Claim Missing Document
Check
Articles

Status Pemanfaatan Ikan Kembung Lelaki (Rastrelliger kanagurta) di Perairan Selat Malaka yang Didaratkan di Tanjung Balai Kota Kabupaten Karimun, Kepulauan Riau Risti Rahmitasari; Muhammad Fauzi; Eni Sumiarsih
Jurnal Ilmu Perairan (Aquatic Science) Vol. 13 No. 1 (2025): Maret
Publisher : LPPM Universitas Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31258/jipas.13.1.p.32-37

Abstract

Ikan kembung lelaki (Rastrelliger kanagurta) merupakan salah satu jenis ikan air laut yang ditemukan di perairan pantai. Ikan ini merupakan salah satu ikan konsumsi yang sangat diminati. Penelitian mengenai status pemanfaatan ikan kembung lelaki di perairan selat malaka yang didaratkan di Tanjung Balai Kota Kabupaten Karimun dilaksanakan pada September sampai November 2023. Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan status pemanfaatan ikan kembung lelaki di perairan selat malaka yang didaratkan di Tanjung Balai Karimun. Penelitian ini menggunakan metode observasi dan wawancara. Pengamatan dilakukan pada tiga lokasi dengan menggunakan alat tangkap pukat cincin dengan panjang 300 m, lebar 40 m dan meshzise 3-4 inchi dan sampling dilakukan 2 minggu sekali. Parameter yang diukur adalah panjang total, bobot, dan pola pertumbuhan ikan kembung lelaki. Analisis data menggunakan software statistik, FISAT II dan pemodelan Length-Based Spawning Potential Ratio (LB-SPR). Ikan kembung lelaki yang tertangkap selama penelitian berjumlah 242 ekor, terdiri dari 94 ekor jantan dan 148 ekor betina. Panjang total ikan kembung lelaki berkisar 160 – 240 mm. Analisis hubungan panjang dan berat ikan kembung lelaki jantan dan lelaki betina, diperoleh nilai b = 1,319 atau allometrik negatif, dimana laju pertumbuhan panjang ikan lebih cepat dibandingkan pertumbuhan berat ikan. Nilai faktor kondisi ikan kembung lelaki secara keseluruhan berkisar 0,8 – 1,27. Status pemanfatan ikan kembung lelaki pada saat penelitian 0,3. Berdasarkan status pemanfaatannya, dapat disimpulkan tigkat pemanfaatan ikan kembung lelaki yang didaratkan di Tanjung Balai Karimun berada pada tingkatan sedang
Jenis dan Jumlah Sampah Laut (Marine Debris) di Desa Sinaboi Kecil Kecamatan Sinaboi Kabupaten Rokan Hilir, Riau Nita Liza Br Manalu; Eko Purwanto; Muhammad Fauzi
Jurnal Ilmu Perairan (Aquatic Science) Vol. 13 No. 1 (2025): Maret
Publisher : LPPM Universitas Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31258/jipas.13.1.p.58-65

Abstract

Kurangnya kesadaran masyarakat dan pemerintah dalam menjaga kelestarian ekosistem dapat ditinjau dengan keberadaan marine debris. Peningkatan sampah laut akan mengancam langsung terhadap  kerusakan ekosistem yang lebih luas seperti bibit mangrove yang tertutupi oleh material marine debris akan berakibat biji mangrove gagal berkecambah, berkurangnya keindahan wilayah pesisir, menimbulkan berbagai macam penyakit yang mempengaruhi kesehatan manusia, mempengaruhi jejaring makanan pada organisme perairan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui jenis dan jumlah marine debris di Desa Sinaboi Kecil Kecamatan Sinaboi Kabupaten Rokan Hilir. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari sampai Maret 2024. Pengambilan sampel diambil sebanyak tiga kali dengan interval waktu dua minggu. Penelitian ini terdiri dari 4 stasiun dengan membuat 3 transek pada masing-masing stasiun. Analisis sampel dilakukan secara insitu di Desa Sinaboi Kecil. Hasil penelitian menemukan 8 jenis marine debris yaitu plastik, kaleng, karet, kaca, jaring, styrofoam, kayu dan daun. Setiap stasiun memiliki jumlah sampah laut berbeda. Jumlah total marine debris pada stasiun I 5.154 item/m2, stasiun II 14.496 item/m2, stasiun III 10.763 item/m2, stasiun IV 3.413 item/m2 sedangkan total berat marine debris pada stasiun I 118.49 g/m2, stasiun II 231.46 g/m2, stasiun III 245.779 g/m2, dan stasiun IV 69.858 g/m2. Jumlah dan berat marine debris pada setiap stasiun tidak memiliki perbedaan signifikan
Status Lubuk Larangan Sungai Subayang Desa Padang Sawah Berdasarkan Parameter Kimia Perairan dan Aspek Pengelolaan Febrina Rismawati; Muhammad Fauzi; Eko Prianto
Jurnal Ilmu Perairan (Aquatic Science) Vol. 13 No. 1 (2025): Maret
Publisher : LPPM Universitas Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31258/jipas.13.1.p.105-114

Abstract

Lubuk larangan merupakan suatu pengelolaan perikanan di sungai yang dibentuk masyarakat, dilarang menangkap ikan dalam waktu tertentu. Penelitian Status Lubuk Larangan Sungai Subayang Desa Padang Sawah. Penelitian telah dilaksanakan pada Maret s/d April 2024 di Desa Padang Sawah, Kabupaten Kampar, Riau. Metode penelitian adalah metode survei dan analisis data secara deskriptif. Hasil pengukuran parameter fisika diperoleh rata-rata nilai suhu 29 °C, kedalaman 1,9 m, kecerahan 62 cm, dan kecepatan arus 2,2 m/s. Hasil pengukuran parameter kimia diperoleh rata-rata nila pH 7,1, DO 3,7 mg/L, NO3 0,6 mg/L, Total N 1,63 mg/L. dan rasio TN:TP dengan nilai 487. Kondisi pengelolaan lubuk larangan Desa Padang Sawah berdasarkan status perlindungan hukum masih berada pada tingkat desa. Zonasi lubuk larangan ditetapkan dalam zona penyangga. Pengamanan dan pengawasan dilakukan oleh masyarakat setempat. Perawatan vegetasi tepian sungai belum dilakukan karena kawasan yang rawan banjir. Masyarakat memiliki kesadaran tentang mematuhi aturan lubuk larangan dan memperoleh manfaat ekonomi dari keberadaan lubuk larangan. Status lubuk larangan berdasarkan penilaian aspek parameter kimia perairan adalah baik dan kategori kelas Utama. Namun, aspek pengelolaan lubuk larangan masih kurang baik dan kategori kelas Muda
Resiko Lingkungan pada Operasi Pipa Transmisi Gas Onshore Sumatera di Pangkalan Kerinci Hudhri Akbar; Muhammad Fauzi; Fakhri
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i2.1101

Abstract

Risiko adalah probabilitas dari suatu peristiwa yang bisa menyebabkan kerugian atau kegagalan atau potensi gagal. Sedangkan secara umum risiko adalah karakteristik dan kelompok yang akan menimbulkan potensi kerugian. Gas bumi adalah sumber energi ramah lingkungan yang populer digunakan secara global. Pendistribusian gas bumi dilakukan melalui jaringan pipa (pipeline), yang merupakan teknologi efisien dan hemat biaya untuk mengalirkan fluida dalam jumlah besar dan jarak jauh. Namun, penyaluran gas bumi melalui pipa juga memiliki potensi bahaya dan resiko tinggi karena sifat gas yang mudah terbakar. Pada Penelitian ini menggunakan metode dari W Kent Muhlbeur yang diambil dari buku nya yaitu Pipeline Risk Assesment. Adapun indeks yang dinilai adalah kesalahan pihak ketiga, indeks korosi, kondisi geohazard erosi dan banjir serta kesalahan desain operasi. Setelah pemberian skor indeks maka dilakukan pemetaan dengan metode matrik 5x5 sehingga jaringan pipa bisa dibedakan menjadi high risk (critical), medium high risk (unaccaptable), medium risk (tolerable) dan low risk (accaptable). Dari hasil penelitian sepanjang 18 km dan setelah dilakukan pemetaan section yang di kategorikan medium risk.
Survival and growth of Pangasianodon hypophthalmus cultured under controlled photoperiod Cyntia Uli Artha Sihombing; Muhammad Fauzi; Windarti Windarti
Depik Vol 10, No 2 (2021): August 2021
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.13170/depik.10.2.20053

Abstract

Changing in photoperiod duration may affects the physiology of nocturnal fish such as Pangasianodon hypophthalmus. A study aims to understand the effects of controlled photoperiod towards survival and growth of P. hypophthalmus has been conducted from June to August 2020. There were 3 treatments applied, namely natural photoperiod, 18 hours dark (18D), and 24 hours dark (24D) with 3 replications in each treatment. The rearing tanks used in this study were 100 L circular plastic tanks. In 24D treatment, the tanks were placed under dark colored tarp tent continuously. For the 18D treatment, the tanks were placed under dark tarp tent, but the tent was opened for 6 hours/ day (the tanks were in dark condition for 18 hours/ day), while the control tanks were positioned under natural photoperiod. P. hypophthalmus fingerlings, 6-8 cm TL and 4-5 g BW were used in this study. Thirty fishes were reared in each rearing tank, they were feed with commercial pellets, 2 times/day, at satiation. Fish survival was monitored every day, while samplings for fish growth were conducted weekly for a 8 weeks period. Results indicate that the survival of fish was 100% in each treatment applied. Fish growth, however, shown differences. The growth of fish reared in 24D and 18D was better than that of the control. By the 9th week, the fish in 24D was around 70.71g BW with 19.27 cm TL (daily growth rate 9.35%), while those of the 18D was 69.41 g BW, 18.77 cm TL and 9.29% daily growth rate. The fish reared under natural photoperiod was around 61.95 g BW with 18.19 cm TL and 7.33% of daily growth rate. Data obtained indicate that the application of longer dark is positively improve the growth of P. hypophthalmus.Keywords:Nocturnal FishLight Dark Catfish
Species and Density of Starfish (Asteroidea) in Seagrass Ecosystems at Pengudang Village, Bintan Regency, Kepulauan Riau M. Adnin Firmansyah Simanjuntak; Adriman Adriman; Muhammad Fauzi
Jurnal Perikanan dan Kelautan Vol. 31 No. 1 (2026): February
Publisher : Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31258/jpk.31.1.105-112

Abstract

Sea stars, members of the Echinodermata phylum, are closely associated with seagrass beds and play a role in the food chain. High seagrass cover supports a variety of biota, including sea stars. This study aims to determine the types and density of starfish (Asteroidea) in the seagrass ecosystem of Pengudang Village, Bintan Regency, Kepulauan Riau Province. This research was conducted in September 2024 in Pengudang Village, Bintan Regency, Kepulauan Riau Province. Starfish sampling and observation were conducted at three station points, with each station having three transect lines.  Each transect contained ten observation plots measuring 1×1 m. Two species of starfish were found during the study in Pengudang village: Archaster typicus (73 individuals) and Protoreaster nodosus (14 individuals). The density of starfish found during research in Pengudang Village ranged from 700 to 13,700 individuals per hectare. Water quality conditions during the study were classified as good for supporting starfish life, with temperatures ranging from 29.7 to 31.3°C, current speeds from 0.055 to 0.076 m/s, salinity from 29.9 to 31.6 ppt, and dissolved oxygen from 6.82 to 7.66 mg/L.
Type and Abundance of Phytoplankton in Lubuk Larangan Area, Sungai Paku Village, Kampar District, Riau Rama Wahyudi; Muhammad Fauzi; Eko Purwanto
Jurnal Perikanan dan Kelautan Vol. 31 No. 1 (2026): February
Publisher : Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31258/jpk.31.1.85-90

Abstract

This study aims to determine the types and abundances of phytoplankton species in Lubuk Larangan, Desa Sungai Paku. This research was conducted in May-June 2024 in Lubuk Larangan, Sungai Paku Village, Kampar Kiri District, Kampar Regency. The method used was the survey method, and data analysis was conducted using statistical tests. Phytoplankton species found in Lubuk Larangan, Sungai Paku Village, were 33 species belonging to 5 classes: Chlorophyceae, Cyanophyceae, Diatome, Euglenophyceae, and Zygnematophyceae. The abundance of phytoplankton species ranged from 7.080 to 16.800 cells/L. The highest phytoplankton abundance was at station II (16.800 cells/L), and the lowest was at station I (7.080,8 cells/L). Diversity index values ranged from 3.2883 to 3.7419, uniformity index 0.90 to 0.95, and dominance index 0.08 to 0.11. The high abundance of phytoplankton species obtained in the lubuk larangan (Station II) compared to the area outside the lubuk larangan (Stations I and III) indicates a difference type and abundance of phytoplankton with the results of the T test obtained a significant value of 0.028 (p < 0.05) and the value of T count is 3.374 and the value of T table is 2.77645 where T count is greater than T table
Species and Density of Starfish (Asteroidea) in Seagrass Ecosystems at Pengudang Village, Bintan Regency, Kepulauan Riau M. Adnin Firmansyah Simanjuntak; Adriman Adriman; Muhammad Fauzi
Jurnal Perikanan dan Kelautan Vol. 31 No. 1 (2026): February
Publisher : Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31258/jpk.31.1.105-112

Abstract

Sea stars, members of the Echinodermata phylum, are closely associated with seagrass beds and play a role in the food chain. High seagrass cover supports a variety of biota, including sea stars. This study aims to determine the types and density of starfish (Asteroidea) in the seagrass ecosystem of Pengudang Village, Bintan Regency, Kepulauan Riau Province. This research was conducted in September 2024 in Pengudang Village, Bintan Regency, Kepulauan Riau Province. Starfish sampling and observation were conducted at three station points, with each station having three transect lines.  Each transect contained ten observation plots measuring 1×1 m. Two species of starfish were found during the study in Pengudang village: Archaster typicus (73 individuals) and Protoreaster nodosus (14 individuals). The density of starfish found during research in Pengudang Village ranged from 700 to 13,700 individuals per hectare. Water quality conditions during the study were classified as good for supporting starfish life, with temperatures ranging from 29.7 to 31.3°C, current speeds from 0.055 to 0.076 m/s, salinity from 29.9 to 31.6 ppt, and dissolved oxygen from 6.82 to 7.66 mg/L.
Type and Abundance of Phytoplankton in Lubuk Larangan Area, Sungai Paku Village, Kampar District, Riau Rama Wahyudi; Muhammad Fauzi; Eko Purwanto
Jurnal Perikanan dan Kelautan Vol. 31 No. 1 (2026): February
Publisher : Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31258/jpk.31.1.85-90

Abstract

This study aims to determine the types and abundances of phytoplankton species in Lubuk Larangan, Desa Sungai Paku. This research was conducted in May-June 2024 in Lubuk Larangan, Sungai Paku Village, Kampar Kiri District, Kampar Regency. The method used was the survey method, and data analysis was conducted using statistical tests. Phytoplankton species found in Lubuk Larangan, Sungai Paku Village, were 33 species belonging to 5 classes: Chlorophyceae, Cyanophyceae, Diatome, Euglenophyceae, and Zygnematophyceae. The abundance of phytoplankton species ranged from 7.080 to 16.800 cells/L. The highest phytoplankton abundance was at station II (16.800 cells/L), and the lowest was at station I (7.080,8 cells/L). Diversity index values ranged from 3.2883 to 3.7419, uniformity index 0.90 to 0.95, and dominance index 0.08 to 0.11. The high abundance of phytoplankton species obtained in the lubuk larangan (Station II) compared to the area outside the lubuk larangan (Stations I and III) indicates a difference type and abundance of phytoplankton with the results of the T test obtained a significant value of 0.028 (p < 0.05) and the value of T count is 3.374 and the value of T table is 2.77645 where T count is greater than T table
Preparation and characterization of chitosan derived from slipper lobster (Thenus orientalis) RAHMAN KARNILA; BUSTARI HASAN; DIAN IRIANI; HARIFA SYAH PUTRA; MUHAMMAD FAUZI; ZULFARINA ZULFARINA
Biodiversitas Journal of Biological Diversity Vol. 25 No. 11 (2024)
Publisher : Society for Indonesian Biodiversity

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.13057/biodiv/d251135

Abstract

Abstract. Karnila R, Hasan B, Iriani D, Putra HS, Fauzi M, Zulfarina. 2024. Preparation and characterization of chitosan derived from slipper lobster (Thenus orientalis). Biodiversitas 25: 4360-4369. Slipper lobster (Thenus orientalis (Lund, 1793)) is a marine fishery commodity that can be utilized its large carapace (proportion &gt;50%) to be converted into chitosan, but ideal, accurate and rapid characterization has not been developed in detecting chitosan and its derivatives as potential raw materials for nutraceuticals. In this study, the proportion and chemical composition of fan shrimp were analyzed, and the carapace of fan shrimp was determined for the degree of deacetylation of chitin and chitosan, then chitosan was evaluated for glycosidic chains using LCMS-MS from ESI sources. The method used was descriptive with 3 repetitions. The results showed that the largest proportion of the fan shrimp body was found in the carapace at 52.98%. The highest mineral content in the carapace is calcium at 752 mg/L and the lowest is phosphorus at 0.36 mg/L and higher than meat. The yield value of chitosan was 31.19% with a deacetylation degree of 80.15%. The glycosidic chain of chitosan has many amine groups from the structure of the compound 2-Amino-2-Deoxy-D-Glucose Chitosamine and 2-(Aminomethyl)-N-(3-isopropyl octahydro [1,2,4] triazolo [4,3-a] pyridine-6-il)-1 piperidinekar kotakamida which have high quality chitosan affinity, but there is a compound 5-Aminomethyl-2,4-Dihydro [1,2,4] Triazol-3-One Hydrochloride and N-[3-Methyl-2-(4-methyl-1-piperazinyl)-butyl] isoleucinamide hydrochloride which tends to be dissociated and cationized by HCl. Overall, these data suggest the glycosidic chain of slipper lobster has potential as a raw material for nutraceuticals and functional food ingredients.