Claim Missing Document
Check
Articles

PENGGUNAAN UNGKAPAN JAWA DALAM KUMPULAN PUISI TIRTA KAMANDANU KARYA LINUS SURYADI (Pendekatan Stilistika Kultural) Burhan Nurgiyantoro
LITERA Vol 13, No 2: LITERA OKTOBER 2014
Publisher : Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/ltr.v13i2.2575

Abstract

This study aims to describe the intensity of the use of Javanese words and idioms inwayang poems. It employed the textual approach. The data sources were wayang poemsunder the subsection of “Lingga dan Yoni” in Tirta Kamandanu (1997), a poetry anthologyby Linus Suryadi. There were 26 poems all of which were studied. The steps includedlinguistic evidence collection, data display, and explanation of esthetic functions. Thestudy concludes that the use of Javanese words and idioms in wayang poems is intensiveenough. They are relevant to the meanings in the poems narrating wayang and supportand strengthen the meanings and existence of the Javanese culture. They also support thefunctions of poetry style beauty, especially the beauty of rhymes and particular atmospherecreation, are accurate in the condensed forms, and serve as fillers for emptiness or justsynonyms. Without knowledge and understanding of the Javanese culture, one will notunderstand the poems as well, thoroughly, and intensively as one who understands theJavanese cultural background.
Validasi bahan ajar menulis teks nonfiksi berbasis pendekatan genre Wulan Arum Sari; Burhan Nurgiyantoro
BAHASTRA Vol 40, No 1 (2020): Bahastra
Publisher : Universitas Ahmad Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (522.949 KB) | DOI: 10.26555/bahastra.v40i1.15754

Abstract

This research aims to describe the validity of teaching materials in writing nonfiction texts based on genre approach. The genre approach is an approach that emphasizes text types. The type of research is descriptive qualitative. The data obtained comes from the assessment of experts (lecturers), teachers, and students. The subjects in this study were three experts and five Indonesian language teachers, and 44 eighth grade students as respondents. The technique of collecting data is done by using a questionnaire. Data collection instruments include expert validation sheets, teacher assessment sheets, and student response sheets. The results of this study indicate nonfikdi text writing materials based on a genre approach based on expert velidation, teacher ratings, and student responses get a percentage score of 82.36% with good category so it can be concluded that the higher the score obtained, the better the validity results of the product.
IMPLIKATUR PERCAKAPAN (SEBUAH TINJAUAN PSIKOLINGUISTIK) Burhan Nurgiyantoro
Jurnal Cakrawala Pendidikan CAKRAWALA PENDIDIKAN, EDISI 1,1995,TH.XIX
Publisher : LPMPP Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (479.945 KB) | DOI: 10.21831/cp.v1i1.9157

Abstract

Dalam percakapan sehari-hari orang tidak selarnanyamempergunakan bentuk-bentuk kebahasaan yang bermaknaliteral, meJainkan juga memakai bentuk-bentuk lain yang 0ermaknatidak langsung. Walau antara bentuk kebahasaan yangdipakai dengan makna yang dimaksud tak ada kesesuaian,orang rnasih dapat memahami maksud pembicaraan denganmembuat implikatur-implikatur. lrnplikatur merupakan maknaekstra yang sengaja diinferensikan untuk menjembataniperbedaan antara bentuk kebahasaan yang dipakai denganmakna yang dimaksudkan dalam konteks prakmatikpercakapan. Implikatur memberikan penafsiran pragmatisyang mampu melewati dan rr:enembus b,atas-batas strukturallinguistik. lmplikatur' lebih diderivasikan dari struktur logikaatau semantis daripada 'struktur lahir kebahasaan.Untuk dapat memanfaatkan implikatur secara b~ik.ada semacam aturan yang perlu dipatuhi pembicara, yaituyang disebut maksiro percakapan. Ada empat macam maksim.yaitu maksim kualitas yang bei"kaitan dengan kebenaraninformasi yang dikatakan, maksiro kuantitas yang berupatuntutan berbicara seperlunya, maksim relasional yang bcrkaitandengan kerelevansian dengan sesuatu yang dituturkan,dan maksim 'cara yang berwujud cara mengemukakan sesuatu.Maksiro Cara inilah yang dalam banyak hal menentukan stile"penuturan seseorang. Bentuk metafora -yang memiliki keunggulankarena kemarnpuannya rnengemukakan banyak dengansedikit kata- yang sering ban yak dipergunakan dalam percakapandapat dipahami dengan memanfaatkan jasa implikaturterutama yang berupa maksiro relasional. Dampak bagi pengajaranbahasa dan sastra di sekolah adalah perlunya pengajaranpembuat~n implikatur-implikatur karena kemampuan itutak akan diperoleh begitu saja oleh anak.
TAHAPAN PERKEMBANGAN ANAK DAN PEMILIHAN BACAAN SASTRA ANAK Burhan Nurgiyantoro
Jurnal Cakrawala Pendidikan No 2 (2005): Cakrawala Pendidikan, Juni 2005, Th. XXIV, No.2
Publisher : LPMPP Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/cp.v0i2.369

Abstract

AbstractUniversally, various psychological aspects of children develop through certain stages according to their age level. They go through stages of intellectual,moral and emotional developments, stages of personality and language developments, and stages in the growth of their concept about stories. Each type of development is divided into specific stages. Piaget divides childrens intellectual development, for example, into four stages: the sensory-motor, pre-operational, concrete operational, and formal operational stages. These stages come in accordance with their age development.Each stage has characteristics distinguishing it from anya other stage. The difference in characteristics logically implies in turn a difference in their response to reading matter. Consequently, in selecting reading matter for children, one should consider their age in order to make the selection match their psychological development of children of a certain age level would make the reading matter become uncommunicative because it is too difficult for them or make it uninteresting and boring for them because it is too easy or too simple.Key words: psychological development, intellectual development, selection of reading matter
SASTRA SEBAGAI PEMAHAMAN ANTARBUDAYA Burhan Nurgiyantoro
Jurnal Cakrawala Pendidikan CAKRAWALA PENDIDIKAN, EDISI 3,1995,TH.XIX
Publisher : LPMPP Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/cp.v3i3.9187

Abstract

Pemahaman antarbudaya merupakan usaha untuk memahamikehidupan sosial budaya berbagai bangsa ~ain di dunia yang amat bergunauntuk menjalin hubungan dan kerja sama antarbangsa. Ada banyakeara memahami budaya bangsa lain yang meneakup berbagai aspekkehidupan. dan salah satunya adalah pemahaman lewat karya sastra. Dimanapun dan kapanpun sastra dituEs tidak pernah lepas dari situasikekosongan budaya. Sastra akan meneerminkan pola kehidupan budayamasyarakat yang menjadi setingnya. Kelahiran karya sastra diprakondisioleh kehidupan sosial budaya masyarakat di mana pengarang menjadibagian di dalamnya. Dengan demikian. membaca dan mempelajari karyasastra secara langsung atau tidak langsung berarti mengenal dan memahamikehidupan sosial budaya masyarakat yang bersangkutan.Genre sastra yang paling komprehensif memberikan saranapemahaman antarbudaya adaJah karya liksi khususnya novel. Novel yangpaling baik dibaca u.ntuk. tllj.lIan tersebut adalah yang berseting tipikal,khususnya yang menyangkut lInsllr latar sosial budaya. Novel yangberlatar budaya tipikal akan menggambarkan keadaan kehidupan sosialbudaya masyarakat yang bersangkutan secara rellektif, dan karenanyadapat dipandang bersifat dokumentatif. Karya-karya semacam SriSilmarah, Pengakllan Pm·O'em. Canting, dan Para Priyayi merupakancontoh karya yang secara meyakinkan mercfleksikan budaya Jawa didalamnya..
TRANSFORMASI PENOKOHAN TOKOH WAYANG DALAM KARYA FIKSI INDONESIA *) Burhan Nurgiyantoro
Jurnal Penelitian Humaniora Vol 3, No 3: Oktober 1998
Publisher : LPPM UNY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1288.537 KB) | DOI: 10.21831/hum.v3i3.5281

Abstract

Abstrak Seni budaya pewayangan merupakan tradisi seni budaya yang mendasari dan berperan besar dalam membentuk karakter dan eksistensi bangsa serta banyak berpengaruh  terhadap penulisan sastra Indonesia modern. Walau cerita wayang diwariskan dan dikenal oleh masyarakat terutama lewat pertunjukan yang bersifat lisan dan teatrikal, cerita itu semula merupakan karya tulis yang dewasa ini dikenal sebagai fiksi. Transformasi unsur pewayangan ke dalam fiksi mencangkup berbagai unsur instrinsik, yaitu munculnya unsur pewayangan ke dalam teks fiksi dengan perubahan dan mempunyai pola tertentu. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan model transformasi penokohan tokoh cerita wayang dalam karya fiksi Indonesia.Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Model transformasi diperoleh dengan membandingkan unsur-unsur teks fiksi dengan teks pewayangan yang ditrasnformasikannya. Sumber data adalah karya fiksi yang diterbitkan antara tahun 1980-1995, terdiri dari 4 novel dan 7 cerpen, yang pengambilannya dilakukan secara purposive. Pengumpulan data dari teks dilakukan dengan teknik analisis wacana, sedang data dari narasumber dengan taknik wawancara. Analisis data dilakukan dengan teknik komparatif-induktif, kategorisasi, dan inferensi.Secara umum terdapat dua model transformasi penokohan, yaitu berupa transformasi tokoh wayang ke dalam tokoh fiksi dari tokoh dunia wayang dan tokoh fiksidari dunia manusia modern. Model I terdiri dari Model IA, yaitu pengubahan karakter tokoh secara mendasar dan  bertentangan dengan karakter tokoh wayang dalam pakem, model IB berupa pencaampuradukan kerakter antarakarakter tokoh wayang dengan karakter tokoh bukan wayang yang berciri peradaban modern, dan Model IC berupa pengubahan karakter tokoh wayang ke dalam karakter tokoh bukan wayang secara bertentangan dengan karakter wayang yang ditasnformasikan penamaan dan perwatakan tokoh wayang, Model II terdiri dari Model IIA yang berupa transfomasi penamaan daan perwatakan tokoh wayang, model IIB traansformasi perwatakan tanpa disertai penamaan, dan Model IIC transformasi penamaan tanpa disertai perwatakan. Transformasi penokohan tokoh wayang ke dalam tokoh fiksi terasa lebih intensif dan tipikal jika mencangkup perwatakan atau perwatakan dan penamaan daripada hanya mencangkup penamaan tanpa disertai perwatakan. Tokoh cerita wayang dimanfaatkan untuk menyampaikan gagasan dan pesan lewat penghipograman, perbandingan,pelambangan karakterdan pengkarikaturan tokoh.
MODEL PENILAIAN OTENTIK DALAM PEMBELAJARAN BAHASA Burhan Nurgiyantoro
LITERA Vol 10, No 2: LITERA OKTOBER 2011
Publisher : Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/ltr.v10i2.1157

Abstract

This study aims to produce a validated guidebook for Authentic Assessment in Language Learning. The research activities included the guidebook development and the product was validated by three assessment experts and five teachers as stakeholders. The validation was conducted through a questionnaire and a feedbacksheet and the results were used to revise the draft to produce the final guidebook. The guidebook consists of the front page, three main chapters, references, a glossary, and an index. The results of the validation show that the guidebook is good. Conceptually it is dependable and as a guidebook it is relatively easy to use in language learning activities at school. According to the validators, it is useful to improve the language learning quality.
KEBERMAKNAAN SOAL UJIAN NASIONAL BAHASA INDONESIA SMA/MA 2012 Burhan Nurgiyantoro
LITERA Vol 11, No 2: LITERA OKTOBER 2012
Publisher : Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/ltr.v11i2.1057

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kadar kebermaknaan komponen materi serta ketepatan komponen konstruksi dan bahasa soal Ujian Nasional Bahasa Indonesia (UN BI). Sumber data penelitian adalah soal UN BI SMA/MA 2012 dengan sampel kelompok IPA satu dan IPS tiga set soal. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik pembacaan dan pencatatan, sedang analisis data dengan teknik deskriptif kualitatifdengan dibantu statistik deskriptif yang berupa penghitungan frekuensi pemunculan dan persentase. Hasil penelitian sebagai berikut. Pertama, secara umum kadar kebermakaan komponen materi sudah baik walaupun belum baik sekali. Sebagian besar butir soal sudahmelibatkan aspek makna dan bahasa sekaligus sehingga mencerminkan kebutuhan orang berbahasa secara nyata. Kedua, secara umum ketepatan komponen konstruksi dan bahasa juga sudah cukup baik. Sebagian besar butir soal sudah memenuhi tuntutan pembuatan soal yang benar. Namun, secara relatif masih banyak ditemukan  kekurangtepatanpenggunaan berbagai aspek kebahasaan, bahkan ada yang salah yang menunjukkankekurangtelitian tim penyusun dan pengulas soal.
Nilai Perjuangan dalam Novel Arus Balik Karya Pramoedya Ananta Toer Sabjan Badio; Burhan Nurgiyantoro; Hartono Hartono
Indonesian Language Education and Literature Vol 5, No 1 (2019)
Publisher : Jurusan Tadris Bahasa Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (282.624 KB) | DOI: 10.24235/ileal.v5i1.3723

Abstract

This study aims to describe the struggle of the character in the novel Arus Balik. The method used is the content analysis method. Data is obtained by reading and recording techniques. Data were analyzed with qualitative descriptive analysis techniques through data comparison, categorization, data presentation, and inference. The results showed that the struggle of the character in the Arus Balik novel by Pramoedya Ananta Toer consisted of heroism (28%), nationalism (33%), never giving up (25%), kinship (9%), and selflessness (5%). The value of the struggle for heroism consists of being wary of the enemy, defending the people, defending the truth, selflessness, daring to die, being responsible, and commanding authority. The value of nationalism consists of love for the flag itself, loyal to the leader, thinking about the safety of the country, supporting the struggle to defend the country, and participating in defending the country. The value of the unyielding struggle consists of fighting to the death and believing in your abilities. Meanwhile, the value of selfless struggle consists in overcoming not expecting respect and not expecting office.Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan perjuangan tokoh dalam novel Arus Balik dengan metode analisis isi. Data diperoleh dengan teknik membaca dan mencatat. Data dianalisis dengan teknik analisis deskriptif kualitatif melalui perbandingan antardata, kategorisasi, penyajian data, dan inferensi. Hasil penelitian menunjukkan perjuangan tokoh dalam novel Arus Balik karya Pramoedya Ananta Toer terdiri atas heroisme (28%), nasionalisme (33%), pantang menyerah (25%), kekeluargaan (9%), dan tanpa pamrih (5%). Nilai perjuangan heroisme terdiri atas waspada terhadap musuh, membela rakyat, membela kebenaran, tidak mementingkan diri sendiri, berani mati, bertanggung jawab, serta berwibawa memimpin pasukan. Nilai nasionalisme terdiri atas cinta pada bendera sendiri, setia pada pemimpin, memikirkan keselamatan negara, mendukung perjuangan bela negara, serta ikut serta membela negara. Nilai perjuangan pantang menyerah terdiri atas melawan sampai mati dan percaya kepada kemampuan sendiri. Sementara itu, nilai perjuangan tanpa pamrih terdiri atas tidak mengharapkan penghormatan dan tidak mengharapkan jabatan.
STILISTIKA KULTURAL (CULTURAL STYLISTICS) Burhan Nurgiyantoro
Widyaparwa Vol 43, No 1 (2015)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3736.108 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v43i1.101

Abstract

Stilistika adalah sebuah disiplin ilmu yang mengkaji fungsi artistik penggunaan bahasa dalam berbagai konteks. Stilistika memberikan penjelasan perihal ketepatan atau ketidaktepatan penggunaan berbagai unsur bahasa dalam sebuah teks. Stilistika berada dalam titik persinggungan studi linguistik, seni, dan kultur. Stilistika kultural merupakan suatu pendekatan yang dipakai dalam kajian gaya sebuah teks yang sarat muatan makna filosofis-kultural. Pemahaman gaya teks akan tepat jilia dilakukan dengan berangkat dan atau mempertimbangkan aspek kultur yang melatarbelalangi. Teks kesastraan yang mengangkat aspek kultural masyarakat, tampaknya lebih tepat jika didekati, dianalisis, atau dipahami dengan pendekatan stilistika kultural. Ada banyak karya sastra Indonesia yang mengangkat latar belakang budaya masyarakat tertentu, misalnya latar belakang budaya Jawa lengkap dengan aspek filosofisnya. Lewat pendekatan ini, makna sebuah teks kesastraan dapat dipahami, digali, dan dijelaskan dengan baik.Stylistics is n discipline that studies artistic function of language use in different contexts, Stylistics provides an explanation regarding the accuracy or inaccuracy of various uses of language elements in t text. Stylistics is in the intersection point of linguistic studies, art, and culture. Culture Stylistics is an approach used in the style study as a text laden with philosophical-cultural significance. Understanding style of text will be appropriate if it is done by starting from and or taking into account the underlying culture. Literary text which raised the cultural aspects of society, it seems more appropriate if it is approached, analyzed, or understood by cultural stylistic approach. There are many Indonesian literatures that elavate certain cultural background, for example Javanese cultural background with its philosophical aspects. Through this approach, the meaning of literary text can be understood, explored, and explained well.