Claim Missing Document
Check
Articles

Found 27 Documents
Search

PENDIDIKAN MULTIKULTURALISME DALAM PUISI DIGITAL GORONTALO TANAH BERDAULAT KARYA JAMAL RAHMAN IROTH: KAJIAN MOZAIC ANALOGY BERKSON M. Oktavia Vidiyanti; Bambang Yulianto
TELAGA BAHASA Vol 7, No 2 (2019): TELAGA BAHASA VOL.7 NO.2 TAHUN 2019
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36843/tb.v7i2.74

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui bagaimana keragaman budaya yang terdapat dalam puisi digital dan melihat bagaimana masyarakat mengekspresikan hak identitas budaya mereka dalam puisi digital. Hasil penelitian dari analisis yang sudah dilakukan adalah bahwa dalam puisi digital terdapat konten multikulturalisme. Multikulturalisme tersebut terutama menyangkut persoalan budaya praandroid dan pascaandroid, tradisional dan modern, bahkan pascamodern. Kesimpulan hasil penelitian menyimpulkan potensi strategi puisi digital dapat dimanfaatkan sebagai sarana untuk Pendidikan multikulturalisme.Kata kata Kunci: puisi digital, pendidikan, multikulturalisme Multiculturalism Education in Digital Poetry of Gorontalo Tanah Berdaulat in the Work of Jahal Rahman Iroth: Berskon Mozaic Analogy  AbstractThis study aims to find out how the diversity of cultures contained in digital poetry and see how people express their cultural identity rights in digital poetry. The results of the analysis that have been carried out are that in digital poetry there is multiculturalism content. Multiculturalism is mainly concerned with pre-thyroid and post-thyroid cultural issues, traditional and modern, even postmodern. The conclusion of the research concludes that the potential of digital poetry strategies can be used as a means for multiculturalism education.Keywords: digital poetry, education, multiculturalism 
The Violation of Maxims in Indonesian Speech of Mental Retardation Child Ira Eko Retnosari; Kisyani Kisyani; Bambang Yulianto
IJELTAL (Indonesian Journal of English Language Teaching and Applied Linguistics) Vol 5, No 1 (2020): Indonesian Journal of English Language Teaching and Applied Linguistics
Publisher : Universitas Islam Negeri Sultan Aji Muhammad Idris Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21093/ijeltal.v5i1.627

Abstract

This article aims to describe the violations of the maxims in the Indonesian speech of mentally retarded children. This study used a descriptive qualitative method. The data source of this study is one mild mental retardation child. The data of this research are words, phrases, and sentences that contain violations of the maxims in the principle of cooperation. Data collection techniques in this study were observation, stimulating, recording, and field recording. Data collection procedures in this study include entering the field, making observations, recording speeches, transcribing field records, entering data in tables, validating data that has been collected. In analyzing the data, a pragmatic equivalent analysis method is used. Data analysis procedures in this study are reducing data, presenting data, interpreting data, and concluding. In analyzing the data, a pragmatic equivalent analysis method is used. Data analysis procedures in this study are reducing data, presenting data, interpreting data, and concluding. The results of the data analysis of this study are the maxima violation that most children with mental retardation are the maxim of relations. That is because the research subject often changes the topic of speech. The research subject often changes the topic because he is not interested in talking about topics.
THE METACOGNITIVE STRATEGY ON WRITING VIEWED FROM LEARNING STYLES FOR EIGHTH GRADERS OF SMP NEGERI 5 SIDOARJO Indra Asnianto; Bambang Yulianto; Syamsul Shodiq
Jurnal Education and Development Vol 8 No 2 (2020): Vol.8.No.2.2020
Publisher : Institut Pendidikan Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (736.485 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan strategi metakognisi dalam menulis ditinjau dari gaya belajar pada siswa kelas VIII SMP Negeri 5 Sidoarjo. Metakognisi adalah pengetahuan atau kesadaran siswa terhadap proses dan hasil berpikirnya sendiri. Strategi metakognisi dalam penelitian ini dilihat dari perencanaan, pelaksanaan, dan pengevaluasian menulis teks berita. Tema teks berita dalam penelitian ini adalah fenomena alam, serta gaya belajar yang digunakan adalah visual, auditori, dan kinestetik. Jenis penelitian ini adalah deskriptif dengan pendekatan kualititatif. Hasil penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa (1) siswa yang bergaya belajar visual, (2) auditori, dan (3) kinestetik menggunakan metakognisi dalam perencanaan yaitu memahami struktur teks berita, menentukan tujuan sebelum menulis, menetapkan strategi sebelum menulis, dan membuat ide-ide pokok untuk memudahkan penulisan; pelaksanaan pada gaya belajar visual yaitu mengontrol kesalahan penulisan dan tata bahasa, cermat mengekspresikan ide-ide sesuai dengan struktur teks sedangkan siswa dengan gaya belajar; pelaksanaan pada gaya belajar auditori yaitu mengekspresikan ide-ide namun terkadang tidak urut sesuai dengan struktur teks; sedangkan pelaksanaan pada gaya belajar auditori kinestetik yaitu mengekspresikan ide-ide namun tidak sesuai dengan struktur teks; dan evaluasi yaitu mengecek kembali, menulis, dan menyusun kembali hasil tulisan.
PERBEDAAN PERKEMBANGAN KEMAMPUAN MEMBACA SUKU KATA SISWA SLOW LEARNER KELAS RENDAH DAN KELAS TINGGI DI SDN KAPASARI I SURABAYA YANG DIAJAR DENGAN METODE QIRAATI (STUDI KASUS) Azizatul Fithriyah; Bambang Yulianto; Titik Indarti
Jurnal Education and Development Vol 9 No 1 (2021): Vol.9.No.1.2021
Publisher : Institut Pendidikan Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (468.514 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan perkembangan kemampuan membaca suku kata siswa slow learner kelas rendah dan kelas tinggi di SDN Kapasari I Surabaya yang diajar dengan metode qiraati. Untuk mencapai tujuan tersebut, peneliti melakukan kegiatan membaca suku kata dengan mengadaptasi dari pembelajaran metode qiraati. Setiap kegiatan membaca suku kata yang dilakukan dijadikan sumber data untuk kemudian diidentifikasi, dianalisis dan dideskripsikan. Hasil penelitian ini dirinci dalam bentuk deskripsi tulisan tangan siswa yang dijabarkan kemampuan menunjuk huruf yang didengar, membaca huruf vokal, membaca huruf konsonan, membaca suku kata berpola KV, dan membaca suku kata berpola KVKV. Berdasarkan deskripsi hasil pengamatan peneliti terhadap subjek penelitian diketahui bahwa metode qiraati dapat mengembangkan kemampuan membaca suku kata siswa slow learner. Peran guru pembimbing dan orang tua pada proses perkembangan kemampuan membaca suku kata sangatlah penting.
PERKEMBANGAN GRAFIS TULISAN TANGAN TEGAK BERSAMBUNG SISWA KELAS 2 SEKOLAH DASAR Mira Intansari; Bambang Yulianto; Titik Indarti
Jurnal Education and Development Vol 9 No 1 (2021): Vol.9.No.1.2021
Publisher : Institut Pendidikan Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (120.787 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bentuk grafis tulisan tangan siswa kelas dasar dalam bentuk tulisan tegak bersambung. Untuk mencapai tujuan tersebut, peneliti menggunakan hasil tulisan tangan anak sebagai data penelitian. Setiap bentuk grafis tulisan tangan siswa yang berupa bentuk huruf tertentu, kerapian dan keterbacaan tulisan tangan dijadikan sumber data untuk kemudian diidentifikasi, dianalisis dan dideskripsikan. Hasil penelitian ini dirinci dalam bentuk deskripsi tulisan tangan siswa yang dijabarkan berdasarkan ukuran huruf, yang disesuaikan dengan batas garis maya baris tulisan; kemiringan huruf, yang diperoleh dari kecenderungan arah tulisan dan bentuk huruf, yang berpatokan pada acuan penulisan huruf tegak bersambung. Berdasarkan deskripsi hasil pengamatan peneliti terhadap tiga puluh tulisan tangan siswa yang dihasilkan oleh lima belas siswa perempuan dan lima belas siswa laki-laki diketahui bahwa sudah terbentuk kebiasaan menulis tegak bersambung yang stabil pada sebagian besar siswa. Peran guru pembimbing dan orang tua pada proses perkembangan keterampilan menulis tegak bersambung sangatlah penting.
PIDATO NADIEM MAKARIM DALAM SERI MERDEKA BELAJAR: ANALISIS WACANA KRITIS SITUASI SOSIAL DAN IDEOLOGI (Perspektif Teori Analisis Wacana Kritis) Wahyu Maria Helena; Bambang Yulianto; Kisyani .
Jurnal Education and Development Vol 9 No 2 (2021): Vol.9.No.2.2021
Publisher : Institut Pendidikan Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (442.06 KB)

Abstract

Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk (1) menerangkan sistem transitivitas dalam teks pidato Nadiem Makarim, (2) menerangkan ideologi yang tercermin dalam teks pidato. Pidato tokoh utama saat ini sering digunakan sebagai topik penelitian dalam kajian bahasa. Beberapa kajian lintas disipliner muncul seiring berkembangnya peran dan definisi bahasa. Kajian-kajian itu adalah pragmatik, analisis wacana kritis, psikolinguistik, neurolinguistik dan sosiolinguistik. Penelitian ini fokus pada sistem transitivitas dan ideologi yang tercermin dalam teks pidato Nadiem Makarim seri merdeka belajar. Sistem transitivitas yang dikemukakan Halliday menjadi alat analisis untuk menganalisis data liguistik yang telah digunakan oleh Fairclough dalam kerangka teoretis analisis wacana kritisnya. Berdasarkan tujuannya yakni mendeskripsikan sistem transitivitas dan ideologi pidato NM maka penelitian ini dapat dikategorikan sebagai penelitian deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan enam proses yang digunakan Nadiem Makarim dalam merepresentasikan pengalamannya, yakni proses material, proses mental, proses relasional, proses verbal, proses perilaku (behavioral), proses eksistensial. Proses yang sering digunakan oleh Nadiema Makarim adalah proses material disusul oleh proses relasional dan proses mental. Dalam mengungkapkan idenya Nadiem Makarim banyak menggunakan proses material serta menunjukkan prinsipnya bahwa lebih baik bertindak daripada hanya sekedar berbicara. Nadeim Makarim menyampaikan pidatonya saat hari Guru Nasional pada tahun 2019. Ajaklah kelas berdiskusi bukan mendengar, beri kesempatan murid untuk mengajar dikelas, cetuskan proyek bakti sosial yang melibatkan seluruh kelas, temukan suatu bakat dalam diri murid yang kurang percaya diri, tawarkan pada guru yang sedang mengalami kesulitan. Dan kemudian dilanjutkan pidato NM pada HGN tahun 2020 di tengah pandemi covid-19. Pernyataan tersebut diungkapkan secara eksplisit pada pidato hari guru nasional dan membuat publik antusias dan sadar betapa pentingnya pendidikan Indonesia ini.
ANALISIS BUTIR TES DOKKAISISWA KELAS XI PEMINATAN BAHASA JEPANG DI SMA NEGERI 1 SUMENEP Restiana Moeriyandani; Bambang Yulianto; Roni .
Jurnal Education and Development Vol 9 No 3 (2021): Vol.9.No.3.2021
Publisher : Institut Pendidikan Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (488.389 KB)

Abstract

Kegiatan evaluasi pembelajaran merupakan sebuah kegiatan akhir yang dilakukan oleh pengajar untuk mengetahui sejauh mana tujuan pembelajaran tercapai. Selain itu, evaluasi pembelajaran juga dilakukan untuk melihat sejauh mana kemampuan pembelajar terhadap kemampuan yang akan diukur. Melalui kegiatan evaluasi inilah seorang pengajar biasanya memberikan tes kepada siswanya untuk mengukur kemampuan siswa tersebut. Namun tes yang diberikan haruslah tes yang baik dengan kata lain tes tersebut telah teruji kualitasnya. Melalui penelitian ini,dilakukan analisis butir tes yang telah disusun oleh pengajar untuk menguji kualitas tes berdasarkan tingkat kesulitan, daya beda, keefektifan pengecoh. Penelitian ini menggunakan metode analisis kuantitatif dengan menggunakan rumus penghitungan butir soal sebagaimana yang oleh Kunandar(2014:240-243). Berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan, untuk tingkat kesulitan butir tes diperoleh 7 butir tes termasuk dalam kategori sedang, dan 3 butir tes termasuk dalam kategori mudah. Hasil analisis daya beda diketahui bahwa 2 butir tes termasuk dalam kategori baik sekali, 3 butir tes termasuk dalam kategori baik, 4 butir tes termasuk dalam kategori cukup dan hanya 1 butir tes yang termasuk dalam kategori jelek. Hasil analisis keefektifan distraktor diketahui bahwa 7 butir tes memiliki distraktor efektif, dan 3 butir tes memiliki distraktor tidak efektif, karena tidak ada satupun testee yang memilih option tersebut. Secara keseluruhan butir tes Dokkai pada tema “Watashi no Seikatsu” dan tema “Watashi no Uchi” untuk siswa kelas XI Peminatan di SMA Negeri 1 Sumenep dapat dikategorikan sebagai butir tes yang baik, sebab memiliki persentase tingkat kesulitan tes terbesar pada kategori sedang yaitu sebanyak 7 butir tes, persentase daya pembeda terbesar pada kategori baik yaitu 4 butir tes, serta lebih banyak distraktor yang telah berfungsi dengan baik yaitu sebanyak 7 butir tes yang memiliki distraktor kategori efektif.
RELEVANSI MODEL KURIKULUM BOBBIT DALAM KKNI PEMBELAJARAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA Mariam Ulfa; Bambang Yulianto
Belajar Bahasa Vol 4, No 2 (2019): BELAJAR BAHASA
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32528/bb.v4i2.2554

Abstract

Kurikulum mengalami reorientasi dari masa ke masa mengikuti perkembangan zaman dan teknologi. Kurikulum diupayakan dapat mengimbangi era yang semakin mendigital. Kurikulum pendidikan tinggi menggunakan basis KKNI yang diklasifikasikan dalam jenjang-jenjang sesuai denga tingkat pendidikan. Pendidikan tinggi khususnya pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia berupaya untuk melakukan orientasi konsep pelaksanaan pembelajaran yang sesuai dengan KKNI. Model kurikulum Franklin Bobbit yang mengusung konsep sederhana bermakna bahwa kurikulum adalah untuk kehidupan manusia dapat menjadi alternatif reorientasi pengembangan kurikulum. Lulusan bahasa dan sastra Indonesia yang dianggap hanya bisa menjadi guru, dengan menggunakan pengembangan Bobbit akan mampu bersaing di bidang pekerjaan lain seperti penulis, editor, wartawan, pewara, penyunting, linguis, dan budayawan.  Bobbit mengusung lima konsep pengembangan kurikulum antara lain, analisis pengembangan manusia, analisis pekerjaan, menurunkan tujuan, merumuskan tujuan, dan perencanaan secara terperinci. Langkah implementasi model Bobbit jika diimplementasikan dalam pembelajaran terdiri dari empat langkah antara lain, menentuksn tujuan, membagi tujuan ke dalam aktivotas dan ide, menganalisis waktu, dan evaluasi. Konsep dan langkah Bobbit relevan dengan konsep KKNI yang mengutamakan learning outocome  melalui analisis sumber daya manusia, pekerjaan, dan tujuan yang tercapai.
PEMEROLEHAN KALIMAT TANYA BAHASA INDONESIA ANAK PRASEKOLAH USIA 5—6 TAHUN Ziyadatur Rohmah; Bambang Yulianto; Maria Mintowati
Belajar Bahasa Vol 4, No 2 (2019): BELAJAR BAHASA
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32528/bb.v4i2.2122

Abstract

Perkembangan bahasa anak merupakan proses yang unik. Perkembangan tersebut  berkaitan dengan perkembangan fisik dan otak anak. Masa perkembangan bahasa yang mendekati sempurna adalah prasekolah (5—6 tahun) karena anak telah memahami gramatikal dan memproduksi bahasa pertamanya. Pada masa ini, anak telah menyampaikan berbagai kalimat, misalnya  kalimat tanya. Oleh sebab itu, tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan pemerolehan kalimat tanya pada anak prasekolah 5—6 tahun. Jenis penelitian yang digunakan yaitu deskriptif kualitatif. Data yang diharapkan adalah kalimat tanya yang disampaikan anak. Data dikumpulkan dengan teknik simak dan dianalisis dengan teknik padan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: Anak prasekolah berusia lima dan enam tahun telah memperoleh kalimat tanya bahasa Indonesia. Anak prasekolah yang berusia 5 tahun telah mampu menyusun kalimat tanya biasa dengan struktur penggantian unsur kalimat berita dengan kata tanya apa, mana, dan kok serta kalimat tanya konfirmatif dengan kata iyakan yang disampaikan dengan intonasi tanya. Namun jumlahnya tidak banyak. Pemerolehan kalimat tanya pada anak usia enam tahun lebih bervariatif dibanding anak usia limat tahun. Untuk kalimat tanya biasa, anak menggunakan kata tanya apa, siapa, kenapa, dan kok serta kalimat tanya konfirmasi dengan struktur kalimat berita berintonasi tanya. Selain itu, anak juga menggunakan kata ganti apa (kah) untuk kalimat konfirmasi tersebut.
Modalitas Epistemik sebagai Wujud Lingual Tuturan Berpagar Mahasiswa Multikultural di Surabaya Luluk Isani Kulup; Bambang Yulianto; Budinuryanta Yohanes
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 10, No 2 (2021): Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v10i2.4044

Abstract

The use of hedges in student speech varies greatly depending on the situation and conditions of use, both in casual situations and in formal situations, it is stated that the use of adequate hedges must take into account the context. The purpose of this study was to determine the epistemik modality as a form of lingual speech by multicultural students in Surabaya. Hedges are a group of words whose function is to communicate, the communication function of language cannot be used properly without context. One group of words in question is in the form of an epistemik modality. This study aims to describe the epistemik modality as a form of hedges in multicultural students. The approach used is qualitative. This approach is considered relevant because it emphasizes the natural role, uses descriptive data, and uses inductive means because it does not test hypotheses. The data in this study is the verbal speech of multicultural students. The data sources of this research are multicultural students from four universities in Surabaya. The data retrieval technique used is the listening, recording, engaging, proficient, and note-taking technique. Analysis of the data used is the technique of sorting, turning, and connecting. The results of this study indicate that the epistemik modalities used as a form of hedges by multicultural students are the modality of predictability, modality of possibility, and modality of necessity. AbstrakPenggunaan hedges dalam tuturan mahasiswa sangat bervariasi tergantung situasi dan kondisi penggunaannya, baik itu dalam situasi santai maupun dalam situasi resmi dinyatakan bahwa penggunaan hedges yang memadai harus mempertimbangkan konteks. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui modalitas epistemik sebagai wujud lingual tuturan berpagar mahasiswa multikultural di Surabaya. Hedges adalah sekelompok kata yang fungsinya untuk melakukan komunikasi, fungsi komunikasi bahasa tidak dapat digunakan dengan semestinya tanpa konteks. Sekelompok kata yang dimaksud salah satunya berupa modalitas epistemik. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan modalitas epistemik sebagai wujud hedges pada mahasiswa multikultur. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif. Pendekatan ini dianggap relevan karena menonjolkan peran alami, menggunakan data deskriptif, dan menggunakan sarana induktif karena tidak menguji hipotesis. Data dalam penelitian adalah tuturan verbal mahasiswa multikultural. Sumber data penelitian ini adalah mahasiswa multikultural dari empat perguruan tinggi di Surabaya. Teknik pengambilan data yang digunakan adalah teknik simak, rekam, libat, cakap, dan catat. Analisis data yang digunakan adalah teknik pilah, balik, dan hubung. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa modalitas epistemik digunakan sebagai wujud hedges oleh mahasiswa multikultural adalah modalitas keteramalan, modalitas kemungkinan, dan modalitas keharusan.