Claim Missing Document
Check
Articles

Found 40 Documents
Search

Landslide Potential Zone Identification Using Electrical Resistivity Tomography Modeling Alghifarry, Muhammad Budzar; Dewanto, Ordas; Wibowo, Rahmat Catur
Journal of Engineering and Scientific Research Vol. 5 No. 2 (2023)
Publisher : Faculty of Engineering, Universitas Lampung Jl. Soemantri Brojonegoro No.1 Bandar Lampung, Indonesia 35141

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jesr.v5i2.149

Abstract

The Pidada area, Panjang sub-district, Bandar Lampung City, is located on the physiography of Bukit Barisan and is also influenced by the movement of the Sumatran fault and the Lampung-Panjang fault, so the morphological condition is hilly with steep slopes which cause natural disasters such as landslides. In this study, the knowledge of subsurface rock lithology and slip-slide-prone zones was carried out using the Wenner-Schlumberger geoelectric method. Based on the Wenner-Schlumberger configuration, the top layer consists of weathered rock associated with clay tuff and sandy tuff with a resistivity of 7.2 ?m - 135 ?m. Coarse-grained tuff and fine-grained tuff with resistivity values ??of 135 ?m - 437 ?m, and the third layer combines breccia and igneous rock from the Tarahan Formation with resistivity values ??of more than 437 ?m. The clay sand layer acts as a slip plane. The type of landslide developed in the research area is a crawling soil landslide.
BETERNAK DENGAN SUMBER AIR TERDEKAT UNTUK MENINGKATKAN USAHA DI DESA BERNUNG KECAMATAN GEDONG TATAAN PESAWARAN LAMPUNG Dewanto, Ordas; Irawan, Bambang; Wibowo, Rahmat Catur
Nemui Nyimah Vol. 1 No. 2 (2021): Nemui Nyimah
Publisher : FT Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/nm.v1i2.13

Abstract

Sebelah timur Kecamatan Gedong Tataan Kabupaten Pesawaran terletak Desa Bernung. Ada masalah mitra yang timbul pada proses berternak, yaitu masalah kebutuhan air. Belum adanya air yang cukup menyebabkan kolam ikan airnya berkurang dan jarang diganti. Masalah berikutnya yaitu saat musim kemarau panjang, menyebabkan berkurangnya air, sehingga kolam ikan mengalami kekeringan. Metode yang digunakan adalah melalui penyuluhan, pelatihan dan demonstrasi serta evaluasi untuk melihat efektivitas program sehingga program akan tersosialisasi dengan baik serta efisien. Metode lainnya meliputi desain pembuatan alat saluran air dan tempat usaha, demonstrasi dan pelatihan. Mata air terdekat Desa Bernung dapat dimanfaatkan untuk peningkatan usaha peternak dengan cara membuat desain saluran air terdekat. Selanjutnya untuk menghadapi musim kemarau perlu membuat sumur dengan cara menentukan kedalaman air tanah menggunakan metode Geolistrik. Hasil akhir yang diperoleh adalah: Terimplementasinya desain pemanfaatan air dari sumber air terdekat menuju tempat mitra, termasuk desain saluran air di tempat ternak dan rumah tangga; telah dilaksanakan penentuan kedalaman air tanah menggunakan metode Geolistrik; Pembuatan kolam ikan sebagai usaha kelompok peternak agar panen peternakan meningkat. Kemudian menyebarkan bibit ikan dan ternak lain dengan tujuan meningkatkan usaha.
Air Pegunungan Untuk Ternak Ikan Dengan Tujuan Meningkatkan Penghasilan Masyarakat Desa Bernung, Gedong Tataan Dewanto, Ordas; Mulyatno, Bagus Sapto; Wibowo, Rahmat Catur; Dani, Ilham; Kumalasari, Isti Nur
Nemui Nyimah Vol. 3 No. 2 (2023): Nemui Nyimah Vol.3 No.2 2023
Publisher : FT Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/nm.v3i2.102

Abstract

Desa Bernung terletak di sebelah timur Kecamatan Gedong Tataan Kabupaten Pesawaran. Belum adanya air yang cukup menyebabkan kesulitan untuk ternak ikan. Masalah berikutnya yaitu saat musim kemarau panjang, menyebabkan berkurangnya air, sehingga kolam ikan mengalami kekeringan. Berdasarkan hasil survei, kami menawarkan solusi untuk mengatasi masalah pada proses ternak ikan, yaitu: menafaatkan sumber air pegunungan di sekitar kolam ikan. Metode yang digunakan adalah metode Participatory Rural Approisal yang melibatkan masyarakat dalam kegiatan secara keseluruhan. Pelaksanaan kegiatan ini melalui penyuluhan, pelatihan dan demonstrasi serta evaluasi untuk melihat efektivitas program sehingga program akan tersosialisasi dengan baik serta efisien. Metode lainnya meliputi desain pembuatan saluran air dan tempat usaha, demonstrasi dan pelatihan. Sasaran demonstrasi, penyuluhan dan pelatihan ditujukan pada mitra dan masyarakat Desa Bernung, Kecamatan Gedong Tataan, Kabupaten Pesawaran, Propinsi Lampung. Hasil target luaran yang dicapai pada akhir kegiatan pengabdian kepada masyarakat adalah: (1) Terimplementasinya desain pemanfaatan air dari sumber air pegunungan menuju tempat usaha mitra, termasuk desain saluran air di tempat ternak, dan penampungan air; (2) Tersedianya model pembinaan dan pemberdayaan kelompok peternak terutama pada tahap proses beternak; (3) Satu artikel ilmiah yang ber ISSN atau prosiding ber ISBN.
PEMANFAATAN AIR DATARAN TINGGI DI DESA BATU KERAMAT KECAMATAN KOTA AGUNG TIMUR, TANGGAMUS LAMPUNG: PEMANFAATAN AIR DATARAN TINGGI Dewanto, Ordas
Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Sakai Sambayan Vol. 4 No. 1 (2020)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jss.v4i1.153

Abstract

Desa Batu Keramat Kecamatan Kota Agung Timur, Kabupaten Tanggamus Propinsi Lampung, terletak pada daerah dataran tinggi. Masyarakatnya memiliki mata pencaharian 60% bertani dan berternak. Jenis usaha yang mereka lakukan ini sangat prospek untuk ditingkatkan, karena potensi air dari dataran tinggi sangat bagus. Hasil pengolahan data resistiviti menunjukkan bahwa titik pengukuran terdiri dari 5 lapisan tanah dan batuan. Dari identifikasi kelima lapisan dapat dikatakan bahwa pada titik pengukuran tersebut tidak ditemukan keberadaan akuifer air tanah. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kedalaman air tanah di Desa Batu Keramat sebelah barat berada pada kedalaman yang sangat dalam, yang di atasnya terdapat batuan yang keras sehingga tidak mungkin untuk dibuat sumur gali. Solusinya membuat sumur bor dengan biaya yang sangat mahal dan sangat sulit untuk dilakukan. Jalan satu-satunya untuk mendapatkan air yaitu dari dataran tinggi air pegunungan. Oleh karena itu tim Pengabdian Unila mengajak masyarakat Batu Keramat khususnya Mitra (H. Eko Yulianto) untuk memanfaatkan air dari dataran tinggi menuju tempat ternak, tanaman dan rumah tangga. Metode kegiatan yang digunakan dalam kegiatan ini adalah metode participatory rural approisal yang melibatkan masyarakat dalam kegiatan secara keseluruhan. Pelaksanaan kegiatan ini melalui penyuluhan, pelatihan dan demonstrasi serta evaluasi untuk melihat efektivitas program sehingga program akan tersosialisasi dengan baik serta efisien. Metode lainnya meliputi desain pembuatan alat saluran air dan tempat usaha, demonstrasi dan pelatihan. Hasil yang diperoleh saat ini yang telah dikerjakan oleh Mitra dan Tim Pengabdian Unila adalah saluran air dari bak penampung menuju bak air mitra, kolam ikan dan tanaman. Peningkatan usaha sedikit demi sedikit mengalami kenaikan, yaitu dari tanaman dan ternak.
Pembuatan Ternak Ikan Dan Perkebunan Dengan Memanfaatkan Sumber Air Pegunungan Untuk Meningkatkan Penghasilan Penduduk Desa Batu Keramat Kecamatan Kota Agung Timur, Tanggamus Lampung Dewanto, Ordas; Irawan, Bambang; Wibowo, Rahmat Catur
Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Sakai Sambayan Vol. 7 No. 1 (2023)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jss.v7i1.428

Abstract

Desa Batu Keramat Kecamatan Kota Agung Timur, Kabupaten Tanggamus Propinsi Lampung, terletak pada daerah dataran tinggi. Jenis usaha yang mereka lakukan ini sangat prospek untuk ditingkatkan, karena potensi air dari dataran tinggi sangat bagus, maka akan digunakan untuk membuat jenis usaha baru dalam bidang peternakan dan perkebunan. Ada 2 kelompok tani dan ternak sebagai mitra yaitu Eko Makmur Sejahtera dan Yamin Batu Keramat. Kedua mitra tersebut sudah memiliki usaha berkebun seperti padi, sayuran dan buah-buahan. Sedangkan usaha berternaknya adalah ikan. Ada masalah mitra yang timbul pada proses berkebun dan beternak, yaitu masalah pengetahuan dan kebutuhan air. Dari hasil survei, kami menawarkan solusi yaitu dengan memanfaatkan air dari dataran tinggi untuk membuat ternak ikan dan perkebunan. Mata air di dataran tinggi Desa Batu Keramat dapat dimanfaatkan untuk peningkatan usaha petani dan peternak. Selanjutnya untuk menghadapi musim kemarau perlu membuat sumur dengan cara menentukan kedalaman air tanah menggunakan metode Geolistrik. Desain tempat berkebun dan berternak pun perlu disesuaikan dengan saluran air dari dataran tinggi yang menuju ke rumah, tempat berternak dan tempat berkebun. Metode kegiatan yang digunakan dalam kegiatan ini adalah metode Participatory Rural Approisal yang melibatkan masyarakat dalam kegiatan secara keseluruhan. Pelaksanaan kegiatan ini melalui penyuluhan, pelatihan dan demonstrasi serta evaluasi untuk melihat efektivitas program sehingga program akan tersosialisasi dengan baik serta efisien. Sasaran demonstrasi, penyuluhan dan pelatihan ditujukan pada petani dan peternak di Desa Batu Keramat, Kecamatan Kota Agung Timur, Kabupaten Tanggamus, Lampung yang menjadi sasaran. Hasil yang dicapai pada kegiatan Pengabdian ini adalah: (1) Terimplementasinya desain pemanfaatan air dari dataran tinggi menuju tempat usaha mitra; (2) Hasil usaha kelompok petani dan peternak bertambah maju terwujud; (3) Diharapkan masyarakat kelompok petani dan peternak membuat sumur satu persatu; (4) Tersedianya model pembinaan dan pemberdayaan kelompok petani dan peternak terutama pada tahap proses berkebun dan beternak serta pembuatan sumur; (5) Satu artikel ilmiah yang dipublikasikan melalui Jurnal ber ISSN; (6) Video kegiatan.
Pemetaan Sebaran Spasial Potensi Panas Bumi Daerah Suoh Menggunakan Metode Analytical Hierarchy Process (AHP) Astri Niken Saputri; I Gede Boy Darmawan; Karyanto; Nandi Haerudin; Ordas Dewanto
Jurnal Geologi dan Sumberdaya Mineral Vol. 26 No. 2 (2025): JURNAL GEOLOGI DAN SUMBERDAYA MINERAL
Publisher : Pusat Survei Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33332/jgsm.geologi.v26i2.940

Abstract

Panas bumi adalah salah satu bentuk energi terbarukan dengan besar potensi sebesar 28.5 GW di Indonesia. Suoh diduga sebagai salah satu daerah dengan potensi panas bumi di Indonesia yang dicirikan dengan kemunculan manifestasi panas bumi berupa fumarola dan mata air panas. Penelitian ini bertujuan untuk mengklasifikasi parameter input penelitian dan menganalisis daerah berpotensi panas bumi tinggi. Metode Analytical Hierarchy Process (AHP) menjadi salah satu metode yang telah digunakan penelitian terdahulu dalam menganalisis potensi panas bumi suatu daerah. Pada penelitian ini digunakan parameter geosains berupa geologi, manifestasi, alterasi hidrotermal, suhu permukaan, kerapatan kelurusan, dan anomali gaya berat. Bobot tiap parameter ditentukan dari metode AHP dan hasilnya dilakukan pembobotan overlay. Peta potensi panas bumi daerah Suoh diklasifikasikan menjadi 4 kelas, yaitu potensi panas bumi rendah, sedang, tinggi, dan sangat tinggi. Daerah dengan potensi panas bumi tinggi tersebut berada pada daerah didekat manifestasi dengan jenis batuan vulkanik, memiliki densitas kelurusan yang cenderung tinggi, merupakan daerah dengan alterasi, suhu permukaannya tinggi, anomali residual cenderung sedang hingga sangat tinggi. Daerah berpotensi panas bumi tinggi berkorelasi dengan 8 titik manifestasi panas bumi di daerah penelitian. Kata Kunci:  panas bumi, potensi, analytical hierarchy process (AHP), analisis spasial Abstract- Geothermal heat is one of the forms of renewable energy with a substantial potential of 28.5 GW in Indonesia. Suoh is suspected to be one of the areas with geothermal potential in Indonesia, characterized by the occurrence of geothermal manifestations in the form of fumaroles and hot springs. This study aims to classify the research input parameters and analyze areas with high geothermal potential. The Analytical Hierarchy Process (AHP) method is one of the techniques previously used in analyzing the geothermal potential of an area. In this study, geological parameters such as geology, manifestations, hydrothermal alteration, surface temperature, lineament density, and gravity anomalies were used. The weight of each parameter was determined using the AHP method, and the results were subjected to overlay weighting. The geothermal potential map of the Suoh area was classified into 4 classes: low, moderate, high, and very high geothermal potential. Regions with high geothermal potential are located near manifestations, characterized by volcanic rock types, a tendency for high lineament density, areas with alteration, high surface temperatures, and moderate to very high residual anomalies. High geothermal potential areas correlate with 8 geothermal manifestation points in the research area. Keywords: geothermal, potential, Analytical Hierarchy Process (AHP), spatial analysis
SUMBER AIR TANAH DIGUNAKAN UNTUK MENINGKATKAN USAHA PETERNAKAN MASYARAKAT DESA BERNUNG, GEDONG TATAAAN Dewanto, Ordas; Dzakwan, Akhmad; Dani, Ilham; Noviari, Salsabila
Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Sakai Sambayan Vol. 10 No. 1 (2026): Vol. 10 No. 1, Maret 2026
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jss.v10i1.654

Abstract

Bernung adalah sebuah desa yang terletak di sebelah timur Kecamatan Gedong Tataan, Kabupaten Pesawaran. Penulis bermitra dengan Kelompok Tani Isa Mandiri Bernung. Mitra ini memiliki lahan untuk budidaya ikan dan perkebunan, namun belum dimanfaatkan secara optimal. Salah satu masalah yang muncul adalah kebutuhan air bagi mitra dan masyarakat. Kekurangan air yang memadai membuat kegiatan usaha menjadi sulit. Masalah lain adalah kekurangan air selama musim kemarau, yang menyebabkan kekeringan dan mengganggu kegiatan usaha. Berdasarkan masalah yang dihadapi mitra dan masyarakat, tujuan dari kegiatan pengabdian masyarakat ini adalah: Memanfaatkan air tanah untuk budidaya ikan dan perkebunan, serta untuk pembangunan sumur. Tujuan spesifiknya adalah untuk mengatasi masalah ketersediaan air guna meningkatkan pendapatan masyarakat. Metode yang digunakan untuk mencapai tujuan ini adalah metode geolistrik untuk menentukan kedalaman air tanah untuk pembangunan sumur. Metode Pendekatan Pedesaan Partisipatif (PPA) akan digunakan, melibatkan partisipasi masyarakat. Hasil yang diperoleh dari informasi penelitian menggunakan metode geolistrik menunjukkan bahwa pengeboran air tanah dapat dilakukan pada kedalaman 33,4-81,9 meter, dan kemungkinan pada lapisan 82,8 meter hingga sekitar 100 meter di bawah permukaan, indikasi air tanah dalam masih dapat ditemukan, dilihat dari kondisi wilayah yang sangat dekat dengan sumber air. Kesimpulannya, pengeboran sumur dapat dilakukan pada kedalaman sekitar 100 meter.
Groundwater Identification Using the Resistivity Method to Improve Community Livelihoods in Bernung Village, Gedong Tataan District, Pesawaran, Lampung Ordas Dewanto; Akhmad Dzakwan; Ilham Dani; Nasir Muhammad
Aktual: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 4 No. 2 (2026): Aktual: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : CV Media Inti Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58723/aktual.v4i2.692

Abstract

Background: Water availability is a critical factor influencing the sustainability of community-based economic activities, particularly in fisheries and plantation sectors. In Bernung Village, Gedong Tataan District, Pesawaran Regency, limited water supply during the dry season has restricted the optimal utilization of fish ponds and plantation land, thereby affecting local economic productivity.Objectives: This study aims to describe a community service program integrating geoelectrical groundwater identification with community-based economic empowerment to support sustainable local business development.Methods: The program applied a Participatory Rural Appraisal (PRA) approach involving community participation throughout field surveys, groundwater-source identification, site selection, mentoring, and evaluation stages. Groundwater investigation was conducted using 1D geoelectrical sounding with a Schlumberger configuration at two observation points. The acquired data were interpreted to identify aquifer characteristics and to support groundwater utilization planning.Results: The geoelectrical survey identified potential aquifer zones at depths of 33.4–81.9 m at Point 1 and 21.5–82.8 m at Point 2, providing a technical basis for groundwater utilization planning. The program further supported the development of plantation land and fish-farming activities while improving community understanding of water-resource management and business development.Conclusion: The findings demonstrate that geoelectrical investigation serves not only as an effective groundwater exploration tool but also as a practical decision-support approach for strengthening community livelihoods and promoting more sustainable fisheries and plantation-based economic activities.
Identification of Shale Layer in Offshore Field of North East Java Basin for Non-Conventional Oil and Gas Exploration Dewanto, Ordas; Syaharani, Nanda Paquita; Darsono, Darsono; Wibowo, Andy Setyo
INDONESIAN JOURNAL OF APPLIED PHYSICS Vol 14, No 2 (2024): October
Publisher : Department of Physics, Sebelas Maret University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.13057/ijap.v14i2.91056

Abstract

Non-conventional hydrocarbon exploration is one way to develop shale potential to increase oil and gas reserves in Indonesia. Shale is a rock that is rich in organic material and is a target for non-conventional exploration, because it functions as a source and reservoir rock with a large shale volume and low permeability. Isopach maps can represent the thickness of shale layers and have the potential to become non-conventional exploration targets located in thick shale layers. Based on this background, this research will identify shale layers in the offshore fields of the North East Java Basin for non-conventional oil and gas exploration. The methods used are well logging and seismic methods. This research focuses on determining the location of shale layer depocenters based on isopach maps as a first step in localizing areas that will be targeted for the development of non-conventional hydrocarbon exploration. This research uses 29 2D seismic lines and 2 well data, namely NP-1 and NP-2 wells and the research target is the Kujung Formation and Ngimbang Formation in the offshore area of the North East Java Basin. The results obtained from the isopach map show that the depocenter location of the Kujung Formation is in the northwest direction with a shale thickness of 600-800 meters, while the Ngimbang Formation is in the east direction with a shale thickness of 1000-1300 meters. From the depocenter location, it can be seen that this location has a wealth of organic material so it has the potential to become a source rock and reservoir.
Conversion of Oil Shale To Liquid Hydrocarbons as A New Energy Resources Using Iron (Fe)-Pillared Clay (Kaolinite) Catalyst Dewanto, Ordas; Ferucha, Istifani; Darsono, Darsono; Rizky, Sri
INDONESIAN JOURNAL OF APPLIED PHYSICS Vol 12, No 2 (2022): October
Publisher : Department of Physics, Sebelas Maret University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.13057/ijap.v12i2.58414

Abstract

In the context of new energy exploration, oil shale is currently a source of energy that is being developed so that it can be used as an alternative energy in the future. Based on this background, it is important to research the conversion method of oil shale to liquid hydrocarbons. The method used is using clay (kaolinite) catalyst and  iron (Fe)-pillared clay (kaolinite) catalyst. Clay catalyst products are capable of making organic mature faster and even requiring a lower temperature for the changes (through thermal cracking of non-volatile organic material). The addition of Fe metal in the clay catalyst product to oil shale, causing the surface area of the natural clays were significantly increased, then the volume of micro pore were also increased, it causes the organic material to mature faster and the temperature required for the change is less than the shale material without Fe. The catalyst method by the pillarization technique able to increase the surface area and pore volume, thus accelerating the reaction and changing the reaction rate to be greater. It is observed that clay catalyst products can serve as catalysts for accelerating organic maturation reactions. if compared between the clay material  of OD1-Ast1 (50% clay-50% organic), OD1-Ast2 (33% clay-67% organic), and the OD1-Ast3 shale material (67% clay - 33% organic),then OD1-Ast3 has a faster reaction rate. Comparison of clay material is smaller than organic, then the properties of the catalyst product to accelerate the reaction are reduced, such as the OD1-Ast2 shale material has a slow reaction rate compared to the OD1-Ast3 shale material. The addition of Fe metal in the clay catalyst product to the OD1-Ast2 shale material, resulting in OD1-Ast2-Fe shale material (75% OD1-Ast2 and 25% Fe) having a faster reaction rate than before the addition of Fe metal.The design of heavy (%) clay (kaolinite) and Fe pilaration on oil shale were greatly influence the change of TOC values when heated,then affecting maturation and Tmax. The temperature of maturation and Tmax as the main parameters of conversion of oil shale to liquid hydrocarbon. This method supports the development of science and technology in the field of exploitation and processing of natural resources.