Dwi Haryo Ismunarti
Departemen Oseanografi , Fakultas Perikanan Dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Published : 40 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 40 Documents
Search

Pengaruh Penggunaan Pakan Alami Tetraselmis chuii dan Skeletonema costatum dengan Dosis yang Berbeda terhadap Pertumbuhan Kerang Totok (Effect of Using Natural Food Tetraselmis chuii and Skeletonema costatum with Different Doses on the Growth of Totok ..) Endang Supriyantini; Dwi Haryo Ismunarti; Ali Ridlo
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 17, No 2 (2012): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (104.472 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.17.2.81-86

Abstract

Pengetahuan tentang asupan nutrisi yang sesuai untuk kerang totok Polimesoda erosa sangat penting selain untuk meningkatkan kegunaan diet mikroalga juga untuk mengetahui dosis pakan alami Tetraselmis chuii dan Skeletonema costatum yang paling efisien terhadap pertumbuhan kerang totok. Biota yang digunakan dalam penelitian ini adalah kerang totok ukuran 3-4 cm yang diperoleh dari perairan sekitar P. Gombol, Segara Anakan, Cilacap. Wadah yang digunakan adalah akuarium berukuran 30x30x30 cm dengan volume media 2 liter. Metode yang digunakan adalah eksperimental laboratorium dengan rancangan acak lengkap, 3 perlakuan dan 3 ulangan, yaitu campuran T. chuii 36 x 104 sel/ml dan S. costatum 9 x 104 sel/ml (pakan T1); T. chuii 27 x104 sel/ml dan S. costatum 18 x 104 sel/ml (pakan T2) dan T. chuii 18 x 104sel/ml dan S. costatum 27 x 104 sel/ml (pakan T3). Pakan diberikan sekali sehari, pemeliharaan dilakukan selama 3 bulan. Pengukuran beratyang dilakukan seminggu sekali dan dianalisis Specific Growth Rate (SGR) dan Food Convertion Ratio (FCR). Hasil penelitian menunjukkan bahwa campuran pakan T. chuii dan S. costatum memberikan pengaruhpertambahan berat yang berbeda nyata (p< 0,05), tetapi tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap SGR dan FCR kerang Totok (p > 0,05). Pakan campuran T. chuii 27 x 104 sel/ml dan S. costatum 18 x 104 sel/ml meningkatkan nilai SGR namun mempunyai nilai FC yang besar.Kata kunci: Kerang Totok, Polimesoda erosa, Tetraselmis chuii, Skeletonema costatumKnowledge on ideal feeding dose for kerang totok P. erosa is needed to improved the use of microalgae diet and to investigate the most efficient natural feeding dose of T. chuii and S. costatum on growth of kerang totok (P. erosa). The organism used on this study was Kerang Totok size 3-4 cm which harvested from P. Gombol, Segara Anakan, Cilacap. Experiment was conducted in 30cm x 30cm x 30 cm aquarium filled with 2 liter of water each. A fully randomized design of laboratorium experimental method was applied for the study with three treatment i.e; 36 x 104 cell/ml T. chuii : 9 x 104 cell/ml S. costatum (T1); 27 x 104 cell/ml T. chuii : 18 x 104 cell/ml S. costatum (T2) and 18 x 104cell/ml T. chuii : 27 x 104 cell/ml S. costatum (T3), single feed dose per day at 08.00 WIB for 3 month period. Three replications were set up for each treatment. Parameter measured during the study were weight (weekly measurement), Specific Growth Rate (SGR) and Food Convertion Ratio (FCR). The result showed that feeding dose of T. chuii and S. costatum significantly affect the mean weekly weight gain (p< 0,05) but not to mean of SGR or FCR (p > 0,05). Mixture of 27 x 104 sel/ml T. chuii : 18 x 104 sel/ml S. costatum) tend toincrease the SGR values but give bigger FCR during the study period.Key words: Kerang Totok, Polimesoda erosa, Tetraselmis chuii, Skeletonema costatum
Laju Pertumbuhan dan Kelulushidupan Transplan Spons Amphimedon sp. (Growth and Survival of Sponge Amphimedon sp. Transplants) Agus Trianto; Radisya N Nissa; Diah Permata Wijayanti; Azis Rifai; Dwi Haryo Ismunarti; Destio .
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 18, No 4 (2013): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (199.274 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.18.4.225-230

Abstract

Spons adalah salah satu sumber bahan hayati laut yang potensial. spons Amphimedon sp. terbukti memiliki potensi sebagai senyawa bioaktif anti kanker. Namun, pemanfaatan spons dari alam akan memberikan dampak yang buruk terhadap lingkungan, khususnya populasi organisme tersebut. Melalui budidaya spons dapat diaplikasikan untuk menyediakan bahan bioaktif dalam jumlah yang cukup secara berkesinambungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui laju pertumbuhan dan tingkat kelulushidupan spons Amphimedon sp. yang dibudidayakan melalui transplantasi secara in situ di perairan Pulau Panjang, Jepara, Jawa Tengah. Spons ditransplantasikan pada perairan laut dengan jarak 6 m dan 1 m dari dasar, dengan 2 ukuran awal eksplan (3cm x 3cm x 1,5cm dan 6cm x 6cm x 1,5cm). Laju pertumbuhan dihitung berdasarkan pertambahan volume eksplan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ukuran awal eksplan memberikan pengaruh yang nyata terhadap laju pertumbuhan. Sebaliknya, perbedaan kedalaman tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap laju pertumbuhan spons. Laju pertumbuhan eksplan spons Amphimedon sp berkisar 3,01±1,60 cm3.hari-1 sampai dengan 3,43±1,08 cm3.hari-1. Kelulushidupan eksplan spons mencapai 100%. Hasil ini menegaskan bahwa untuk usaha budidaya spons sebaiknya menggunakan ukuran awal eksplan besar. Disamping itu perairan Pulau Panjang terbukti memiliki perairan yang sesuai untuk budidaya spons. Kata kunci: akuakultur, eksplan, spons, bahan bioaktif  Sponge is known as important marine natural product sources. Sponge Amphimedon sp. has been proven to have anticancer substances. However, direct exploitation of sponge from nature will give a bad impact to the marine environment. Sponge aquaculture can be applied for sufficiently and sustainably supply of bioactive compounds. In order to obtain data on growth and survival rates of transplanted sponge Amphimedon sp. in Panjang Island-Jepara waters, this in situ research was conducted. The sponges were explanted  at 6 m and 1 m above the sea floor with two initial approximate size (3cm x 3cm x 1.5cm and 6cm x 6cm x 1.5cm). The growth rate was indicated by volumetric increment. The results showed that initial explants size gave a significant effect on the growth rates of the sponge. On the other hand, two different depths of culture did not give significant effect. The explant growth rates range from 3.01±1.60 cm3.day-1 to  3.43±1.08 cm3.day-1. Survival rate of the sponge during the experiment was 100%. This result confirms that for the cultivation of sponges should use larger explants initial size. It also suggests that Panjang Island water has proven suitable for sponges cultivation activities. Keywords: aquaculture, explant, sponges, bioactive substance
Studi Persistensi Suhu Permukaan Laut Tinggi (>30°C) di Perairan Selat Malaka Metrio Swandiko; Anindya Wirasatriya; Jarot Marwoto; Muslim Muslim; Elis Indrayanti; Petrus Subardjo; Dwi Haryo Ismunarti
Buletin Oseanografi Marina Vol 10, No 2 (2021): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v10i2.31554

Abstract

Hot Event merupakan fenomena suhu permukaan laut (SPL) tinggi lebih dari 30°C dan memiliki mekanisme khusus dalam pembentukannya, yaitu kecepatan angin lemah dan radiasi matahari tinggi. Hot Event memiliki peran penting dalam menyumbang bahang pada pacific warm pool di Samudra Pasifik bagian barat dan berperan mengatur variasi iklim global. Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki potensi besar melemahkan sirkulasi angin dan potensi kejadian Hot Event. Selat Malaka merupakan selat terpanjang di Indonesia dan berpotensi untuk menjadi area kajian Hot Event. Fenomena SPLtinggi (>30°C) dan konstan selama 13 tahun (2003 – 2015) di Selat Malaka merupakan hal unik untuk dikaji. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan mengetahui mekanisme terjadinya SPL tinggi (>30°C) dan konstan selama 13 tahun (2013 - 2015) di Selat Malaka. Metode yang digunakan adalah metode kuantitatif. Data yang digunakan adalah data harian SPL, angin, arus permukaan, radiasi matahari selama 13 tahun serta batimetri. Pengolahan data menggunakan bahasa pemograman untuk memvisualisasi SPL tinggi >30°C, angin lemah <2 m/det, arus, radiasi matahari tinggi 200 W/m² serta data batimetri. Variasi SPL paling tinggi dan konstan terjadi pada musim timur (Agustus) dan paling rendah pada musim barat (Februari). Fenomena SPL tinggi dan konstan di wilayah kajian B terhadap kajian A dan C disebabkan lemahnya kecepatan angin <2 m/det di wilayah B dibandingkan wilayah A dan C, serta didukung dengan tingginya radiasi matahari dan batimetri wilayah kajian B yang relatif dangkal, sehingga proses pemanasan massa air lebih cepat dibandingkan wilayah kajian lainnya.  Hot Event is a phenomenon of high sea surface temperature (SST) over 30 °C and it has a unique mechanism in its formation by the lower wind speed and high solar radiation. Hot Event has an important role in contributing heat to the pacific warm pool in the western Pacific Ocean and play a role in regulating global climate variations. Indonesia as an archipelagic country has the potential to weaken wind circulation and potential Hot Event. The Malacca Strait is the longest strait in Indonesia and it is potential for Hot Events. The phenomenon of high SST (>30 °C) and constant for 13 years (2003 - 2015) in the Malacca Strait is unique to be studied. The present research aims to identify and determine the mechanism of the occurrence of high SST (>30 °C) and constant for 13 years (2013 - 2015). The method used in this study is quantitative method. The data used are daily data of SST, wind, surface currents, solar radiation for 13 years, and bathymetry. Programming was used to visualize high SST >30 °C, lower speed winds <2 m/s, currents, high solar radiation 200 W/m² also bathymetry data. The highest and constant variation of SST occurs in the east season (August) and the lowest in the west season (February). The phenomenon of high and stable SST in area B on A and C is due to the low wind speed <2 m/s in region B compared to A and C and it is supported by high solar radiation and shallow bathymetry in area B, so that the heating process of water mass is faster than other areas.
PEMODELAN ARIMA UNTUK PRAKIRAAN KENAIKAN MUKA AIR LAUT DAN DAMPAKNYA TERHADAP LUAS SEBARAN ROB TAHUN 2020 DI SEMARANG Dwi Haryo Ismunarti; Alfi Satriadi; Azis Rifai
Jurnal Statistika Universitas Muhammadiyah Semarang Vol 2, No 2 (2014): Jurnal Statistika
Publisher : Program Studi Statistika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Muham

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (949.733 KB) | DOI: 10.26714/jsunimus.2.2.2014.%p

Abstract

Muka air laut dalam istilah pasang surut disebut  mean sea level (MSL) yaitu rata-rata jumlah seluruh ketinggian pasang yang diamati.  Pemodelan untuk membuat prakiraan kenaikan muka air laut di Semarang telah banyak dilakukan dengan pendekatan yang hanya mempertimbangkan pola trend yaitu jika terjadi kenaikan secara sekuler dalam jangka panjang dari data. ARIMA (autoregressive/integrated/moving average) adalah metode peramalan meliputi dua hal yaitu analisis pola deret data dan seleksi model yang paling cocok dengan data. Terdapat 4 pola data deret berkala yaitu : pola horisontal bila data berfluktuasi disekitar rata-rata, pola musiman bila  deret data dipengaruhi faktor musiman, pola dari deret berkala akan diulang-ulang dalam selang waktu yang tetap,  pola siklis jika deret data dipengaruhi oleh fluktuasi jangka panjang dan pola trend jika terjadi kenaikan atau penurunan secara sekuler dalam jangka panjang. Model ARIMA diturunkan berdasarkan SML sementara harian. Data diperoleh dari BMKG Semarang. Hasil menunjukkan tipe pasang surut di perairan Semarang  diklasifikasikan ke dalam tipe pasang surut campuran condong ke harian ganda dengan nilai Formzahl 1,12.  Elevasi muka air laut rata – rata (MSL) 59,9261 cm, muka air tinggi tertinggi (HHWL) 117,38 cm dan muka air rendah terendah (LLWL) 24,71 cm. Model terbaik ARIMA (0,1,1) yaitu .  Hasil penghitungan deret waktu MSL sejati tahunan menunjukkan laju kenaikan MSL sejati tahunan di Kota Semarang sebesar 1,42 cm per tahun.
PERBANDINGAN KURVA PADA DISTRIBUSI UNIFORM DAN DISTRIBUSI BINOMIAL Moh. Yamin Darsyah; Dwi Haryo Ismunarti
Jurnal Statistika Universitas Muhammadiyah Semarang Vol 1, No 1 (2013): Jurnal Statistika Universitas Muhammadiyah Semarang
Publisher : Department Statistics, Faculty Mathematics and Natural Science, UNIMUS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (107.646 KB) | DOI: 10.26714/jsunimus.1.1.2013.%p

Abstract

Suatu percobaan dapat dikatakan menarik jika terlihat pada hasil percobaannya itu sendiri. Besaran – besaran yang menjadi perhatian dari hasil percobaan diperoleh berdasakan pengacakan data atau yang sering disebut peubah acak yang termasuk dalam sebaran peluang diskret. Nilai suatu peubah acak ditentukan oleh hasil percobaannya, sehingga dapat memberi peluang kepada berbagai kemungkinan nilai peubah acak. Salah satu contoh dari peubah acak adalah peubah acak binomial dan peubah acak uniform yang  merupakan sama – sama distribusi peluang diskret. Distribusi binomial merupakan pengembangan dari distribusi bernouli dimana dari suatu percobaan yang menghasilkan, sukses atau gagal, dengan peluang kejadian suksesnya pada setiap kejadian adalah konstant. Distribusi uniform yaitu peubah acaknya memperoleh semua nilainya dengan peluang yang sama, biasanya distribusi ini bergantung pada parameter k. Percobaan pada penelitian ini digunakan software minitab yang ada di Laboratorium Statistika untuk mendapatkan variabel acak binomial dan uniform. Tujuan yang akan dicapai dalam percobaan ini adalah untuk mengetahui perbandingan  kurva hasil bangkitan data dan untuk mengetahui perbandingan nilai parameter hasil bangkitan data. Kata Kunci : Peubah Acak, Distribusi Diskret, Distribusi Binomial, Distribusi Uniform.
PRAKIRAAN SIFAT HUJAN MENGGUNAKAN METODE POHON KLASIFIKASI Dwi Haryo Ismunarti
Jurnal Statistika Universitas Muhammadiyah Semarang Vol 1, No 1 (2013): Jurnal Statistika Universitas Muhammadiyah Semarang
Publisher : Department Statistics, Faculty Mathematics and Natural Science, UNIMUS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (100.069 KB) | DOI: 10.26714/jsunimus.1.1.2013.%p

Abstract

Metode pohon klasifikasi digunakan untuk menduga nilai variabel respon berjenis kategorik, sedangkan variabel bebasnya dapat berjenis kategorik, kontinu atau keduanya. Pohon dibentuk menggunakan algoritma pemilahan secara rekursif terhadap himpunan data pengamatan dan himpunan bagiannya. Pohon klasifikasi untuk prakiraan sifat hujan bulanan menghasilkan Pohon klasifikasi optimum dengan 22 buah simpul terminal dengan nilai harapan tingkat kesalahan pengklasifikasian sebesar 0,33. Variabel Kelembaman nisbi pada jam 13.00 merupakan variabel yang paling berpengaruh. Metode pohon klasifikasi memberikan ketepatan 80% untuk prakiraan sifat hujan.   Kata kunci : pohon klasifikasi. variabel kategorik.
Eksperimen Numerik Hidrodinamika 3-Dimensi Terhadap Sistem Diskritisasi Hybrid dan Sigma Perairan Selat Capalulu Maluku Utara: 3-Dimensional Hydrodynamic Numeric Experiment on Hybrid Discritization Systems and Sigma Waters Capalulu Strait, North Maluku Ezikri Yasra; Widodo Pranowo; Petrus Subardjo; Dwi Haryo Ismunarti; Nawanto Budi Sukoco
Jurnal Chart Datum Vol. 8 No. 1 (2022): JURNAL CHART DATUM
Publisher : Sekolah Tinggi Teknologi Angkatan Laut (STTAL)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37875/chartdatum.v8i1.211

Abstract

Model numerik hidrodinamika tiga dimensi merupakan salah satu pendekatan yang dapat dilakukan untuk menganalisis suatu fenomena perairan dengan mempertimbangkan pergerakan fluida secara horizontal dan vertikal. Pendekatan ini dilakukan untuk memperoleh nilai dan karakteristik fluida ditengah keterbatasan data lapangan untuk mengetahui profil vertikal perairan. Model dapat dibangun dengan dua pendekatan diskritisasi vertikal yaitu diskritisasi Sigma dan Hybrid. Kedua diskritisasi tersebut dijadikan perbandingan untuk mengetahui kecocokan formula terhadap kondisi perairan sebenarnya. Eksperimen dilakukan dengan menggunakan data bulan Januari 2019 melalui kedua tipe diskritisasi dengan menggunakan perlakukan yang sama sehingga diketahui perbedaan nilai yang dihasilkan dari kedua metode tersebut. Kedua tipe diskritisasi memiliki spesifikasi yang berbeda dengan kelebihan dan kekurangan pada masing-masing diskritisasi vertikal. Data hidrodinamika 3-dimensi yang dihasilkan menunjukan bahwa nilai kecepatan arus lebih besar dihasilkan dengan menggunakan diskritisasi Sigma jika dibandingkan dengan menggunakan Hybrid. Selain itu tren penggurangan kecepatan terhadap kedalaman juga teramati dengan baik sehingga diskritisasi Sigma bersifat lebih realistis dibandingkan Hybrid. Hasil verifikasi model dengan model lain pada aspek pasang surut menunjukan bahwa nilai RMSE dan Korelasi Pearson Diskritisasi Hybrid lebih rendah dibandingkan Sigma. Diskritisasi Sigma dengan nilai RMSE 0,05706 RMSE dan 0,965 Korelasi Pearson dan Diskritisasi Hybrid 0,0576 RMSE dan 0,966.
Pemetaan Perairan Dangkal Pulau Genting, Kepulauan Karimunjawa Choiriah, Nabila Fitri; Ismunarti, Dwi Haryo; Helmi, Muhammad
Journal of Marine Research Vol 12, No 4 (2023): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v12i4.41652

Abstract

Pulau Genting adalah salah satu pulau berpenghuni yang terletak di Kepulauan Karimunjawa bagian timur. Kegiatan pelayaran merupakan kegiatan utama bagi para penduduk Pulau Genting, baik untuk transportasi, jasa angkut, atau sebagai mata pencaharian masyarakat Pulau Genting. Pemetaan kedalaman perairan, terutama pada perairan dangkal perlu dilakukan untuk mendukung urgensi kegiatan pelayaran tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan memetakan perairan dangkal Pulau Genting untuk mendukung alur kegiatan pelayaran. Data yang digunakan adalah data pemeruman lapangan tanggal 26-28 Juni 2022, dan data pasang surut dengan periode 12 Juni–10 Juli 2022. Metode pengambilan data kedalaman lapangan dilakukan dengan alat fishfinder. Sedangkan pengolahan data pasang surut dilakukan dengan metode Admiralty, dan pengolahan data kedalaman lapangan menggunakan koreksi reduksi pasang surut (rt). Nilai kedalaman perairan dangkal Pulau Genting berkisar antara 0 hingga -20 meter, dengan nilai Z0=0,54 meter, HHWL=2,27 meter, MSL=1,77 meter dan LLWL 1,23 meter. Perairan dangkal Pulau Genting sebelah barat memiliki topografi yang lebih landai dibandingkan dengan perairan di sebelah timur. Topografi pantai sebelah timur Pulau Genting, yang cenderung lebih dalam, memungkinkan kapal perikanan kecil dapat bersandar tanpa khawatir kemungkinan kandas. In the eastern Karimunjawa Islands, Genting Island was one of the populated islands. The primary activity for Genting Island residents was shipping, whether it is for personal transit, moving goods, or as a means of support. To support the urgency of these maritime activities, water depth mapping was required, particularly in shallow waters. In order to facilitate maritime activity, this project examine and map Genting Island's shallow water. The data used includes tidal data for the period June 12-July 10, 2022, and field survey data for the period June 26–28, 2022. A fishfinder instrument was used to conduct the method of acquiring field depth data. While implementing the Admiralty method for tidal data processing and tidal reduction correction for field depth data processing. Genting Island's shallow water are between 0 and -20 meters deep, with Z0=0,54 meter, HHWL=2,27 meter, MSL=1,77 meter dan LLWL 1,23 meter respectively. The topography of Genting Island's shallow water to the west was softer than those to the east. Small fishing boats can dock on Genting Island's east coast without being concerned about the potential of running aground due to the terrain, which was often steep.
Integrasi Pendekatan Geospasial Dan Model Hidrodinamika 2D Untuk Kesesuaian Budidaya Ikan Kerapu Menggunakan Keramba Jaring Apung Di Perairan Pulau Menjangan Besar, Kepulauan Karimunjawa, Provinsi Jawa Tengah Ariputro, Aryobimo Bharadian; Ismunarti, Dwi Haryo; Helmi, Muhammad
Indonesian Journal of Oceanography Vol 4, No 2 (2022): Indonesian Journal of Oceanography
Publisher : University of Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/ijoce.v4i2.14100

Abstract

Akuakultur merupakan solusi untuk mengatasi permasalahan produksi perikanan sekaligus kelangkaan ikan pada suatu perairan. Efektifitas akuakultur ditentukan dari banyak faktor, Lokasi yang sesuai merupakan salah satu faktor yang paling mempengaruhi kegiatan akuakultur. Perairan Menjangan Besar, Kepulauan Karimunjawa merupakan suatu wilayah di Indonesia yang memiliki kelimpahan kekayaan maritim dan memiliki potensi yang besar untuk pengembangan budidaya berbasis Keramba Jaring Apung (KJA) khususnya ikan kerapu. Kurangnya informasi mengenai lokasi yang efektif untuk budidaya merupakan permasalahan utama dalam usaha budidaya. Penentuan lokasi budidaya perairan sangat dipengaruhi oleh parameter oseanografi di perairan setempat diantaranya arus, suhu, gelombang, oksigen terlarut, ph, salinitas, substrat dasar dan kedalaman. Oleh karena itu diperlukan kajian dan analisis mengenai lokasi yang efektif serta cocok untuk pengembangan budidaya ikan kerapu berbasis keramba jaring apung di perairan Menjangan Besar, Kepulauan Karimunjawa. Survey lapangan dilakukan terhadap 40 titik stasiun yang diperoleh dengan metode purposive sampling. Selain itu dilakukan pemodelan hidrodinamika 2D terhadap kecepatan arus dan tinggi gelombang signifikan untuk digabungkan dengan hasil survey lapangan sehingga diperoleh kondisi oseanografi perairan. Kemudian dilakukan Analisis data dengan melakukan modifikasi pada kriteria kesesuaian yang kemudian diintegrasikan dengan pendekatan Sistem Informasi Geografis menggunakan program ArcGIS 10.3. Berdasarkan integrasi kesesuaian perairan, luas area perairan yang sangat cocok untuk pengembangan budidaya ikan kerapu berbasis sistem keramba jaring apung adalah 60.91 ha. Kata kunci: Kesesuaian Perairan, Ikan Kerapu, Sistem Informasi Geografis, Menjangan Besar Abstract Aquaculture is a solution to overcome the problem of fishery production as well as the scarcity of fish in a waters. The effectiveness of aquaculture is determined by many factors, the appropriate location is one of the most influencing factors for aquaculture activities. Menjangan Besar waters in the Karimunjawa archipelago is an area in Indonesia that has an abundance of maritime wealth and has great potential for the development of aquaculture based on floating net cages (FNC), especially grouper. Lack of information on effective locations for cultivation is a major problem in aquaculture. Determination of aquaculture locations is strongly influenced by oceanographic parameters in local waters including currents, temperature, waves, dissolved oxygen, pH, salinity, bottom substrate and depth. Therefore, it is necessary to study and analyze an effective and suitable location for the development of grouper aquaculture based on floating net cages in the waters of Menjangan Besar, Karimunjawa archipelago. The field survey was conducted on 40 station points obtained by purposive sampling method. In addition, 2D hydrodynamic modeling was carried out on current velocity and significant wave height to be combined with the results of field surveys so that oceanographic conditions of the waters were obtained. Then the data analysis was carried out by modifying the suitability criteria which was then integrated with the Geographic Information System approach using the ArcGIS 10.3 program. Based on the integration of the suitability of the waters, the area of the waters that is very suitable for the development of grouper aquaculture based on the floating net cage system is 60.91 ha. Keywords : Water Suitability, Grouper, Geographic Information System, Menjangan Besar
Inventarisasi Kejadian Banjir Rob Kota Semarang Periode 2012 - 2020 Egaputra, Afif Arwin; Ismunarti, Dwi Haryo; Pranowo, Widodo Setiyo
Indonesian Journal of Oceanography Vol 4, No 2 (2022): Indonesian Journal of Oceanography
Publisher : University of Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/ijoce.v4i2.13240

Abstract

Kota Semarang merupakan salah satu wilayah pesisir yang rentan terhadap fenomena banjir rob. Banjir rob merupakan fenomena di mana air laut masuk dan menggenangi daratan. Banyak faktor yang mampu mempengaruhi terbentuknya banjir rob seperti pasang surut, kenaikan muka air laut, dan dorongan angin kencang yang menghasilkan gelombang tinggi. Tujuan dari inventarisasi kejadian banjir rob ini adalah untuk menentukan faktor dominan banjir rob yang terjadi pada kawasan Kota Semarang. Pada penelitian ini, data tanggal kejadian banjir rob yang terjadi bersumber dari media massa serta data bencana alam BPBD Kota Semarang. Data Angin dari European Center for Medium Range Weather Forecast (ECMWF), data curah hujan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), dan data prediksi pasang surut oleh Badan Informasi Geospasial (BIG) juga turut digunakan untuk analisis dalam mengidentifikasi faktor dominan banjir rob. Berdasarkan hasil penelitian, kejadian banjir rob pada Kota Semarang umumnya terjadi pada bulan Desember hingga Februari dan Mei hingga Juli dengan pasang purnama menjadi faktor dominan di musim peralihan 1 dan musim timur dan angin kencang yang diikuti curah hujan tinggi menjadi faktor dominan di musim barat. Kata kunci: Inventarisasi Banjir rob, Semarang, Pasang Surut, Curah Hujan, Angin Abstract Inventory of Tidal Flood Events in Semarang City for the Periode 2012-2020 Semarang is one of many coastal areas that are vulnerable to coastal flooding. Coastal flooding is a phenomenon where sea water enters and inundates the land.  Many factors influence the formation of coastal flood including tides, rising sea levels, and strong wind that produce high waves. The purpose of this coastal flood inventory is to determine the dominant factor of coastal flood that occurred in Semarang. In this study, the date of the coastal flood that occurred is sourced from the mass media and natural disaster data by BPBD Semarang. Wind data from European Center for Medium Range Weather Forecast (ECMWF), rainfall data from Meteorology, Climatology, and Geophysical Agency (BMKG), and tidal prediction from Geospatial Information Agency (BIG) are also used for analysis in identifying the dominant factor for coastal flooding. Based on the result of the study, coastal flooding in Semarang City generally occurs in December to February and May to July with spring tide become the dominant factor during the first transitional monsoon and the east monsoon and strong winds followed by high rainfall become the dominant factors during the west monsoon. Keywords: Coastal flood Inventory, Semarang, Tides, Rainfall, Wind