Claim Missing Document
Check
Articles

Studi Perbandingan Keoptimalan Hasil Desain Struktur Rangka Gewel Baja Dengan Beban Angin Menurut PPIUG 1983 Dan SNI 1727:2013 Lapudooh, Tommy; Hunggurami, Elia; Pah, Jusuf J. S.
JUTEKS : Jurnal Teknik Sipil Vol 9 No 2 (2024): JUTEKS (Jurnal Teknik Sipil)
Publisher : P3M- Politeknik Negeri Kupang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32511/juteks.v9i2.1293

Abstract

In Indonesia there are several basic literature on wind load planning, such as PPIUG 1983 and SNI 1727:2013. The transition from PPIUG 1983 to SNI has a different concept of wind load. In this study, the optimization of gewel structure design will be compared using both standards. The purpose of this study was to determine the difference in wind load calculation and also to determine the optimization of gewel structure design due to wind load PPIUG 1983 and SNI 1727:2013. Based on the results of research on SNI 2013 the value of wind pressure is not determined based on the distance from the building site to the waterfront but must take into account wind speed, wind direction coefficient, exposure category, topographic factors, wind blowing coefficient, internal pressure coefficient, velocity pressure exposure coefficient, external pressure coefficient and after that just calculate the value of wind pressure on a structure. In PPIUG 1983 the value of wind pressure on the structure is determined by the distance from the location of the building to the waterfront, except for certain areas that may produce a blow pressure greater than there is already determined then P is calculated using the formula V2/16. For the optimization of the calculation results that have been done, it is known that the design of wind loads for a building height of 7 meters based on wind loads in accordance with SNI 2013 is more optimal because there are still some structural elements that meet the saturation ratio standards set. Di Indonesia terdapat beberapa literatur dasar perencanan beban angin, seperti PPIUG 1983 dan SNI 1727:2013. Peralihan dari PPIUG 1983 ke SNI memiliki konsep beban angin yang berbeda. Dalam penelitian ini, akan dibandingkan keoptimalan desain struktur gewel menggunakan kedua standar tersebut. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan perhitungan beban angin dan juga mengetahui keoptimalan desain struktur gewel akibat beban angin PPIUG 1983 dan SNI 1727:2013. Berdasarkan hasil penelitian pada SNI 2013 nilai tekanan angin tidak ditentukan berdasarkan jarak dari lokasi bangunan ke tepi pantai namum harus memperhitungkan kecepatan angin, koefisien arah angin, kategori eksposur, faktor topografi, koefisien tiupan angin, koefisien tekanan internal, koefisien eksposur tekanan velositas, koefisien tekanan eksternal dan setelah itu baru menghitug nilai tekanan angin pada suatu struktur. Pada PPIUG 1983 nilai tekanan angin pada struktur ditentukan dengan jarak dari lokasi bangunan ke tepi pantai, kecuali daerah-daerah tertentu yang mungkin menghasilkan tekanan tiup yang lebih besar dari ada yang sudah ditentukan maka P dihitung dengan menggunakan rumus V2/16. Untuk keoptimalan dari hasil perhitungan yang telah dilakukan diketahui bahwa desain beban angin untuk ketinggian bangunan 7 meter berdasarkan beban angin sesuai dengan SNI 2013 lebih optimal dikarenakan masih ada beberapa elemen struktur yang memenuhi standar rasio keterpenuhan yang ditetapkan
PENINGKATAN JARINGAN AIR TANAH DAN TINGKAT KEPUASAN MASYARAKAT PEMAKAI AIR TANAH DESA BATAKTE Nasjono, Judi K.; Krisnayanti, Denik S.; Frans, John; Simatupang, Partogi; Hunggurami, Elia; Kumalawati, Andi; Seuk, Maria Desideria
Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 5 No 1 (2025): Juni 2025
Publisher : Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Jaringan air bersih yang meliputi sumur bor, reservoir, jaringan pipa dan bak hidran umum telah tersedia di Desa Batakte. Dengan adanya sistim air pedesaan ini masyarakat sekitar diharapkan dapat terpenuhi kebutuhan air mereka. Namun kenyataan saat ini pembagian air untuk masyarakat masih belum terpenuhi karena beberapa anggota masyarakat masih tinggal relatif jauh dari hidran umum sehingga memerlukan usaha lebih dalam memenuhi kebutuhan air, Beberapa kerusakan pada sistim jaringan air bersih telah berhasil diidentifikasi mempengaruhi distribusi air pada msayarakat. Penelitian oleh mahasiswa memperlihatkan tingkat kepuasan masyarakat atas jaringan air yang tersedia. Perbaikan jaringan dan perluasan telah dikarjakan dan telah dinikmati masyarakat. Mayoritas masyarakat pemakai air bekerja sebagai petani, pekerjaan tidak tetap lainnya, mereka umumnya puas dengan adanya jaringan air tanah di lingkungannya dan berpartisipasi penuh dalam kegiatan menyangkut perbaikan dan perluasan jaringan air baku ini.
Optimalisasi Pola Tanam Berdasarkan Ketersediaan Air di Daerah Irigasi Oepunu Desa Billa Kecamatan Amanuban Timur Creata, Maria Faustina Vini; Nasjono, Judi K; Hunggurami, Elia
JURNAL SUMBER DAYA AIR Vol 21, No 1 (2025)
Publisher : Direktorat Bina Teknik Sumber Daya Air, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32679/jsda.v21i1.895

Abstract

Water availability is a crucial factor that must be considered in the planning and management of irrigation systems. This study aims to determine water requirements based on a proposed rice–rice–secondary crops cropping pattern in the Oepunu Irrigation Area. This irrigation area encompasses 111 hectares of functional land and 20 hectares of potential land, with the current cropping pattern being rice–secondary crops. To ensure sufficient water supply, a study is necessary to design an effective cropping pattern. This research employed the Modified Penman method to calculate evapotranspiration, the F.J. Mock method to estimate dependable discharge, and direct streamflow measurements. The dependable discharge obtained ranges from 1,02 to 8,38 m³/s. The average discharge from direct measurements during the dry season (May-II to July-II) was 0,26 m³/s. The irrigation water requirements for the alternative cropping patterns are as follows: Alternative I ranges from 0,02–0,32 m³/s, Alternative II from 0,03–0,30 m³/s, and Alternative III from 0,03–0,24 m³/s. Based on the calculations, the maximum irrigable land area is 316.49 hectares for Alternative I, 274.95 hectares for Alternative II, and 948.87 hectares for Alternative III. These figures exceed the available land area, indicating that the selection of a cropping pattern must be based on the planned discharge derived from both irrigation water requirement calculations and field measurements. The planned discharge values are 0,32 m³/s for Alternative I, 0,30 m³/s for Alternative II, and 0,24 m³/s for Alternative III. Based on these planned discharge values, the most suitable cropping pattern is Alternative III, with a planned discharge of 0,24 m³/s and measured available discharge of 0,26 m³/s.
Pengaruh Penggunaan Pelat Beton dan Pelat Bondek Terhadap Respon Struktur Beton Bertulang Daerah Rawan Gempa Golo, Simforianus Prasetyo Bela; Simatupang, Partogi H.; Hunggurami, Elia
JURNAL FORUM TEKNIK SIPIL (J-ForTekS) Vol 5 No 1 (2025): Volume 5 No. 1 Mei 2025
Publisher : Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35508/forteks.v5i1.21287

Abstract

Di Indonesia khususnya di wilayah NTT, beberapa tahun belakangan ini tergolong sering mengalami gempa. Penelitian ini dilakukan agar dapat mengetahui pengaruh dari penggunaan pelat beton konvensional dan pelat bondek pada struktur gedung di daerah rawan gempa. Penelitian ini dilakukan dalam beberapa variasi yang berbeda dengan luas penampang beton yang sama. Perencanaan beban gempa menggunakan analisis statik ekivalen dan analisis dinamik respons spektrum. Analisa dilakukan menggunakan program ETABS 2019 dan mengacu pada SNI-1726-2019. Hasil penelitian menunjukkan nilai gaya geser dasar desain yang terjadi pada semua sampel memiliki nilai yang berdekatan atau hampir sama per tiap sampel. Struktur dengan variasi V All memiliki nilai perbandingan perpindahan lateral yang besar pada arah x dan arah y sebesar 16%. Struktur dengan variasi V All memiliki nilai perbandingan simpangan yang besar pada arah x dan arah y sebesar 16%, dan semua variasi pelat memiliki nilai simpangan antar lantai yang memenuhi syarat simpangan izin (Δ ≤ Δizin). Struktur dengan variasi V All memiliki nilai perbandingan kekakuan yang kecil pada arah x dan arah y sebesar 7%. Perbandingan nilai gaya-gaya dalam pada kolom dan balok antar model struktur memiliki perbedaan yang tidak signifikan, sedangkan perubahan perbandingan gaya dalam pada pelat memiliki perbedaan yang besar pada semua sampel struktur.
HIDROPONIK RAKIT APUNG BAGI KAUM MILENIAL KELURAHAN NUNLEU KOTA KUPANG Hangge, Elsy Elisabet; Karels, Dolly W.; Sina, Dantje A. T.; Hunggurami, Elia
Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Undana Vol 16 No 2 (2022): DESEMBER 2022
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35508/jpkmlppm.v16i2.9545

Abstract

Populasi manusia meningkat dan ketersediaan lahan di daerah perkotaan untuk pertanian terbatas, karena peralihan lahan menjadi perumahan dan fasilitas umum yang menunjang di daerah perkotaan. Sedangkan kebutuhan pangan, khususnya sayuran bagi kebutuhan konsumsi terus meningkat. Situasi pandemi covid-19 yang mewabah, maka perlu meningkatkan daya tahan tubuh dengan mengkonsumsi sayur sehat. Kaum milenial semakin peduli dengan pola hidup sehat, maka konsumsi sayuran menjadi penting. Kegiatan program kemitraan masyarakat ini, mengenalkan kepada kaum milenial Kelompok Belgers Nunleu tentang pemanfaatan lahan terbatas menggunakan sistem hidroponik rakit apung untuk menanam sayur guna pemenuhan kebutuhan konsumsi sayur. Metode hidroponik dapat dikembangkan dan diaplikasikan disektor rumah tangga atupun skala besar untuk peningkatan perekonomian masyarakat. Sistem hidroponik rakit apung relatif mudah untuk diterapkan di kalangan milenial, karena sistem penanaman sayur tidak menggunakan media tanah melainkan menggunakan media air bernutrisi yang diletakkan dalam baskom, sehingga sayuran dapat tumbuh dengan baik karena akar menyerap unsur-unsur hara yang diperlukan. Hasil kegiatan memberikan pemahaman dan pelatihan tentang pentingnya mengoptimalkan lahan pekarangan agar mandiri dalam menghasilkan kebutuhan sayuran sehat untuk konsumsi, sehingga diharapkan dengan pelatihan penanaman sayuran menggunakan metode hidroponik rakit apung dapat memberikan solusi penyediaan sayuran sehat pada lahan terbatas di daerah perkotaan dan memberikan ide usaha bagi kaum milenial
Pengaruh Kapur dan Fly Ash Pada Stabilisasi Lempung Ekspansif Terhadap Sifat Fisik-Mekanik dan Mikrostruktur Hangge, Elsy Elisabet; Harjono, Fransiskus Januario; Hunggurami, Elia
JURNAL FORUM TEKNIK SIPIL (J-ForTekS) Vol 4 No 2 (2024): Volume 4 No.2 September 2024
Publisher : Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35508/forteks.v4i2.17633

Abstract

Tanah lempung ekspansif Desa Oebelo merupakan tanah yang memiliki sifat kembang susut yang tinggi. Salah satu cara perbaikan tanah tersebut dengan stabilisasi kimiawi. Tujuan dari penelitian ini ialah mengetahui pengaruh stabilisasi tanah lempung ekspansif menggunakan kapur dan fly ash terhadap sifat fisik, sifat mekanik khususnya kepadatan tanah, potensi pengembangan tanah dengan tekanan 6,9 kPa menggunakan alat oedometer dengan adanya pemeraman 7 hari pada tanah distabilisasi dan tekanan pengembangan tanah, serta sifat mikrostruktur tanah melalui uji SEM dan XRD pada tanah asli dan distabilisasi. Metode yang digunakan ialah metode eksperimental dengan menggunakan campuran kapur 5% dan fly ash 10% (V1), 20% (V2) dan 30% (V3) terhadap berat kering tanah. Hasil pengujian menunjukan seiring penambahan stabilisator nilai berat jenis, batas cair, batas plastis, indeks plastisitas, distribusi ukuran butiran, kadar air optimum, potensi pengembangan dan tekanan pengembangan mengalami penurunan sedangkan batas susut dan berat volume kering maksimum mengalami peningkatan. Kandungan mineral montmorillonit pada tanah lempung ekspansif sebesar 45,4% menjadi 26,2% dan luas permukaan spesifik tanah lempung ekspansif menunjukan berbentuk lembaran yang besar sedangkan pada tanah distabilisasi terjadi gumpalan antara bahan stabilisasi dengan tanah.