Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

Edukasi Pencegahan Kekerasan Berbasis Gender (KBG) pada Remaja: Gender-Based Violence (GBV) Prevention Education in Adolescents Dwi Hariyanti
Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat: Kesehatan Vol. 5 No. 2 (2025): Juli
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Notokusumo Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak: Kekerasan Berbasis Gender (KBG) sebagai kekerasan langsung pada seseorang yang didasarkan atas gendernya. Bentuk perilaku tersebut meliputi kekerasan fisik, seksual, mental, pemaksaan, ancaman, ataupun perbuatan yang membatasi kebebasan seseorang berkaitan dengan gendernya. Peningkatan KBG hampir 50% di tahun 2022, sebanyak 338.496 pengaduan kasus kekerasan berbasis gender pada tahun 2021. Bahwa 1 dari 3 wanita pernah mengalami kekerasan fisik/seksual. Supaya kasus KBG tidak bertambah drastis, dibutuhkan pengenalan dan pemahaman bentuk kekerasan dan cara pencegahannya, salahsatunya dengan pemberian edukasi pada kelompok rentan/labil seperti remaja. Tujuan dari pelaksanaan edukasi pencegahan kekerasan berbasis gender yaitu agar siswa memiliki bekal yang baik terkait hal tersebut. Manfaat yang bisa didapatkan siswa yaitu mendapatkan bekal informasi yang baik dan bisa mensikapi dengan baik terkait dengan kekerasan berbasis gender, serta bisa meemberikan informasi tersebut kepada orang lain. Jumlah siswa yang menajdi sasaran pengabdian yaitu 23 siswa. Metode yang digunakan yanitu eduaksi interaktif dengan media audio visual aids/AVA. Sebelum dilakukan edukasi tingkat pengetahuan tentang pencegahan dalam kategori baik yaitu 70 persen dari 23 siswa, dan meningkat menjadi 87 persen setelah edukasi. Jadi edukasi kekerasan berbasis gender bisa meningkatkan pengetahuan sebesar 17 persen.   Abstract: Gender-Based Violence (GBV) is direct violence against a person based on their gender. This behavior includes physical, sexual, and mental violence, coercion, threats, or actions that limit a person's freedom related to their gender. GBV cases increased by almost 50% in 2022, with 338,496 complaints of gender-based violence cases in 2021. One in three women has experienced physical/sexual violence. To prevent a drastic increase in GBV cases, it is necessary to recognize and understand the forms of violence and how to prevent them, one of which is by providing education to vulnerable/unstable groups such as adolescents. The purpose of implementing gender-based violence prevention education is to provide students with good provisions regarding this matter. The benefits that students can get are getting good information and being able to respond appropriately to gender-based violence, and being able to share this information with others. The number of students who are the target of community service is 23 students. The method used is interactive education with audio-visual aids/AVA media. Before the education, 70 percent of 23 students had good knowledge about prevention, which increased to 87 percent after the education. Therefore, gender-based violence education can increase knowledge by 17 percent.  
ANALISIS FLUKTUATIF TINGKAT PENDAPATAN PETANI SAYUR DESA WAIHERU Hariyati,SE., MSA, Tri Retno; Hariyanti, Dwi; Masidonsa, Jaelani La; Asrida, Wa
Jurnal Maneksi (Management Ekonomi Dan Akuntansi) Vol. 7 No. 2 (2018)
Publisher : Politeknik Negeri Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31959/jm.v7i2.188

Abstract

Tujuan Penelitian adalah mengetahui dan menganalisa faktor apa saja yang menyebabkan fluktuatif tingkat pendapatan petani sayur di Waiheru. Selain itu mampu memberikan solusi atas masalah yang dihadapi oleh petani. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian adalah pendekatan kualitatif. Hasil penelitian ini menujukkan bahwa Faktor yang mempengaruhi fluktusi pendapatan petani sayur di wilayah Waiheru adalah faktor internal dan faktor ekternal. Faktor internal adalah faktor yang timbul dari dalam diri para petani seperti keahlian menanam tanaman, katrampilan dalam mengeolah tanah , kepiawaian dalam mengurus tanaman dll. Sedangkan kator ekternal berasal dari luar diri petani seperti iklim. Pelindung tanaman dan lain-lain. Dari kedua faktor tersebut, ternyata faktor internal adalah faktor yang telah di miliki oleh petani. Petani telah sering mendapatkan pelatihan dan penyuluhan oleh dinas pertanian. Sedangkan, untuk faktor ekternal adalah faktor yang harus mampu di atasi langsung oleh petani. Faktor ekternal seperti iklim ternyata justru tidak mengurangai jumlah laba atau mendapatan yang di peroleh petani. Namun, yang menjadi kendala kemampuan petani untuk membangun rumah pelindung tanaman. Dengan di bangun rumah tersebut, maka  mampu mendorong meningkatkan hasil panen meningkat. Solusi atas kendala yang dimiliki oleh Petani dalah perlu sinergi program dengan pemerintah dan petani, artinya petani juga perlu swadaya dan kekurangan pemerintah perhatihan dalam membuat rumah pelindung tanaman secara permanen.
MODAL DAN PELUANG PASAR SEBAGAI DETERMINAN INOVASI USAHA PENJUAL IKAN ”JIBU-JIBU” DI WILAYAH KOTA AMBON Masidonda, Jaelani; Hariyanti, Dwi
Jurnal Maneksi (Management Ekonomi Dan Akuntansi) Vol. 8 No. 2 (2019)
Publisher : Politeknik Negeri Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31959/jm.v8i2.394

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menguji dan menganalisis modal dan peluang pasar sebagai determinan inovasi usaha. Kajian penelitian dikembangan untuk mengetahui peran modal dan peluang pasar dalam meningkatkan inovasi usaha penjual ikan “jibu-jibu” di Wilayah Kota Ambon. Hasil penelitian menemukan bahwa modal berpengaruh meningkatkan inovasi usaha. Hal ini, disebabkan karena penjual ikan “jibu-jibu” telah melakukan usaha untuk menambah modalnya melalui akses bantuan modal dan pinjaman dari pihak lain (non bank). Besarnya jumlah modal yang dimiliki, telah mendorong jibu-jibu untuk melakukan inovasi-inovasi pengembangan usahanya. Hal ini sesuai fakta empiris yang menujukkan bahwa 24% jibu-jibu telah melakukan upaya untuk memenuhi kebutuhan modalnya dan sebanyak 20% dari jibu-jibu telah melakukan inovasi/cara usaha baru dalam bentuk menjual ikan yang telah diolah dan inovasi pelayanan kepada pembeli. Peluang pasar meningkatkan inovasi usaha. Meningkatnya peluang pasar, karena terus meningkatnya kebutuhan para pembeli, sehingga menuntut jibu-jibu untuk melakukan inovasi dengan meningkatkan implementasi dari kreatifitas jibu-jibu untuk memberikan nilai tambah pada produk ikan dan semua sumber daya yang dimiliki. Dengan demikian jibu-jibu dapat berusaha dengan lebih menguntungkan. Selain itu, kemudahan untuk memperoleh pasar baru dalam memasarkan produknya serta kemudahan memperoleh informasi tentang pesaing penjual ikan, mendorong jibu-jibu untuk melakukan inovasi usaha atau cara baru dalam memasarkan produknya.
ANALISIS PENGARUH FAKTOR INTERNAL TERHADAP BUDAYA MUTU PERGURUAN TINGGI SWASTA DI WILAYAH PROVINSI MALUKU Masidonda, Jaelani La; Hariyanti, Dwi
Jurnal Maneksi (Management Ekonomi Dan Akuntansi) Vol. 11 No. 2 (2022): Jurnal Maneksi (Management Ekonomi Dan Akuntansi)
Publisher : Politeknik Negeri Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31959/jm.v11i2.1716

Abstract

This study aims to reveal the post-covid-19 quality culture through examining internal factors that influence the internal quality culture at private tertiary institutions (PT) in the Maluku region. This research is a quantitative research, the object of research is at private universities in the Maluku region. Conducting research in February 2022-March 2023. The research sample is an internal quality auditor with a total of 43 respondents, with saturated sample criteria. The analytical tool, namely inferential analysis, is used by SPSS through multiple regression. The results of the study explain that the quality culture in post-covid 19 tertiary institutions in the Maluku region is significantly influenced by internal factors through the variables of management support, facilities and infrastructure, regulation and finance. Keywords: quality culture, management support, regulation, finance and finance