Claim Missing Document
Check
Articles

Found 26 Documents
Search

Hubungan Religious Commitment Dengan Motivasi Belajar Pada Mahasiswa di UNISBA Yuli Aslamawati; Eneng Nurlailiwangi; Ari Wulandari
SCHEMA (Journal of Psychological Research) Volume 2 No.2 Juni 2011
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (9310.315 KB) | DOI: 10.29313/schema.v0i0.2428

Abstract

There is a phenomenon in UNISBA as a private Islamic University, the students show low motivation in their learning behavior process. Their effort to achieve a good grade without optimizing their capabilities, there is a tendency to choose an easy way, cheating and violating the university rules, these were associated to the low of a Religious Commitment. According to Glock & Stark. Religious Commitment is a religious consciousness includes the obedience to do the ritual believes, the faith, which that is application of their religious knowledge.The objective of this research are to obtain data and empirical picture about the relationship between religious commitment and the learning motivation among the students; and to see which dimension of religious commitment has greater closeness to learning motivation.This research used the correlation method. The measurement tool to describe the students Religious commitment used a scale based Glock and Stark theory; and the scale of student’s learning motivation is constructed based on the learning motivation theory from Gage and Berliner. 340 UNISBA’s students who are currently actively registered as the population in this study. The data gathering is based on cluster random sampling. The result was rs= 0.524; there was a positive correlation between the religious commitment and learning motivation among the students. It means the lower the religious commitment, the lower the motivation of learning among the students.
Efektivitas Thinking For A Change terhadap Peningkatan Regulasi Diri Warga Binaan Pemasyarakatan Kasus Penipuan Eneng Nurlaili Wangi; Annisa Walastri
JIP (Jurnal Intervensi Psikologi) Vol. 6 No. 2 (2014)
Publisher : Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/intervensipsikologi.vol6.iss2.art8

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengenai seberapa efektif Thinking For a Change (TFAC) terhadap self regulation pada Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) kasus penipuan di LAPAS Wanita Kelas IIA Bandung. Fokus TFAC adalah mengubah pikiran dan keyakinan WBP yang disfungsional menjadi fungsional. Penelitian ini mengunakan metode Quasi Experiment dengan desain One-Group Pretest-Posttest. Regulasi diri diukur dengan menggunakan skala self regulation rancangan Miller dan Brown yang terdiri atas tujuh aspek, yaitu Receiving, Evaluating, Triggering, Searching, Formulating, Implementing dan Assessing. Berdasarkan uji validitas alat ukur, diperoleh 48 item valid dengan tingkat realibilitas sebesar 0,898. Subjek dalam penelitian ini adalah dua orang WBP kasus penipuan di LAPAS Wanita Kelas IIA Bandung. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa setelah diberikan intervensi, terjadi peningkatan self regulation dari rendah ke sedang pada subjek penelitian dengan besar perubahan rata-rata 33,22%. Berdasarkan data tersebut, dapat disimpulkan bahwa pemberian Thinking For a Change (TFAC) terbukti efektif dalam meningkatkan self regulation pada WBP kasus penipuan di LAPAS Wanita Kelas IIA Bandung.
Pengaruh Psychological Capital terhadap Work Engagement pada Karyawan Generasi Milenial di Perusahaan Startup Digital Kota Bandung Nida Najmaputri Avianti; Eneng Nurlaili Wangi
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 4 No. 1 (2024): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v4i1.9927

Abstract

Abstract. Challenges in the workplace will always exist, so in order for employees to be engaged in their work, it needs to be balanced with high resources ((Bakker & Demerouti, 2008)). Psychological capital is a personal resource that can increase work engagement, because it can be more flexible and adaptive when overcoming challenges, thus providing a competitive advantage (Erum et al., 2020). This research aims to find out how much influence psychological capital has on work engagement among millennial employees in digital startup companies in Bandung City. This research uses quantitative methods with a causality research design. The subjects in this research were 106 respondents who were millennial employees at digital startup companies in Bandung City. The measuring tool used is the Psychological Capital Questionnaire (PCQ) from Luthans et al. (2007) and the Utrecht Work Engagement Scale (UWES) from Schaufeli & Bakker (2003). Data were analyzed using multiple linear regression analysis techniques. The research results show that there is a positive and significant influence of psychological capital on work engagement with a large influence of 69.9% (R Square = .699). Partially, the Resilience aspect is the aspect that has the greatest influence. Abstrak. Tantangan di tempat kerja akan selalu ada, maka agar karyawan dapat engaged terhadap pekerjaannya, perlu di imbangi dengan sumber daya yang tinggi (Bakker & Demerouti, 2008). Psychological capital merupakan sumber daya pribadi yang dapat meningkatkan work engagement, karena dapat lebih fleksibel dan adaptif ketika mengatasi tantangan, sehingga memberikan keunggulan yang kompetitif (Erum et al., 2020). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh psychological capital terhadap work engagement pada karyawan mielnial di perusahaan startup digital Kota Bandung. Penelitian ini memggunakan metode kuantitatif dengan desain penelitian kausalitas. Subjek dalam penelitian ini adalah 106 responden yang berstatus sebagai karyawan milenial pada perusahaan startup digital di Kota bandung. Alat ukur yang digunakan adalah Psychological Capital Questionnaire (PCQ) dari Luthans et al. (2007) dan Utrecht Work Engagement Scale (UWES) dari Schaufeli & Bakker (2003). Data dianalisis menggunakan teknik analisis regresi linear berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh positif dan signifikan dari psychological capital terhadap work engagement dengan besar pengaruh sebesar 69.9% (R Square = .699). Secara parsial aspek Resilience merupakan aspek yang memberikan pengaruh paling besar.
Studi Deskriptif Kecemasan Berkompetitif pada Atlet Mahasiswa yang Mengikuti UKM Bulutangkis di STKIP Pasundan Cimahi Muhammad Lidzikri Khairul Anshor; Wangi, Eneng Nurlaili
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 4 No. 2 (2024): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v4i2.12984

Abstract

Abstract. The achievement of badminton athletes in Indonesia has decreased due to psychological factors and deficiencies in mental aspects. Competitive anxiety is one of the various psychological factors that significantly affect athlete performance. Competitive anxiety is believed to cause negative emotional reactions and will affect the ability of student athletes and cause a decrease in achievement. The purpose of this study was to determine how the competitive anxiety of student athletes in badminton UKM STKIP Pasundan Cimahi. The research method in this study is a quantitative approach by utilizing a questionnaire as a tool in collecting data. Saturated sampling was utilized in this study with a sample size of 107 badminton student athletes. The measuring instrument used in this study is the Sport Competitive Anxiety Test (SCAT) from Marten et al., (1990) to measure competitive anxiety variables. The results of this study showed that 72 students or 67.3% were categorized as having moderate anxiety, 21 students or 19.6% were categorized as having low anxiety, and the remaining 14 students or 13.1% were categorized as having high anxiety. Abstrak. Prestasi atlet bulutangkis di Indonesia mengalami penurunan karena faktor psikologis dan kekurangan dalam aspek mental. Kecemasan kompetitif menjadi satu di antara berbagai faktor psikologis yang secara signifikan mempengaruhi prestasi atlet. Kecemasan kompetitif dipercaya dapat menyebabkan reaksi emosional yang negatif dan akan mempengaruhi kemampuan atlet mahasiswa serta menyebabkan penurunan prestasi. Tujuan dari penelitian ini yakni untuk mengetahui bagaimana gambaran kecemasan berkompetitif atlet mahasiswa di UKM bulutangkis STKIP Pasundan Cimahi. Metode penelitian dalam penelitian ini yaitu pendekatan kuantitatif dengan memanfaatkan kuesioner sebagai alat dalam mengumpulkan data. Sampling Jenuh dimanfaatkan dalam studi ini dengan jumlah sampel 107 atlet mahasiswa bulutangkis. Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini adalah Sport Competitive Anxiety Test (SCAT) dari Marten et al., (1990) untuk mengukur variabel kecemasan berkompetitif. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa 72 mahasiswa atau 67,3% dikategorikan memiliki kecemasan sedang, 21 mahasiswa atau 19,6% dikategorikan memiliki kecemasan rendah, dan sisanya 14 mahasiswa atau 13,1% dikategorikan memiliki kecemasan tinggi.
Studi Deskriptif Beban Pengasuh pada Ibu yang Memiliki Anak Penderita Kanker Alifia Sarah Azzahra; Wangi, Eneng Nurlaili
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 4 No. 2 (2024): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v4i2.12993

Abstract

Abstract. This study aims to examine the level of caregiver burden among mothers caring for children with cancer at Rumah Singgah in Bandung City. The complex and intricate nature of pediatric cancer care positions mothers as the primary caregivers for their ill children, as they are perceived to provide extensive care. They assist with daily activities, offer emotional support, manage healthcare, coordinate care, and participate in decision-making. A review of the literature indicates that caregivers generally experience psychological, social, physical, and financial challenges due to caregiving responsibilities. This research employs a quantitative approach with accidental sampling techniques, involving 110 mothers who are serving as caregivers for their children and residing at Rumah Singgah in Bandung City. The measurement tool used is the Zarit Burden Interview 22-Item. The results show that 39 mothers are at a minimal/no burden level, 49 mothers are at a mild-to-moderate burden level, 19 mothers are at a moderate-to-severe burden level, and 3 mothers are at a severe burden level. These findings provide insights into the levels of burden experienced by mothers within the family caregiver population, specifically mothers as primary caregivers for their ill children. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk melihat tingkat beban pengasuh (caregiver burden) pada ibu yang merawat anak penderita kanker di Rumah Singgah Kota Bandung. Kompleks serta rumitnya proses perawatan kanker pada anak menjadikan ibu sebagai primarly caregiver atau pengasuh utama bagi anak mereka yang sakit karena dipandang dapat melakukan perawatan secara ekstensif. Mereka membantu dalam aktivitas sehari-hari, memberikan dukungan emosional, mengelola perawatan kesehatan, mengoordinasikan perawatan, dan berpartisipasi dalam pengambilan keputusan. Berdasarkan tinjauan literatur, ditemukan bahwa caregivers pada umumnya mengalami permasalahan terkait psikologis, sosial, fisik serta finansial akibat pemberian perawatan atau pengasuhan. Penelitian ini menggunakan metode pendekatan kuantitatif dengan teknik sampling yaitu accidental sampling, melibatkan 110 ibu yang sedang berperan sebagai caregiver anak mereka dan tinggal di Rumah Singgah Kota Bandung. Alat ukur yang digunakan adalah Zarit Burden Interview 22-Item Hasil penelitian menunjukkan bahwa 39 ibu berada pada tingkat sedikit/tidak memiliki beban, sementara 49 ibu berada pada tingkat beban ringan-sedang, 19 ibu berapa pada tingkat sedang-parah dan 3 ibu berada pada tingkat beban parah. Temuan ini memberikan wawasan mengenai tingkat beban ibu pada populasi family caregiver khususnya ibu sebagai pengasuh utama bagi anak mereka yang sakit.
Pengaruh Insecure Attachment terhadap Perilaku Kekerasan Psikologis dalam Berpacaran pada Remaja Natasya Pramesti Alfadiyah; Eneng Nurlaili Wangi
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 4 No. 2 (2024): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v4i2.13003

Abstract

Abstract. Cases of dating violence in Bandung City are currently the highest after domestic violence and have been increasing every year. The attachment style theory can be used to explain the risks associated with dating violence. Attachment is one of the factors that contribute greatly to dating violence. The purpose of this study is to examine the vulnerability of adolescents who experience psychological violence in dating, as seen from insecure attachment, which consists of preoccupied, dismissive, and fearful avoidant styles. Observing insecure attachment will influence adolescents to become victims of psychological violence in dating. This study employs a quantitative correlational research method. The subjects of this study consisted of 150 adolescents in Bandung City. Insecure attachment significantly affects the behavior of victims of violence in dating relationships among adolescents, accounting for approximately 55.1% of the variation in violent victim behavior. These findings indicate that adolescents with insecure attachment tend to be more prone to experiencing victimization behavior of violence in their dating relationships. Abstrak. Kasus kekerasan berpacaran di Kota Bandung pada saat ini menjadi kasus tertinggi pertama setelah kekerasan terhadap rumah tangga dan meningkat setiap tahunnya. Teori yang dapat digunakan untuk menjelaskan resiko terkait kekerasan dalam pacaran ini ialah teori attachment style. Attachment merupakan salah satu faktor yang berkontribusi besar dalam kekerasan berpacaran. Tujuan penelitian ini untuk melihat kerentanan remaja yang mengalami kekerasan psikologis dalam berpacaran dilihat dari insecure attachment yang terdiri atas preeocupied, dismissive, dan fearful avoidant. Melihat dari insecure attachment akan mempengaruhi remaja untuk menjadi korban pada kekerasan psikologis dalam pacaran. Metode ini menggunakan penelitian kuantitatif korelasional. Subjek penelitian ini terdiri dari 150 remaja di kota Bandung. Insecure Attachment secara signifikan mempengaruhi perilaku korban kekerasan dalam hubungan pacaran pada remaja sekitar 55,1% variasi dalam perilaku korban kekerasan. Temuan ini mengindikasikan bahwa remaja dengan insecure attachment cenderung lebih rentan mengalami perilaku sebagai korban kekerasan dalam hubungan pacaran mereka.
ADAPTASI KUESIONER RESPECT & RESPONSIBILITY SCHOOL CULTURE SURVEY UNTUK SETING PENDIDIKAN Wangi, Eneng Nurlaili; Rosiana, Dewi; Aslamawati, Yuli
Waskita: Jurnal Pendidikan Nilai dan Pembangunan Karakter Vol. 7 No. 2 (2023): WASKITA: Jurnal Pendidikan Nilai dan Pembangunan Karakter
Publisher : PUSAT MPK UNIVERSITAS BRAWIJAYA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.waskita.2023.007.02.7

Abstract

There are two main moral values that represent other moral values in forming character in educational settings, namely respect and responsibility. Even though in practice teachers have made efforts to teach character education in schools, currently in Indonesia there are still minimal instruments that can describe the effectiveness of instilling attitudes of respect and responsibility carried out by students, teachers, school staff and parents. This research aims to adapt the Respect & Responsibility School Culture Survey instrument, compiled by Davidson, Lickona, & Khmelkov (2004). This instrument measures the perceptions of students, teachers, school staff and parents regarding school culture regarding the extent to which other people in the school environment show mutually respectful and responsible behavior. Respondents in this study were elementary school students in grades 5 and 6 (N = 1096), parents and teachers and staff (N = 295) who lived in Bandung City. The test results show this instrument is reliable. The validity test also showed that the instrument for adult respondents had 15 valid items and the instrument for child respondents had 21 valid items. This instrument can be used to describe the implementation of character education in elementary schools in Indonesia
Efektivitas Logoterapi Medical Ministry terhadap Kebermaknaan Hidup pada Warga Binaan dengan HIV/AIDS Widiyastuty, Riesma; Wangi, Eneng Nurlaili; Fahmi, Irfan
Jurnal Psikologi Perseptual Vol 8, No 2 (2023): Jurnal Psikologi Perseptual
Publisher : Universitas Muria Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24176/perseptual.v8i2.10625

Abstract

This research aims to determine the effectiveness of logotherapy medical ministry on the level of meaning in life among five inmates with HIV/AIDS. Participants are guided to understand the inevitable tragic experiences through the ability to take a stance and undergo a self-transcendence process, which is a distinctive feature of medical ministry compared to other logotherapy techniques. It focuses on understanding and evaluating the "past and present" and then connecting it with something meaningful "outside oneself and in the future." This approach combines spiritual and psychological elements to address existential problems and provide support. The research design was selected based on the consideration of a limited number of participants, employing a one-group pretest-posttest design. The Meaning in Life Questionnaire (MLQ) is a validated instrument assessing the presence of meaning and the search for meaning in life. MLQ by Michael F. Steger and Patricia Frazie (Indonesian version), was used as the measurement tool for assessing the level of meaning in life has a reliability of 0.861 and validity ranging from 0.328 to 0.841. The N-Gain result of 57.75% indicates a significant increase in the participants' meaning in life. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui evektivitas logoterapi medical ministry terhadap tingkat kebermaknaan hidup pada lima warga binaan dengan HIV/AIDS. Partisipan penelitian dibimbing untuk memahami pengalaman tragis yang tak terhindarkan dengan kemampuan mengambil sikap dan proses transendensi diri yang menjadi ciri khas teknik medical ministry dibandingkan teknik logoterapi lainnya, yaitu untuk memahami dan mengevaluasi keadaan “di masa lalu dan sekarang” kemudian menghubungkannya dengan sesuatu yang bermakna “di luar diri sendiri dan di “masa depan”, yang menggabungkan pendekatan spiritual dan psikologis untuk mengatasi masalah eksistensial dan memberikan dukungan. Pemilihan desain penelitian berdasarkan pertimbangan jumlah partisipan yang terbatas, sehingga menggunakan one-group pretest-posttest design. The Meaning in Life Questionnaire (MLQ) diberikan untuk mengukur perubahan tingkat makna hidup partisipan sebelum dan sesudah intervensi. MLQ adalah instrumen tervalidasi yang menilai presence of meaning dan search for meaning in life. Meaning in Life Questionnaire (MLQ) dari Michael F. Steger dan Patricia Frazie versi bahasa Indonesia digunakan sebagai alat ukur pre-test dan post-test untuk mengukur tingkat kebermaknaan hidup. Alat ukur ini memiliki reliabilitas 0.861 dan validitas 0.328-0.841. Hasil N-Gain 57.75% menunjukan peningkatan kebermaknaan hidup yang cukup signifikan
Hubungan antara fungsi kognitif dengan penyesuaian perguruan tinggi pada mahasiswa korban kekerasan seksual Rosiana, Dewi; Wangi, Eneng Nurlaili; Aslamawati, Yuli
Jurnal Konseling dan Pendidikan Vol 11, No 3 (2023): JKP
Publisher : Indonesian Institute for Counseling, Education and Therapy (IICET)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29210/197700

Abstract

Kekerasan seksual berdampak banyak pada aspek-aspek kehidupan korbannya. kekerasan seksual berdampak pada penurunan fungsi kognitif yang selanjutnya berdampak pada kemampuan akademis. Korban kekerasan seksual pun memperlihatkan masalah perilaku yang bentuknya internalisasi (menarik diri) dan eksternalisasi (memberontak atau mengganggu orang lain), hal ini memungkinkan para korban mengalami hambatan dalam menyesuaikan diri di perguruan tinggi. Penelitian ini bertujuan meneliti mengenai korelasi antara fungsi kognitif dengan penyesuaian perguruan tinggi pada mahasiswa korban kekerasan seksual. Partisipan berjumlah 60 orang mahasiswa dengan usia rata-rata 21,6 tahun, yang terdiri dari perempuan sebanyak 58,33%, serta berdomisili di kota Bandung. Alat ukur menggunakan kuesioner adjustment to college (SACQ), dan tes fungsi kognitif menggunakan The Indonesian Version of Montreal Cognitive Assessment (MoCA-Ina). Hasil penelitian menunjukkan terdapat korelasi positif yang signifikan antara fungsi kognitif dengan penyesuaian perguruan tinggi pada mahasiswa korban kekerasan seksual. Penelitian ini melengkapi referensi mengenai dampak kekerasan seksual dalam seting pendidikan di perguruan tinggi, serta diharapkan dapat menjadi bahan rujukan dalam menyusun intervensi guna membantu para korban kekerasan seksual menyelesaikan pendidikannya.
Pengaruh Group Therapy Dalam Mengurangi Derajat Stres Pada Kelompok Wanita Warga Binaan Pemasyarakatan Novi Adelina; Eneng Nurlaili Wangi; Endah Nawangsih
COMSERVA : Jurnal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 4 No. 5 (2024): COMSERVA : Jurnal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat
Publisher : Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/comserva.v4i5.2170

Abstract

Stres pada warga binaan pemasyarakatan telah menjadi kondisi yang tak dapat dihindari. Stres yang berat dapat mengganggu aktivitas selama dalam proses masa peradilan dan masa hukuman. Pada warga binaan pemasyarakatan dengan latar belakang dan kasus tindak pidana yang berbeda memiliki tingkat derajat stres yang beragam selama di dalam rumah tahanan. Kondisi rumah tahanan yang menjadi stresor bagi penghuninya gejala stres. Pentingnya pengelolaan stres pada kelompok Wanita warga binaan pemasyarakatan selama di rumah tahanan agar dapat tercapainya kondisi kesehatan mental yang baik pada warga binaan pemasyarakatan selama menjalani proses peradilan. Dalam Group Therapy terdapat faktor-faktor kuratif yang dapat membantu mengurangi gejala-gejala stres pada kelompok wanita warga binaan pemasyarakata guna dapat menjalani aktivitas dengan baik dan beradaptasi selama proses peradilan. Desain penelitian yang digunakan adalah one group pre-test post-test, data dianalisis dengan uji Wilcoxon Signed Rank Test untuk menguji perbedaan sebelum dan sesudah diberikan intervensi. Hasil Uji statistik menunjukan p-value sebesar 0,27, lebih besar dari alpha 0,05. Terdapat pengaruh yang signifikan terhadap pengurangan derajat stres pada kelompok Wanita warga binaan pemasyarakatan yang sedang dalam masa peradilan di Rumah Tahanan Perempuan Kelas IIA Bandung. Hasil penelitian menunjukan bahwa faktor kuratif dari Group Therapy yang muncul dalam penelitian ini adalah kohesivitas kelompok, universalitas, pembelajaran interpersonal dan perasaan lega. Pada penelitian ini ditemukan bahwa situasi rumah tahanan sangat rentan dan dapat memicu kondisi stres, diperlukan program yang dapat mencegah dan menanggulangi masalah kesehatan mental pada kelompok wanita warga binaan pemasyarakatan.