Claim Missing Document
Check
Articles

Found 21 Documents
Search
Journal : Swara Bhumi

TINGKAT KUALITAS LAHAN PERTANIAN SEBAGAI KAWASAN PERTANIAN PANGAN BERKELANJUTAN (KP2B) DI KABUPATEN SIDOARJO PROVINSI JAWA TIMUR RAKHMA WATI, WIDIA; HARI PURNOMO, NUGROHO
Swara Bhumi Vol 1, No 1 (2020)
Publisher : Jurusan Pendidikan Geografi FIS Unesa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakPertanian merupakan sumber pekerjaan utama yang ada di Indonesia. Tanah pertanian yang subur karena terletak di iklim tropis. Lahan yang seharusnya dijadikan lahan pertanian guna memenuhi kebutuhan pangan Negara, banyak beralih fungsi menjadi kawasan industri dengan berdirinya pabrik. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis potensi Kawasan Pertanian Pangan Berkelanjutan (KP2B) di Sidoarjo dan menganalisis hasil KP2B dalam sudut pandang geografis.Jenis penelitian ini adalah penelitian survey dengan pendekatan deskriptif kuantitatif. Lokasi penelitian ini dilakukan di Kabupaten Sidoarjo. Populasi pada penelitian ini adalah luas lahan pertanian yang mampu menghasilkan produksi tanaman pangan. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder. Data sekunder adalah data dari instansi pemerintah Kabupaten Sidoarjo, jurnal, hasil penelitian, dan sebagainya. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi dan dokumentasi. Teknik analisis menggunakan skoring dari lahan pertanian pangan berkelanjutan dan lahan cadangan pertanian berkelanjutan.Hasil penelitian menunjukkan bahwa delapan belas kecamatan di Kabupaten Sidoarjo yang termasuk Kawasan Pertanian Pangan Berkelanjutan (KP2B) dengan kriteria tinggi ada tiga kecamatan, dua belas kecamatan masuk dalam kriteria sedang, dan tiga kecamatan masuk dalam kriteria rendah. Kecamatan dengan kategori tinggi sebagai Kawasan Pertanian Pangan Berkelanjutan (KP2B) yaitu Kecamatan Krembung sebesar 6,1%, Kecamatan Wonoayu sebesar 6,1%, dan Kecamatan Taman sebesar 5,8%. Kecamatan yang termasuk dalam kategori sedang adalah Kecamatan Sidoarjo, Candi, Porong, Jabon, Krian, Balongbendo, Tarik, Prambon, Waru, Gedangan, Sedati, dan Sukodono dengan tingkat presentase 5,3 % - 5,6%. Kecamatan yang termasuk dalam kategori KP2B rendah adalah Kecamatan Buduran, Tulangan, dan Tanggulangin dengan presentase sebesar 5,0% - 5,3% .Kata Kunci: Pertanian berkelanjutan, Lahan Pertanian, KP2B
KAJIAN RISIKO LAHAN TAMBAK AKIBAT BANJIR DI KECAMATAN KALITENGAH KABUPATEN LAMONGAN SYAIFUR ROHMAN, KHAFID; HARI PURNOMO, NUGROHO
Swara Bhumi Vol 5, No 6 (2018): Volume 5 Nomer 6 2018
Publisher : Jurusan Pendidikan Geografi FIS Unesa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Banjir merupakan kejadian bencana tahunan yang terjadi di Kabupaten Lamongan. Wilayah ini merupakan kawasan Bengawan Jero yang memiliki ketinggian lebih rendah dibandingkan daerah sekitarnya, termasuk lebih rendah dari ketinggian Sungai Bengawan Solo, dengan 3 tingkat elevasi (0- (-24) cm, -25 cm-(-48) cm dan -49 cm-(-72) cm) yang menunjukkan bahwa Kecamatan Kalitengah adalah daerah cekungan yang rawan tergenang banjir. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat risiko banjir terhadap lahan tambak dan nilai risiko lahan tambak terhadap banjir di Kecamatan Kalitengah Kabupaten Lamongan.Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan menggunakan metode penelitian survey. Data yang digunakan adalah data primer dan sekunder. Teknik pengambilan sampel menggunakan metode sampel acak berstrata (stratified random sampling). Subjek penelitian yang dijadikan sumber data adalah petani yang memiliki tambak dikawasan Kecataman Kalitengah dan dipilih secara purposive sampling dan accidental sampling.Hasil penelitian menunjukkan dari perhitungan skor parameter tingkat risiko banjir di Kecamatan Kalitengah Kabupaten Lamongan bahwa tingkat risiko rendah sebesar 65% dengan luasan 2308,4 Ha. Tingkat risiko sedang sebesar 35% dengan luasan 1257,2 Ha. Tingkat risiko tinggi tidak terjadi sama sekali. Nilai risiko lahan tambak di Kecamatan Kalitengah paling tinggi adalah kawasan yang memiliki elevasi sedang dengan jumlah Rp 193.850.000 dengan rata-rata Rp 13.846.429. Elevasi rendah dan tinggi masing-masing memiliki nilai risiko Rp 105.300.000 dengan rata-rata Rp 10.530.000 dan Rp 118.450.000 dengan rata-rata Rp 10.768.182. Hal ini disebabkan oleh faktor kerentanan dengan sistem irigasi tadah hujan yang tidak membutuhkan perawatan mahal dan pada sebagian besar satu unit lahan tambak ditanami lebih dari satu komoditas untuk mengantisipasi kerugian yang tinggi akibat banjir.Kata kunci : Risiko, Lahan Tambak, Kecamatan Kalitengah
ANALISIS NILAI TUKAR PETANI PENGGARAP DI KECAMATAN GEDEG KABUPATEN MOJOKERTO DENI RAHMADIN, HAFID; HARI PURNOMO, NUGROHO
Swara Bhumi Vol 5, No 7 (2018)
Publisher : Jurusan Pendidikan Geografi FIS Unesa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakPeran sektor pertanian telah terbukti dari keberhasilan pada saat krisis ekonomi yang lalu dalam menyediakan kebutuhan pangan pokok dengan jumlah yang memadai, dan tingkat pertumbuhannya yang positif dalam menjaga laju pertumbuhan nasional. Peran sektor pertanian masih cukup besar sebagai sumber pendapatan rumah tangga (Rusastra, 1998. Struktur pengeluaran rumah tangga dipengaruhi oleh beberapa hal diantaranya adalah perubahan pengeluaran menurut waktu, perbedaan antar selera, perbedaan pendapatan dan lingkungan. Perilaku pengeluaran rumah tangga yang tersedia harus sesuai dengan tingkat kemampuan pendapatan yang diperoleh dan bagaimana mendistribusikannya, agar tidak terguncang untuk memenuhi kebutuhan dibawah tingkat kesejahteraan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui besar pendapatan dan pengeluaran petani penggarap dan nilai tukar petani penggarap di Kecamatan Gedeg Kabupaten Mojokerto.Jenis penelitian adalah deskriptif kuantitatif yang dianalisis dengan teknik persentase dan rumus nilai tukar petani (NTP). Variabel-variabel yang digunakan adalah pendapatan dalam usaha tani, pendapatan di luar usaha tani, pengeluaran dalam usaha tani, dan pengeluaran di luar usaha tani.Hasil penelitian menunjukkan pendapatan dalam usaha tani oleh petani penggarap sebagian besar berada pada rentang Rp 1.500.000 ? Rp 3.700.000 untuk setiap panen sebesar 41%. Berdagang menjadi pilihan sebagian besar petani penggarap untuk menambah pendapatan di luar usaha tani dengan jumlah 74 petani. Sebagian besar pendapatan dari berdagang berada pada rentang Rp 1.000.000 ? Rp 1.500.000 dengan jumlah 27 petani atau 36,5%. Pengeluaran paling besar dalam usaha tani digunakan untuk sewa lahan, terdapat 20 petani atau 20% yang mengeluarkan Rp 6.000.000 ? Rp 8.000.000 untuk sewa lahan. Nilai tukar petani penggarap di Kecamatan Gedeg Kabupaten Mojokerto adalah 1,13 yang artinya petani tidak kekurangan dalam memenuhi kebutuhan subsistennya.Kata Kunci: Petani Penggarap, Pendapatan, Pengeluaran, Nilai Tukar Petani
PREDIKSI KEBUTUHAN PANGAN POKOK PADI DAN JAGUNG TERHADAP PERUBAHAN JUMLAH PENDUDUK TAHUN 2018 – 2038 DI KABUPATEN PASURUAN PUTRI WIYANTI, DANARJATI; HARI PURNOMO, NUGROHO
Swara Bhumi Vol 5, No 7 (2018)
Publisher : Jurusan Pendidikan Geografi FIS Unesa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakPertambahan jumlah penduduk merupakan fenomena kehidupan yang dapat mempengaruhi kegiatan sosial budaya masyakarat melalui dampak secara langsung maupun tidak langsung melalui penurunan luas lahan produktif yang beralih fungsi menjadi lahan tidak produktif, sehingga pada akhirnya akan mempengaruhi hasil produksi bahan pangan terutama bahan pangan padi dan jagung. Kabupaten Pasuruan merupakan wilayah yang mengalami fenomena tersebut jika dilihat dari tahun 2016 telah terjadi peningkatan jumlah penduduk sebesar 11.896 jiwa serta penurunan luas lahan pertanian sebesar 489 ha dan diimbangi peningkatan lahan bukan pertanian sebesar 490 ha di Kabupaten Pasuruan. Terjadinya penurunan luas lahan pertanian perlu diperhatikan dengan tujuan untuk mengetahui prediksi jumlah penduduk, luas lahan sawah dan tegal/kebun, serta produksi bahan pangan padi dan jagung, untuk mengetahui rasio pangan padi dan jagung tahun 2018 ? 2038 pada masing ? masing Kecamatan di kabupaten Pasuruan.Penelitian ini termasuk jenis penelitian deskriptif kuantitatif. Populasi yang digunakan berupa unit analisis atau produksi bahan pangan pokok padi dan jagung pada masing ? masing Kecamatan. Data yang digunakan berupa data sekunder di tahun 2016. Teknik analisis data menggunakan aplikasi spectrum modul Demography Projection (DemProj) dan Socioeconomic Impacts of High Fertility and Population Growth (RAPID) serta rumus dari Dinas Peternakan dan Ketahanan Pangan Kabupaten Pasuruan.Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi peningkatan jumlah penduduk pada seluruh Kecamatan di tahun 2018 ? 2038 yang dipengaruhi oleh kelahiran, kematian, dan migrasi. Perubahan luas lahan sawah dan tegal/kebun ada yang mengalami peningkatan dan penurunan luas lahan di tahun 2018 ? 2038 yang disebabkan oleh musim, saluran irigasi serta pertambahan jumlah penduduk. Produksi padi dan jagung juga mengalami peningkatan dan penurunan produksi di tahun 2018 ? 2038 yang disebabkan oleh sistem irigasi, tenaga kerja, dan musim. Perubahan yang terjadi mengakibatkan perubahan pada rasio pangan padi dan jagung yang sebagian besar berada di tingkat swasembada atau = 1 di tahun 2038.Kata Kunci: Penduduk, Lahan, Produksi, Prediksi Padi dan Jagung.
ANALISIS ARAH PERKEMBANGAN WILAYAH DI KECAMATAN BABAT KABUPATEN LAMONGAN ROSITA, INO; HARI PURNOMO, NUGROHO
Swara Bhumi Vol 5, No 7 (2018)
Publisher : Jurusan Pendidikan Geografi FIS Unesa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakKecamatan Babat merupakan kecamatan terbesar kedua di Kabupaten Lamongan setelah Kecamatan Lamongan, melihat potensi yang dimiliki oleh Kecamatan Babat yang menjadi jalur pusat yang strategis dalam perdagangan dan jasa di Kabupaten Lamongan dan juga perkembangan jumlah penduduk, industri dan perkembangan fasilitas sosial dan fasilitas ekonomi di Kecamatan Babat terus mengalami peningkatan pastinya memiliki dampak yang sangat besar bagi perkembangan wilayah khusnya pada desa yang menjadi pusat perdagangan dan jasa di wilayah Kecamatan BabatPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat perkembangan wilayah pada setiap desa di Kecamatan Babat Kabupaten Lamongan yang diklasifikasikan menjadi tiga yaitu tingkat perkembangan wilayah rendah, sedang dan tinggi, setelah mengetahui tingkat perkembangan wilayah pada setiap desa maka akan diketahui arah perkembangan wilayah yang tergolong desa dengan tingkat perkembangan wilayah tinggi yang menandakan bahwa perkembanagan wilayah maju dan di Analisis melui citra multitemporal google earth dan disertai dengan data sekunder. Penelitian ini termasuk penelitian deskriptif kuantitatif mengenai tingkat perkembangan wilayah, dalam penelitian ini pendekatan yang digunakan adalah pendekatan keruangan unit analisisnya adalah seluruh desa di Kecamatan Babat yaitu 21 desa dan 2 kelurahan.Hasil penelitian ini adalah tingkat perkembangan wilayah pada setiap desa di Kecamatan Babat hanya terdapat pada satu desa yang memiliki perkembangan wilayah tinggi menandakan wilayah dengan perkembangan yang maju, terdapat satu desa yang memiliki perkembangan wilayah sedang menandakan wilayah yang sedang berkembang, dan 21 desa yang tergolong perkembangan wilayah rendah menandakan wilayah tertinggal. Disimpulkan bahwa arah perkembangan wilayah di Kecamatan Babat mengarah kearah barat yang terdapat pada satu desa memiliki tingkat perkembangan wilayah yang tinggi yaitu terdapat pada Kelurahan Babat dan perkembangan wilayah di Kecamatan Babat cenderung tidak merata karena hanya memusat pada satu desa.Kata kunci: Tingkat Perkembangan Wilayah, Arah Perkembangan Wilayah.
KAJIAN KASUS PERUBAHAN STATUS KEPEMILIKAN LAHAN PERTANIAN MASYRAKAT PETANI DI DESA SUMURAGUNG KECAMATAN SUMBERREJO KABUPATEN BOJONEGORO ULFA, MARIYA; HARI PURNOMO, NUGROHO
Swara Bhumi Vol 5, No 8 (2018)
Publisher : Jurusan Pendidikan Geografi FIS Unesa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Nilai lahan tidak hanya sebagai aset yang dapat diolah dan dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,namun juga sebagai aset yang dapat dijadikan sebagai investasi atau tabungan yang relatif aman dan menguntungkan.Perkembangan zaman menyebabkan tanah mulai diperjual belikan, yang kemudian menimbulkan adanya asaspenawaran dan permintaan. Jumlah penduduk dan permintaan akan lahan yang terus meningkat menyebabkan semakinbanyak kasus perubahan status kepemilikan lahan pertanian di Desa Sumuragung. Tujuan dari penelitian ini adalahuntuk mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan adanya perubahan status kepemilikan lahan pertanian di DesaSumuragung.Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Lokasi penelitian dilakukan diDesa Sumuragung Kecamatan Sumberrejo Kabupaten Bojonegoro. Subyek dalam penelitian ini adalah petani yangmenjual lahan pertaniannya dengan sumber data yang digunakan adalah data primer dan sekunder. Pengumpulan datamenggunakan wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi. Teknik analisis data dilakukan dengan tiga tahapan,yaitu reduksi data, penyajian data dan kesimpulan.Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa perubahan status kepemilikan lahan pertanian di Desa Sumuragungdisebabkan karena semakin maraknya penjualan lahan pertanian, sistem bagi waris yang mengharuskan pembagianlahan kepada ahli waris yang ditinggalkan serta adanya wakaf. Faktor yang mempengaruhi perubahan statuskepemilikan lahan pertanian yaitu lokasi lahan, kesempatan membeli lahan lain, tuntutan ekonomi, kebutuhanpendidikan anak, harga lahan yang semakin meningkat, adat dan pengaruh warga lain. Petani Desa Sumuragungsebagian besar melakukan jual beli tanah secara langsung menurut Undang Undang Pokok Agraria (UUPA). Prosesbalik nama pemilikan tanah atau pengurusan sertifikat tanah sebagian besar petani melalui broker jasa pengurusansertifikat tanah dan balik nama pemilikan tanah.Kata kunci : Perubahan, Kepemilikan Lahan, Lahan Pertanian
ANALISIS KERAWANAN PANGAN KABUPATEN BOJONEGORO APRILIA KARTIKA SARI, FIRDA; HARI PURNOMO, NUGROHO
Swara Bhumi Vol 5, No 8 (2018)
Publisher : Jurusan Pendidikan Geografi FIS Unesa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakKetahanan pangan merupakan kondisi terpenuhinya kebutuhan gizi serta pangan bagi penduduk di suatu wilayah. Tidak terpenuhinya pangan suatu wilayah akan menyebabkan berbagai masalah pangan salah satunya kerawanan pangan. Kabupaten Bojonegoro merupakan penyumbang beras terbesar nomor 4 di Provinsi Jawa Timur namun berdasarkan data Badan Pusat Statistika (BPS) Kabupaten Bojonegoro memiliki tingkat sumber daya manusia yang masih rendah dan menjadi kabupaten termiskin diurutan ke 11. Kondisi ini menunjukkan bahwa Kabupaten Bojonegoro masih memiliki gejala kerawanan pangan. Peneliti tertarik untuk melihat kondisi ketahanan pangan berdasarkan indikator kerawanan pangan kronis.Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif dengan menggunakan analisis yang sama dengan Food Security and Vulnerability Atlas of Indonesia (FSVA) 2009. Analisis ini indikator kerawanan pangan kronis terdiri dari 9 indikator kemudian dimasukan kedalam rumus, hasilnya akan dikelompokkan berdasarkan 6 kategori kerawanan pangan serta dibuat peta ketahanan pangan dengan perhitungan hasil indeks komposit dari setiap indikator.Hasil penelitian ini adalah kondisi ketahanan pangan Kabupaten Bojonegoro terdapat satu kecamatan yang termasuk kategori rawan yaitu Kecamatan Gayam dan satu kecamatan pada kategori agak rawan yaitu Kecamatan Tambakrejo. Pada kategori cukup tahan ada 18 Kecamatan dan yang termasuk kategori tahan ada 8 kecamatan. Hal ini menunjukkan pemenuhan kebutuhan pangan Kabupaten Bojonegoro masih terpenuhi dan tahan pangan namun masih membutuhkan perbaikan pada 2 kecamatan lainnya.Kata Kunci : Ketahanan Pangan, Kerawanan Pangan Kronis, Pemetaan
KAJIAN KESESUAIAN KUALITAS AIR UNTUK BUDIDAYA IKAN GURAME DI DESA NGRANTI KECAMATAN BOYOLANGU KABUPATEN TULUNGAGUNG PUSPITASARI, DEVI; HARI PURNOMO, NUGROHO
Swara Bhumi Vol 5, No 9 (2018)
Publisher : Jurusan Pendidikan Geografi FIS Unesa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakKabupaten Tulungagung mempunyai potensi sumber daya perikanan berupa perairan laut, payau, perairanumum dan budidaya air tawar. Berdasarkan data dari Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Tulungagung,produksi perikanan air tawar terbesar di Kabupaten Tulungagung adalah Ikan gurame dengan produksi 1,247,308.00 kgdengan nilai produksi 26.193.468.000,00. Bagi petani ikan, hujan deras kerap membawa kecemasan karena rendahnyanilai ADG (Average Daily Growth) dan nilai SR (Survival Rate) atau kondisi ikan tidak dapat tumbuh optimal. Kualitasair menjadi syarat utama dalam usaha budidaya perikanan dalam meningkatkan produksi dan produktivitas. Penelitianini bertujuan untuk mengetahui karakteristik air dan kesesuaian parameter kualitas air untuk kegiatan budidaya.Penelitian ini menggunakan penelitian deskriptif kuantitatif dengan mengambil keseluruhan jumlah populasisebagai sampel penelitian, yaitu dilakukan pada 21 unit kolam budidaya yang ada pada daerah penelitian. Parameterkualitas air tersebut kemudian disesuaikan berdasarkan standar kesesuaian kualitas air untuk budidaya gurame dalamkategori sesuai (S1), cukup sesuai (S2), tidak sesuai (N).Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesesuaian parameter kualitas air pada enam (6) variabel kimia air adalahsesuai, cukup sesuai dan tidak sesuai. Keseluruhan parameter hasil pengukuran Hidrogen Sulfida (H2S) dan kecerahanair dibeberapa kolam menjadi faktor pembatas dalam budidaya perikanan (tidak sesuai). Nilai H2S yang rendah dalamair disebabkan oleh pakan sisa yang tidak terkonsumsi oleh organisme budidaya yang disebabkan oleh suasanaanaerobik yang memungkinkan oksidasi H2S. Kekeruhan air disebabkan oleh umur ikan, ketika ikan sudah mendekatipanen (besar) maka hasil ekskresi ikan akan semakin banyak sehingga otomatis air menjadi keruh. Faktor yang tidakmempengaruhi perbedaan kualitas air untuk budidaya dalam penelitian ini adalah topografi wilayah, curah hujan,kondisi lingkungan, dan pendidikan petani.Kata kunci : kualitas air, budidaya gurame, Kabupaten Tulungagung
ANALISIS TINGKAT KERENTANAN PERMUKIMAN TERHADAP BANJIR DI SUB DAERAH ALIRAN SUNGAI MARMOYO KECAMATAN PLOSO KABUPATEN JOMBANG NAZMELIA, AUDHIYAH; HARI PURNOMO, NUGROHO
Swara Bhumi Vol 1, No 1 (2019)
Publisher : Jurusan Pendidikan Geografi FIS Unesa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakBanjir adalah salah satu permasalahan umum yang sering terjadi di Kabupaten Jombang. Kabupaten jombang mempunyai kapasitas aliran sungai yang kurang memadai sehingga kondisi topografi juga menjadi salah satu faktor pendorong terjadinya genangan banjir setiap tahun pada musim penghujan. Topografi wilayah Kabupaten Jombang relatif landai dengan kemiringan 0-2% dengan tingkat elevasi 44 mdpl yang mana relatif lebih rendah dibandingkan daerah sekitarnya. Kawasan Marmoyo memiliki ketinggian lebih rendah dari ketinggian Sungai Brantas, dengan tingkat elevasi 0 sampai 50 m. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat bahaya banjir dan tingkat kerentanan permukiman terhadap banjir di Sub Daerah Aliran Sungai Marmoyo Kecamatan Ploso Kabupaten Jombang.Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan menggunakan metode survei. Teknik pengambilan sampel menggunakan Random Sampling dengan jumlah subjek penelitian sebanyak 39 orang. Subjek penelitian yang dijadikan sumber data adalah masyarakat yang bermukim di daerah rawan banjir di Sub Daerah Aliran Sungai Marmoyo yang dipilih secara Purposive Sampling dan Accidental Sampling. Metode pengumpulan data dengan cara observasi, kuesioner, dan wawancara.Hasil penelitian ini adalah dari perhitungan skor parameter tingkat bahaya banjir di Sub Daerah Aliran Sungai Marmoyo menunjukkan bahwa untuk kategori lama genangan >48 jam. Pada kategori tinggi genangan dan frekuensi genangan banjir menunjukkan bahwa tinggi genangan >50 cm dan frekuensi genangan 2-5 kali kejadian dalam satu tahun. Perhitungan tingkat kerentanan permukiman terhadap banjir dengan menjumlahkan skor indikator variabel kondisi rumah, intensitas genangan, dan persepsi kenyamanan tempat tinggal masyarakat dengan jumlah 39 sampel penelitian yaitu ada 10 sampel penelitian yang menunjukkan tingkat kerentanan rendah, sisanya 18 sampel penelitian menunjukkan tingkat kerentanan tinggi di seluruh kawasan Sub Daerah Aliran Sungai Marmoyo Kecamatan Ploso Kabupaten Jombang.Kata kunci : Bahaya Banjir, Kerentanan Permukiman, Sub Daerah Aliran Sungai Marmoyo
EVALUASI KESESUAIAN LAHAN UNTUK TANAMAN JAGUNG (ZEA MAYS) DI KABUPATEN BANGKALAN MENGGUNAKAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS ISTIQOMAH, NUR; HARI PURNOMO, NUGROHO
Swara Bhumi Vol 1, No 1 (2019)
Publisher : Jurusan Pendidikan Geografi FIS Unesa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakIndonesia mempunyai harapan yang sangat besar dalam pengembangan pertanian lahan kering di masa mendatang mengingat potensi dan luas lahannya yang jauh lebih besar daripada lahan sawah atau lahan gambut. Pulau Madura merupakan salah satu pulau yang terletak di wilayah Jawa Timur yang memiliki areal untuk tanaman untuk jagung kurang lebih 360.000 Ha (30% areal jagung di Jawa Timur). Bangkalan adalah kabupaten penghasil jagung terbesar kedua di Madura dengan produksi sebanyak 144.771 ton pada tahun 2016, namun informasi mengenai kelas kesesuaian lahan untuk tanaman jagung di Kabupaten Bangkalan masih sangat terbatas. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik lahan, kelas kesesuaian lahan, produksi dan produktivitas tanaman jagung serta keselarasan antara kondisi lahan dan potensi pertanian tanaman jagung di daerah penelitian sehingga lahan yang ada dapat dimanfaatkan dengan maksimal.Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode analisis spasial dengan teknik matching yaitu mencocokkan antara karakteristik penggunaan lahan di daerah penelitian dengan syarat tumbuh optimal tanaman jagung di Kabupaten Bangkalan, sehingga diperoleh kelas-kelas kesesuaian lahan S1 yang berarti sangat sesuai, S2 cukup sesuai, S3 sesuai marginal dan N tidak sesuai. Sumber data dalam penelitian ini berupa data primer dan sekunder. Variabel yang diukur dalam penelitian ini adalah jumlah curah hujan tahunan (mm/th), temperatur (°C), tekstur tanah, kemiringan lereng, pH tanah dan C-organik.Hasil dari penelitian ini Kabupaten Bangkalan memiliki 3 kelas kesesuaian lahan aktual untuk tanaman jagung yaitu S2, S3, dan N. Lahan seluas 16301 Ha (29,31%) dengan kelas kesesuaian S2, 25610 Ha (46%) lahan dengan kelas kesesuaian S3 dan 13706 Ha (24.64%) lahan dengan kelas kesesuaian N. Berdasarkan identifikasi keselarasan antara kesesuaian lahan dengan produktivitas tanaman jagung di daerah penelitian, diperoleh lahan dengan kategori "S2-Rendah" dengan luasan 31370 Ha (11,2%) yang pengusahaan pertanian tanaman jagungnya belum dilakukan secara optimal. Kategori "S3-Rendah? dan "N-Rendah" seluas 123903 Ha (44%) yang menunjukkan bahwa wilayah-wilayah tersebut memiliki daya dukung yang relatif buruk kaitannya dengan usaha tanaman jagung.Kata kunci : kesesuaian lahan, keselarasan, produktivitas pertanian