Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

The Changes of Peat Chemical Characteristics which is Converted from Oil Palm to Corn Plantation Areas In Kinali, West Pasaman Regency, West Sumatra Harianti, Mimien; Prasetyo, Teguh Budi; Junaidi, Junaidi; Naspendra, Zuldadan; Batara, Dewi Syaputri
Andalasian International Journal of Applied Science, Engineering and Technology Vol. 2 No. 2 (2022): July 2022
Publisher : LPPM Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/aijaset.v2i2.34

Abstract

The decline in production prices and land ownership shifts have caused people to choose to convert oil palm plantations into corn plantations. Changes in land cover from plantation crops to annual crops is potentially to reduce the chemical properties of peat. This study aims to identify changes in the chemical properties of peat on land for conversion of oil palm to corn plantations. This research was carried out from May to September 2021. Observations and peat sampling were carried out using the Transect method, perpendicular from the drainage channel based on a distance of 2m, 200m, and 400m from the main canal in maize conversion age < 2 years, (3) maize planting aged conversion 2 years. For each land use, 3 sample points were taken with 2 replications at a depth of 0-20 cm and 20-40 cm. The chemical properties of peatlands that have been converted from oil palm plantations to corn plantations include pH 4.18-4.98, water content 163.76-495.81%, ash content 15.5-72.12%, C-Organic 16.18-49.02%, N-Total 1.25-6.92%, P-Total 5.56-255.87 ppm, P-Available 0.63-157.43 ppm, K-dd 0, 38-1.98 me/100g, Na-dd 3.97-13.84 me/100g, Ca-dd 12.26-23.12 me/100g, Mg-dd 14.66-50.84 me/100g , CEC 63.30-498.16 me/100g, total acidity 570-600 cmol/kg-1. After land conversion, the quality of peatlands increased, especially at the age of conversion <2 years and decreased with increasing age of land conversion.
Strategi Peningkatan Daya Saing Pengembangan Agribisnis Kopi Di Sumatera Barat Rahmi Awalina; Ayendra Asmuti; Zuldadan Naspendra; Syaifuddin Islami
Jurnal Riset Perkebunan Vol. 3 No. 1 (2022): Jurnal Riset Perkebunan (JRP)
Publisher : Jurusan Budidaya Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jrp.3.1.18-26.2022

Abstract

Indonesia is the third largest coffee exporting country in the world after Vietnam. In the current era of trade globalization, market competition is increasingly more stringent, where each country opens up their markets to one another. Therefore, we need to analyze the competitiveness and development of Indonesian coffee agribusiness. Competitiveness The analysis is perfomed by analyzing the comparative advantage Revealed Comparative Advantage (RCA) and competitive advantage with Diamond Porter's theoretical approach. The results show that Indonesian coffee, especially West Sumatra, has a competitive advantage, both comparative and competitive. The analysis used for produce an agribusiness development strategy is by SWOT analysis (Strengths, Weaknesses,Opportunities and Threats). The strategy resulting from the analysis is more focused on the technical aspect and cultivation of coffee commodity development.
Analisis Kesesuaian Lahan Untuk Pengembangan Tanaman Jagung (Zea Mays L.): Land Suitability Analysis for Developing Corn (Zea Mays L.) Cultivation Zuldadan Naspendra
Agrifarm : Jurnal Ilmu Pertanian Vol 11 No 2 (2022): Jurnal Agrifarm
Publisher : Universitas Widya Gama Mahakam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24903/ajip.v11i2.1941

Abstract

Kebutuhan jagung nasional sebagai bahan pangan maupun sebagai pakan semakin meningkat. Pada tahun 2020 Indonesia mengimpor jagung 911.194 ton. Oleh sebab itu setiap daerah perlu mengoptimalkan pemanfaatan lahannya sesuai daya dukung lahan. Salah satu daerah potensial untuk pengembangan jagung adalah Sumatera Barat. Oleh sebab itu dilakukan penelitian ini dengan tujuan: a) mengkaji kesesuaian lahan untuk tanaman jagung, b) menganalisis faktor pembatas dan alternatif perbaikan lahan. Analisis geodatabase menggunakan pendekatan GIS-based multi-criteria and legacy soil data, sedangkan metode matching digunakan untuk analisis kesesuaian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 33.9% lahan di Sumatera Barat sesuai untuk budidaya jagung (1,210,592.9 ha) yang terdiri dari kelas S1 seluas 169.5 ha, kelas S2 seluas 143,761.2 ha, dan kelas S3 1,066,662.2 ha; sedangkan 66% lahan tidak sesuai untuk budidaya jagung karena faktor lereng dan media perakaran. Lahan kelas S2 dan S3 memiliki subkelas utama S2.tc.wa.eh yang terdapat di Dharmasraya dan Sijunjung, S3.wa.oa di Pesisir Selatan, dan S3.wa di Pasaman Barat. Faktor pembatas utama subkelas lahan S2 dan S3 disebabkan oleh curah hujan tinggi, lereng curam, dan drainase terhambat. Kata kunci : Matching, Geodatabase, kesesuaian lahan, perbaikan lahan.
Penerapan MOB 6 untuk Mengurangi Emisi Gas Rumah Kaca dari Kotoran Ternak di Kecamatan Kuranji, Padang Harianti, Mimien; Gusnidar; Aprisal; Maira, Lusi; Gusmini; Emalinda, Oktanis; Sandi, Nofrita; Hijri, Nurul; Meitasari, Retno; Naspendra, Zuldadan
Agrimas : Jurnal Pengabdian Masyarakat Bidang Pertanian Vol. 5 No. 1 (2026): APRIL (IN PROGRESS)
Publisher : Politeknik Negeri Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25047/agrimas.v5i1.69

Abstract

Kotoran ternak yang tidak dikelola dengan baik dapat melepaskan gas rumah kaca (GRK), khususnya metana (CH₄) dan dinitrogen oksida (N₂O), yang berkontribusi terhadap pencemaran lingkungan dan perubahan iklim. Peternak skala kecil seringkali kekurangan teknologi tepat guna untuk mempercepat penguraian pupuk kandang sekaligus meminimalkan emisi. Program pengabdian masyarakat ini memperkenalkan MOB 6, konsorsium mikroorganisme yang dikembangkan secara lokal, untuk mendukung pengelolaan pupuk kandang ramah lingkungan di Kelompok Peternak Rimbo Tarok Jaya, Kecamatan Kuranji, Kota Padang. Program ini dilaksanakan melalui pendekatan partisipatif yang terdiri dari (1) koordinasi awal dengan kelompok tani, (2) sesi edukasi tentang emisi GRK dan manfaat MOB 6, (3) demonstrasi produksi MOB 6, dan (4) penerapan langsung MOB 6 pada kotoran sapi segar diikuti dengan praktik pengomposan terpandu. Kegiatan tersebut meningkatkan pengetahuan dan keterampilan teknis petani dalam menyiapkan dan menerapkan MOB 6, mengurangi bau pupuk kandang, dan mendorong pengomposan lebih cepat. Program ini menunjukkan bahwa teknologi MOB 6 dapat berfungsi sebagai strategi praktis dan berbiaya rendah untuk meningkatkan pengelolaan limbah ternak yang berkelanjutan sekaligus mendukung mitigasi emisi gas rumah kaca di tingkat masyarakat.