Claim Missing Document
Check
Articles

Kandungan Mikroplastik Pada Kolom Air di Sungai Siak Provinsi Riau Alex Juara Tampubolon; Budijono Budijono; Muhammad Fauzi
Jurnal Fisika Unand Vol 13 No 2 (2024)
Publisher : Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jfu.13.2.218-224.2024

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tipe dan kelimpahan mikroplastik serta distribusinya berdasarkan kedalaman. Pelaksanaan survei dilakukan selama 3 bulan di mulai dari bulan Januari hingga Maret 2023 pada 3 stasiun, yaitu: Stasiun 1 (hulu - Desa Karya Indah), Stasiun 2 (tengah - Kelurahan Tebing Tinggi Okura) dan Stasiun 3 (hilir - Desa Tualang sebanuak 3 kali dengan interval sebulan sekali. Pada setiap stasiun, sampel mikroplastik komposit sebanyak 30 L diambil di bagian kiri, tengah dan kanan sungai pada 3 kedalaman air (permukaan, 5m dan 10m) menggunakan water sampler, kemudian disaring menjadi 300 mL dengan jaring plankton no 25. Sampel air tersaring dari tiap lokasi dan kedalaman disaring dengan kertas Whatman dan diberi KOH 10%, kemudian didiamkan selama 14 hari. Tipe mikroplastik diidentifikasi dengan mikroskop binocular dan dihitung kelimpahannya. Dari hasil penelitian diperoleh 3 tipe mikroplastik (fiber, fragmen dan film) pada kedalaman dan semua lokasi sampling. Tipe fiber dan fragmen melimpah pada kedalaman 5 m dan total kelimpahan ketiga mikroplastik terbanyak ditemukan pada Stasiun 3 (hilir sungai). Disimpulkan bahwa kelimpahan total mikroplastik berbeda sangat nyata berdasarkan kedalaman dan lokasi pengambilan sampel.
Kandungan Mikroplastik pada Air dan Sedimen di Anak-Anak Sungai Siak Kota Pekanbaru, Provinsi Riau Clara Esterlita Aritonang; Budijono Budijono; Muhammad Fauzi
Jurnal Fisika Unand Vol 13 No 3 (2024)
Publisher : Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jfu.13.3.329-335.2024

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tipe dan kelimpahan mikroplastik pada air dan sedimen anak-anak Sungai Siak. Penelitian ini dilakukan pada  Maret - Mei 2023.  Pengambilan sampel dilakukan satu kali setiap bulan selama tiga bulan. Stasiun penelitian ada 4 yaitu Sungai Air hitam, Sungai Sago, Sungai Umban Sari dan Sungai Pengambang. Analisis sampel dan identifikasi mikroplastik dilakukan di Laboratorium Pengolahan Limbah Fakultas Perikanan dan Kelautan. Hasil penelitian menunjukkan di semua stasiun ditemukan jenis mikroplastik tipe fiber, film, fragmen, tetapi dengan kelimpahan yang berbeda. Kelimpahan mikroplastik di Sungai Air Hitam berkisar 16,6 – 63,3 partikel/ m3, Sungai Sago 23,3 – 161,6 partikel/ m3, Umban Sari 6,6-76,6 partikel/ m3, Pengambang 6,6-70  partikel/ m3. Pada sedimen tipe mikroplastik yang ditemukan yaitu fiber,film, fragmen dan pellet Kelimpahan mikroplastik pada sedimen Sungai Air Hitam 76,6 -186,6 partikel/ m3, Sungai Sago 33,3 - 220 partikel/ m3, Umban Sari 71,6 – 168,3 partikel/ m3,.Pengambang  31,6 – 141,6  partikel/ m3.
Ekomorfologi Udang Galah (Macrobrachium rosenbergii) di Sungai Kampar Provinsi Riau Noralisa Nilam Sari; Muhammad Fauzi; Eko Prianto
Jurnal Ilmu Perairan (Aquatic Science) Vol. 11 No. 2 (2023): Juli
Publisher : LPPM Universitas Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31258/

Abstract

Kualitas air di hulu dan hilir Sungai Kampar berbeda akibat pencemaran. Namun, Macrobrachium rosenbergii dapat ditemukan di daerah tersebut. Kondisi perairan dapat mempengaruhi karakteristik morfologi udang. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari – April 2022. Pengambilan sampel dilakukan tiga kali /2 minggu, dengan menggunakan bubu dan pancing. Data udang dianalisis menggunakan uji Kruskall Wallis dan Mann Whitney. Tujuh parameter lingkungan perairan dan 19 karakteristik morfologi udang dipelajari. Panjang karapas (PK) digunakan sebagai referensi. Hasil menunjukkan bahwa di bagian hulu suhu air 29-300C, kecerahan 38.5-42.5cm, pH 7, DO 4.12-4.86 mg/L, CO2 4.99-5.99 mg/L, BOD5 4.12-4.82 mg/L, kekerasan 120.0- 320.0 mg/L. Sedangkan di hilir suhu 29-300C, kecerahan 33-34,5 cm, pH 7, DO 4,12-4,57 mg/L, CO2 5,62-5,99 mg/L, BOD5 2,26-4,12 mg/L, kekerasan 180,0-240,0 mg /L. Karakteristik morfologi udang dari kedua daerah tersebut berbeda (nilai Asymp. Sig < 0,05). Udang dari hilir lebih kecil dari hulu (masing-masing 37,3 mm PK dan 52,0 mm PK). Udang dari hulu menunjukkan beberapa karakteristik yang relatif lebih panjang dibandingkan dengan udang dari hilir yaitu panjang rostrum (167% dan 137%), panjang total (84% dan 72%), panjang standar (140% dan 112%), panjang karpus (21% dan 18%), dan panjang merus (50% dan 30%) dari PK.
Ekomorfologi Udang Galah (Macrobrachium rosenbergii) di Sungai Rokan Dan Sungai Siak Provinsi Riau Rizka Khairunnisa; Muhammad Fauzi; Eko Prianto
Jurnal Ilmu Perairan (Aquatic Science) Vol. 11 No. 2 (2023): Juli
Publisher : LPPM Universitas Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31258/

Abstract

Macrobrachium rosenbergii dikenal dengan nama udang galah adalah salah satu crustacea yang memiliki nilai ekonomis penting dan dapat dijumpai di sungai rokan dan sungai siak. Kedua sungai ini merupakan sungai besar di Provinsi Riau namun perairan Sungai Rokan dan Sungai Siak saat ini sudah mengalami tekanan atau tercemar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi perairan Sungai Rokan dan Sungai Siak, juga mengetahui perbedaan morfologi dari udang galah yang diperoleh dari Sungai Rokan dan Sungai Siak. Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan April-Mei 2022. Sampel di peroleh dari Sugai Siak dan Sungai Rokan dan pengamatan dilakukan di Laboratorium. Pengambilan sampel udang dilakukan 3 kali sekali/2 minggu. Udang ditangkap menggunakan jala dan pancing. Data udang dianalisis dengan uji Kruskall-Wallis dan uji Mann Whitney. Tujuh parameter lingkungan perairan dan sembilan belas karakteristik morfologi udang dipelajari. Panjang karapas (CL) digunakan sebagai referensi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa di sungai rokan suhu air 30-310C, kecerahan 13-26cm, pH 6, oksigen terlarut 2,53-8,33 mg/L, karbon dioksida 2,8-5,00 mg/L, BOD5 10,10-33,20 mg/L, kekerasan 100,0 -160,0 mg/L, dan suhu air Sungai Siak 26-300C, kecerahan 14-23 cm, pH 6, oksigen terlarut 2,08-4,12 mg/L, karbon dioksida 2,7-4,00 mg/L, BOD5 10,10-33,20 mg/ L, kekerasan 115,0-155,0 mg/L. Karakteristik morfologi udang dari kedua sungai berbeda (p<0,05). Udang dari Sungai Rokan lebih kecil dari Sungai Siak (masing-masing 24,3 mm CL dan 29,3 mm CL). Udang Sungai Siak menunjukkan beberapa karakteristik yang relatif lebih panjang dibandingkan dengan udang dari Sungai Rokan, seperti panjang mimbar (201% dan 206%), panjang total (471% dan 513%) dan panjang standar (214%). dan 221%) dari CL masing-masing. Namun, udang dari Sungai Rokan memiliki karpus yang relatif lebih panjang, masing-masing sebesar 42% dan 35% dari CL.
Beban Pencemaran di Sungai Sibam Kota Pekanbaru Provinsi Riau Hardion Saputra; Yuliati Yuliati; Muhammad Fauzi
Jurnal Ilmu Perairan (Aquatic Science) Vol. 11 No. 2 (2023): Juli
Publisher : LPPM Universitas Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31258/

Abstract

Daerah Aliran Sungai (DAS) Sibam terdapat aktivitas permukiman penduduk, penambangan pasir dan perkebunan kelapa sawit yang berpotensi menghasilkan limbah ke Sungai Sibam. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis kualitas air dan beban pencemaran di Sungai Sibam. Penelitian dilakukan pada bulan Juni-Agustus 2022. Pengambilan sampel air dilakukan pada bagian hulu, tengah dan bagian hilir sungai. Parameter kualitas air yang diukur meliputi suhu, kecepatan arus, debit, TSS, DO, BOD, COD, Ammonia, nitrit, nitrat dan Total Fosfat. Perhitungan beban pencemar dilakukan dengan menghitung beban pencemar aktual (BPA) dan beban pencemar maksimum (BPM). Parameter kualitas air yang telah diukur dibandingkan dengan PP 22/2021 Kelas III. Hasil pengukuran kualitas air di Sungai Sibam selama penelitian menunjukan bahwa kualitas air Sungai Sibam masih memenuhi Baku mutu kecuali untuk parameter ammonia dan nitrit. Kadar ammonia dan nitrit di Sungai Sibam masing-masing berkisar 0.09–0.10 mg/L dan 0,07 mg/L. Perhitungan beban aktual Sungai Sibam paling tinggi bersumber dari COD (436,04-3789,27 kg/hari), diikuti TSS (132,48-1052,35 kg/hari), nitrit (2,80-16,51 kg/hari), nitrat (2,54-16,15 kg/hari), amonia (2,19-13,88 kg/hari), dan terendah total fosfat (1,52-12,38 kg/hari). Dari perhitungan beban aktual, untuk parameter amonia dan nitrit telah melewati beban pencemaran maksimum sehingga Sungai Sibam tidak dapat menampung beban parameter amonia dan nitrit.
Pengelolaan Sungai Kelelawar Berdasarkan Aspek Ekologi-Sosial Budaya di Kecamatan Hulu Kuantan Kabupaten Kuantan Singingi, Provinsi Riau Rosita Nurdiyana; Ridwan Manda Putra; Muhammad Fauzi
Jurnal Ilmu Perairan (Aquatic Science) Vol. 10 No. 2 (2022): Juli
Publisher : LPPM Universitas Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31258/

Abstract

Sungai Kelelawar merupakan anak sungai dari Sungai Kuantan yang dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan di sekitar Desa Sungai Kelelawar. Kegiatan tersebut akan berdampak negatif jika tidak dikelola dengan baik. Oleh karena itu, perlu pemanfaatan sumber daya yang berbasis integrasi dan keberlanjutan berdasarkan aspek ekologi-sosial-budaya. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi, menganalisis keberlanjutan pengelolaan Sungai Kelelawar, menentukan faktor-faktor keberlanjutan, dan merumuskan desain pengelolaan berdasarkan aspek Ekologi Sosial Budaya. Penelitian ini dilakukan pada bulan September-November 2021 dengan menggunakan metode survei. Atribut aspek ekologi adalah zona pemanfaatan sungai, kondisi perairan, kesuburan perairan (nitrat), keanekaragaman perifiton, organisme yang dilindungi (ikan), dan kunjungan wisata. Atribut aspek sosial budaya adalah tingkat pendidikan, fasilitas sosial, potensi konflik, kearifan dan pengetahuan lokal, tingkat partisipasi masyarakat, dan pengetahuan lingkungan. Data pengelolaan sungai dianalisis menggunakan aplikasi Rapfish. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi eksisting Sungai Kelelawar masih layak berdasarkan kesuburan air dan keanekaragaman perifiton. Indeks dan status keberlanjutan aspek ekologis termasuk dalam kategori kurang berkelanjutan dengan skor 32,9% dengan nilai monte carlo 34,6% sedangkan aspek sosial budaya cukup berkelanjutan dengan skor 51,2% dengan nilai monte carlo sebesar 50,4%.
Pengelolaan Sungai Kelelawar yang Berkelanjutan Dilihat dari Dimensi Ekologi-Ekonomi di Kecamatan Hulu Kuantan Kabupaten Kuantan Singingi, Riau Heffiana Heffiana; Ridwan Manda Putra; Muhammad Fauzi
Jurnal Ilmu Perairan (Aquatic Science) Vol. 10 No. 2 (2022): Juli
Publisher : LPPM Universitas Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31258/

Abstract

Sungai Kelelawar merupakan salah satu anak sungai dari Sungai Kuantan yang dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan masyarakat sekitar Desa Sungai Kelelawar. Beragamnya aktivitas di Sungai Kelelawar akan berdampak negatif jika tidak dikelola dengan baik. Oleh karena itu, dalam upaya mencapai keberlanjutan dan kelestarian sumber daya, diperlukan strategi dan pendekatan ekologi dan ekonomi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi dan menganalisis status keberlanjutan pengelolaan Sungai Kelelawar berdasarkan dimensi ekologi dan ekonomi serta faktor-faktor penentu keberlanjutan dan merumuskan rencana pengelolaan Sungai Kelelawar. Penelitian ini dilakukan pada bulan September-November 2021 dengan menggunakan metode survei dan observasi. Data yang diperoleh kemudian disajikan dalam bentuk tabel dan gambar. Data pengelolaan Sungai Kelelawar berdasarkan dimensi ekologi dan ekonomi dianalisis menggunakan aplikasi Rapfish. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi eksisting Sungai Kelelawar masih layak. Indeks dan status keberlanjutan dari dimensi ekologi termasuk kategori berkelanjutan sedang dengan skor 63,1%, nilai Monte Carlo 62,1% dan nilai stres 0,1414. Sedangkan dimensi ekonomi kurang berkelanjutan dengan skor 47,9%, nilai Monte Carlo 47,8% dan nilai stres 0,1422.
Keragaman Jenis Ikan yang Tetangkap dalam Artifisial Habitat Apung di Waduk Koto Panjang Kabupaten Kampar Romy Ardian; Budijono Budijono; Muhammad Fauzi
Jurnal Ilmu Perairan (Aquatic Science) Vol. 12 No. 3 (2024): November
Publisher : LPPM Universitas Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31258/jipas.12.3.p.403-411

Abstract

Artifisial habitat apung merupakan suatu bangunan yang tersusun dari benda padat yang ditempatkan di dalam perairan dan menciptakan habitat baru bagi ikan, termasuk sebagai tempat perkembangbiakan dan perlindungan bagi telur dan larva ikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keragaman jenis ikan yang tertangkap dalam artifisial habitat apung yang telah dilaksanakan pada bulan Juli – Agustus 2023. Pengambilan sampel ikan dilakukan melalui penangkapan ikan bersama nelayan setempat dengan menggunakan alat tangkap yaitu bubu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ikan yang tertangkap terdiri dari 9 spesies dikelompokkan kedalam 6 famili. Kelimpahan ikan dilakukan dengan menggunakan Uji T (Uji Independent Sample T-Test). Hasil uji statistik independent sample t-test menunjukkan t hitung < t tabel (0,025;16) adalah 2,119 sehingga H0 diterima. Hal ini menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan rata-rata kelimpahan ikan pada masing-masing atraktor. Nilai indeks keanekaragaman (H’) 1,529-2,908, indeks keseragaman (E) 0,696-0,955 dan indeks dominasi (C) 0,096 – 0,645. Nilai ekologi tersebut diuji dengan menggunakan Uji T (independent sample t-test) yang menunjukkan t hitung< t tabel (0,025;4) adalah 2,776 sehingga H0 diterima. Hal ini berarti menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan pada indeks ekologi masing-masing atraktor artifisial habitat apung. Kondisi kualitas perairan di Waduk Koto Panjang menunjukkan bahwa suhu 29–31,2°C, kecerahan 132 – 140 cm, oksigen terlarut (DO) 6,46 – 6,70 mg/L, karbondioksida (CO2) bebas 5 – 5,99 mg/L, dan derajat keasaman (pH) 6,52-6,70. Data tersebut menunjukkan bahwa keragaman jenis ikan yang tertangkap dalam artifisial habitat apung di Waduk Koto Panjang tergolong sedang, yang berarti habitatnya masih dalam keadaan optimal dan masih sesuai untuk peruntukan biota
Status Pemanfaatan Ikan Kembung Lelaki (Rastrelliger kanagurta) di Perairan Selat Malaka yang Didaratkan di Tanjung Balai Kota Kabupaten Karimun, Kepulauan Riau Risti Rahmitasari; Muhammad Fauzi; Eni Sumiarsih
Jurnal Ilmu Perairan (Aquatic Science) Vol. 13 No. 1 (2025): Maret
Publisher : LPPM Universitas Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31258/jipas.13.1.p.32-37

Abstract

Ikan kembung lelaki (Rastrelliger kanagurta) merupakan salah satu jenis ikan air laut yang ditemukan di perairan pantai. Ikan ini merupakan salah satu ikan konsumsi yang sangat diminati. Penelitian mengenai status pemanfaatan ikan kembung lelaki di perairan selat malaka yang didaratkan di Tanjung Balai Kota Kabupaten Karimun dilaksanakan pada September sampai November 2023. Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan status pemanfaatan ikan kembung lelaki di perairan selat malaka yang didaratkan di Tanjung Balai Karimun. Penelitian ini menggunakan metode observasi dan wawancara. Pengamatan dilakukan pada tiga lokasi dengan menggunakan alat tangkap pukat cincin dengan panjang 300 m, lebar 40 m dan meshzise 3-4 inchi dan sampling dilakukan 2 minggu sekali. Parameter yang diukur adalah panjang total, bobot, dan pola pertumbuhan ikan kembung lelaki. Analisis data menggunakan software statistik, FISAT II dan pemodelan Length-Based Spawning Potential Ratio (LB-SPR). Ikan kembung lelaki yang tertangkap selama penelitian berjumlah 242 ekor, terdiri dari 94 ekor jantan dan 148 ekor betina. Panjang total ikan kembung lelaki berkisar 160 – 240 mm. Analisis hubungan panjang dan berat ikan kembung lelaki jantan dan lelaki betina, diperoleh nilai b = 1,319 atau allometrik negatif, dimana laju pertumbuhan panjang ikan lebih cepat dibandingkan pertumbuhan berat ikan. Nilai faktor kondisi ikan kembung lelaki secara keseluruhan berkisar 0,8 – 1,27. Status pemanfatan ikan kembung lelaki pada saat penelitian 0,3. Berdasarkan status pemanfaatannya, dapat disimpulkan tigkat pemanfaatan ikan kembung lelaki yang didaratkan di Tanjung Balai Karimun berada pada tingkatan sedang
Jenis dan Jumlah Sampah Laut (Marine Debris) di Desa Sinaboi Kecil Kecamatan Sinaboi Kabupaten Rokan Hilir, Riau Nita Liza Br Manalu; Eko Purwanto; Muhammad Fauzi
Jurnal Ilmu Perairan (Aquatic Science) Vol. 13 No. 1 (2025): Maret
Publisher : LPPM Universitas Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31258/jipas.13.1.p.58-65

Abstract

Kurangnya kesadaran masyarakat dan pemerintah dalam menjaga kelestarian ekosistem dapat ditinjau dengan keberadaan marine debris. Peningkatan sampah laut akan mengancam langsung terhadap  kerusakan ekosistem yang lebih luas seperti bibit mangrove yang tertutupi oleh material marine debris akan berakibat biji mangrove gagal berkecambah, berkurangnya keindahan wilayah pesisir, menimbulkan berbagai macam penyakit yang mempengaruhi kesehatan manusia, mempengaruhi jejaring makanan pada organisme perairan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui jenis dan jumlah marine debris di Desa Sinaboi Kecil Kecamatan Sinaboi Kabupaten Rokan Hilir. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari sampai Maret 2024. Pengambilan sampel diambil sebanyak tiga kali dengan interval waktu dua minggu. Penelitian ini terdiri dari 4 stasiun dengan membuat 3 transek pada masing-masing stasiun. Analisis sampel dilakukan secara insitu di Desa Sinaboi Kecil. Hasil penelitian menemukan 8 jenis marine debris yaitu plastik, kaleng, karet, kaca, jaring, styrofoam, kayu dan daun. Setiap stasiun memiliki jumlah sampah laut berbeda. Jumlah total marine debris pada stasiun I 5.154 item/m2, stasiun II 14.496 item/m2, stasiun III 10.763 item/m2, stasiun IV 3.413 item/m2 sedangkan total berat marine debris pada stasiun I 118.49 g/m2, stasiun II 231.46 g/m2, stasiun III 245.779 g/m2, dan stasiun IV 69.858 g/m2. Jumlah dan berat marine debris pada setiap stasiun tidak memiliki perbedaan signifikan