RICO GUSMANTO
Institut Seni Budaya Indonesia Aceh

Published : 28 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 28 Documents
Search

Bungong Rencong: Representation of the Fighting Spirit of Inong Balee in Aceh into Dance Creation Cufara, Dwindy Putri; Gusmanto, Rico
Gondang: Jurnal Seni dan Budaya Vol. 8 No. 2 (2024): GONDANG: JURNAL SENI DAN BUDAYA, DECEMBER 2024
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gondang.v8i2.63564

Abstract

Inong Balee was Aceh's war fleet led by Indonesia's first female admiral, Keumalahayati. Inong Balee consisted of widows who lost theirhusbands in the war and girls who fought against the invaders. The progress of this fleet is represented as a Lioness standing proudly on the ship of the Sultanate of Aceh. This work emerged from the fighting spirit of heroic women. This Inong Balee spirit influenced the emancipation of Acehnese women. This is what makes Aceh women different from women in other regions, where Aceh women are known to have a tough nature.This spirit is interestingly implemented in the form of abstract dance artworks. The purpose of this research is to create an abstract dance artwork that represents the Lioness in the fighting spirit of Inong Balee in Aceh as a pioneer of emancipation. The method used is the creation method byAlma Hawkins which consists of exploration, improvisation, and formation. This research is expected to answer global challenges related to women's issues, especially women in social status. With the achievement of the objectives of this research, the research output can be targeted, namely a dance artwork entitled Bungong Rencong, a scientific article in an accredited national journal, and a copyright certificate for the artwork.
Pelatihan Rias Pengantin dan Henna Art di SOS Children’s Village Banda Aceh Dwindy Putri Cufara; Fani Dila Sari; Rico Gusmanto
Jurnal Abdimas Mahakam Vol. 6 No. 02 (2022): Juli
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24903/jam.v6i02.1596

Abstract

SOS Children’s Village Banda Aceh merupakan suatu organisasi sosial yang yang mendedikasikan diri untuk pengasuhan anak-anak dan remaja yang telah atau beresiko kehilangan orang tua. Organisasi ini memfasilitasi peserta didik dalam berbagai aspek, salah satunya adalah pendidikan dan pelatihan. Pelatihan ini bertujuan untuk mempersiapkan diri peserta didik menuju kemandirian dan membangun peluang wirausaha. Minimnya tenaga pendidik dan kegiatan yang menunjang kewirausahaan di bidang seni/budaya menjadi salah satu permasalahan yang dihadapi SOS Children’s Village Banda Aceh. Selama ini, bantuan dan dukungan yang diterima organisasi ini berasal dari kantor pusat SOS Children’s Village Indonesia dan BLK Banda Aceh, belum ada instansi perguruan tinggi yang mejadi mitra dalam pengembangan kewirausahaan, khususnya di bidang seni. Banyaknya peserta didik perempuan yang berkisar pada jenjang pendidikan SMA dan Perguruan Tinggi menjadi perhatian tim pengabdi untuk membekali mereka ilmu dan keahlian dalam menunjang peluang kewirausahaan di bidang seni, yaitu dengan mengadakan pelatihan tata rias dan henna art. Pelatihan ini berorientasi pada peluang profesi make up artist (MUA) dan henna artist (HA) yang sedang trend di masa kini serta memiliki prospek yang bagus di masa mendatang. Peluang ini tidak hanya berorientasi pada saat peserta didik telah menyelesaikan jenjang pendidikan (profesi utama), namun tetap berpeluang saat mereka masih dalam proses pendidikan (profesi sampingan). Ilmu tata rias dan henna art juga berpeluang bagi peserta didik untuk menghasilkan konten-konten kreatif yang dapat menghasilkan adsense di media sosial. Dengan demikian, pelatihan ini diharapkan dapat menjadi peluang profesi utama maupun sampingan bagi peserta didik untuk menjadi seorang MUA dan HA.
Pelatihan Musik dan Tari Penyambutan sebagai Implementasi Budaya Peumulia Jamee di SOS Children’s Village Banda Aceh Rico Gusmanto; Dwindy Putri Cufara; Muhammad Tahir
Jurnal Abdimas Mahakam Vol. 8 No. 01 (2024): Januari
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24903/jam.v8i01.2442

Abstract

Peumulia Jamee merupakan kebudayaan Aceh terkait upaya memuliakan tamu, salah satunya melalui penyambutan tamu. Kegiatan penyambutan tamu dapat dilakukan melalui berbagai aktivitas dan media, salah satunya adalah melalui seni. Jenis seni yang paling umum digunakan dalam penyambutan tamu adalah seni musik dan tari. Minimnya remaja yang mampu melakukan penyambutan tamu melalui seni menjadi perhatian tim pengabdian, terutama di lingkungan organisasi sosial yang berdedikasi terhadap pendidikan dan pengembangan diri anak serta remaja. Salah satu organisasi sosial yang berfokus pada penanganan anak-anak dan remaja adalah SOS Children’s Village Banda Aceh. Organisasi sosial ini mendedikasikan diri untuk pengasuhan anak-anak dan remaja yang telah atau beresiko kehilangan orang tua dengan memfasilitasi peserta didik dalam berbagai aspek, salah satunya adalah pengembangan keterampilan seni. Minimnya tenaga pendidik dan kegiatan yang menunjang keterampilan seni menjadi salah satu permasalahan yang dihadapi SOS Children’s Village Banda Aceh, terutama dalam kegiatan penyambutan tamu. Selama ini, SOS Children’s Village Indonesia selalu menyewa jasa tenaga ahli untuk penyambutan tamu, padahal banyak peserta didik yang berpotensi namun tidak mendapat bekal dan peningkatan keterampilan dalam hal ini. Tujuan pelaksanaan pengabdian kepada masyarakat ini adalah melatih peserta didik untuk terampil dalam penyambutan tamu melalui musik dan tari sebagai implementasi budaya peumulia jamee. Pelatihan ini dilaksanakan dengan pendekatan internalisasi penguatan karakter melalui proses pembimbingan langsung yang berlangsung selama empat kali pertemuan.
Optimalisasi Produksi Musik Iringan Digital melalui Pemanfaatan Teknologi Musik di Sanggar Seni Lakuni Banda Aceh Rico Gusmanto; Muhammad Tahir; Dwindy Putri Cufara
Jurnal Abdimas Mahakam Vol. 9 No. 01 (2025): Januari
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24903/jam.v9i01.3122

Abstract

Musik digital adalah suatu musik yang diproduksi dengan sistem computerization process. Musik ini merupakan perkembangan dunia musik dengan memanfaatkan teknologi. Penggunaan musik digital sebagai iringan tari tentu lebih efisien dan efektif jika dibandingkan dengan menggunakan musik yang dimainkan secara langsung melalui instrumen musik. Mahalnya biaya produksi musik digital menjadi salah satu kendala bagi Sanggar Seni Lakuni Banda Aceh dalam berkreativitas. Sebagai sanggar yang aktif menyediakan jasa tarian, pengguna jasa sering kali meminta agar penampilan diiringi menggunakan musik digital, namun Sanggar Seni Lakuni tidak dapat memenuhinya. Hal ini berdampak pada menurunnya produktivitas sanggar dalam berkreativitas dan menyediakan jasa seni. Dengan memproduksi musik digital sendiri, Sanggar Lakuni dapat jauh menghemat biaya produksi, memupuk kemandirian dan kreativitas, menciptakan profesionalitas kerja, sehingga menjadi salah satu sanggar unggulan di Aceh. Hal ini tentu akan berdampak pada profit dan perkembangan manajemen sanggar di masa mendatang. Tujuan dari pengabdian masyarakat ini adalah melatih anggota sanggar untuk terampil dalam memproduksi musik iringan digital. Pelatihan ini dilaksanakan di komplek Taman Seni dan Budaya Aceh selama empat kali tatap muka dan satu kali pembimbingan secara daring.
Pelatihan Penulisan Cerita Pendek Digital dalam Blog di SMK Swasta Grafika ISS Kota Jantho Muhammad Tahir; Rico Gusmanto; Dwindy Putri Cufara
Jurnal Abdimas Mahakam Vol. 9 No. 01 (2025): Januari
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24903/jam.v9i01.3123

Abstract

Dalam era digital yang terus berkembang, kemampuan literasi tidak lagi terbatas pada kemampuan membaca dan menulis secara konvensional. Media online, seperti blog, telah menjadi platform penting bagi individu untuk berbagi cerita, pengalaman, dan ide-ide mereka dengan khalayak yang lebih luas. Di sisi lain, cerita pendek tetap menjadi salah satu bentuk sastra yang diminati karena kemampuannya untuk menyampaikan pesan secara singkat namun kuat. Minimnya minat siswa-siswi dalam literasi dengan memanfaatkan teknologi menjadi perhatian tim pengabdian, terutama di lingkungan sekolah yang fasilitas didalamnya sangat mendukung. Salah satu sekolah berbasis teknologi adalah SMK Swasta Grafika ISS Kota Jantho. SMK Swasta Grafika ISS Kota Jantho merupakan naungan pondok pesantren teknologi, dimana pesantren ini mengedepankan penerapan teknologi dalam proses pembelajarannya. Minimnya tenaga pendidik dan kegiatan yang menunjang keterampilan literasi dalam bentuk digital menjadi salah satu permasalahan yang dihadapi SMK Swasta Grafika ISS Kota Jantho, terutama penulisan cerita pendek digital dalam blog. SMK Swasta Grafika ISS memahami pentingnya mengembangkan keterampilan literasi siswa di era digital ini. Melalui program pelatihan penulisan cerita pendek dalam blog ini, akan memberikan siswa-siswa berkesempatan untuk menggabungkan kecintaan mereka terhadap sastra dengan penggunaan teknologi yang relevan. Tujuan pelaksanaan pengabdian kepada masyarakat ini adalah melatih peserta didik dalam menulis cerita pendek dalam blog. Pelatihan ini dilaksanakan dengan metode praktik langsung yaitu metode yang menggunakan bahasa secara intensif dalam komunikasi yang berlangsung selama 2 kali pertemuan. Pelatihan ini dilaksanakan di SMK Swasta Grafika ISS Kota Jantho yang beralamat di Jln. Transmigrasi, Gampong Buket Meusara, Kota Jantho-Aceh Besar pada tanggal 23-24 Agustus 2024 yang diikuti oleh 30 peserta.
Pelatihan Pembuatan Musik Garapan melalui Media Digital Audio Workstation sebagai Peningkatan Ekonomi Kreatif pada Lembaga Kana Art Work Angga Eka Karina; Rico Gusmanto; Rino Yuda; Toza Darlija; Riqi Anugerah
Jurnal Abdimas Mahakam Vol. 10 No. 01 (2026): Januari
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24903/jam.v10i01.3741

Abstract

Perkembangan teknologi mendorong seluruh sektor seni untuk beradaptasi, termasuk dalam produksi musik. Lembaga Kana Art Work, sebuah sanggar seni di Banda Aceh, menghadapi kendala minimnya keterampilan dan sarana produksi musik digital, sehingga biaya pembuatan musik menjadi tinggi dan produktivitas karya menurun. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan kapasitas anggota sanggar dalam memproduksi musik garapan berbasis digital sebagai upaya penguatan ekonomi kreatif. Metode yang digunakan berupa pelatihan dan pendampingan dengan pendekatan internalisasi penguatan karakter. Program dilaksanakan selama enam kali pertemuan tatap muka dan satu kali pendampingan daring pada Agustus–September 2025. Tahapan kegiatan meliputi sosialisasi, pelatihan instalasi perangkat Digital Audio Workstation (DAW), praktik produksi (tracking, overdub, editing, mixing, equalizing, dan mastering), pendampingan, serta evaluasi. Peralatan yang diperkenalkan antara lain perangkat lunak Logic Pro X, MIDI controller, soundcard, mikrofon kondensor, dan speaker monitor. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan signifikan pada pengetahuan dan keterampilan peserta; hampir seluruh dari 19 anggota sanggar mampu memproduksi musik digital secara mandiri. Luaran kegiatan meliputi karya musik digital berjudul Senandung Rubiah, artikel ilmiah terindeks SINTA (proses review), publikasi media massa, video dokumentasi, poster, dan pendaftaran Hak Cipta. Program ini terbukti menumbuhkan kemandirian produksi musik, menekan biaya rekaman, serta membuka peluang jasa produksi musik digital bagi sanggar. Ke depan, kegiatan serupa dapat dikembangkan pada aspek pemasaran karya musik digital melalui platform industri kreatif.
Analisis Musik Iringan Lagu Aneuk Yatim Ciptaan Rafly Kande Haria Nanda Pratama; Abdul Rozak; Rico Gusmanto
Musikolastika: Jurnal Pertunjukan dan Pendidikan Musik Vol. 3 No. 1 (2021)
Publisher : Program Studi Pendidikan Musik FBS UNP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/musikolastika.v3i1.66

Abstract

Lagu Aneuk Yatim merupakan karya musik bergenre pop ciptaan Rafly pada tahun 1999 yang menceritakan tentang keadaan sosial kehidupan anak-anak di Aceh terkait peristiwa konflik dan tsunami di tahun 2004, dan mencapai puncak popularitasnya baik secara lokal maupun nasional. Lagu Aneuk Yatim memiliki penggunaan instrumen dan harmoni iringan yang khas dalam kalimat lagu dengan harmoni iringan dan tangganada konvensional (background harmony). Hal tersebut menjadi rangkaian pendukung melodi yang dimainkan untuk menciptakan kesan dan pesan pada lagu. Penelitian ini mencoba untuk menguraikan dan mengidentifikasi penggunaan instrumen musik dan harmoni iringan pada lagu Aneuk Yatim, yang nantinya bisa dijadikan rujukan bagi peneliti dalam menganalisis karya musik lagu. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis deskriptif. Selanjutnya, pendekatan yang dilakukan untuk mempermudah pencarian data dilakukan dengan etik dan emik agar tercapainya kelancaran dalam proses pencarian sampai dengan pengelolaan data untuk mengindentifikasi penggunaan instrumen musik dan harmoni iringan pada lagu Aneuk Yatim. Metodologi yang dilakukan dalam penelitian ini adalah pengumpulan data yang terkait subjek maupun objek dengan cara berinteraksi langsung melalui dokumentasi, observasi, dan wawancara dengan partisipan. Penggunaan instrumen dalam lagu Aneuk Yatim terdiri dari accoustic guitar, keyboard, electric bass, dan drum set. Instrumen acoustic guitar, keyboard, dan electric bass merupakan instrumen melodis dan instrumen harmonis yang digunakan sebagai instrumen dalam memainkan melodi pada interlude, serta instrumen harmonis yang memainkan akor sebagai iringan pada melodi pokok. Harmoni iringan dan tangganada pada lagu Aneuk Yatim ini, seperti tangganada minor asli maupun minor harmonis, serta harmoni yang dipakai seperti akor I-IV-V (G-C-D
Nada-Nada Persatuan: Manifestation of the Third Principle of Pancasila in the Meugang Through Experimental Music Rico Gusmanto; Dwindy Putri Cufara; Rika Wirandi
Gondang: Jurnal Seni dan Budaya Vol. 9 No. 2 (2025): GONDANG: JURNAL SENI DAN BUDAYA, DECEMBER 2025
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gondang.v9i2.69308

Abstract

Meugang is a tradition of the Acehnese people that is carried out before Ramadan, Eid al-Fitr, and Eid al-Adha, and is rich in values of togetherness and mutual cooperation. These values are in line with the third principle of Pancasila, namely “Indonesian Unity”. Previous studies have focused on meugang as a cultural and social tradition but have not explored its ideological dimension nor its potential as the conceptual basis for musical experimentation. This research fills that gap by applying a practice-led artistic research approach, integrating observation, and interviews with Meugang practitioners. This music inspired by Cage’s sound philosophy and Lachenmann’s concept of musique concrete instrumentale. the result is an experimental music titled  Nada-Nada Persatuan (Tones of Unity), structured around three core values of mutual cooperation namely unity, harmony, and balance. The study finds that music can function as both aesthetic construction and an ideological metaphor, enabling local cultural practices to articulate national identity through sound. This research contributes to the discourse on Indonesian experimental music by demonstrating how cultural-ideological concepts can be systematically translated into sonic structures.