Claim Missing Document
Check
Articles

Found 28 Documents
Search

Pendampingan dan Pengembangan Pembibitan Kelapa Sawit Tahap Pre Nursery Pebrianto, Rosihan; Yusuf, Maulana; Ibrahim, Eddy
Prima Abdika: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 3 No. 3 (2023): Volume 3 Nomor 3 Tahun 2023
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Flores Ende

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37478/abdika.v3i3.3044

Abstract

Oil palm is one of the main plantation commodities in the South Sumatra region. The high price of palm oil makes people try to open or replace their land into oil palm plantations. The failure of the people's oil palm nurseries is a very serious problem during the pandemic. However, in preparing the oil palm seeds, the community is considered a failure because the success rate for the nursery is below 50% or even only 20%. The community's ability to buy oil palm seeds also does not exist because the seeds sold in the market range from Rp. 23,000 to Rp. 45,000 per seed 6 months old. Therefore, assistance and development of early stage oil palm nurseries is carried out. It is hoped that this activity can help the community's difficulties in an effort to participate in the welfare of the local community. The method used is the delivery of material then followed by practice. This practice starts from preparing the planting medium, planting, care, and maintenance. The results obtained show that the failure of the nursery experienced by the community was caused by an inappropriate planting medium, namely the size of a polybag less than 30cm x 30 cm. Then there is no shade so that many seeds experience drought and die. Maintenance of seeds that are not given enough attention, such as watering and fertilizing. These three factors are the main problem of nursery failure. The results of the nursery carried out in this activity reached 98% of the total seeds planted.
Indeks Pencemaran Tembaga (Cu) pada Wastewater Pertambangan Timah di Kepulauan Bangka Purba, Robekca; Ibrahim, Eddy; Saputra, Anton
Mantis Journal of Fisheries Vol. 2 No. 01 (2025): April 2025
Publisher : Department of Fisheries, Animal Science Faculty, Universitas Jambi.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/mjf.v2i01.42133

Abstract

Proses penambangan timah menggunakan air sebagai media pemisah timah dari mineral lain. Air limbah hasil produksi disalurkan ke kolam penampungan, namun berpotensi mencemari lingkungan, terutama saat curah hujan tinggi atau setelah penambangan selesai. Kandungan tembaga (Cu) yang tinggi dalam air limbah dapat merusak insang, hati, ginjal, dan sistem saraf ikan, sehingga perlu dikaji tingkat risikonya. Penelitian ini bertujuan menghitung indeks risiko ekologi potensial tembaga (Cu) menggunakan data sekunder dari PT. Timah yang diolah dengan metode Hakanson. Pengujian sampel air dilakukan di Laboratorium Terpadu Institut Pertanian Bogor menggunakan metode APHA 23rd (2017): 3111 B. Hasil perhitungan berfungsi sebagai alat diagnosis pengendalian pencemaran, menentukan area prioritas penanganan, serta memahami ancaman aktivitas tambang timah terhadap ekosistem. Perhitungan ini diterapkan untuk sistem perairan limnik atau perairan tergenang. Indeks polusi dibandingkan dengan baku mutu air kelas II sesuai PP No. 22 Tahun 2021, yang digunakan untuk budidaya ikan air tawar. Berdasarkan hasil, indeks polusi air limbah tambang timah di Kepulauan Bangka termasuk kategori risiko rendah (RI<150), sehingga limbahnya masih tergolong aman bila terjadi luapan ke daratan.
Analisis Perbandingan Kualitas Air Laut Tahun 2023-2024 di Dermaga Pantai Penganak, Kabupaten Bangka Barat, Kepulauan Bangka Belitung Utami, Nyimas Ulfatry; Ibrahim, Eddy; Saputra, Anton
Mantis Journal of Fisheries Vol. 2 No. 01 (2025): April 2025
Publisher : Department of Fisheries, Animal Science Faculty, Universitas Jambi.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/mjf.v2i01.42298

Abstract

Penelitian ini membandingkan kualitas air laut di Dermaga Pantai Penganak, Kabupaten Bangka Barat, Kepulauan Bangka Belitung pada tahun 2023 dan 2024. Kajian ini dilakukan untuk mengetahui dampak aktivitas penambangan timah laut terhadap parameter fisika dan kimia air laut. Pengambilan sampel dilakukan di beberapa titik dengan parameter utama yang dianalisis meliputi TSS, pH, salinity, kadar amonia (NH₃-N) dan sulfida (H2S), kadar logam berat (Hg, Pb, Cd, Cu, dan Zn) serta beberapa parameter lainnya. Hasil penelitian menunjukkan adanya fluktuasi kualitas air antara kedua tahun tersebut, dengan peningkatan kadar logam berat di beberapa titik yang diduga berasal dari aktivitas pertambangan. Meskipun sebagian besar parameter masih berada dalam batas baku mutu yang ditetapkan, terdapat indikasi penurunan kualitas air laut yang perlu menjadi perhatian. Oleh karena itu, diperlukan pengelolaan lingkungan yang lebih ketat serta upaya mitigasi untuk mengurangi dampak pencemaran akibat aktivitas pertambangan di wilayah tersebut.
Kajian Implementasi Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) terhadap Keselamatan dan Kesehatan Pekerja Di PT. Bukit Asam (Persero) Tbk Rika Noprianty; Eddy Ibrahim; Restu Juniah
Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat Vol. 5 No. 3 (2014): Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat
Publisher : Faculty of Public Health, Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang : Pertambangan merupakan industri yang mempunyai risiko tinggi sehingga faktor Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) menjadi penting dan merupakan salah satu indikator bagi kinerja perusahaan. Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) meliputi struktur organisasi, perencanaan, tanggung jawab, pelaksanaan, prosedur, proses dan sumberdaya yang dibutuhkan bagi pengembangan, penerapan, pencapaian, pengkajian dan pemeliharaan kebijakan K3 dalam rangka pengendalian risiko yang berkaitan dengan kegiatan kerja guna terciptanya tempat kerja yang aman, efisien dan produktif.Metode : Data primer yang diperoleh dari responden yang dijadikan sarana untuk mendapatkan informasi atau data yang dilakukan secara survei lapangan melalui observasi dan wawancara langsung dengan Latar Belakang : Pertambangan merupakan industri yang mempunyai risiko tinggi sehingga factor Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) menjadi penting dan merupakan salah satu indikator bagi kinerja perusahaan. Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) meliputi struktur organisasi, perencanaan, tanggung jawab, pelaksanaan, prosedur, proses dan sumberdaya yang dibutuhkan bagi pengembangan, penerapan, pencapaian, pengkajian dan pemeliharaan kebijakan K3 dalam rangka pengendalian risiko yang berkaitan dengan kegiatan kerja guna terciptanya tempat kerja yang aman, efisien dan produktif.Metode : Data primer yang diperoleh dari responden yang dijadikan sarana untuk mendapatkan informasi atau data yang dilakukan secara survei lapangan melalui observasi dan wawancara langsung dengan responden dalam perusahaan dan data sekunder diperoleh dari PT. BA (Persero) Tbk yang dikumpulkan dan disusun sesuai dengan masalah penelitian ini yang dilakukan secara studi literature. Data dianalisis melalui analisis teks, interpretasi data, dan analisis deskriptif.Hasil Penelitian : Hasil evaluasi dan analisa yang dilakukan di PT.BA (Persero) Tbk, implementasi SMK3 dalam kategori kuning atau baik/hati-hati, frekuensi kecelakaan (FR) kategori hijau atau kecelakaan jarang terjadi dan tingkat keparahan (SR) kategori kuning atau sedang sehingga tingkat kecelakaan kerja masuk kategori level 2 (cukup aman).Tingkat pencapaian implementasi SMK3 masuk kategori kuning sedangkan tingkat kecelakaan kerja masuk dalam kategori hijau. Tingkat kecelakaan berdasarkan traffic light system masuk kategori kuning atau hati-hati. Tingkat pencapaian implementasi SMK3 terhadap tingkat kecelakaan tahun 2013 masuk dalam kategori Level 3 atau hati-hati.Kesimpulan : Tingkat implementasi SMK3 di PT. BA (Persero) Tbk, 79,06% masuk kategori kuning kategori hijau. Tingkat kecelakaan PT. BA (Persero) Tbk tahun 2013, frekuensi kecelakaan (FR) kategori hijau dan tingkat keparahan (SR) kategori kuning.Ttingkat kecelakaan kerja masuk kategori level 2 (cukup aman). Pemetaan tingkat implementasi SMK3 dan Tingkat Kecelakaan Kerja Di PT. BA (Persero) Tbk tahun 2013 adalah pada level 3 (hati-hati). sedangkan tingkat kecelakaan terhadap faktor tingkat pendidikan dan masa kerja, diperoleh 3 (tiga) indikator implementasi SMK3 dengan nilai terendah yaitu Pendidikan Pelatihan dan Penerimaan Karyawan dengan persentase 72.60%, Pertolongan Pertama dengan persentase 73.24%, Promosi K3 dengan persentase 74.44%.Kata Kunci : Sistem Manajemen K3 (SMK3), Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3), Implementasi SMK3.
Analisis Kinerja Teknis Supply Chain Batubara dari Front Pit TSBC Menuju Stockpile pada PT. Bukit Asam Tbk M. Fawwaz Luthfi Ramadhan; Eddy Ibrahim; David Bahrain
Jurnal Pendidikan, Sains, Geologi, dan Geofisika (GeoScienceEd Journal) Vol. 7 No. 2 (2026): May
Publisher : Mataram University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/goescienceed.v7i2.1787

Abstract

This study analyzes the effectiveness of the coal supply chain as a key factor in maintaining production continuity and distribution stability in the mining industry. The research aims to evaluate the technical performance of the coal supply chain system at Pit TSBC of PT Bukit Asam Tbk, which integrates a shovel–truck system and a Bucket Wheel Excavator (BWE) system. The research methods include productivity analysis of loading and hauling equipment, cycle time evaluation, match factor calculation, availability assessment, and identification of potential system bottlenecks. The results indicate that the productivity of the shovel–truck system, at 3,075 tons per hour, remains below the effective capacity of the BWE system at 3,150 tons per hour, making the shovel–truck system the bottleneck of the supply chain. The average dump truck cycle time of 15.24 minutes produces 102.5 tons per hour per unit; however, an increase in hauling time to 20.82 minutes reduces productivity to 76.92 tons per hour per unit. Equipment availability, ranging from 80–90%, also significantly affects production continuity. Optimization of the match factor and improvement of hauling road infrastructure are identified as the primary recommendations to enhance overall supply chain performance.
Innovative approaches to reducing workplace accidents in coal mining: Evidence from PMDN IUP companies in South Sumatra Irwan, Faisal; Yusuf, Maulana; Toha, Taufik; Ibrahim, Eddy; Komar, Syamsul; Putra, Rahmat Wahyudi
Indonesian Journal of Innovation and Applied Sciences (IJIAS) Vol. 6 No. 1 (2026): February-May
Publisher : CV. Literasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47540/ijias.v6i1.2712

Abstract

This study examines the influence of the implementation of the Mining Safety Management System (SMKP) on workplace accident rates within coal mining operations. A quantitative research design was adopted, utilizing survey data obtained from 390 employees working in mining companies operating under IUP PMDN in South Sumatra. The variables investigated consist of technical risk control, adherence to Standard Operating Procedures (SOP), safety training and emergency drills, and the utilization of Personal Protective Equipment (PPE). Data analysis was conducted using multiple linear regression to assess both the individual (partial) and combined (simultaneous) effects of the independent variables on accident rates. The findings indicate that the regression model is statistically significant, with a coefficient of determination (R²) of 0.436, suggesting that 43.6% of the variability in workplace accidents is explained by the variables included in the model. At the individual level, safety training and PPE utilization demonstrate a significant effect on accident rates, whereas technical risk control and SOP compliance do not exhibit a statistically significant influence. These results suggest that behavioral aspects have a more prominent role compared to system-related factors in mitigating workplace accidents. Accordingly, this study underscores the need to prioritize the enhancement of safety training programs, strengthen safety awareness, and ensure consistent PPE compliance as critical strategies for improving safety performance in the mining industry.
Pemanfaatan NDVI Berbasis Penginderaan Jauh untuk Menilai Keberhasilan Reklamasi Tambang Batubara Oktarina Anggereyni; Eddy Ibrahim; Muhammad Said
Jurnal Locus Penelitian dan Pengabdian Vol. 5 No. 5 (2026): JURNAL LOCUS: Penelitian dan Pengabdian
Publisher : Riviera Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58344/locus.v5i5.5893

Abstract

Reklamasi lahan pascatambang batubara merupakan kewajiban perusahaan pertambangan dalam memulihkan fungsi ekologis lahan yang terdegradasi. Evaluasi keberhasilan reklamasi secara konvensional masih bersifat administratif dan belum mampu menggambarkan kualitas ekologis lahan secara menyeluruh. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi keberhasilan reklamasi tambang batubara PT XYZ di Kabupaten Lahat, Sumatera Selatan, dengan mengintegrasikan analisis Normalized Difference Vegetation Index (NDVI) berbasis citra satelit Sentinel-2 dan pengukuran parameter kesuburan tanah secara laboratorium. Pendekatan kuantitatif deskriptif dengan analisis spasial digunakan pada area reklamasi periode 2017–2019. Sebanyak 31 titik sampel tanah diambil berdasarkan kelas vegetasi NDVI (rendah, sedang, tinggi) untuk diuji parameter pH, C-organik, N-total, P?O?, K?O, dan KTK. Hasil pemetaan NDVI periode 2021–2025 menunjukkan tren peningkatan signifikan pada kelas vegetasi tinggi dari 23,02% (2022) menjadi 54,51% (2025), mengindikasikan keberhasilan proses revegetasi secara spasial. Uji korelasi Pearson menunjukkan bahwa nitrogen (N) merupakan satu-satunya parameter yang berkorelasi positif signifikan dengan NDVI (r = 0,530; p = 0,002), sedangkan fosfor (r = ?0,360; p = 0,047) dan kalium (r = ?0,567; p = 0,001) berkorelasi negatif signifikan. Parameter pH, C-organik, KTK, Na, dan Ca tidak menunjukkan hubungan yang signifikan. Temuan ini menegaskan bahwa NDVI efektif memantau tutupan vegetasi secara spasial, namun tidak sepenuhnya merepresentasikan kualitas kimia tanah. Pendekatan integratif NDVI dan kesuburan tanah menghasilkan evaluasi reklamasi yang lebih komprehensif dan diagnostik dibandingkan penggunaan NDVI sebagai indikator tunggal.
Analysis of Sedimentation as Implications of Beach Accretion using Spatial Analysis in the Coastal Area of Banyuasin South Sumatra, Indonesia Yulifa Handayani; Robiyanto H Soesanto; Fauziyah Fauziyah; Eddy Ibrahim; Muhammad Hendri; Ngudiantoro Ngudiantoro
Jurnal Lahan Suboptimal : Journal of Suboptimal Lands Vol. 10 No. 2 (2021): JLSO
Publisher : Research Center for Suboptimal Lands (PUR-PLSO), Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36706/jlso.10.2.2021.554

Abstract

This study was conducted in the coastal area of ​​Banyuasin (CAB) which was considered to have a variety of sedimentation classes originating from fluvial and marine processes. The study aimed to observe/determine changes in the morphology of coastal areas related to sedimentation in the CAB and to make maps related to oceanographic parameters, changes in the land cover and identification of the distribution of sedimentation occurring in the CAB, and the dominant factors influencing the change. This study used imagery interpretation method and the sediment data collection used sediment traps to determine the occurrence of accretion and abrasion. The results of the study showed that there was a change in the environment based on the analysis of Landsat imagery, that have undergone changes are Ekor Tikus island (PET), Tg Api-api (TAA), and the Bungin River (SB), which are affected by the land conversion, sedimentation, and tidal currents. There has been an environmental change in the CAB, especially at the Banyuasin estuary (PET) with a high sedimentation rate. The changes also occurred in TAA and SB, with the dominant factor being the decline in mangrove forests. As a result, it is necessary to conduct a more detailed study and time series related to mangroves.