Dwi Haryo Ismunarti
Departemen Oseanografi , Fakultas Perikanan Dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Published : 40 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 40 Documents
Search

STUDI EFEKTIVITAS GROIN TERHADAP PERUBAHAN GARIS PANTAI DI PANTAI TELUK PENYU KABUPATEN CILACAP Yustian, Aulia; S, Denny Nugroho.; Ismunarti, Dwi Haryo
Journal of Oceanography Vol 5, No 3 (2016)
Publisher : Program Studi Oseanografi, Jurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2333.311 KB)

Abstract

Rekayasa terhadap pergerakan sedimen menggunakan bangunan pantai jenis groin adalah salah satu upaya untuk menjaga stabilitas garis pantai. Penelitian terkait fenomena perubahan garis pantai dan rekayasa pergerakan sedimen menggunakan groin telah dilakukan di Pantai Teluk Penyu. Pantai ini terletak di tengah objek vital nasional seperti Pelabuhan Perikanan Samudera Cilacap (PPSC), dan lain sebagainya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas groin dan pola perubahan garis pantai yang terjadi pada Pantai Teluk Penyu.Metode penelitian menggunakan metode kuantitatif dengan penentuan titik sampling menggunakan metode cluster sampling (area sampling). Metode analisis data menggunakan metode pemodelan numeris / matematik untuk menganalisa perubahan garis pantai dan bangunan pantai di daerah tersebut.Hasil penelitian menunjukan bahwa groin yang terdapat pada Pantai Teluk Penyu efektif sebagai bangunan stabilitas pantai. Groin tersebut dapat menangkap sedimen yang bergerak sejajar pantai dengan arah gerak dominan dari selatan menuju utara dan dapat meredam energi gelombang yang terjadi. Hasil tumpang tidih (overlay) peta tahun 1983 (sebelum ada groin) dengan peta 2011 menunjukan akresi seluas 168212,21 m2 atau 16,82 ha yang menyebabkan majunya garis pantai sebesar 60 - 70 meter. Pola perubahan garis Pantai Teluk Penyu selama 5 tahun (tahun 2014 – 2019) mengalami akresi namun cenderung stabil dengan nilai total akresi dan erosi yang hampir sama yakni sebesar 421 m2 dan 408,56 m2. 
TINGGI MUKA AIR RENCANA GUNA RENOVASI BREAKWATER DI PELABUHAN PERIKANAN SAMUDERA CILACAP (PPSC) Fathonah, Junika Ahmad; Dwi S, Agus Anugroho; Ismunarti, Dwi Haryo
Journal of Oceanography Vol 5, No 1 (2016)
Publisher : Program Studi Oseanografi, Jurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (277.704 KB)

Abstract

Tinggi muka air rencana merupakan penjumlahan dari berbagai parameter yang sangat penting bagi perencanaan bangunan pantai seperti pasang surut, kenaikan muka air akibat gelombang (wave set-up) dan kenaikan muka air laut yang selalu bertambah tiap tahun akibat pemanasan global. Besarnya kemungkinan cuaca ekstrim dengan kejadian air pasang dan gelombang badai di waktu yang bersamaan, merupakan penyebab kerusakan dan miringnya breakwater di Pelabuhan Perikanan Samudera Cilacap (PPSC). Tujuan penelitian adalah mengetahui tinggi muka air rencana dan menentukan elevasi puncak breakwater untuk perenovasian breakwater di Pelabuhan Perikanan Samudera Cilacap (PPSC). Pengambilan data primer (gelombang) menggunakan metode visual observation dilaksanakan pada tanggal 5 hingga 7 April 2015 di Perairan Pelabuhan Perikanan Samudera Cilacap (PPSC). Pengolahan data sekunder angin menggunakan metode SMB yang hasilnya digunakan untuk verifikasi data pengukuran gelombang, perhitungan wave set-up dan run up gelombang. Pengolahan data pasang surut menggunakan metode admiralty untuk menentukan HHWL sebagai referensi muka air. Metode penelitian adalah kuantitatif. Hasil pengukuran gelombang adalah tinggi gelombang (H10) sebesar 0,8 meter dan periode gelombang (T10) sebesar 5,24 detik. Perhitungan wave set-up diperoleh sebesar 0,28 meter; run up gelombang sebesar 1,24-1,27 meter untuk struktur tetrapod dan 1,94-1,98 meter untuk struktur batuan pecah. Nilai HHWL sebesar 2,1 meter. Kenaikan muka air akibat pemanasan global adalah 0,15 meter. Tinggi muka air rencana untuk breakwater di Pelabuhan Perikanan Samudera Cilacap (PPSC) adalah 2,53 meter. Elevasi puncak breakwater yang ideal untuk breakwater di Pelabuhan Perikanan Samudera Cilacap (PPSC) adalah 4,30 meter untuk struktur bangunan dari tetrapod dan 5,01 meter untuk struktur bangunan dari batuan pecah.
Sebaran Sedimen Dasar Di Muara Sungai Silugonggo Kecamatan Batangan, Kabupaten Pati ningrum, Indriana; Ismunarti, Dwi Haryo; Saputro, Siddhi
Journal of Oceanography Vol 5, No 1 (2016)
Publisher : Program Studi Oseanografi, Jurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1022.572 KB)

Abstract

Muara Sungai Silugonggo terletak sekitar lima kilometer dari pelabuhan Kecamatan Juwana, tepatnya di Kecamatan Batangan. Aliran Sungai Silugonggo menjadi salah satu sumber sedimen di daerah muara sungai yang kemudian tersebar dan mengendap sehingga berpotensi menimbulkan pendangkalan pada alur pelayaran TPI Bajomulya. Parameter hidro-oseanografi yang berpengaruh terhadap sebaran sedimen adalah  arus, gelombang dan pasang surut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sebaran sedimen dasar, mengetahui kecepatan dan arah arus serta hubungan arus dengan sebaran sedimen dasar di daerah sekitar muara Sungai Silugonggo.  Pengambilan data arus diukur menggunakan ADCP pada kedalaman 7 m dan pengambilan contoh sedimen permukaan dasar perairan menggunakan Sedimen Grab, sedangkan data sekunder berupa peta bathimetri dan peramalan pasang surut dari Dinas Hidro-Oseanografi. Dalam penentuan lokasi stasiun penelitian menggunakan metode purposive sampling method. Hasil menunjukkan bahwa sedimen dasar yang mendominasi daerah penelitian adalah lanau dan lanau lempungan. Hasil dari pengolahan data lapangan menunjukkan bahwa pola arus dominan di muara Sungai Silugonggo adalah arus pasang surut dengan kecepatan arus berkisar antara 0,03 – 0,752 m/s untuk kedalaman permukaan, 0,016 – 0,266 m/s untuk kedalaman tengah, dan 0,006 – 0,389 m/s untuk kedalaman dasar dengan arah arus bergerak dari arah barat daya ke timur laut.
Studi Tipe Pasang Surut di Pulau Parang Kepulauan Karimunjawa Jepara Jawa Tengah Lisnawati, Lucy Amellia; Rochaddi, Baskoro; Ismunarti, Dwi Haryo
Journal of Oceanography Vol 2, No 3 (2013)
Publisher : Program Studi Oseanografi, Jurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (982.061 KB)

Abstract

AbstrakStudi tipe pasang surut di Pulau Parang Kepulauan Karimunjawa Jepara Jawa Tengah telah dilakukan pada tanggal 18 September – 03 Oktober 2012. Parameter oseanografi yang diukur adalah data elevasi pasang surut selama 15 hari. Metode Admiralty digunakan untuk mengetahui tipe pasang surut. Berdasarkan hasil analisa diperoleh nilai Formzahl (F) = 2,52 sesuai dengan klasifikasi tipe pasang surut dimana nilai 1,5 < F ≤ 3 menunjukkan tipe pasang surut di Pulau Parang adalah campuran condong harian tunggal. Tunggang air yang terjadi berkisar antara 68 cm sampai dengan 150 cm dengan nilai HHWL = 157,28 cm dan LLWL = 46,52 cm. Pemodelan NAO Tide digunakan untuk memodelkan dan meramalkan selama 3 tahun (Oktober 2012- September 2015). Hasil peramalan selama bulan Oktober 2012 – September 2015 menunjukkan nilai HHWL tertinggi 155 cm pada bulan Januari 2013 dan LLWL terendah pada bulan dan tahun yang sama sebesar 46 cm.
ANALISIS REFRAKSI GELOMBANG LAUT BERDASARKAN MODEL CMS-Wave DI PANTAI KELING KABUPATEN JEPARA Ramdani, Diyan Muhamad; Ismunarti, Dwi Haryo; Widada, Sugeng
Journal of Oceanography Vol 3, No 3 (2014)
Publisher : Program Studi Oseanografi, Jurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1558.415 KB)

Abstract

AbstrakGelombang merupakan salah satu parameter oseanografi yang sangat mempengaruhi kondisi pantai. Proses penjalaran gelombang menuju pantai akan mengalami deformasi berupa refraksi gelombang. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui proses refraksi gelombang di Pantai Keling, Kabupaten Jepara dengan menggunakan software SMS (Surface Water Modelling System) Modul CMS-Wave. Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 16-19 Oktober 2013 di Pantai Keling, Kabupaten Jepara. Data primer yang digunakan adalah data gelombang sedangkan data sekunder yang digunakan adalah data angin dan data batimetri. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif. Peramalan gelombang diperoleh dari data angin dengan menggunakan metode SMB, sedangkan model penjalaran gelombang disimulasikan menggunakan software CMS-Wave. Dari hasil pengamatan gelombang diketahui gelombang di Pantai Keling yang terjadi pada tanggal 16 sampai 19 Oktober 2013, tinggi gelombang maksimum sebesar 0,95 meter dengan periode sebesar 6.8 detik. Tinggi gelombang signifikan (Hs) sebesar 0.7 meter dengan periode (Ts) sebesar 5,69 detik. Tinggi gelombang minimum 0,18 meter dengan periode sebesar 2,30. Dari hasil pemodelan bahwa daerah barat dan timur tanjung keling merupakan daerah yang berpotensi mengalami kerusakan oleh gelombang.
Studi Penggunaan Mannan oligosaccharide (MOS) terhadap kelulushidupan dan Pertumbuhan Artemia Indariyah, Indariyah; SPJ, Nur Taufiq; Ismunarti, Dwi Haryo
977-2407769
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (176.809 KB) | DOI: 10.14710/jmr.v2i3.3131

Abstract

Artemia is the most enthused nature feed in the fish and crustaceans hatchery operations, which causing the increase of Artemia’s demand and the prices. Hence, we need to develop the Artemia production through aquaculture. The first larvae development are the crucial time which causes a big risk of death and the feed compositions still contain many harmful bacteria that can reduce the production of Artemia. By giving MOS for Artemia, can be expected to reduce mortality rates and accelerate the growth. The purpose of this research is to investigate the percentage of using MOS against the survival rate and growth of Artemia. The additional feeding treatments were 0% (A), 1% (B), 3% (C), and 5% (D) of MOS added to the amount of phytoplankton. ANOVA is used for analysing the data, then continued with Polinomial Ortogonal test. The Results showed that different treatment significantly different to the survival rate and growth of Artemia. The best survival rate (39,50%) was from the C treatment, indicated by the high weight (753,37 μg), and longest growth length (9,0 mm). Water quality during the research is still in a decent range for the life of Artemia. This research can be concluded thah the best percentage of MOS given for bast survival rate growth by weight and length were 4,1%, 3,7% and 3,6% respectively.
Analisis Regresi Poisson untuk Menduga Hubungan Kelimpahan Makrobenthos dengan Parameter Kualitas Perairan Dwi Haryo Ismunarti; Subagiyo Subagiyo; Ria Azizah TN
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 9, No 4 (2004): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (213.218 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.9.4.230-237

Abstract

Fungsi peluang poisson merupakan standar model untuk variabel cacah. Sebagai contoh banyaknya makrobenthos dan faktor-faktor oseanografi yang mempengaruhinya dapat didekati dengan model regresipoisson. Model regresi poisson dapat diduga menggunakan fungsi GLM (generalized linear models) dari program S-PLUS. Faktor-faktor oseanografi yang berpengaruh terhadap jumlah makrobenthos adalah salinitas, kecerahan, kecepatan arus, DO dan suhu.Kata kunci : peluang poisson, variabel cacah, makrobenthosThe poisson probability provides the standard models for count variable. As an example, the number of makrobenthos and oceanograpy factors could be approach a poisson regression model. The poissonregression can be fitted using the function GLM, which fits Generailized Linear Models in S-PLUS program. Oceanography factors as having an effect on the number of makrobenthos are salinity, kecerahan, kecepatanarus,DO dan suhu.Key words : poisson probability, count variable, makrobenthos
Tingkat Keberhasilan Penetasan dan Masa Inkubasi Telur Penyu Hijau, Chelonia mydas L pada Perbedaan Waktu Pemindahan Esti Rudiana; Dwi Haryo Ismunarti; Nirwani Nirwani
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 9, No 4 (2004): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (153.348 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.9.4.200-205

Abstract

Keberhasilan penetasan telur penyu hijau secara semi alami sangat rendah akibat faktor fertilitas sebagai sifat bawaan, predator, infeksi mikroba dan kerusakan lingkungan peneluran. Sebagai alternative perlu dipelajari faktor yang mempengaruhi telur selama masa inkubasi di sarang semi alami. Beberapa hasil penelitian menyebutkan bahwa pergerakan perpindahan telur sebagai penyebab rendahnya tingkat keberhasilan penetasan karena selama masa inkubasi telur sangat sensitif terhadap gerakan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh gerakan terhadap tingkatkeberhasilan penetasan telur penyu hijau, Chelonia mydas L. Penelitian dilakukan di Pantai Peneluran Pangumbahan, Sukabumi. Telur diambil dari sarang alami setelahoviposisi oleh induk. Masing-masing sarang semi alami berisi 50 butir telur dengan waktu pemindahan berbeda. Telur penyu hijau sangat sensitif terhadap gerakan mulai 48 jam dan mereda mulai 20 hari setelahoviposisi oleh induk. Pemindahan telur ke sarang semi alami tidak dipengaruhi gerakan (baik dilakukan) sebelum 48 jam dan setelah 20 hari oviposisi oleh induk dengan posisi telur tetap.Kata kunci : penyu hijau, Chelonia mydas L, daya tetas, telurThe natural hatch rate for green turtle to be low, and suggested inherent fertility factors, predators, microbial infection, and nest environtment damage as probable cause of loss. Until artificial incubation of green turtle studying necessary. Although several reports state that moving sea turtle eggs during incubations results in poor survival, the state time of onset of this sensitivity has varied. The research is ti investigation the effect of movement on hatchability of the green turtle, Chelonia mydas L. This research was conducted of the nest environtment Pangumbahan, Sukabumi. Eggs were taken from the nest immediately after cessation of laying. Each fifty eggs was layed in the nest on artificial incubation with the time different of movement. Sensitivity was greatest early in the incubation after 48 h and did not totally abate after 20 day. They should not be moved till at least 48 h until 20 day after oviposition.Key word : green turtle, Chelonia mydas L, hatchability, eggs
Sudut Minimum antar Sub Ruang Vektor : Aplikasi pada Dinamika Biologis Perairan Jawa Selatan Sumbawa Dwi Haryo Ismunarti
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 7, No 1 (2002): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (507.598 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.7.1.1-6

Abstract

Abstrak Sudut minimum antar sub ruang vektor (RV) adalah analisis data deskriptif untuk membandingkan beberapa gugus individu yang diukur pada peubah yang sama. Matriks L dan M dengan unsur kolom masing-masing adalah l, dan m yaitu loading deri komponen utama ke i dari gugus A dan B. Sudut q adalah sudut sntar« vektor dari dua sub RV berdimensi k yang dibangkitkan oleh k komponen utama gugus A dengan vektor terdeketnya di sub RV yang dibangkitkan komponen utama gugus B. Dengan demikian maka kemiripan antar gugus data peubah ganda ditunjukkan oleh V yaitu jumlah kuadrat cosinus sudut antar loading dari komponen utama A dan B. Kata kuncl: ruang vector (RV), komponen utama(KU), akar ciri dan vektor ciri Abstract The minimum angle between sub spaces is a descriptive tool for the comparison the several different groups of individuals have the same p variables measurement on them. Let L and M as the matrix with elements vector I and m are the loading of the i principal component for group A and B. respectively. Let q is the angle between an arbitrary vector in the k-dimensional sub space generated by k principal component of group A and the one most nearly vector in the sub space generated by k principal component of group B. The sum of squaresof cosines of angles between each of the k eigenvectors defining the principal component of A and each one of B can be used a measurement of similarity between two groups A and B. Keywords: vector space, principal component, eigen value and etgen vector
Analisis Komponen Utama pada Hubungan Distribusi Spasial Komunitas Fitoplankton dan Faktor Lingkungan (Principal Component Analysis on the Relationship between Spatial Distribution of Phytoplankton and Environmental Factors ) Dwi Haryo Ismunarti
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 18, No 1 (2013): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (375.287 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.18.1.14-19

Abstract

Fitoplankton mempunyai peranan sangat penting dalam kesuburan suatu perairan. Kondisi dan distribusi dari fitoplankton sangat dipengaruhi oleh berbagai parameter lingkungan. Analisis ordinasi dengan Analisi Komponen Utama telah dilakukan untuk mengkaji komunitas fitoplankton dan hubungannnya dengan beberapa parameter lingkungan di perairan Kepulauan Karimunjawa Jepara, Jawa Tengah. Pengamatan terhadap parameter pH, oksigen terlarut, fosfat, nitrat, suhu dan salinitas perairan, serta fitoplankton dilakukan di 16 stasiun. Hasil analisis menunjukkan KU I dicirikan oleh stasiun penelitian dengan kelimpahan kelas Baccilariaphyceae yang tinggi dan kelas Dinophyceae yang rendah. Sedangkan KU II dicirikan oleh stasiun penelitian dengan kelimpahan kelas Baccilariaphyceae yang rendah dan kelas Dinophyceae yang tinggi. Kelimpahan kelas Baccilariaphyceae berhubungan secara negatif dengan konsentrasi fosfat dan berkorelasi positif dengan konsentrasi nitrat. Faktor lingkungan yang lain tidak menunjukkan adanya hubungan  secara statistik. Kata kunci: analisis komponen utama, fitoplankton, faktor lingkungan Phytoplankton have a very important role in the waters fertility. Conditions and distribution of phytoplankton is strongly influenced by various environmental parameters. Analysis ordination with Principal Component Analysis has been carried out in studying phytoplankton community and its relationship with several environmental parameters in Karimunjawa waters Jepara Central Java. Observation of the parameters pH, dissolved oxygen, phosphate, nitrate, water temperature and salinity, and phytoplankton were done at 16 stations. The results of the study show that Principal Component I is characterized by the abundance of Baccilariaphyceae high and Dinophyceae low. While Principal Component II is characterized by the abundance of Baccilariaphyceae low and Dinophyceae high. There was negative correlation between phytoplankton abundance with phosphate concentration and positive correlation with nitrate concentration. Other environmental factors did not show any statistically significant correlation. Keywords: principal component analysis, phytoplankton, environmental factors