coagulant in making tofu with different heating temperatures. In phase I of the research, crude extract of bromelain enzymes was isolated and analyzed by yield, protein content, and enzyme activity. In phase II, milk tofu was made using a crude enzyme extract concentration of 0.50%; 1,00%; and 1.50% with a clotting temperature of 60 oC and 80 oC which were then analyzed by yield, water content, fat content, ash content, protein content, color and texture. The results of phase I analysis showed that the best type of humps was Queen pineapple humps with protein content of 0.12 ± 0.007 µg/ml and activity of 76.27 ± 4.43 U/ml, subsequently the humps were used for phase II analysis. The best treatment from phase II research was a crude enzyme extract concentration of 1.0% and a clotting temperature of 80oC with a yield value of 24.27 ± 0.01%, a moisture content of 68.89 ± 3.30% and a protein content of 4.64 ± 0.008%. Bahasa Indonesia Abstract:Enzim bromelin merupakan enzim protease yang dapat menggumpalkan kasein pada susu. Penggunaan limbah nanas yaitu bonggol nanas dapat digunakan sebagai koagulan dalam pembuatan tahu susu. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan ekstrak kasar enzim bromelin terbaik dari dua jenis bonggol nanas berdasarkan kadar protein dan aktivitas enzimnya, serta untuk menganalisis pengaruh konsentrasi ekstrak kasar enzim bromelin sebagai koagulan dalam pembuatan tahu dengan suhu pemanasan yang berbeda. Pada penelitian tahap I dilakukan ekstrak kasar enzim bromelin diisolasi dan dianalisis secara rendemen, kadar protein, dan aktivitas enzim. Pada tahap II dilakukan pembuatan tahu susu menggunakan konsentrasi ekstrak kasar enzim 0,50%; 1,00%; dan 1,50% dengan suhu penggumpalan 60 oC dan 80 oC yang selanjutnya dianalisis secara rendemen, kadar air, kadar lemak, kadar abu, kadar protein, warna dan tekstur. Hasil analisis tahap I menunjukkan bahwa jenis bonggol terbaik adalah bonggol nanas Queen dengan kadar protein 0,12 ± 0,007 µg/ml dan aktivitas 76,27 ± 4,43 U/ml, selanjutnya bonggol tersebut digunakan untuk analisis tahap II. Perlakuan terbaik dari penelitian tahap II adalah konsentrasi enzim 1,0% dengan suhu penggumpalan 80 oC dengan nilai rendemen 24,27 ± 0,01%, nilai kadar air 68,89 ± 3,30% dan nilai kadar protein 4,65 ± 0,008%.
PENGARUH PENAMBAHAN TEPUNG KEDELAI KUNING SEBAGAI FAT REPLACER DALAM PEMBUATAN SPONGE CAKE [THE EFFECT OF ADDING YELLOW SOYBEAN FLOUR AS A FAT REPLACER IN THE PRODUCTION OF SPONGE CAKE] Handayani, Ratna
FaST - Jurnal Sains dan Teknologi (Journal of Science and Technology) Vol. 6 No. 1 (2022): NOVEMBER
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/jstfast.v6i2.6066

Abstract

Sponge cake is a cake that requires eggs as the main raw material in the formation of foam, coagulation, and emulsification. Vegetable protein is widely used to replace the use of eggs or to replace some of the eggs in some baking products. One source of vegetable protein that has the potential to replace the role of eggs in making sponge cake is yellow soybean flour. The use of other additives such as emulsifiers is needed to improve the quality of the final sponge cake product. The purpose of this study was to determine the potential of roasted full-fat soy flour (FFSF) to replace eggs in making sponge cake with the addition of a soy lecithin emulsifier. In this study, substitution ratios of roasted FFSF and eggs were used (0:100, 25:75, 50:50, 75:25, 100:0) and variations in the concentration of soy lecithin (0, 2, 4, 6%) to determine the effect of physical characteristics of the resulting sponge cake. The addition of roasted FFSF as a substitute for eggs reduces the physical characteristics of sponge cake in terms of dough density and stability, height, volume, and specific volume of cake, color, cake texture, but reduces the value of moisture loss from the cake. The addition of soy lecithin can improve the quality of the dough and the resulting final product. Sponge cake with the best formulation that did not differ from the control was sponge cake with a substitution ratio of roasted FFSF and egg 25:75 and a soy lecithin concentration of 2%.Bahasa Indonesia Abstract:Sponge cake merupakan kue yang membutuhkan telur sebagai bahan baku utama dalam pembentukan buih, koagulasi dan emulsifikasi. Beberapa tanaman banyak dimanfaatkan sebagai sumber protein nabati yang dimanfaatkan untuk menggantikan sebagian telur. Protein nabati banyak dimanfaatkan untuk menggantikan penggunaan telur atau menggantikan sebagian jumlah telur pada beberapa produk baking. Salah satu sumber protein nabati yang berpotensi untuk menggantikan peranan telur dalam pembuatan sponge cake adalah tepung kedelai kuning. Penggunaan bahan tambahan lain seperti emulsifier diperlukan untuk meningkatkan kualitas produk akhir sponge cake. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan jumlah tepung kedelai roasted full-fat soy flour (FFSF) untuk menggantikan telur dalam pembuatan sponge cake dengan penambahan emulsifier lesitin kedelai. Pada penelitian ini digunakan rasio substitusi roasted FFSF dan telur (0:100, 25:75, 50:50, 75:25, 100:0) dan variasi konsentrasi lesitin kedelai (0, 2, 4, 6%) untuk menentukan pengaruh juga karakteristik fisik sponge cake yang dihasilkan. Penambahan roasted FFSF sebagai pengganti telur menurunkan karakteristik fisik sponge cake dari segi densitas dan stabilitas adonan, tinggi, volume, dan volume spesifik cake, warna, tekstur cake, namun menurunkan nilai moisture loss pada cake. Penambahan lesitin kedelai dapat memperbaiki kualitas adonan dan produk akhir yang dihasilkan. Sponge cake dengan formulasi terbaik adalah sponge cake dengan rasio substitusi roasted FFSF dan telur 25:75 dan konsentrasi lesitin kedelai 2%.
PENGARUH RASIO TEPUNG TAPIOKA DAN PORANG TERHADAP KARAKTERISTIK FISIK DAN SENSORI PEMPEK [THE EFFECT OF TAPIOCA AND PORANG FLOUR RATIO ON THE PHYSICAL AND SENSORY CHARACTERISTICS OF PEMPEK] Handayani, Ratna
FaST - Jurnal Sains dan Teknologi (Journal of Science and Technology) Vol. 6 No. 2 (2023): MAY
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/jstfast.v7i1.6737

Abstract

Porang tuber is one of Indonesia's local foods with high glucomannan content. Glucomannan is a type of soluble fiber that can strengthen myofibril gels which gives it potential usage in gel food such as pempek. This research is aimed to know the effect of the ratio between tapioca flour and porang flour (90:10, 80:20, dan 70:30) and concentration of fish (32.5%, 37.5%, dan 42.5%). The result showed that increasing fish concentration has a trend to also increase the springiness and scoring value of rubberiness. Increase in porang flour used cause pempek’s colour to change into more brown and lower lightness. The best formulations which is 42.5% fish concentration and tapioca flour:porang flour ratio of 90:10 has springiness of 0.92 ± 0.02, overall acceptance of 4.85 ± 1.26, moisture content of 67.32 ± 4.44%, and protein content of 5,10 ± 0,88%.Bahasa Indonesia Abstract:Umbi porang merupakan pangan lokal Indonesia yang memiliki kandungan glukomanan yang tinggi. Glukomanan merupakan serat larut yang dapat memperkuat gel miofibril sehingga dapat diaplikasikan pada produk olahan seperti pempek. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh rasio tepung tapioka dan tepung porang (90:10, 80:20, dan 70:30) dan perbedaan konsentrasi ikan tenggiri (32,5%, 37,5%, dan 42,5%) terhadap karakteristik fisik dan sensori pempek lenjer. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan konsentrasi ikan cenderung meningkatkan springiness dan nilai skoring kekenyalan dari pempek. Peningkatan jumlah tepung porang yang digunakan menyebabkan warna dari pempek semakin coklat dan lightness menjadi semakin rendah. Karakteristik pempek terbaik diperoleh dari formulasi konsentrasi ikan 42,5% dan rasio tepung 90:10 dengan springiness sebesar 0,92 ± 0,02 dan penerimaan keseluruhan sebesar 4,85 ± 1,26 serta memiliki kadar air sebesar 67,32 ± 4,44% dan kadar protein sebesar 5,10 ± 0,88%.
PEMBERDAYAAN INDUSTRI RUMAH TANGGA DALAM PENGOLAHAN BAKSO DAN DAGING SAPI SLICE BAGI KOMUNITAS UMKM KABUPATEN TANGGERANG Pramono, Rudy; Parhudip, Adolf JN; Soenarjo, Hady; Yuliantoro, Nonot; Handayani, Ratna
Prosiding Konferensi Nasional Pengabdian Kepada Masyarakat dan Corporate Social Responsibility (PKM-CSR) Vol 8 (2025): Penguatan Ekonomi Masyarakat Berbasis Ekologis untuk Mencapai Keberlanjutan Menuju Ind
Publisher : Asosiasi Sinergi Pengabdi dan Pemberdaya Indonesia (ASPPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37695/pkmcsr.v8i0.2614

Abstract

Industri rumah tangga atau IRT, merupakan salah satu kelompok industri kecil yang beroperasi di lingkungan masyarakat dan kegiatan produksinya dapat dilakukan di tempat tinggal dengan menggunakan peralatan manual hingga semi otomatis dimana pelaku industri juga berperan sebagai produsen. Industri rumah tangga di Kabupaten Tangerang memiliki potensi besar, terutama dalam sektor olahan daging sapi seperti bakso dan slice daging. Namun, banyak pelaku UMKM menghadapi berbagai kendala, termasuk kurangnya akses terhadap teknologi pengolahan, pengetahuan mengenai standar higienitas, dan strategi pemasaran yang efektif. Program ini bertujuan untuk memberdayakan komunitas UMKM di Kabupaten Tangerang melalui pelatihan dan pendampingan dalam pengolahan bakso dan slice daging sapi. Kegiatan ini dirancang untuk meningkatkan keterampilan produksi, diversifikasi produk, serta efisiensi operasional, yang pada akhirnya dapat meningkatkan pendapatan dan daya saing UMKM di sektor pangan. Teknologi yang diterapkan meliputi penggunaan alat pencetak bakso, mesin slicer, serta penerapan sistem higienitas dan manajemen usaha sederhana. Pelatihan akan dilakukan sebanyak 3 kali dimana dibagi dalam 3 sesi khusus meliputi; pengolahan bakso maupun slice daging, pengawetan alami dan cara menempelkan daging slice serta kemasan produk yang menarik. Kegiatan ini akan dilakukan selama 6 bulan mulai dari persiapan sd pelaporan kegiatan. Luaran PkM berupa publikasi jurnal dan berita media massa online. Program ini diharapkan memberikan kontribusi terhadap pemberdayaan ekonomi lokal dan mendorong keberlanjutan usaha mikro di kawasan tersebut.
Edukasi Penggunaan Obat yang Aman sebagai Upaya Peningkatan Pengetahuan Ibu Hamil di Desa Kahuripan Kabupaten Tasikmalaya Alifiar, Ilham; Qoulan T, Zellin; Solihah, Rena Nurul; Insani, Imelda Dwi; Miftahunnajah, Nadhira; Yulis, Yulis; Siti N, Riyan; Handayani, Ratna; Nurdianingsih, Sefi; Zalia P, Syipa; Yuliansyah, Ivan; Nuraini, Riska; Santi S R, Eka; Jakaria A, Reza; Khoeruman N, Fauzan
Jurnal Pengabdian Masyarakat Mentari Vol. 2 No. 7 (2026): Februari
Publisher : Amirul Bangun Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59837/jpmm.v2i6.229

Abstract

Penggunaan obat pada masa kehamilan harus mendapat perhatian khusus karena berpotensi memberikan dampak terhadap kesehatan ibu dan perkembangan janin apabila tidak digunakan secara tepat. Masih terbatasnya pemahaman ibu hamil mengenai keamanan obat menjadi salah satu faktor risiko, terutama di wilayah pedesaan dengan akses informasi kesehatan yang belum optimal. Penelitian ini bertujuan untuk menilai pengaruh pemberian edukasi kesehatan dalam meningkatkan pengetahuan ibu hamil mengenai penggunaan obat yang aman di Desa Kahuripan, Kabupaten Tasikmalaya. Kegiatan dilakukan dalam bentuk promosi kesehatan melalui penyuluhan yang disertai diskusi interaktif dan pemberian leaflet sebagai media pendukung. Evaluasi pengetahuan dilakukan menggunakan metode pre-test dan post test yang melibatkan 20 responden yang terdiri dari calon ibu, ibu hamil dan ibu menyusui yang mengikuti kegiatan di Posyandu Cempaka. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa sebelum intervensi, sebagian besar peserta memiliki tingkat pengetahuan rendah, sedangkan setelah edukasi terjadi peningkatan signifikan dengan mayoritas peserta berada pada kategori pengetahuan baik (70%). Temuan ini menunjukkan bahwa pemberian edukasi kefarmasian efektif dalam meningkatkan pemahaman ibu hamil dan dapat menjadi strategi promotif-preventif untuk mendorong penggunaan obat yang lebih aman selama kehamilan.
Microencapsulation of Anthocyanin Extract from Roselle (Hibiscus sabdariffa L.) Calyx using the Spray Drying Method Halim, Yuniwaty; Erika, Erika; Natania, Natania; Handayani, Ratna
Indonesian Food Science and Technology Journal Vol. 9 No. 1 (2025): Volume 9 Number 1, December 2025 |IFSTJ|
Publisher : Department of Technology of Agricultural product (THP) Jambi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/ifstj.v9i1.42089

Abstract

Roselle (Hibiscus sabdariffa L.) is one of the plants that is rich in anthocyanins. Anthocyanin pigments are usually unstable; therefore, one method to increase their stability is microencapsulation using various coating agents. This research aimed to determine the optimal ratio of maltodextrin and whey protein isolate (WPI) as a coating agent for producing roselle extract microcapsules and to assess the effects of pH and temperature on microcapsule stability. Dried roselle calyx was initially extracted using combinations of ethanol, distilled water, and citric acid. The roselle extract had a yield of 73.48%, a moisture content of 39.44%, a pH of 2.53, a total anthocyanin content of 38.85 mg/L, and a color intensity with a wavelength peak at 522 nm and an absorbance of 2.414. The roselle extract was then encapsulated using maltodextrin and whey protein isolate as coating agents at different ratios (1:0, 1:3, 1:1, 3:1, and 1:0) using the spray drying method. The chosen ratio of maltodextrin and whey protein isolate was 1:0, with color intensity (absorbance at 520 nm) of 0.453±0.01, yield of 66.60±4.04%, moisture content of 11.04 ±0.56%, solubility of 81.40 ±5.39%, total anthocyanin content of 10.33 ±0.25 mg/L, and encapsulation efficiency of 92.12 ±2.63%. Furthermore, the stability of the selected microcapsules at different pH (2, 4, 6, 8, and 10) and temperatures (25°C, 40°C, 55°C, 70°C, and 85°C) was assessed based on total anthocyanin content and color intensity. Results showed that the highest stability of roselle extract microcapsules was obtained at pH 2-6 and temperature below 70°C.