Claim Missing Document
Check
Articles

Beban Pencemaran di Sungai Sibam Kota Pekanbaru Provinsi Riau Hardion Saputra; Yuliati Yuliati; Muhammad Fauzi
Ilmu Perairan (Aquatic Science) Vol 11, No 2 (2023): Juli
Publisher : Universitas Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31258/jipas.11.2.p.135-144

Abstract

Daerah Aliran Sungai (DAS) Sibam terdapat aktivitas permukiman penduduk, penambangan pasir dan perkebunan kelapa sawit yang berpotensi menghasilkan limbah ke Sungai Sibam. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis kualitas air dan beban pencemaran di Sungai Sibam. Penelitian dilakukan pada bulan Juni-Agustus 2022. Pengambilan sampel air dilakukan pada bagian hulu, tengah dan bagian hilir sungai.  Parameter kualitas air yang diukur meliputi suhu, kecepatan arus, debit, TSS, DO, BOD, COD, Ammonia, nitrit, nitrat dan Total Fosfat. Perhitungan beban pencemar dilakukan dengan menghitung beban pencemar aktual (BPA) dan beban pencemar maksimum (BPM). Parameter kualitas air yang telah diukur dibandingkan dengan PP 22/2021 Kelas III.   Hasil pengukuran kualitas air di Sungai Sibam selama penelitian menunjukan bahwa kualitas air Sungai Sibam masih memenuhi Baku mutu kecuali untuk parameter ammonia dan nitrit. Kadar ammonia dan nitrit di Sungai Sibam masing-masing berkisar 0.09–0.10 mg/L dan 0,07 mg/L. Perhitungan beban aktual Sungai Sibam paling tinggi bersumber dari COD (436,04-3789,27 kg/hari), diikuti TSS (132,48-1052,35 kg/hari), nitrit (2,80-16,51 kg/hari), nitrat (2,54-16,15 kg/hari), amonia (2,19-13,88 kg/hari), dan terendah total fosfat (1,52-12,38 kg/hari). Dari perhitungan beban aktual, untuk parameter amonia dan nitrit telah melewati beban pencemaran maksimum sehingga Sungai Sibam tidak dapat menampung beban parameter amonia dan nitrit
Ekomorfologi Udang Galah (Macrobrachium rosenbergii) di Sungai Rokan Dan Sungai Siak Provinsi Riau Rizka Khairunnissa; Muhammad Fauzi; Eko Prianto
Ilmu Perairan (Aquatic Science) Vol 11, No 2 (2023): Juli
Publisher : Universitas Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31258/jipas.11.2.p.113-119

Abstract

Macrobrachium rosenbergii dikenal dengan nama udang galah adalah salah satu crustacea yang memiliki nilai ekonomis penting dan dapat dijumpai di sungai rokan dan sungai siak. Kedua sungai ini merupakan sungai besar di Provinsi Riau namun perairan Sungai Rokan dan Sungai Siak saat ini sudah mengalami tekanan atau tercemar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi perairan Sungai Rokan dan Sungai Siak, juga mengetahui perbedaan morfologi dari udang galah yang diperoleh dari Sungai Rokan dan Sungai Siak. Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan April-Mei 2022. Sampel di peroleh dari Sugai Siak dan Sungai Rokan dan pengamatan dilakukan di Laboratorium. Pengambilan sampel udang dilakukan 3 kali sekali/2 minggu. Udang ditangkap menggunakan jala dan pancing. Data udang dianalisis dengan uji Kruskall-Wallis dan uji Mann Whitney. Tujuh parameter lingkungan perairan dan sembilan belas karakteristik morfologi udang dipelajari. Panjang karapas (CL) digunakan sebagai referensi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa di sungai rokan suhu air 30-310C, kecerahan 13-26cm, pH 6, oksigen terlarut 2,53-8,33 mg/L, karbon dioksida 2,8-5,00 mg/L, BOD5 10,10-33,20 mg/L, kekerasan 100,0 -160,0 mg/L, dan suhu air Sungai Siak 26-300C, kecerahan 14-23 cm, pH 6, oksigen terlarut 2,08-4,12 mg/L, karbon dioksida 2,7-4,00 mg/L, BOD5 10,10-33,20 mg/ L, kekerasan 115,0-155,0 mg/L. Karakteristik morfologi udang dari kedua sungai berbeda (p<0,05). Udang dari Sungai Rokan lebih kecil dari Sungai Siak (masing-masing 24,3 mm CL dan 29,3 mm CL). Udang Sungai Siak menunjukkan beberapa karakteristik yang relatif lebih panjang dibandingkan dengan udang dari Sungai Rokan, seperti panjang mimbar (201% dan 206%), panjang total (471% dan 513%) dan panjang standar (214%). dan 221%) dari CL masing-masing. Namun, udang dari Sungai Rokan memiliki karpus yang relatif lebih panjang, masing-masing sebesar 42% dan 35% dari CL
Ekomorfologi Udang Galah (Macrobrachium rosenbergii) di Sungai Kampar Provinsi Riau Noralisa Nilam Sari; Muhammad Fauzi; Eko Prianto
Ilmu Perairan (Aquatic Science) Vol 11, No 2 (2023): Juli
Publisher : Universitas Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31258/jipas.11.2.p.86-93

Abstract

Kualitas air di hulu dan hilir Sungai Kampar berbeda akibat pencemaran. Namun, Macrobrachium rosenbergii dapat ditemukan di daerah tersebut. Kondisi perairan dapat mempengaruhi karakteristik morfologi udang. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari – April 2022. Pengambilan sampel dilakukan tiga kali /2 minggu, dengan menggunakan bubu dan pancing. Data udang dianalisis menggunakan uji Kruskall Wallis dan Mann Whitney. Tujuh parameter lingkungan perairan dan 19 karakteristik morfologi udang dipelajari. Panjang karapas (PK) digunakan sebagai referensi. Hasil menunjukkan bahwa di bagian hulu suhu air 29-300C, kecerahan 38.5-42.5cm, pH 7, DO 4.12-4.86 mg/L, CO2 4.99-5.99 mg/L, BOD5 4.12-4.82 mg/L, kekerasan 120.0- 320.0 mg/L. Sedangkan di hilir suhu 29-300C, kecerahan 33-34,5 cm, pH 7, DO 4,12-4,57 mg/L, CO2 5,62-5,99 mg/L, BOD5 2,26-4,12 mg/L, kekerasan 180,0-240,0 mg /L. Karakteristik morfologi udang dari kedua daerah tersebut berbeda (nilai Asymp. Sig < 0,05). Udang dari hilir lebih kecil dari hulu (masing-masing 37,3 mm PK dan 52,0 mm PK). Udang dari hulu menunjukkan beberapa karakteristik yang relatif lebih panjang dibandingkan dengan udang dari hilir yaitu panjang rostrum (167% dan 137%), panjang total (84% dan 72%), panjang standar (140% dan 112%), panjang karpus (21% dan 18%), dan panjang merus (50% dan 30%) dari PK
Survival and growth of Pangasianodon hypophthalmus cultured under controlled photoperiod Cyntia Uli Artha Sihombing; Muhammad Fauzi; Windarti Windarti
Depik Vol 10, No 2 (2021): August 2021
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.13170/depik.10.2.20053

Abstract

Changing in photoperiod duration may affects the physiology of nocturnal fish such as Pangasianodon hypophthalmus. A study aims to understand the effects of controlled photoperiod towards survival and growth of P. hypophthalmus has been conducted from June to August 2020. There were 3 treatments applied, namely natural photoperiod, 18 hours dark (18D), and 24 hours dark (24D) with 3 replications in each treatment. The rearing tanks used in this study were 100 L circular plastic tanks.  In 24D treatment, the tanks were placed under dark colored tarp tent continuously.  For the 18D treatment, the tanks were placed under dark tarp tent, but the tent was opened for 6 hours/ day (the tanks were in dark condition for 18 hours/ day), while the control tanks were positioned under natural photoperiod. P. hypophthalmus fingerlings, 6-8 cm TL and   4-5 g BW were used in this study. Thirty fishes were reared in each rearing tank, they were feed with commercial pellets, 2 times/day, at satiation. Fish survival was monitored every day, while samplings for fish growth were conducted weekly for a 8 weeks period. Results indicate that the survival of   fish was 100% in each treatment applied. Fish growth, however, shown differences. The growth of fish reared in 24D and 18D was better than that of the control. By the 9th week,  the fish in 24D was around 70.71g BW with 19.27 cm TL  (daily growth rate 9.35%), while those of the 18D was 69.41 g BW, 18.77 cm TL and 9.29% daily growth rate. The fish reared under natural photoperiod was around 61.95 g BW with 18.19 cm TL and 7.33% of daily growth rate. Data obtained indicate that the application of longer dark is positively improve the growth of P. hypophthalmus.Keywords:Nocturnal FishLight Dark Catfish
Kualitas dan distribusi spasial karakteristik fisika-kimia Sungai Siak di Kota Pekanbaru Luri Anita Vanri; Adriman Adriman; Muhammad Fauzi
Depik Vol 9, No 2 (2020): August 2020
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.13170/depik.9.2.16578

Abstract

Siak River is one of the biggest rivers and the deepest in Riau Province in Indonesia with its 20-30 depth and depth 370 kilometers. The Siak River used for bathing, washing, dumping industrial palm oil, plantation, domestic waste, and port so it has an impact on water quality changing. This study analyzed the water quality and distribution spatial physical and chemical parameters the river around in Pekanbaru city, using Principal Component Analysis (PCA), this study used laboratory in situ and ex situ water quality measurement instruments. Water sampling each station done three times in two weeks during October to November 2019. The results obtained from this study shows the water quality of these 6 stations in the category of bad and the water quality from headwaters to downstream river influenced by organic parameter as a dominant pollutant. The correlation of water quality characteristic was 74.4% main factor 1 (F1) 47.4% and main factor 2 (F2) 26.7% with main characteristics fecal coliform, phosphate, and nitrate. Grouping these characteristics through a dendrogram showed three levels of relationship based on the characteristic parameter. The first group stands for station 1,2, and 4 have higher brightness and Dissolved oxygen (DO) parameters than other stations. The second group stands for stations 3 and 5 that have relatively high in parameter phosphate and nitrate. The third group is station 6 (river estuary) which results in shows high of fecal coliform proportional to pollution. The study can be concluded that three groups heavily contaminated. Each group has different parameters that show influence upland and waters activities.Keywords: Distribution of spatial, The quality of water, Siak River, Physical and Chemical Parameters, PCA ABSTRAKSungai Siak merupakan salah satu sungai terbesar di Provinsi Riau dan terdalam di Indonesia, dengan kedalaman sekitar 20-30 meter dan panjang 300 kilometer. Sungai siak masih dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai sarana Mandi Cuci Kakus (MCK), tempat buangan limbah industri kelapa sawit, perkebunan, rumah tangga dan pelabuhan, sehingga berdampak pada perubahan kualitas perairan. Penelitian dilakukan untuk menganalisa kualitas dan distribusi spasial karateristik fisik-kimia perairan Sungai Siak di sekitar Kota Pekanbaru, dengan menggunakan Principal Component Analysis (PCA). Kajian menggunakan instrument pengukuran kualitas air in situ dan ex situ di laboratorium. Pengambilan sampel air pada masing-masing stasiun dilakukan sebanyak tiga kali setiap dua minggu selama bulan Oktober hingga November 2019. Hasil yang diperoleh dari kajian ini adalah kualitas air di keenam stasiun masuk dalam katagori buruk dan mengalami penurunan kualitas dari hulu ke hilir yang disebabkan bahan organik. Korelasi karakteristik kualitas air sebesar 74,3%, faktor utama 1 (F1)  47,4% dan faktor utama 2 (F2) 26,7% dengan penciri utama fecal coliform, fosfat dan nitrat. Pengelompokan stasiun pada dendogram klarifikasi hierarki menunjukkan adanya tiga tingkat hubungan kekerabatan berdasarkan parameter pencirinya. Kelompok satu terdiri dari stasiun 1, 2 dan 4 memiliki hasil relatif tinggi pada parameter kecerahan dan oksigen terlarut (DO) dibandingkan dengan stasiun lainnya. Kelompok dua terdiri dari stasiun 3 dan 5 memiliki hasil relatif tinggi pada paramter nitrat dan fosfat dibandingkan dengan stasiun lainnya. Kelompok tiga adalah stasiun 6 (muara sungai sail) dengan parameter fecal coliform relatif tinggi yang berbanding lurus dengan tingkat pencemarannya. Berdasarkan hasil kajian dapat disimpulkan bahwa tiga kelompok sama-sama tercemar berat, namun masing-masing kelompok memiliki perbedaan parameter pencirinya yang memperlihatkan pengaruh berbagai aktifitas di darat maupun di perairan itu sendiri.Kata kunci: Distribusi spasial, Kualitas air, Sungai Siak, Parameter fisika dan kimia, PCA
SOSIALISASI PEMBUATAN EKOENZIM BERBAHAN DASAR KULIT BUAH SEBAGAI PUPUK ORGANIK CAIR TERHADAP PERTUMBUHAN TANAMAN Kurniawaty Fitri; Fajar Zuldra Wardana; Muhammad Zaydi; Muhammad Fauzi; Elazasmira Elazasmira; Fadhilah Fadhilah; Jenita Andini; Wilvami Theresa Tarigan; Syalli Fitri Magfirah. S; Galih Vidia Anggreani; Chintya Oktari
JURNAL PENGABDIAN MANDIRI Vol. 2 No. 9: September 2023
Publisher : Bajang Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Desa pulau binjai merupakan salah satu desa yang berada di kecamatan kuantan mudik kabupaten kuantan singingi dengan luas wilayah 20,37 km2. Desa pulau binjai mempunyai potensi di bidang pertanian dan perkebunan. Dengan adanya potensi desa pulau binjai sebagai sumber penghidupan, masyarakat desa pulau binjai memanfaatkan potensi desa tersebut untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Pada umumnya masyarakat desa pulau binjai masih menggunakan pupuk kimia untuk tanamannya, namun sebenarnya limbah-limbah rumah tangga seperti sisa sayuran dan kulit buah bisa dibuat menjadi menjadi ekoenzim salah satunya untuk pupuk tanaman yang lebih ramah lingkungan. Ekoenzim merupakan suatu larutan hasil fermentasi dari sampah organik sisa sayuran, kulit buah dengan campuran gula merah dan air. Ekoenzim dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik. Produk Ekoenzim merupakan produk yang ramah lingkungan serta mudah digunakan dan diproduksi. Produksi ekoenzim hanya membutuhkan air, gula sebagai sumber karbon, dan limbah organik dari sayuran dan buah-buahan. Ekoenzim dapat digunakan untuk mengurangi jumlah sampah rumah tangga, khususnya sampah organik dengan komposisi kandungan tinggi.
Kualitas dan distribusi spasial karakteristik fisika-kimia Sungai Siak di Kota Pekanbaru Luri Anita Vanri; Adriman Adriman; Muhammad Fauzi
Depik Vol 9, No 2 (2020): August 2020
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.13170/depik.9.2.16578

Abstract

Siak River is one of the biggest rivers and the deepest in Riau Province in Indonesia with its 20-30 depth and depth 370 kilometers. The Siak River used for bathing, washing, dumping industrial palm oil, plantation, domestic waste, and port so it has an impact on water quality changing. This study analyzed the water quality and distribution spatial physical and chemical parameters the river around in Pekanbaru city, using Principal Component Analysis (PCA), this study used laboratory in situ and ex situ water quality measurement instruments. Water sampling each station done three times in two weeks during October to November 2019. The results obtained from this study shows the water quality of these 6 stations in the category of bad and the water quality from headwaters to downstream river influenced by organic parameter as a dominant pollutant. The correlation of water quality characteristic was 74.4% main factor 1 (F1) 47.4% and main factor 2 (F2) 26.7% with main characteristics fecal coliform, phosphate, and nitrate. Grouping these characteristics through a dendrogram showed three levels of relationship based on the characteristic parameter. The first group stands for station 1,2, and 4 have higher brightness and Dissolved oxygen (DO) parameters than other stations. The second group stands for stations 3 and 5 that have relatively high in parameter phosphate and nitrate. The third group is station 6 (river estuary) which results in shows high of fecal coliform proportional to pollution. The study can be concluded that three groups heavily contaminated. Each group has different parameters that show influence upland and waters activities.Keywords: Distribution of spatial, The quality of water, Siak River, Physical and Chemical Parameters, PCA ABSTRAKSungai Siak merupakan salah satu sungai terbesar di Provinsi Riau dan terdalam di Indonesia, dengan kedalaman sekitar 20-30 meter dan panjang 300 kilometer. Sungai siak masih dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai sarana Mandi Cuci Kakus (MCK), tempat buangan limbah industri kelapa sawit, perkebunan, rumah tangga dan pelabuhan, sehingga berdampak pada perubahan kualitas perairan. Penelitian dilakukan untuk menganalisa kualitas dan distribusi spasial karateristik fisik-kimia perairan Sungai Siak di sekitar Kota Pekanbaru, dengan menggunakan Principal Component Analysis (PCA). Kajian menggunakan instrument pengukuran kualitas air in situ dan ex situ di laboratorium. Pengambilan sampel air pada masing-masing stasiun dilakukan sebanyak tiga kali setiap dua minggu selama bulan Oktober hingga November 2019. Hasil yang diperoleh dari kajian ini adalah kualitas air di keenam stasiun masuk dalam katagori buruk dan mengalami penurunan kualitas dari hulu ke hilir yang disebabkan bahan organik. Korelasi karakteristik kualitas air sebesar 74,3%, faktor utama 1 (F1)  47,4% dan faktor utama 2 (F2) 26,7% dengan penciri utama fecal coliform, fosfat dan nitrat. Pengelompokan stasiun pada dendogram klarifikasi hierarki menunjukkan adanya tiga tingkat hubungan kekerabatan berdasarkan parameter pencirinya. Kelompok satu terdiri dari stasiun 1, 2 dan 4 memiliki hasil relatif tinggi pada parameter kecerahan dan oksigen terlarut (DO) dibandingkan dengan stasiun lainnya. Kelompok dua terdiri dari stasiun 3 dan 5 memiliki hasil relatif tinggi pada paramter nitrat dan fosfat dibandingkan dengan stasiun lainnya. Kelompok tiga adalah stasiun 6 (muara sungai sail) dengan parameter fecal coliform relatif tinggi yang berbanding lurus dengan tingkat pencemarannya. Berdasarkan hasil kajian dapat disimpulkan bahwa tiga kelompok sama-sama tercemar berat, namun masing-masing kelompok memiliki perbedaan parameter pencirinya yang memperlihatkan pengaruh berbagai aktifitas di darat maupun di perairan itu sendiri.Kata kunci: Distribusi spasial, Kualitas air, Sungai Siak, Parameter fisika dan kimia, PCA
Survival and growth of Pangasianodon hypophthalmus cultured under controlled photoperiod Cyntia Uli Artha Sihombing; Muhammad Fauzi; Windarti Windarti
Depik Vol 10, No 2 (2021): August 2021
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.13170/depik.10.2.20053

Abstract

Changing in photoperiod duration may affects the physiology of nocturnal fish such as Pangasianodon hypophthalmus. A study aims to understand the effects of controlled photoperiod towards survival and growth of P. hypophthalmus has been conducted from June to August 2020. There were 3 treatments applied, namely natural photoperiod, 18 hours dark (18D), and 24 hours dark (24D) with 3 replications in each treatment. The rearing tanks used in this study were 100 L circular plastic tanks.  In 24D treatment, the tanks were placed under dark colored tarp tent continuously.  For the 18D treatment, the tanks were placed under dark tarp tent, but the tent was opened for 6 hours/ day (the tanks were in dark condition for 18 hours/ day), while the control tanks were positioned under natural photoperiod. P. hypophthalmus fingerlings, 6-8 cm TL and   4-5 g BW were used in this study. Thirty fishes were reared in each rearing tank, they were feed with commercial pellets, 2 times/day, at satiation. Fish survival was monitored every day, while samplings for fish growth were conducted weekly for a 8 weeks period. Results indicate that the survival of   fish was 100% in each treatment applied. Fish growth, however, shown differences. The growth of fish reared in 24D and 18D was better than that of the control. By the 9th week,  the fish in 24D was around 70.71g BW with 19.27 cm TL  (daily growth rate 9.35%), while those of the 18D was 69.41 g BW, 18.77 cm TL and 9.29% daily growth rate. The fish reared under natural photoperiod was around 61.95 g BW with 18.19 cm TL and 7.33% of daily growth rate. Data obtained indicate that the application of longer dark is positively improve the growth of P. hypophthalmus.Keywords:Nocturnal FishLight Dark Catfish
Microplastic Identification of Tinfoil Barb (Puntius schawanafeldii) in Koto Panjang Dam Kampar Regency Riau Province Lily Sherly Margaretha; Budijono Budijono; Muhammad Fauzi
Jurnal Perikanan dan Kelautan Vol. 27 No. 2 (2022): June
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine, Universitas Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31258/jpk.27.2.235-240

Abstract

Plastic waste can be found everywhere, including in the Koto Panjang Dam. As the plastic waste degraded, the microplastic materials may be distributed in the water and it may be accidentally swallowed by omnivorous fishes such as Puntius schawanafeldii. To understand the presence of the microplastic materials in the fish stomach, a research has been conducted in December 2020 - February 2021. The number of P. schawanafeldii captured was 30 using fish net in 3-5 inch mesh size. The fish was dissected and the stomach was removed. Then the stomach content was added with 10% KOH and was incubated for 2 weeks to delute the organic materials. Then was investigated under a binocular microscope to find out the microplastic materials. Results shown the type of microplastic present in the stomach of P. schawanafeldii was namely film, fibre, and fragment. The most common type of microplastic found was film, followed by fragments and fibre. The abundance of microplastic in the stomach of P. schwanafeldii was around 2 – 15,8 particles/fish.
Growth Rate and Mortality of Giant Freshwater Prawn (Macrobrachium rosenbergii) in Kuala Cenaku Village, Riau Ade Hermawita; Muhammad Fauzi; Deni Erizon; Windarti Windarti
Jurnal Perikanan dan Kelautan Vol. 27 No. 3 (2022): October
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine, Universitas Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31258/jpk.27.3.280-285

Abstract

The growth rate and mortality rate of giant prawns (Macrobrachium rosenbergii) in the Kuala Cenaku River, Indragiri Hulu Regency, Riau Province were carried out based on carapace length frequency data collected from May to July 2020. This study aims at the growth rate and mortality of giant prawns in the Kuala Cenaku River. For estimating dynamic population, data were analysed by using FiSAT II. The growth parameter of tiger shrimp was 0,78/year with carapace asymptotic length (L ) of 84,8 mm, total mortality rate (Z), natural mortality rate (M), fishing mortality rate (F) were 2,35/year and 1,16/year, 1,19/year, respectively, while and exploitation rate (E) estimated 0,50. The exploitation rate of Tiger Freshwater Prawn in Kuala Cenaku River was fully exploited and tend to overexploited so that it needed to manage wisely and carefully.