Claim Missing Document
Check
Articles

Found 28 Documents
Search

Reinterpretasi Keude Kupi Sebagai Axis Mundi Masyarakat Aceh dalam Bentuk Dialog Bunyi Gusmanto, Rico; Rahman, Surya
Grenek: Jurnal Seni Musik Vol. 11 No. 2 (2022): Grenek: Jurnal Seni Musik (December)
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/grenek.v11i2.38802

Abstract

Kehidupan masyarakat Aceh tidak bisa dipisahkan dengan keude kupi (warung kopi). Banyak aktivitas masyarakat yang dilakukan di keude kupi, sehingga menimbulkan stigma negatif terhadap tempat ini. Stigma negatif tersebut ditinjau dari banyaknya aktivitas membuang-buang waktu, seperti duduk berlama-lama saban hari di keude kupi, padahal dibalik stigma tersebut terdapat nilai sosial yang terjadi. Nilai sosial ini dibentuk dengan adanya interaksi sosial antara individu dengan individu, individu dengan kelompok, dan kelompok dengan kelompok. Dengan terjadinya interaksi sosial ini, komunikasi yang terbentuk dapat menghasilkan berbagai macam informasi, sehingga banyak masyarakat yang menjadikan keude kupi sebagai axis mundi. Gagasan ini diaktualisasikan melalui karya seni musik dengan menginterpretasikan kembali interaksi sosial tersebut ke dalam bentuk penggarapan dialog bunyi. Tujuan dari penelitian karya seni ini adalah untuk mengaktualisasikan interaksi sosial di keude kupi sebagai axis mundi masyaraat Aceh melalui dialog bunyi menggunakan pendekatan reinterpretasi. Untuk merealisasikan tujuan tersebut, penelitian ini menggunakan metode penciptaan dengan menggabungkan proses penciptaan musik dari Pande Made Sukerta (Menyusun Gagasan Isi, Menyusun Ide Garapan, Menentukan Garapan) dan teori garap dari Rahayu Supanggah (Materi Garap, Pengarap, Sarana Garap, Prabot, Penentu Garap, dan Pertimbangan Garap).
“Luncur Laung” Reinterpretasi Vokal Kesenian Musik Tradisional Nandong Kedalam Komposisi Musik Karawitan Mulya, Puja Tri; Dwi Putra, Rizki Mona; Gusmanto, Rico
Awilaras Vol 11 No 1 (2024): Memahami Distingsi Budaya Melalui Musik Tradisional
Publisher : LPPM ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/jal.v11i1.3091

Abstract

ABSTRAK “LUNCUR LAUNG” adalah sebuah karya komposisi musik karawitan yang berangkat dari kesenian Nandong tepatnya pada setiap awalan penandong memulai syair. “LUNCUR LAUNG” terdiri dari dua suku kata, yang mana “LUNCUR” berarti meluncur dan “LAUNG” suara yang kuat (nyaring) yang diteriakan (untuk memanggil atau menyeru). Berarti kata “LUNCUR LAUNG” di dalam karya ini dianalogikan sebagai bentuk peluncuran bunyi yang kuat dan nyaring, hal ini terlihat jelas pada kesenian Nandong Simeulue yang mana vokal Over Range yang dibentuk dengan tiga unsur yaitu panjang, tinggi dan melengking tersebut menjadi karakter yang sangat kuat. Fokus karya adalah Over Range yang terdapat dalam vokal Nandong, Over Range disini yaitu merupakan suatu unsur vokal yang dipaksa hingga melewati batas range dari instrument, Over Range pada karya “LUNCUR LAUNG” ini akan diaktualisasikan melalui materi garap serta penggunaan teknik yang dapat mewujudkan ide darya karya ini, perubahan tempo, dan penggarapan harmoni. Karya ini digarap menggunakan pendekatan reintepretasi, dengan menjadikan Over Range serta tiga unsur yang membentuknya yaitu panjang, tinggi, dan melengking sebagai bahan garap melalui instrumen vokal, seurune kale, lili seurune kale, suling, gitar bass, dan gitar elektrik. Kata kunci: Nandong, Over Range, reinterpretasi, Luncur Laung,Vokal. ABSTRACT “LUNCUR LAUNG” is a work of musical composition based on Nandong art, precisely at the beginning of each penandong poem. “LAUNCUR LAUNG” consists of two syllables, where “LAUNCUR” means to glide and “LAUNG” is a strong (loud) sound that is shouted (to call or exclaim). This means that the word "LUNCUR LAUNG" in this work is analogous to a form of launching a strong and loud sound, this is clearly seen in the art of NandongSimeulue where the Over Range vocal which is formed with three elements, namely long, high and shrill, becomes a very strong character. The focus of the work is the Over Range contained in Nandong's vocals. Over Range here is a vocal element that is forced to exceed the range limits of the instrument. Over Range in the work "LUNCUR LAUNG" will be actualized through working on material and using techniques that can realize Darya's ideas. this work, tempo changes, and working on harmony. This work was worked on using a reinterpretation approach, by using Over Range and the three elements that form it, namely long, high and shrill, as material for the work using vocal instruments, seurune kale, liliseurune kale, flute, bass guitar and electric guitar. Keywords: Nandong, Over Range, reinterpretation, LuncurLaung, Vocal.
“Tene Simah Kuet” Reinterpretasi Kesenian Musik Tradisional Didong Kedalam Komposisi Musik Karawitan. Bengi, Windi Simah; Surya Rahman; Rico Gusmanto; Dwi Putra , Rizki Mona
Awilaras Vol 11 No 2 (2024): Seni : Sinergi Tradisi dan Teknologi
Publisher : LPPM ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

“Tene Simah Kuet” is a karawitan musical composition that originates from the regum/code music element in Didong art. In Didong art, regum plays an important role as a marker for the end of the game. “Tene Simah Kuet” can be interpreted as a sign/marker that carries power in the form of changes in tempo and dynamics of a game. In this case, the artist interprets Regum in Didong art through development into rhythm and vocal forms. The work “Tene Simah Kuet” consists of a single part of the work that actualizes the regum/code of forte dynamics in the work section. “Tene Simah Kuet”  is actualized using the work material and techniques or musical terms of unison, call and response, hocketing, and dynamics. This work is worked on using a reinterpretation work approach, by making the hard dynamic regum in Didong into pillows, vocals, body percussion and wooden sticks.
Pelatihan Musik dan Tari Penyambutan sebagai Implementasi Budaya Peumulia Jamee di SOS Children’s Village Banda Aceh Gusmanto, Rico; Cufara, Dwindy Putri; Tahir, Muhammad
Jurnal Abdimas Mahakam Vol. 8 No. 01 (2024): Januari
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24903/jam.v8i01.2442

Abstract

Peumulia Jamee merupakan kebudayaan Aceh terkait upaya memuliakan tamu, salah satunya melalui penyambutan tamu. Kegiatan penyambutan tamu dapat dilakukan melalui berbagai aktivitas dan media, salah satunya adalah melalui seni. Jenis seni yang paling umum digunakan dalam penyambutan tamu adalah seni musik dan tari. Minimnya remaja yang mampu melakukan penyambutan tamu melalui seni menjadi perhatian tim pengabdian, terutama di lingkungan organisasi sosial yang berdedikasi terhadap pendidikan dan pengembangan diri anak serta remaja. Salah satu organisasi sosial yang berfokus pada penanganan anak-anak dan remaja adalah SOS Children’s Village Banda Aceh. Organisasi sosial ini mendedikasikan diri untuk pengasuhan anak-anak dan remaja yang telah atau beresiko kehilangan orang tua dengan memfasilitasi peserta didik dalam berbagai aspek, salah satunya adalah pengembangan keterampilan seni. Minimnya tenaga pendidik dan kegiatan yang menunjang keterampilan seni menjadi salah satu permasalahan yang dihadapi SOS Children’s Village Banda Aceh, terutama dalam kegiatan penyambutan tamu. Selama ini, SOS Children’s Village Indonesia selalu menyewa jasa tenaga ahli untuk penyambutan tamu, padahal banyak peserta didik yang berpotensi namun tidak mendapat bekal dan peningkatan keterampilan dalam hal ini. Tujuan pelaksanaan pengabdian kepada masyarakat ini adalah melatih peserta didik untuk terampil dalam penyambutan tamu melalui musik dan tari sebagai implementasi budaya peumulia jamee. Pelatihan ini dilaksanakan dengan pendekatan internalisasi penguatan karakter melalui proses pembimbingan langsung yang berlangsung selama empat kali pertemuan.
Sinergi Paramassa: Implementation of the Social Values of the Meugang Tradition into Digital Music Composition Gusmanto, Rico; Denada, Berlian
Gondang: Jurnal Seni dan Budaya Vol. 7 No. 2 (2023): GONDANG: JURNAL SENI DAN BUDAYA, DECEMBER 2023
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gondang.v7i2.50328

Abstract

The Meugang tradition as Acehnese local wisdom is an activity that has a togetherness. This togetherness is a social value that creates a harmonious society in the midst of the globalization era. This is something interesting to implement in the form of music compositions. The aim of this research is to create a music that implement social values in the Meugang tradition through the use of a Digital Audio Workstation. The method used is an artistic research method which consists of 1) the formulation of ideas; 2) determine the work; 3) express ideas; 4) and performances. The result of this research is music entitled "Sinergi Paramassa". This music consists of two parts that represent Meugang activities and values asah, asih, and asuh. It is hoped that this research can be an answer to the challenges of music development in the digital era in terms of the novelty of the music content sourced from local Indonesian wisdom.
Bungong Rencong: Representation of the Fighting Spirit of Inong Balee in Aceh into Dance Creation Cufara, Dwindy Putri; Gusmanto, Rico
Gondang: Jurnal Seni dan Budaya Vol. 8 No. 2 (2024): GONDANG: JURNAL SENI DAN BUDAYA, DECEMBER 2024
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gondang.v8i2.63564

Abstract

Inong Balee was Aceh's war fleet led by Indonesia's first female admiral, Keumalahayati. Inong Balee consisted of widows who lost theirhusbands in the war and girls who fought against the invaders. The progress of this fleet is represented as a Lioness standing proudly on the ship of the Sultanate of Aceh. This work emerged from the fighting spirit of heroic women. This Inong Balee spirit influenced the emancipation of Acehnese women. This is what makes Aceh women different from women in other regions, where Aceh women are known to have a tough nature.This spirit is interestingly implemented in the form of abstract dance artworks. The purpose of this research is to create an abstract dance artwork that represents the Lioness in the fighting spirit of Inong Balee in Aceh as a pioneer of emancipation. The method used is the creation method byAlma Hawkins which consists of exploration, improvisation, and formation. This research is expected to answer global challenges related to women's issues, especially women in social status. With the achievement of the objectives of this research, the research output can be targeted, namely a dance artwork entitled Bungong Rencong, a scientific article in an accredited national journal, and a copyright certificate for the artwork.
Nada-Nada Persatuan: Manifestation of the Third Principle of Pancasila in the Meugang Through Experimental Music Gusmanto, Rico; Cufara, Dwindy Putri; Wirandi, Rika
Gondang: Jurnal Seni dan Budaya Vol. 9 No. 2 (2025): GONDANG: JURNAL SENI DAN BUDAYA, DECEMBER 2025
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gondang.v9i2.69308

Abstract

Meugang is a tradition of the Acehnese people that is carried out before Ramadan, Eid al-Fitr, and Eid al-Adha, and is rich in values of togetherness and mutual cooperation. These values are in line with the third principle of Pancasila, namely “Indonesian Unity”. Previous studies have focused on meugang as a cultural and social tradition but have not explored its ideological dimension nor its potential as the conceptual basis for musical experimentation. This research fills that gap by applying a practice-led artistic research approach, integrating observation, and interviews with Meugang practitioners. This music inspired by Cage’s sound philosophy and Lachenmann’s concept of musique concrete instrumentale. the result is an experimental music titled  Nada-Nada Persatuan (Tones of Unity), structured around three core values of mutual cooperation namely unity, harmony, and balance. The study finds that music can function as both aesthetic construction and an ideological metaphor, enabling local cultural practices to articulate national identity through sound. This research contributes to the discourse on Indonesian experimental music by demonstrating how cultural-ideological concepts can be systematically translated into sonic structures.
Pelatihan Pembuatan Musik Garapan melalui Media Digital Audio Workstation sebagai Peningkatan Ekonomi Kreatif pada Lembaga Kana Art Work Karina, Angga Eka; Gusmanto, Rico; Yuda, Rino; Darlija, Toza; Anugerah, Riqi
Jurnal Abdimas Mahakam Vol. 10 No. 01 (2026): Januari
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24903/jam.v10i01.3741

Abstract

Perkembangan teknologi mendorong seluruh sektor seni untuk beradaptasi, termasuk dalam produksi musik. Lembaga Kana Art Work, sebuah sanggar seni di Banda Aceh, menghadapi kendala minimnya keterampilan dan sarana produksi musik digital, sehingga biaya pembuatan musik menjadi tinggi dan produktivitas karya menurun. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan kapasitas anggota sanggar dalam memproduksi musik garapan berbasis digital sebagai upaya penguatan ekonomi kreatif. Metode yang digunakan berupa pelatihan dan pendampingan dengan pendekatan internalisasi penguatan karakter. Program dilaksanakan selama enam kali pertemuan tatap muka dan satu kali pendampingan daring pada Agustus–September 2025. Tahapan kegiatan meliputi sosialisasi, pelatihan instalasi perangkat Digital Audio Workstation (DAW), praktik produksi (tracking, overdub, editing, mixing, equalizing, dan mastering), pendampingan, serta evaluasi. Peralatan yang diperkenalkan antara lain perangkat lunak Logic Pro X, MIDI controller, soundcard, mikrofon kondensor, dan speaker monitor. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan signifikan pada pengetahuan dan keterampilan peserta; hampir seluruh dari 19 anggota sanggar mampu memproduksi musik digital secara mandiri. Luaran kegiatan meliputi karya musik digital berjudul Senandung Rubiah, artikel ilmiah terindeks SINTA (proses review), publikasi media massa, video dokumentasi, poster, dan pendaftaran Hak Cipta. Program ini terbukti menumbuhkan kemandirian produksi musik, menekan biaya rekaman, serta membuka peluang jasa produksi musik digital bagi sanggar. Ke depan, kegiatan serupa dapat dikembangkan pada aspek pemasaran karya musik digital melalui platform industri kreatif.