Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search

PEMANFAATAN EKSTRAK BATANG PISANG SEBAGAI PEMBIUS UNTUK MENSEPARASI NILA Puspito, Gondo; Mustaruddin; Kusuma, Mega; Muninggar, Retno; Iskandar, Mokhamad Dahri; Bangun, Tri Nanda Citra
ALBACORE Jurnal Penelitian Perikanan Laut Vol. 5 No. 3 (2021): Albacore
Publisher : Departemen PSP IPB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/core.5.3.313-323

Abstract

Penelitian ditujukan untuk menentukan konsentrasi pembius ekstrak batang pisang yang dapat membius nila (Oreochormis niloticus). Indikator keberhasilannya didasarkan atas waktu kolaps tercepat dan waktu pulih terlama. Sebanyak 29 ikan belum layak konsumsi berukuran panjang total antara 12,6-18,5 cm dan 25 ikan layak konsumsi (18,6-24,5 cm) dijadikan sebagai sampel penelitian. Pembiusan difokuskan terutama pada ikan belum layak konsumsi yang akan diseparasi, karena lebih rentan terhadap zat pembius dibandingkan dengan ikan layak konsumsi. Konsentrasi pembius yang digunakan terdiri atas 1%, 2%, dan 3%. Respon ikan terhadap pembiusan disesuaikan dengan tabel McFarland (1959). Hasilnya adalah zat pembius yang terkandung dalam batang pisang berupa saponin. Konsentrasi pembius 3% lebih baik dibandingkan dengan 2% dan 1%, karena ikan lebih cepat kolaps dan lebih lama pulih. Ikan belum layak konsumsi akan kolaps setelah pembiusan selama 25-60 menit dengan waktu pulih antara 28-50 menit. Adapun ikan layak konsumsi akan kolaps setelah dibius selama 82-93 menit dan akan pulih kembali antara 58-90 menit. Kata kunci: batang pisang, layak konsumsi, nila, saponin, waktu kolaps, waktu pulih
STRATEGI PENINGKATAN AKTIVITAS PERIKANAN TANGKAP DI KABUPATEN KEBUMEN: Strategy to Increase Capture Fisheries Activity in Kebumen District Tri Wiji Nurani; Wahyuningrum, Prihatin Ika; Hapsari, Rianti Dyah; Khoerunnisa, Nurani; Wiyono, Eko Sri; Solihin, Iin; Iskandar, Mokhamad Dahri; Wisudo, Sugeng Hari
Marine Fisheries : Journal of Marine Fisheries Technology and Management Vol. 14 No. 2 (2023): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut
Publisher : Bogor Agricultural University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jmf.v14i2.45008

Abstract

Kabupaten Kebumen memiliki potensi sumberdaya ikan yang besar dengan posisi wilayah perairan yang langsung berhadapan dengan Samudera Hindia. Kondisi saat ini, aktivitas perikanan sudah berlangsung dengan baik dengan adanya 7 tempat pendaratan ikan dan 1 pelabuhan perikanan pantai. Nelayan masih mengalami kendala dengan keterbatasan prasarana di pelabuhan, sarana kapal/perahu yang masih berukuran kecil, cuaca dan gelombang besar pada saat musim barat, keberadaan ikan yang bersifat musiman, dan belum memiliki kemampuan untuk dapat mendeteksi keberadaan ikan. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mendeskripsikan kegiatan yang telah dilakukan saat ini; (2) menentukan faktor kekuatan dan kelemahan internal, serta peluang dan ancaman eksternal; (3) menyusun strategi peningkatan aktivitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa produksi ikan utama di Kabupaten Kebumen yaitu lobster, layur, dan bawal putih. Ketiga komoditi ini merupakan komoditi ekspor. Secara umum produksi dan nilai produksi dari ketiga komoditi tersebut terus mengalami peningkatan pada periode pada 2017-2021. Strategi untuk peningkatan aktivitas perikanan yaitu pengembangan teknologi dengan menggunakan kapal yang lebih besar, peningkatan sumberdaya manusia, diversifikasi pengolahan produk, dan peningkatan kapabilitas nelayan terkait dengan pengelolaan keuangan dan pemasaran.
PERBEDAAN JUMLAH DAN UKURAN HASIL TANGKAPAN BAGAN APUNG PADA WAKTU HAULING YANG BERBEDA Iskandar, Mokhamad Dahri; Tirtana, Denta; Baskoro, Mulyono S.; Puspito, Gondo
Jurnal Penelitian Perikanan Laut (Albacore) Vol 8 No 1 (2024): Albacore
Publisher : Departemen PSP IPB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/core.8.1.055-067

Abstract

Ikan berkumpul di lokasi penangkapan bagan dengan berbagai tujuan. Beberapa peneliti menunjukan bahwa salah satu alasan ikan berkumpul di lokasi penangkapan bagan untuk melakukan pemangsaan. Salah satu alasan ikan berkumpul di sekitar bagan adalah pemangsaan. Waktu pemangsaan tiap spesies berbeda, sehingga keberadaan tiap spesies di lokasi penangkapan akan berbeda. Pada penangkapan ikan dengan bagan apung, nelayan akan melakukan kegiatan hauling pada saat ikan telah banyak berkumpul di lokasi penangkapan. Oleh karena itu penulis tertarik untuk mengungkap aktifitas hauling yang berbeda terhadap hasil tangkapan bagan. Tujuan dari penelitian ini untuk menetukan bobot ikan yang tertangkap, jenis ikan yang tertangkap, sebaran ukuran ikan yang tertangkap dan keragaman ikan yang tertangkap pada bagan apung pada berbagai periode hauling. Pengambilan data dilakukan dengan metode uji coba penangkapan di laut. Pengambilan data dilakukan selama 10 hari dengan tiap trip penangkapan sebagai satu ulangan. Untuk menganalisis adanya perbedaan bobot ikan yang tertangkap dan ukuran panjang spesies dominan pada berbagai periode hauling digunakan Uji Kruskal Wallis. Keragaman hasil tangkapan yang diperoleh pada berbagai waktu hauling dianalisis dengan index Shannon Wiener. Berdasarkan hasil uji Kruskal Wallis terhadap bobot ikan yang tertangkap pada berbagai waktu hauling diperoleh nilai probabilitas 0,041 (P < 0,05). Hal ini berarti bobot hasil tangkapan antara waktu hauling yang berbeda menunjukan perbedaan yang nyata. Hasil Uji Kruskall Wallis pada ukuran panjang ikan dominan menunjukan hasil tangkapan ikan layang dan cumi-cumi berbeda nyata taraf kepercayaan 95%. Keanekaragaman tertinggi terjadi pada waktu hauling tengah malam dengan nilai indeks keragaman 1,956. Kata kunci: bagan apung, distribusi ukuran, hauling, hasil tangkapan, keragaman, Kruskal Wallis
PENGEMBANGAN MATA PENCAHARIAN ALTERNATIF BAGI NELAYAN KABUPATEN KEBUMEN Nurani, Tri Wiji; Wahyuningrum, Prihatin Ika; Hapsari, Rianti Dyah; Iskandar, Mokhamad Dahri; Wahju, Ronny Irawan; Solihin, Iin; Komarudin, Didin; Dianti, Sari Rama
Jurnal Penelitian Perikanan Laut (Albacore) Vol 8 No 2 (2024): Albacore
Publisher : Departemen PSP IPB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/core.8.2.141-157

Abstract

Aktivitas penangkapan ikan oleh nelayan di Kabupaten Kebumen mengalami kendala utama terkait dengan kondisi oseanografis dan ketidakpastian musim penangkapan ikan. Saat tidak musim, sebagian nelayan memiliki mata pencaharian lain yaitu bertani, beternak, dan lainnya. Namun tidak semua nelayan memiliki kemampuan tersebut, banyak nelayan yang menggantungkan hidupnya hanya sebagai nelayan. Tujuan penelitian ini yaitu mengidentifikasi potensi wilayah sebagai alternatif kegiatan ekonomi bagi nelayan dan memberikan rekomendasi mata pencaharian alternatif yang tepat bagi nelayan di Kabupaten Kebumen, contoh kasus di Desa Jogosimo. Pengumpulan data peluang kegiatan ekonomi alternatif dilakukan melalui survei potensi wilayah dan studi pustaka. Hasil tersebut selanjutnya dilakukan focus group discussion (FGD) untuk mendapatkan masukan terkait dengan pandangan nelayan terhadap alternatif mata pencaharian tersebut. Analisis data dilakukan secara deskriptif berdasarkan hasil survei lapang dan FGD. Hasil identifikasi lapang dan studi pustaka diperoleh kegiatan ekonomi alternatif yang dapat dilakukan nelayan yaitu kegiatan penangkapan ikan di muara sungai dengan bubu, budidaya/pembesaran kepiting bakau, dan wisata sungai. Hasil FGD diperoleh masukan perlunya inovasi agar alat tangkap bubu tidak hilang saat arus sungai deras. Kondisi mangrove di Desa Jogosimo perlu dilakukan penanaman kembali agar populasinya lebih tinggi, sehingga budidaya ataupun pembesaran kepiting bakau dapat dilakukan. Rekomendasi yang dapat diberikan adalah perlunya mengembangkan wisata sungai melalui integrasi kegiatan penangkapan ikan, pemeliharaan dan pmbesaran kepiting bakau, serta wisata kuliner dan pemasaran produk lokal. Kata kunci: Jogosimo, kepiting bakau, nelayan, penangkapan ikan, wisata sungai
KOMPOSISI DAN DISTRIBUSI UKURAN HASIL TANGKAPAN DOMINAN PUKAT CINCIN YANG DIDARATKAN DI PELABUHAN PERIKANAN PANTAI MUNCAR BANYUWANGI Iskandar, Mokhamad Dahri; Purboningrum, Ratna; Wahju, Ronny Irawan
Jurnal Penelitian Perikanan Laut (Albacore) Vol 8 No 2 (2024): Albacore
Publisher : Departemen PSP IPB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/core.8.2.199-209

Abstract

Muncar merupakan salah satu tempat pendaratan ikan lemuru terbesar di Banyuwangi. Ikan lemuru banyak ditangkap dengan menggunakan purse seine. Pada penangkapan ikan dengan menggunakan purse seine, lemuru merupakan target penangkapan sedangkan ikan lainnya merupakan hasil tangkapan sampingan (bycatch). Beberapa peneliti menunjukkan bahwa hasil tangkapan sampingan (bycatch) merupakan salah satu penyebab menipisnya stok ikan. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan komposisi hasil tangkapan dan distribusi ukuran hasil tangkapan dominan purse seine. Pengambilan data dilakukan melalui metode sampling hasil tangkapan dominan pukat cincin yang didaratkan di Pelabuhan Perikanan Pantai Muncar. Data yang diperoleh dari sampling selanjutnya diukur dan dianalisis dengan metode statistic untuk mendapat hasil yang diinginkan. Hasil dari pengamatan di lapang menunjukkan bahwa hasil tangkapan purse seine selama 10 trip penangkapan didominasi oleh ikan lemuru (Sardinella lemuru) dengan jumlah sebanyak 3.360 ekor ikan dengan proporsi sebanyak 77,83% sebagai target spesies dan hasil tangkapan sampingan berupa ikan layang (Decapterus ruselli) sebanyak 596 ekor ikan dengan proporsi sebanyak 13,77%, dan ikan slengseng (Scomber australasicus) sebanyak 363 ekor ikan dengan proporsi sebanyak 8,40%. Ikan lemuru yang tertangkap pada penelitian ini berkisar 12-21 cm. Ukuran dominan ikan lemuru yang tertangkap berkisar antara 14-15 cm sebanyak 2.032 ekor (46,97%) dan yang paling sedikit berada pada ukuran di atas 18 cm dengan jumlah sebanyak 7 ekor ikan (0,16%). Ukuran ikan layang yang tertangkap pada penelitian ini berkisar pada ukuran 13-25 cm. Hasil tangkapan dominan ikan laying yang tertangkap berada pada kisaran 19-20,5 cm yakni sebanyak 255 ekor (5,20%) dan hasil tangkapan yang paling sedikit berada pada kisaran 23,5-25 cm dengan jumlah sebanyak 1 ekor (0,02%). Ukuran hasil tangkapan ikan slengseng pada penelitian ini berkisar antara 13-28 cm. Dominan hasil tangkapan ikan slengseng berada pada ukuran 23-25 cm dengan jumlah sebanyak 143 ekor ikan. Adapun hasil tangkapan yang paling sedikit berada pada kisaran ukuran 27-28 cm dengan jumlah sebanyak 2 ekor ikan (0,04%). Kata kunci: distribusi ukuran, hasil tangkapan sampingan, lemuru, purse seine
KEKUATAN PUTUS (BREAKING STRENGTH) BENANG JARING ‘PA MONOFILAMEN’ DENGAN WARNA JARING YANG BERBEDA Herawati, Erny; Iskandar, Mokhamad Dahri; Wahyu, Ronny Irawan; Qodri, Isnain
Jurnal Penelitian Perikanan Laut (Albacore) Vol 8 No 4 (2024): Albacore
Publisher : Departemen PSP IPB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/core.8.4.455-465

Abstract

Jaring merupakan alat tangkap yang banyak digunakan oleh nelayan untuk menangkap ikan di perairan Indonesia. Jaring yang terbuat dari bahan sintesis lebih memiliki keunggulan dibandingkan dengan jaring yang menggunakan bahan serat alami. Namun demikian karena proses penyinaran matahari yang terjadi dalam waktu yang lama kekuatan putus (breaking strength) jaring sintetis dapat menurun. Kekuatan putus jaring mengalami penurunan karena penyinaran sinar matahari dipengaruhi oleh warna jaring. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kekuatan putus jaring yang menggunakan warna yang berbeda, menentukan pengaruh lama penyinaran terhadap kekuatan putus jaring, dan menentukan pengaruh lokasi penyimpanan terhadap kekuatan putus jaring. Penelitian ini menggunakan uji non-parametrik Kruskall-Wallis dan Mann-Whitney untuk menganalisis kekuatan putus jaring pada perlakuan yang berbeda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa warna jaring, lama penjemuran dan lokasi penyimpanan di ruang terbuka dan tertutup secara statistik signifikan berbeda nyata. Penurunan nilai kekuatan putus jaring di ruang terbuka untuk warna abu-abu, biru, merah muda, dan oranye masing-masing sebesar 80%, 78%, 89%, dan 76%. Berdasarkan hasil uji Mann-Whitney terhadap warna jaring yang berbeda disimpan di bawah sinar matahari dan disimpan pada ruang tertutup diperoleh nilai yang berbeda nyata untuk semua warna jaring. Hal ini menunjukkan bahwa lokasi penyimpanan mempunyai pengaruh nyata terhadap kekuatan putus jaring. Secara rinci hasil uji Mann-Whitney untuk warna yang berbeda yang diletakkan pada lokasi penyimpanan. Kata kunci: jaring PA, kekuatan putus, penyimpanan, sinar matahari, warna
CATCH COMPOSITION OF POT WITH DIFFERENT BAIT AT BATANG KUMU WATERS ROKAN HILIR REGENCY Nopriyanti; Iskandar, Mokhamad Dahri; Mawardi, Wazir; Komarudin, Didin; Baskoro, Mulyono S.
Jurnal Penelitian Perikanan Laut (Albacore) Vol 9 No 2 (2025): Albacore
Publisher : Departemen PSP IPB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/core.9.2.235-247

Abstract

Pot is the dominant fishing gear for capturing fish at Batang Kumu River. Fishermen operated pot for targeting redtail catfish without any bait. At this research pot pot was attached with trash fishes, palm oil to increase catch of pot in Batang Kumu river. The purpose of this experiment to investigate catch composition of pot and number of fish catch using different bait. This research used 3 different treatments i.e pot with trash fishes bait, pot with palm oil bait and pot without bait as control. Each treatment used 8 pots. Total pots used at this research were 24 pots. Total catch number and weight was analyzed by Kruskall Wallis test while catch homogeneity was analyzed by Shannon Wiener Index. Result of experiment indicated that dominant catch was redtail catfish, 57% of total catch. Kruskal Wallis test indicated that number of catch and weight of total siginificantly different among different bait type. The results of the analysis of the diversity of catches showed that the traps using trash bait had the lowest Diversity Index, Key words: Bait, Batang Kumu River, pot, Shannon Wiener
Modulus of Rupture and Modulus of Elasticity in Recycling FRP Bangun, Tri Nanda Citra; Rahmawati, Nabila; Novita, Yopi; Komarudin, Didin; Iskandar, Mokhamad Dahri; Purnomo, Deni; Iskandar, Budhi Hascaryo
International Journal of Marine Engineering Innovation and Research Vol 9, No 4 (2024)
Publisher : Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j25481479.v9i4.22006

Abstract

Fiber Reinforced Plastic (FRP) material has been widely used as a ship construction alternative to wood. FRP has many advantages such as lightweight material, easy maintenance, weather resistance, economical price, and shorter production time. FRP ship production is weak from the waste factor produced, such as production residue during shipbuilding, ship molds, and FRP shipwrecks. FRP waste can impact the environment, economy, and human health. These impacts include soil pollution, microplastics, skin diseases, and human respiratory disorders. FRP material tends to be burned by many shipyards but still leaves waste in the form of dust. FRP material is difficult to decompose and takes a long time to melt. One strategic effort to minimize the impact of FRP is to recycle FRP. This study aims to reduce FRP waste by making composite boards from FRP waste. The method used was experimental, involving the making of 12 specimens and testing the density, MOR, and MOE. Based on the results of the density value test, the average value obtained follows the JIS A 5905-2003 reference. The MOR and MOE values for each specimen do not comply with the Indonesian Classification Bureau (BKI) standards. In the ANOVA test calculation, no significant differences were obtained for MOR and MOE.
Study of FRP Ship Waste Composite Materials and Its Combustion Residue Rahmawati, Nabila; Novita, Yopi; Komarudin, Didin; Iskandar, Mokhamad Dahri
International Journal of Marine Engineering Innovation and Research Vol 9, No 1 (2024)
Publisher : Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j25481479.v9i1.19913

Abstract

The escalating utilization of FRP materials ultimately gives rise to issues related to waste production. Waste disposal typically involves incineration, as practiced at UD Wahyu Asih Fiberglass. The combustion process yields thick black smoke and a pungent odor. Incineration does not annihilate fiberglass material but generates combustion byproducts, such as solid ash. This study aims to elucidate the material type, chemical element content, and associated properties inherent in FRP shipbuilding materials at UD Wahyu Asih Fiberglass Shipyard. The methodology commences with the identification of materials utilized in FRP ship manufacture through field observations at the shipyard. Another objective of this study is to quantify the ash content and ascertain the total particulate matter during the incineration process of FRP shipbuilding material waste via laboratory tests. The total particulate data obtained will be compared with applicable emission quality standards.
Modulus of Rupture and Modulus of Elasticity in Recycling FRP Tri Nanda Citra Bangun; Nabila Rahmawati; Yopi Novita; Didin Komarudin; Mokhamad Dahri Iskandar; Deni Purnomo; Budhi Hascaryo Iskandar
International Journal of Marine Engineering Innovation and Research Vol. 9 No. 4 (2024)
Publisher : Department of Marine Engineering, Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j25481479.v9i4.4838

Abstract

Fiber Reinforced Plastic (FRP) material has been widely used as a ship construction alternative to wood. FRP has many advantages such as lightweight material, easy maintenance, weather resistance, economical price, and shorter production time. FRP ship production is weak from the waste factor produced, such as production residue during shipbuilding, ship molds, and FRP shipwrecks. FRP waste can impact the environment, economy, and human health. These impacts include soil pollution, microplastics, skin diseases, and human respiratory disorders. FRP material tends to be burned by many shipyards but still leaves waste in the form of dust. FRP material is difficult to decompose and takes a long time to melt. One strategic effort to minimize the impact of FRP is to recycle FRP. This study aims to reduce FRP waste by making composite boards from FRP waste. The method used was experimental, involving the making of 12 specimens and testing the density, MOR, and MOE. Based on the results of the density value test, the average value obtained follows the JIS A 5905-2003 reference. The MOR and MOE values for each specimen do not comply with the Indonesian Classification Bureau (BKI) standards. In the ANOVA test calculation, no significant differences were obtained for MOR and MOE.