Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

Diskursif Tokoh Kabul dalam Novel Orang-Orang Proyek melalui Pendekatan Studi Wacana Kritis Bourdieu Sahrul Romadhon; Anas Ahmadi; Budinuryanta Yohanes; Faizal Hadi Nugroho
GHANCARAN: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol. 7 No. 1 (2025)
Publisher : Tadris Bahasa Indonesia, Fakultas Tarbiyah, Institut Agama Islam Negeri Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aims to find anticorruption values in the novel Orang-Orang Proyek (OOP) by Ahmad Tohari. The anti-corruption values analyzed refer to three main elements of anti-corruption attitudes, namely (a) core: honesty, discipline, and responsibility; (b) attitude: fairness, courage, and caring; and (c) work ethic: hard work, simplicity, and independence. These three elements are reflected through the character of the main character in the novel, Kabul, who faces various moral dilemmas and pressures in the world of construnction projects full of corrupt practices. The research method used is qualitative with a grounded theory approach. This approach allows the generalization of postmodern critical discourse theory and Pierre Bourdieu's cultural sociology to understand the power relations and social structures that shape the anti-corruption narrative in the novel. The results show that anti-corruption values in the novel Orang-Orang Proyek are reflected through the behavior and life principles of the main character who consistently rejects involvement in corrupt practices, despite facing great personal risks. The findings also emphasize the importance of moral education through literature, especially to instill an anti-corruption culture from an early age. Thus, the results of this study can be a practical recommendation in the development of character education curriculum among students. The introduction of anti-corruption values through literature is expected to build a generation with integrity and critical awareness of the dangers of corruption in everyday life.
Fiksi Karya Korrie Layun Rampan: Perspektif Ekoimperialisme Natalia Desy Anggraeni; Anas Ahmadi; Udjang Pairin; Budinuryanta Yohanes
Belajar Bahasa: Jurnal Ilmiah Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 9 No 2 (2024): Belajar Bahasa: Jurnal Ilmiah Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesi
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32528/bb.v9i2.2908

Abstract

Kalimantan dikenal sebagai wilayah yang kaya akan sumber daya alam. Di bawah permukaannya, tersimpan berbagai mineral dan hasil tambang bernilai tinggi seperti batubara dan emas. Selain itu, hutan Kalimantan yang lebat menjadi habitat bagi beragam jenis tumbuhan yang dapat dimanfaatkan untuk menunjang kehidupan masyarakat, khususnya suku-suku asli yang tinggal di pedalaman, seperti suku Dayak. Namun, kekayaan ini menarik perhatian berbagai pihak, termasuk para konglomerat yang, atas nama perusahaan dengan izin pemerintah seperti HPH (Hak Pengusahaan Hutan) dan HTI (Hutan Tanaman Industri), melakukan eksploitasi besar-besaran terhadap sumber daya alam tersebut. Aktivitas ini telah membawa dampak negatif yang signifikan, baik terhadap ekosistem maupun terhadap kehidupan masyarakat adat di pedalaman Kalimantan. Fenomena ini menjadi fokus dalam karya fiksi Korrie Layun Rampan, khususnya novel Api Awan Asap dan kumpulan cerpen Tarian Gantar, yang menggambarkan kehancuran lingkungan serta penderitaan masyarakat adat akibat keserakahan dalam eksploitasi sumber daya alam. Untuk memahami dan mengkaji karya-karya ini, penelitian ini menggunakan pendekatan teori ekokritik dengan perspektif ekoposkolonialisme, yang berfokus pada konsep ekoimperialisme (ecological imperialism). Kajian ini mengidentifikasi tiga dimensi utama dari ekoimperialisme dalam karya tersebut, yaitu: pandangan dualistik (dualistic thinking) antara masyarakat adat dan konglomerat terhadap lingkungan, biokolonisasi (biocolonization), serta rasisme lingkungan (environmental racism).