Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search
Journal : Media Peternakan

PENGARUH JARAK TANAM TERHADAP PRODUKTIVITAS RUMPUT ODOT (PENNISETUM PURPERIUM cvMOOT) DI PADANG PENGGEMBALAAN MARIBAYA KECAMATAN BUMIAYU Feki Aris Riyanto; Soegeng Herijanto; Susilo Rahardjo
Media Peternakan Vol 24, No 2 (2022): Media Peternakan
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Wijaya Kusuma Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (239.239 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variansi jarak tanam terhadap produksi rumput odot. Materi yang di gunakan adalah lahan kebun rumput, cangkul, tali, sabit, meteran, timbangan digital, bibit rumput dan pupuk kandang. Penelitian ini dilakukan secara eksperimental dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 3 perlakuan dan 9 ulangan jarak tanam pada setiap perlakuan sebagai berikut : P1 40x40; P2 50x50; dan P3 60x60. Variabel yang diamati adalah tinggi tanaman, jumlah daun dan bobot segar per plot. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan Analysis of Variance (ANOVA) pada taraf 1 % dan 5%, apabila menunjukan adanya pengaruh signifikasi maka di lakukan uji lanjut dengan Uji Beda Nyata Terkecil ( BNT). Hasil penelitian terlihat bahwa perlakuan P3 menunjukan produksi tertinggi dibandingkan dengan perlakuan jarak tanam P1 dan P2 dengan rata-rata tinggi tanaman 43,43. Jumlah daun 27,00 dan bobot segar 2.61 kg per plot. Kata Kunci: Jarak tanam , Rumput odot, Produksi This study aims to determine the effect of spacing variance on production of odot grass.The materials used are grass garden land, hoes, ropes, sickles, meters, digital scales, grass seeds and manure. This research was conducted experimentally using a Randomized Block Design ( RCBD ) with 3 treatments and 9 replications of spacing for each treatment as follows : P1 40x40 P2 : 50x50 and P3:60x60 .The variables observed were plant height, number of leaves and fresh weight per plot.The data obtained were analyzed according to the analysis of variance (ANOVA) at the level of 1% and 5%, if it showed a significant effect, further tests were carried out with the Smallest Significant Difference Test (BNT). The results showed that the P3 treatment showed the highest production compared to the spacing treatment P1 and P2 with an average plant height of 43.43, number of leaves 27.00 and fresh weight of 2.61 kg per plot. Keywords : Spacing, Odot grass, Production
Manipulasi Pola Pemberian Pakan Ternak untuk Peningkatan Kinerja Produksi Kambing Peranakan Etawa (PE) Soegeng Herijanto; Eko Nurwantini
Media Peternakan Vol 19, No 2 (2017): MEDIA PETERNAKAN
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Wijaya Kusuma Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (300.172 KB)

Abstract

Penelitian bertujuan untuk untuk mengetahui kinerja produksi kambing yang dipelihara dengan frekuensi dan waktu pemberian pakan pada siang dan malam hari. Materi penelitian menggunakan 16 ekor kambing PE jantan umur 6 sampai 10 bulan dengan bobot badan l6 sampai 35 kg. Penelitian menggunakan metode eksperimen dengan rancangan acak lcngkap, sebagai perlakuan adalah Waktu pemberian pakan pada siang hari, dan frekuensi pemberian satu kali (jam 06.00) (P1), Waktu pemberian pakan pada siang hari, dan frekuensi pemberian dua kali (jam 06.00 dan 13.00) (P2), Waktu pemberian pakan pada malam hari, dan frekuensi pemberian satu kali (jam 18.00) (P3 ), dan Waktu pemberian pakan pada malam hari, dan frekuensi pemberian duau kali (jam 18.00 dan 22.00) (P4). Setiap perlakuan diulang empat kali, dan setiap ulangan menggunakan satu ekor kambing. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis kovariansi, dan sebagai kovariat adalah bobot badan awal. Hasil penelitian diperoleh rataan pertambahan bobot badan sebesar 1,94kg, rataan pertambahan lingkar dada sebesar l,5 cm, rataan pertambahan panjang badan sebesar 1,44cm, rataan pertambahan tinggi badan sebesar 0,44cm, dan konversi pakan sebesar 67,75. Berdasarkan hasil analisis kovariat diketahui bahwa frekuensi dan waktu pemberian pakan yang berbeda berpengaruh tidak nyata (P>0,05) terhadap pertambahan bobot badan, pertambahan lingkar dada, pertambahan panjang badan, pertambahan tinggi badan, dan konversi pakan. Simpulan hasil penelitian adalah pemberian pakan satu kali pada siang hari memberikan hasil pertambahan bobot badan, pertambahan lingkar dada dan konversi pakan terbaik. Kata kunci: Kambing PE jantan, pola pemberian pakan, kinerja
PENGARUH LAMA PERENDAMAN EKSTRAK KULIT PISANG KEPOK (Musa Paradisa L) SEBAGAI BAHAN PENGAWET TELUR AYAM KONSUMSI Bayu Tri Hastomo; Soegeng Herijanto; Citopartusi Margaluna Purnama Tjahjani
Media Peternakan Vol 24, No 2 (2022): Media Peternakan
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Wijaya Kusuma Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (282.046 KB)

Abstract

Penelitian bertujuan mengetahui pengaruh lama perendaman telur ayam ras yang direndam dengan larutan kulit pisang kapok (Musa Paradisa L) terhadap Indeks Putih Telur, Indeks Kuning Telur, dan Penyusutan Bobot Telur. Materi yang digunakan terdiri dari kulit pisang 1600 gram, telur ayam ras 40 butir, dan air 4000 ml. Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimental dengan rancangan acak lengkap pola searah. Penelitian terdiri dari 4 perlakuan yaitu P0 (telur tanpa penyimpanan), P1 (telur disimpan 7 hari), P2 (telur disimpan 14 hari), P3 (telur disimpan 21 hari), dan P4 (telur disimpan selama 28 hari), masing-masing perlakuan diulang sebanyak 2 kali. Parameter yang diukur dalam penelitian ini adalah Indeks Putih Telur, Indeks Kuning Telur, dan Penyusutan Bobot Telur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa telur yang direndam dengan larutan ekstrak kulit pisang kapok (musa paradise l.) selama 24 jam dengan dengan kulit pisang 1600 gram untuk 4 perlakuan tidak dapat mempertahankan kualitas telur, hal ini dapat dilihat menurunnya Indeks Putih Telur yaitu, menurunnya Indeks Kuning Telur, dan menurunnya bobot telur. Penelitian diperoleh hasil indeks putih telur berbeda sangat nyata (
PENGARUH PENAMBAHAN KONSENTRASI SUSU KAMBING TERHADAP AROMA DAN WARNA PADA SABUN PADAT Elin Melinda; Soegeng Herijanto; Fani Dwi Evadewi
Media Peternakan Vol 24, No 1 (2022): Media Peternakan
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Wijaya Kusuma Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (191.283 KB)

Abstract

Penelitian dengan judul “Pengaruh Penambahan Konsentrasi Susu Kambing Terhadap Aroma dan Warna Pada Sabun Padat” telah dilaksanakan pada tanggal 23 Februari 2022 sampai dengan tanggal 09 Maret 2022 di Laboratorium Fakultas Peternakan Universitas Wijayakusuma Purwokerto. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan susu kambing terhadap aroma dan warna pada sabun padat. Salah satu bahan tambahan alami pembuatan sabun adalah susu kambing, dimana kandungan protein dan lemak di dalam susu kambing mempunyai manfaat untuk kulit yaitu dapat mencerahkan dan melembabkan kulit. Metode yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Uji sifat fisik sabun padat meliputi uji organoleptik yaitu pengujian menggunakan penilaian indera dengan memanfaatkan panca indera manusia pada aroma dan warna sabun. Hasil penelitian menunjukkan penambahan konsentrasi susu kambing setiap perlakuan berpengaruh terhadap aroma dan warna pada sabun padat. Kata kunci : sabun padat, susu kambing, aroma dan warna
KAJIAN SISTEM PERKANDANGAN (CLOSE HOUSE DAN TRADISIONAL) TERHADAP PENDAPATAN PETERNAK AYAM BROILER Ahmad Musofa; Soegeng Herijanto; Citopartusi Margaluna Purnama Tjahyani
Media Peternakan Vol 23, No 1 (2021): Media Peternakan
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Wijaya Kusuma Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (29.757 KB)

Abstract

       Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh sistem perkandangan (close house dan tradisional) terhadap penghasilan peternak ayam broiler. Hasil penelitian menunjukkan bahwa biaya tetap tertinggi pada sistem closed house berturut-turut adalah biaya peralatan 53,97%, biaya penyusutan kandang 25,97%, penyusutan gudang 14,03%, bangunan listrik 4,51%, dan tendon air 1,50%. Sedangkan pada peternak tradisional berturut-turut dari tertinggi adalah biaya kandang 67,79%, biaya peralatan 24,48%, gudang 6,61%, dan tendon air 1,11%.       Proporsi biaya variabel tertinggi pada kedua kelompok peternak adalah biaya pakan, biaya DOC, tenaga kerja, listrik, medicine dan bahan bakar. Proporsi biaya variabel pada kedua kelompok lebih dari 97 % dari total biaya. Rata-rata penerimaan yang diterima oleh peternak ayam pedaging yang menggunakan sistem close house lebih tinggi bila dibandingkan dengan yang diterima oleh peternak ayam pedaging dengan sistem tradisional.       Pendapatan per periode produksi yang diterima oleh peternak ayam pedaging dengan sistem close house Rp34.323.888 lebih tinggi bila dibandingkan dengan peternak sistem tradisional Rp16.790.140. Demikian juga rasio antara penerimaan dengan biaya (R/C) bahwa pada usaha peternakan ayam pedaging dengan sistem close house lebih tinggi (1,16) bila dibandingkan dengan pada sistem tradisional (1,09). Secara keseluruhan penghasilan yang diterima sebesar Rp134.004.925 untuk kandang dengan sistem close house, dan Rp122.559.536,01 untuk kandang tradisional.Kata kunci: ayam broiler, sistem close house, sistem tradisional, penghasilan, pendapatan 
RENDEMEN DAN TINGKAT KESUKAAN KEJU SEGAR DENGAN PENAMBAHAN JUS TERONG BELANDA SEBAGAI PENGASAM Yani Karlina; Soegeng Herijanto; Sulistyaningtyas -
Media Peternakan Vol 23, No 1 (2021): Media Peternakan
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Wijaya Kusuma Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (730.386 KB)

Abstract

Keju merupakan bahan makanan hewani yang dikenal luas dan digemari di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan jus terong Belanda pada berbagai konsentrasi terhadap rendemen dan tingkat kesukaan keju segar. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan tiga perlakuan konsentrasi jus terong Belanda yaitu P1 = 6%, P2 = 12%, dan P3 = 18 persen. Parameter yang diamati adalah rendemen dan tingkat kesukaan warna, aroma dan rasa keju segar. Hasil Analisa menunjukkan bahwa penambahan jus terong Belanda dengan konsentrasi 6%, 12% dan 18% berpengaruh sangat nyata (P0,05) terhadap tingkat kesukaan warna, aroma dan rasa keju segar. Penelitian ini menyimpulkan bahwa perbedaan konsentrasi jus terong Belanda menghasilkan warna, aroma dan rasa keju segar yang disukai, namun disarankan menggunakan konsentrasi jus terong Belanda 6 persen untuk mendapatkan rendemen yang terbaik. Kata kunci : terong Belanda, rendemen, tingkat kesukaan, keju segar
SKEMA OPTIMALISASI RESPON TRANSFER EMBRIO SAPI : ANALISIS DESKRIPTIF MANAJEMEN KELOMPOK TERNAK DONOR DAN RESIPIEN Citopartusi Margaluna Purnama Tjahyani; Soegeng Herijanto; Yanita Mutiaraning Viastika
Media Peternakan Vol 23, No 2 (2021): Media Peternakan
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Wijaya Kusuma Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (465.08 KB)

Abstract

Optimalisasi keberhasilan program Transfer Embrio (TE) dapat diupayakan dengan manajemen ternak donor dan resipien melalui rangkaian kegiatan primer; sehingga responsif terhadap perlakuan superovulasi dan dapat digunakan untuk TE. Menurut Tuti (1997) PGF2a dapat meningkatkan kualitas korpus luteum (CL) pada hewan yang mempunyai intensitas estrus rendah (83%), di bawah kondisi alamiah; Kualitas CL meningkat pada 14 dari 18 sapi (77%) yang memiliki kualitas CL kurang baik dibawah kondisi normalnya. Dengan demikian, deteksi kualitas CL tujuh hari setelah estrus disamping pengamatan intensitas estrus adalah penting untuk mempersiapkan resipien TE. Berdasarkan hasil analisis deskriptif diketahui bahwa respon sinkronisasi estrus dapat distimulasi dengan injeksi PGF2a satu kali, atau dua kali dengan interval 11 - 12 hari; Respon superovulasi adalah optimum jika dimulai pada hari ke-9 dengan injeksi tunggal PMSG, atau injeksi berulang maupun tunggal FSH selama empat hari berturut-turut hingga hari ke-12 dari siklus estrus sapi karena berlangsung di dalam stadium bifase. Pada stadium bifase biasanya tumbuh folikel-folikel dominan yang tidak pernah berovulasi sehingga akan berdegenerasi dan menjadi folikel-folikel atresi. Selanjutnya, inseminasi buatan (IB) dilakukan pada hari ke-14 dari siklus estrus, tanpa pengamatan estrus (jika injeksi PGF2a dua kali masing-masing satu dosis) dan dengan pengamatan estrus (jika injeksi PGF2a satu kali dengan satu dosis). Kata kunci : superovulasi dan TE, optimalisasi manajemen, sapi, donor, resipien Abstract Optimizing the success of the Embryo Transfer (ET) program can be pursued by managing donor and recipient livestock through a series of primary activities; so it will be responsive to superovulation treatment and can be used for ET. According to Tuti (1997) PGF2a could improve the quality of the corpus luteum (CL) in animals that have low estrus intensity (83%), under natural conditions; CL quality improved in 14 of the 18 cows (77%) that had poor CL quality under normal conditions. Thus, detection of CL quality seven days after estrus in addition to observing the intensity of estrus was important for preparing ET recipients. Based on the results of the descriptive analysis, it is known that the estrus synchronization response can be stimulated by injection of PGF2a once, or twice with an interval of 11 - 12 days; The superovulatory response was optimum when started on day 9 with a single injection of PMSG, or repeated nor single injection of FSH during four consecutive days until day 12 of the bovine estrus cycle because it took place in the biphase stage. In the biphase stage, dominant follicles that never ovulate will usually degenerate and become atretic follicles. Furthermore, artificial insemination (AI) was performed on day 14 of the estrus cycle, without observation of estrus (if PGF2a injection was twice with one dose of each) and with observation of estrus (if PGF2a injection was once with one dose). Keywords : superovulation & ET, optimization of management, cattle,donor, recipient