Claim Missing Document
Check
Articles

Found 26 Documents
Search

Optimization re-digging waste dump on exploitation Air Laya coal mine in South Sumatera, Indonesia Pebrianto, Rosihan; Setiawan, Budhi; Ibrahim, Eddy; Sutriyono, Edy
Journal of Degraded and Mining Lands Management Vol. 12 No. 4 (2025)
Publisher : Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15243/jdmlm.2025.124.7953

Abstract

In doing slope design, paying attention to slope geometry and soil shear strength is necessary. Determination of slope geometry design also considers the balance between height and slope and production benefits. Research was conducted to analyze slope stability by testing physical and mechanical properties, limit equilibrium, and probabilistic Monte Carlo methods. The surface area of the Overburden stripping area in the 2024 RKP design amounted to 8,172.79 ????2. The production target is 2,000,000 tons of coal with a volume of overburdened material that must be stripped of 29.00, and a Stripping Ratio was obtained with a value of 14.5. The results of the overall slope evaluation of the Old Dump material with an overall slope height of 66.582 m, a slope width of 447.69 m, an overall slope of 8.32? and a bench width of 25 m, a bench height of 6 m with a ratio of 1:3 and a single slope angle of 18.43?. Then, the redesign was carried out and obtained recommendation results of 64.799 m overall slope height, 303.33 m slope width, 1,3.02? overall slope, and 25 m bench width, bench height at elevation 131-110 of 8 m with a comparison ratio of 1:2, single slope 26.57? and at elevation 110-50 of 8 m with a comparison ratio of 1:1.5, single slope 33.69.
Planning of Sharing Wall At Iup Boundaries As A Strategy For Coal Conservation And Compliance With Mining Regulations Kurniawan, Arie; Ibrahim, Eddy; Toha, Taufik; Wahyudi Putra, Rahmat
International Journal of Science and Environment (IJSE) Vol. 5 No. 4 (2025): November 2025
Publisher : CV. Inara in Colaboration with www.stie-sampit.ac.id

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51601/ijse.v5i4.244

Abstract

Coal mining activities in adjacent Mining Business Permit (IUP) areas often face technical challenges at pit boundaries. Conventional double-wall pit designs generally lead to pit losses at border zones, increased overburden volume, and higher stripping ratios, resulting in reduced mining efficiency and suboptimal utilization of coal reserves. Meanwhile, Indonesian mining regulations—Law No. 3 of 2020 in conjunction with Law No. 4 of 2025, Government Regulation No. 96 of 2021, and Ministerial Decree of Energy and Mineral Resources (Kepmen ESDM) No. 1827 K/30/MEM/2018—emphasize the obligation to conserve mineral and coal resources through efficient and optimal mine planning. This study aims to evaluate the planning of sharing wall (joint boundary slope mining) at IUP boundaries as a strategy for coal conservation and regulatory compliance. The research methods include analyzing existing double-wall designs, developing an alternative sharing wall model, recalculating overburden volume, coal reserves, stripping ratio, and pit loss potential, and assessing technical results against conservation regulations. The case study was conducted at the boundary of PT Merapi Energy Coal’s IUP in Lahat Regency, South Sumatra. The analysis results show that implementing the sharing wall design results in a 70 million bcm deviation in overburden volume, an increase in stripping ratio from 5.39 to 5.94 bcm/ton, and an additional 11.8 million tons of recovered reserves compared to the double-wall design. This strategy supports resource conservation principles as stipulated in Kepmen ESDM No. 1827 K/30/MEM/2018, particularly regarding pit loss reduction and coal recovery optimization. Therefore, sharing wall planning not only enhances technical and economic efficiency but also strengthens compliance with national mining conservation regulations.
Pendampingan dan Pengembangan Pembibitan Kelapa Sawit Tahap Pre Nursery Pebrianto, Rosihan; Yusuf, Maulana; Ibrahim, Eddy
Prima Abdika: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 3 No. 3 (2023): Volume 3 Nomor 3 Tahun 2023
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Flores Ende

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37478/abdika.v3i3.3044

Abstract

Oil palm is one of the main plantation commodities in the South Sumatra region. The high price of palm oil makes people try to open or replace their land into oil palm plantations. The failure of the people's oil palm nurseries is a very serious problem during the pandemic. However, in preparing the oil palm seeds, the community is considered a failure because the success rate for the nursery is below 50% or even only 20%. The community's ability to buy oil palm seeds also does not exist because the seeds sold in the market range from Rp. 23,000 to Rp. 45,000 per seed 6 months old. Therefore, assistance and development of early stage oil palm nurseries is carried out. It is hoped that this activity can help the community's difficulties in an effort to participate in the welfare of the local community. The method used is the delivery of material then followed by practice. This practice starts from preparing the planting medium, planting, care, and maintenance. The results obtained show that the failure of the nursery experienced by the community was caused by an inappropriate planting medium, namely the size of a polybag less than 30cm x 30 cm. Then there is no shade so that many seeds experience drought and die. Maintenance of seeds that are not given enough attention, such as watering and fertilizing. These three factors are the main problem of nursery failure. The results of the nursery carried out in this activity reached 98% of the total seeds planted.
Indeks Pencemaran Tembaga (Cu) pada Wastewater Pertambangan Timah di Kepulauan Bangka Purba, Robekca; Ibrahim, Eddy; Saputra, Anton
Mantis Journal of Fisheries Vol. 2 No. 01 (2025): April 2025
Publisher : Department of Fisheries, Animal Science Faculty, Universitas Jambi.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/mjf.v2i01.42133

Abstract

Proses penambangan timah menggunakan air sebagai media pemisah timah dari mineral lain. Air limbah hasil produksi disalurkan ke kolam penampungan, namun berpotensi mencemari lingkungan, terutama saat curah hujan tinggi atau setelah penambangan selesai. Kandungan tembaga (Cu) yang tinggi dalam air limbah dapat merusak insang, hati, ginjal, dan sistem saraf ikan, sehingga perlu dikaji tingkat risikonya. Penelitian ini bertujuan menghitung indeks risiko ekologi potensial tembaga (Cu) menggunakan data sekunder dari PT. Timah yang diolah dengan metode Hakanson. Pengujian sampel air dilakukan di Laboratorium Terpadu Institut Pertanian Bogor menggunakan metode APHA 23rd (2017): 3111 B. Hasil perhitungan berfungsi sebagai alat diagnosis pengendalian pencemaran, menentukan area prioritas penanganan, serta memahami ancaman aktivitas tambang timah terhadap ekosistem. Perhitungan ini diterapkan untuk sistem perairan limnik atau perairan tergenang. Indeks polusi dibandingkan dengan baku mutu air kelas II sesuai PP No. 22 Tahun 2021, yang digunakan untuk budidaya ikan air tawar. Berdasarkan hasil, indeks polusi air limbah tambang timah di Kepulauan Bangka termasuk kategori risiko rendah (RI<150), sehingga limbahnya masih tergolong aman bila terjadi luapan ke daratan.
Analisis Perbandingan Kualitas Air Laut Tahun 2023-2024 di Dermaga Pantai Penganak, Kabupaten Bangka Barat, Kepulauan Bangka Belitung Utami, Nyimas Ulfatry; Ibrahim, Eddy; Saputra, Anton
Mantis Journal of Fisheries Vol. 2 No. 01 (2025): April 2025
Publisher : Department of Fisheries, Animal Science Faculty, Universitas Jambi.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/mjf.v2i01.42298

Abstract

Penelitian ini membandingkan kualitas air laut di Dermaga Pantai Penganak, Kabupaten Bangka Barat, Kepulauan Bangka Belitung pada tahun 2023 dan 2024. Kajian ini dilakukan untuk mengetahui dampak aktivitas penambangan timah laut terhadap parameter fisika dan kimia air laut. Pengambilan sampel dilakukan di beberapa titik dengan parameter utama yang dianalisis meliputi TSS, pH, salinity, kadar amonia (NH₃-N) dan sulfida (H2S), kadar logam berat (Hg, Pb, Cd, Cu, dan Zn) serta beberapa parameter lainnya. Hasil penelitian menunjukkan adanya fluktuasi kualitas air antara kedua tahun tersebut, dengan peningkatan kadar logam berat di beberapa titik yang diduga berasal dari aktivitas pertambangan. Meskipun sebagian besar parameter masih berada dalam batas baku mutu yang ditetapkan, terdapat indikasi penurunan kualitas air laut yang perlu menjadi perhatian. Oleh karena itu, diperlukan pengelolaan lingkungan yang lebih ketat serta upaya mitigasi untuk mengurangi dampak pencemaran akibat aktivitas pertambangan di wilayah tersebut.
Kajian Implementasi Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) terhadap Keselamatan dan Kesehatan Pekerja Di PT. Bukit Asam (Persero) Tbk Rika Noprianty; Eddy Ibrahim; Restu Juniah
Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat Vol. 5 No. 3 (2014): Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat
Publisher : Association of Public Health Scholars based in Faculty of Public Health, Sriwijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang : Pertambangan merupakan industri yang mempunyai risiko tinggi sehingga faktor Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) menjadi penting dan merupakan salah satu indikator bagi kinerja perusahaan. Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) meliputi struktur organisasi, perencanaan, tanggung jawab, pelaksanaan, prosedur, proses dan sumberdaya yang dibutuhkan bagi pengembangan, penerapan, pencapaian, pengkajian dan pemeliharaan kebijakan K3 dalam rangka pengendalian risiko yang berkaitan dengan kegiatan kerja guna terciptanya tempat kerja yang aman, efisien dan produktif.Metode : Data primer yang diperoleh dari responden yang dijadikan sarana untuk mendapatkan informasi atau data yang dilakukan secara survei lapangan melalui observasi dan wawancara langsung dengan Latar Belakang : Pertambangan merupakan industri yang mempunyai risiko tinggi sehingga factor Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) menjadi penting dan merupakan salah satu indikator bagi kinerja perusahaan. Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) meliputi struktur organisasi, perencanaan, tanggung jawab, pelaksanaan, prosedur, proses dan sumberdaya yang dibutuhkan bagi pengembangan, penerapan, pencapaian, pengkajian dan pemeliharaan kebijakan K3 dalam rangka pengendalian risiko yang berkaitan dengan kegiatan kerja guna terciptanya tempat kerja yang aman, efisien dan produktif.Metode : Data primer yang diperoleh dari responden yang dijadikan sarana untuk mendapatkan informasi atau data yang dilakukan secara survei lapangan melalui observasi dan wawancara langsung dengan responden dalam perusahaan dan data sekunder diperoleh dari PT. BA (Persero) Tbk yang dikumpulkan dan disusun sesuai dengan masalah penelitian ini yang dilakukan secara studi literature. Data dianalisis melalui analisis teks, interpretasi data, dan analisis deskriptif.Hasil Penelitian : Hasil evaluasi dan analisa yang dilakukan di PT.BA (Persero) Tbk, implementasi SMK3 dalam kategori kuning atau baik/hati-hati, frekuensi kecelakaan (FR) kategori hijau atau kecelakaan jarang terjadi dan tingkat keparahan (SR) kategori kuning atau sedang sehingga tingkat kecelakaan kerja masuk kategori level 2 (cukup aman).Tingkat pencapaian implementasi SMK3 masuk kategori kuning sedangkan tingkat kecelakaan kerja masuk dalam kategori hijau. Tingkat kecelakaan berdasarkan traffic light system masuk kategori kuning atau hati-hati. Tingkat pencapaian implementasi SMK3 terhadap tingkat kecelakaan tahun 2013 masuk dalam kategori Level 3 atau hati-hati.Kesimpulan : Tingkat implementasi SMK3 di PT. BA (Persero) Tbk, 79,06% masuk kategori kuning kategori hijau. Tingkat kecelakaan PT. BA (Persero) Tbk tahun 2013, frekuensi kecelakaan (FR) kategori hijau dan tingkat keparahan (SR) kategori kuning.Ttingkat kecelakaan kerja masuk kategori level 2 (cukup aman). Pemetaan tingkat implementasi SMK3 dan Tingkat Kecelakaan Kerja Di PT. BA (Persero) Tbk tahun 2013 adalah pada level 3 (hati-hati). sedangkan tingkat kecelakaan terhadap faktor tingkat pendidikan dan masa kerja, diperoleh 3 (tiga) indikator implementasi SMK3 dengan nilai terendah yaitu Pendidikan Pelatihan dan Penerimaan Karyawan dengan persentase 72.60%, Pertolongan Pertama dengan persentase 73.24%, Promosi K3 dengan persentase 74.44%.Kata Kunci : Sistem Manajemen K3 (SMK3), Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3), Implementasi SMK3.