Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

RELASI SOSIAL SISWA DALAM KEBHINEKAAN DI SD MULTI ETNIK Tri Astuti; Puji Hardati
Jurnal Binagogik Vol. 9 No. 1 (2022): JURNAL BINAGOGIK
Publisher : LPPM Universitas Cipta Mandiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61290/pgsd.v9i1.46

Abstract

Masyarakat Indonesia dikenal sebagai masyarakat yang majemuk, terdiri dari berbagai suku bangsa, agama, budaya dan adat. Keragaman atau multietnik tersebut harus mampu diakomodir dengan baik agar tidak menimbulkan konflik antar masyarakat, baik di bidang sosial, budaya maupun pendidikan. Lembaga pendidikan atau sekolah mestinya harus mampu memberikan bekal nilai toleransi pada siswanya yang memiliki latarbelakang budaya majemuk agar mereka mampu berhubungan baik atau berelasi social di sekolah. Tujuan penelitian adalah (1) Mengkaji dan menganalisis relasi sosial antara siswa. (2) Menganalisis hambatan yang dihadapi siswa dalam melakukan relasi sosial di sekolah. Metode penelitian yang digunakan adalah kulitatif dengan jenis studi kasus karena data berupa kata-kata dan kalimat dari objek penelitian yang diteliti. Lokasi penelitian di SD PHB (Pelita Harapan bangsa) kota Tegal. Sekolah ini merupakan salah satu sekolah multietnik. Tekning pengumpulan data meliputi observasi, wawancara dan observasi. Validitas data dengan teknik triangulasi sumber. Analisis data dengan Teknik analisis data kualitatif dengan adaptasi model interaktif Miles & Huberman. Berdasarkan hasil penelitian, maka dapat dikatakan bahwa siswa berinteraksi dengan temannya dengan cara a) Memahami cara hidup temannya, baik melalui interaksi langsung maupun tidak langsung, b) Berusaha menerima perbedaan budaya diantara mereka, c) Meredam egosentrisme dan primordialisme dalam diri mereka karena faktanya mereka sedang bersekolah di SD yang majemuk. Hambatan yang dihadapai siswa dalam menghadapi perbedaan di kelas adalah a) Sifat yang masik belum dewasa, b) cara berpikir yang belum berkembang, c) kurangnya kegiatan sekolah yang bertema multikultural yang dikemas secara santai. Simpulan dari artikel ini adalah siswa di SD PHB kota Tegal memiliki relasi baik dengan teman-temannya, walaupun mereka memiliki perbedaan budaya dan agama. Hal tersebut dimaksudkan agar satu sama lain dapat beradaptasi di sekolah. Adaptasi sosial sangat penting dilakukan dalam kebhinekaan di sekolah multi etnik.
Kearifan Lokal Tingkep Tandur dalam Menjaga Lingkungan Bercocok Tanam Padi di Desa Karangmulyo Kabupaten Kendal Adhelia Puteri Maharani; Saidatul Aulia; Devi Widiastuti; Dewi Liesnoor Setyowati; Puji Hardati
Sinar Dunia: Jurnal Riset Sosial Humaniora dan Ilmu Pendidikan Vol. 5 No. 3 (2026): September: Jurnal Riset Sosial Humaniora dan Ilmu Pendidikan
Publisher : Universitas Maritim AMNI Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58192/sidu.v5i3.5479

Abstract

Rice farming in agrarian villages faces ecological and social challenges, including water dependency, declining soil quality, pest risks, climate variability, and weakening farmer regeneration. At the same time, rural communities possess local wisdom that may serve as social capital for sustaining agricultural environments. This study aims to describe the implementation of the Tingkep Tandur tradition in Karangmulyo Village, Pegandon Subdistrict, Kendal Regency; analyze environmental conditions that support rice cultivation; and explain the role of this tradition in maintaining farmers' rice production. This research applies a descriptive qualitative approach using a case study design. Data were collected through village document review, visual documentation, literature study, and semi-structured interviews with village officials, elder farmers, farmers, agricultural extension officers, and young farmers. The data were analyzed through reduction, thematic categorization, source triangulation, and conclusion drawing. The findings show that Tingkep Tandur is performed when rice plants are around 60 days old as a prayer for safety, gratitude, and hope for a good harvest. The discussion indicates that the tradition functions not merely as a ritual but also as a socio-ecological mechanism that strengthens mutual cooperation, risk communication regarding pests and water, environmental ethics, and intergenerational transmission of agrarian knowledge. Therefore, Tingkep Tandur remains relevant as part of a culturally grounded sustainable agriculture strategy, provided that it is integrated with modern rice cultivation innovations, water management, balanced fertilization, and integrated pest management.