Claim Missing Document
Check
Articles

Found 27 Documents
Search

Membangun Jiwa Kepemimpinan bagi Pemuda di Organisasi Kepemudaan kota Makassar Sahril Buchori; Rahmat Siala; Dian Munawarah; Nurfitriany Fakhri
Jurnal Kebajikan: Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 3, No 3 (2025): MEI
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/jk.v3i3.74183

Abstract

Kegiatan ini bertujuan untuk membangun jiwa kepemimpinan bagi pemuda melalui kegiatan Pendidikan dan Latihan Terpadu yang diselenggarakan oleh Pimpinan Anak Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kecamatan Tamalate, Kota Makassar. Metode yang digunakan adalah ceramah dan diskusi untuk menyampaikan materi secara sistematis mengenai konsep kepemimpinan, peran pemuda dalam organisasi, serta nilai-nilai kepemimpinan. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pemahaman dan kemampuan kepemimpinan peserta, serta motivasi yang kuat untuk mengimplementasikan nilai-nilai kepemimpinan dalam organisasi kepemudaan, sehingga menyiapkan generasi pemimpin muda yang visioner dan bertanggung jawab.
Integrasi Resolusi Konflik ke dalam Pembelajaran: Guru sebagai Agen Perdamaian dalam Pendidikan di Sekolah Kejuruan Eva Imania Eliasa; Ilfiandra; Suwarjo; Sahril Buchori; Nadia Aulia Nadhirah; Afanin Halqim; Fayruziyah Ifroch Sabtana; Sarah Salsabila
Edu Consilium : Jurnal Bimbingan dan Konseling Pendidikan Islam Vol. 7 No. 1 (2026): Februari
Publisher : Universitas Islam Negeri Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/ec.v7i1.21966

Abstract

Peace education can equip students with various skills to participate meaningfully in a democratic society. One of the skills that can be developed is peaceful conflict resolution. This research examines the role of teachers in developing a culture of peace through conflict resolution practices in the environment of Vocational High School. The method used is qualitative with a phenomenological model, involving 5 teachers who have received training in peace education implementation. The research results show that the values of peace have been integrated into various subjects through the teachers' concrete actions, especially in the form of self-regulation, interpersonal skills, and communication skills. The teachers demonstrated the ability to manage emotions, avoid and resolve conflicts, and create a peaceful and harmonious school environment. This research emphasizes the importance of conflict resolution education in the school curriculum to improve the quality of student interactions and reduce conflicts in schools. The findings of this study encourage the need to evaluate teaching materials so that peace values are clearly emphasized in the learning process, enabling schools to become strategic spaces for building a sustainable culture of peace.
Gambaran Perilaku Fear Of Missing Out (FOMO) Pada Siswa Penggemar K-Pop Di SMKN 7 Makassar Sri Rahmadani; Sahril Buchori; Zulfikri Zulfikri
GUIDING WORLD (BIMBINGAN DAN KONSELING) Vol 8 No 2 (2025): Guiding World: Jurnal Bimbingan dan Konseling
Publisher : Program Studi Bimbingan dan Konseling

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33627/gw.v8i2.3613

Abstract

Fear of Missing Out atau biasa dikenal dengan istilah FOMO adalah perasaan gelisah, cemas, dan takut kehilangan peristiwa tertentu yang ditandai dengan keinginan selalu mengecek media sosialnya. Fear of Missing Out ini merupakan permasalahan yang menyerang mental seorang individu. Kemudian seiring berjalannya waktu, Fear of Missing Out telah berkembang menjadi fenomena yang berdampak pada kehidupan sosial masyarakat. Belakangan ini, fenomena FOMO seringkali dijumpai dalam kehidupan sehari-hari dan menjadi tren, terutama di kalangan anak muda. Remaja yang seharusnya menghabiskan waktunya untuk banyak mempelajari hal-hal baru, mencoba hal-hal baru, meningkatkan potensi diri, dan melakukan hal-hal lain yang akan membantu mereka mencapai impian masa depannya, namun sekarang lebih mementingkan hiburan semata-mata, seperti menonton drama Korea tanpa batas waktu, membeli album yang mahal dan tidak memiliki investasi, serta keborosan lain yang biasanya dilakukan oleh penggemar K-Pop yang tidak dapat mengontrol diri dan berdampak negatif. Di SMKN 7 Makassar, ditemukan siswa yang mengalami FOMO pada K-Pop dengan tingkat yang tinggi yaitu siswa yang berinisial NNA dan NU, dari siswa tersebut ditemukan bahwasanya bentuk perilaku yang dilakukan yaitu menghabiskan waktu 6-7 jam/hari hanya untuk mencari tahu kabar idolanya. Dan juga perilaku cyberbulying yang dilakukan oleh siswa di media sosial yaitu weverse. Selain itu, siswa juga mengalami kesedihan yang berlebihan yang menyangkut idolanya karena timbulnya pikiran yang berlebihan dan perasaan cemas saat idolnay dirundung di media sosial. Hal ini diperkuat oleh penelitian yang dilakukan oleh [1], yang menyatakan bahwa penggemar K-Pop menjadi sulit menyeimbangkan kehidupan di dunia nyata dengan kegiatan pada dunia K-Pop. Hal ini dapat berdampak pada aktivitas akademik, pekerjaan, dan sosial para penggemar K-Pop. FOMO menjadi sebuah masalah sosial karena dianggap dapat merugikan seseorang, sejalan dengan penelitian [2] yang meneliti mengenai dampak FOMO pada individu yaitu salah satunya selalu ingin terhubung dengan media sosial, sehingga mereka menghabiskan banyak waktu di media sosial hanya untuk mengetahui aktivitas orang lain, seolah-olah mereka harus tahu semua hal yang dilakukan oleh orang lain. Hal ini juga berlaku pada penggemar idol grup K-Pop yang takut kehilangan informasi tentang apa yang dilakukan oleh idolanya. Media sosial banyak digunakan pada kalangan penggemar idol K-Pop untuk dijadikan tempat berkomunikasi dengan satu sama lain penggemar K-Pop dan dengan selebriti idolanya [3]
Penerapan Teknik Mindfulness Dalam Konseling Untuk Mengurangi Perilaku Self-Harm Murid MTS Madani Gowa The Application Of Mindfulness Techniques In Conseling To Reduce Self-Harm Behavior Among MTS Madani Gowa Students Puput Armycha; Sahril Buchori; Zulfikri Zulfikri
GUIDING WORLD (BIMBINGAN DAN KONSELING) Vol 8 No 2 (2025): Guiding World: Jurnal Bimbingan dan Konseling
Publisher : Program Studi Bimbingan dan Konseling

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33627/gw.v8i2.3973

Abstract

Self-Harm adalah perilaku melukai diri sendiri yang dilakukan secara sengaja untuk mengatasi perasaan stress, cemas, dan depresi. Fenomena Self-Harm yang didapatkan seperti memukul, mencubit, menarik rambut, mencacimaki diri, membenturkan kepala, menggaruk badan hingga luka, membakar, menghisap tangan hingga memerah, menggigit, dan membiarkan diri kelaparan. Penelitian ini bertujuan mengurangi perilaku Self-Harm murid di MTS Madani melalui konseling individual dengan menggunakan Teknik Mindfulness. Desain penelitian ini adalah Single Subject Research (SSR) dengan desain A-B-A, yang terdiri dari pengukuran kondisi awal (baseline A1), pengukuran intervensi berupa Teknik Mindfulness (B), serta pengukuran kembali setelah intervensi (baseline A2) yang melibatkan 2 murid. Data dikumpulkan melalui observasi dan wawancara, kemudian dianalisis menggunakan analisis deskriptif kuantitatif dengan perhitungan mean, persentase, serta analisis visual grafik untuk melihat perubahan kecenderungan arah, stabilitas, dan level data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebelum diberikan intervensi, kedua subjek berada pada kategori tingkat perilaku Self-Harm yang tinggi. Setelah penerapan Teknik Mindfulness, terjadi penurunan singnifikan pada frekuensi perilaku Self-Harm, ditunjukkan dengan kecenderungan arah data yang menurun dan stabil pada fase baseline A2. Kesimpulan dari penelitian ini adalah penerapan Teknik Mindfulness dalam konseling terbukti efektif dalam membantu mengurangi perilaku Self-Harm murid di MTS Madani gowa.
Analisis Faktor Penyebab Perilaku Doomscrolling Di Media Sosial: Studi Kasus Siswa Di SMPN 1 Takalar Nurul Qolbi; Sahril Buchori; Zulfikri; Syahril
Paedagogie Vol 21 No 2 (2026): In Progress
Publisher : Universitas Muhammadiyah Magelang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31603/hfgqfx03

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor penyebab perilaku doomscrolling pada siswa berinisial P kelas VIII di SMPN 1 Takalar. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus klinis. Data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur secara mendalam, observasi, dan dokumentasi dengan teknik triangulasi melibatkan guru BK, wali kelas, sahabat, serta orangtua. Analisis data mencakup reduksi, penyajian, dan penarikan kesimpulan. Temuan menunjukkan bahwa terindikasi siswa melakukan perilaku doomscrolling di media sosial, ditandai dengan kebiasaan menggulir konten negatif secara terus-menerus tanpa disadari. Perilaku doomscrolling tersebut dipicu oleh faktor internal berupa bias kognitif, dan kurangnya kontrol diri. Faktor eksternal meliputi algoritma digital di media sosial dan FoMO. Penelitian ini menegaskan bahwa doomscrolling bukan sekadar kebiasaan digital biasa, melainkan kombinasi antara pembentukan bias kognitif dan takut ketinggalan berita. Kontribusi ilmiah penelitian ini adalah memperkaya kajian perilaku digital remaja, khususnya fenomena doomscrolling dalam konteks psikologi pendidikan dan menyediakan landasan bagi guru BK untuk merancang intervensi pendekatan kognitif-perilaku yang adaptif dan berkelanjutan.
Peningkatan Literasi ICT Guru BK SMP se-Kabupaten Pangkep melalui Bimbingan Teknis Bimbingan Konseling Berbasis Teknologi untuk Generasi Z Sahril Buchori; Muh Nurhidayat Nurdin; Perdana Kusuma; Irdianti Irdianti; Tri Sulastri
Jurnal Kebajikan: Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 4, No 2 (2026): JANUARI
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/jk.v4i2.86015

Abstract

Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (ICT) yang pesat telah mengubah berbagai sektor layanan, termasuk bimbingan dan konseling (BK) di sekolah. Namun, banyak guru BK SMP di Kabupaten Pangkep belum secara optimal memanfaatkan ICT dalam memberikan layanan BK kepada siswa Generasi Z. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan literasi ICT guru BK SMP se-Kabupaten Pangkep melalui kegiatan Bimbingan Teknis (BIMTEK) bertema BK berbasis teknologi untuk Generasi Z. Kegiatan dilaksanakan dengan metode pelatihan partisipatif yang mencakup penyampaian materi teoretis, demonstrasi alat bantu BK berbasis ICT, dan diskusi partisipatif kelompok. Sebanyak 53 guru BK dari berbagai SMP di Kabupaten Pangkep turut serta. Program mencakup peran ICT dalam BK (bibliokonseling, alat bantu layanan, dan media layanan), pemanfaatan platform digital, aplikasi konseling online, layanan berbasis media sosial, serta inovasi masa depan termasuk BK berbasis metaverse. Hasil evaluasi melalui refleksi akhir kegiatan dan kuesioner kepuasan menunjukkan peningkatan signifikan pada literasi ICT peserta dan kesiapan mereka untuk mengaplikasikan teknologi dalam praktik BK. Peserta juga mampu mengidentifikasi potensi dan hambatan implementasi ICT BK di sekolah masing-masing melalui diskusi kelompok yang produktif. Temuan ini menunjukkan bahwa program BIMTEK yang terstruktur efektif dalam menjembatani kesenjangan kompetensi digital guru BK.
Seminar Psikoedukasi Peran Konselor dalam Menangkal Fenomena Self-Diagnosis di Era Digital Sahril Buchori; Muh Nurhidayat Nurdin; Irdianti Irdianti; Tri Sulastri
Jurnal Kebajikan: Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 4, No 3 (2026): MEI
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/jk.v4i3.86088

Abstract

Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan memberikan psikoedukasi tentang fenomena self-diagnosis di era digital melalui seminar kesehatan mental. Seminar menggunakan metode ceramah, diskusi kasus, dan tanya jawab interaktif. Materi yang disampaikan mencakup definisi self-diagnosis, faktor pendorong meningkatnya fenomena ini di era digital, dampak negatif self-diagnosis yang tidak diarahkan, serta peran strategis konselor sekolah dalam tindakan preventif, edukatif, dan kuratif. Poin penting diskusi meliputi perbedaan antara self-awareness dan self-diagnosis, bahaya self-labeling, serta langkah konkret konselor sebagai listener, assessor, educator, dan collaborator. Seminar berhasil membangun kesadaran peserta terhadap risiko self-diagnosis dan memperkuat pentingnya layanan konseling profesional sebagai langkah awal validasi, bukan sebagai pilihan terakhir. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa seminar psikoedukasi yang dipandu profesional konseling efektif dalam meningkatkan literasi kesehatan mental di kalangan mahasiswa dan sivitas akademika.