Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

EKSISTENSI TASAWUF DI KALIMANTAN BARAT: KAJIAN TERHADAP PERKEMBANGAN TAREKAT Elmansyah Elmansyah; Patmawati Patmawati
Handep: Jurnal Sejarah dan Budaya Volume 3, No. 1, December 2019
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Kalimantan Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (684.276 KB) | DOI: 10.33652/handep.v3i1.56

Abstract

Tulisan yang membahas tentang eksistensi tasawuf di Kalimantan Barat cenderung bersifat parsial. Oleh karena itu, tulisan ini akan mengungkap eksistensi tasawuf di seluruh wilayah Kalimantan Barat melalui perkembangan tarekat di berbagai daerah. Tulisan ini dikerjakan menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Hasil penelitian menyimpulkan sebagai berikut: 1) tasawuf pertama kali teridentifikasi sejak datangnya Syeikh Hussein al-Qadri di Negeri Matan, Ketapang; 2) tasawuf eksis sejak murid-murid Syeikh Ahmad Khatib Sambas pulang dari haji dan mengajarkan Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah; 3) tasawuf berkembang di Kalimantan Barat dalam bentuk tarekat, antara lain Tarekat Naqsyabandiyah Muzhariyah, Tarekat Haq Naqsyabandiyah, Tarekat Al-Mu’min, Tarekat Shiddiqiyah, dan Tarekat Sammaniyah; 4) keberadaan tarekat-tarekat di Kalimantan Barat dapat dilihat melalui kondisi kehidupan beragama masyarakat, yaitu diterimanya Islam dengan baik di masyarakat yang sebelumnya sudah beragama dan Islamisasi budaya leluhur yang masih berkembang dengan tanpa mengurangi nilai-nilai budaya yang ada. 
IMPLEMENTASI DAKWAH MELALUI PEMBINAAN KEAGAMAAN PADA KOMUNITAS PEREMPUAN PENOREH GETAH DI NANGA JAJANG KAPUAS HULU P. Patmawati; Fitri Sukmawati; I. Ibrahim
Jurnal MD Vol 4, No 2 (2018)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (880.484 KB) | DOI: 10.14421/jmd.2018.42-03

Abstract

Nanga Jajang merupakan perkampungan di pedalaman Ulu Kapuas yang dihuni oleh mayoritas muslim dengan pekerjaan sebagai penoreh getah, khususnya kalangan perempuan. Harga karet yang rendah mengakibatkan perekonomian mereka terpuruk. Kesulitan ekonomi dibarengi juga dengan pemahaman keagamaan yang rendah. Karena tidak adanya pendidikan formal atau putus sekolah dan Sumber Daya Manusia yang tidak memadai. Walaupun begitu, mereka memiliki semangat beragama yang tinggi. Kondisi inilah yang melatari kami melaksanakan kegiatan dakwah melalui pembinaan keagamaan dengan pendekatan PAR (participation action research), dimana perempuan penoreh getah yang menemukan masalahnya sendiri, dan mencari solusinya secara bersama-sama. Pembinaan keagamaan melibatkan Majelis Taklim Asy-Syuhada Nanga Jajang, Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Pengkadan (Nanga Jajang bagian dari kecamatan Pengkadan), Majelis Ulama Indonesia (MUI) sebagai organisasi keagamaan di kabupaten Kapuas Hulu, dan Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) Kalimantan Barat dalam bentuk pendampingan dan penguatan mental bagi perempuan penoreh getah. Pembinaan keagamaan meliputi: bimbingan keagamaan dan motivasi beragama, bimbingan ibadah (fiqh), bimbingan kemuslimatan (fiqh muslimah), bimbingan psikologi dan akhlak, bimbingan fardu kifayah dan bimbingan al-Quran. Hasil pembinaan keagamaan terhadap perempuan penoreh getah nampak dengan tumbuhnya semangat keagamaan, kemandirian sikap, dan kecintaan mereka terhadap ilmu pengetahuan Islam. Mereka menyadari akan kekurangan dan ketidakmengertian mereka mengenai banyak hal dalam persoalan agama. Munculnya para pemerhati dakwah, khususnya mereka yang kami libatkan dalam pembinaan keagamaan baik secara perorangan maupun organisasi. Akhirnya pembinaan keagamaan terhadap perempuan penoreh getah masih tetap berlangsung sampai sekarang melalui majelis taklim Asy-Syuhada sebagai mitra kami dalam pembinaan keagamaan ini.
Peranan Nilai Philosofi Bugis Terhadap Proses Pengislaman Kerajaan Bugis Makassar di Sulawesi Selatan Patmawati Patmawati
Khatulistiwa Vol 6, No 2 (2016)
Publisher : The Pontianak State Institute of Islamic Studies

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (430.399 KB) | DOI: 10.24260/khatulistiwa.v6i2.651

Abstract

The Bugis philosophical values about monotheism, i.e. God almighty, come from ephos Galigo, namely Dewataseuae (the Only God), Datu Palanro (the Creator), Aji Patoto (the Law Giver), La Puang e (the Owner), he is the first, who provides grace and punishes the guilty. These values are in line with the values of monotheism in Islam. Islam entered South Sulawesi in the early seventeenth century brought by three Datoks: Datok ri Bandang, Datok ri Tiro and Datok ri Patimang. These three ulemas spread Islam in the palace. Therefore, the growth of Islam in South Sulawesi never had a clash between religions (sara') and the ruler (royaltycustoms). Customary people (nobility) and the religious (sara') supported each other in the spread of Islam. Once Islam had been accepted, the Bugis philosophy namely pangngaderreng/ pangngadakkang which consists of ade', wari, rapang, talk) was finally added with sara' as one of the elements of pangngaderreng / pangngadakkang.
Inter-Religious Relations in the Period of Prophet Muhammad Patmawati Patmawati
Al-Albab Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Graduate Program of Pontianak Institute of Islamic Studies

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (223.471 KB) | DOI: 10.24260/alalbab.v5i2.354

Abstract

Inter-religious relations in the period of Prophet Muhammad were running in harmony. Although there were theological differences between some religious faiths, these differences do not detract good relations. One of the written evidence of the condition of inter-religious harmony in this period was the agreement to live in peace as outlined in a treaty to respect and protect. The Madina Charter is proof that Prophet Muhammad was a religious leader as well as a political leader. The Madina Charter was born ahead of its time and can be used as a source of inspiration for building a plural society. Through the Medina Charter, the Prophet successfully organized all ethnic and religious groups in Medina, uniting them as brothers, despite different religious and ethnic backgrounds, all having the same duty to defend the State of Medina should there be an attack from outside. As a work which is based on literature research project, this article shows that the discussion of inter-religious relations in the period of Prophet Muhammad were not only supported by the works of schoolars in the fields of history and other related fields but also by the religiously based texts.
DAKWAH PADA MASA UMAR BIN KHATTAB Patmawati Patmawati
Jurnal Al-Hikmah: Jurnal Dakwah Vol 10, No 1 (2016)
Publisher : INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI PONTIANAK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24260/al-hikmah.v10i1.544

Abstract

Umar memerintah selama sepuluh tahun (634-644 M). Masa jabatannya berakhir dengan kematian. Abu Bakar menunjuk Umar sebagai penggantinya, walaupun perbuatan ini belum pernah dilakukan oleh Nabi. Kepribadian yang tegas, otoriter, tetapi berkeadilan, kereligiusannya tidak diragukan, dan orator ulung dimana ceramahnya dapat dilihat dalam buku Pidato-pidato Umar. Kehebatan Umar bin Khattab terlihat dalam mengkonsolidasikan negeri-negeri yang telah ditaklukkannya. Ia berhasil mempersatukan beberapa suku yang ada di Arab tanpa memandang ras dan suku sehingga terciptalah peradaban yang maju pada waktu itu. Umar bin Khattab Berpidato di dalam mesjid, sesudah memanjatkan puji syukur kepada Allah, Umar mengajak dan menganjurkan umat Islam untuk berjihad. Inilah yang menjadi kekuatan dasar muslim dalam menghadapi musuhnya. Umar sebagai pemimpin mampu membakar semangat para mujahid. Pemimpin seperti inilah yang tetap hidup dalam hati setgiap muslim dahulu dan sekarang.
ISMAIL MUNDU TO-PANRITA AS A SCHOLAR AND MUFTI OF THE KUBU KINGDOM IN WEST KALIMANTAN Patmawati; Hesty Nurrahmi; Fitri Susanti Ilyas
Jurnal Dakwah Tabligh Vol 23 No 2 (2022)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jdt.v23i2.31861

Abstract

This research aimed to reveal the role of the local scholars in the spread of Islam in Borneo. The only famous cleric in Borneo is Muhammad Arsyad al-Banjari from South Kalimantan. Each region in Kalimantan has its scholars, the local cleric of West Kalimantan who will be discussed in this paper is Ismail Mundu to-panrita (a scholar, religious leader, and knowledgeable person, who has worked for the benefit of the community), as a cleric and mufti of the Kubu Kingdom. The research method used in this study was the historical method by taking the following steps, namely: heuristics, criticism, auffassung, and desterliung. The results of the study found that Ismail Mundu as a scholar had practiced his knowledge in educating the community and creating a religious and peaceful society. He was appointed to be the Mufti of the Kubu Kingdom due to his success in eradicating ignorance in the community. After the Kubu Kingdom ended and merged with the Republic of Indonesia, Ismail Mundu was elected to be a judge of the Kubu Court. Ismail Mundu as mufti gave fatwas and explanations to the public regarding religious issues, which can be seen in his various works, including interpretations of the holy book Al-Quran in Bugis translation, collections of Isra' mi'raj stories, collections of sermons, collections of wirid, Remembrance of Tauhidiyah, Mukhtasar al-Mannan 'ala al-'Aqidat al-Rahman, Book of Mukhtasar Aqaid, Faidah Istighfar Rajab, Schedule of Al-Nikah, Majmu' al-Mirats fi hukmi al-Faraid. The classification of Ismail Mundu's works includes interpretation, monotheism, tasawuf, fiqh, and history.
KAUM AL HADRAMAUT DAN PENYEBARAN ISLAM DI KALIMANTAN BARAT Patmawati Patmawati; Fitri Kusumayanti
Jurnal Pendidikan, Kebudayaan dan Keislaman Vol 2 No 1 (2023)
Publisher : The Institute for Research and Community Service (LP2M) of Pontianak State Institute of Islamic Studies (IAIN Pontianak)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (302.616 KB) | DOI: 10.24260/jpkk.v2i1.1366

Abstract

The article aims to describe the diaspora of the Hadramauts in the spread of Islam in West Kalimantan. The research uses a qualitative approach with data collection through observation, interviews, and documentation. The research results show: First, the diaspora of the al-Hadramaut people was based on political, economic, and da'wah factors. Especially since the death of Ali bin Abi Thalib as the last caliph of Khulafaur Rasyidin, especially the political pressure of Bani Umayyah, following Bani Abbasiyah on the political rights of Bani Hasyim. Making Bani Hasyim leave Hijas for Yaman as a trader and preacher in the West Kalimantan region. Second, preaching through cultural and structural approaches that created the birth of various Islamic kingdoms in Sumatra, Java, Sulawesi, Kalimantan, Maluku and others. Third, his position as a formal and informal leader, as well as being attached to the power of following to give birth to the Kubu kingdom and the Pontianak Kingdom.
The Aisyiyah Women's Preaching Movement in Assisting Divorce Cases Santa Rusmalita; Patmawati Patmawati; Fitri Sukma Wati
AGENDA: Jurnal Analisis Gender dan Agama Vol 5, No 1 (2023): AGENDA: Jurnal Analisis Gender dan Agama
Publisher : State Institute of Islamic Studies Batusangkar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31958/agenda.v5i1.9321

Abstract

The family is the smallest part of society. Whole and harmonious family is coveted by every family. But not all couples can maintain a harmonious family. There are many families who have problems in their households so that they file for divorce at the Religious Courts. the divorce rate is also high. The ‘Aisyiyah women's organization feels compelled to provide divorce assistance. ‘Aisyiyah, who oversees the Law and Human Rights Council, formed a Legal Aid Post (posbakum) which is engaged in providing assistance in divorce cases. The method used is a qualitative approach with descriptive methods. The results of the research are that the Posbakum carry out mediation, using several approaches, namely the faith approach, the worship approach and the psychological approach. The results of the mediation can be seen through the data, namely out of 15 cases handled during a year, 7 cases canceled their divorce plans and 8 cases continued. Obstacles encountered in mediation are internal and external. From the internal partner, there is an ego that is still put forward by each partner. There are also those who are infected with disease. Meanwhile, externally there is family intervention, so that the couple continues their separation.
PERAN DAN FUNGSI TOUR LEADER DALAM PERJALANAN IBADAH UMRAH DI BIRO HAJI DAN UMRAH PT. IHYA TOUR TRAVEL PONTIANAK: Indonesia ARYADI, ARYADI ARYADI; Patmawati, Patmawati
J-MD Jurnal Manajemen Dakwah Vol. 1 No. 1 (2020): J-MD
Publisher : Program Studi Manajemen Dakwah, FUAD, IAIN Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24260/j-md.v1i1.125

Abstract

Latar belakang penelitian ini yaitu peneliti melihat Tour Leader adalah jabatan dalam perusahaan yang bertugas memimpin dan mengatur jalannya tour wisata baik relegian atau non realigion. Keberhasilan perjalanan ibadah umrah sangat bergantung pada seorang tour leader, tanggung jawab seorang tour leader perjalanan ibadah umrah untuk mengambil kebijakan demi kelancaran dalam penyelenggaraan ibadah umrahTujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui: peran dan fungsi Tour Leader PT. Ihya Tour dalam memimpin dan mengarahkan rombongan jamaah ibadah umrah; untuk mengetahui SOP Tour Leader yang di tetapkan oleh SKKNI,kendala-kendala yang dihadapi Tour Leader PT. Ihya Tour Pontianak. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif deskriptif. Teknik pengumpulan dan analisis data yang digunakan adalah wawancara, observasi dan dokumentasi. Analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif. Data-data yang didapatkan dari lembaga kemudian diolah secara sistematis baik berupa kata-kata tertulis, arsip dan lisan yang diamati untuk memperoleh gambaran informasi yang terhubung dengan peran Tour Leader dalam memimpin rombongan ibadah umrah. Maka diperoleh Tour Leader PT. Ihya Tour dan Travel pontianak mempunyai tugas penting dalam mewujudkan perjalanan ibadah umrah yang berjalan baik dan lancar serta memiliki kemampuan dalam melayani secara cepat dan tepat memberikan rasa aman dan nyaman, an kenangan baik kepada jamaah sehingga tercapainya kepuasan pada jamaah. SOP Tour Leader PT. Ihya Tour dan Travel sudah sesuai dengan SOP Tour Leader yang ditetapkan oleh SKKNI. Kendala- kendala yang dihadapi dalam perjalanan ibadah umrah antara lain, jamaah yang susah untuk di arahkan, jamaah yang sakit, jamaah yang tersesat, dan jamaah yang kebingungan menggunakan fasilitas yang ada di sediakan selama dalam perjlanan. Kata Kunci: peran, Tour Leader, PT Ihya Tour dan Travel, Umrah.
NILAI-NILAI DAKWAH PADA SALAM BUDAYA DAYAK KALIMANTAN BARAT (ADIL KATALINO BACURAMIN KASARUGA BASENGAT KA JUBATA) Adiansyah, Adiansyah; Widiatmaka, Pipit; Sari, Pilga Ayong; Nurrahmi, Hesty; Patmawati, Patmawati
ORASI: Jurnal Dakwah dan Komunikasi Vol 14, No 1 (2023): Juli 2023
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/orasi.v14i1.11381

Abstract

Indonesia merupakan Negara kepulauan yang memiliki kaya akan budaya. Setiap budaya memiliki filosofi sendiri dalam menjaga kedamaian dan kerukunan bermasyarakat salah satunya masyarakat dayak yang ada di Kalimantan barat. Masyarakat dayak Kalimantan Barat memiliki sebuah semboyan berupa salam budaya Adil Ka' Talino, Bacuramin Ka' Saruga, Basengat Ka' Jubata. Selaras dengan itu, Islam sebagai Agama dakwah juga memiliki tujuan membentuk masyarakat yang damai melalui misi amar maruf nahy munkar. Berangkat dari hal tersebut peneliti tertarik untuk menggali nilai-nilai dakwah yang ada pada salam budaya dayak Kalimantan Barat melalui pendekatan kepustakaan (Library Research). Setelah melakukan telaah pustaka, peneliti menemukan bahwasanya salam budaya dayak memiliki aspek keadilan, orientasi kehidupan setelah mati yakni syurga serta memiliki aspek kepasrahan. Aspek-aspek tersebut termuat pada nilai-nilai dakwah yaitu tauhid, syariah dan muamalah. Penulis berharap dengan adanya hasil telaah ini, menjadi upaya awal untuk menambah dan memperkaya referensi untuk memahami setiap budaya terkhusus dalam rangka menciptakan kerukunan di masyarakat pada ruang lingkup lokal, nasional bahkan regional.