Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

Dekonstruksi dan Hermeneutika dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam : (Studi Kasus Pemikiran J. Derrida dan George Garddemar) Hidayah, Jerni; Amril M
ALBAHRU Vol 4 No 1 (2025)
Publisher : MGMP PAI KEPRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Konsep ummi bagi Nabi Muhammad saw, dan konsep naskh. Sumber primer pada penelitian ini adalah buku karya Yuksel yang berjudul Quran: A Reformist Translation. Sumber tersebut dianalisis menggunakan metode deskriptif-analitis dan pendekatan teori dekonstruksi Derrida. Penelitian ini menyimpulkan bahwa hermeneutika Edip Yuksel tidak mengadopsi secara penuh teori dekonstruksi Derrida. Karena dalam beberapa kasus Yuksel menentukan makna sebuah kata dalam al-Qur‟an secara final. Meskipun dalam beberapa hal penulis memandang Yuksel sebagai mufassīr progresif. Penulis juga menyimpulkan bahwa Yuksel telah mengesampingkan aspek sejarah yang berakibat pada bentuk simplifikasi teks. Metode penafsiran Yuksel mengacu pada logika alQur‟an yang hampir tidak didialogkan dengan kondisi sosial-historis pada masa lampau, sehingga tafsir Yuksel ini belum dapat menggambarkan makna al-Qur‟an secara lebih komprehensif.
Rekonstruksi Epistemologi di Era Postmodernisme: Studi atas Gagasan Islamisasi Ilmu menurut Ismail Raji Al-Faruqi Eva Dewi; Amril M; Amin Maksum
Jurnal Teologi Islam Vol. 1 No. 2 (2025): NOVEMBER (in progress)
Publisher : Indo Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/43v63g24

Abstract

Perkembangan epistemologi di era postmodernisme telah menggugah diskursus filsafat ilmu untuk meninjau ulang relasi antara ilmu pengetahuan, nilai, dan otoritas. Dalam konteks ini, Ismail Raji al-Faruqi menawarkan gagasan besar mengenai Islamisasi ilmu sebagai respons terhadap dominasi epistemologi Barat yang sekuler dan terfragmentasi. Penelitian ini bertujuan untuk merekonstruksi gagasan epistemologis Al-Faruqi dalam kerangka pemikiran postmodern. Metode yang digunakan adalah studi pustaka dengan pendekatan historis-filosofis, yang menelaah karya-karya primer Al-Faruqi serta literatur filsafat kontemporer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Islamisasi ilmu menurut Al-Faruqi bukan sekadar integrasi normatif antara Islam dan ilmu pengetahuan, melainkan usaha merombak fondasi epistemologis ilmu agar selaras dengan tauhid. Dalam kerangka postmodern, gagasan ini relevan sebagai tawaran alternatif terhadap epistemologi relativistik yang kehilangan pusat nilai. Kajian ini menyimpulkan bahwa rekonstruksi pemikiran Al-Faruqi penting untuk membangun paradigma ilmu yang integral, etis, dan berbasis pada wahyu.
KEMAJUAN DAN KEMUNDURAN DINASTI SAFAWI DI PERSIA Safitri, Nopira; Amril M
Al-Ihda' : Jurnal Pendidikan dan Pemikiran Vol. 20 No. 2 (2025): Oktober: Al-Ihda': Jurnal Pendidikan dan Pemikiran
Publisher : STAI Nurul Falah Airmolek

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55558/al-ihda.v20i2.293

Abstract

Abstract This article discusses the Safavid Dynasty as one of the most influential Islamic dynasties that ruled Persia from 1501 to 1736 CE. It is notable for establishing Twelver Shi'ism as the official state madhhab and played a significant role in Persia's socio-political and religious transformation. The study aims to describe the rise and decline of the Safavid Dynasty by examining internal and external factors that shaped its trajectory. The findings indicate that the dynasty’s golden era occurred under Shah Abbas I, marked by achievements in politics, economy, science, and the arts. However, weak leadership, internal conflicts, moral decay, and external pressures ultimately led to its downfall. This article affirms that the endurance of a dynasty largely depends on moral integrity, leadership capacity, and responsiveness to external challenges. Keywords: Safavid Dynasty, Persia, Shah Abbas, civilizational progress, dynastic collapse.
ISLAM NORMATIF DAN ISLAM HISTORIS Kusmiran; Amril M
Jurnal Penelitian Ilmu Pendidikan Indonesia Vol. 2 No. 3 (2023): Volume 2 No 3
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jpion.v2i3.151

Abstract

This paper discusses the relationship between normative Islam and historical Islam. The method used is library research. The results of the study show that: 1) the notion of normative Islam is: norms, teachings, references, provisions regarding good and bad issues, what may be done and what may not be done while historical Islam means history which means past experience of mankind, 2) Normative Islamic studies explain law/fiqh, theology, philosophy and Sufism, 3) historical Islamic studies give birth to traditions or empirical study disciplines: religious anthropology, sociology of religion, psychology of religion, 4) the relationship between normative Islam and historical Islam can form a dialectical relationship and tension. Dialectical relations occur when there is a back-and-forth dialogue that illuminates each other between text and context
Penguatan Kecerdasan Sikap Multikultural (Sosiologis) Kusmiran; Amril M
Jurnal Penelitian Ilmu Pendidikan Indonesia Vol. 2 No. 3 (2023): Volume 2 No 3
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jpion.v2i3.152

Abstract

The purpose of this study was to analyze the strengthening of multicultural (sociological) attitude intelligence. The research method in this paper uses qualitative research methods. The results of this study are forms of strengthening multicultural attitude intelligence consisting of: 1) democratic attitudes, 2) Pluralism attitudes, 3) Humanism attitudes, and 4) tolerance attitudes, while forms of strengthening intelligence are 1) multicultural attitudes, 2) pluralism attitudes and 3) attitude of humanism
Ontologi Islam: Hakekat Ilmu dan Worldview Tauhid Islam serta Implikasinya dalam Pendidikan Agama Islam Afima, Oby Ara; Amril M
Nizamiyah: Jurnal Sains, Sosial dan Multidisiplin Vol. 1 No. 4 (2025): Nizamiyah: Jurnal Sains, Sosial dan Multidisiplin
Publisher : Yayasan Albahriah Jamiah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64691/nizamiyah.v1i4.113

Abstract

This article examines the concept of Islamic ontology as a philosophical foundation for understanding the nature of knowledge and the Islamic monotheistic worldview, as well as its implications for Islamic religious education. Ontology, as a branch of philosophy that discusses the nature of existence, from an Islamic perspective, asserts that everything originates from God as the Obligatory Being, while humans and nature are creations dependent on Him. The nature of knowledge in Islam is not only empirical and rational, but also transcendental, as knowledge is viewed as a divine mandate aimed at bringing humans closer to God and fostering noble morals. The Islamic monotheistic worldview places the oneness of God as the central orientation in the pursuit and development of knowledge, so that knowledge is not neutral, but rather bound to divine values ​​that shape the character, morals, and spirituality of students. This study uses a qualitative method with a library research approach and descriptive-analytical analysis to examine the relationship between ontology, the nature of knowledge, and the monotheistic worldview in Islamic education. The results of the study indicate that Islamic religious education must be understood as a process of developing ontological awareness of monotheism, which integrates knowledge, faith, and morals into one whole. Thus, Islamic education not only functions as a transfer of knowledge but also as a means of tazkiyah (purification of the soul) and the formation of an integral personality (insān kāmil) who can face global challenges while adhering to the value of monotheism. The tawḥīd worldview emphasizes that knowledge must always be tied to divine values, so that no knowledge is free from moral responsibility.
Epistemologi dan Integrasi : Interpedensi Metakosmos, Makrokosmos, Mikrokosmos, Dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Nurul Habibah Arfizeah; Amril M; Eliza Putri Ardiah
JURNAL ILMIAH FALSAFAH: Jurnal Kajian Filsafat, Teologi dan Humaniora Vol. 12 No. 1 (2026): JURNAL ILMIAH FALSAFAH
Publisher : Institut Agama Islam Sultan Muhammaad Syafiuddin Sambas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37567/jif.v12i1.4628

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dan menjelaskan epistemologi serta interpedensi antara makrokosmos, mikrokosmos, dan metakosmos, serta bagaimana ketiga dimensi kosmik tersebut diintegrasikan dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI). Penelitian ini enggunakan metode penelitian kualitatif berbasis studi kepustakaan, penelitian ini menelaah konsep-konsep kosmologi Islam yang menempatkan Tuhan sebagai metakosmos, alam semesta sebagai makrokosmos, dan manusia sebagai mikrokosmos yang saling terkait epistemologis. Hasil kajian menunjukkan bahwa epistemologi Islam tidak hanya bersumber dari akal dan pengalaman empiris, tetapi juga dari wahyu sebagai fondasi utama pengetahuan. Integrasi ketiga realitas kosmik dalam pembelajaran PAI menghasilkan pendekatan holistik yang menghubungkan kecerdasan qauliyah (wahyu), kauniyah (alam), dan insaniyah (potensi manusia). Pendekatan ini mendorong peserta didik untuk memahami relasi Tuhan–alam–manusia secara komprehensif, sehingga pembelajaran PAI tidak hanya membentuk aspek kognitif, tetapi juga spiritual, moral, dan ekologis. Penelitian ini menegaskan bahwa interpedensi trilogi kosmos menjadi dasar penting dalam membangun paradigma pendidikan Islam yang utuh dan transendental.